Tata Cara Mandi Sesuai Tuntunan Nabi

Daftar Isi

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Salah satu syarat sah shalat seorang muslim bila dia suci dari hadas, baik hadas kecil maupun hadas besar. Hadas adalah keadaan tidak suci pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak sah shalatnya. Ada dua,

Hadas kecil: Sebuah kondisi tidak suci disebabkan oleh beberapa faktor seperti keluarnya sesuatu dari dua lobang qubul dan dubur, bersentuhan kulit laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim, kehilangan kesadaran seperti mabuk, tidur atau gila, atau telapak tangan menyentuh qubul dan dubur. Untuk mensucikan hadas kecil dengan cara berwudlu.

Sedangkan hadas besar adalah Sebuah kondisi tidak suci disebabkan oleh beberapa faktor seperti keluarnya mani karena mimpi atau persetubuhan, bertemunya kelamin perempuan dengan laki-laki, meninggal dunia, haid, nifas, wilawah. Sedangkan cara mensucikan hadas besar dengan cara mandi besar atau dikenal dengan junub.

A. Berikut dalil tentang kewajiban mandi:

  1. Firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat, dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

  1. Firman Allah,

وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“Janganlah menghampiri masjid, sedang kalian dalam keadaan junub, terkecuali sekadar berlalu saja, sehingga kalian mandi.” (QS. An-Nisa: 43)

  1. Firman Allah,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

“Dan jika kalian dalam keadaan junub, maka mandilah.” (QS. Al-Maidah: 6)

  1. Sabda Nabi,

لاَتُقْبَلُ صَلاَةٌ بِلاَطُهُوْرٍ

“Allah tidak menerima shalat seseorang yang tanpa thoharoh (bersuci).” (HR. Muslim)

B. Sebab-sebab yang mewajibkan seseorang mandi di antaranya adalah:

  1. Bersetubuh, nabi bersabda,

إِذَا تَجَاوَزَ الخِتَانِ فَقَدْ وَجَبَ الغُسْلُ

“Apabila dua kemaluan saling bersentuhan, maka telah diwajibkan atas keduanya untuk mandi.” (HR. Muslim)

  1. Keluar mani karena mimpi ayau bersetubuh,

يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحي مِنَ الحَقِّ هَلْ عَلَى المَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ اِحْتَلَمَتْ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: نَعَمْ إِذَا رَأَتْ المَاءَ

““Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran (maka aku pun tidak malu untuk bertanya): Apakah wanita wajib mandi bila bermimpi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Ya, apabila ia melihat air mani setelah ia bangun.” (Muttafaqun Alaih)

  1. Meninggal dunia selain bukan mati syahid

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Mandikan dia dengan air dan sidr (bidara).” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam juga pernah bersabda ketika putri Ummu ‘Athiyah meninggal dunia:

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ

“Mandikan dia sebanyak tiga kali (siraman), lima kali, tujuh kali atau lebih jika kalian menganggap itu perlu.” (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Selesai nifas pasca melahirkan maupun selesai haid

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي وَصَلِّيْ

“Jika telah tiba masa haidhmu maka tinggalkan shalat, dan bila selesai masa haidmu maka mandilah kemudian shalatlah.” (HR. Bukhari)

C. Fardhu Mandi

  1. Membaca niat,

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar fardhu karena Allah Taala.”

  1. Membasuh seluruh anggota badan dengan air yaitu dengan meratakan air ke seluruh bagian rambut dan kulit

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah bin Yusuf] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Hisyam bin ‘Urwah] dari [Bapaknya] dari [‘Aisyah] isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi karena janabat, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat, kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari Nomor 240)

إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْفِنِي عَلَيْهِ ثَلَاثًا وَقَالَ زُهَيْرٌ تُحْثِي عَلَيْهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍ ثُمَّ تُفِيضِي عَلَى سَائِرِ جَسَدِكِ فَإِذَا أَنْتِ قَدْ طَهُرْتِ

Cukup bagimu menuangkan air tiga kali ke atasnya, kemudian menuangkannya ke seluruh tubuhmu, maka dengan demikian berarti kamu telah suci. (HR. Abu Daud Nomor 219)

  1. Menghilangkan najis yang menempel di tubuh

Dari Ali ra, bahwasannya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bernah berkata:

مَنْ تَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ مِنْ جِنَابَةٍ لَمْ يُصِبْهَا اْلمَاءُ فَعَلَ اﷲُ بِهِ كَذَا وَكَذَا مِنَ الْنٌارِ

“Barangsiapa membiarkan janabat seluas tempat seutas rambut tanpa dikenai air, maka Allah akan mengazabnya dengan sekian dan sekian api karenanya.”

D. Sunnah Mandi

  1. Sunnah wudlu terlebih dahulu,

وَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا اَصَابَهُ مِنَ اْلاَذَى٬ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ يُدْخِلُ اَصَابِعَهُ فِى المَاءِ٬ فَيُخَلِّلُ بِهَا اُصُوْلَ شَعْرِهِ٬ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدِهِ ثُمَّ يُضِيْضُ الْمَاءُ عَلَى جِلدِهِ كُلِّهِ

“…dan beliau (Rasulullah sholallahu Alaihi Wassala) membasuh farjinya serta kotoran yang menempel pada tubuhnya, kemudian berwudhu seperti halnya berwudhu’ untuk shalat. Sesudah itu, beliau memasukkan jari-jarinya dalam air, lalu dengan jari-jari iu beliau menyela-nyelai pangkal-pangkal rambutnya, kemudian menuangkan air atas kepalanya, tiga cidukan dengan tangannya, kemudian mengguyurkan air pada seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari)

  1. Mendahulukan untuk membasuh dengan air semua jenis kotoran maupun najis yang menempel di seluruh badan.
  2. Pada permulaan mandi, disunnahkan untuk membaca basmallah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

  1. Menghadap ke arah kiblat setiap kali mandi
  2. Mendahulukan membersihkan tubuh bagian kanan daripada tubuh bagian kiri

كَانَ النَّبِيُّ صَلَى اﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ اَلتَّيَمُنُوْ فِى تَنَعُّلِهِ وَ تَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِى شَأءنِهِ كُلِّهِ

“Nabi SAW menyukai memulai dengan kanannya ketika memakai sandal, menguraikan rambut kepalanya, bersuci dan dalam segala hal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Saat membasuh anggota badan, disunnahkan untuk membasuhkan hingga 3 kali
  2. Setelah selesai mandi, disunnahkan untuk membaca do’a seperti membaca do’a ketika telah selesai berwudlu’

اَشْهَدُ اَنْ لآّاِلَهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمَّ اجْعَلْنِىْ مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِىْ مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan Utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bersuci (sholeh).”

Bagikan Artikel Ini Ke