Sejarah Dan Keutamaan Bulan Muharram Dan Puasa Asyura

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq & Ustadz Umar

Diantara duabelas bulan hijriyah terdapat salah satu bulan yang sangat mulia yaitu bulan Muharram. Begitu mulianya bulan Muharam sampai-sampai Allah mengabdikan bulan tersebut dalam firman-Nya yang berbunyi,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At-Taubah[9]: 36)

Dari empat bulan tersebut salah satunya ialah bulan Muharram hal ini dijelaskan dalam hadits shohih yang berbunyi:

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Zaman (masa) terus berjalan dari sejak awal penciptaan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan al-Muharam serta Rajab yang berada antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban”. (HR. Bukhari No. 2958)

Diantara penyebab bulan Muharram sebagai bulan agung adalah di dalamnya terdapat hari yang disebut Asyura (10 Muharram), yaitu bulan penuh sejarah.

Asyura merupakan hari yang sangat diagungkan oleh bangsa-bangsa di dunia pada saat itu, seperti bangsa Arab Jahiliyah dan juga bangsa Yahudi Israil. Banyak tradisi yang dilakukan oleh mereka sebagai bentuk pengagungan terhadap hari itu. Mereka mengagungkan hari itu dengan berbagai macam tradisi, diantaranya melakukan puasa. Hal ini terukir dalam sebuah hadist,

أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي الهُِ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ الهِن صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ …

“Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, Nasai)

Ini sebagai bentuk bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat ramah dan akomodatif. Islam tidak segan-segan mengadopsi kebaikan, kebiasaan dan tradisi dari sebuah kaum maupun sebuah bangsa. Islam sangat ramah dengan tradisi dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari sebuah kaum, dan Islam tidak anti dengan sebuah tradisi, selama kebaikan tersebut tidak mengandung kesyirikan dan kemaksiatan terhadap Allah. Sebagaimana sabda Nabi,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الهُل بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :”Apa ini?” Mereka menjawab :”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah)

Dua hadits ini menunjukkan bahwa Nabi meniru atau lebih tepatnya tetap melanjutkan kebiasaan suku Arab Quraisy Jahiliyah dan kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura untuk kemudian ditetapkan sebagai syariah agama Islam yang dianjurkan dilakukan oleh kaum muslimin. Nabi merasa perlu mensyari’atkan puasa Asyura karena ada kebaikan di dalamnya, yakni sebagai bentuk syukur atas kenikmatan Allah dan sebagai pengakuan nabi Muhammad atas kenabian nabi Musa sebagai nenek moyang bangsa Yahudi. Sabda Nabi,

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِي الهُل عَنْهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ الهِ صَلَّى الهُه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ

“Abu Musa berkata : “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulllah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Puasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim, Abu Daud, Ahmad)

Hadits di atas menunjukkan bahwa ada toleransi dalam Islam terhadap agama lain, selama toleransi tidak menyangkut masalah aqidah. Disamping itu keagungan hari Asyura karena sejarahnya pada hari tersebut tepat pada berlabuhnya kapal Nuh di atas gunung, sabda nabi,

وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى

“Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur” (HR. Ahmad)

Ini juga bukti bahwa dalam agama Islam juga mengenal sebuah perayaan dan peringatan kejadian-kejadian yang dianggap agung. Fitrah manusia ingin selalu merayakan dan memperingati sesuatu yang dianggap spesial dan Istimewa, seperti istimewanya hari kelahiran bagi setiap manusia, dan lain sebagainya. Namun walaupun dalam Islam terbukti mengenal tradisi-tradisi yang baik, dan tidak menolak kebiasaan-kebiasaan manusia untuk mengistimewakan sebuah peristiwa sebagai bentuk renungan, namun nabi tetap menganjurkan kebiasaan manusia tersebut tetap bernilai pahala dengan diisi sebuah amalan yang bernilai ibadah. Dan sangat tidak dianjurkan diisi dengan hal-hal yang bersifat maksiat, sebagaimana sabda Nabi,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab : “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin” (HR. Muslim, Abu Daud, Ahmad)

