Tuntutan Syariat Islam Hanya Sebatas Kemampuan Umatnya

Walaupun ajaran Islam wajib diamalkan, namun tuntutan pengamalan ajaran Islam tersebut hanya sebatas kemampuan hambanya. Setinggi apapun tuntutan kewajibannya akan batal bila hambanya tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, Nabi bersabda,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. al-Baqarah[2]: 286)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka, bertaqwalah semampu kamu.” (QS. al-Taghabun: 16)

Dalam Hadits lainnya,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala tiada akan jenuh hingga kalian sendiri yang merasa jenuh, maka kerjakan amalan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Malik No. 240)

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Hai kaumku, beramallah (bekerja dan beribadah) sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan beramal (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,” (QS. Az-Zumar: 39)

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ قَالَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit. ” al-Qasim berkata; Dan Aisyah, bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia akan menekuninya. (HR. Muslim No. 1305)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Rasulullah SAW. bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit. ” “Dan bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia akan menekuninya.” (HR. Muslim No. 1305)

اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak pernah jenuh hingga kalian merasa jenuh. Sesungguhnya perbuatan yang paling disukai Allah Azza wa Jalla adalah yang berkesinambungan, walaupun sedikit’. (HR. Nasai No. 754)

Hadits Muslim

غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ وَسِوَاكٌ وَيَمَسُّ مِنْ الطِّيبِ مَا قَدَرَ عَلَيْهِ

“Mandi pada hari Jum’at adalah dianjurkan bagi setiap orang yang sudah baligh, demikian pula bersiwak dan memakai wangi-wangian semampunya. ” (HR. Muslim No. 1400)

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَخُذُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَانْتَهُوا

“Biarkanlah apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan perselisihan mereka kepada para Nabinya. Jika aku perintahkan kepada kalian terhadap suatu perkara maka laksanakanlah semampu kalian, dan jika aku larang kalian dari suatu perkara maka jauhilah. ” (HR. Ibnu Majah No. 2, Bukhari dan Muslim)

Ayat dan Hadits di atas menunjukkan bahwa setiap yang dilarang Rasulullah SAW. wajib ditinggalkan seluruhnya kecuali ada udzur yang membolehkannya, seperti memakan bangkai karena darurat atau terpaksa, berbeda dengan perintah yang disesuaikan dengan kemampuan. Oleh karena itu ada kaidah,

لاَ وَاجِبَ مَعَ الْعَجْزِ

“Tidak ada kewajiban ketika tidak mampu”

Menjalankan ajaran Islam dengan semampunya di sini, dapat kita gambarkan dengan apa yang pernah dilakukan juga oleh Nabi. Walaupun beliau sebagai utusan Allah, namun jangan lupa bahwa beliau juga seorang manusia biasa, di mana memiliki kemampuan-kemampuan terbatas yang sangat sesuai dengan fitrahnya manusia. Sebagaimana Nabi dalam hal ibadah shalat sangat menyukai dikerjakan tepat pada waktunya, seperti Hadits berikut,

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا

“Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya. ” (HR. Bukhari No. 496)

Walaupun Nabi menyukai shalat tepat pada waktunya, namun Nabi juga seringkali mengakhirkan shalat dari awal waktunya, sebagaimana tercantum dalam banyak Hadits di antaranya adalah,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَقَامَ بِالْفَجْرِ حِينَ انْشَقَّ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالظُّهْرِ حِينَ زَالَتْ الشَّمْسُ وَالْقَائِلُ يَقُولُ انْتَصَفَ النَّهَارُ وَهُوَ أَعْلَمُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْعَصْرِ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْمَغْرِبِ حِينَ غَرَبَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْعِشَاءِ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ أَخَّرَ الْفَجْرَ مِنْ الْغَدِ حِينَ انْصَرَفَ وَالْقَائِلُ يَقُولُ طَلَعَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى قَرِيبٍ مِنْ وَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ ثُمَّ أَخَّرَ الْعَصْرَ حَتَّى انْصَرَفَ وَالْقَائِلُ يَقُولُ احْمَرَّتْ الشَّمْسُ ثُمَّ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى كَانَ عِنْدَ سُقُوطِ الشَّفَقِ ثُمَّ أَخَّرَ الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ ثُمَّ قَالَ الْوَقْتُ فِيمَا بَيْنَ هَذَيْنِ

“Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW. dan bertanya tantang waktu shalat, namun beliau tidak menjawabnya sedikit pun. Tetapi beliau SAW. menyuruh Bilal untuk iqamat lalu beliau mengerjakan shalat Subuh ketika Fajar terbit. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk iqamat ketika matahari sudah tergelincir, lalu mengerjakan shalat Zhuhur-perawi berkata, “Ketika tengah hari” Bilal lebih tahu-. Kemudian beliau menyuruh bilal untuk iqamat tatkala matahari masih tinggi untuk shalat Ashar. Kemudian menyuruh bilal untuk iqamat ketika matahari telah terbenam untuk shalat Maghrib. Kemudian menyuruhnya untuk iqamat lalu shalat Isya ketika mega merah telah lenyap. Kemudian beliau mengakhirkan shalat Fajar pada esoknya ketika beliau selesai-perawi berkata, “matahari menjelang terbit”-. Kemudian beliau juga mengakhirkan Zhuhur hingga menjelang shalat Ashar hingga beliau selesai shalat-perawi berkata, “matahari sudah memerah”-. Kemudian beliau SAW. shalat Maghrib hingga hampir hilangnya mega merah, dan beliau mengakhirkan shalat Isya sampai sepertiga malam. Lalu beliau SAW. bersabda: ‘Waktu shalat adalah yang ada di antara keduanya’. (HR. Nasai No. 520)

Disamping itu, Nabi juga pernah melakukan shalat di luar waktu shalat, baik dalam keadaan sadar maupun tidak,

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ جَاءَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كِدْتُ أُصَلِّي الْعَصْرَ حَتَّى كَادَتْ الشَّمْسُ تَغْرُبُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا صَلَّيْتُهَا فَقُمْنَا إِلَى بُطْحَانَ فَتَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ وَتَوَضَّأْنَا لَهَا فَصَلَّى الْعَصْرَ بَعْدَ مَا غَرَبَتْ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا الْمَغْرِبَ

“Bahwa ‘Umar bin al-Khaththab datang pada hari peperangan Khandaq setelah matahari terbenam hingga ia mengumpat orang-orang kafir Quraisy, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku belum melaksanakan shalat ‘Ashar hingga matahari hampir terbenam!” Maka Nabi SAW. pun bersabda: “Demi Allah, aku juga belum melakasanakannya.” Kemudian kami berdiri menuju aliran air (sungai), beliau berwudlu dan kami pun ikut berwudlu, kemudian beliau melaksanakan shalat ‘Ashar setelah matahari terbenam, dan setelah itu dilanjutkan dengan shalat Maghrib. ” (HR. Bukhari No. 561)

Nabi pun juga terkadang terbangun kesiangan,

أَنَّهُمْ كَانُوا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسِيرٍ، فَأَدْلَجُوا لَيْلَتَهُمْ، حَتَّى إِذَا كَانَ وَجْهُ الصُّبْحِ عَرَّسُوا، فَغَلَبَتْهُمْ أَعْيُنُهُمْ حَتَّى ارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ، فَكَانَ أَوَّلَ مَنِ اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ أَبُو بَكْرٍ، وَكَانَ لاَ يُوقَظُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَنَامِهِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، فَاسْتَيْقَظَ عُمَرُ، فَقَعَدَ أَبُو بَكْرٍ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَجَعَلَ يُكَبِّرُ وَيَرْفَعُ صَوْتَهُ حَتَّى اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَزَلَ وَصَلَّى بِنَا الغَدَاة ….

“Mereka bersama Nabi SAW. dalam sebuah perjalanan yang sampai larut malam hingga menjelang Subuh mereka istirahat. Lalu mereka tertidur sampai meninggi matahari (telah habis waktu shalat Subuh). Pertama yang bangun adalah Abu Bakar, Beliau tidak membangunkan Nabi SAW. sampai dia bangun sendiri. Lalu bangunlah Umar, lalu Abu Bakar duduk di sisi kepala Nabi. Lalu dia bertakbir dengan meninggikan suaranya sampai Nabi SAW. terbangun. Lalu beliau keluar dan Shalat Subuh bersama kami.” (HR. Bukhari No. 3306 dan Muslim No. 1100)

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Penjelasan ini tidak diniatkan untuk menjatuhkan ajaran Islam, namun hanya bertujuan mengingatkan umat Islam untuk bijaksana dalam memahami dan mengamalkan ajaran agamanya, bahwa ajaran-ajaran Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia. Ada faedah yang dapat dipetik oleh kita terkait hal ini, di antaranya bahwa kesalahan, kekhilafan, dan kelemahan dalam syariat Islam juga diakomodasi. Mengingat ajaran-ajaran agama samawi sebelum Islam telah melampaui batas ketika umat Nabi Isa menganggap Nabi Isa merupakan perwujudan Tuhan, disebabkan terlalu tingginya mukjizat yang diberikan oleh Allah SWT. kepada Nabi Isa, ketika Isa diberi kemampuan menyembuhkan orang sakit dan bahkan mampu menghidupkan orang mati dan Isa dilahirkan tanpa seorang ayah. Hal ini sulit diterima oleh akal sederhana manusia, sehingga manusia berpotensi menyebabkan umat Isa menyembahnya bagaikan Tuhan.

Di sinilah bahwa agama Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia sehingga Allah SWT. merasa perlu memberikan contoh bahwa semangat beribadah itu memang afdal namun ada kalanya Nabi juga terlambat shalat bahkan pernah tidak shalat walaupun akhirnya mengqadanya. Fakta tersebut mengandung hikma agar umat Islam tidak mengulang kesalahan umat Nasrani yang pada akhirnya menyembah Isa dikarenakan apa yang dilakukan Nabi Isa bukanlah fitrah manusia. Karena manusia bukan malaikat, sehingga fleksibilitas dalam menjalankan syariat agama juga merupakan syariat itu sendiri. Di sinilah kesalahan firqah Salafi dalam menterjemahkan ajaran-ajaran agamanya, seakan akan kesempurnaan dalam mengamalkan harus serupa dengan malaikat dan bahkan harus menjadi Tuhan itu sendiri, ketika mereka tidak memberikan toleransi akan sebuah perbedaan dan kekhilafan dalam mengmalkan ajaran Islam.

Beramal sesuai kemampuan sebab seseorang tidak dibebani selain kadar kemampuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 233)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَلَا يُكَلَّفُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا يُطِيقُ

“dan janganlah dia dibebani atas suatu pekerjaan melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Hadits Muslim Nomor 3141)

Di simping itu, agama juga memberikan keleluasaan dalam beribadah sesukanya, selama bukan dalam perkara-perkara yang sudah diatur secara tauqifi kaifiatnya. Dengan kata lain, selama amal dan ibadah bersifat sunnah mutlak, dan selama kesunnahan tersebut tidak diatur secara rinci oleh agama, maka kita sangat diperbolehkan untuk mengkreasikan sesuka kita. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أُبَيِّ بْنِ عِمَارَةَ قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَكَانَ قَدْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْقِبْلَتَيْنِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْسَحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَوْمًا قَالَ يَوْمًا قَالَ وَيَوْمَيْنِ قَالَ وَيَوْمَيْنِ قَالَ وَثَلَاثَةً قَالَ نَعَمْ وَمَا شِئْتَ

“dari [Ubay bin ‘Imarah] berkata Yahya bin Ayyub, dia adalah orang yang pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kedua qiblat, dia berkata; Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mengusap kedua khuf? Beliau menjawab: “Boleh.” Dia bertanya lagi; Satu hari? Beliau menjawab: “Ya, satu hari.” Dia bertanya lagi; Dua hari? Beliau menjawab: “Ya, dua hari.” Dia bertanya lagi; Tiga hari? Beliau menjawab: “Ya, sesukamu!” (Hadits Abu Daud Nomor 136)

Sebab dalam soal ketakwaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menuntut hambanya di atas kesanggupannya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat At-Tagabun Ayat 16)

Apapun yang kita kerjakan baik dari suatu amalan maupun ibadah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan memberikan balasan pahala sesuai dengan apa yang kita usahakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 202)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

لِيَجْزِيَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.” (Surat Ibrahim Ayat 51)

Tata cara dalam beramal dan beribadah memang penting diperhatikan. Namun lebih penting lagi dalam beramal dan beribadah seperti dzikir adalah adanya upaya untuk senantiasa menghadirkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam jiwa raganya, dan setiap detak jantung hidupnya. Dzikir dilakukan dengan penuh keikhlasan, kesyahduan, kekhusuan, dan keta’dziman, hanya mengharap ridzha Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. (Qs. Al-A’raf: 205)

Jangan mempersulit dalam agama, sebab Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 185)

Allah tidak hendak menyulitkan kamu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Surat Al-Ma’idah Ayat 6)

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menyusahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;” (Surat Ta Ha Ayat 2)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa mampu melaksanakan ketakwaan untuk menjalankan segala amal dan ibadah sebagai bekal kita kelak di akhirat. Dan semoga Allah meridhai segala usaha dan pengabdian kita. Amin.

Baca juga artikel yang terkait berikut;

Beramal dan Beribadah Sesuai Kemampuan

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke