Ushul Fiqih Bagian 03; Mutlaq Dan Muqayyad

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

  1. Pendahuluan

Tidak jarang banyak dari kalangan umat Islam mengalami kesalahan pemahaman dalam menggali hukum dari Al-Qur’an dan Hadits. Kesalahan tersebut terjadi disebabkan banyak faktor di antaranya mereka memahami Al-Qur’an dan Hadits hanya berdasarkan pada dzahirnya teks. Sedangkan redaksi Al-Qur’an dan Hadits sangat sarat makna, di dalamnya terdiri dari beribu kata dengan berjuta makna yang berbeda-beda. Tak jarang dari setiap makna kata (lafazh) tersebut dijumpai sebuah kata (lafazh) yang maknanya begitu luas tanpa batasan, yang mana sebelumnya sudah dikaji terlebih dahulu oleh para ulama sehingga menghasilkan perluasan makna yang lebih meluas dari makna asalnya. Di lain tempat ada juga sebuah kata yang cakupan maknanya terbatas dan terkesan terpaku pada satu makna saja (makna asal).

Seperti halnya sebuah pembahasan seseorang yang memahami hadis yang berbunyi “sesesorang yang membunuh orang mukmin secara tidak sengaja maka dia harus memerdekakan hamba sahaya” di hadis ini banyak orang yang keliru pemahaman karena dia tidak memahami makna dari mutlaq dan muqayyad. Sehingga mereka memahami hamba sahaya yang mutlaq artinya baik hamba yang kafir atau yang Islam, sebenarnya pada keterangan tersebut dibatasi artinya hamba sahaya yang muslim.

Maka dari itu sangat penting memahami dan menggali hukum dari Al-Qur’an dan Hadits menggunakan metodologi ushul fiqih, yaitu sebuah disiplin ilmu yang mempelajari jenis-jenis kata dengan beribu makna. Di antara kajian dalam disiplin ilmu ini adalah membahas mutlaq dan muqayyad. Dengan memahami Mutlaq dan Muqayyad maka akan sangat memudahkan bagi kita untuk memahami dan mengetahui maksud dari suatu ayat dan lafadz tersebut. Dan dengan mengetahui ayat dan lafadz, maka akan mudah bagi seorang mujtahid beristimbat untuk mendapatkan suatu hukum. Ketika hukum sudah didapat, maka akan memudahkan untuk mengamalkannya tanpa terjadi benturan dengan hukum yang lainnya.

  1. Pengertian Mutlaq Dan Muqayyad

Pengertian Muthlaq

Pembahasan mutlaq dan muqayad itu sama dengan ‘am dan khas, namun sedikit ada perbedaannya; Bila ‘am dan khas ditinjau dari segi cakupan BENTUK lafadznya, sedangkan mutlaq dan muqayyad ditinjau dari segi cakupan SIFAT lafadznya. Atau juga dapat dimasukkan dalam pembahasan ma’rifat dan nakirah, yakni lafadz mutlaq ini pada umumnya berbentuk nakirah dalam konteks kalimat positif[1].

Lafadz mutlaq menurut bahasa yaitu sebuah lafdz yang bermakna bebas tanpa batas, sedangkan lafadz muqayyad bermakna terbatas. Dan pengertian menurut istilah lafadz mutlaq adalah Lafaz yang menunjukan suatu hakikat makna tanpa suatu qayid (pembatas). Jadi ia hanya menunjukan kepada suatu individu tidak tertentu dari hakikat tersebut.

Sedangkan mutlaq menurut ushul fiqih adalah suatu lafadz yang menunjukan pada makna atau pengertian tertentu tanpa dibatasi atau diikat dengan hal lain. Misalnya: kata “buku”, “gunung”, “baju”, kata-kata ini memiliki makna mutlaq karena secara makna kata-kata tersebut telah menunjuk pada pengertian makna tertentu yang telah kita pahami. Contoh lafadz mutlaq dalam firman Allah berikut ini:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِن نِّسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِّن قَبْلِ أَن يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِوَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.” (QS al-Mujâdalah, 58: 3)

Lafazh “raqabah” (hamba sahaya atau budak) termasuk lafazh muthlaq yang mencakup semua jenis raqabah tanpa dibatasi hal lain. Maksudnya bisa mencakup raqabah laki-laki atau perempuan, beriman atau tidak beriman. Jika dilihat dari segi cakupan sifatnya, maka lafazh muthlaq adalah sama dengan lafazh ‘amm (umum). Namun keduanya tetap memiliki perbedaan yang prinsip, yaitu lafazh ‘amm mempunyai sifat syumûliy (melingkupi) atau kulliy (keseluruhan) yang berlaku atas satuan-satuan, sedangkan keumuman dalam lafazh muthlaq bersifat badaliy (pengganti) dari keseluruhan dan tidak berlaku atas satuan-satuan tetapi hanya menggambarkan satuan yang meliputi.

Mutlaq menurut beberapa Ahli;

Dalam bahasa Arab, kataمـطـلـــق berarti yang bebas, tidak terikat. Menurut al-Khudhori Biek,

اَلْمُطْلَقُ مَا دَلَّ عَلىَ فَرْدٍ اَوْأَفْرَادٍشَائِــــعَـةٍ بِدُوْنِ قَـيْــــدٍ مُسْتَقِــلٍّ لَفْــــــظاً

“Mutlaq adalah perkataan yang menunjukkan satu atau beberapa objek yang tersebar tanpa ikatan bebas menurut lafal.”

Dalam rumusan yang berbeda namun saling berdekatan, Amir Syarifuddin, mengutip beberapa definisi para ulama ushul fiqh, sebagaimana berikut:

Al-Amidi memberikan definisi:

هُوَالَّلـفْـظُ الدَّالُّ عَلىَ مَدْلُـوْلِ شَائِــعٍ فِى جِـنْـسِـــهِ.

“Mutlaq ialah lafal yang memberi petunjuk kepada madlul (yang diberi petunjuk) yang mencakup dalam jenisnya.”

Abu Zuhrah mengajukan definisi:

اَلَّلفْــظُ اْلمـُــطْلَـقُ هُوَالَّذِى يَـدُلُّ عَلىَ مَوْضُوْعِهِ مِنْ غَيْرِ نَظَـــرٍ اِلىَ اْلوَاحِـدَةِ اَوِ اْلجَمْــعِ اَوِ اْلوَصْفِ بَلْ يَدُلُّ عَلىَ اْلمَـاهِــيَةِ مِنْ حَيْثُ هِيَ.

“Lafal mutlaq adalah lafal yang memberi petunjuk terhadap maudu’nya (sasaran penggunaan lafal) tanpa memandang kepada satu, banyak atau sifatnya, tetapi memberi petunjuk kepada hakikat sesuatu menurut apa adanya.”

Pengertian Muqayyad

Secara bahasa, muqayyad berarti terikat,[3] atau yang mengikat, yang membatasi. Secara istilah, Muqayyad adalah lafaz yang menunjukkan suatu hakikat dengan qayid (batasan). Atau muqayyad adalah suatu lafal yang menunjukkan suatu hal, barang atau orang yang tertentu (syai’ah) terikatan (batasan) yang tersendiri berupa perkataan. Definisi ini sejalan dengan uraian yang dikemukakan oleh Imam al-Syafi’i seperti dikutip oleh Muhlish Usman,[4] muqayyad adalah lafal yang menunjukkan satuan-satuan tertentu yang dibatasi oleh batasan yang mengurangi keseluruhan jangkauannya. Pembatasan tersebut dapat berupa sifat, syarat, dan ghayah.[5]  Contoh lafadz muqayyad dalam firman Allah berikut ini:

وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ

“barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), (QS. An-Nisa'[4]: 92)

Kata “raqabah” (hamba sahaya) dalam ayat ini memakai qayid atau ikatan yaitu mu’minah. Maka ketentuan hukum dari ayat ini ialah siapa pun yang melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa seseorang tanpa sengaja, maka dikenai denda atau diyat, yaitu harus memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Oleh karena itu, setiap ayat yang datang dalam bentuk muqayyad, maka harus diamalkan berdasarkan qayid yang menyertainya, seperti ayat raqabah di atas.

  1. Dilalah/Hukum (Kehujjahan) Lafadz Mutlaq Dan Muqayyad

Pada prinsipnya, para ulama bersepakat bahwa hukum dari lafal mutlaq itu wajib diamalkan kemutlaqannya, selama tidak ada dalil yang membatasi kemutlaqannya. Begitupun dengan lafal-lafal muqayyad yang berlaku kemuqayyadannya. Namun, pada kasus-kasus tertentu, terdapat berbagai dalil syara’ dengan lafal yang mutlaq di satu tempat, sedang ditempat lain menunjukkan muqayyad. Pada permasalahan seperti ini, Hamid Hakim dalam Muhlish Usman,[2] mengatakan bahwa ada empat alternatatif kaidah yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan ini, yaitu:

Berikut bentuk mutlaq dan muqayyad yang disepakati

  • Hukum dan sebabnya sama, maksudnya adalah mukum yang disebutkan oleh nash yang satu dengan nash yang lainnya adalah sama dan sebab yang menimbulkan hukum itu juga sama. Dalam hal ini para ulama sepakat bahwa wajbnya membawa lafazh mutlaq kepada muqayyad. Ketetapan ini berdasakan kaidah,

اَلْمُـطْلَقُ يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ إِذَااتَّفَــقَا فِى السَّــبَبِ وَاْلحُـــــكْمِ.

