Puasa Tanpa Niat Sebelumnya

Ada yang menanyakan bagaimana jika bangun kesiangan dan lupa berniat pada malam hari sebelumnya lalu langsung saja berpuasa apakah puasanya sah? Pertama kita harus tahu dulu apakah ini puasa wajib di bulan Ramadhan ataukah puasa sunnah?

Dalam sebuah hadits, disebutkan wajibnya niat puasa pada malam sebelumnya dan paling lambat pada waktu sahur atau sebelum fajar atau sebelum subuh. Dan apabila hal ini tidak dilakukan maka puasanya tidak sah. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ” Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah” (Hadits Tirmidzi Nomor 662, Abu Daud Nomor 2908, Nasa’i Nomor 2291 s.d 2296)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ الْقَطَوَانِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ حَازِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Makhlad Al Qathawani] dari [Ishaq bin Hazim] dari [Abdullah bin Abu Bakr bin Amru bin Hazm] dari [Salim] dari [Ibnu Umar] dari [Hafshah] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada puasa bagi yang tidak berniat di waktu malam. “ (Hadits Ibnu Majah Nomor 1690 dan Daruqutni)

Shafiyyurahman Al-Mubarokfuri mensyarah hadits di atas mengatakan bahwa lafadz “maa lam yubayyit” berasal dari kata “tabyit” yaitu berniat puasa pada malam harinya. Sedangkan “lam yafridhu” mengikuti bentuk dhoroba bermakna tidak menjadikan fardhu bagi dirinya artinya tidak meniatkannya.

Sedangkan dalam hadits yang lain kita jumpai riwayat di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyerukan untuk berpuasa pada hari ‘Asyura’ mendadak pada siang harinya dan bagi yang semula tidak berencana berpuasa bahkan sudah makan pun dibolehkan berpuasa. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ أَوْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلَا يَأْكُلْ

“Telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Ashim] dari [Yazid bin Abu ‘Ubaid] dari [Salamah bin Al Akwa’ radliallahu ‘anhu] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk menyeru manusia pada (waktu sahur) hari ‘Asyura’, bila ada seseorang yang sudah makan maka hendaklah ia meneruskan makannya atau hendaklah shaum dan barangsiapa yang belum makan maka hendaklah ia tidak makan (maksudnya teruskan berpuasa)” (Hadits Bukhari Nomor 1790)

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menjumpai makanan dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan berpuasa karena sejak pagi memang sudah berpuasa.

و حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ بِنْتُ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَتْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ قَالَتْ فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ وَقَدْ خَبَأْتُ لَكَ شَيْئًا قَالَ مَا هُوَ قُلْتُ حَيْسٌ قَالَ هَاتِيهِ فَجِئْتُ بِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَالَ قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا

“Dan Telah menceritakan kepada kami [Abu Kamil Fudlail bin Husain] telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahid bin Ziyad] telah menceritakan kepada kami [Thalhah bin Yahya bin Ubaidullah] telah menceritakan kepadaku [Aisyah binti Thalhah] dari [Aisyah] radliallahu ‘anha, ia berkata; Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Wahai Aisyah, apakah kamu mempunyai makanan?” Aisyah menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, aku akan berpuasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar. Tak lama kemudian, saya diberi hadiah berupa makanan atau dengan redaksi seorang tamu mengunjungi kami. Aisyah berkata; Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali saya pun berkata, “Ya Rasulullah, tadi ada orang datang memberi kita makanan dan kusimpan untuk Anda.” Beliau bertanya: “Makanan apa itu?” saya menjawab, “Kuwe hais (yakni terbuat dari kurma, minyak samin dan keju).” Beliau bersabda: “Bawalah kemari.” Maka kuwe itu pun aku sajikan untuk beliau, lalu beliau makan, kemudian berkata, “Sungguh dari pagi tadi aku puasa.” (Hadits Muslim Nomor 1950)

Shafiyyurahman Al-Mubarokfuri mensyarah hadits di atas mengatakan bahwa lafadz “Fa’innii idzan shoo’im” atau dalam jalur lain “Fa’innii shoim” (kalau begitu aku berpuasa) menunjukkan bolehnya niat puasa pada siang harinya, dan tidak berpuasa pada malam hari sebelumnya, ini menunjukkan bahwa hadits hafshah (yang mengatakan tidak ada puasa bagi yang tidak berniat malam sebelumnya) adalah khusus bagi puasa wajib di bulan Ramadhan saja.

Selanjutnya Shafiyyurahman Al-Mubarokfuri menjelaskan bahwa perintah “Ariniihi” (perlihatkanlah padaku) diikuti dengan kata “ashbahtu shooiman” atau dalam jalur lain “qod kuntu ashbahtu shooiman” (sesungguhnya sejak pagi aku puasa) hal ini menunjukkan bolehnya membatalkan puasa bagi orang yang puasa sunnah tanpa adanya udzur sakit atau lainnya.