Walaupun syariat puasa Asyura berasal dari tradisi dan kebiasaan bangsa Yahudi, namun setelah ditetapkan sebagai syariat Islam nabi memodifikasi kebiasaan tersebut dengan menambah puasa sehari sebelum dan sesudah tanggal sepuluh bulan Muharram. Dengan gambaran bila bangsa Yahudi berpuasa hanya satu hari pada tanggal sepuluh saja, untuk umat Islam disunnahkan berpuasa tiga hari pada tanggal sembilan, sepuluh, dan sebelas. Namun hal ini sifatnya bukan sebuah kewajiban mutlak karena hanya sebatas untuk memudahkan identifikasi perbedaannya. Dengan artian bahwa umat Islam melakukan sesuatu yang beda dengan kaum Yahudi hukumnya hanya sunnah saja. Karena sunnah maka kita tetap boleh berpuasa Asyura pada tanggal 9 saja, 10 saja, 11 saja, atau penuh tiga hari tersebut lebih baik. Sabda nabi,

خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ

“Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.” (HR. Ahmad)

كَانَ عَاشُورَاءُ يَصُومُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ قَالَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ

“Dahulu hari Asyura’ adalah hari yang orang-orang jahilliyah pergunakan untuk puasa, tatkala turun bulan ramadlan, beliau bersabda: “Barang siapa yang ingin berpuasa Asyura’ hendaklah ia berpuasa, dan bagi yang tidak ingin, silahkan ia tinggalkan.” (HR. Bukhari No. 4141)

Umat Islam boleh hukumnya ikut merayakan apa yang dirayakan oleh agama lain, selama tidak menyangkut masalah aqidah. Kebolehan ini tentunya bukan sesuatu hal yang dianggap aneh, karena memang dasar agama Islam berasal dari agama-agama samawi sebelumnya yakni agama Yahudi dan Nasrani. Bila kita menolak ini malah terkesan aneh ketika dalam aqidah umat Islam wajib mengakui tuhan, kitab, dan rasul dari agama Yahudi dan Nasrani, namun tidak boleh mengakui penyelewengannya. Disitulah maksud nabi Muhammad dan Islam sebagai nabi dan dan agama penutup serta penyempurna agama-agama sebelumnya. Sehingga tidak salah ketika dalam Islam pernah satu kiblat dengan agama lain ke masjidil Aqsa, dan nabi juga melakukan beberapa ritual ibadah yang sama dengan sebagian ibadah kaum Yahudi. Sabda Nabi,

صَامَ رَسُولُ الهِع صَلَّى الهُت عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ الهِس إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ الهَِ صَلَّى الهَُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan berpuasa. Para shahabat berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh Yahudi.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9.”, tetapi sebelum datang tahun depan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat.” (HR. Muslim, Abu Daud)

Dalam riwayat lain:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup pada tahun depan, sungguh aku akan melaksanakan puasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, Ahmad)

Amalan-Amalan Penunjang Di Hari Asyura

Berikut kami sebutkan beberapa kebiasaan dan tradisi baik yang boleh dilakukan oleh umat muslim sebagai bentuk pengagungan atas bulan tersebut. Walaupun sebagian kecil kelompok umat Islam mempersoalkan kebiasaan-kebiasaan yang muncul di kalangan umat Islam dengan alasan bid’ah, namun tuduhan mereka tidaklah berdasar dengan beberapa pertimbangan,

Pertimbangan Pertama,

Bila kaidah dalam syari’at Islam mewajibkan sebuah amalan ibadah harus menggunakan dalil dari perintah yang khusus atau spesifik, maka begitu juga berlaku kaidah mengharamkan sebuah amalan ibadah harus menggunakan dalil dari perintah yang spesifik juga. Maksudnya, haram hukumnya “mengharamkan” sebuah amalan ibadah menggunakan dalil yang bersifat umum atas sebuah amalan ibadah yang juga didasarkan dengan dalil yang sifatnya juga umum. Contoh,

Melakukan dan memperbanyak membaca dzikir di bulan Ramadhan dilarang oleh sebagian golongan Islam keras dengan anggapan nabi secara khusus tidak pernah melakukannya. Sehingga karena nabi dianggap tidak pernah melakukan itu maka bagi para pelakunya dituduh telah melakukan bid’ah yang sesat dan para pelakunya layak dihukumi masuk neraka. Tuduhan bid’ah mereka terhadap mayoritas muslim yang melakukan dzikir di bulan Muharram menggunakan dalil yang maknanya sangat umum, seperti hadits berikut,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan yang disesatkan oleh Allah tidak ada yang bisa memberi petunjuk padanya. Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. Nasa’i no. 1578)

Perhatikan dua hadits diatas secara seksama. Dua hadits tersebut maknanya sangat luas sekali, arti bid’ah itu sendiri tidak jelas dan tidak sepesifik terkait masalah apa? Apakah terkait masalah dunia atau agama, apakah masalah politik atau apakah masalah ibadah. Nabi secara tidak tegas memberikan batasan makna bid’ah walaupun golongan Islam radikal menta’wil (memaksa memaknai) kata “PERKARA” tersebut dengan makna “PERKARA AGAMA”. Ini menunjukkan bahwa makna perkara agama tersebut hasil dari pentakwilan atau penyeewengan makna.

Bila ada sebuah ayat atau hadits memiliki makna yang terlalu luas karena dalil tersebut sifatnya absurd/membingungkan, tidak jelas objek perkaranya, tidak jelas kategori dan kriterianya, tidak jelas kadarnya, tidak jelas ukurannya, tidak jelas obyeknya, tidak spesifik maksudnya, dan sangat umum maknanya. Apakah yang dimaksud nabi itu urusan ibadah, politik, ekonomi, atau hal-hal yang bersifat duniawi. Maka dalil-dalil tersebut tergolong dalil mutasyabihat yang dilarang keras oleh Allah untuk digunakan sebagai hukum karena akan menimbulkan fitnah dar kerusakan dalam agama. Bagi yang memaksakan dalil-dalil mutasyabihat untuk menghukumi sesuatu yang sifatnya khusus sangat bahaya sekali, sebagaimana firman Allah,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS.Ali Imran: 7)

Sangat jelas sekali bahwa kita dilarang keras menggunakan dalil-dalil yang sifatnya mutasyabihat, dengan bigitu semua hadits tentang bid’ah yang tidak jelas spesifikasinya tidak dapat dijadikan sebagai hujjah syari’ah karena akan menimbulkan fitnah, persoalan, pertentangan dan kerusakan dalam agama Islam. Disamping itu BID’AH buakan merupakan salah satu hukum dalam syari’at Islam.

Bila kita melarang atau mengharamkan sebuah amalan ibadah yang sifatnya umum wajib menggunakan dalil yang khusus, karena bila tidak sama halnya kita mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan. Tindakan tersebut sangatlah lancang terhadap kedudukan Allah sebagai tuhan pembuat syari’at Islam, dan sikap itu termasuk telah membuat dusta agama yang diancam laknat oleh Allah,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengucapkan dusta yang disebutkan oleh lidah lidah kamu, ini halal dan ini haram, untuk kamu ada adakan dusta atas nama Allah; sesungguhnya orang orangyang mengada adakan dusta atas nama Allah tidak akan beruntung. Itu hanyalahkesenangan yang sedikit, tetapi bagi mereka ada azab yang pedih (A Nahl: 116-117)

قَالَ حَدَّثَنِي فَصَدَقَنِي وَوَعَدَنِي فَأَوْفَى لِي وَإِنِّي لَسْتُ أُحَرِّمُ حَلَالًا وَلَا أُحِلُّ حَرَامًا

Beliau bersabda: ‘Dari mereka telah berbicara denganku, membenarkanku, berjanji denganku dan menepati janjinya. Dan sesungguhnya aku bukan ingin mengharamkan sesuatu yang halal, bukan pula sebaliknya. (HR. Muslim No. 4484)

Jika seseorang menghukumi sesuatu menggunakan dalil-dalil yang bersifat kontradiktif dan mutasyabihat, maka dia telah berlebih-lebihan dalam soal agama. Allah berfirman,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. [QS. Al-Mâ`idah[5]:77]

Boleh Lebih Meningkatkan Amalan Sunnah Dlam Bulan Muharram

Berikut amalan-amalan ibadah yang telah menjadi tradisi mayoritas umat Islam yang boleh dilakukan kapanpun dan dimanapan serta berapapun kadarnya, karena Allah sendiri tidak pernah secara spesifik membatasi sesuatu kebaikan, bahkan Allah sangat menganjurkan memperbanyak pahala. Begitu pula tidak ada satupun dalil yang melarang amalan-amalan ibadah tersebut dilakukan di saat bulan Muharram dan hari Asyura.

Agama itu mudah jangan dipersulit, diperberat, dan diperumit dengan sedikit-dikit menuduh pihak lain bid’ah, syirik, tahayul, kafir. Karena Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya, sebagamana firman-Nya,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَوَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

 “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Dalam agama tidak ada pengungkungan dan penyempitan bagi manusia terhadap sesuatu yang sebenarnya oleh Allah diberi keleluasaan. Di samping hal tersebut memang karena ada beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh sementara ahli agama yang berlebihan. Jangan mudah mengharamkan sesuatu tanpa dasar dalil yang muhkamat, jelas dan spesifik karena hukum asal segala sesuatu adalah halal sepanjang belum ada dalil yang jelas, muhkamat, dan spesifik yang mengharamkannya.

الأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءُ الحِلّ

“Hukum asal segala sesuatu adalahhalal (sampai ada dalil yang mengharamkannya).”

Karena hukum asal segala sesuatu termasuk soal ibadah selain ibadah mahdah itu boleh, maka tidak ada alasan yang kuat untuk melarangnya atau bahkan menyesatkannya. Apalagi amalan-amalan ibadah yang dilakukan tersebut sifatnya umum dan menggunakan dalil-dalil yang bersifat umum pula, serta amalan-amalan ibadah tersebut sifatnya sebagai penambah nilai pahala bagi yang melakukannya.

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah[2]: 195)

Berikut Amalan-Amalan Ibadah Yang Boleh Dilakukan Secara Lebih Spesial Di Saat Bulan Muharram Dan Hari Asyura Menggunakan Dalil Umum, Disamping Itupula Tidak Ada Dalil Khusus Yang Melarangnya;

  1. Lebih memperbanyak shalat sunnah mutlaq di hari Asyura. Berdasarkan dalil umum,

مَا أَذِنَ اللهُ لِعَـبْدٍ فِيْ شَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ يُصَلِّيْهِمَا، وَإِنَّ الْبِرَّ لَيُذَرُّ فَوْقَ رَأْسِ الْعَبْدِ مَا دَامَ فِيْ صَلاَتِهِ.

“Tidak ada sesuatu yang lebih baik yang Allah izinkan kepada seorang hamba selain melaksanakan shalat dua raka’at dan sesungguhnya kebajikan akan bertaburan di atas kepala seorang hamba selama ia melakukan shalat.” (HR. Tirmidzi)

  1. Lebih memperbanyak dzikir di hari Asyura. Berdasarkan dalil umum,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab: 41)

  1. Lebih menciptakan kerapian dan kebersihan, keharuman badan dan lingkungan di hari Asyura. Berdasarkan dalil umum,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: الطِّيبُّ وَالنِّسَاءُ

”Aku diberi kesenangan di dunia ini, yaitu wanita, harum-haruman, dan kesejukan mata dalam sembahyang (HR. Nasa’i)

كان بن عمر إذا استجمر استجمر بالوة غير مطراة أو بكأفور يطرحه مع الألوة ثم قال هكذا كان يستجمررسول الله صلى الله عليه وسلم

Apabila ibnu umar beristijmar (membakar dupa/kemenyan) maka beliau beristijmar dengan uluwah yang tidak ada campurannya, dan dengan kafur yang di campur dengan uluwah, kemudian beliau berkata; “Seperti inilah Rosululloh SAW, beristijmar”. (HR. Nasa’i No 5152)

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ فَنَظِّفُوا أُرَاهُ قَالَ أَفْنِيَتَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ قَالَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِمُهَاجِرِ بْنِ مِسْمَارٍ فَقَالَ حَدَّثَنِيهِ عَامِرُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ نَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَخَالِدُ بْنُ إِلْيَاسَ يُضَعَّفُ وَيُقَالُ ابْنُ إِيَاسٍ

“Sesungguhnya Allah Maha Baik, dan menyukai kepada yang baik, Maha Bersih dan menyukai kepada yang bersih, Maha Pemurah, dan menyukai kemurahan, dan Maha Mulia dan menyukai kemuliaan, karena itu bersihkanlah diri kalian, ” aku mengiranya dia berkata; “Halaman kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi, ” Shalih bin Abu Hassan berkata; Hadits itu aku sampaikan kepada [Muhajir bin Mismar], lalu dia berkata; ” [Amir bin Sa’ad bin Abu Waqqas] telah menceritakannya kepadaku dari [Ayahnya] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan hadits yang semisal, Namun dalam hadits tersebut beliau bersabda: “Bersihkanlah halaman kalian.” Abu Isa berkata; Hadits ini gharib, dan Khalid bin Ilyas telah dilemahkan, dan dia juga dinamakan Ibnu Iyas. (HR. Tirmidzi No. 2723)

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالْاِسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima hal termasuk perkara fitrah: khitan, mencukur rambut kemaluan, menggunting kuku, mencabut rambut ketiak, dan memotong kumis.” (HR. Bukhari No. 5889 dan Muslim No. 596)

أَتَيْتُ النَّبِيَّ n فَوَجَدْتُهُ يَسْتَنُّ بِسِوَاكٍ بِيَدِهِ يَقُوْلُ: أُعْ، أُعْ؛ وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ

Aku mendatangi Nabi n yang ternyata sedang bersiwak dengan siwak yang ada di tangannya. Keluar dari mulut beliau suara, “Ugh… ugh…”, sementara siwak ada dalam mulut beliau, seakan-akan beliau mau muntah. (HR. Bukhari No. 244)

  1. Lebih bersolek dan merapikan badan di hari Asyura. Berdasarkan dalil umum,

Bersoleh seperti bercelak, memakai minyak rambut, mewarnai kuku, dan menyemir rambut

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنِ النُّعْمَانِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ وَكَانَ قَدْ أَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اكْتَحِلُوا بِالْإِثْمِدِ الْمُرَوَّحِ فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ

Telah menceritakan kepada kami [Abu Ahmad Az Zubari] telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’man Abdurrahman bin Nu’man Al Anshori] dari [Bapaknya] dari [kakeknya] dia mendapati masa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam berkata; Rasulullah Shallallahu’alahiwasallam bersabda: “Pakailah celak kalian semua dengan memakai Itsmid (bahan celak yang terbaik) yang bercampur dengan wangi-wangian, sesungguhnya hal tersebut dapat membuat penglihatan menjadi terang dan menumbuhkan rambut”. (HR. Ahmad No. 15341)

  1. Lebih memperbanyak sedekah di hari Asyura. Berdasarkan dalil umum,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. (QS. Al-Baqarag[2]: 215)

  1. Lebih memperbanyak memberi makan di hari Asyura. Berdasarkan dalil umum,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

bahwa seorang laki-laki bertanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Islam yang bagaimana yang paling baik?” Beliau menjawab: “Kamu memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR. Muslim No. 56)

  1. Lebih memperbanyak membaca sejarah dan meneladani perjuangan manusia-manusia mulia di hari Asyura. Berdasarkan dalil umum,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul (manusia-manusia soleh/mulia) kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

  1. Lebih memperbanyak doa apalagi doa akhir tahun dan awal tahun di bulan Muharram. Berdasarkan dalil umum,

إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah[2]: 186)

  1. Lebih meningkatkan keperdulian kepada anak yatim, dan fakir miskin di bulan Muharram. Berdasarkan dalil umum,

۞ لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah[2]: 177)

Begitulah anjuran agama untuk memperbanyak amal ibadan dan amal sholeh tanpa batasan waktu dan tempat sebagai untuk mengharap ridla Allah.