Sanggahan Terhadap Mereka yang Meyakini Orang Mati tidak Mengetahui Keadaan Orang Yang Hidup

Pandangan Salafi

Golongan Salafi meyakini bahwa orang yang sudah mati tidak lagi bisa mengetahui keadaan orang yang masih hidup. Sehingga dengan anggapan tersebut, mereka menolak mentah-mentah dan mengingkari banyak Hadits yang mensyariatkan bagi mereka yang masih hidup untuk tetap berbuat kebaikan dengan mengirim pahala dari berbagai amal ibadah dan amal shalihah, seperti menolak ziarah kubur, kirim pahala sedekah, kirim pahala dzikir, dan lain sebagainya. I’tiqad mereka didasarkan hanya pada sepotong dalil dan mengabaikan lebih banyak dalil. Dalil yang dimaksud adalah sebuah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Aku (Isa) menyaksikan mereka selama aku berada di tengah-tengah mereka. maka setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka“. (QS. Al Ma’idah: 117)

Berikut beberapa pandangan golongan Salafi terhadap ayat tersebut,

Pertama; Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Isa mengetahui keadaan umatnya, selama beliau masih hidup. Adapun setelah wafat, beliau tidak tahu keadaan mereka, namun yang tahu keadaan mereka adalah Allah Yang Maha Mengawasi hambaNya.

Kedua; Jika mayat mengetahui keadaan orang-orang yang masih hidup, bukankah itu akan banyak mendatangkan kesusahan dan kesedihan baginya?!. Dan hal ini sangat kontradiktif dengan keyakinan bahwa “alam setelah kematian” itu adalah kebahagiaan yang murni, atau kesusahan yang murni.

Ketiga; Bayangkan bagaimana sedihnya orang yang tahu keadaan yang buruk, namun ia tidak mampu berbuat apapun untuk mengubah keadaan itu. Jika ada yang meyakini sang mayit bisa merubah keadaan, bukankah seharusnya ia lebih dulu mengubah keadaan dia, sebelum mengubah keadaan orang lain menjadi lebih baik?!

Sanggahan Terhadap Argumen Salafi;

Semua argumen yang disodorkan oleh golongan Salafi di atas tersebut satupun tidak ada dalilnya. Semua menggunakan akal logika golongannya sendiri saja. Bahwa Surat Al Ma’idah ayat 117 tersebut hanya mengatakan penjagaan Isa kepada kaumnya terjadi pada saat Isa hidup saja. Ayat tersebut tidak mengatakan bahwa Nabi Isa tidak dapat mengawasi seteah beliau wafat. Bila ayat tersebut diyakini Nabi Isa tidak dapat menyaksikan kaumnya dan orang-orang yang masih hidup maka sangat bertentangan dengan banyak dalil yang menyatakan bahwa orang-orang yang sudah meninggal tetap dapat menyaksikan orang yang masih hidup. Apalagi kedudukan seorang Nabi Isa sebagai Nabi yang hakikatnya tetap hidup di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun beliau sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَعْنِي بَلِيتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang paling utama dari hari-hari kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, sangkakala ditiup, dan manusia sadar dari pingsannya. Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, sebab shalawat kalian diperlihatkan kepadaku. ” Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya shalawat kami diperlihatkan kepadamu, padahal dirimu telah meninggal?” beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1626)

Diperkuat oleh firman Allah yang mengatakan bahwa para Nabi dan orang-orang shalih masih hidup walaupun sudah terpisah dari jasadnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ. فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 169-170)

Berdasarkan dalil di atas golongan Ahlussunnah wal Jamaah berpandangan tentang ruh merupakan jiwa yang dapat berbicara, dapat merasa, yang mampu untuk menjelaskan, memahami objek pembicaraan, tidak musnah karena musnahnya jasad. Ia adalah unsur inti, bukan esensi. Ruh-ruh orang yang sudah meninggal itu berkumpul, lalu yang berada di tingkatan atas bisa turun ke bawah, tapi tidak sebaliknya.

Menurut para ulama Sunni, bahwa siksa dan kenikmatan dirasakan oleh ruh dan badan mayat. Ruh tetap kekal setelah terpisah dari badan yang merasakan kenikmatan atau siksaan, kadang juga bersatu dengan badan sehingga merasakan juga kenikmatan dan siksaan. Ada pendapat lain dari Ahlus Sunnah bahwa kenikmatan dan siksa untuk badan saja, bukan ruh.

Tentang orang mati yang dapat mendengar dan berbicara, Al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya meriwayatkan dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِى قَبْرِهِ ، وَتَوَلَّىَ وَذَهَبَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ ، أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيَقُولاَنِ لَهُ : مَا كُنْتَ تَقُولُ فِى هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ ﷺ؟ فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ . فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ ، أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ – قَالَ النَّبِىُّ ﷺ : فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا. وَأَمَّا الْكَافِرُ أو الْمُنَافِقُ فَيَقُولُ : لاَ أَدْرِى ، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ : لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ

“Apabila seorang hamba diletakkan di dalam kuburnya, lalu teman-temannya berpaling dan pergi meninggalkannya hingga ia benar-benar mendengar ketukan sandal mereka, maka ia didatangi oleh dua orang malaikat. Lalu kedua malaikat itu bertanya kepadanya: ‘Apa yang dahulu kamu katakan tentang laki-laki ini, Muhammad?’ Ia menjawab: ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusanNya’. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Lihatlah tempat dudukmu di neraka. Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga’.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka dia melihat kedua tempat duduknya itu semua. Sedangkan orang kafir atau munafiq, ia akan menjawab: ‘Aku tidak tahu. Aku dahulu mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang’. Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu tidak tahu dan tidak membaca’. Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi tepat di antara kedua telinganya. Maka ia pun menjerit dengan jeritan yang bisa didengar oleh makhluk yang ada di dekatnya, kecuali dua makhluk yang berat (bangsa jin dan manusia).”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri radliallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا وُضِعَتِ الْجِنَازَةُ وَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِى . وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَىْءٍ إِلاَّ الإِنْسَانَ ، وَلَوْ سَمِعَهُ صَعِقَ

“Apabil jenazah diletakkan dan dipukul oleh beberapa orang pria di atas pundak mereka, maka jika jenazah itu adalah orang saleh ia akan berkata: ‘Majukanlah aku’. Dan jika jenazah itu tidak saleh ia akan berkata: ‘Oh celaka! Kemana mereka hendak membawanya?’ Suaranya bisa didengar oleh apa saja kecuali manusia. Seandainya manusia mendengarnya, ia pasti pingsan.”

Al-Bukhari juga meriwayatkan Hadits serupa dari Laits bin Sa’ad. Di situ dikatakan bahwa jenazah itu berkata kepada keluarganya, “Celakalah dia!”. Dan di situ juga dikatakan, “Seandainya manusia mendengarnya, ia pasti pingsan.”

Ath-Thabrani dalam al-Ausath meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri radliallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْمَيِّتَ يَعْرِفُ مَنْ يُغَسِّلُهُ وَيَحْمِلُهُ ، وَيُكَفِّنُهُ ، وَيُدَلِّيهِ فِي حُفْرَتِه

“Sesungguhnya mayit mengetahui orang yang memandikannya, membawanya, mengkafaninya dan menurunkannya ke liang kuburnya.”

Said bin Jubair radliallahu ‘anhu pernah berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang sudah mati itu dapat mengetahui kabar orang-orang yang masih hidup. Setiap orang yang memiliki kerabat pasti mengetahui kabar kerabat-kerabatnya. Jika kabarnya baik, ia merasa senang dan gembira. Jika kabarnya buruk, ia akan cemberut dan sedih.”

Orang yang sudah wafat pun mengetahui apa yang diamalkan oleh orang yang hidup. Orang mati masih mengharap kiriman kebaikan-kebaikan orang yang masih hidup. Bila orang-orang yang masih hidup, terutama mereka keluarga dan anak keturunannya mengabaikan mereka yang sudah meninggal seperti orang tuanya tidak dikirimi doa, sedekah, dan lainnya, tentunya mereka akan sangat bersedih. Sebab anak dan keluarga yang masih tergolong usaha orang yang sudah meninggal tersebut tidak berbalas budi. Maka hal itu akan diperlihatkan Allah padanya dan tentu membuatnya kecewa. Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah, beramallah kamu, niscaya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang Mukmin akan melihat amalmu itu” (QS. At-Taubah [9]: 105)

Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menuliskan bahwa amal orang-orang yang masih hidup diperlihatkan kepada kaum kerabat dan kabilahnya yang telah meninggal dunia di alam barzahnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud Ath-Thayalisi dari Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِنَّ اَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى اَقْرِبَائِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اِسْتَبْشَرُوْا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوْا: اَللَّهُمَّ الْهِمْهُمْ اَنْ يَعْمَلُوْا بِطَاعَتِكَ

“Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan (diperlihatkan) kepada kaum kerabat dan famili kalian di alam kubur mereka. Jika amal perbuatan kalian itu baik, maka mereka merasa gembira dengannya. Dan jika amal perbuatan mereka itu sebaliknya, maka mereka berdoa, “Ya Allah, berilah mereka ilham (kekuatan) untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.”

Dari penjelasan di atas sudah sangat jelas sekali bahwa orang yang sudah meninggal masih dapat mengetahui keadaan orang yang masih hidup. Bahkan bukan hanya itu, orang-orang yang sudah meninggal dunia ternyata juga masih dapat merasakan dan menerima kebaikan-kebaikan dari mereka yang masih hidup. Berikut amalan-amalan yang dapat diterima oleh orang yang sudah meninggal berdasarkan banyak dalil. Di antaranya;

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Diziarahi Kuburnya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Doa

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Pelunasan Hutangnya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Pemuliaan Teman-temannya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Penunaian Janjinya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Siraman Air di Atas Kuburannya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Taburan Bunga di Atas Kuburannya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terjaganya Hubungan Kekerabatannya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terjaganya Nama Baiknya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terjaganya Silaturahminya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terlaksananya Wasiat

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Bacaan Al-Fatihah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Bacaan Al-Qur’an

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Bacaan Surat Yasin

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Dzikir

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Haji

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Puasa

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Sedekah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Shalat Jenazah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Tahlilan

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Umrah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Yasinan

Berdasarkan penjelasan tersebut jelaslah bahwa orang-orang yang sudah meninggal dunia masih dapat mengetahui keadaan dan apa-apa yang diperbuat oleh orang yang masih hidup. Dengan demikian keingkaran golongan Salafi atas fakta dalil tersebut merupakan perkara batil, karena persangkaan yang tidak memiliki landasan hukum baik dari Al-Qur’an maupun dari Hadits.

Dengan demikian, orang-orang yang sudah meninggal bukan hanya dapat mengetahui keadaan orang yang masih hidup. Namun mereka yang sudah meninggal juga masih bisa mendapatkan kiriman pahala dan juga masih dapat merakasan manfaat dari amal shalih dan amal ibadah dari orang yang maih hidup berdasarkan banyak dalil yang telah disebutkan di atas.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke