Tugas Da’i Hanyalah Menyampaikan

(Tadabbur Surat Al-Qashash Ayat 56)

 

Oleh: Irfanul Arifin
Kadept. Humas LDK SALIM UNJ 2011

Segala puji hanya milik Allah Swt atas hidayah-Nya kepada kita sekalian sehingga Allah masih menetapkan diri kita dalam keimanan dan penghambaan kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada pemimpin umat sepanjang masa, Nabi Muhammad Saw yang berkat perjuangannya kita dapat merasakan nikmatnya Islam dan iman yang tertanam dengan baik di hati kita. Semoga kita termasuk umatnya yang mampu meneruskan perjuangan risalahnya dan istiqomah di dalamnya.

Salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada setiap manusia adalah berupa hidayah. Dengan hidayah inilah, manusia dapat mengenal Rabb-nya dengan baik dan menjadi hamba yang taat. Namun, hidayah ini hanya Allah berikan kepada manusia pilihan dan Allah Maha Mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang mau menerima petunjuk.

Seorang da’i mempunyai kewajiban untuk menyeru dan mengajak manusia kembali kepada Islam. Namun, seorang da’i arus menyadari bahwa terkait hidayah hanyalah urusan Allah Swt dan tidak sedikit pun campur tangan di dalamnya.

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ.

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau mendapat petunjuk”.

Asbaabun Nuzul (sebab diturunkannya ayat)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, dari Ibnu Musayyab, bahwa bapaknya berkata, “Tatkala Abu Thalib akan meninggal dunia, datanglah Rasulullah Saw kepadanya dan pada saat itu Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahal berada di sisinya, maka beliau bersabda kepadanya:

يا عم قل لاإله إلا الله كلمة أحاج لك بها عند الله

“Wahai pamanku! Ucapkanlah La Ilaha Illallah, suatu kalimat yang dapat aku jadikan bukti untuk (membela)-mu di hadapan Allah”.

Tetapi disambut oleh Abu Umayyah dan Abu Jahal, “Wahai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muththalib?”. Lalu Nabi Saw mengulangi perkataannya lagi, akan tetapi mereka berdua pun mengulang kata-katanya itu kembali hingga akhirnya Abu Thalib masih tetap pada agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan La ilaha Illallah. Kemudian Nabi Saw bersabda, “Sungguh aku benar-benar akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang melakukannya”. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ .

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum Kerabat(Nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam”. (QS. At-Taubah: 113)

Allah juga menurunkan ayat,

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau mendapat petunjuk”. (QS. Al-Qashash: 56)

Kandungan Ayat

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash: 56)

Pada ayat ini Allah Ta’ala menerangkan bahwa Rasulullah Saw tidak dapat menjadikan umatnya taat dan menganut risalah yang dibawanya meskipun ia telah berusaha sekuat tenaga dan kemampuannya. Tugasnya hanyalah menyampaikan (berdakwah) dan Allah-lah yang akan memberi petunjuk (hidayah) kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah berfirman kepada Rasul-Nya Saw, “Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang kamu kasihi”. Maksudnya, itu bukan urusanmu. Tetapi, kewajibanmu hanyalah menyampaikan dan Allah akan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dia yang memiliki hikmah yang mendalam dan argumentasi yang kuat, sebagaimana firman Allah,

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. Al-Baqarah: 272)

Dan juga firman-Nya,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman (walaupun kamu sangat menginginkannya)”. (QS. Yusuf: 103)

Bahkan ayat ini lebih khusus daripada ayat yang lainnya. Maksudnya, Allah-lah yang paling mengetahui orang yang berhak mendapat hidayah dari orang-orang yang tersesat. (Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, III/ 523).

Rasulullah Saw adalah seorang manusia biasa seperti yang lainnya. Hanya saja ia dipilih oleh Allah menjadi utusannya dengan diberikan wahyu untuk disampaikan kepada umat manusia. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi: 110)

Syaikh As-Sa’di menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “Katakanlah hai Muhammad kepada orang-orang kafir dan yang lainnya, bahwasanya aku manusia seperti kalian, aku bukan Tuhan. Aku tidak menjadi sekutu bagi Allah dalam kekuasaanya. Aku tidak mengetahui hal-hal yang ghaib dan tidak pula memiliki perbendaharaan Allah. Tetapi, aku adalah salah satu dari hamba Tuhanku. Aku dilebihkan daripada kamu sekalian dengan wahyu yang Allah turunkan kepadaku, agar aku menyampaikan kepada kalian bahwa Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku menyeru kalian kepada amal yang mendekatkan kepada-Nya agar kalian meraih pahala-Nya dan menyelamatkan kalian dari adzab-Nya”.

Adapun petunjuk atau hidayah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

…وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.

“…Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy-Syura: 52) adalah hidayah petunjuk dan keterangan, karena Beliau-lah yang menjelaskan apa yang berasal dari Allah dan menunjukkan kepada agama dan syariat-Nya.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana perlindungan yang telah diberikan oleh Abu Thalib terhadap Rasulullah Saw. Abu Thalib benar-benar telah menjadi benteng yang ikut menjaga dakwah Islam dari serangan orang-orang yang sombong dan bodoh. Namun, dia tetap berada pada agama leluhurnya sehingga sama sekali tidak mendapat keberuntungan (Al-Mubarakfury, Sirah Nabawiyah).

Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Al-Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata kepada Nabi Saw, “Engkau sangat membutuhkan paman engkau, karena dia telah melindungi engkau, sekali pun dia telah membuat engkau marah”. Beliau bersabda, “Dia berada di neraka yang dangkal. Kalau bukan karena aku, tentu dia berada di tingkatan neraka yang paling bawah”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa dia pernah mendengar Nabi Saw bersabda, “Semoga syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat nanti sehingga dia diletakkan di neraka yang dangkal hanya sebatas tumitnya saja”.

Sebaliknya, Rasulullah Saw tidak berhak menghukumi seseorang bahwa dia pasti tidak akan mendapatkan hidayah kecuali berdasarkan wahyu Allah Ta’ala. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik rahimahullah, ia berkata, Nabi pernah terluka pada waktu perang uhud, sehingga dua giginya tanggal. Lalu beliau bersabda, “Bagaimana bisa akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabinya?” Lalu turunlah ayat:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ

“Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu”. (QS. Ali Imran: 128)

Hikmah

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat penting kepada para da’i ketika mereka berdakwah dan menyeru orang lain kepada Islam bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan, dan ia tidak berhak sedikit pun terhadap perkara hidayah bagi siapa pun juga. Seorang da’i hanya mampu menghadirkan sebab-sebab turunnya hidayah kepada objek dakwahnya namun tidak dapat memastikan hidayah tersebut sedikit pun.

Para da’i hendaknya menyadari akan hal ini sehingga setiap urusan dakwahnya ia serahkan kembali kepada Allah. Ia tidak boleh sombong terhadap keberhasilan dakwah yang dilakukannya dan juga sebaliknya, tidak perlu berkecil hati dan putus asa manakala Allah Ta’ala belum memberikan objek dakwahnya hidayah. Yang perlu dilakukan seorang da’i adalah terus memperbaiki amalnya dan banyak mengevaluasi diri sehingga dirinya beserta amal-amalnya dapat menjadi sebab Allah turunkan pertolongan.

Kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah memilih kita untuk mendapatkan hidayah atau petunjuknya dari sekian banyak orang yang tidak mendapatkan hal tersebut. Allah telah menjadikan kita memiliki pemahaman Islam yang baik sehingga kita dapat menjalani aktivitas kita sebagai seorang muslim dengan sebaik-baiknya. Apalagi Allah Ta’alatelah memberikan pemahaman yang baik kepada kita tentang dakwah. Allah hendak memuliakan kita dengan dakwah illallah sehingga kita berhak untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan seperti yang telah didapatkan oleh Rasulullah, sahabat, dan para mujahid dakwah di mana pun mereka berada.

Sebagai penutup, hendaklah kita menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah Ta’ala dan bukan selainnya sehingga dalam setiap aktivitas amal kita meyakini bahwa Allah yang kemudian menentukan hasilnya, tugas kita hanya berikhtiar (berusaha) dan menghadirkan sebab-sebabnya. Inilah bukti keimanan kita dan bentuk ketidakberdayaan kita di hadapan Allah Swt. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah Allah dan dapat terus istiqomah dalam keimanan ini. Aamiin.