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَنَقُولُ لَا فَيَقُولُ إِنِّي صَائِمٌ فَيُقِيمُ عَلَى صَوْمِهِ ثُمَّ يُهْدَى لَنَا شَيْءٌ فَيُفْطِرُ قَالَتْ وَرُبَّمَا صَامَ وَأَفْطَرَ قُلْتُ كَيْفَ ذَا قَالَتْ إِنَّمَا مَثَلُ هَذَا مَثَلُ الَّذِي يَخْرُجُ بِصَدَقَةٍ فَيُعْطِي بَعْضًا وَيُمْسِكُ بَعْضًا

“Telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Musa] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syarik] dari [Thalhah bin Yahya] dari [Mujahid] dari [‘Aisyah] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke rumahku dan bertanya: “Apakah kalian memiliki sesuatu?” kami menjawab, “Tidak. ” Beliau lalu bersabda: “Kalau begitu aku berpuasa, ” dan beliau melanjutkan puasanya. Kemudian kami mendapat hadiah sesuatu, hingga beliau akhirnya berbuka. ” ‘Aisyah berkata, “Barangkali beliau berpuasa dan kemudian membatalkan puasanya. ” Aku bertanya, “Bagaimana itu?” ia menjawab, “Perumpamaan ini seperti orang yang keluar dengan membawa harta sedekah, lalu ia memberikan sebagian dan menahan sebagian. “ (Hadits Ibnu Majah Nomor 1691)

Menurut para ulama maksud dari hadits hafshah di atas ialah “Barang siapa yang tidak niat sebelum terbitnya fajar di bulan Ramadlan atau ketika mengqodho’ puasa Ramadhan atau ketika puasa nadzar, maka shaumnya tidak sah. Adapun puasa sunnah, maka boleh berniat sesudah terbitnya fajar.”

Kesimpulan

Dari hadits-hadits di atas dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang bangun kesiangan ketika puasa Ramadhan, kemudian malam sebelumnya belum berniat berpuasa, maka puasanya tidak sah. Ini adalah pendapat Madzhab Syafi’i, Madzhab Ahmad bin Hambal (Madzhab Hambali) dan Ishaq.

Sedangkan madzhab Hanafi (seorang tabi’in) berpendapat orang yang kelupaan berniat pada malam sebelumnya lalu kesiangan bangun dan langsung berpuasa Ramadhan tanpa sahur, puasanya sah dan tidak perlu diqodho. Hal ini berlaku untuk puasa Ramadhan dan puasa sunnah. Namun lain halnya dengan puasa yang bersifat hutang, seperti puasa karena membayar nadzar dan puasa kafarat (membayar denda atau hukuman) maka harus berniat pada malam sebelumnya.

Demikian pula Madzhab Maliki membolehkan niat puasa ramadhan dilakukan setelah terbit fajar yaitu jika memang tidak sengaja bangun kesiangan, alasannya karena hal ini adalah ketidak sengajaan. Madzhab Maliki tidak membedakan itu puasa sunnah atau Ramadhan. Bahkan Madzhab Maliki membolehkan berniat puasa disekaliguskan untuk sebulan penuh yaitu cukup berniat puasa di awal bulan Ramadhan saja.

Beberapa orang memiliki kebiasaan sahur awal, misakan pada jam 2 atau 3 malam lalu tidur lagi. Seandainya kemudian bangun subuh kesiangan, tentunya ketika sahur tadi sudah berniat puasa. Demi amannya, Beberapa ulama menyarankan begitu berbuka puasa dan setelah shalat maghrib segera berniat untuk puasa keesokan harinya.

Adapun batas berniat puasa itu sampai fajar, sebagaimana hadits sebelumnya,

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ” Barangsiapa yang belum niat sebelum fajar maka puasanya tidak sah” (Hadits Tirmidzi Nomor 662, Abu Daud Nomor 2908, Nasa’i Nomor 2291 s.d 2296)

Sedangkan fajar di sini adalah fajar yang telah menerangi ufuk dan bukan baru sebatas garis cahaya putih sesaat yang disebut fajar kadzib (fajar bohong).

و حَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ يَعْنِي ابْنَ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَوَادَةَ الْقُشَيْرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغُرَّنَّكُمْ مِنْ سَحُورِكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ وَلَا بَيَاضُ الْأُفُقِ الْمُسْتَطِيلُ هَكَذَا حَتَّى يَسْتَطِيرَ هَكَذَا وَحَكَاهُ حَمَّادٌ بِيَدَيْهِ قَالَ يَعْنِي مُعْتَرِضًا

“Telah menceritakan kepadaku Abu Rabi’ Az Zahrani telah menceritakan kepada kami Hammad yakni Ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sawadah Al Qusyairi dari bapaknya dari Samurah bin Jundub radliallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu terpedaya (untuk tidak makan sahur) oleh adzan yang dikumandangkan oleh Bilal di waktu sahur, dan jangan pula karena cahaya putih ini (fajar kadzib) hingga cahaya itu tersebar (cahayanya di ufuk) seperti ini.” Hammad memberi isyarat dengan kedua tangannya, yaitu membentang” (H.R. Muslim No. 1833)

Mengenai lafal niat puasa boleh diucapkan dengan mulut dan boleh tidak (boleh dalam hati) baik dengan lafal maupun tanpa lafal. Namun untuk amannya dan menjamin agar Anda tidak lupa berniat maka dengan lafal dan diucakan dengan mulut itu lebih baik.

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke