Sesama Muslim Bersaudara

Muqaddimah

Perintah menjalin persaudaraan dengan sesama muslim bukan hanya sekedar saling tegur sapa, mengucap salam, dan berjabat tangan manakala berjumpa. Menjaga persaudaraan sesama umat Islam adalah meningkatkan dan memperkuat kedudukan setiap pribadi muslim dengan saling berbuat baik dan saling memberikan kemanfaatan. Setiap pribadi umat Islam di lingkungannya merupakan perwujudan keadaan agama Islam itu sendiri. Bila umat Islam di suatu lingkungan terlihat lemah dalam segala aspek itu sama halnya menunjukkan kelemahan agama Islam. Sebaliknya, bila umat Islam di suatu wilayah berdaya dan sejahtera maka hal itu sama halnya Islam sebagai sebuah agama juga akan terlihat kuat dan pada akhirnya akan disegani oleh umat lain.

Perduli dan saling tolong menolong

Keadaan umat merupakan representasi dari keadaan sebuah agama. Untuk mewujudkan kewibawaan Islam tiada lain terlebih dahulu harus mewujudkan pemberdayaan umatnya. Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk memberdayakan umat Islam adalah membangun keperdulian sesama umat Islam. Keperdulian itulah yang disebut ukhuwah Islamiyah, yaitu sebuah semangat tidak rela manakala melihat sesama umat Islam mengalami keprihatinan, kekurangan, dan kesempitan. Dalam ukhuwah Islamiyah tentunya harus mendorong para penganutnya untuk saling berbuat kebaikan. Sebab saling tolong menolong dalam kebaikan merupakan bagian dari unsur keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٌ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 10)

Makna tersirat dari ayat ini seakan-akan Allah mengatakan bahwa orang-orang yang tidak berbuat baik terhadap saudara seimannya adalah orang-orang yang bermasalah dalam keimanannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. (Hadits Bukhari Nomor 12 dan Hadits Muslim Nomor 64)

Al Imam Al Qurthubi mengatakan, “Ukhuwah karena agama, karena dasar keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu jauh lebih kuat dibandingkan dengan persaudaraan karena nasab. Sebab, persaudaraan karena nasab atau darah akan terputus dengan perbedaan agama. Akan tetapi ukhuwah karena agama tidak akan pernah terputus meskipun hubungan nasab atau darah itu terputus.”

Terkait dengan hakikat ukhuwah Islamiyah ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah memberikan gambarannya dalam sabdanya,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum Muslimin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong di antara mereka seperti perumpamaan satu tubuh. Tatkala salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan merasakan pula dengan demam dan tidak bisa tidur.” (Hadits Muslim Nomor 4685)

Cukup jelas Hadits tersebut memberikan gambaran ukhuwah Islamiyah. Ketika satu anggota tubuh terluka, maka semua anggota tubuh ikut merasakan dan juga ikut terlibat dalam menjaga dan menyembuhkannya. Begitu juga ketika ada saudara seiman kita yang sedang mengalami kesusahan, kesempitan, musibah, dan ujian hendaknya umat Islam lainnya membantu meringankan atau bahkan menghilangkan bebannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Hadits lain juga memberikan gambaran,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” kemudian beliau menganyam jari jemarinya.” (Hadits Bukhari Nomor 459)

Ketika kita memperhatikan keadaan bangunan di mana sebuah bangunan menjadi tempat berlindung dari panas dan hujan. Ia menjadi tempat peristirahatan yang sangat aman dan nyaman. Ia juga menjadi tumpuan harapan ketika anak cucu dilahirkan di dalamnya. Sebuah bangunan tidak mungkin menjadi tempat berlindung manakala satu meterial dengan meterial lainnya tidak bersatu dan saling mengikatkan diri. Agar Islam menjadi tempat berlindung bagi umatnya, tiada lain sesama umat Islam harus saling membantu dan tidak boleh saling menjatuhkan. Sehingga musuh yang benci dengan Islam tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk merendahkan martabat agama Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (Hadits Bukhari Nomor 6437)

Dengan demikian, cintailah saudara seimanmu, cintailah tetangga seimanmu, cintailah pemimpin-pemimpin seimanmu, cintailah ulama-ulamamu, cintailah guru, ustadz, habaib, ajengan, tuan guru, orang-orang shalih, dan cintailah kiyai-kiyaimu. Cintailah mereka kaum muslimin sebagai wujud kecintaanmu kepada Allah dan RasulNya. Sebab kecintaanmu kepada mereka saudara seimanmu akan menyebabkan dikumpulkan kelak di surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Kapankah hari Kiamat terjadi wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” laki-laki itu menjawab; “Aku belum mempersiapkan banyak, baik itu shalat, puasa ataupun sedekah, namun aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Belaiu bersabda: “Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai.” (Hadits Bukhari Nomor 5705)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى قِيَامُ السَّاعَةِ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الصَّلَاةِ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالَ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ قِيَامِ السَّاعَةِ فَقَالَ الرَّجُلُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا كَبِيرَ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ فَمَا رَأَيْتُ فَرِحَ الْمُسْلِمُونَ بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَرَحَهُمْ بِهَذَا

“Seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam lalu bertanya: Wahai Rasulullah, kapankah kiamat terjadi? Lalu nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam berdiri untuk shalat, seusai shalat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam bertanya: “Mana si penanya tentang hari kiamat tadi?” orang itu menjawab: Saya wahai Rasulullah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bertanya: “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” orang itu menjawab: Aku tidak menyiapkan sekian banyak shalat dan puasa untuknya, hanya saja aku mencintai Allah dan rasulNya. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam bersabda: “Seseorang bersama orang yang ia cintai dan engkau bersama orang yang kau cintai.” Aku tidak mengetahui kebahagian kaum muslimin setelah Islam seperti kegembiraan mereka karena hal ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2307)

Memuliakan saudara seiman

Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia agar lebih mulia dan bermartabat. Kemuliaan seseorang juga disebabkan karena mau memuliakan orang lain, terutama teman, sahabat, dan orang-orang terdekatnya. Esensi memuliakan orang lain di antaranya memenuhi hak-hak sosial mereka, sebab ada hak orang lain ada dalam diri kita. Berikut di antara cara memuliakan orang lain sesuai tuntunan sunnah,

Mengucapkan salam ketika bertemu

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi. Sebarkanlah salam di antara kalian.” (Hadits Muslim Nomor 81, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 67)

Saling berjabat tangan

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ فَتَصَافَحَا وَحَمِدَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَاسْتَغْفَرَاهُ غُفِرَ لَهُمَا

“Jika dua orang bertemu kemudian saling berjabat tangan dan memuji Allah serta meminta ampun kepada-Nya, maka keduanya akan diberi ampunan.” (Hadits Abu Daud Nomor 4535)

Menjenguk ketika sakit

Di antara keperdulian kepada orang lain saat kesusahan adalah menjenguknya saat sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعُودُوا الْمَرِيضَ وَفُكُّوا الْعَانِيَ

“Berilah makan terhadap orang yang kelaparan, jenguklah orang sakit dan bebaskanlah tawanan.” (Hadits Bukhari Nomor 5217)

Memenuhi undangan

Di antara hak sosial orang lain kepada kita adalah memenuhi undangan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ

“Hak muslim atas muslim lainnya ada lima, yaitu; menjawab salam, menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin”. (Hadits Bukhari Nomor 1164)

Mendoakan Ketika Bersin

Saling mendoakan kebaikan sesama muslim juga merupakan anjuran agama. Salah satu kesunnahan mendoakan orang lain adalah ketika mereka bersin. Nabi bersabda,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ

“Ababila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan “Al Hamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan “Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu), dan hendaknya ia membalas; “Yahdikumullah wa yushlih baalakum (semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (Hadits Bukhari Nomor 5756)

Meringankan bebannya

Sebagai manusia juga harus saling tolong menolong. Nabi memerintahkan untuk tidak mendzalimi orang lain, menolong kebutuhannya, menghilangkan kesusahannya, dan menutup aib orang lain.

Menolong ketika kesempitan

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzhalimi dan tidak menganiyanya. Barangsiapa yang menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya. Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim maka Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1346)

Saling memberi hadiah

تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ

“Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya maka akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan.” (Hadits Malik Nomor 1413)

Saling memaafkan

إِنِّي أُمِرْتُ بِالْعَفْوِ فَلَا تُقَاتِلُوا

“Sesungguhnya saya diperintah untuk memaafkan maka janganlah kalian saling membunuh,”.(Hadits Nasai Nomor 3036)

Saling menasehati

أُبَايِعُكَ عَلَى أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتُنَاصِحَ الْمُسْلِمِينَ وَتُفَارِقَ الْمُشْرِكِينَ

” Saya bai’at engkau untuk beribadah kepada Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, saling menasehati diantara orang-orang muslim, dan meninggalkan orang-orang musyrik.” (Hadits Nasai Nomor 4106)

Menutupi aib

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2534)

Menghindari dan meredam konflik

Menjaga ukhuwah Islamiyah merupakan kewajiban bagi setiap pemeluknya. Namun, menjaga ikatan persaudaraan tidaklah mudah, sebab setan tidak akan pernah rela melihat kerukunan kaum muslimin. Ketidak senangan tersebut akan diwujudkan dengan usaha setan melakukan segala cara untuk menimbulkan permusuhan antar sesama umat Islam. Setan akan selalu menimbulkan kekacauan yang menyebabkan sesama muslim saling memperolok-olok, menghina, mengadu domba, fitnah-memfitnah, pertengkaran, bahkan sampai terjadi peperangan. Perhatikan himbauan dan peringatan dari Nabi berikut agar umat Islam terhidar dari permusuhan dan pertikaian. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

“Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya.” (Hadits Muslim Nomor 4650)

Namun, bilamana usaha untuk membangun kerukunan dan perdamaian umat Islam telah mencapai puncaknya. Di mana pertikaian sudah tidak dapat dihindari sebab hasutan setan lebih besar. Maka sebagaian umat Islam yang merasa masih waras harus tetap berupaya untuk mendamaikan kelompok-kelompok umat Islam yang sedang bertikai tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Surat Al-Hujurat Ayat 9-10)

Jangan mudah terhasut bisikan setan, dan jangan ikuti langkah setan yang selalu menghancurkan persaudaraan sesama muslim. Allah jelas-jelas melarang perilaku tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat An-Nur Ayat 21)

Untuk meredakan konflik, buang segala perbedaan dan kembalikan urusannya kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya” (Qs. An-Nisaa’: 59).

Hilangkan prasangka buruk kepada sesama, sebab prasangka buruk juga merupakan pemicu terjadinya permusuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Hujurat Ayat 12)

Salah satu penyebab permusuhan yang harus dihindari adalah janganlah sesama muslim saling memperolok-olok dikarenakan perbedaan-perbedaan sepele. Sehingga mereka lupa bahwa selalu ada musuh yang mengambil keuntungan dari perpecahan umat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Hujurat Ayat 11)

Pemicu pertikaian di antaranya adalah saling mendengki, dan saling memfitnah. Apalagi memfitnah hanya persoalan-persoalan perbedaan pandangan duniawi belaka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ

“Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya.” (Hadits Muslim Nomor 4650)

Khatimah

Dengan demikian, dalam ukhuwah Islamiyah harus terbentuk rasa kasih sayang dan saling mencintai. Wujud kasih sayang sesama umat Islam di antaranya saling tolong menolong, perduli dengan keprihatinan sesama. Tidak mezalimi dengan bertindak, berucap, dan bersikap yang dapat merugikan pihak lain apalagi berakibat menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Bantulah sesama, niscaya hidup kita juga akan terbantu. Mudahkanlah urusan orang lain, niscaya orang lain akan mempermudah urusan kita

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke