Solusi Menjadi Imam dari Makmum Mayoritas Tidak Meyakini Kesunnahan Doa Qunut Shalat Subuh

Sudah sama-sama diketahui barsama bahwa amalan doa qunut shalat subuh merupakan perkara ikhtilaf (perbedaan) di antara para ulama. Mazhab Hanafi tidak mensunnahkan doa qunut secara rutin pada shalat subuh. Bagi mazhab Hambali, qunut hanya dilakukan pada shalat Subuh ketika umat Islam dilanda musibah, atau lebih dikenal dengan momen nazilah. Menurut madzhab Maliki memandang bahwa doa qunut sifatnya sebuah anjuran saja atau dikenal dengan istilah mustahab.

Namun bagi mazhab Syafi’i, qunut diamalkan pada setiap kali shalat Subuh. Madzhab ini beranggapan bahwa qunut pada shalat subuh tergolong sunnah ab’ad, yakni sunnah yang mendekati wajib, dimana bila ditinggalkan wajib hukumnya diganti dengan sujud sahwi.

Berawal dari perbedaan pendapat tersebut maka dalam praktiknya seringkali mengalami benturan di kalangan umat Islam. Sebagaimana seseorang imam jamaah shalat subuh di mana mayoritas memilih tidak mengamalkan qunut sebab dia meyakini qunut saat shalat subuh bukan kesunnahan, atau mungkin sebaliknya.

Pilihan pertama, Imam tetap membaca doa qunut namun dengan suara lirih (sirr), sebagaimana dikatakan oleh Al-Mawardi dalam Al-Hawi fi Fiqhis Syafi’i. Dia berkata,

فَصْلٌ : وَأَمَّا الْفَصْلُ الثَّانِي : مِنْ هَيْئَةِ الْجَهْرِ وَالْإِسْرَارِ ، اَلْقُنُوتُ فىِ الصَّلَاةِ فَإِنْ كَانَ الْمُصَلِّي مُنْفَرِدًا أَسَرَّ بِهِ ، وَإِنْ كَانَ إِمَامًا فَعَلَى وَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا : يُسِرُّ بِهِ ، لِأَنَّهُ دُعَاءٌ وَمَوْضُوعُهُ الْإِسْرَارُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا [ الْإِسْرَاءِ :110 ] وَالْوَجْهُ الثَّانِي : يَجْهَرُ بِهِ كَمَا يَجْهَرُ بِقَوْلِ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُلَكِنْ دُونَ جَهْرِ الْقِرَاءَةِ

“Pasal kedua mengenai kondisi mengeraskan dan merendahkan suara ketika membaca do’a qunut dalam shalat. Apabila mushalli (orang yang shalat) itu shalat munfarid (shalat sendirian), sebaiknya ia memelankan suara ketika membaca do’a qunut. Sedangkan apabila ia menjadi imam maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa sebaiknya ia memelankan suara dalam membaca do’a qunut karena merupakan do’a. Sedangkan posisi doa itu sendiri adalah israr (merendahkan suara). Allah ta’ala berfirman: “Jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalat dan jangan pula merendahkannya,” (QS Al-Isra` [17]: 110). Pendapat kedua menyatakan sebaiknya meninggikan suara dalam membaca do’a qunut sebagaimana meninggikan suara ketika membaca sami’allahu liman hamidah tetapi bukan seperti dalam membaca ayat,” (Lihat Al-Mawardi, Al-Hawi fi Fiqhis Syafi’i, Beirut, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, cet ke-1, 1414 H/1991 M, juz II, halaman 145).

Berdasarkan keterangan di atas imam tetap membaca doa qunut tetapi dengan bacaan yang minimalis (redaksi yang pendek) dan suara rendah (pelan) sehingga makmum tidak menyadari bahwa imam telah membaca doa qunut. Seperti doa qunut berikut; allahummaghfir lana ya ghafur wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallama.

Pilihan kedua, dalam menghadapi persoalan ini, imam boleh meninggalkan tidak usah membaca doa qunut. Sebagaimana keterangan berikut;

الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي الصُّبْحِ لَمَّا صَلَّى مَعَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ فِي مَسْجِدِهِمْ بِضَوَاحِي بَغْدَادَ . فَقَالَ الْحَنَفِيَّةُ : فَعَل ذَلِكَ أَدَبًا مَعَ الْإِمَامِ ، وَقَال الشَّافِعِيَّةُ بَل تَغَيَّرَ اجْتِهَادُهُ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ

“Imam Syafi’i ra pernah meninggalkan do’a qunut ketika shalat Subuh bersama para pengikut madzhab Hanafi di dalam masjid mereka di sekitar Baghdad. Menurut para ulama madzhab Hanafi hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan Imam Syafi’I terhadap Imam Abu Hanifah (adaban ma’al imam). Tetapi menurut ulama madzhab syafi’i, Imam Syafi’i ketika itu berubah ijtihadnya,” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Kuwait-Darus Salasil, juz II, halaman 302).

Pandangan di atas juga didukung oleh Abul Qasim Ar-Rafi‘i dalam kitab Al-‘Aziz yang merupakan anotasi (syarah) atas kitab Al-Wajiz karya Imam Al-Ghazali. Beliau berkata,

وَإِذَا جَوَّزْنَا اقْتِدَاءَ اَحَدِهِمَا بِالْآخَرِفَلَوْ صَلَّي الشَّافِعِيُّ الصُّبْحَ خَلْفَ حَنَفِيٍّ وَمَكَثَ الْحَنَفِيُّ بَعْدَ الرُّكُوعِ قَلِيلًا وَاَمْكَنَهُ اَنْ يَقْنُتَ فِيهِ فَعَلَ وَاِلَّا تَابَعَهُ

“Ketika kita membolehkan mengikuti salah satu dari keduanya, maka seandainya penganut madzhab Syafi’i bermakmum di belakang penganut madzhab Hanafi dan ia (penganut madzhab Hanafi) setelah ruku‘ berdiam sejenak dan memungkinkan si makmum untuk membaca doa qunut, maka bacalah. Jika tidak (berhenti sejenak), maka ikutilah imam,” (Lihat Abul Qasim Ar-Rafi‘i, Al-‘Aziz Syarhul Wajiz, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1417 H/1997 M, juz II, halaman 156).

Apa yang dilakukan imam Syafi’i tersebut didasarkan pada mengedepankan akhlaq dan penghormatan daripada mengedepankan urusan fikih untuk menghindari pertikaian dan permusuhan. Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy;

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi Nomor 1941)

Dengan demikian, semakin baik akhlaqnya maka hal itu menunjukkan semakin kokoh ‘aqidah dan keimanan. Semakin bertambahnya ilmu ‘aqidah dan imannya, maka akan semakin bertambah luhur pula akhlaknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, bahwa akhlak itu merupaan ukuran kesempurnaan iman seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi Nomor 1162)

Sebaiknya kaum muslimin lebih mendahulukan kerukunan daripada memaksakan keyakinan sendiri namun menyelisihi apa yang diyakini dan diamalkan oleh mayoritas umat Islam. Sesuai dengan kaidah fikih berikut;

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَىٰ جَلْبِ الْمَصَالِحِ

“Menolak mudharat (bahaya) lebih didahulukan dari mengambil manfaat”

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke