Terdapat Keberkahan dalam Sahur

Dalam bahasa Arab, as-sahur (ﺍﻟﺴَّﺤُﻮْﺭُ ) dengan mem-fathah huruf sin adalah benda makanan dan minuman untuk sahur. Adapun as-suhur (ﺍﻟﺴُّﺤُﻮْﺭُ ) dengan men-dhommah huruf sin adalah mashdar yakni perbuatan makan sahur itu sendiri. (An-Nihayah, 2/347)

Makan sahur termasuk salah satu dari sunah puasa Ramadhan yang disepakati oleh para ulama, sebagaimana kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 7: 206. Dari Anas bin Malik. Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian, karena (makan) di waktu sahur itu mengandung barakah.” (HR. Bukhari no. 1923, dan Hadits Muslim Nomor 1835)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sahur dapat diperoleh seseorang yang makan dan minum meskipun hanya sedikit.” (Fathul Bari, 4/166)

Keberkahan ialah bertambahnya kebaikan dari Allah SWT. Yang membawa manfaat di dunia ataupun akhirat. Ada beberapa keutamaan dari makan sahur,

Pertama, dengan makan sahur sebagai bentuk ketakwaan karena kita telah mengamalkan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Nabin-Nyaya. Allah berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS. An Nisaa’: 80).

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 71).

Sedangkan nabi sendiri memerintahkan kita sahur. Nabi bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).

Kedua, Makan sahur merupakan salah satu hal yang membedakan antara ajaran Ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dengan Agama Islam , sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096, dan Hadits Darimi Nomor 1635)

Dalam hal ini adanya perbedaan agar umat Rasulullah tahu tentang ibadahnya Ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dengan Islam.

Ketiga, Makan sahur sebagai cara seorang hamba tetap sempurna dalam ibadahnya, namun kondisi badan tetap sehat. Pada umumnya orang yang makan sahur keadaan fisiknya lebih kuat dalam menjalankan puasa, berbeda dengan orang yang tidak makan sahur. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barokah makan sahur amat jelas yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 206).

Keempat, Orang yang makan sahur akan mendapatkan keselamatan karena Allah SWT beserta malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺴَّﺤُﻮْﺭُ ﺃَﻛْﻠُﻪُ ﺑَﺮَﻛَﺔٌ ﻓَﻼَ ﺗَﺪَﻋُﻮْﻩُ ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥْ ﻳَﺠْﺮَﻉَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺟُﺮْﻋَﺔً ﻣِﻦْ ﻣَﺎﺀٍ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻭَﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺘَﺴَﺤِّﺮِﻳْﻦَ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah satu di antara kalian hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah ta’ala dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ish Shaghir, 1/686 no. 3683)

Kelima, Dengan bangun tidur untuk keperluan sahur merupakan kesempatan kita mendekatkan diri kepada Allah. Sebab, waktu sahur adalah waktu mustajab (di kabulkannya doa) Karena ketika itu, Allah turun ke langit dunia. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir (waktu sahur). Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758)

Dalam hadits lain diriwayatkan,

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَهُمَا قَالَ قَدْرُ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami berdiri untuk melaksanakan shalat.” Aku bertanya; “Berapa jarak antara keduanya? Ia menjawab, “Seukuran orang membaca lima puluh ayat.” (Hadits Nasai Nomor 2126)

Keenam, Waktu sahur adalah termasuk salah satu waktu yang utama untuk beristighfar . Sebagaimana orang yang beristighfar pada saat itu dipuji oleh Allah di dalam firman-Nya,

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17).

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 18).

Tentunya masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam makan sahur, seperti orang yang makan sahur akan dapat dengan mudah untuk menjawab Azan dan juga menjalani shalat subuh berjamaah, karena dengan sahur biasanya orang menunggu waktu subuh tiba. Makan sahur itu dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk menjalankan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Semoga saja kita senantiasa mendapat taufiq dan hidayah Allah sehinga kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan sehingga amal ibadah puasa kali ini menjadi pintu keberkahan dan ridha Allah. Amin.

Oleh Ustadz Masruf Kun Nafi’, dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 63
    Shares