Syarat dan Rukun Ibadah Puasa

Muqaddimah,

Sebelum masuk pada pembahasan hukum puasa, perlu kita fahami perbedaan syarat dan rukun adalah,

Syarat adalah sesuatu perkara yang wajib dilaksanakan yang menentukan sah tidaknya suatu perbuatan atau ibadah, dan ia berada di luar perbuatan atau ibadah tersebut. Jika salah satu tidak terpenuh maka ibadahnya tidak sah.

Rukun adalah sesuatu perkara yang wajib dilaksanakan yang menentukan sah tidaknya suatu perbuatan atau ibadah, dan ia berada di dalam perbuatan atau ibadah tersebut. Jika salah satu tidak dilakukan maka ibadahnya tidak sah.

Syarat-Syarat Ibadah Puasa

Adapun syarat wajib berpuasa itu ada 4 yaitu; Islam, berakal, baligh, dan berpuasa. Berikut penjelasannya;

Pertama, mampu menjalankan puasa

Sehat dalam artian seorang muslim tidak dalam keadaan sakit dan mampu untuk berpuasa. Tidak dalam perjalanan atau sebagai seorang musafir. Dan Allah berfiman;

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 185).

Syarat di atas merupakan syarat wajib seorang muslim untuk menunaikan ibadah puasa, tidak termasuk syarat sah dalam berpuasa dan syarat wajib dalam mengqadha puasa. Syarat wajib seorang muslim untuk menunaikan ibadah puasa bisa gugur karena keadaan seorang muslim yang tidak mampu. Misalkan dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (seorang musafir).

Dan ketika seorang muslim tidak berpuasa karena sakit ataupun dalam perjalanan maka tetap wajib hukumnya untuk mengganti atau mengqadha puasa yang telah di tinggalkannya, setelah keadan seorang muslim sudah mulai membaik atau bisa dikatakan mampu untuk berpuasa. Namun ketika seorang muslim tetap berpuasa dalam keadaan yang demikian, maka hukumnya tetap sah.

Kedua, Suci dari nifas, haidh dan hadats

Bebas dari hadas besar atau dalam keadaan suci dari haid dan nifas. Hal ini adalah salah satu syarat sah sekaligus syarat wajib dalam menunaikan ibadah puasa.

Apabila seorang wanita mengalami haidl atau nifas di tengah-tengah berpuasa baik di awal atau akhir hari puasa, puasanya batal dan hanya wajib membayar kaffarat dengan mengqada’ saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

“Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?” Kami jawab, “Benar.” Beliau berkata: “Itulah kelemahan (dispensasi) agamanya.” (Hadits Bukhari Nomor 293)

Perintah mengqadha’ puasa terdapat dalam riwayat Mu’adzah, dia berkata,

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.” (Hadits Muslim Nomor 508)

Hadits dari Mu’adzah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadits tersebut adalah,

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat’.”

Berdasarkan ijma’ atau kesepakatan para ulama’ juga menyebutkan bahwasanya ketika seorang wanita muslim mengalami haid dan nifas maka haram baginya untuk menunaikan ibadah puasa. Karena mereka dalam keadaan berhadats besar. Dan wajib baginya untuk mengganti atau mengqadha’ puasanya setelah bersuci dari hadas besar tersebut.

Begitu juga berhadats dengan sengaja juga tidak sah puasanya, entah mengeluarkan mani dengan sengaja, bersetubuh di siang hari dengan sengaja. Sebagaiman sabda Nabi,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuiluh kebaikan yang serupa”. (Hadits Bukhari Nomor 1761)

Mafhum mukhalafah dari hadits di atas menunjukkan bahwa salah satu rukun sah puasa adalah bebas dari haidz, nifas, dan hadats besar.

Ketiga, kewajiban puasa hanya orang Islam

Syarat seseorang dikenakan kewajiban puasa adalah beragama Islam. Orang yang tidak Islam tidak wajib puasa. Ketika di dunia, orang kafir tidak dituntut melakukan puasa karena puasanya tidak sah. Namun di akhirat, ia dihukum karena kemampuan dia mengerjakan ibadah tersebut dengan masuk Islam. (Lihat Al Iqna’, 1: 204 dan 404).

Jadi kewajiban berpuasa Ramadhan hanya bagi orang Islam. Hal ini berdasarkan sebuah Hadits yang berbunyi,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan”. (Hadits Bukhari Nomor 7)

Keempat, Kewajiban puasa untuk orang baligh

Puasa tidak diwajibkan bagi mereka yang belum baligh, yakni anak kecil. Hal ini menjadi persyaratan berikutnya. Sedangkan bagi anak yang sudah tamyiz masih sah puasanya. Selain itu, di bawah tamyiz, tidak sah puasanya. Demikian dijelaskan dalam Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al Baijuri, 1: 551.

Muhammad Al Khatib berkata, “Diperintahkan puasa bagi anak usia tujuh tahun ketika sudah mampu. Ketika usia sepuluh tahun tidak mampu puasa, maka ia dipukul.” (Al Iqna’, 1: 404).

Menurut ulama Syafiiyah baligh dapat diketahui dengan keluarnya mani atau usia mencapai 15 tahun bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan dapat diketahui dengan datangnya haidh atau usia telah mencapai 9 tahun. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 8: 188-192)

Yang dimaksud tamyiz adalah bisa mengenal baik dan buruk atau bisa mengenal mana yang manfaat dan mudhorot (bahaya) setelah dikenalkan sebelumnya. Anak yang sudah tamyiz belum dikenai kewajiban syar’i seperti shalat, puasa atau haji. Akan tetapi jika ia melakukannya, ibadah tersebut sah. Bagi orang tua anak ini ketika usia tujuh tahun, ia perintahkan anaknya untuk shalat dan puasa. Jika ia meninggalkan ketika usia sepuluh tahun, maka boleh ditindak dengan dipukul. (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 14: 32-33).

Tidak ada kewajiban berpuasa bagi mereka yang masih anak-anak berdasarkan beberapa dalil berikut ini. Di antaranya,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ وَقَدْ قَالَ حَمَّادٌ أَيْضًا وَعَنْ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (gugur kewajiban) diangkat dari tiga orang, yaitu; orang yang tidur hingga terbangun, orang yang masih kecil hingga ia dapat bermimpi (baligh), dan dari orang yang gila hingga berakal.” Hammad berkata; “Juga dari orang yang kurang akal hingga ia berakal.” (Hadits Darimi Nomor 2194)

Meskipun begitu, seyogyanya anak kecil dianjurkan untuk berpuasa agar terbiasa. Dan karena akan ditulis untuknya sebagai amalan saleh yang dilakukannya. Umur yang dapat dimulai anak-anak belajar berpuasa adalah umur yang mampu untuk berpuasa.

مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَليَصُمْ قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ

“Bahwa siapa yang tidak berpuasa sejak pagi hari maka dia harus menggantinya pada hari yang lain, dan siapa yang sudah berpuasa sejak pagi hari maka hendaklah dia melanjutkan puasanya”. Dia (Ar-Rubai’ binti Mu’awwidz) berkata; “Setelah itu kami selalu berpuasa dan kami juga mendidik anak-anak kecil kami untuk berpuasa dan kami sediakan untuk mereka semacam alat permainan terbuat dari bulu domba, apabila seorang dari mereka ada yang menangis meminta makan maka kami beri dia permainan itu. Demikianlah terus kami lakukan hingga tiba waktu berbuka”. (Hadits Bukhari Nomor 1824)

Kelima, Kewajiban puasa hanya bagi mereka yang sedang waras

Persyaratan yang lain menurut madzhab Syafi’i dalah harus berakal sehat. Mereka yang tergolong dianggap tidak berakal sehat adalah orang gila, pingsan dan tidak sadarkan diri karena mabuk, ketiduran, maka bagi mereka tidak ada kewajiban puasa. Jika seseorang hilang kesadaran ketika puasa, maka puasanya tidak sah. Namun jika hilang kesadaran lalu sadar di siang hari dan ia dapati waktu siang tersebut walau hanya sekejap, maka puasanya sah. Kecuali jika ia tidak sadarkan diri pada seluruh siang (mulai dari shubuh hingga tenggelam matahari), maka puasanya tidak sah. (Lihat Hasyiyah Syaikh Ibrahim Al Baijuri, 1: 551-552)

Pemahaman ini di dasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud no. 4403, An Nasai no. 3432, Tirmidzi no. 1423, Ibnu Majah no. 2041. Nabi bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ وَقَدْ قَالَ حَمَّادٌ أَيْضًا وَعَنْ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Pena (gugur kewajiban) diangkat dari tiga orang, yaitu; orang yang tidur hingga terbangun, orang yang masih kecil hingga ia dapat bermimpi (baligh), dan dari orang yang gila hingga berakal.” Hammad berkata; “Juga dari orang yang kurang akal hingga ia berakal.” (Hadits Darimi Nomor 2194)

Semua persyaratan di atas oleh Syaikh Al-Qodi Abu Suja’ diringkas dalam sebuah konsep hukum fikih berikut ini,

وشرائط وجوب الصيام أربعة أشياء: الإسلام والبلوغ والعقل والقدرة على الصوم.

Syarat wajib puasa ada empat yaitu Islam, baligh, berakal sehat, mampu berpuasa.

Rukun-Rukun Ibadah Puasa

Adapun rukun sah berpuasa yaitu; Niat, menahan diri dari makan, menahan diri dari minum, menahan diri dari bersetubuh, menahan diri dari muntah dengan sengaja. Berikut penjelasannya,

Pertama, Berniat dalam berpuasa

Berniat adalah syarat sah dalam berpuasa karena puasa merupakan ibadah wajib bagi setiap muslim. Sedangkan ketika kita beribadah dan tidak berniat maka ibadah kita tidak akan sah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.”

Terkait perihal niat berpuasa ada perbedaan, bilamana untuk berpuasa wajib maka waktu niat dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Nabi bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah”.(Hadits Tirmidzi Nomor 662, Hadits Abu Daud Nomor 2098, dan Hadits Nasai Nomor 2293)

Namun, bilamana untuk berpuasa sunnah maka waktu niat dilakukan kapan saja, baik pada malam hari atau padda siang hari sebelum dzuhur. Hal ini berdasarkan pada salah satu riwayat berikut,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ

“dari [Aisyah] Ummul Mukminin, ia berkata; Pada suatu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemui dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” kami menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kura, samin dan keju).” Maka beliau pun bersabda: “Bawalah kemari, sungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” (Hadits Muslim Nomor 1951)

Berniat dalam berpuasa adalah tindakan awal yang harus dilakukan supaya ada perbedaan bagi seseorang dalam merasakan rasa lapar dan haus bagi orang-orang yang melaksanakannya.

Ketika seseorang menahan lapar bisa jadi di situ hanyalah sebuah kebiasaan atau hanya sekedar melakukan diet, atau karena memang tidak nafsu untuk makan. Sehingga ketika kita berpuasa harus dibedakan dengan adanya niat untuk beribadah.

Dan pada dasarnya, niat adalah kemauan dari diri kita untuk melakukan sesuatu yang bersumber dari hati. Namun adapun lafadz yang kita ucapkan ketika berniat itu adalah perantara kita agar mudah dalam memantapkan hati kita.

Mudah-mudahan Allah senantiasa merahmati An Nawawi rahimahullah, beliau adalah ulama’ besar dalam Syafi’

لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ

“Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.”

Ulama Syafi’iyah lainnya, Asy Syarbini rahimahullah mengatakan,

وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ ، وَلَا تَكْفِي بِاللِّسَانِ قَطْعًا ، وَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا قَطْعًا كَمَا قَالَهُ فِي الرَّوْضَةِ

“Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafadzkan. Niat sama sekali tidak disyaratkan untuk dilafazhkan sebagaimana ditegaskan oleh An Nawawi dalam Ar Roudhoh.”

Diwajibkan berniat sebelum fajar tiba. Dalilnya adalah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Hafshoh istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa siapa yang tidak berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah.”

Syarat wajib puasa di atas menurut ulama’ Malikiyah, Hambali, dan Syafi’iyah adalah mulai berniat di waktu malam yaitu mulai dari terbenamnya matahari hingga terbit fajar.

Sebagian besar ulama’ berpendapat bahwasanya boleh berniat setelah terbitnya fajar untuk berpuasa sunnah. Hal ini dapat dilihat dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalil masalah ini adalah hadits ‘Aisyah berikut ini. ‘Aisyah berkata,

Berdasarkan pernyataan di atas hal ini dapat kita lihat dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari ‘Aisyah radhiyallah hu’anha beliau berkata;

دَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ شَىْءٌ ». فَقُلْنَا لاَ. قَالَ « فَإِنِّى إِذًا صَائِمٌ ». ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِىَ لَنَا حَيْسٌ. فَقَالَ « أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا ». فَأَكَلَ.

“Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku dan bertanya, “Apakah kamu mempunyai makanan?” Kami menjawab, “Tidak ada.” Beliau berkata, “Kalau begitu, saya akan berpuasa.” Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain dan kami berkata, “Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah berupa Hais (makanan yang terbuat dari kurma, samin dan keju).” Maka beliau pun berkata, “Bawalah kemari, sesungguhnya dari tadi pagi tadi aku berpuasa.” An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ini adalah dalil bagi mayoritas ulama, bahwa boleh berniat di siang hari sebelum waktu zawal (matahari bergeser ke barat) pada puasa sunnah.”

Diperbolehkan berniat di siang hari atau pada waktu zawal ketika seseorang belum melakukan hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, dan lain sebagainya.

Dan ketika seorang muslim telah melakukan hal yang dapat membatalkan puasa sebelum niat di siang hari, maka puasa yang dilakukannya bisa dihukumi tidak sah.

Ketika kita berpuasa kita diwajibkan untuk niat di setiap harinya, karena itu merupakan suatu keharusan yang wajib dilakukan.

Kedua, Menahan diri tidak makan dan minum di siang hari

Menahan dari segala yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, bersetubuh, dan menyengaja muntah. Berikut penjelasannya,

Rukun Inti dalam bepuasa adalah menahan diri dari makan dan minum mulai dari terbit fajar (yaitu fajar shodiq) hingga terbenamnya matahari (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9915). Hal ini berdasarkan pada kesepakatan para ulama yang didasarkan pada firman Allah Ta’ala,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187)

Yang dimaksud dari ayat adalah, terangnya siang dan gelapnya malam dan bukan yang dimaksud benang secara hakiki. Dari ‘Adi bin Hatim ketika turun surat Al Baqarah ayat 187, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya,

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمْ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنْ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنْ الْفَجْرِ } قَالَ لَهُ عَدِيُّ بْنُ حَاتِمٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَجْعَلُ تَحْتَ وِسَادَتِي عِقَالَيْنِ عِقَالًا أَبْيَضَ وَعِقَالًا أَسْوَدَ أَعْرِفُ اللَّيْلَ مِنْ النَّهَارِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ وِسَادَتَكَ لَعَرِيضٌ إِنَّمَا هُوَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ

“dari [Adi bin Hatim] radliallahu ‘anhu, ia berkata; Ketika turun ayat; “Hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” Maka Adi bin Hatim berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, aku meletakkan benang putih dan benang hitam di bawah bantalku untuk membedakan malam dan siang.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Bantalmu itu terlalu lebar. Yang dimaksud dengan benang hitam ialah gelapnya malam, dan (benang putih) adalah cahaya siang.” (Hadits Muslim Nomor 1824)

Ketiga, Menahan diri tidak bersetubuh di siang hari

Kewajiban berpuasa selain menahan makan dan minum adalah menahan nafsu untuk tidak bersetubuh dengan Istrinya di siang hari. Menurut mayoritas ulama, jimak (hubungan badan dengan bertemunya dua kemaluan dan tenggelamnya ujung kemaluan di kemaluan wanita). Larangan bersetubuh pada siang hari saat berpuasa didasarkan pada mafhum mukhalafah dari firman Allah berikut,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Surat Al-Baqarah Ayat 187)

Ayat tersebut dengan tegas menyatakan larangan bersetubuh di siang hari saat berpuasa, walaupun aktifitas tersebut masih tetap dihalalkan di malam harinya. Tergolong wajib menahan diri adalah juga menahan diri dari tidak mengeluarkan mani dengan sengaja. Bila aktifitas bersetubuh tetap dilakukan pada siang hari maka dapat membatalkan puasanya, dan konsekwensinya wajib membayar kaffarat. Sebagaimana

أَنَّ رَجُلًا وَقَعَ بِامْرَأَتِهِ فِي رَمَضَانَ فَاسْتَفْتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً قَالَ لَا قَالَ هَلْ تَسْتَطِيعُ صِيَامَ شَهْرَيْنِ قَالَ لَا قَالَ فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا وَقَالَ اللَّيْثُ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ قَالَ احْتَرَقْتُ قَالَ مِمَّ ذَاكَ قَالَ وَقَعْتُ بِامْرَأَتِي فِي رَمَضَانَ قَالَ لَهُ تَصَدَّقْ قَالَ مَا عِنْدِي شَيْءٌ فَجَلَسَ وَأَتَاهُ إِنْسَانٌ يَسُوقُ حِمَارًا وَمَعَهُ طَعَامٌ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ مَا أَدْرِي مَا هُوَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيْنَ الْمُحْتَرِقُ فَقَالَ هَا أَنَا ذَا قَالَ خُذْ هَذَا فَتَصَدَّقْ بِهِ قَالَ عَلَى أَحْوَجَ مِنِّي مَا لِأَهْلِي طَعَامٌ قَالَ فَكُلُوهُ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الْحَدِيثُ الْأَوَّلُ أَبْيَنُ قَوْلُهُ أَطْعِمْ أَهْلَكَ

“ada seorang laki-laki menyetubuhi isterinya di bulan Ramadhan, maka ia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, tetapi Nabi bertanya; ‘Apa kamu mempunyai seorang budak? ‘ ‘Tidak’ Jawabnya. Tanya Nabi; ‘Apa kamu bisa berpuasa dua bulan berturut-turut? ‘ ‘Tidak’ jawabnya. Nabi bersabda: “kamu beri makan enam puluh orang miskin.” Dan [Al Laits] mengatakan dari [‘Amru bin Al Harits] dari [‘Abdurrahman bin Al Qasim] dari [Muhammad bin Ja’far bin Zubair] dari [‘Abbad bin ‘Abdullah bin Zubair] dari [‘Aisyah] dengan redaksi; ada seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di masjid dan mengatakan; ‘Aku terbakar? ‘ Nabi bertanya: “kenapa bisa demikian?” ia menjawab: ‘aku telah menyetubuhi isteriku di siang ramadhan.’ Nabi berujar; ‘bersedekahlah! ‘ Orang tadi menjawab; ‘Saya tak punya apa-apa! ‘ Lantas ia duduk dan didatangi seseorang yang menuntun keledai sambil membawa makanan. -Abdurrahman mengatakan ‘Saya tidak tahu apakah ia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ataukah tidak.- maka Nabi berujar; “Mana orang yang terbakar tadi?” Orang itu menjawab: ‘aku orangnya! ‘ Nabi berujar: “Ambil ini dan sedekahkanlah! ‘ Orang tadi menjawab; ‘Untuk orang yang lebih membutuhkan daripada aku? Sungguh keluargaku tak punya makanan! ‘ maka Nabi bersabda: “makanlah.” Abu Abdullah mengatakan, hadits pertama lebih jelas yaitu dengan sabda beliau Shallallahu’alaihiwasallam: “Berilah makanan untuk keluargamu!” (Hadits Bukhari Nomor 6322)

Bersetubuh dengan pasangan di siang hari bulan Ramadlan membatalkan puasa, wajib mengqodlo’ dan menunaikan kiffarat. Namun hal ini berlaku jika memenuhi dua syarat; (1) yang melakukan adalah orang yang dikenai kewajiban untuk berpuasa, dan (2) bukan termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.

Abu Syuja’ rahimahullah dalam kitab Fathul Qarib berkata, “Barangsiapa yang melakukan hubungan seks di siang hari Ramadhan secara sengaja di kemaluan, disamping dia mendapatkan dosa juga ia punya kewajiban menunaikan qadha’ dan kafarah. Bentuk kafarah-nya adalah;

  1. Memerdekakan seorang orang budak beriman.
  2. Jika tidak didapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut.
  3. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin yaitu sebesar 1 mud.”

Muhammad Al Hishni dalam Kifayatul Akhyar berkata, “Siapa yang merusak puasa Ramadhannya dengan jima’ (hubungan seks), maka dicatat baginya dosa.”

Sedangkan bagi orang yang melakukan hubungan seks tersebut dalam keadaan lupa, puasanya tidaklah batal. Inilah pendapat yang dianut dalam madzhab Syafi’i.

Berbeda dengan bersetubuh yang wajib membayar kaffarat adalam makan dan minum saat berpuasa, maka tidak ada kaffarat baginya.

Keempat, Menahan diri tidak muntah dengan sengaja

Di antara kewajiban berpuasa adalah menghindari untuk tidak menyengaja muntah. Sebab muntah menjadi sebab puasa seseorang menjadi batal, dan bagi pelakunya wajib mengqada’ puasanya. Nabi bersabda,

مَنْ اسْتَقَاءَ وَهُوَ صَائِمٌ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ

“Barangsiapa muntah dengan sengaja saat sedang berpuasa, maka dia harus mengganti puasanya. Dan barangsiapa tidak sengaja muntah, maka dia tidak wajib menggantinya.” (Hadits Malik Nomor 595 dan Hadits Tirmidzi Nomor 653)

Menurut kesepakatan para ulama’ (ijma’), rukun dalam berpuasa adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan seseorang dalam berpuasa. Mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

Allah swt telah berfirman;

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Yang dimaksud dari ayat adalah, terangnya siang dan gelapnya malam dan bukan yang dimaksud benang secara hakiki.

Dari ‘Adi bin Hatim ketika turun surat Al Baqarah ayat 187, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata padanya,

إِنَّمَا ذَاكَ بَيَاضُ النَّهَارِ مِنْ سَوَادِ اللَّيْلِ

Yang dimaksud adalah terangnya siang dari gelapnya malam”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan seperti itu pada ‘Adi bin Hatim karena sebelumnya ia mengambil dua benang hitam dan putih. Lalu ia menanti kapan muncul benang putih dari benang hitam, namun ternyata tidak kunjung nampak. Lantas ia menceritakan hal tersebut pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau pun menertawai kelakukan ‘Adi bin Hatim.

Semua kewajiban atau rukun puasa di atas oleh Syaikh Al-Qodi Abu Suja’ diringkas dalam sebuah konsep hukum fikih berikut ini,

وفرائض الصوم أربعة أشياء: النية والإمساك عن الأكل والشرب والجماع وتعمد القيء.

Adapun fardhu/rukun atau tatacara puasa ada empat yaitu niat, menahan diri dari makan dan menahan diri dari minum, menahan diri dari jimak (hubungan intim), menahan diri dari bersengaja muntah.

Demikianlah syarat dan rukun puasa yang perlu dipelajari bagi setiap muslim bekal ilmu menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Agar amal ibadah kita menjadi sempurna sehingga menjadi sebab datangnya ridha dari Allah subhanahu wa taala. Amin.

Oleh Ustadzah Vina Isnata Yusrinata, dan telah disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke