Sikap Berlebihan dalam Kehidupan Sehari-Hari

Di antara sifat-sifat tercela yang dilarang oleh syariat ialah berlebih-lebihan. Ar-Raaghib berkata: “Sikap berlebih-lebihan itu adalah sikap melampaui batas dalam segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh seorang manusia, walaupun di dalam berinfaq – dimana sikap berlebih-lebih ini lebih dikenal”.[1]

Dan berkata Imam Sufyan bin `Uyainah: “Apapun yang di-infaqkan selain pada ketaatan kepada Allah Ta`ala merupakan melampaui batas walaupun sedikit”.[2]

Allah Tabaaraka wa Ta`ala berfirman:

۞ قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Az-Zumar Ayat 53)

Sikap melampaui batas termasuk dalam masalah harta dan selainnya, Allah Ta`ala mengingatkan hamba hambaNya dari perbuatan tersebut:

۞ يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Surat Al-A’raf Ayat 31)

Dan Allah Jalla wa `Alaa berfirman:

۞ وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (Surat Al-An’am Ayat 141)

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta`ala berkata: dan Ibnu Jureij berkata: “Ayat ini turun pada Tsaabit bin Qeis bin Syammas radhiallahu `anhu, di mana dia memetik buah-buah kurmanya, lalu dia berkata: “Tidak seorangpun yang datang pada satu hari kepada saya kecuali saya beri makan dia”, maka dia beri makan setiap yang datang sampai malam hari sehingga tidak ada tersisa baginya satu butir kurmapun, maka Allah Ta`ala menurunkan ayat mulia ini: (ولا تسرفوا إنه لا يحب المسرفين), yang artinya: Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Dan telah meriwayatkan al Imam Ibnu Jariir darinya”.[3]

Berkata Ibnu Jureij dari `Atho` bin Abi Rabaah: “Mereka dilarang dari sikap berlebih-lebihan dalam segala sesuatu”.[4]

Dan berkata as Sudiy dalam menafsirkan firman Allah: (ولا تسرفوا), “Jangan kalian memberikan harta kalian sampai habis, setelah itu kalian duduk dalam keadaan fuqaraa”.[5]

Ibnu Katsir berkata: “Jangan berlebih-lebihan dalam makanan karena ada padanya mudharat terhadap akal dan badan”.[6]

Dari `Amri bin Syu`aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا مَا لَمْ يُخَالِطْهُ إِسْرَافٌ أَوْ مَخِيلَةٌ

“Makan dan minumlah, bersedekah dan berpakaianlah kalian dengan tidak berlebih-lebihan atau kesombongan.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3595) [7]

Dari Ibnu `Abbas radhiallahu `anhu bahwa dia berkata: “Makanlah apa yang kamu inginkan, dan pakailah apa yang kamu inginkan, selagi tidak menimpa kamu dua perkara, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sombong”.[8]

Dari al Miqdam bin Ma`diy Karib radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتْ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ

“Tidaklah anak Adam memenuhi tempat yang lebih buruk daripada perutnya, ukuran bagi (perut) anak Adam adalah beberapa suapan yang hanya dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika jiwanya menguasai dirinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk bernafas.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3340) [9]

Dan sebahagian para ulama telah membedakan antara sikap mubadzir dan sikap berlebih-lebihan, telah datang larangan tentangnya dalam firman Allah Ta`ala:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Surat Al-Isra’ Ayat 27)

Mereka mengatakan: “Sesungguhnya yang dikatakan tabdziir (berbuat mubadzir) ialah membelanjakan harta tidak pada tempatnya, bisa dalam bentuk maksiat, bisa juga pada tempat yang tidak ada faedah dalam bentuk bermain-main dan menghambur harta tersebut. Sedangkan sikap berlebih-lebihan adalah dalam bentuk berlebih-lebihan dalam makanan, minuman dan pakaian tanpa hajat”.

Allah Ta`ala memuji hamba hambaNya yang bersifat sederhana:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (Surat Al-Furqan Ayat 67)

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta`ala berkata: “Dan orang-orang yang membelanjakan hartanya dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, artinya mereka tidak bersikap boros dalam membelanjakan harta mereka dalam bentuk membelanjakannya melebihi hajat, dan tidak juga mereka bakhil kepada keluarga mereka dalam bentuk mengurang-ngurangi haq mereka, tidak mereka tahan-tahan, bahkan dengan bentuk adil dan yang terbaik, sebab sebaik-baik perkara adalah yang paling menengah, bukan ini dan bukan pula itu”.[10]

Allah Ta`ala berfirman:

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Surat Al-Isra’ Ayat 29)

Dan inilah bentuk sikap sederhana yang diperintahkan, tidak bakhil, dan tidak menahan, tidak berlebih-lebihan, tidak juga boros, akan tetapi di antara demikian.

Ibnu Katsir rahimahullahu Ta`ala berkata: “Allah Tabaaraka wa Ta`ala memerintahkan untuk sederhana dalam kehidupan, mencela perbuatan bakhil dan melarang dari sikap berlebih-lebihan: “Jangan sekali-kali kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu”, artinya adalah jangan kamu menjadi orang bakhil yang menahan dan tidak mau memberi sedikitpun pada seseorang. “Dan jangan pula kamu terlalu mengulurkannya”, artinya adalah jangan kamu berlebih-lebihan dalam menginfakkannya sehingga kamu memberikan melebihi kemampuan kamu, sampai kamu mengeluarkan melebihi dari pemasukan kamu. Kemudian  “Akhirnya kamu menjadi tercela dan menyesal”, artinya adalah kamu tercela kalau seandainya kamu bakhil, manusia akan mencelamu, mereka akan mengejekmu, dan tidak butuh padamu. Bila kamu mengulurkan tanganmu melebihi dari kemampuanmu, maka kamu akan duduk tanpa ada sedikitpun yang akan kamu belanjakan, lalu kamu akan menjadi seperti seekor hewan melata yang lemah untuk berjalan”.[11]

`Ali bin Abi Thalib radhiallahu `anhu berkata: “Apapun yang kamu belanjakan untuk dirimu dan untuk istri serta anak-anakmu tanpa berlebih-lebihan dan boros, serta apapun yang telah kamu sadaqahkan dengannya, maka itulah untukmu, dan apapun yang kamu belanjakan dalam bentuk riya` dan ingin dapat pujian, maka itu merupakan bagian setan”.[12]

Al Imam Ibnu al Jauziy Al-Hambali rahimahullahu Ta`ala berkata: “Seorang yang berakal dia akan mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Kalau dia seorang yang faqir dia akan bersungguh-sungguh dalam mencari rizqi dan usaha yang akan menahannya dari merendahkan diri di hadapan manusia, dia memperkecil sifat ketergantungan kepada makhluk dan lebih memilih qona`ah, dengan demikian dia hidup selamat dari celaan manusia dan mulia diantara mereka. Kalau seandainya dia kaya maka sepantasnya baginya untuk mengatur pembelanjaannya, dikhawatirkan dia akan memelas dan berhajat dengan merendahkan diri kepada makhluk……” sampai akhir yang dia katakan.[13]

Dan sepantasnya untuk diperhatikan, yaitu bahwa infaq (nafkah) yang dikeluarkan dalam kebenaran tidak dikatakan sebagai pemborosan. Berkata al Imam Mujaahid rahimahullahu Ta`ala: “Kalau sendainya seorang manusia membelanjakan seluruh hartanya pada kebenaran bukan dikategorikan sebagai sifat boros, dan kalau dia membelanjakan hartanya walaupun satu mud, tetapi bukan dalam kebenaran maka dikatakan sebagai pemborosan”.[14]

Diantara bentuk berlebih-lebihan yang terjerumus sebagian manusia padanya adalah berlebih-lebihan dalam walimah (pesta pernikahan), atau acara-acara lainnya dalam bentuk munasabah tertentu, kecil atau besar, sekira-kira dibuat makanan-makanan yang melebihi hajat.

Dan di antaranya juga menggunakan nikmat air berlebih-lebihan. Dari Anas bin Maalik radhiallahu `anhu:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ (empat mud) hingga lima mud.” (Hadits Muslim Nomor 490) [15] [16]

Sungguh Nabi shollallahu `alaihi wa sallam telah melarang seorang mukmin melebihi wudhu`nya lebih dari tiga kali.

Dari `Amri bin Syu`aib dari bapaknya dari kakeknya berkata: Telah datang seorang arab badui kepada Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bertanya tentang wudhu`? maka Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam menunjukkan kepadanya cara wudhu` tiga kali tiga kali, kemudian beliau bersabda:

هَكَذَا الْوُضُوءُ فَمَنْ زَادَ عَلَى هَذَا فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ

“Beginilah wudhu`, maka barang siapa yang menambah dari ini sungguh dia telah jelek dan melampaui batas serta zhalim”.[17]

Diantara sikap berlebih-lebihan ialah dalam bentuk membelanjakan nikmat harta. Dari Khaulah al-Anshoriyah berkata: Saya telah mendengar Nabi shollallahu `alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رِجَالًا يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلَهُمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya kaum lelaki terlalu menceburkan diri mereka pada harta Allah bukan pada kebenaran, maka bagi mereka neraka di hari kiamat”.[18]

Dan masuk ke dalam hadist ini mereka yang selalu berpergian ke negeri kuffar. Mereka menghabiskan harta sangat banyak dalam pelesiran tersebut, sementara mereka telah mengumpulkan dua maksiat:

Pertama: berpergian ke negeri kuffaar, sungguh Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam telah melarang dari demikian.

Dari Jariir radhiallahu `anhu bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam bersabda:

قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةً إِلَى خَثْعَمٍ فَاعْتَصَمَ نَاسٌ مِنْهُمْ بِالسُّجُودِ فَأَسْرَعَ فِيهِمْ الْقَتْلَ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَ لَهُمْ بِنِصْفِ الْعَقْلِ وَقَالَ أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ قَالَ لَا تَرَاءَى نَارَاهُمَا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengirim kami dalam sebuah kesatuan militer menuju Khats’am, kemudian orang-orang diantara mereka berlindung dengan bersujud, kemudian cepat terjadi pembunuhan diantara mereka. Lalu hal tersebut sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau memerintahkan agar mereka diberi setengah diyah. Dan beliau berkata: “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim di antara orang-orang musyrik.” Mereka bertanya; kenapa wahai Rasulullah? Beliau berkata: kedua api peperangan mereka saling melihat.” (Hadits Abu Daud Nomor 2274) [19]

Dan yang kedua: Sokongan perekonomian terhadap negara-negara kuffar dengan harta yang dibelanjakan padanya.

Dari Abu Barzah al Aslamiy radhiallahu `anhu bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2341) [20]

Oleh Syaikh Doktor Amiin bin `Abdullah as Syaqaawiy

 

[1] “Mausuu`atu Nadhratan Na`iim” (9/3884).

[2] “Mausuu`atu Nadhratan Na`iim” (9/3884).

[3] “Tafsiir Ibnu Katsir (6/190).

[4] “Tafsiir Ibnu Katsir (6/190).

[5] “Tafsir Ibnu Katsir (6/190).

[6] “Tafsiir Ibnu Katsir (6/190).

[7] “Sunan an Nasaa`iiy (558), “al Bukhaariy” secara mu`allaq dijazamkan dengannya (4/53).

[8] Berkata pentahqiq kitab “Tafsir Ibnu katsir “: Sanadnya shohih, Shohih al Bukhariy (4/53), dan dimaushulkan sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah di “al Mushonnaf” (6/36), Ibnu Hajr di “Taghliiqut Ta`liiq” (5/54) dari jalan Sofyaan bin `Uyainah dari Ibrahim bin Maisarah dari Thowus dari Ibnu `Abbas dengannya. Dan ditambah lagi penisbahannya oleh Ibnu Hajr di “al Fath” (10/253) kepada ad Diinawiy di “al Mujaalasah”, dan as Sayuuthiy di “ad Durul Mantsuur” (3/149) kepada `Abdun bin Humeid. Dinukil dari “Tafsiir Ibnu Katsir” (6/288).

[9] “Sunan at Tirmidziy” (2380) berkata al Imam at Tirmidziy: hadist hasan shohih.

[10] “Tafsir Ibnu Katsir” (10/322).

[11] “Tafsir Ibnu Katsir” (

[12] “Addurul Mantsur” (5/275).

[13] “Shaidul Khaathir” halaman (404).

[14] “Tafsir Ibnu Katsir” (3/36).

[15] “Shohih al Bukhaariy (201), Muslim (325)”.

[16] Al Mud: “Seukuran dua telapak tangan seorang lelaki yang penuh”.

[17] “Sunan an Nasaaiiy (140)”.

[18] “Shohih al Bukhariy (3118)”.

[19] “Sunan Abu Dawud (2645), at Tirmidziy (1604), dishohihkan oleh as Syaikh al Albaaniy di “Shohihul Jaami`us Shoghiir (1461). Berkata al Imam al Khotthabiy rahimahullahu Ta`ala: لا تراءى نارهما, tafsirnya ada beberapa sisi: pertama maknanya: “Tidak akan sama hukum keduanya, ini dikatakan oleh sebahagian ahli ilmu”. Dan berkata sebahagian mereka (kedua): maknanya: “Sesungguhnya Allah Ta`ala telah membedakan diantara negeri Islam dan negeri kafir, maka tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk tinggal bersama orang kuffar dinegeri mereka, sampai-sampai apabila mereka menyalakan api, adalah dia bahagian dari mereka dari sekira-kira dia melihatnya”. Sisi yang ketiga: telah menyebutkan sebagian ahli bahasa maknanya adalah: “Jangan sekali kali seorang muslim berpenampilan seperti penampilan seorang musyrik dan jangan pula bertasyabuh dengan bentuk mereka dan cara mereka. “Sunan Abi Dawud” (3/105).

[20] “Sunan at Tirmidziy (2426).

http://tazhimussunnah.com

Bagikan Artikel Ini Ke