Ukuran Rapat Shaf Jamaah Shalat Sesuai Sunnah Nabi

Seringkali kita melihat sebelum shalat jamaah dilaksanakan, para jamaah shalat berdiri dan berbaris dengan asal-asalan dan terkesan bermalas-malasan. Para makmum berdiri tidak tegak sehingga posisi berdirinya saling condong antar satu makmum dengan makmum lainnya yang berdampak pada saling menempel dan bersentuhan bahu satu dengan lainnya, saling menempel lutut satu dengan lutut lainnya, saling menempel satu mata kaki dengan mata kaki lainnya.

Keadaan yang saling tempel-menempel dan saling bersentuhan tersebut berdampak pada semerawut dan tidak lurusnya barisan jamaah shalat sehingga oleh Nabi ditegor dan dilarang untuk saling menempel dan bersentuhan. Sebab yang disyariatkan dalam berjamaah hanya meluruskan dan merapikan barisan jamaah shalat. Sedangkan posisi saling bersentuhan dan saling menempel antar makmum merupakan perkara yang dilarang oleh syariat Islam.

Perhatikan pada makna Hadits di bawah ini ketika Nabi terlihat marah adalah karena disebabkan Nabi melihat dan menyaksikan para jamaah di belakangnya berdiri tidak teratur karena saling bersentuhan dan saling menempel antara satu bahu dengan bahu lainnya, antar lutut dengan lutut lainnya, dan antar mata kaki dengan mata kaki lainnya dari para makmum. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَقْبَلَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ ثَلاثاً وَاللهِ لَتُقِيْمُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ

“Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah (mengecek kerapian makmum dengan) menghadap ke arah jama’ah shalat (yang terlihat tidak rapi sebab saling bersentuhan dan saling menempelkan antar bahu, lutut, dan mata kaki dari sesama makmum-pen) kemudian Nabi menegor: “Tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian. Demi Allah, bila kalian tidak menegakkan shaf kalian, maka Allah akan mencerai-beraikan hati kalian”. An-Nu’man berkata : “Aku saksikan sendiri seorang laki-laki menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya (yang menyebabkan Nabi menegornya).” (Hadits Riwayat Abu Dawud Nomor 662)

Namun sayangnya golongan Salafy kebelinger (keliru-tersesat) dalam memaknai dan memahami hadits tersebut. Mereka tidak bisa membedakan benang merah (titik point) dari kata “bersentuhan” dan “menempel” itu kedudukannya sebagai perintah atau sebagai penyebab dari sebuah kasus terjadi.

Bila kedudukan kata “bersentuhan” dan “menempel” dianggap sebagai perintah maka hal itu malah berdampak pada seakan-akan Nabi memerintahkan para jamaah shalat untuk saling menempelkan dan menyentuhkan bahu, lutut, dan mata kaki. Padahal pemahaman semacam ini malah bertentangan dengan nalar sehat manusia dan penerjemahan ini tentunya bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmu tata bahasa dan ilmu hadits (maani).

Dengan begitu, penerjemahan dan pemahaman yang sesuai dan paling mendekati dengan pemahaman ulama salafush shalih adalah kata “bersentuhan” dan “menempel” dalam hadits tersebut kedudukannya sebagai illat penyebab kemarahan (ketidak sukaan) Nabi terhadap perkara tersebut. Efek pemahaman yang berbeda dengan golongan Salafy terhadap Hadits tersebut adalah sangat dilarang di dalam jamaah shalat antar makmum menyentuhkan dan menempelkan bahu-bahu mereka, lutut-lutut mereka, dan mata kaki-mata kaki mereka. Sebab hal semacam itu tidak disukai Nabi dengan qarinah (indikator) bahwa Nabi marah sebab melihat para makmum di belakangnya terkesan malas-malasan, tidak teratur, dan tidak rapi barisan shalatnya disebabkan  antar makmum saling bersentuhan dan saling menempelkan anggota tubuh.

Memang benar dalam berjamaah disyariatkan untuk merapatkan, merapikan, dan meluruskan barisan shalat, namun bukan berarti lurus dan rapinya barisan shalat dengan cara saling bersentuhan dan saling menempelkan. Sebab yang dimaksud rapat dan lurus adalah tidak saling bersentuhan dan saling menempel, karena hal itu terkesan bermalas-malasan.

Posisi yang tepat dalam jamaah shalat adalah jarak antara makmum satu dengan makmuam lainnya tidak saling menempel dan salingh bersentuhan sebatas ketika diperkirakan sudah tidak lagi dapat dilewati satu orang dewasa atau sudah tidak muat lagi diisi seorang dewasa secara urufnya (kebiasaannya). Dengan kata lain, bila antar dua makmum yang berdiri diperkirakan masih bisa diisi atau masih bisa dilewati oleh seorang dewasa maka hal itu yang dikategorikan sebagai renggang yang dibenci oleh syariat.

Lebih jauh lagi manakala pemahaman hadits tersebut menggunakan nalar golongan Salafy yang sempit, yakni kerapatan shaf menggunakan ukuran bersentuhan dan menempel saat makmum berdiri maka akan terjadi resiko berantakan dan saling menindih ketika jamaah shalat berubah posisi duduk tahiyyat. Sebab ruang antara posisi berdiri dengan posisi duduk itu berbeda. Ketika posisi berdiri membutuhkan ruang yang lebih sempit namun ketika posisi duduk tahiyyat membutuhkan ruang yang lebih lebar.

Dengan demikian, yang lebih tepat dengan pemahaman yang dikehendaki oleh semua hadits tentang perintah rapat barisan dalam jamaah shalat adalah ketika berdiri antar para makmum diberi jarak dan stand dengan memperkirakan manakala nanti berubah ke posisi tasyahud bisa cukup dan muat untuk duduk oleh para makmum dengan ukuran tidak saling menindih.

Dapat disimpulkan bahwa, menurut mayoritas ulama Syafiiyah dengan saling menempelkan anggota tubuh seperti bahu, mata kaki antar anggota jamaah shalat dapat membatalkan dan menghilangkan pahala shalat berjamaah. Karena sikap menempelkan anggota tubuh termasuk menyebabkan shaf jamaah tidak lurus, sebagaimana Nabi menegor para sahabat yang saling menempelkan badan.

Artikel yang sama;

Menempelkan Shaf Jamaah Shalat Itu Bukan Syariat Agama Islam

Saling Menempelkan Badan Dapat Menyebabkan Membatalkan Pahala Jamaah Shalat

Merapatkan Shaf Jamaah Shalat Itu Bukan Berarti Menempelkan Shaf Jamaah Shalat

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke