Sedekah^#

Daftar Isi

Pengertian, Perintah, Hukum, dan Jenis-jenis Sedekah

Setiap muslim dapat dipastikan sering mendengar kata sedekah. Sedekah adalah memberi sesuatu yang kita miliki kepada orang lain baik berupa materi maupun moril. Dalam sedekah memiliki banyak dimensi yang perlu difahami. Seperti; perintah sedekah, keutamaan sedekah, ancaman bagi mereka yang enggan sedekah, bentuk-bentuk sedekah, etika dalam sedekah, para penerima sedekah, dan lain sebagainya. Memahami hakikat sedekah akan mampu mendorong seseorang untuk bersemangat dan ikhlas bersedekah.

Apalagi kedudukan seorang muslim juga bagian dari makhluq sosial tentunya memiliki tanggung jawab terhadap kebaikan lingkungannya. Setiap pribadi muslim tidak bila lepas dan abai terhadap peran orang lain. Salah satu bentuk ikatan tanggungjawab muslim pada sosialnya adalah diperintahkan untuk bersedekah. Sedekah merupakan perkara mulia, sehingga para pelakunya akan memiliki kedudukan yang mulia di hadapan Allah dan umat manusia. Sebab tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ الصَّدَقَةِ أَوْ أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا أَبْقَتْ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sebaik-baik sedekah” atau “Sedekah yang paling utama adalah sisa dari kecukupan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dari yang kamu tanggung”. (HR. Ahmad Nomor 15025)

Pengertian Sedekah

Sedekah adalah pemberian yang dilakukan secara sukarela, ikhlas, atau tanpa pamrih, semata-mata untuk mengharap ridla Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki nilai sosial, menolong atau membantu kesulitan yang tengah dialami oleh orang lain.

Maksudnya adalah sedekah merupakan pemberian dari seseorang kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedekah bisa berupa apa saja yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti sedekah uang, makanan, barang, bahkan tenaga. jika kita niat tulus karena Allah Subhanahu wa Ta’ala maka akan mendapatkan pahala disisi allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sedekah itu pada hakikatnya adalah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala pada jalur hablum minannaas. Oleh karena itu, seperti ibadah-ibadah lainnya, bersedekah harus memberikan yang terbaik dan tidak perlu diketahui oleh orang lain, cukuplah diri sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui. Sedekah merupakan bentuk mensyukuri nikmat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim Ayat 34)

Dengan sedekah berarti kita telah menjalankan amanah dari Allah. Sedekah merupakan bentuk mensyukuri nikmat Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takasur Ayat 8)

Catatan: Ada perbedaan istilah dalam aktifitas pemberian, bagi pemberi namanya sedekah, sedangkan bagi penerima namanya hadiah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَضَى فِي بَرِيرَةَ ثَلَاثُ سُنَنٍ خُيِّرَتْ حِينَ أُعْتِقَتْ وَكَانَ زَوْجُهَا مَمْلُوكًا وَكَانُوا يَتَصَدَّقُونَ عَلَيْهَا فَتُهْدِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ هُوَ عَلَيْهَا صَدَقَةٌ وَهُوَ لَنَا هَدِيَّةٌ وَقَالَ الْوَلَاءُ لِمَنْ أَعْتَقَ

“dari [‘Aisyah] ia berkata, “Telah berlalu bagi Barirah tiga kali haid, dan saat dimerdekakan ia diberi pilihan. Suaminya adalah seorang budak, orang-orang banyak memberi sedekah kepadanya, lalu ia hadiahkan sedekah tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau kemudian bersabda: “Baginya adalah sedekah, dan bagi kita adalah hadiah.” Beliau bersabda lagi: “Loyalitas itu untuk yang memerdekakannya.” (HR. Ibnu Majah Nomor 2066)

Perintah Bersedekah

Harta dan benda yang dimiliki seseorang hakikatnya adalah milik Allah yang dititipan kepada manusia. Dalam setiap harta yang dimiliki seseorang selalu ada hak orang lain di dalamnya. Maka, Allah memerintahkan setiap muslim menyisihkan hartanya untuk bersedekah. Setiap sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang dengan ikhlas, niscaya akan diganti oleh Allah lebih banyak dan lebih baik. Berikut ayat-ayat yang memerintahkan setiap muslim bersedekah;

Allah menyukai orang yang bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-Baqarah Ayat 195)

Rugi di hari kiamat bagi mereka yang enggan bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Baqarah Ayat 254)

Sedekah merupakan bentuk mensyukuri nikmat rezeki Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Surat Al-Anfal Ayat 3)

Jenis dan hakikat sedekah

Cakupan sedekah dalam Islam itu sangat luas sekali. Sedekah itu bukan hanya dalam bentuk materi saja, pengertiannya cukup luas, mencakup memberikan kegembiraan kepada saudara, melakukan amarma’ruf dan nahi mungkar, memberi petunjuk orang yang tersesat jalan, menyingkirkan gangguan dari tengah jalan, menolong orang lain dengan tenaga dan pikirannya, senyum, memberi nafkah keluarga, mengajarkan ilmu, berdzikir, bahkan juga melakukan hubungan suami istri itu disebut dengan sedekah, dan lain sebagainya. Berikut uraiannya,

Apa yang dicuri manusia atau yang dicuri hewan merupakan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

َ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلَّا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتْ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلَا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلَّا كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakannya bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkah ia menjadi sedekah baginya.” (HR. Muslim Nomor 2900)

Bacaan-bacaan dzikir dan amal ibadah merupakan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.” (HR. Muslim Nomor 1181)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ فَلَهُ بِكُلِّ صَلَاةٍ صَدَقَةٌ وَصِيَامٍ صَدَقَةٌ وَحَجٍّ صَدَقَةٌ وَتَسْبِيحٍ صَدَقَةٌ وَتَكْبِيرٍ صَدَقَةٌ وَتَحْمِيدٍ صَدَقَةٌ فَعَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ هَذِهِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ ثُمَّ قَالَ يُجْزِئُ أَحَدَكُمْ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَا الضُّحَى

“Hendaklah masing-masing dari kalian setiap harinya bersedekah untuk setiap ruas tulangnya. Setiap shalat (yang ia kerjakan) menjadi sedekah baginya, puasa adalah sedekah, haji adalah sedekah, bacaan tasbih adalah sedekah, bacaan takbir juga sedekah, bacaan tahmid adalah sedekah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghitung (menyebutkan) semua amal Shalih ini, lalu bersabda: “Cukuplah salah seorang dari kalian mengerjakan shalat dua raka’at dhuha untuk menggantikan semua itu.” (HR. Abu Daud Nomor 1094)

Nafkah kita kepada keluarga juga merupakan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Jika kamu memberi makan pada diri kamu, maka itu menjadi sedekah bagimu, jika kamu memberi makan pada anakmu maka itu menjadi sedekah bagimu, jika kamu memberi makan pada istrimu maka itu menjadi sedekah bagimu, jika kamu memberi makan pada pelayanmu maka itu menjadi sedekah bagimu.” (HR. Ahmad Nomor 16550)

Kita dianjurkan memberi sedekah sebagai bentuk ganti riba ketika kita telah mendapatkan kebaikan orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah Ayat 276)

Perbuatan baik kita kepada orang lain merupakan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ سُلَامَى مِنْ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ قَالَ تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ قَالَ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

“Setiap anggota tubuh manusia memiliki keharusan sedekah pada setiap harinya. Yaitu seperti mendamaikan dua orang yang berselisih, adalah sedekah. Menolong orang yang naik kendaraan, atau menolong mengangkatkan barangnya ke atas kendaraan, itu pun termasuk sedekah. Ucapan atau tutur kata yang baik, juga sedekah. Setiap langkah yang Anda ayunkan untuk menunaikan shalat, juga sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan di jalanan umum, adalah sedekah.” (HR. Muslim Nomor 1677)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

“Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. Ahmad Nomor 17992)

Tidak punya uang bukan berarti penghalang untuk bersedekah. Senyum kepada saudara lainnya, membantu orang ketika susah, membersihkan ruangan ketika tidak ada yang membersihkan, dan lain sebagainya juga terhitung sebagai amal sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (HR. Tirmidzi Nomor 1879)

Menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan merupakan sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَيُمْسِكُ عَنْ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ

‘Menahan diri dari kejahatan, karena itu adalah sedekah baginya.’ (Hadits Bukhari Nomor 5563)

Bersedekah kepada saudara yang sebetulnya memusuhinya namun menyembunyikan permusuhannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّدَقَاتِ أَيُّهَا أَفْضَلُ قَالَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الْكَاشِحِ

“bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai sedekah apakah yang paling utama?” Beliau bersabda: “Sedekah kepada orang yang memiliki hubungan kerabat yang menyembunyikan permusuhannya.” (HR. Darimi Nomor 1617)

Sedekah yang baik adalah sedekah yang mampu menutupi kebutuhan orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ خَيْرَ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى أَوْ تُصُدِّقَ بِهِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sesungguhnya sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang masih meninggalkan kecukupan (bagi yang bersedekah), atau yang disedekahkan dalam kondisi kecukupan. Dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung.” (HR. Abu Daud Nomor 1427)

Memberi kelonggaran waktu bagi orang yang memiliki hutang akan bernilai sedekah dalam setiap harinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ وَمَنْ أَنْظَرَهُ بَعْدَ حِلِّهِ كَانَ لَهُ مِثْلُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

“Barangsiapa memberi kemudahan (dengan menangguhkan pembayarannya) kepada orang yang kesusahan, maka pada setiap harinya ia akan mendapatkan pahala sedekah. Dan barangsiapa memberikan kemudahan setelah jatuh tempo, ia juga akan mendapatkan pahala sedekah pada setiap harinya.” (HR. Ibnu Majah Nomor 2409)

Hukum sedekah bagi mereka yang sudah meninggal

Hukum bersedekah harta untuk orang yang telah meninggal juga dapat bermanfaat secara mutlak, baik itu berupa benda padat maupun benda cair, benda hidup maupun benda mati, benda mentah maupun benda matang. Sebagaimana yang sering dilakukan oeh kebanyakan orang pada saat salah satu keluarganya meninggal para peziarah disuguhi makanan oleh tuan rumah atau ahli waris bukan untuk kenduri foya-foya atau pesta pora, melainkan sebagai bentuk (diniatkan) sedekah yang pahalanya dikirimkan kepada si mayit. Hal ini sangat dianjurkan karena sesuai dengan sabda Nabi,

إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَإِنَّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقَ عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal secara tiba-tiba, sekiranya dapat bicara niscaya ia akan bersedekah. Apakah aku boleh bersedekah untuknya?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (HR. Nasai Nomor 3589)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا فَهَلْ يَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal dunia sedang saat itu aku tidak ada di sisinya. Apakah akan bermanfaat baginya bila aku menshadaqahkan sesuatu untuknya?” Beliau bersabda: “Ya”. Dia berkata: “Aku bersaksi kepada Tuan bahwa kebunku yang penuh dengan bebuahannya ini aku shadaqahkan atas (nama) nya”. (HR. Bukhari Nomor 2556)

Penerima sedekah

Pada prinsipnya sedekah sunnah dapat diberikan kepada siapa saja dan kapan saja. Namun ada kriteria yang telah ditetapkan oleh agama siapa saja yang berhak menerima sedekah yang dikeluarkan oleh seorang muslim. Namun agama memberikan gambaran kriteria siapa saja yang lebih berhak untuk menerima sedekah. Di antaranya adalah,

Kedua orang tua, kerabat, yatim, miskin dan musafir. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 215)

Sedekah untuk orang-orang fakir, orang miskin, panitia zakat, para mu’allaf, orang yang berhutang, pejuang dan musafir. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat At-Taubah Ayat 60)

Sedekah kepada kerabat yang miskin bernilai dua dan kepada orang lain yang miskin bernilai satu. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صِلَةٌ وَصَدَقَةٌ

“Sedekah kepada fakir miskin bernilai satu sedekah. Sedangkan sedekah kepada kerabat dekat mempunyai dua nilai; sedekah dan menyambung silaturahi.” (HR. Ahmad Nomor 172040)

Dengan memahami hakikat sedekah sangat bermanfaat. Kita akan lebih bersemangat untuk bersedekah dan mengerti apa saja amalan sebagai sumber pahala sebagai bekal kelak hidup di akhirat.

Keutamaan Sedekah

Islam sebagai agama sudah memerintahkan untuk saling tolong menolong pada sesama manusia dalam kebaikan. Sudah sering kita mendengar istilah yang sebetulnya bersumber dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “lebih baik tangan di atas dibandingkan tangan yang berada di bawah”. Maksudnya adalah manusia sebagai makhluk sosial akan lebih mulia bila memiliki keperdulian membantu kepada orang lain dengan bersedekah daripada seseorang yang memiliki mental berpangku tangan dan selalu mengharap belas kasihan dari orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ الصَّدَقَةِ أَوْ أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ مَا أَبْقَتْ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sebaik-baik sedekah” atau “Sedekah yang paling utama adalah sisa dari kecukupan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Mulailah dari yang kamu tanggung”. (HR. Ahmad Nomor 15025)

Bersedekah merupakan amalan yang bisa dilakukan kapan saja. Tidak hanya mendapat pahala yang berlipat ganda, bersedekah juga sekaligus sebagai penyempurna ibadah yang kita lakukan. Sedekah merupakan salah satu penolak bala bagi orang Muslim. Sedekah juga bisa menyambung silaturahim dan kasih sayang. Selain itu masih banyak keutamaan yang dimiliki amal ibadah yang sedekah ini. Di antaranya,

Hartanya diganti lebih banyak

Allah mengganti lebih banyak harta dari sedekah yang dikeluarkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Surat Al-Baqarah Ayat 245)

Hartanya akan dilipatgandakan sebagai imbalan sedekahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 261)

Harta orang-orang yang bersedekah akan semakin banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Surat Al-Baqarah Ayat 265)

Setiap sedekah akan diganti yang lebih baik dan lebih banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’ Ayat 39)

Semakin banyak bersedekah maka akan semakin bertambah harta, karena sedekah dapat memberi keberkahan pada harta.

Sedekah tidak menyebabkan miskin

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَأَشْفَقْتُمْ أَنْ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَاتٍ ۚ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا وَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah Ayat 13)

Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta

Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ

“Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya -atau kalimat sepertinya- dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kaian menjaganya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2247)

Tidak berkurang rezekinya karena bersedekah, karena sedekah itu akan meluaskan , melapangkan dan membuka pintu rezeki. Yang dimaksud hartanya tidak akan berkurang? Dalam Syarh Shahih Muslim, An Nawawi menjelaskan: “Para ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud disini mencakup 2 hal: Pertama, yaitu hartanya diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Maka pengurangan harta menjadi ‘impas’ tertutupi oleh berkah yang abstrak. Ini bisa dirasakan oleh indera dan kebiasaan. Kedua, jika secara dzatnya harta tersebut berkurang, maka pengurangan tersebut ‘impas’ tertutupi pahala yang didapat, dan pahala ini dilipatgandakan sampai berlipat-lipat banyaknya.”

Ahli sedekah hidup dan usahanya tidak mengalami kerugian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” (Surat Fatir Ayat 29)

Sedekah akan mendatangkan keuntungan

Dengan sedekah keuntungan akan lebih subur dan lebih banyak didapatkan. Sebab harta orang yang bersedekah senantiasa diberkahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Surat Al-Baqarah Ayat 276)

Bersyukur dengan sedekah maka Allah akan menambah nikmat

Memperbanyak syukur dengan sedekah maka Allah akan menambah nikmat. Ahli sedekah ada rasa bahagia dan lapang setelah memberikan sedekahnya kepada orang lain yang membutuhkan. Sebab sedekah sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim Ayat 7)

Pintu rezeki semakin terbuka dengan sedekah

Senantiasa didoakan malaikan agar pintu rezeki akan terbuka. Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “. (Hadits Bukhari Nomor 1351)

Sedekah diganti dengan kebaikan

Sedekah yang baik diganti kebaikan di sisi Allah sebagai ganti dari pahala yang telah dikeluarkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

“Barangsiapa yang memberikan bantuan yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi bantuan yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ Ayat 85)

Bukan hanya membersihkan diri dari dosa, tetapi keutamaan sedekah juga dapat mendatangkan rezeki lagi kepada kita. Jika seseorang yakin dan ikhlas bersedekah karena Allah, insha Allah akan digantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

Ahli sedekah akan dibalas pahala

Ikhlas dalam sedekah yang baik akan mendapat pahala dan tidak akan rugi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).”( Surat Al-Baqarah Ayat 272)

Ahli sedekah yang ikhlas mendapat pahala dan tidak akan mengalami sedih hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Al-Baqarah Ayat 274)

Bersedekah akan memperoleh pahala besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (Surat Al-Hadid Ayat 7)

Orang-orang yang bersedekah akan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (Surat Al-Hadid Ayat 18)

Hanya ikut memerintah sedekah juga dapat pahala. Walau tidak ikut bersedekah namun ikut memerintahkan orang lain bersedekah tetap mendapatkan pahala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (Surat An-Nisa’ Ayat 114)

Sedekah tidak akan sia-sia sebab memiliki kedudukan di sisi Allah

Setiap sedekah tidak akan sia-sia di hadapan Allah. Allah pasti akan mengetahui setiap sedekah yang dilakukan seseorang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 92)

Ahli sedekah tidak akan rugi dan sedekahnya tidak akan disia-siakan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ آمَنُوا بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللَّهُ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا

“Apakah kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian dan menafkahkan sebahagian rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka? Dan adalah Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.” (Surat An-Nisa’ Ayat 39)

Ahli sedekah akan mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),” (Surat Ar-Ra’d Ayat 22)

Ahli sedekah memiliki kedudukan yang lebih tinggi di hadapan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا مَمْلُوكًا لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُونَ ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui.” (Surat An-Nahl Ayat 75)

Sedekah akan dibalas Allah yang lebih baik dan tidak disia-siakan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Hadid Ayat 10)

Sedekah penyebab ampunan, masuk surga dan tergolong muttaqin

Sedekah akan menghantarkan pelakunya pada ampunan Allah, mendapatkan surga Allah, dan tergolong sebagai orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134)

Disediakan pintu kusus bagi ahli sedekah

Akan disediakan pintu khusus untuk ia masuk surga. Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ مِنْ شَيْءٍ مِنْ الْأَشْيَاءِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ دُعِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ لَكَ وَلِلْجَنَّةِ أَبْوَابٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ هَلْ عَلَى مَنْ يُدْعَى مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى مِنْهَا كُلِّهَا أَحَدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

“Barangsiapa yang menafkahkan sesuatu yaang berpasang-pasangan di jalan Allah, akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Wahai hamba Allah, ini lebih baik bagimu’. Dan surga memiliki pintu-pintu; barangsiapa yang termasuk rajin mengerjakan shalat, akan dipanggil dari pintu shalat; barangsiapa yang termasuk rajin jihad, akan dipanggil dari pintu jihad; barangsiapa yang termasuk rajin bersedekah, akan dipanggil dari pintu sedekah; dan barangsiapa yang termasuk rajin berpuasa, akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan.” Abu Bakar Ash-Shidiq berkata; ‘Jika seseorang dipanggil dari salah satu diantara pintu-pintu itu, itu sebuah kepastian (tidak aneh), namun apakah ada seseorang yang dipanggil dari semua pintu-pintu itu, Wahai Rasulullah? ‘ Beliau bersabda: ‘Ya, dan aku berharap agar engkau termasuk di antara mereka.’ (Hadits Nasai Nomor 2396, Hadits Muslim Nomor 1705)

Sedekah akan menghapus kesalahan dan dosa

Salah satu amal yang dapat menghapus dosa adalah sedekah. Itulah cara mudah yang disediakan Allah agar dapat mengikis perbuatan dosa seseorang. Perbuatan dosa dapat dihapus dengan bersedekah, sebagaimana api bisa dipadamkan oleh air.Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

الْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالصَّلَاةُ نُورُ الْمُؤْمِنِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ

“Kedengkian akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar, dan sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air dapat mematikan api. Shalat adalah cahaya seorang mukmin, sedangkan puasa adalah perisai dari api neraka.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4200, Hadits Ibnu Majah Nomor 3963, dan Hadits Tirmidzi Nomor 558)

Ahli sedekah akan diampuni Allah

Disediakan ampunan bagi mereka yang ikhlas bersedekah. Sedekah itu dapat menolak kemurkaan Allah. Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (Surat Al-Baqarah Ayat 268)

Dengan sedekah taubatnya diterima

Sedekah menyebabkan taubatnya mudah diterima, dan akan disayang Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima sedekah dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (Surat At-Taubah Ayat 104)

Sedekah mampu menghilangkan kesempitan hidup

Allah berfirman bagi hambanya yang kesulitan ekonomi untuk bersedekah dan menjanjikan adanya kemudahan setelah kesulitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (Surat At-Talaq Ayat 7)

Dermawan jalan hidupnya lebih mudah dan orang kikir hidupnya akan sukar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ. وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ. وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّىٰ

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (Surat Al-Lail Ayat 5-11)

Sedekah akan dibalas oleh Allah dan sedekah mampu menghilangkan kesengsaraan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَيْهِ قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّ اللَّهَ يَجْزِي الْمُتَصَدِّقِينَ

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, mereka berkata: “Hai Al Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan dan kami datang membawa barang-barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami, sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersedekah”. (Surat Yusuf Ayat 88)

Sedekah menjauhkan dari siksa neraka

Sedekah dapat dijadikan sebagai pemberi syafa’at bagi pelakunya. Sedekah dapat memisahkan diri dari neraka. Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Takutlah kalian dengan api neraka, walaupun dengan sedekah sepotong kurma.” (Hadits Nasai Nomor 2505)

Allah akan menaungi ahli sedekah

Ahli sedekah tidak memiliki kekhawatiran dalam hidupnya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu memberikan perlindungan dan naungan, bahkan saat di hari akhir nantinya. Sedekah merupakan satu jenis amalan yang menyebabkan mendapat naungan dan perlindungan Allah dari kejahatan dan keburukan hidup. Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu; Seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, ‘Aku takut kepada Allah.’ Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian.” (Hadits Muslim Nomor 1712)

Manfaat sedekah seperti yang dikatakan dalam hadist di atas yaitu dapat mencegah seseorang dari panasnya api neraka. Didalam kubur dia mendapatkan kesejukan berkat sedekahnya dan terhindar dari panasnya kubur. Demikian pula di hari kiamat, ia akan mendapatkan naungan dari amal sedekahnya, padahal ketika itu kebanyakan manusia berada dalam kepanasan yang tiada taranya.

Amalan yang tidak terputus pahalanya

Sedekah merupakan salah satu amal yang tidak putus sampai mati. Nabi Subhanahu wa Ta’ala bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (Hadits Muslim Nomor 3084)

Ahli sedekah tergolong kaum yang saleh

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Surat Al-Munafiqun Ayat 10)

Itulah keutamaan yang dimiliki oleh amalan sedekah. Tentunya masih banyak lagi keutamaan sedekah. Sangat rugi bila kita sebagai seorang muslim enggan dan segan bersedekah karena kita akan menyia-nyiakan keutamaannya.

Adab-adab Bersedekah

Sedekah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya mengeluarkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal perbutan manusia yang baik. Oleh karena itu bersemangatlah dalam bersedekah sebab harta tidak akan berkurang karena sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ

“Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya -atau kalimat sepertinya- dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kaian menjaganya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2247)

Bersedekah merupakan amal shalih yang sangat agung, bahkan termasuk amal terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bersedekah juga merupakan salah satu sebab dilindungi seseorang dari adzab kubur dan mendapat naungan Allah pada hari kiamat. Apalagi jika orang yang mengeluarkan sedekah itu memperhatikan adab-adabnya.

Lebih diutamakan mengeluarkan sedekah secara diam-diam dan hendaknya sedekah dikeluarkan dengan kerelaan hati, tanpa disertai kata-kata yang menyakiti orang yang membutuhkannya. Sedekah yang dikeluarkan ketika pemiliknya dalam kodisi sehat adalah lebih afdhal, demikian juga bersedekah kepada kerabat dan tetangga adalah lebih afdhal daripada bersedekah kepada orang lain atau orang-orang yang tempatnya jauh. Usahakan bersedekan semampu mungkin, walau kita tidak mampu bersedekah jangan menyakiti perasaannya. Berikut penjelasannya;

Ikhlas bersedekah hanya untuk mencari ridha Allah

Seyogianya seseorang dalam bersedekah mengikhlaskan niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan mencari keridhaan-Nya. Bersedekah ikhlas dengan niat semata-mata mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala baik sebelum mengeluarkannya, pada saat mengeluarkannya serta setelah mengeluarkan sedekah. Tidak masalah sedekah dilakukan secara sembunyi maupun ditampakkan asalkan dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Al-Baqarah Ayat 274)

Dalam bersedekah menghindari sikap riya, ujub, dan sum’ah sebab hal itu akan menodai sedekah. Termasuk sikap riya’ adalah memperlihatkan atau menonjolkan amal kebaikan yang dilakukan dengan maksud mendapatkan pujian dari orang lain, sehingga ia dikenal, dihargai, dihormati, dan sebagainya. Termasuk sikap ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Dan termasuk sikap sum’ah adalah sikap atau sifat senang dan gemar memperdengarkan amal perbuatan yang telah ia lakukan kepada orang lain dengan harapan agar orang lain menyanjung dan memujinya.

Mereka yang bersedekah dengan niat untuk berbangga-bangga dan menyombongkan diri agar ia dikenal dengan sedekahnya atau supaya disebut dermawan. Maka, bukan pahala yang akan didapatkannya melainkan akan disiksa kelak pada hari kiamat dengan siksa yang sangat berat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَلَمْ أَفْهَمْ تُحِبُّ كَمَا أَرَدْتُ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنْ لِيُقَالَ إِنَّهُ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ فَأُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Abu Abdur Rahman berkata; artinya saya tidak mengetahui sesuatu yang Engkau cintai sebagaimana saya menghendaki untuk berinfak padanya kecuali saya telah berinfak padanya karena-Mu. Allah berfirman; engkau berdusta, tetapi agar dikatakan; ia adalah orang yang dermawan, sehingga hal itupun dikatakan. Kemudian orang tersebut diperintahkan untuk dibawa pergi lalu diseret wajahnya hingga dicampakkan ke Neraka.” (Hadits Nasai Nomor 3086)

Bersedekah hanya untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya yang dibutuhkan adalah niat yang ikhlas dan suci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan untuk mengharapkan pujian dari orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“telah datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; bagaimana pendapat anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ia tidak mendapatkan apa-apa, ” lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ia tidak mendapatkan apa-apa”. Kemudian beliau bersabda: ” Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajahNya.” (Hadits Nasai Nomor 3089)

Merahasiakan sedekah kecuali untuk suatu kepentingan

Sebetulnya tidak masalah menampakkan sedekah asalkan dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Namun salah satu bentuk ikhlas dalam bersedekah adalah merahasiakan sedekahnya dari pengetahuan manusia sebisa mungkin. Sesungguhnya hal itu lebih dekat kepada keikhlasan serta lebih menjaga harga diri dan kehormatan orang yang menerimanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Baqarah Ayat 271)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa orang yang merahasiakan sedekahnya termasuk orang-orang yang dinaungi pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu; Seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, ‘Aku takut kepada Allah.’ Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian.” (Hadits Muslim Nomor 1712)

Namun begitu, apabila dengan menampakkan sedekah terdapat maslahat dan manfaat, maka hal demikian lebih baik. Sebagaimana seseorang menampakkan sedekah dengan harapan ditiru oleh banyak orang, dengan begitu, ia telah mencontohkan kepada mereka perbuatan baik. Namun hal itu semua harus dilakukan dengan tetap menjaga diri dari riya’, ujub, sum’ah dan tetap menjaga keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala didalamnya.

Sedekah dii’tiqadkan sebagai anugerah Allah bukan sebagai jasa diri sendiri

Hendaknya seseorang yang bersedekah tidak memandang dirinya berjasa atas orang yang menerima sedekahnya. Namun, sebaiknya dia memandang semua itu sebagai karunia yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena Allah-lah yang telah memberikan harta tersebut baginya, dan memberinya taufik kepada Islam serta melepaskan dirinya dari kebakhilan atau sifat kikir, sehingga hatinya tergerak untuk bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Surat An-Nisa’ Ayat 79)

Tidak sepantasnya orang yang bersedekah memandang dirinya telah berjasa atas kaum fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Sebab harta yang dimilikinya hanyalah amanah dan titipan dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (Surat Al-Hadid Ayat 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hakekatnya harta tersebut milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah izinkan untuk manusia menguasai.

Bersedekah dengan harta yang baik dan halal

Diwajibkan barang yang disedekahkan bukan barang yang haram dan bukan juga berasal dari usaha yang haram. Akan tetapi sedekah harus barang yang halal dan dari usaha yang halal. Bersedekah dari harta yang baik dan halal karena itu merupakan sebab diterimanya sedekah tersebut dan yang akan menghasilkan pahala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Surat Al-Baqarah Ayat 267)

Bersedekah dengan harta yang halal merupakan sebab diterimanya sedekah dan yang akan menghasilkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الطَّيِّبَ إِلَّا أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ عَزَّ وَجَلَّ بِيَمِينِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرْبُو فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُونَ أَعْظَمَ مِنْ الْجَبَلِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ

“Tidaklah seseorang bersedekah berupa sesuatu yang baik -dan Allah Azza Wa jalla tidak menerima kecuali yang baik- melainkan Ar-Rahman Azza Wa Jalla akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekah itu berupa satu biji kurma, maka akan bertambah di telapak tangan Ar-Rahman hingga menjadi lebih besar dari gunung; seperti salah seorang dari kalian yang memelihara anak kuda atau anak untanya.” (Hadits Nasai Nomor 2478, Hadits Muslim Nomor 1684, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1832)

Salah satu syarat sedekahnya diterima Allah dan mendapatkan pahala adalah bila sedekahnya berasal dari barang dan usaha yang baik dan halal. Tidaklah diterima suatu sedekah yang berasal dari kemaksiatan seperti berasal dari usaha pelacuran dan penjualan khamr. Atau berasal dari kemungkaran seperti berasal dari usaha perampokan atau korupsi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ وَلَا صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Allah Azza wa Jalla tidak menerima sedekah dari harta ghulul (harta rampasan perang yang dicuri) dan juga tidak menerima shalat tanpa bersuci.” (Hadits Abu Daud Nomor 54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.” (Hadits Muslim Nomor 1686)

Bila bersedekah menggunakan hal-hal yang baik niscaya akan dibalas pahala oleh Allah. Dan sebaliknya bila bersedekah menggunakan hal-hal yang buruk niscaya akan dibalas dosa oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

“Barangsiapa yang memberikan bantuan yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi bantuan yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ Ayat 85)

Wajib makan dan memberi makan berasal dari perkara yang halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Surat Al-Baqarah Ayat 172)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 168)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Mu’minun Ayat 51)

Bersedekah menggunakan harta terbaik dan yang dicintai

Salah satu adab bersedekah adalah tidak bersedekah sesuatu yang buruk di mana tidak pantas diterima oleh orang lain, seperti memberikan makanan sisa dan basi kepada orang lain. Tidak elok memberikan sesuatu yang mana kita sendiri merasa jijik dan enggan mengenakan dan memakannya. Dianjurkan bersedekah dengan sesuatu baik dan bagus. Bahkan akan menjadi hamba terbaik di hadapan Allah manakala seseorang mampu dan mau memberikan sesuatu yang paling bagus dan paling idia cintai. Sebab hal itu juga akan dibalas oleh Allah dengan sesuatu yang juga lebih bagus dan baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 92)

Walaupun hal itu merupakan bertolak belakang dengan tabiat manusia pada umumnya. Namun bagi mereka yang menginfakkan sesuatu lebih bagus dan yang sangat dicintainya. Niscaya mereka akan mendapatkan kedudukan yang terbaik di hadapan Allah. Demikian seorang yang bersedekah, hendaklah mengeluarkan yang terbaik yang dimilikinya sebagai wujud keikhlasan kita terhadap Allah.

Bersedekah tidak mengharapkan balasan dari manusia dan hanya berharap duniawi

Merupakan adab sedekah adalah tidak mengharap balasan dari manusia baik berupa materi maupun moril. Sebab semua dunia dan seisinya hanyalah milik Allah dan hanya Allah yang berhak untuk membalas kebaiakan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (Surat Al-Hadid Ayat 18)

Di samping itu juga hendaklah seorang muslim dalam bersedekah tidak modus hanya mengharap balasan yang bersifat materi saja. Sebab balasan yang terbaik dari Allah adalah pahala dan ridha dari-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

“dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Surat Al-Muddassir Ayat 6)

Bersedekah kepada orang-orang yang lebih membutuhkan

Hendaknya sedekah diutamakan diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkannya dan orang-orang yang berhak menerimanya dari kalangan orang-orang fakir, miskin, anak yatim, janda, dan orang yang terlilit hutang. Sebab tujuan sedekah adalah meringankan dan bahkan menghilangkan beban dan kesusahan orang lain. Disamping itu hendaklah menghindari sedekah kepada mereka yang jelas-jelas menyalahgunakan sedekah, seperti untuk mabuk-mabukan dan lainnya. Berikut golongan yang berhak untuk menerima sedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat At-Taubah Ayat 60)

Bersedekah kepada pihak yang tepat akan mendapat pahala yang lebih banyak di sisi Allah. Seperti sedekah diberikan kepada orang yang paling membutuhkan, jika kerabat kita yang lebih membutuhkan, maka mereka lebih berhak menerimanya. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Bersedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, dan sedekah kepada orang yang memiliki hubungan kerabat mempunyai dua nilai; pahala sedekah dan pahala menyambung hubungan kekerabatan.” (Hadits Darimi Nomor 1619 dan Hadits Ahmad Nomor 17204)

Bersedekah kepada merekah yang butuh itu lebih baik, dan lebih baik lagi menyedekahkan hutang seseorang yang jelas-jelas tidak mampu melunasi. Alangkah besar pahala bersedekah kepada orang yang berutang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 280)

Mendahulukan sedekah kepada waris terdekat

Bila seseorang sedang mendapatkan kelapangan rizki untuk bersedekah, hendaklah ia mendahulukan dari golongan kerabat yang lebih membutuhkan. Kerabat yang membutuhkan kedudukan dalam agama mereka lebih berhak menerima. Semakin dekat derajat kekerabatannya, maka semakin berhak dan semakin besar pula pahala sedekahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَالصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah bagi kaum miskin mendapat pahala sedekah, adapun sedekah untuk kerabat dekat mendatangkan dua pahala, pahala sedekah dan pahala menyambung tali kerabat.” (Hadits Ahmad Nomor 15644 dan Hadits Nasai Nomor 2535)

Sebab kenapa bersedekah kepada kerabat yang memiliki pahala lebih, sebab kerabat yang membutuhkan hakikatnya menjadi tanggungjawab kerabat lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“dari [Abu Hurairah] bahwa ia berkata; wahai Rasulullah, sedekah apakah yang lebih utama? Beliau bersabda: “Kadar yang mampu ditanggung orang fakir, dan mulailah dari orang yang engkau tanggung.” (Hadits Abu Daud Nomor 1428)

Mengutamakan orang yang taat beragama

Hakikat dan tujuan sedekah yang diberikan adalah agar mereka lepas dari beban hidupnya. Ketika beban hidupnya menjadi hilang agar mereka lebih meningkatkan ketaatan dan ibadahnya kepada Allah. Dengan demikian sedekah yang diberikan kepada mereka yang tidak beriman dan bertakwa tidak ada faedah terhadap agama Islam. Oleh karenanya, hendaklah orang yang bersedekah lebih memprioritaskan sedekahnya bagi orang-orang yang taat beragama. Karena sedekah tersebut akan membantunya untuk mentaati Allah dan tidak membelanjakannya untuk bermaksiat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 273)

Berdasarkan ayat di atas menjadi prioritas sedekah diberikan kepada para pejuang yang membutuhkan. Dengan catatan sedekah yang diterimanya pada akhirnya tidak menyebabkan dijadikan sebagai profesi meminta-minta.

Mendahulukan sedekah yang wajib daripada yang sunnah

Pada prinsipnya sedekah sunnah dapat diberikan kepada siapa saja dan kapan saja. Namun ada kriteria yang telah ditetapkan oleh agama siapa saja yang berhak menerima sedekah yang dikeluarkan oleh seorang muslim. Namun sedekah sunnah harus dikalahkan manakala sedekah wajib seperti zakat belum tertunaikan. Sebab, menunaikan sedekah yang wajib termasuk rukun Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amalan-amalan yang sunnah hingga ia mengamalkan amalan wajib. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ

“Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya,” (Hadits Bukhari Nomor 6021)

Tidak mengambil kembali sedekahnya

Sedekah jariah yang diberikan dengan ikhlas semata-mata kerana Allah adalah salah satu tabungan akhirat yang akan terus mengalir pahalanya walaupun ia telah meninggal. Bila seseorang memberikan sedekah, maka sebaiknya tidak mengambilnya kembali dari orang yang telah menerimanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَرْجِعُ فِي صَدَقَتِهِ كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ فَيَأْكُلُهُ

“Permisalan orang yang mengambil kembali sedekahnya, seperti seekor anjing yang muntah kemudian ia menjilat dan memakan kembali muntahannya.” (Hadits Muslim Nomor 3048 dan Hadits Nasai Nomor 3633)

Begitu buruk keadaan orang-orang yang mengambil kembali sedekah yang telah dikeluarkannya. Dalam bersedekah seorang muslim wajib berpegang teguk pada etika agar tidak melukai perasaan orang lain dan juga agar tidak menghilangkan pahala dari sedekahnya.

Tidak mengungkit dan melukai perasaan penerima

Tidak sedikit seseorang bersemangat dalam bersedekah, namun sayangnya pahala sedekahnya menjadi gugur disebabkan tidak menjaga adab dalam bersedekah. Pahala menjadi terhapus disebabkan sedekahnya diungkit-ungkit dan menyakiti perasaan penerima sedekah. Terkadang sedekah kita dibarengi dengan merendahkan penerima. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Surat Al-Baqarah Ayat 264)

Sedekah akan berpahala bila dilakukan dengan sopan dan menjaga adab-adabnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Al-Baqarah Ayat 262)

Akan lebih baik manakala sedekah dilakukan dengan ucapan yang baik dan sopan kepada penerima. Sebab itu akan menambah nilai pahala dari sedekah yang kita berikan. Jadi, bila bersedekah harus disertai dengan kalimat yang sopan. Dilarang bersedekah dengan disertai dengan kalimat yang menyakitkan. Dan bila terpaksa tidak bisa bersedekah ucapkanlah kata maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Surat Al-Baqarah Ayat 263)

Sedekah tidak disertai dengan buruk sangka terhadap penerima

Terkadang maksud hati untuk bersedekah menjadi ragu manakala melihat dan menjumpai seseorang yang meminta-minta di tengah jalan berpenampilan tidak sesuai dengan kriteria sebagai penerima sedekah. Terkadang ada seseorang masih muda dan sehat namun meminta-minta, terkadang ada seseorang yang berpenampilan menarik namun meminta-minta, dan terkadang ada seseorang yang berpenampilan preman namun meminta-minta.

Selama seorang muslim tidak tahu kenyataan aslinya si peminta-minta, bagaimanapun bila seorang muslim sudah berniat ikhlas bersedekah mengharap ridha Allah pasti sedekahnya diterima oleh Allah dan orang yang bersedekah tersebut akan mendapat pahala. Walaupun sedekah tersebut dirasa jatuh pada seseorang yang dianggap tidak layak dan tidak berhak untuk menerima.

Apabila seorang yang bersedekah ragu terhadap orang yang menerima sedekahya, tidak juga bisa memastikan apakah ia benar-benar fakir atau tidak, maka janganlah hal itu membuatnya tidak jadi bersedekah. Selama bersungguh-sungguh untuk memberikan sedekah kepada yang berhak, dan besar sangkaannya bahwa orang yang dimaksudkan berhak menerimanya, maka berikanlah sedekah itu. Sebab Nabi melarang sedekah yang disertai suudzan.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ

“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Ada seorang laki-laki berkata,: Aku pasti akan bershadaqah. Lalu dia keluar dengan membawa shadaqahnya dan ternyata jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia telah memberikan shadaqahnya kepada seorang pencuri. Mendengar hal itu orang itu berkata,: “Ya Allah segala puji bagiMu, aku pasti akan bershadaqah lagi”. Kemudian dia keluar dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang pezina. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia tadi malam memberikan shadaqahnya kepada seorang pezina. Maka orang itu berkata, lagi: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pezina, aku pasti akan bershadaqah lagi. Kemudian dia keluar lagi dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan paginya orang-orang kembali ramai membicarakan bahwa dia memberikan shadaqahnya kepada seorang yang kaya. Maka orang itu berkata,: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya. Setelah itu orang tadi bermimpi dan dikatakan padanya: “Adapun shadaqah kamu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya, sedangkan shadaqah kamu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali dan shadaqah kamu kepada orang yang kaya mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah kepadanya”. (Hadits Bukhari Nomor 1332, dan Hadits Muslim Nomor 1698)

Tidak menunda-nunda sedekah ketika sudah mampu dan sempat

Jika telah datang kemampuan untuk bersedekah, dan bila telah datang kewajiban untuk mengeluarkan sedekah wajib atas hartanya, maka hendaklah bersegera dan jangan menunda-nunda mengeluarkan sedekahnya. Tidak boleh menunda sedekah tanpa adanya udzur. Jangan memancing kemurkaan Allah sebab menunda sedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Surat Al-Munafiqun Ayat 10)

Menyegerakan sedekah ketika masih sempat dan mampu melakukannya merupakan anjuran agama. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara; Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341)

Sedekah dibarengi kesopanan seperti wajah berseri, hati lapang dan tidak menghardik

Sedikit sedekah yang diberikan kepada orang fakir dengan wajah berseri lebih baik daripada sedekah banyak yang diberikan dengan wajah cemberut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا وَلَا تَزْهَدَنَّ فِي الْمَعْرُوفِ وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي

“Janganlah kamu menghina seseorang dan jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, walau dengan memberi senyuman kepada saudaramu bila bertemu, atau hanya dengan menuangkan ember airmu ke bejana orang yang membutuhkan air,” (Hadits Ahmad Nomor 19718)

Bukan hanya wajah berseri, ketika seseorang mendatangi kita untuk meminta sedekah hendaklah kita menyerahkan sedekah dengan hati yang rela. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَأْتِيكُمْ رُكَيْبٌ مُبْغَضُونَ فَإِنْ جَاءُوكُمْ فَرَحِّبُوا بِهِمْ وَخَلُّوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَبْتَغُونَ فَإِنْ عَدَلُوا فَلِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ ظَلَمُوا فَعَلَيْهَا وَأَرْضُوهُمْ فَإِنَّ تَمَامَ زَكَاتِكُمْ رِضَاهُمْ وَلْيَدْعُوا لَكُمْ

“akan datang kepada kalian para petugas pengambil sedekah, jika mereka sudah datang kepada kalian, maka sambutlah mereka dan biarkanlah mereka mengambil apa yang mereka inginkan, jika mereka berbuat adil maka itu adalah kebaikan buat kalian dan jika mereka berbuat dzalim maka dosanya bagi mereka, buatlah mereka ridha, sebab kesempurnaan sedekah kalian pada keridhaan mereka, dan hendaklah mereka mendo’akan kalian.” (Hadits Abu Daud Nomor 1354)

Yang tidak kalah baiknya adalah bilamana ternyata kita tidak mampu dan tidak mau untuk mengelurkan sedekah disebabkan suatu hal. Hendaklah kita tidak menghardik para peminta-minta. Tolaklah mereka dengan baik-baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Ad-Duha Ayat 10)

Tetap bersedekah meskipun dalam keadaan terbatas

Terkadang hidup tidak menentu, keinginan untuk bersedekah tidak disertai dengan kemampuan untuk melakukannya. Ketahuilah bahwa sedekah esensinya adalah berbagai. Sesempit apapun hendaklah tidak sampai menghalangi kita untuk berbagi. Sedikit apapun sedekah yang kita berikan akan selalu sangat berarti bagi mereka yang dalam keadaan sulit dan membutuhkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134)

Manusia yang memiliki kedudukan paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang tetap menyisihkan hartanya untuk sedekah walaupun keadaannya sedang sempit dan berat dalam melakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَأْمُلُ الْعَيْشَ وَتَخْشَى الْفَقْرَ

Seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah! Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab: ‘Kamu bersedekah padahal saat itu kamu dalam keadaan sehat dan sangat berat untuk bersedekah (bakhil), kamu mendambakan kehidupan dan takut fakir.’ (Hadits Nasai Nomor 2495)

Sedekah tidak sampai menyebabkan diri bangkrut

Walaupun memiliki semangat dalam bersedekah dengan harapan Allah akan membalas keridhaannya. Namun hendaklah dalam bersedekah tidak sampai melamaui batas keadaan dan kemampuannya. Janganlah dalam bersedekah berlebihan sehingga menyebabkan hidupnya sampai kekurangan kebutuhan dasarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Makanlah dan bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tidak berlebihan dan sombong.” (HR. Nasai Nomor 2512)

Semangat untuk mendapatkan pahala jangan kemudian dalam bersedekah tidak sampai membuat diri dan keluarga kekurangan dan menjadi terlantar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ خَيْرَ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى أَوْ تُصُدِّقَ بِهِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sesungguhnya sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang masih meninggalkan kecukupan (bagi yang bersedekah), atau yang disedekahkan dalam kondisi kecukupan. Dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung.” (Hadits Abu Daud Nomor 1427)

Dan tentunya masih banyak lagi etika dalam bersedekah. Seperti; dalam beredekah memiliki ilmu tentang syarat, rukun, dan kaifiyat bersedekah. Bersedekahlah menggunakan ilmu dan adab-adabnya agar sedekah kita tidak menjadi sia-sia.

Ancaman Meninggalkan Sedekah

Sudah banyak penjelasan tentang keutamaan dan balasan yang besar bagi orang yang menunaikan sedekah. Berikut akan dijelaskan ancaman dan resiko yang besar pula bagi orang yang tidak mau membayar sedekah. Amal ibadah yang berupa sedekah dalam Islam merupakan ajaran yang sangat menjadi prioritas untuk dikerjakan oleh umatnya. Ajaran sedekah sangat ditekankan dan bahkan ada ancaman dari Allah bagi mereka yang menolak dan mengingkari kewajiban sedekah. Jangan menunda-nunda kewajiban sedekah sebelum semuanya terlambat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَصَدَّقُوا فَيُوشِكُ الرَّجُلُ يَمْشِي بِصَدَقَتِهِ فَيَقُولُ الَّذِي أُعْطِيَهَا لَوْ جِئْتَ بِهَا بِالْأَمْسِ قَبِلْتُهَا وَأَمَّا الْآنَ فَلَا حَاجَةَ لِي فِيهَا فَلَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا

“Bersedekahlah kalian, karena hampir saja akan datang masanya, yang ketika itu seorang laki-laki berjalan (dengan menyuguhkan) sedekahnya, namun orang yang akan menerimanya berkata, ‘Sekiranya kamu datang kemarin, pasti akan saya terima. Namun sekarang, saya tidak akan menerimanya, saya tidak butuh lagi dengan sedekahmu.’ Hingga laki-laki itu pun tidak mendapatkan orang yang mau menerima sedekahnya.” (Hadits Ahmad Nomor 17978)

Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat melarang hambanya menunda-nunda sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

“Janganlah kamu menghitung-hitung untuk bershadaqah karena takut miskin, sebab nanti Allah menyempitkan rezeki bagimu”. (Hadits Bukhari Nomor 1343)

Bagi umat Islam yang enggan mengeluarkan hartanya untuk bersedekah, Allah mempunyai keputusan berupa keburukan dan kesengsaraan. Banyak dalil yang menunjukkan mengenai keburukan-keburukan yang akan didapatkan orang-orang yang enggan bersedekah. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang didoakan buruk oleh malaikat.

Mendapat siksa api neraka

Di akhirat kelak ada dua tempat yang disediakan oleh Allah bagi hambanya. Surga sebagai tempat untuk memberikan anugerah dan neraka sebagai tempat penyiksaan. Barang siapa amal perbuatannya baik maka akan dimasukkan ke dalam surga. Maka berbahagialah orang-orang yang baik amalnya. Dan barang siapa amal perbuatannnya baik maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Maka celakalah mereka yang buruk amalnya.

Baik dan buruknya amal itu sendiri tentunya akan menentukan baik atau buruk balasan yang akan diterima kelak di akhirat. Dan bentuk siksaan mengerikan tersebut akan diterima sesuai dengan apa yang ia perbuat. Berikut siksaan bagi mereka yang enggan bersedekah sesuai yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Siksa yang menghinakan bagi mereka yang enggan bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

“(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’ Ayat 37)

Di antara bentuk siksaan bagi yang enggan sedekah adalah dibakar dengan api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ

 Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (Surat At-Taubah Ayat 34-35)

Di antara siksaan pedih bagi mereka yang meninggalkan sedekah adalah tubuhnya akan disulut dengan batu-batu dan besi yang dipanaskan di dalam neraka jahanam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ الْأَحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ فِي نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ فَمَرَّ أَبُو ذَرٍّ وَهُوَ يَقُولُ بَشِّرْ الْكَانِزِينَ بِكَيٍّ فِي ظُهُورِهِمْ يَخْرُجُ مِنْ جُنُوبِهِمْ وَبِكَيٍّ مِنْ قِبَلِ أَقْفَائِهِمْ يَخْرُجُ مِنْ جِبَاهِهِمْ

“dari [Al Ahnaf bin Qais] ia berkata; Saya pernah berada dalam sebuah rombongan orang-orang Quraisy, lalu [Abu Dzar] lewat sambil mengatakan, “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang menumpuk harta (dan tidak membayar zakatnya), bahwa mereka akan disiksa dengan setrika di punggung mereka yang keluar dari lambung dari tengkuk mereka.” (Hadits Muslim Nomor 1657)

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Abu Dzar radliyallahu ‘anhu berkata,

بَشِّرْ الْكَانِزِينَ بِرَضْفٍ يُحْمَى عَلَيْهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ ثُمَّ يُوضَعُ عَلَى حَلَمَةِ ثَدْيِ أَحَدِهِمْ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ نُغْضِ كَتِفِهِ وَيُوضَعُ عَلَى نُغْضِ كَتِفِهِ حَتَّى يَخْرُجَ مِنْ حَلَمَةِ ثَدْيِهِ يَتَزَلْزَلُ

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang menimbun hartanya dengan batu yang diseterikakan kepadanya di neraka Jahannam, lalu diletakkan pada daerah (susu) nya diantara mereka hingga ia keluar dari ujung tulang pundaknya, lalu diletakkan pada ujung tulang pundaknya hingga ia keluar pada bagian (susu) nya hingga ia berguncang.” (Hadits Bukhari Nomor 1319)

Bagi mereka yang membangkang kewajiban sedekah, maka hartanya akan menghimpit sebagai siksaan kelak di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْبَخِيلِ وَالْمُتَصَدِّقِ مَثَلُ رَجُلَيْنِ عَلَيْهِمَا جُنَّتَانِ مِنْ حَدِيدٍ إِذَا هَمَّ الْمُتَصَدِّقُ بِصَدَقَةٍ اتَّسَعَتْ عَلَيْهِ حَتَّى تُعَفِّيَ أَثَرَهُ وَإِذَا هَمَّ الْبَخِيلُ بِصَدَقَةٍ تَقَلَّصَتْ عَلَيْهِ وَانْضَمَّتْ يَدَاهُ إِلَى تَرَاقِيهِ وَانْقَبَضَتْ كُلُّ حَلْقَةٍ إِلَى صَاحِبَتِهَا قَالَ فَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فَيَجْهَدُ أَنْ يُوَسِّعَهَا فَلَا يَسْتَطِيعُ

“Perumpamaan orang yang bakhil dan orang yang menafkahkan hartanya bagaikan dua orang yang memakai baju besi, tetapi baju besi itu hanya menutupi buah dadanya hingga tulang selangkanya. Adapun baju besi yang dipakai oleh orang yang bersedekah, setiap kali ia bersedekah maka baju besinya akan melonggar sehingga akhirnya menutupi seluruh badan hingga jari-jari kakinya, bahkan dapat menghapus bekas jejak kakinya. Sedangkan jubah besi yang dipakai oleh orang yang bakhil, maka setiap kali ia menolak untuk menafkahkan hartanya, niscaya baju besi itu akan menyempit sehingga menempel ketat di kulitnya.” Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap kali ia berusaha untuk melonggarkannya, maka ia tidak mampu melonggarkannya.” (Hadits Muslim Nomor 1697 dan Hadits Bukhari Nomor 1352)

Hartan yang tidak disedekahi akan menjadi belenggu di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 180)

Harta benda seperti binatang peliharaan yang tidak dikeluarkan bagian sedekahnya akan menuntut pemiliknya dengan menyerangnya di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ صَاحِبِ إِبِلٍ وَلَا بَقَرٍ وَلَا غَنَمٍ لَا يُؤَدِّي زَكَاتَهَا إِلَّا جَاءَتْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْظَمَ مَا كَانَتْ وَأَسْمَنَهُ تَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَخْفَافِهَا كُلَّمَا نَفِدَتْ أُخْرَاهَا أَعَادَتْ عَلَيْهِ أُولَاهَا حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Tidak ada seorang pun dari pemilik unta, sapi dan kambing yang tidak mau menunaikan zakatnya, kecuali akan datang pada hari Kiamat binatang itu lebih besar dan lebih gemuk dari sebelumnya, ia menyeruduknya dengan tanduknya dan menginjak orang itu dengan tapak kakinya. Setiap kali yang terakhir selesai diulang lagi yang pertamanya, hingga perkaranya diputuskan di hadapan manusia.” (Hadits Nasai Nomor 2413)

Begitu mengerikan siksaan bagi mereka yang enggan mengeluarkan sedekah hartanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَكُونُ كَنْزُ أَحَدِكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ يَفِرُّ مِنْهُ صَاحِبُهُ فَيَطْلُبُهُ وَيَقُولُ أَنَا كَنْزُكَ قَالَ وَاللَّهِ لَنْ يَزَالَ يَطْلُبُهُ حَتَّى يَبْسُطَ يَدَهُ فَيُلْقِمَهَا فَاهُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَا رَبُّ النَّعَمِ لَمْ يُعْطِ حَقَّهَا تُسَلَّطُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتَخْبِطُ وَجْهَهُ بِأَخْفَافِهَا

“Harta salah seorang diantara kalian (jika tidak disedekahi), maka pada hari kiamat menjadi ular yang menyeramkan, pemilik harta itu berusaha menyelamatkan diri namun si ular terus memburunya sambil mengatakan; ‘aku adalah hartamu, ‘ Demi Allah, si ular itu tiada henti memburunya hingga orang yang mempunyai harta membentangkan tangannya dan dia melahapnya.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika pemilik unta tidak memberikan haknya, maka pada hari kiamat unta tersebut melawannya hingga menginjak-injak wajahnya dengan kuku kakinya.” (Hadits Bukhari Nomor 6443)

Hidupnya hancur dan binasa

Orang bakhil senantiasa didoakan malaikat agar dihancurkan dan dibinasakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berkata; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “. (Hadits Bukhari Nomor 1351)

Pembangkang sedekah akan menjadi miskin

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (Surat Al-Baqarah Ayat 268)

Menolak bersedekan menyebabkan rizkinya sempit

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ

“Janganlah kamu menghitung-hitung untuk bershadaqah karena takut miskin, sebab nanti Allah menyempitkan rezeki bagimu”. (Hadits Bukhari Nomor 1343)

Penolak sedekah akan mendapat ujian berat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (Surat Ali ‘Imran Ayat 186)

Mereka yang enggan sedekah akan binasa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-Baqarah Ayat 195)

Orang bakhil tidak akan mendapat syafaat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Baqarah Ayat 254)

Itulah sebagian ancaman, hukuman, dan siksaan bagi orang-orang yang enggan bersedekah. Semoga kita selalu diberi taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga kita diberi kemudahan untuk melaksanakan ibadah sedekah seperti apa yang telah diperintahkan-Nya. Amin ya rabbal alamin.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 18
    Shares