Setan Telah Mengalahkanmu Saat Membalas Cacian

Sebagian orang tentu pernah minimal sekali dalam hidupnya mengalami dicaci orang, entah itu ketika sedang di jalan, di sekolah, atau bahkan mungkin di dunia maya. Tidak terkecuali dalam berdiskusi masalah agama pun, mungkin kita mendapat cacian atau minimal julukan-julukan yang tidak semestinya. Dijuluki ahlul bid’ah, dijuluki ahlul hawa (pengikut hawa nafsu) dijuluki anti sunnah, atau julukan lain yang tidak selayaknya dituduhkan kepada kita. Lantas apakah kita membalasnya mencaci? Lalu, apakah kita tidak mau kalah dan balik melabeli mereka dengan julukan-julukan yang tidak semestinya.

Belum lagi jika cacian dan label tidak mengenakkan itu sudah membawa-bawa nama kelompok, nama jamaah atau nama organisasi, maka yang merasa terhina bukan hanya diri kita, melainkan seluruh kelompok itu ikut terhina. Belum lagi jika dari mulut ke mulut, dari status ke status, dari inbox ke inbox bahkan melalui sms berantai tersebar berita bahwa kelompok ini menghina kelompok kita, maka terseretlah seluruh kelompok pada saling balas membalas cacian, saling berlomba membuat label-label baru yang tujuannya merendahkan kelompok lain dan secara tidak langsung juga berarti membenarkan kelompok sendiri. Di sini setan sudah mulai bermain, semua pihak merasa yang dibela adalah Islam, seolah yang dijunjung adalah sunnah, padahal Anda tidak sadar dengan berbuat begini sesungguhnya yang dibela adalah kehormatan diri, dan kehormatan kelompoknya, bukan kehormatan Islam.

“Habis, dia yang memulai mencaci kita !” begitu alasan kita. Cobalah renungkan tidakkah di sini Anda sudah emosi? “Ya, namun cacian mereka sudah keterlaluan..! Jujurlah.. tidakkah di sini Anda sudah emosi? Mengapa bisa emosi? Benarkah kita emosi karena Islam direndahkan? Ataukah kita emosi karena merasa diri kita yang direndahkan?

Tahukah Anda bahwa ketika kita dicaci dan difitnah dengan tuduhan yang tidak benar, maka malaikat lah yang membela dan mendustakan atau mengingkari tuduhan itu kepada kita? Namun ketika kita membalas cacian dan tuduhan itu, dengan cacian yang sama buruknya, maka setan telah berhasil mengalahkan kita. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ وَمَعَهُ أَصْحَابُهُ وَقَعَ رَجُلٌ بِأَبِي بَكْرٍ فَآذَاهُ فَصَمَتَ عَنْهُ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ آذَاهُ الثَّانِيَةَ فَصَمَتَ عَنْهُ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ آذَاهُ الثَّالِثَةَ فَانْتَصَرَ مِنْهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ حِينَ انْتَصَرَ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ أَوَجَدْتَ عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ مَلَكٌ مِنْ السَّمَاءِ يُكَذِّبُهُ بِمَا قَالَ لَكَ فَلَمَّا انْتَصَرْتَ وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ أَكُنْ لِأَجْلِسَ إِذْ وَقَعَ الشَّيْطَانُ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk-duduk bersama para sahabat sahabatnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki mencela Abu Bakar, namun Abu Bakar diam saja. Laki-laki itu kembali mencacinya untuk yang kedua kalinya, namun Abu Bakar tetap diam. Dan ketika laki-laki itu mencacinya untuk yang ketiga kalinya, Abu Bakar membela diri dan membalas caciannya. Maka ketika Abu Bakar membela diri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit. Hal itu menjadikan Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau marah kepadaku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Malaikat telah turun dari langit mendustakan apa yang ia katakan kepadamu, saat engkau membela diri setan telah mengalahkanmu. Maka tidak mungkin aku ikut duduk jika setan sudah berperan.” (Hadits Abu Daud Nomor 4251)

Belum lagi jika yang kita caci itu adalah sesama muslim, atau sesama kelompok dakwah maka hal itu adalah lebih buruk lagi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قِتَالُ الْمُسْلِمِ كُفْرٌ وَسِبَابُهُ فُسُوقٌ

“Membunuh orang muslim adalah kekafiran dan mencelanya adalah kefasikan.” (Hadits Nasai Nomor 4035, Tirmidzi Nomor 2558 dan Ahmad Nomor 3761)

Jangankan terhadap sesama muslim, kepada berhala-berhala dan tuhan-tuhan yang jelas merupakan ke-musyrik-an dan ke-kafir-an saja kita dilarang mencaci maki, terlabih lagi kepada sesama muslim yang berbeda pendapat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Surat Al-An’am Ayat 108)

Maka adalah lebih buruk lagi jika balas membalas celaan dan cacian ini kemudian menyeret seluruh kelompok dan terjerumuslah mereka semua ke dalam ashobiyyah (fanatisme golongan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ أَعْظَمَ النَّاسِ فِرْيَةً لَرَجُلٌ هَاجَى رَجُلًا فَهَجَا الْقَبِيلَةَ بِأَسْرِهَا وَرَجُلٌ انْتَفَى مِنْ أَبِيهِ وَزَنَّى أُمَّهُ

“Sesungguhnya manusia yang paling besar fitnahnya adalah orang yang mencaci seseorang, kemudian dia membalas mencacinya hingga kabilah semuanya ikut mencaci, dan seorang lelaki yang menyingkirkan ayahnya dan menzinahi ibunya.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3751)

Betapa buruknya perilaku menyeret sebuah kelompok pada perseteruan dengan kelompok lainnya gara-gara awalnya adalah saling caci pribadi dengan pribadi lainnya, bahkan hal ini disandingkan dengan perilaku menzinahi ibunya sendiri.

Maka tahanlah lidah mu dari membalas cacian orang lain, terlebih jika hal ini dilatarbelakangi perbedaan pemahaman atas dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Tahanlah hati mu dari emosi akibat celaan orang lain terlebih jika hal ini disebabkan oleh perbedaan wawasan dan kurangnya pengetahuan akan perbedaan fiqih dan pendapat para ulama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ

“Seorang muslim adalah orang yang seluruh manusia selamat dari lidah dan tangannya, sedangkan seorang mukmin adalah orang yang seluruh manusia merasa aman darah dan harta mereka dari (gangguan) nya.” (Hadits Nasai Nomor 4909, Abu Daud Nomor 2122 Ahmad Nomor 15082)

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke