Tafsir Surat An-Nisa'[4] Ayat 95-96

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّaهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا. دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

[1] [2]Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya[3]. Allah melebihkan derajat[4] orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[5] satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[6] dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya[7], ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat An-Nisa'[4] Ayat 95-96)

Menurut Tafsir Ibnu Katsir

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang mengatakan bahwa ketika diturunkan ayat berikut: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk. (An-Nisa: 95) Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam memanggil Zaid untuk menulisnya, lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum yang mengadukan tentang uzurnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya: yang tidak mempunyai uzur. (An-Nisa: 95)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang). (An-Nisa: 95) Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Panggilkanlah si Fulan!” Maka datanglah orang yang dimaksud dengan membawa tinta, lembaran (lauh), dan pena; lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam memerintahkannya untuk menulis ayat berikut: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah. Saat itu di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam terdapat Ibnu Ummi Maktum. Maka Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang tuna netra.” Lalu turunlah ayat berikut sebagai gantinya, yaitu firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. (An-Nisa: 95)

Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnu Sad. dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ibnu Syihab, “Telah menceritakan kepadaku Sahl ibnu Sa’d As-Sa’idi, bahwa ia melihat Marwan ibnul Hakam di dalam masjid. Lalu ia datang kepadanya dan duduk di sebelahnya. Kemudian ia menceritakan kepada kami bahwa Zaid ibnu Sabit pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam pernah memerintahkan kepadaku untuk mencatat firman-Nya: “Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.” Lalu datanglah kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam Ibnu Ummi Maktum, yang saat itu beliau sedang mengislamkannya kepadaku. Maka dengan serta merta Ibnu Ummi Maktum berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku mampu berjihad di jalan Allah, niscaya aku akan berjihad.’ Ibnu Ummi Maktum adalah orang yang tuna netra. Maka turunlah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam wahyu lainnya, yang saat itu paha beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam berada di atas pahaku, maka terasa amat berat bagiku hingga aku merasa khawatir bila pahaku menjadi patah karenanya (beratnya wahyu yang sedang turun kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam). Setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam selesai dari menerima wahyu, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam membacakan ayat yang diturunkan, yaitu firman-Nya: “yang tidak mempunyai uzur (halangan)” (An-Nisa: 95).”

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari, tanpa Imam Muslim.

Telah diriwayatkan melalui jalur lain oleh Imam Ahmad, dari Zaid; untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Abuz Zanad, dari Kharijah ibnu Zaid yang mengatakan bahwa sahabat Zaid ibnu Sabit pernah menceritakan hadis berikut, “Ketika aku sedang duduk di sebelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, tiba-tiba turunlah wahyu kepadanya dan sakinah (ketenangan) menguasai dirinya.” Zaid ibnu Sabit melanjutkan kisahnya, “Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam dikuasai oleh ketenangan, beliau mengangkat pahanya dan meletakkannya di atas pahaku.” Zaid ibnu Sabit menceritakan, “Demi Allah, aku belum pernah merasakan sesuatu yang lebih berat daripada paha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam Setelah wahyu selesai darinya, beliau bersabda, ‘Hai Zaid, tulislah!’ Maka aku mengambil lembaran dan beliau memerintahkan kepadaku untuk mencatat firman berikut, yaitu: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. sampai dengan firman-Nya: pahala yang besar. (An-Nisa: 95)

Lalu aku menulis ayat tersebut pada selembar tulang paha. Ketika Ibnu Ummi Maktum mendengarnya, maka ia bangkit, sedangkan dia adalah seorang yang tuna netra; ia bangkit karena mendengar keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan orang yang tidak mampu berjihad dan orang yang tuna netra serta yang mengalami hal-hal yang serupa?’.” Zaid melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, sebelum ucapan Ibnu Ummi Maktum selesai atau begitu Ibnu Ummi Maktum selesai dari ucapannya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam dikuasai oleh sakinah lagi, dan pahanya berada di atas pahaku. Maka aku merasakan pahanya berat sekali karena wahyu, seperti yang telah kurasakan semula. Kemudian wahyu selesai darinya, lalu beliau bersabda, ‘Bacalah!’ Maka aku membacakan kepadanya firman berikut: ‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda membacakan pengecualiannya, yaitu firman-Nya: ‘yang tidak mempunyai uzur’ (An-Nisa: 95).” Zaid ibnu Sabit mengatakan, “Lalu aku menyusulkannya (menyisipkannya). Demi Allah, seakan-akan aku melihat sisipannya itu berada pada bagian yang retak dari lembaran tulang paha itu.”

Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Sa’id ibnu Mansur, dari Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, dari Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari ayahnya dengan lafaz yang semisal.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri, dari Qubaisah ibnu Zua-ib, dari Zaid ibnu Sabit yang menceritakan bahwa dia adalah juru tulis wahyu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam pada suatu hari memerintahkan kepadanya untuk mencatat firman berikut, yaitu: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dan orang-orang yang berjihad dijalan Allah. Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum, dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad di jalan Allah, tetapi aku mempunyai cacat seumur hidup seperti yang engkau lihat sendiri, indra penglihatanku telah tiada.” Zaid ibnu Sabit melanjutkan kisahnya, “Maka terasa berat lagi paha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam di atas pahaku, hingga aku merasa khawatir bila tulang pahaku patah karenanya. Setelah wahyu selesai darinya, maka beliau memerintahkan kepadaku untuk mencatat ayat berikut, yaitu firman-Nya: ‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah’ (An-Nisa: 95).”

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abdul Karim (yaitu Ibnu Malik Al-Jariri), bahwa Miqsam maula Abdullah ibnul Haris pernah menceritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang). (An-Nisa: 95) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar dan orang-orang yang berangkat menuju medan peperangan Badar. Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim.

Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui jalur Hajjaj dari Ibnu Juraij, dari Abdullah Karim, dari Miqsam, dari ibnu Abbas yang telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. (An-Nisa: 95) Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar dan orang-orang yang berangkat menuju medan peperangan Badar.

Ketika diturunkan ayat mengenai Perang Badar, maka Abdullah ibnu Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum berkata, “Sesungguhnya kami adalah dua orang yang tuna netra, wahai Rasulullah. Apakah ada keringanan bagi kami?” Maka turunlah firman-Nya: Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur. (An-Nisa: 95) Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya atas orang-orang yang duduk [tidak ikut berperang] satu derajat. Mereka yang duduk tidak ikut perang itu adalah selain yang mempunyai uzur (halangan). Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. (An-Nisa: 95) Yakni orang-orang yang duduk tidak ikut berperang dari kalangan orang-orang mukmin selain mereka yang mempunyai uzur (halangan).

Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Turmuzi, kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib bila ditinjau dari segi jalur sanadnya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

{لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ}

“Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang). (An-Nisa: 95)

bermakna mutlak.

Dan ketika diturunkan wahyu yang singkat, yaitu firman Nya:

{غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ}

“Yang tidak mempunyai uzur. (An-Nisa: 95)

Maka hal ini mengandung keringanan dan jalan keluar bagi orang-orang yang mempunyai uzur yang membolehkannya untuk tidak ikut berjihad, seperti tuna netra, pincang, dan sakit; hingga kedudukan mereka tetap sama dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Setelah itu Allah memberitakan perihal keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang berjihad, bahwa keutamaan mereka berada di atas orang-orang yang duduk [tidak ikut berperang] satu derajat. Menurut Ibnu Abbas, selain dari mereka yang mempunyai uzur.

Memang demikianlah seharusnya, seperti yang dinyatakan di dalam kitab Sahih Bukhari melalui jalur Zuhair ibnu Mu’awiyah, dari Humaid ibnu Anas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda:

” إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُم مِنْ مَسِير، وَلَا قَطَعْتُمْ مِنْ وَادٍ إِلَّا وَهُمْ مَعَكُمْ فِيهِ ” قَالُوا: وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: ” نَعَمْ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ “

“Sesungguhnya di Madinah terdapat orang-orang yang tidak sekali-kali kalian berjalan, dan tidak pula menempuh suatu lembah, melainkan mereka selalu bersama kalian padanya. Ketika mereka bertanya, “Apakah mereka tetap tinggal di Madinah, wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam menjawab: Ya, mereka terhalang oleh uzur (hingga tidak ikut bersama kamu).”

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ahmad melalui Muhammad ibnu Addi, dari Humaid, dari Anas, dengan lafaz yang sama. Imam Bukhari men-ta’liq-nya secara majzum.

وَرَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ مُوسَى بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَقَدْ تَرَكْتُمْ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مُسِيرًا، وَلَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ، وَلَا قَطَعْتُمْ مِنْ وادٍ إِلَّا وَهُمْ مَعَكُمْ فِيهِ “. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ يَكُونُونَ مَعَنَا وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ؟ قَالَ: ” حَبْسَهُمُ الْعُذْرُ “

“Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Hammad ibnu Salamah, dari Humaid dari Musa ibnu Anas ibnu Malik, dari ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam yang telah bersabda: Sesungguhnya kalian meninggalkan di Madinah orang-orang yang tidak sekali-kali kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak sekali-kali kalian membelanjakan sesuatu, tidak sekali-kali kalian menempuh suatu lembah melainkan mereka selalu bersama kalian di dalamnya. Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimanakah mereka dapat bersama kami padanya, wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam menjawab: Ya, mereka tertahan oleh uzur.”

Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Abu Daud.

Semakna dengan pengertian ini, ada seorang penyair yang mengatakan:

يَا رَاحِلِينَ إِلَى الْبَيْتِ الْعَتِيقِ لَقَدْ … سِرْتُمْ جُسُومًا وَسِرْنَا نَحْنُ أَرْوَاحَا

إنَّا أَقَمْنَا عَلَى عُذْرٍ وَعَنْ قَدَرٍ … وَمَنْ أَقَامَ عَلَى عُذْرٍ فَقَدْ رَاحَا

“Hai orang-orang yang berangkat ke Baitullah Al-‘Atiq (Ka’bah), sesungguhnya kalian berangkat dengan jasad kalian, sedangkan karni hanya berangkat dengan arwah kami. Sesungguhnya kami tinggal di tempat karena uzur dan takdir; dan barang siapa yang tinggal karena uzur, berarti sama saja dengan orang yang berangkat (haji).”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنى

“Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik. (An-Nisa: 95)”

Yang dimaksud dengan pahala yang baik ialah surga dan pahala yang berlimpah. Di dalam ayat ini terkandung makna yang menunjukkan bahwa jihad itu bukanlah fardu ain, melainkan fardu kifayah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجاهِدِينَ عَلَى الْقاعِدِينَ أَجْراً عَظِيم

“Dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. (An-Nisa: 95)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan anugerah yang diberikan kepada mereka berupa tingkatan-tingkatan pahala di dalam gedung-gedung surga yang tinggi, semua dosa dan kesalahan diampuni, rahmat serta berkah Allah meliputi diri mereka; semua itu sebagai kebaikan dan kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala buat mereka. Hal ini diungkapkan melalui firman-Nya:

{دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

“(Yaitu) beberapa derajat dari-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisa: 96)

Di dalam kitab Sahihain telah disebutkan melalui Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda:

«إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ الأرض»

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus derajat (tingkatan) yang disediakan oleh Allah untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya, jarak antara tiap-tiap dua derajat sama dengan jarak antara langit dan bumi.”

Al-A’masy meriwayatkannya dari Amr ibnu Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam pernah bersabda:

” مَنْ بَلَغَ بِسَهْمٍ فَلَهُ أَجْرُهُ دَرَجَةٌ ” فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الدَّرَجَةُ؟ فَقَالَ: ” أَمَا إِنَّهَا لَيْسَتْ بِعَتَبَةِ أُمُّكَ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ مِائَةُ عَامٍ “

“Barang siapa yang melepaskan anak panah (di jalan Allah), baginya pahala satu derajat. Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah derajat itu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam menjawab: Ingatlah, sesungguhnya derajat itu bukan tangga naik yang ada pada pintu rumah ibumu, jarak antara dua derajat adalah seratus tahun (perjalanan).”

Menurut Tafsir Jalalain

(Tidaklah sama di antara orang-orang mukmin yang duduk) maksudnya tidak ikut berjihad (tanpa mempunyai uzur) seperti tua, buta dan lain-lain; marfu` karena sifat dan manshub sebagai mustatsna (dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah berikut harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk) karena uzur (satu tingkat) atau satu kelebihan karena walaupun mereka sama dalam niat, tetapi ada tambahan pada orang-orang yang berjihad, yaitu pelaksanaan (dan kepada masing-masing) mereka dari kedua golongan itu (Allah menjanjikan pahala yang baik) yaitu surga. (Dan Allah memberi kelebihan terhadap orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk) tanpa uzur (berupa pahala yang besar) dan sebagai badalnya ialah:

(Yaitu beberapa tingkat daripada-Nya) yang sebagiannya lebih mulia dari lainnya (dan keampunan serta rahmat) manshub disebabkan kedua fi’ilnya yang diperkirakan (dan Allah Maha Pengampun) bagi para wali-Nya (lagi Maha Penyayang) terhadap ahli taat-Nya.

Menurut Tafsir Quraish Shihab

Berjuang, yang disertai sikap hati-hati, mempunyai keutamaan yang sangat besar. Maka, tidaklah sama antara orang yang duduk berpangku tangan di rumah dan tidak ikut berperang, dengan orang yang berjuang dengan harta dan jiwa. Allah memberikan kepada orang-orang yang berjihad derajat yang lebih tinggi di atas orang-orang yang tidak ikut perang, kecuali bila ada uzur yang menghalangi mereka untuk berperang. Sebab, uzur itu membebaskan mereka dari celaan. Meskipun orang-orang yang berjihad mempunyai keutamaan dan derajat khusus, namun Allah tetap menjanjikan kepada masing-masing kelompok itu kedudukan dan balasan yang baik.

Begitu tingginya derajat itu, hingga seolah menjadi seperti sekumpulan beberapa derajat jika dibandingkan dengan derajat yang lain. Di samping itu, mereka masih akan memperoleh ampunan yang besar dan kasih sayang yang luas.

Tafsir Umum

[1] Imam Bukhari meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib, ia berkata: Ketika turun ayat, “Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang)…dan seterusnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Zaid, lalu ia datang dengan membawa tulang, kemudian Beliau menuliskan di atasnya, dan Ibnu Ummi Maktum mengeluhkan buta yang menimpanya, maka turunlah ayat, “Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang)…dan seterusnya.”

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad As Saa’idiy ia berkata: Saya pernah melihat Marwan bin Hakam duduk di masjid, lalu saya datang dan duduk di sampingnya, kemudian ia memberitahukan kami bahwa Zaid bin Tsabit memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendiktekan kepadanya, “Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang)…dan seterusnya.” ia melanjutkan kata-katanya, “Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum, ia yang mendiktekan ayat tersebut kepada saya. Ia (Ibnu Ummi Maktum) berkata, “Wahai Rasulullah, jika sekiranya saya sanggup berjihad tentu saya akan berjihad [ia adalah seorang yang buta], maka Allah Tabaaraka wa Ta’aala menurunkan ayat kepada Rasul-Nya, sedangkan ketika itu pahanya di atas pahaku sehingga aku merasakan keberatan sampai saya khawatir paha saya akan patah hingga kemudian lepas.” Ketika itu, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “ghairu ulidh dharar (lihat ayat di atas).”