 “Mutlaq itu ditarik pada muqayyad jika sebab dan hukumnya sama.”

Jika sebab dan hukum yang ada dalam mutlaq sama dengan sebab dan hukum yang ada dalam muqayyad. Maka dalam hal ini hukum yang ditimbulkan oleh ayat yang mutlaq tadi harus ditarik atau dibawa kepada hukum ayat yang berbentuk muqayyad. Contoh:

  1. Ayat mutlaq

Surat Al-Maidah ayat 3 tentang darah yang diharamkan, yaitu:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ…

 “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah daging babi…” (QS. Al-Maidah :3)

Ayat ini menerangkan bahwa darah yang diharamkan ialah meliputi semua darah tanpa terkecuali, karena lafadz “dam” (darah) bentuknya mutlaq tidak diikat oleh sifat atau hal-hal lain yang mengikatnya.

Adapun sebab ayat ini ialah “dam” (darah) yang di dalamnya mengandung hal-hal bahaya bagi siapa yang memakannya, sedangkan hukumnya adalah haram.[3]

  1. Ayat Muqayyad:

Surat al-An’am ayat 145, dalam masalah yang sama yaitu “dam” (darah) yang diharamkan.

قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir….” QS. Al-An’am : 145).

Lafadz “dam” (darah) dalam ayat di atas berbentuk muqayyad, karena diikuti oleh qarinah/indikator atau qayid yaitu lafadz “masfuhan” (mengalir). Oleh karena itu darah yang diharamkan menurut ayat ini ialah “dam-an masfuhan” (darah yang mengalir).

Sebab dan hukum antara ayat Al-An’am ayat 145 ini dengan surat Al-Maidah ayat 3 adalah sama yaitu masalah darah yang diharamkan. Berdasarkan kaidah bahwa “Apabila sebab dan hukum yang terdapat dalam ayat yang mutlaq sama dengan sebab dan hukum yang terdapat pada ayat yang muqayyad, maka pelaksanaan hukumnya ialah yang mutlaq dibawa atau ditarik kepada muqayyad.” Dengan demikian hukum yang terdapat dalam ayat 3 surat Al-Maidah yakni darah yang diharamkan harus dipahami darah yang mengalir sebagaimana surat Al-An’am ayat 145.

Atau kita gunakan pemahaman lain bahwa pada ayat di atas, kata وَالدَّمُ (dan darah) diberi sifat dengan مَّسْفُوحًا (mengalir). Tetapi hukum pada kedua ayat tersebut adalah sama, yaitu sama-sama “haram”. Demikian pula sebab yang menimbulkan hukum juga sama, yaitu “darah”. Kedua contoh di atas, kata “darah” yang terdapat dalam lafazh mutlaq harus diartikan dengan “darah yang mengalir” sebagaimana yang terdapat dalam lafazh muqayyad.

  • Hukum dan sebabnya berbeda, maksudnya adalah sebab yang menimbulkan hukum dalam lafazh mutlaq dan lafazh muqayyad adalah berbeda, demikian pula hukumnya-pun berbeda pula. Dalam hal ini, para ulama sepakat wajibnya memberlakukan masing-masing lafazh, yakni mutlaq tetap pada kemutlaqannya dan muqayyad tetap pada kemuqayyadannya.

اَلْمُـطْلَقُ لَا يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ إِذَااخْتَـــلَفـَـــا فِى السَّــبَبِ وَاْلحُـــــكْمِ.

 “Mutlaq itu tidak dibawa ke muqayyad jika yang berbeda sebab dan  hukumnya.”

Jika sebab dan hukum yang ada pada mutlaq berbeda dengan sebab dan hukum yang ada pada muqayyad, maka yang mutlaq tidak bisa dipahami dan diamalkan sebagaimana yang muqayyad. Contoh:

  1. Mutlaq

Masalah had pencurian yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 38 yang berbunyi :

أَيْدِيَهُمَا فَاقْطَعُوا وَالسَّارِقَةُ وَالسَّارِقُ

 “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (QS. AL-Maidah :38)

Lafadz “yad” dalam ayat di atas berbentuk mutlaq, yakni keharusan memotong tangan tanpa diberi batasan sampai daerah mana dari tangan yang harus dipotong.[4]

  1. Muqayyad

Masalah wudhu’ yang dijelaskan dalam surat al-Maidah ayat 6, yaitu:

الْمَرَافِقِ إِلَى وَأَيْدِيَكُمْ وُجُوهَكُمْ فَاغْسِلُوا الصَّلَاةِ إِلَى قُمْتُمْ إِذَا آمَنُوا الَّذِينَ أَيُّهَا يَا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku.”(Al-Maidah:6).

Lafadz “yad” dalam ayat wudhu’ ini berbentuk muqayyad karena diikat dengan lafadz “ilal marafiqi” (sampai dengan siku). Ketentuannya hukumnya adalah kewajiban mencuci tangan sampai siku.

Dari dua ayat di atas terdapat lafadz yang sama yaitu lafadz “yad”. Ayat pertama berbentuk mutlaq, sedangkan yang kedua berbentuk muqayyad. Keduanya mempunyai sebab dan hukum yang berbeda. Yang mutlaq berkenaan dengan pencurian yang hukumannya harus potong tangan. Sedangkan yang muqayyad berkenaan masalah wudhu’ yang mengharuskan membasuh tangan sampai siku. Dari sini dapat disimpulkan bahwa yang mutlaq tidak bisa dipahami menurut yang muqayyad.

Atau kita gunakan pemahaman lain bahwa pada ayat pertama disebutkan “tangan” secara mutlaq tanpa qayid atau sifat apa-apa; sedangkan pada ayat kedua “tangan” yang disebutkan mempunyai qayid, yaitu sampai siku. Hukum pada kedua ayat tersebut berbeda: pada ayat pertama disebutkan secara mutlaq keharusan memotong tangan, pada ayat kedua yang muqayyad keharusan mencuci tangan. Sebab berlakunya hukum juga berbeda: pada ayat yang pertama yang mutlaq tentang sanksi hukum terhadap pencuri, sedangkan pada ayat kedua yang muqayyad tentang berwudhu untuk melakukan shalat.

  • Hukumnya berbeda sedangkan sebabnya sama. Pada bentuk ini, ulama sepakat pula bahwa tidak boleh membawa lafazh mutlaq kepada muqayyad, masing-masing tetap berlaku pada kemutlaqannya dan kemuqayyadannya. Ketetapan ini berdasarkan kaidah,

اَلْمُـطْلَقُ لَا يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ إِذَااخْتَـــلَفـَـــا فِى اْلحُـــــكْمِ.

“Mutlaq itu tidak dibawa ke muqayyad jika yang berbeda hanya hukumnya.”

Jika sebab yang ada dalam mutlaq dan muqayyad sama tetapi hukum keduanya berbeda, maka dalam hal ini yang mutlaq tidak bisa ditarik kepada muqayyad. Contoh:

  1. Ayat mutlaq

Surat al-Maidah ayat 6 tentang tayammum, yaitu:

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ

“maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 6)

Lafadz “yad” (tangan) dalam ayat di atas berbentuk mutlaq karena tidak ada lafadz lain yang mengikat lafadz “yad” (tangan). Dengan demikian kesimpulan dari ayat ini ialah keharusan menyapukan tanah ke muka dan kedua tangan, baik itu hingga pergelangan tangan atau sampai siku, tidak ada masalah. Kecuali jika di sana ada dalil lain seperti hadits yang menerangkan tata cara tayammum oleh Nabi yang memberikan contoh mengusap tangan hanya sampai pergelangan tangan[5].

  1. Ayat Muqayyad

Surat Al-Maidah ayat 6 tentang wudhu’, yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, (QS. Al-Ma’idah Ayat 6)

Lafadz “yad” (tangan) dalam ayat ini berbentuk muqayyad karena ada lafadz yang mengikatnya yaitu “ilal marafiqi” (sampai dengan siku). Maka berdasarkan ayat tersebut mencuci tangan harus sampai siku.

Sebab dari ayat di atas adalah sama dengan ayat mutlaq yang sebelumnya yaitu keharusan bersuci untuk mendirikan shalat, akan tetapi hukumnya berbeda. Ayat mutlaq sebelumnya menerangkan keharusan menyapu dengan tanah, sedang ayat muqayyad menerangkan keharusan mencuci dengan air. Maka ketentuan hukum yang ada pada ayat mutlaq tidak bisa ditarik kepada yang muqayyad. Artinya, ketentuan menyapu tangan dengan tanah tidak bisa dipahami sampai siku, sebagaimana ketentuan wudhu’ yang mengharuskan membasuh tangan sampai siku. Dengan demikian ayat mutlaq dan muqayyad berjalan sesuai dengan ketentuan hukumnya sendiri-sendiri tidak bisa dijadikan satu.

Atau kita gunakan pemahaman lain bahwa dalam ayat ini dijelaskan keharusan menyapukan tanah pada muka dan dua tangan. Kata “tangan” di sini tidak diikatkan kepada suatu sifat. Hal ini merupakan lafazh mutlaq. Hukum dalam kedua ayat tersebut berbeda, yaitu pada yang lafazh mutlaq (ayat kedua) adalah kewajiban menyapu, sedangkan pada lafazh muqayyad (ayat pertama) adalah kewajiban mencuci. Sebab dalam kedua ayat tersebut adalah sama, yaitu keharusan bersuci untuk mendirikan shalat.

Berikut diantara yang masih diperselisihkan dalam mutlaq dan muqayyad

  • Hukumnya sama namun sebabnya brbeda, maksudnya adalah Sebab yang menimbulkan hukum berbeda antara lafazh mutlaq dan lafazh muqayyad, namun hukum yang terdapat dalam dua lafazh tersebut adalah sama. Menurut Ulama Hanafi tidak boleh membawa mutlaq kepadamuqayyad, melainkan masing-masingnya berlaku sesuai dengan sifatnya. ketetapan ini berdasarkan kaidah,

اَلْمُـطْلَقُ يُحْمَـلُ عَلىَ اَلْمُـقَــَّيدِ وَإِنِ اخْتَـــلَفـَـــافِى السَّــبَبِ.

“Mutlaq itu dibawa ke muqayyad jika sebabnya berbeda.”

Jika sebab yang ada pada mutlaq dan muqayyad berbeda, tetapi hukum keduanya sama, maka yang mutlaq tidak bisa dipahami dan diamalkan sebagaimana yang muqayyad. Contoh;

  1. Mutlaq

Surat Al-Mujadalah ayat 3 tentang kafarah dzihar yang dilakukan seorang suami kepada istrinya.

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ

“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. (QS. Al-Mujadilah: 3)

Lafadz “raqabah” (hamba sahaya) dalam masalah dzihar ini berbentuk mutlaq karena tidak ada lafadz yang mengikatnya. Sehingga seorang suami yang sudah terlanjur men-dzihar istrinya dan ingin ditarik ucapannya, maka sebelum mencampurinya harus memerdekan hamba sahaya atau budak, baik yang beriman ataupun yang tidak.

  1. Muqayyad

Surat an-Nisa’ ayat 92 tentang kafarah qatl (pembunuhan) yang tidak sengaja, yaitu :

وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

“dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman” (QS. An-Nisa’: 92)

Lafadz “raqabah” (hamba sahaya) dalam ayat ini berbentuk muqayyad dengan diikat lafadz “mukminah” (beriman), maka hukumnya ialah keharusan untuk memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Karena sebabnya berbeda, satu masalah kafarah dzihar dan yang lain kafarah qatl, walaupun hukumnya sama-sama memerdekakan hamba sahaya, namun tetap diamalkan sesuai dengan ketentuannya masing-masing. Ayat mutlaq berjalan berdasarkan kemutlaq-annya, sedang yang muqayyad berjalan berdasarkan kemuqayyadannya[6].

Atau menggunakan pemahaman lain lain, lafazh رَقَبَةٍ pada ayat di atas diberi qayid (batasan) yaitu dengan sifat مُّؤْمِنَةٍ. Sebab yang menimbulkan hukum pada kedua ayat di atas berbeda: pada lafazh mutlaq (ayat pertama) adalah dalam kasus kafarah dzhihar, sedangkan pada lafazh muqayyad (ayat kedua) dalam kasus pembunuhan yang tidak disengaja. Hukum dalam kedua ayat di atas adalah sama, yaitu kewajiban memerdekakan hamba sahaya (budak).

Alasan Masing-Masing Golongan

Berikut ini adalah pendapat dari Ulama Hanafiyah dan Jumhur Ulama:

  1. Alasan Hanafiyah

Merupakan suatu prinsip bahwa kita melaksanakan dalalah lafazhatas semua hukum yang dibawa saja, sesuai dengan sifatnya, sehinggalafazh mutlaq tetap pada kemutlaqannya dan lafazh muqayyad tetap padakemuqayyadannya. Tiap-tiap nash merupakan hujjah yang berdiri sendiri. Pembatasan terhadap keluasan makna yang terkandung pada mutlaq tanpa dalil dari lafazh itu sendiri berarti mempersempit yang bukan dari perintahsyara’. Berdasarkan hal ini, lafazh mutlaq tidak bisa dibawa padamuqayyad, kecuali apabila terjadi saling menafikan antara dua hukum, yakni sekiranya mengamalkan salah satunya membawa pada tanaqud(saling bertentangan).

  1. Alasan Jumhur

Al-Quran merupakan kesatuan hukum yang utuh dan antara satu ayat dengan ayat lainnya berkaitan, sehingga apabila ada suatu kata dalam Al-Quran yang menjelaskan hukum berarti hukum itu sama pada setiap tempat yang terdapat kata itu. (Imam Syafi’i).

Alasan kedua, muqayyad itu harus menjadi dasar untuk menafikan dan menjelaskan maksud lafazh mutlaq. Sebab mutlaq itu kedudukannya bisa dikatakan sebagi orang diam, yang tidak menyebut qayyid. Di sini ia tidak menunjukkan adanya qayyid, dan tidak pula menolaknya, sedangkanmuqayyad sebagai orang yang berbicara, yang menjelaskan adanya qayyid.Di sini tampak jelas adanya kewajiban memakai qayyid ketika adanya dan menolaknya apabila tidak adanya. Sehingga kedudukannya sebagai penafsir. Oleh sebab itu, ia lebih baik dijadikan dasar untuk menjelaskan maksudmutlaq.

Apabila nash hukum datang dengan bentuk mutlaq dan pada sisi yang lain dengan bentuk muqayyad, maka menurut ulama ushul ada empat kaidah di dalamnya, yaitu:

Menurut Prof. Dr. H. Amir Syarifuddin disamping empat pola hubungan antara lafazh mutlaq dan lafazh muqayyad di atas juga terdapat tiga jenis lagi, sebagaimana penjelasannya dalam bukunya yang berjudul Ushul Fiqh, yaitu:

  • Adakalanya salah satu di antara keduanya (lafazh mutlaq dan lafazh muqayyad), dalam bentuk itsbảt (membenarkan) dan yang satu lagi dalam bentuk nafy (membantah). Contohnya, seseorang berkata, “Memerdekakan hamba sahaya”. Lalu berkata lagi, “Jangan memerdekakan hamba sahaya yang kafir”. Atau ia berkata, “Memadai memerdekakan hamba sahay muslim”. Kemudian berkata lagi, “Tidak memadai memerdekakan hamba sahaya”. Lafazh mutlaq dalam contoh tersebut diberi qayid dengan kebalikan atau lawan (antonim) qayid pada lafazh yang muqayyad. Pada contoh pertama kata “hamba sahaya” diberi qayid dengan “muslim dan pada contoh kedua “hamba sahaya” diberi qayid dengan kata “Muslim”.
  • Bila dalam keduanya (lafazh mutlaq dan lafazh muqayyad) dalam bentuk nafy atau dalam bentuk melarang; atau yang satu dalam bentuk nafy dan yang satu lagi dalam bentuk melarang, maka dalam hal hal ini lafazh mutlaq diberi qayid dengan sifat yang terdapat dalam lafazh muqayyad.

Contoh bentuk pertama, perkataan, “tidak cukup menyembelih hewan” dan “tidak cukup menyembelih hewan sakit”. Contoh bentuk kedua, perkataan, “jangan menyembelih hewan” “jangan menyembelih hewan sakit” “jangan menyembelih hewan”.

Bentuk dan contoh yang disebutkan sebelumnya adalah lafazh muqayyad berada dalam satu tempat, sehingga lafazh mutlaq hanya mungkin ditangguhkan kepada lafazh muqayyad itu saja.

  • Bentuk lain adalah lafazh muqayyad berada dalam dua tempat yang berbeda. Menurut ulama Syafi’iyah lafazh mutlaq harus ditangguhkan kepada salah di antara kedua muqayyad di tempat yang berbeda itu. Misalnya, firman Allah dalam surah Al-maidah ayat 59:

 أَيَّامٍ ثَلَاثَةِ فَصِيَامُ

“maka harus puasa tiga hari”.

Kata “tiga hari” dalam ayat ini merupakan lafazh mutlaq tanpa keterangan. Artinya, tiga hari tersebut boleh berturut-turut dan boleh pula terpisah. Selanjutnya, firman Allah dalam kasus kafarah zhihảr pada surah Al-Mujadalah ayat 4:

 مُتَتَابِعَيْنِ شَهْرَيْنِ فَصِيَامُ

 “maka harus puasa selama dua bulan berturut-turut”.

Pada ayat ini kewajiban berpuasa dinyatakan dalam bentuk muqayyad yaitu “berturut-turut”. Selanjutnya, firman Allah yang membicarakan dam haji, dalam surah Al-Baqarah ayat 196:

  ۗرَجَعْتُمْ إِذَا وَسَبْعَةٍ الْحَجِّ فِي أَيَّامٍ ثَلَاثَةِ فَصِيَامُ

“maka hendaklah puasa tiga hari waktu melakukan haji dan tujuh hari setelah kembali dari ibadah haji”.

Pada ayat pertama kewajiban puasa dinyatakan secara mutlaq. Lafazh muqayyad-nya bertemu dalam dua tempat dan hukumnya berbeda: yang pertama puasa secara berturut-turut (dalam kasus kafarah zhihảr), dan kedua puasa secara terpisah (dalam kasus dam haji).

Meskipun lafazh muqayyad-nya ada dalam dua tempat yang berbeda, namun bila dibandingkan, ternyata salah satu di antara keduanya lebih tepat untuk dijadikan qayid bagi lafazh mutlaq karena adanya titik kesamaan. Dalam hal ini, kewajiban puasa lebih tepat diberi qayid dengan yang terdapat dalam kasus kafarah zhihảr, yaitu “berturut-turut”, karena lafazh mutlaq dan lafazh muqayyad sama-sama dalam kasus kafarah[7].

  1. Kaedah-kaedah Mutlaq dan Muqayyad

Imam al-Syafi’i seperti dalam Sapiudin Shidiq,[8] menjelaskan kaidah-kaidah yang berkaitan dengan mutlaq dan muqayyad sebagaimana berikut:

  • Hukum mutlaq.

Lafal mutlaq dapat digunakan sesuai dengan kemutlaqannya. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ يَبْقَى عَلَى إِطْلَاقِهِ مَالـَـمْ يَقُمْ دَلِــْيلٌ عَلَى تَقْـِـييْدِهِ.

“Mutlaq itu ditetapkan berdasarkan kemutlaqannya selama belum ada dalil yang membatasinya.”

Contoh: (QS. Al-Nisa’ [4]: 23).

…وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ…

 “…dan ibu-ibu dari istri-istrimu…”

Ayat ini mengandung arti mutlaq karena tidak ada kata yang mengikat atau membatasi kata ibu mertua. Oleh karena itu, ibu mertua tidak boleh dinikahi, baik istrinya (anak dari ibu mertuanya) itu sudah dicampurinya atau belum.

  • Hukum muqayyad.

Lafal muqayyad tetap dinyatakan muqayyad selama belum ada bukti yang me-mutlaq-kan. Kaidahnya:

اَلْمُـقَــَّيدُ باَقِىٌ عَلَى تَقْيِــيْدِهِ مَالـَـمْ يَقُمْ دَلِــْيلٌ عَلَى إِطْــــلَاقِهِ.

“Muqayyad itu ditetapkan berdasarkan batasannya selama belum ada dalil yang menyatakan kemutlaqannya.”

Contoh: (QS. Al-Mujadalah [58]: 3-4):

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ. فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“(3) Orang-orang yang mendzihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (4) Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kafarat bagi seorang suami yang melakukan zihar terhadap istrinya adalah memerdekakan budak atau puasa dua bulan berturut-turut atau kalau tidak mampu, maka ia harus memberi makan sebanyak 60 orang miskin. Karena ayat ini telah dibatasi kemutlaqannya, maka harus diamalkan hukum muqayyadnya.

  • Hukum mutlaq yang sudah dibatasi.

Lafal mutlaq jika telah ditentukan batasannya, maka ia menjadi muqayyad. Kaidahnya:

اَلْمُـطْلَقُ لاَ يَبْقَى عَلَى إِطْلَاقِهِ إِذَا يَقُوْمُ دَلِــْيلٌ عَلَى تَقْـِـييْدِهِ.

“Lafal mutlaq tidak boleh dinyatakan mut}laq karena telah ada batasan yang membatasinya.”

Contoh: (QS. Al-Nisa’ [4]: 11).

…مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي…

“…sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya…”

Kata wasiat pada ayat ini masih bersifat mutlaq dan tidak ada batasan berapa jumlah wasiat yang harus dapat dikeluarkan. Kemudian ayat ini dibatasi ketentuannya oleh hadits yang menyatakan bahwa wasiat yang paling banyak adalah sepertiga dari jumlah harta warisan yang ada. Dengan demikian, maka hukum mutlaq pada ayat tersebut dibawa kepada yang muqayyad. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW.

فَإِنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ اَلثُّــلُثُ وَالثُّــلُثُ كَبِــــيْرٌ (رواه البخــارى ومســلم)

“Wasiat itu adalah sepertiga dan sepertiga itu sudah banyak” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Hukum muqayyad yang dihapuskan batasannya.

Lafal muqayyad jika dihadapkan pada dalil lain yang menghapus ke-muqayyadan-nya, maka ia menjadi mutlaq. Kaidahnya:

اَلْمُـقَــَّيدُ لاَ يَبْقَى عَلَى تَقْيِــيْدِهِ إِذَا يَقُوْمُ دَلِــْيلٌ عَلَى إِطْــــلَاقِهِ.

“Muqayyad tidak akan tetap dikatakan muqayyad jika ada dalil lain yang menunjukkan kemutlaqannya.

Contoh: (QS. Al-Nisa’ [4]: 23).

… وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ…

“…dan anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya…”

Ayat tersebut menjelaskan tentang keharaman menikahi anak tiri. Hal ini disebabkan karena anak tiri itu “dalam pemeliharaan” dan ibunya “sudah dicampuri”. Keharaman ini telah dibatasi oleh dua hal tersebut, namun batasan yang kedua tetap dipandang sebagai batasan yang muqayyad sedang batasan pertama hanya sekedar pengikut saja, karena lazimnya anak tiri itu mengikuti ibu atau ayah tirinya. Bilamana ayah tiri belum mencampuri ibunya dan telah diceraikan, maka anak tiri tersebut menjadi halal untuk dinikahi, karena batasan muqayyadnya telah dihapus sehingga menjadi mutlaq kembali.

  1. Keimpulan
    • Mutlaq ialah suatu lafazh yang menunjukkan hakikat sesuatu tanpa pembatasan yang dapat mempersempit keluasan artinya. Sedangkanmuqayyad adalah suatu lafazh yang menunjukkan hakikat sesuatu yang dibatasi dengan suatu pembatasan yang memperesmpit keluasan artinya.
    • Para ulama sepakat bahwa hukum lafazh mutlaq itu wajib diamalkan kemutlaqannya, selama tidak ada dalil yang membatasi kemutlaqannya. Begitu juga hukum lafazh muqayyad itu berlaku pada kemuqayyadannya.
    • Kemuthlaqan dan kemuqayyadan terdapat pada sebab hukum. Namun, masalah (maudhu’) dan hukumnya sama. Menurut Jumhur Ulama dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanafiyah, dalam hal ini wajib membawa mutlaq kepada muqayyad.
    • Mutlaq dan muqayyad terdapat pada nash yang sama hukumnya. Namun sebabnya berbeda. Masalah ini juga diperselisihkan. Menurut Ulama Hanafi tidak boleh membawa mutlaq kepada muqayyad, melainkan masing-masingnya berlaku sesuai dengan sifatnya.
  2. Refrensi

Al-qattan, Khalil, Manna’. 2012. Studi Ilmu-ilmu Al-qur’an. Bogor : Pustaka Litera Antar Nusa.

Praja, S, Juhaya. 2010. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung: Pustaka Setia.

Syarifuddin, Amir. 2011. Ushul Fiqh. Jakarta : Kencana.

Syafe’i, Rachmat. 2010. Ilmu Ushul Fiqh. Bandung : Pustaka Setia.

Umar, Mukhsin Nyak. Ushul fiqh, Tim CV. Citra Kreasi Utama. Banda Aceh : 2008.

Yahya, Mukhtar. Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, PT. Alma’arif. Bandung: 1986.

[1] Umar, Mukhsin Nyak. Ushul fiqh, Tim CV. Citra Kreasi Utama. Banda Aceh : 2008.

[2] Juhaya S. Praja, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal, 213-214.

[3] Yahya, Mukhtar. Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, PT. Alma’arif. Bandung: 1986.

[4] Umar, Mukhsin Nyak. Ushul fiqh, Tim CV. Citra Kreasi Utama. Banda Aceh : 2008.

[5] Yahya, Mukhtar. Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, PT. Alma’arif. Bandung: 1986.

[6] Yahya, Mukhtar. Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, PT. Alma’arif. Bandung: 1986.

[7] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2011), hal, 129-130.

[8] Juhaya S. Praja, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hal. 213.