Syarat Jihad Dalam Islam

Point 1:

Jihad itu memang perkara wajib yang sangat mulia, begitu mulianya ia setara dengan keimanan. Namun di semua kitab bab jihad (khusus untuk makna perang) diletakkan pada bab-bab terakhir, itu artinya kewajiban jihad bukan yang utama, namun kewajiban yang sangat terakhir bila pintu wusyawaroh (dialog) menghadapi musuh sudah buntu semua. Jihad baru dihukumi wajib bila sudah melalui tahap (telah terpenuhi syarat) musyawarah sebelumnya. Jihad tanpa melalui dialog hukumnya tidak sah. Ibarat wajibnya shalat harus melalui kewajiban wudlu, bila shalat tidak didahului wudlu, maka shalatnya tidak sah. Pengertian tersebut sangat sesuai dengan firman Allah,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah (1) kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan (2) bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (3) Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (untuk berjihad-penj), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran[3]: 159)

Jelas sekali dalam ayat tersebut ada tiga proses dalam menjalankan interaksi sosial antar manusia untuk menyelesaikan konfliknya atau dalam hal menyampaikan kebenaran agama kepada orang kafir;

1) Tahap Pertama: Wajib lemah lembut (gunakan perasaan), bila tidak mempan maka,

2) Tahap Kedua: Menggunakan dialog/diplomasi, dan bila tidak mempan juga baru menginjak ke,

3) Tahap Terakhir: Menggunakan kekuatan jihad atas dasar tawakkal kepada Allah.

Dalil diatas juga berlaku terhadap persoalan Amar Ma’ruf Nahi Munkar;

Point 2:

Ada dua frasa dalam kalimat (1. Amar Ma’ruf, 2. Nahi munkar) itu menandakan bahwa mencegah kemunkaran dalam syariat Islam itu prioritas kedua, karena prioritas utama adalah perintah kebaikan. Bila berkali-kali perintah kebaikan tidak membuahkan hasil, bahkan potensi kemunkaran ada, maka wajib dicegah. Namun dalam menjalankan pencegahan wajib berlaku adil dengan menghindari kekerasan, kebencian, permusuhan, dan apalagi pengrusakan. Jangan jadi provokator dalam Islam, sabda Nabi,

خِيَارُ عِبَادِ اللَّهِ الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ وَشِرَارُ عِبَادِ اللَّهِ الْمَشَّاءُونَ بِالنَّمِيمَةِ الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ

“Sebaik-baik hamba Allah ialah hamba yang senantiasa mengingat Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang suka mengadu domba, suka memecah belah antara orang-orang yang saling mengasihi, serta mereka yang suka berbuat zhalim, mencerai-beraikan manusia dan selalu menimbulkan kesusahan.” (HR. Ahmad Nomor 17312)

Bila bersyari’at tidak tertib/prosedural otomatis batal.

al-faqir Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Indonesia, 18022017