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata tentang ayat, “Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai ‘uzur (halangan)…dan seterusnya.” bahwa ia turun berkenaan dengan perang Badar dan orang-orang yang keluar ke Badar. Ketika terjadi perang Badar, Abdullah bin Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum berkata, “Sesungguhnya kami dua orang yang buta wahai Rasulullah, adakah rukhshah bagi kami?” Maka turunlah ayat, “Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai ‘uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang)…dan seterusnya.” Mereka yang duduk tanpa ada uzur dikalahkan oleh oleh orang-orang yang berjihad, Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (Hadits ini hasan gharib dari jalan ini dari hadits Ibnu Abbas, sedangkan Muqsim (salah satu perawi) ada yang mengatakan sebagai Maula Abdullah bin Abbas, dan Muqsim dipanggil Abul Qasim, dan Abdullah bin Jahsy bukanlah seorang yang buta. Al Haafizh menguatkan dalam Al Fat-h bahwa yang benar adalah Abu Ahmad bin Jahsy sebagaimana dalam riwayat Thabari dari Al Hajjaj (9/92). Thabrani juga meriwayatkan, Al Haitsami juz 9 hal. 9 berkata, “Para perawinya adalah tsiqah dari hadits Zaid bin Arqam yang sama seperti hadits itu.”)

[2] Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk keluar berjihad dan tarhib (pencitraan buruk) terhadap sikap malas atau enggan berjihad tanpa udzur. Berbeda dengan orang-orang yang sedang menderita, seperti sakit, buta, pincang dan orang yang tidak memperoleh perlengkapan perang, maka mereka tidak dikatakan sebagai orang yang duduk diam tidak berjihad. Namun, jika di antara orang-orang yang menderita itu ridha dengan duduknya tidak berjihad, tidak ada niat untuk keluar berjihad fii sabilillah jika tidak ada udzur, atau bahkan tidak ada rasa ingin berjihad, maka ia tergolong orang yang duduk tidak berjihad. Tetapi, orang yang berniat keras untuk keluar berjihad fii sabilillah jika udzurnya hilang dan ia berharap sekali untuk berjihad, maka ia menduduki posisi orang yang berjihad karena niatnya yang sesungguhnya.

[3] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan kedudukan para mujahid secara berpindah-pindah, dari yang rendah kepada yang tinggi, lebih tinggi dan seterusnya. Di awal, Allah menafikan adanya kesamaan antara orang-orang yang berjihad dengan yang tidak berjihad, selanjutnya Allah menegaskan kedudukan mujahid di atas orang yang duduk tidak berjihad dan selanjutnya Allah menjanjikan akan memberikan ampunan, rahmat dan beberapa derajat. Penyebutan secara berpindah-pindah dari bawah ke atas dan seterusnya. merupakan pengutamaan dan pujian, sedangkan penyebutan dari bawah dan seterusnya. ke bawah merupakan perendahan dan pencelaan. Yang demikian adalah lafaz yang paling indah dan lebih masuk ke hati. Demikian juga ketika Allah Subhaanahu wa Ta’aala melebihkan sesuatu di atas sesuatu, namun masing-masingnya mendapatkan karunianya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan ihtiraz (penjagaan) agar tidak ada sangkaan keliru, seperti sangkaan tercelanya orang yang kalah keutamaannya tersebut, oleh karenanya Allah berfirman, “Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga)”.

[4] Dalam ayat ini disebutkan tingginya kedudukan mujahidin secara ijmal (garis besar), dan pada ayat selanjutnya disebutkan secara tafsil (rinci), seperti dijanjikan akan mendapatkan ampunan, rahmat yang tidak lain merupakan keberhasilan mendapat semua kebaikan dan terhindar dari semua keburukan. Dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan lebih rinci derajat mujahidin, yakni bahwa di surga ada 100 derajat, di mana antara derajat yang satu dengan yang lain seperti jarak antara langit dengan bumi, Allah menyiapkan derajat itu untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya.

[5] Maksudnya yang tidak berperang karena uzur.

[6] Maksudnya yang tidak berperang tanpa alasan. Sebagian ahli tafsir mengartikan qaa’idiin di sini sama seperti sebelumnya, yaitu yang tidak berperang karena uzur, wallahu a’lam.

[7] Yakni dengan beberapa kedudukan, di mana yang satu berada di atas yang lain.

 

Dihimpun oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke