Putus Asa Dalam Berdoa

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


Jangan berputus asa dalam berdoa

Bila dalam keadaan lapang terkadang manusia lalai dalam mempersiapkan segalanya untuk menyambut persoalan hidupnya. Namun ketika persoalan hidupnya terlanjur mendatangi secara bertubi-tubi, barulah manusia ingin bersegera dikabulkan doanya seakan-akan doa mampu menyelesaikan semua persoalan secara seketika tanpa adanya proses ikhtiyar sebelumnya. Jangan berputus asa dalam berdoa! Pesan itu disampaikan Nabi dalam sabdanya,

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan’. Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.’ (Hadits Muslim Nomor 4918)

Doa harus disertai usaha

Perjuangan tanpa doa binasa dan doa yang tidak diiringi dengan usaha akan hampa. Sebab dalam Haditsnya Nabi bersabda: ”Doa adalah senjata bagi orang yang beriman.” Juga di sisi lain menerangkan: ” Doa itu sumsum ibadah.“. Maka janganlah berputus-asa dikala Doa Belum dikabulkan. Sebagai bentuk ketidak putu asaan adalah tidak tergesa-gesa dalam berdoa, karena seorang yang beriman manakala berdoa senantiasa diiringi usaha.

Janganlah berputus asa karena kelambatan pemberian Allah Taala ketika kita merasa telah bersungguh-sungguh dalam doa. Begitu juga janganlah membuat putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah Taala menunda ijabah doa, sebab Allah Taala telah menjamin menerima semua doa sesuai dengan yang dikehendakiNya di saat yang telah ditetapkan. Allah Taala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Surat Al-Mu’min Ayat 60)

Prasangka buruk penyebab terhambatnya doa

Namun terkadang ketika Allah Taala telah menjanjikan semua doa akan dikabulkan, namun terkadang kita merasa doa kita belum terijabah. Bila seseorang menghadapi situasi tersebut, yang jarang disadari adalah akar masalahnya adalah persangkaanburuk kita sendiri yang menyebabkan doa tersebut terhambat. Nabi bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (Hadits Bukhari Nomor 6856)

Oleh karenanya, perbaiki dahulu perangkaan kita terhadap Allah Taala dan yakinlah bahwa Ia tidak akan mengingkari janjiNya. Kemudian perhatikan dengan saksama petunjukNya, terutama pada syarat-adab berdoa di samping mengamalkan semua ajaranNya semampu kita, niscaya Allah Taala akan mudah mengabulkan doa kita sebagaimana janjiNya dalam ayat berikut,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Surat Al-Baqarah Ayat 186)

Dari ayat di atas dapat kita ambil dua kandungan utama dalam persoalan mudahnya terkabul doa; Pertama, Mudah atau sulit terkabulnya doa tergantung seorang hamba apakah dia berprasangka baik atau buruk terhadap Allah. Kedua, Mudah atau sulit terkabulnya doa tergantung seorang hamba apakah dia hanya meminta namun dia tidak mau menjalankan segala perintahNya.

Bila kita bedoa namun kita sendiri berprasangka buruk terhadap Allah Taala bahwa doanya tidak dikabulkan, dan ketika kita hanya berdoa namu enggan dalam menjalankan semua perintahnya, lalu melalui jalan mana Allah Taala hendak mengabulkan doa-doa yang kita panjatkan kepadanya. Yakinlah bahwa Allah Taala itu sangat dekat, sedekat urat nadi kita. Allah Taala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (Surat Qaf Ayat 16)

Bila Allah Taala sendiri yang memerintahkan berdoa, bila Allah Taala sendiri yang menjanjikan terkabulnya semua doa, bila Allah Taala sendiri yang sudi menghampiri kita, maka tidak layak untuk mengatakan: “Allah tidak mengabulkan doa kami. “

 Tiga jenis manusia dalam berdoa

Syekh Zaruq menegaskan, bahwa jenis umat Islam dalam berdoa tergolong menjadi tiga, yaitu;

Pertama, Seseorang yang berdoa dengan penuh kepasrahan karena dia hanya mengharapkan RidhaNya disertai menjalankan segala perintahnya dengan sepenuh hatinya. Hamba ini sepenuhnya menggantungkan doanya terhadap Allah, entah dikabulkan seketika maupun ditunda. Dia tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan ataupun tidak, karena dengan doanya dia hanya meniatkan sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhannya.

Kedua, Seseorang yang berdoa dengan sepenuh hatinya dengan harapan doanya terkabulkan dan Allah Taala memenuhi janjinya. Di sampin dia berdoa sepenuh hati, dia juga menjalankan syariat sepenuh hati.

Ketiga, Seseorang yang berdoa namun hanya mengharapkan terkabulnya doanya. Dia berdoa namun abai akan kewajibannya terhadap Tuhannya untuk menjalankan syariat agamanya. Biasanya jenis ini dalam berdoa ingin disegerakan dalam terkabulnya doa, bila Allah Taala tidak segera mengabulkan doanya maka akan mudah berputus asa.

Doa tidak terkabul bisa jadi kita tidak sanggup menerimanya

Sedangkan bentuk perkenan doa sebagai seorang mukmin hendaklah mempercayakan penuh wujud yang dipinta kepada Allah. Terkadang Allah Taala mengabulkan doa hambaNya dengan cara diberi dengan segera, terkadang dengan cara ditunda, terkadang dengan cara diganti, atau bahkan terkadang Allah Taala mengabulkan doa dengan cara tidak diberi ketika Allah Taala lebih tahu kebaikan terhadap hambaNya. Namun jangan khawatir bilamana doa kita tidak diwujudkan di kehidupan dunia, yakinlah bahwa Allah Taala pasti akan mewujudkan di akhirat kelak nanti. Amin. Nabi bersabda,

مَا عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ

“Tidaklah seorang muslim pun dimuka bumi yang berdoa kepada Allah AzzaWaJalla dengan sebuah doa melainkan Allah akan memberikan hal itu kepadanya atau atau (Allah sengaja tidak mengabulkan doanya untuk) menjaganya dari kejelekan semisalnya (dengan pertimbangan karena kita tidak mampu menerimanya) selama ia tidak meminta dengan kejelekan atau memutus hubungan rahim.” (Hadits Ahmad Nomor 21720)

Hadita yang senada,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدُعَاءٍ إِلَّا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا أَنْ يُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يُكَفَّرَ عَنْهُ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدْرِ مَا دَعَا

“Tidaklah seseorang yang berdo’a kepada Allah kecuali akan dikabulkan untuknya, baik akan disegerakan di dunia atau dijadikan tabungan di akhirat atau akan menghapus dosa-dosanya sesuai dengan do’a yang ia lantunkan, (Hadits Tirmidzi Nomor 3531)

Tetaplah berdoa dan istiqamah dalam syariat Allah Taala

Maka hendaklah kita senantiasa mengakui kekuasaanNya yang mutlak, bahwa diperkenankan doa terserah pada waktu yang dikehendakiNya bukan pada waktu yang kita kehendaki. Kerana pilihan Allah Taala bagi hambanya itu pasti baik dari pada pilihan hamba bagi dirinya. Sambil menunggu terkabulnya doa sebaiknya kita tetap istiqamah menjalankan semua syariatnya sebagai bentuk pengabdian dan kepercayaan kita atas segala ketetapannya dan jauhi segala larangannya agar kita tidak tergolong sebagai hamba yang menyeleweng. Allah Taala berfirman,

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. (Surat Yunus Ayat 89)

lbnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menyatakan bahwa:

”Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata. “

Kenapa kita tidak boleh meragukan janji Allah? Sebab sikap meragukan janji Allah Taala itu dapat mengaburkan pandangan hati kita terhadap kurnia Allah Taala sendiri. Selanjutnya dia menyatakan,

”Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahsia batinmu. ”

Kewajiban hamba hanya berdoa karena keputusan sepenuhnya pada Allah Taala

Tugas hamba hanya iktiyar dan berdoa, selebihnya adalah kuasa Allah. Dialah yang paling berhak untuk memutuskan segalanya terhadap hambanya, karena keputusannya pastilah yang terbaik. Allah Taala berfirman,

۞ مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Surat Al-Baqarah Ayat 106)

Bagikan Artikel Ini Ke