Posisi-posisi Shaf Makmum yang Dapat Membatalkan Pahala Jamaah Shalat

Sebagai umat Islam tentu kita tiap kali mengikuti shalat berjamaah sudah sangat familiar dengan seruaan sang imam sebelum memulai shalat yang berbunyi:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَة

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat.”

Seruan tersebut ternyata berasal dari banyak riwayat Hadits. Di antarnya adalah;

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاةِ. (وَفِيْ لَفْظٍ : فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ)

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf-shaf termasuk menegakkan shalat (berjama’ah)”. Dan dalam lafadh lain: “…karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjama’ah)” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 690 dan Hadits Riwayat Bukhari Muslim Nomor 433)

Berdasarkan Hadits tersebut, meluruskan shaf shalat merupakan kesempurnaan shalat yang mana akan dibalas pahala oleh Allah. Bagi makmum yang belum lurus wajib bagi makmum meluruskan dirinya sendiri yang juga dikomando oleh imam.

Meski dalam praktiknya seringkali imam senantiasa menyeru para makmum dengan Hadis Nabi di atas untuk mengingatkan agar para makmunya meluruskan barisan shalatnya. Tapi terkadang kita tidak menyadari apa konsekwensi hukumnya bagi makmum yang dalam shalat jamaahnya tidak meluruskan barisannya, seperti makmum yang justru memisahkan diri dari barisan jamaah misalnya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa, manakala shalat berjamaah, namun memisahkan diri dari shaf tanpa adanya udzur syra’i, maka status jamaahnya dianggap batal. Pandangan ini didasarkan pada sebuah riwayat Hadits. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اسْتَقْبِلْ صَلاتَكَ فَلا صَلاةَ لِرَجُلٍ فَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ

“Ulangi kembali shalatmu. Tidak sah shalat seorang yang yang bermakmum sendirian di belakang shaf.” (Hadits Riwayat Ahmad 4/23 Nomor 16340 dan Ibnu Majah Nomor 1003)

Permasalahan ini dikecualikan bila shaf di depannya sudah penuh dan rapat sehingga tidak lagi memungkinkan baginya masuk mengisi di shaf tersebut. Pandangan ini dianut oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 3/49 dan Asy-Syaukani dalam Nailul-Authar 2/429.

Kesinambungan shaf shalat merupakan syarat syah sebuah jamaah, sehingga para anggota jamaah berhak mendapatkan pahala dari keutamaan berjamaah. Berdasarkan beberapa literatur Syafiiyah seperti Hasyiah Fathul Qarib, I’anatut Thalibin, Tuhfatul Habib, Mughni al-Muhtaj, Syarah Minhajut Thalibin, dan Asnal Matholib. Dari beberapa kitab tersebut dijumpai rumusan mengenai posisi-posisi shaf makmum yang dapat membatalkan pahala jamaah shalat karena dianggap shaf jamaah telah terputus.

Di antaranya;

Pertama, Seorang makmum memisahkan diri dari barisan di depannya yang belum penuh, kecuali bagi seorang perempuan sendirian yang berjamaah bersama laki-laki namun tidak menemukan perempuan lain untuk membentuk shaf sendiri.

Syekh Zainudin bin Abdul Aziz Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in menyatakan bahwa makmum yang memisahkan diri dari barisan jamaah padahal shaf ini masih longgar maka ia dihukumi makruh (dari sisi keutamaan barisan).

وكره لماموم انفراد عن الصف الذى من جنسه ان وجد فيه سعة

“Dihukumi makruh bagi makmum yang shalat berjamaah (berdirinya) menyendiri terpisah dari barisan shalat jamaah yang sejenis bila dalam shaf itu masih ada ruang yang tersisa”.

Dengan sedikit redaksi berbeda, Imam Jalaludin Al-Mahalli dalam Kanz Al-Raghibiin fi Syarhi Minhaji at-Talibin didapati keterangan senada di atas:

ويكره وقوف الماموم فردا بل يدخل الصف ان وجد سعة

Keterangan ini dijelaskan lebih lanjut dalam syarah I’anatu Thalibin oleh Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatha Ad-Dimyati bahwa ketentuan ini berlaku bila antara makmum yang menyendiri dan jamaah shaf tersebut sama dalam status gendernya, misalnya semuanya sama-sama laki-laki atau sebaliknya. Jika antara makmum yang memisahkan diri dan barisan jamaahnya berlainan status gendernya, maka memisahkan diri shaf jamaah yang berlainan jenis justru disunahkan.

Selanjutnya bila si makmum yang berdirinya memisahkan diri tersebut disebabkan karena sudah penuhnya barisan yang ada sehingga tidak muat ikut berbaris di dalamnya, maka ia disunahkan menarik salah satu orang dalam shaf yang penuh tersebut setelah melakukan takbiratul ihram. Hal ini sesuai dengan keterangan lanjutan dalam kitab Al-Mahalli (Kanz Al-Raghibiin) sebagai berikut:

والا فليجر شخصا بعد الإحرام وليساعده المجرور…..

“Dan apabila di dalam shaf tersebut sudah tak ada ruang lagi, maka disunahkan makmum menarik seseorang (dari shaf yang penuh itu) setelah takbiratul ihram dan hendaknya orang yang ditarik membantu (berdiri sejajar bersama si makmum)”.

Kedua, Dianggap shaf jamaah shalatnya terputus adalah apabila jaraknya terlalu jarang (renggang) dan jauh antara imam dengan makmum, atau antara shaf jamaah depan dengan shaf lainnya yang berada di belakangnya sehingga jaraknya melebihi tiga hasta.

Ketiga, Dianggap shaf jamaah shalatnya terputus adalah apabila merenggangkan antar makmum dalam satu shaf sehingga muat untuk satu orang, atau muat untuk dilewati seorang dewasa.

Keempat, Dianggap shaf jamaah shalatnya terputus adalah apabila menempelkan anggota tubuh antar makmum dalam satu shaf, seperti menempelkan antar bahu, dan antar mata kaki sesama makmum dalam satu shaf.

Baca selengkapnya;

Saling Menempelkan Badan Dapat Menyebabkan Membatalkan Pahala Jamaah Shalat

Merapatkan Shaf Jamaah Shalat Itu Bukan Berarti Menempelkan Shaf Jamaah Shalat

Kelima, Dianggap shaf jamaah shalatnya terputus adalah apabila disela-selai seorang anak yang belum cukup umur tujuh tahun atau yang belum berkhitan. Hal ini didasarkan pada tradisi orang Arab pada zaman Nabi dahulu. Jadi, keberadaan anak yang belum cukup umur dalam sebuah shaf shalat dianggap sebagai pemutus shaf yang dapat menghilangkan pahala jamaah shalat.

Keenam, Di antara salah satu yang dianggap sebagai pemutus shaf jamaah shalat adalah sesuatu benda yang membatasi antara dua orang yang berdiri di shaf dan benda tersebut dapat dipindahkan atau digeser ke pinggir shaf. Seperti mimbar yang tidak permanen atau benda-benda lain yang dapat dipindahkan terkecuali tiang masjid atau dinding tidak dipandang sebagai pemutus shaf.

Ketujuh, Dianggap sebagai pemutus shaf jamaah shalat adalah manakala jamaah shalat hanya diikuti seorang makmum, namun tidak berada di sisi kanan imam, melainkan berada di sisi kiri imam atau berada di belakang imam. Kecuali yang menjadi makmum seorang perempuan yang bermakmum kepada imam laki-laki, maka dia boleh mengambil posisi shaf paling belakang dan sedikit menjauh dari imam.

Artikel yang sama;

Hukum Makmum Menyendiri dari Shaf Shalat Jamaah

Posisi-posisi Shaf Makmum yang Dapat Membatalkan Keutamaan Jamaah Shalat

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke