Hubungan Ikhtiyar, Doa, Tawakal, dan Husnudzan

Sempurnakan Ikhtiyar, Doa, dan Tawakal kita dengan Berbaik Sangka pada Allah. Dengan begitu kita akan mudah mendapatkan taufiq dan karunianya.

Ikhtiyar;

Bekerja dan berusaha juga bagian terpenting dari ajaran agama Islam. Di samping tanpa bekerja seseorang akan menjadi beban orang lain, juga dia akan senantiasa menanggung dosa sebab telah mengabaikan dan menelantarkan mereka yang menjadi tanggung jawabnya, seperti anak, istri dan orang tua yang sudah lemah. Perintah bekerja banyak termaktub dalam ayat Al-Qur’an maupun Hadits. Seperti salah satu firman Allah berikut,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat At-Taubah Ayat 105)

Berikut beberapa alasan kenapa umat Islam harus bekerja;

Pertama, Sebagai seorang pribadi dalam hidup harus mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri agar tidak membebani dan merepotkan orang lain. Sebagaimana tergambar dalam sebuah riwayat hadits berikut,

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”. (Hadits Bukhari Nomor 1378)

Walaupun Nabi dan para sahabat merupakan manusia-manusia mulia, namun faktanya mereka sangat mandiri dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagaimana Rasullullah bekerja sejak kecil dengan menggembala kambing dan dan berdagang. Bahkan tidak segan-segan Nabi juga turun langsung ke medan jihad.

Kedua, Sebagai tanggungjawab terhadap keluarga, seorang muslim wajib hukumnya bekerja dan berusaha. Cerminan ini dapat kita lihat dari riwayat hadist berikut,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah dosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan orang yang ia tanggung.” (Hadits Abu Daud Nomor 1442)

Semua orang yang sudah menjadi tanggung jawab seseorang, maka wajib baginya menafkahi. Mulai dari Istri, anak, dan orang tua yang sudah melemah.

Ketiga, Menghimpun harta dengan bekerja dan berusaha tidak melulu hanya untuk kepentingan memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Namun, sebab status sosialnya maka setiap orang dikenai beban untuk saling membantu sesama manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ طَيْرٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih lalu (hasilnya) dimakan oleh manusia, burung atau binatang ternak melainkan hal tersebut menjadi sedekah baginya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1303)

Hal ini menunjukkan bahwa bekerja tidak mesti terkait kita harus mendapatkan dan ikut merasakan hasilnya. Namun bekerja dan berusaha tersebut sebagai wujud bahwa kita telah ikut melestarikan alam sebagai bentuk kita telah menyempurnakan status kita sebagai khalifah.

Bagaimana mungkin kita bisa berderma bila kita sebelumnya tidak memiliki harta dikarenakan kita malas bekerja dan berusaha. Di samping derma yang kita berikan kepada orang lain akan bermanfaat bagi mereka, juga derma tersebut akan menjadi amal jariyah kita kelak di akhirat.

Keempat, Bekerja sebagai bentuk wujud Ibadah dengan ikut menjaga, merawat, melestarikan, dan memanfaatkan potensi alam dalam ekspresi bekerja dan berusaha. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ الْأَرْضَ أَرْضُ اللَّهِ وَالْعِبَادَ عِبَادُ اللَّهِ وَمَنْ أَحْيَا مَوَاتًا فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ جَاءَنَا بِهَذَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِينَ جَاءُوا بِالصَّلَوَاتِ عَنْهُ

“dari [‘Urwah] ia berkata; aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan bahwa bumi ini adalah bumi Allah, dan para hamba adalah hamba Allah, dan barang siapa yang menghidupkan lahan mati maka ia yang lebih berhak terhadapnya. Telah datang kepada kami dengan membawa hal ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [orang-orang yang datang membawa shalat] darinya. (Hadits Abu Daud Nomor 2672)

Menjaga dan mengelola bumi dan alam semesta diwajibkan bagi setiap umat manusia sebab memang tugas utama manusia adalah sebagai khalifah di bumi ini,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Surat Al-Baqarah Ayat 30)

Berdoa;

Doa bukan hanya dilakukan saat kita sedang membutuhkan saja. Namun berdoa merupakan bentuk ibadah yang harus senantiasa kita lakukan, sebab ia merupakan perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Surat Al-Mu’min Ayat 60)

Walaupun terlihat kita telah mampu memenuhi kebutuhan sendiri, namun berdoa tetap harus dilakukan sebagai bentuk kerendahan hati kita kepada Allah. Berdoalah sebab Allah akan mengabulkan setiap permohonan yang dipanjatkan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surat Al-Baqarah Ayat 186)

Tawakal

Tawakal merupakan suatu sikap pasrah seorang hamba kepada Tuhannya yang disertai dengan kesungguhan hati dan berusaha untuk menjauhi segala yang dilarang-Nya untuk menggapai ketentraman hidup di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala berfirman;

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Surat At-Talaq Ayat 2-3)

Menangkal keburukan dengan tawakkal

Bahwa sikap tawakkal dapat menolak keburukan diukir oleh Allah dalam Al-Qur’an sebuah peristiwa selamatnya Ibrahim dari api yang membakar tubuhnya sebab sikap tawakkalnya terhadap Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Al-‘Ankabut Ayat 24)

Nabi Ibrahim oleh Allah diselamatkan dari api disebabkan sikap tawakkalnya terhadap Allah. Ibnu Abbas berkata, “Kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika ia dilemparkan ke tengah bara api adalah: ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung’. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ } قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا {إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ}

“dari [Ibnu ‘Abbas] Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah ucapan Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir berkata; “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Hadits Bukhari Nomor 4197)

Sikap tawakkal merupakan simbol keimanan seseorang. Dengan sikap tawakkal, maka Allah akan menyelamatkan hambanya dari marabahaya. Sebab Allah tidak akan membiarkan hambanya yang beriman berada dalam keburukan.

Tawakal merupakan pintu rezeki

Sikap tawakkal tidak hanya dapat menangkal keburukan, bahkan dengan tawakkal menjadi sebab datangnya banyak anugerah dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberi rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rizki terhadap burung, ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4154 dan Hadits Tirmidzi Nomor 2266)

Pada hadits di atas menerangkan bahwa orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah, tentu rezekinya akan dimudahkan oleh-Nya. Bagaimana tidak mungkin terjadi jika orang tersebut telah bertawakal kepada Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Abu Hatim Ar Razy berkata, “Hadist ini merupakan tonggak tawakal. Tawakal kepada Allah itulah faktor terbesar dalam mencari rezeki.” Oleh karena itu, seseorang yang bertawakal kepada Allah, Insyaallah Dia akan dicukupi oleh Allah rezekinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.” (Surat At-Talaq Ayat 3)

Husnudzan

Setelah tahap demi tahap kehidupan untuk mendapat rahmat dan taufiq dari Allah sudah kita lakukan. Maka ikhtiyar, doa, dan tawakal kita balut dalam persangkaan yang baik kepada Allah. Di antara persangkaan yang baik kepada Allah adalah kita yakin bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan tekad hambanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3401)

Jangan lalai, dengan tidak menyempurnakan ikhtiyar, do’a, dan tawakal kita. Sebab hal itu akan mengurangi hasil yang akan kita dapatkan.

Yakinlah bahwa Allah akan menerima taubatnya. Berhusnudzanlah bahwa Allah akan memberikan kedudukan terbaik bagi kita di dunia dan akhirat. Jangan berputus asa dan berburuk sangka, sebab itu akan mudah doa terkabul. Berbeda jika kondisinya sudah putus asa dan sudah berburuk sangka pada Allah sejak awal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (Hadits Bukhari Nomor 6856 dan Hadits Muslim Nomor 4851)

Mengenai makna hadits di atas, Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan.

Inilah bentuk husnudzan atau berprasangka baik pada Allah yang diajarkan pada seorang muslim. Jabir berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ

“Janganlah salah seorang dari kalian mati melainkan dalam kondisi berbaik sangka terhadap Allah.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4157)

Jangan berburuksangka pada Allah sebab itu merupakan pintu kebinasaan bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (Surat Al-Fath Ayat 6)

Yakin dan berbaik sangkalah pada janji Allah. Janganlah berprasangka kecuali yang baik pada Allah. Dan jangan putus asa dari rahmat Allah dan teruslah berdo’a serta memohon pada-Nya.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 6
    Shares