Serangan Gas Beracun Di Suriah Merupakan Duka Kemanusiaan

Damai urung hadir di Suriah. Hingar bingar serangan perang tak pernah benar-benar meninggalkan Bumi Syam ini. Setelah menyergap Aleppo selama sekian tahun lamanya, kini horor konflik merundung Idlib. Selasa dini hari (4/4), ledakan kembali terdengar dari langit kota yang terletak di bagian barat laut Suriah tersebut. Bukan lagi ledakan bom yang meruntuhkan seisi kota, bukan lagi serangan rudal yang menyita darah kaum sipil. Kali ini, serangan tersebut membunuh dalam diam.

Serangan gas kimia beracun membekap seisi kota kecil Khan Sheikhoun yang berjarak 50 km ke arah selatan dari kota Idlib. Warga sipil yang kala itu tengah tertidur pulas langsung terhenyak mendengar suara ledakan yang berasal dari sejumlah pesawat di udara. Sesaat setelah bunyi ledakan tersebut, gas beracun yang ditembakkan mulai menyebar. Tak beraroma dan tak bersuara, namun cukup mematikan.

Apa yang terjadi setelahnya adalah puluhan warga lokal yang terdampar dan tersedak di badan jalan. Sedikit demi sedikit mereka berusaha menarik nafas, sementara cairan berbusa keluar dari mulut mereka. Tak jarang dari mereka yang pingsan, bahkan ada yang langsung meninggal di tempat.

“Petugas medis kami menemukan mereka, yang sebagian besar adalah anak-anak, terkapar di jalan dan tersedak,” ungkap Mohammed Rasoul, kepala unit layanan ambulans sebuah lembaga amal di Idlib, kepada BBC. Keadaan serupa juga terjadi di beberapa rumah sakit lokal yang menampung korban gas beracun. Para pasien mengalami mual, muntah-muntah, pusing, hingga sesak nafas.

Dari kejadian tersebut, The Syrian Observatory (SOHR) menyebutkan setidaknya 58 jiwa meninggal dunia, 11 di antaranya adalah anak-anak. Petugas medis setempat memperkirakan korban jiwa akan terus meningkat hingga 100 orang. Sementara itu, 300 korban lainnya masih terkapar lemah di rumah sakit.

“Kami sekeluarga tengah tidur pulas ketika ada serangan itu. Lalu kami mendengar suara ledakan. Setelah itu merasa pusing, mual, bahkan susah bernafas,” ungkap salah satu korban yang tengah dirawat di Reyhanli, Ahmed, kepada Reuters.

Dilihat dari gejala yang dialami korban serangan, dugaan sementara gas kimia tersebut berjenis sarin. Menurut organisasi Kesehatan Dunia, sarin bersifat 26 kali lebih mematikan daripada gas sianida. Jika terhirup atau terserap oleh pori-pori kulit manusia, pusat pernafasan dan otot-otot sekitar paru-paru menjadi lumpuh dan menyebabkan kematian. Tersedak atau tercekik adalah gejala yang umumnya dirasakan mereka yang terpapar gas ini.

Hingga detik ini, serangan gas kimia yang diduga dilancarkan oleh pihak rezim dan oposisi masih dalam tahap investigasi. Jika serangan terbukti dilancarkan oleh salah satu dari dua pihak tersebut, maka tragedi ini menjadi tragedi yang paling mematikan setelah serangan gas serupa terjadi di Ghouta, Damaskus, pada 2013. Saat itu, ratusan jiwa meninggal dunia akibat serangan gas sarin yang dilancarkan oleh pihak rezim.

Serangan gas beracun tersebut mengundang kecaman dari dunia internasional, salah satunya dari Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim. Atas nama kemanusiaan, ia berharap PBB mampu memberi hukuman seberat-beratnya bagi pelaku penyerangan yang tidak manusiawi itu. Sementara itu, Inggris dan Perancis juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk memaksimalkan investigasi secara transparan dan adil.

Krisis kemanusiaan terus menggerus sendi-sendi kehidupan kota yang telah lumpuh itu. Sulit bagi warga untuk keluar dari sang kota neraka, sulit pula bagi institusi penyalur bantuan internasional yang mencoba menembus masuk. Hal ini diakui pula oleh mitra ACT yang mencoba menyalurkan bantuan musim dingin dan pangan ke wilayah Idlib sejak Januari 2017 lalu.

“Penyaluran bantuan ke Idlib bisa dibilang butuh proses yang cukup lama karena letaknya yang berada di dalam Suriah. Mitra kami sering kali mengalami kendala karena keamanan kota tersebut yang masih rawan. Tapi alhamdulillah, paket bantuan dapat tersalurkan dengan baik kepada warga Idlib,” ujar Aisyah Darojati, Tim Global Humanity Response ACT.

link