Pokok-Pokok Ajaran yang Terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits

Aqidah

Pertama, Aqidah, yaitu konsep kepercayaan yang dianut oleh setiap umat Islam sebagai salah satu fondasi pokok dalam menjalankan agamanya. Sebetulnya aqidah hampir semakna dengan iman, namun makna aqidah cakupannya lebih luas karena bukan hanya sekedar percaya, namun mencakup konsep kepercayaan itu sendiri. Mungkin setiap umat Islam percaya kepada Allah, bagaimana bentuk dan cara percaya kepada Allah itulah yang dibahas secara luas dalam aqidah. Sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits Jibril,

“Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah iman itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, beriman kepada kejadian pertemuan dengan-Nya, beriman kepada para Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari kebangkitan serta beriman kepada takdir semuanya’. Dia berkata, ‘Kamu benar’. (HR. Muslim No. 11)

Perlu diketahui, dalam Islam sendiri, terkait konsep keimanan, terdapat beberapa perbedaan mendasar. Agar tidak terjadi kerancuan pemahaman maka perlu kiranya memahami gambaran pokoknya saja. Dari semua perbedaan pandangan tersebut dapat kiranya digolongkan ke dalam tiga kelompok besar; Pertama, Golongan “kiri” yang murni menggunakan akal atau kontekstualisasi al-Qur’an dan Hadits. Kedua, Golongan “kanan” yang murni menggunakan tekstualitas atau dzahir teks al-Qur’an dan Hadits. Ketiga, Golongan “tengah” yang menggunakan perpaduan antara teks dan konteks. Berikut penjelasan ringkasnya.

Pertama, Golongan kiri, seperti Firqah Mu’tazilah, golongan ini berpendapat bahwa iman hanya sebuah perbuatan baik. Mereka tidak memasukkan kategori tasdiq dan ma’rifat sebagai keimanan. Menurut Abd. al-Jabbar, orang yang tahu Tuhan tetapi melawan kepadanya, bukanlah orang yang mu’min. Contoh lain kelompok ini adalah Firqah Khawarij. Khawarij berpandangan bahwa iman tidak semata-mata percaya kepada Allah, mengerjakan kewajiban dan larangan agama juga merupakan bagian dari iman. Selanjutnya adalah Firqah Murjiah. Golongan yang sepaham dengan Murji’ah adalah al-Jahmiyah, as-Salihiyah dan al-Yunusiyah. Mereka berpendapat bahwa iman adalah tashdiq (membenarkan) secara qalbu saja, atau ma’rifah (mengetahui) Allah dengan qalbu, bukan dengan iqrar dalam bentuk ucapan maupun diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Kedua, Golongan kanan; semisal firqah Syiah; Golongan ini memiliki aqidah dasar bahwa rukun iman ada lima: (1) iman kepada keesaan Allah, (2) iman kepada keadilan, (3) iman kepada kenabian, (4) iman kepada imamah, yaitu kepemimpinan 12 imam, dan (5) iman kepada hari ma’ad/kiamat.

Berbeda dengan golongan Syiah adalah golongan Salafi, Golongan ini memiliki beberapa pandangan pokok dalam soal keimanan; Pertama, Allah itu bertempat, berarah, dan berwujud sebagaimana yang digambarkan sendiri dalam al-Qur’an dan Hadits. Allah bertempat dengan bersemayam di singgasana Arys, berdasarkan firman Allah SWT.,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Allah Yang Maha Pengasih itu bersemayam di atas (singgasana) ‘Arsy. ” (QS. Tha Ha[20]: 5)

Allah berarah, Allah berada di arah ketinggian langit, hal ini berdasarkan firman Allah SWT.,

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang (arahnya) di atas (langit).” (QS. an-Nahl[16]: 50)

Kalaupun Allah sendiri dalam al-Qur’an menyatakan serupa dengan makhluq, maka kita tinggal menetapkan saja. Sebagaimana Allah sendiri mengatakan bahwa Allah memiliki tangan, wajah, kaki, mirip Adam, dan lain sebagainya, maka kita berkewajiban untuk menerima, mengimani, dan tidak perlu mempersoalkan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT.,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menerima sedekah dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya untuk kalian sebagaimana kalian membesarkan anak kuda kalian, sampai-sampai sesuap makanan akan menjadi sebesar gunung Uhud, (HR. Tirmidzi No. 598)

Kedua, Mereka berpendapat bahwa iman dibagi menjadi tiga. Pertama, Tauhid al-Uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karena-Nya semata, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Fatihah ayat 4 dan an-Nas ayat 3. Kedua, Tauhid ar-Rububiyyah, maksudnya mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini, sebagaimana disebutkan dalam surat al-Fatihah ayat 2, dan an-Nas ayat 1. Ketiga, Tauhid al-Asma’ was-Sifat, maksudnya mengesakan Allah dalam asma dan sifat-Nya, artinya menetapkan nama, sifat, dan dzat Allah sesuai dengan makna dzahirnya teks al-Qur’an dan Hadits tanpa perlu dipalingkan (dita’wil) kepada makna yang lain.

Ketiga, Golongan tengah; yakni golongan Sunni, Golongan ini dipandegani oleh golongan Ahlussunnah Wal Jamaah, yakni Asy’ariah dan Maturidi. Paham ini berusaha mengambil sikap tengah di antara dua kutub: akal dan naql, antara kaum Salafi dan Mu’tazilah. Golongan ini bercorak perpaduan antara pendekatan tekstual dan kontekstual, sehingga al-Ghazali menyebutnya sebagai aliran al-Mutawassith (pertengahan). Berikut pokok-pokok ajaran keimanannya; Pertama, Allah ada tanpa bertempat, tanpa arah, dan wujud Allah tidak serupa dengan makhluqnya. Allah SWT. tidak bertempat, sebuah tempat merupakan makhluq ciptaan Allah, maka maha suci Allah bergantung pada sebuah tempat, bahkan makhluqlah yang seharusnya bergantung kepadanya. Hal ini berdasarkan firman Allah,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ

“Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (makhluq).” (QS. al-Ikhlas[112]: 1-2)

Allah tidak berarah, Allah tidak berada di arah manapun, hal ini berdasarkan firman Allah,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطًا

“dan adalah (keberadaan) Allah meliputi segala sesuatu. (QS. an-Nisa’[4]: 126)

Allah tidak serupa dengan makhluk, seandainya Allah dalam al-Qur’an menggambarkan dirinya memiliki tangan, wajah, kaki, dan lain sebagainya, maka wajib meyakini bahwa hal itu hanya makna majazi dan bukanlah makna hakikinya. Hal ini berdasarkan firman Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Allah tidak semisal dengan sesuatu pun. Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syura[42]: 11)

Kedua, Membenarkan (Tashdiq) di dalam hati akan wujud Allah, diucapkan (taqrir) dengan lisan, dan diwujudkan dalam amal shalih. Dengan demikian Iman mencakup Aqidah (keyakinan), Ahlak, dan Amal Perbuatan.

Ketiga, Meyakini bahwa Allah memiliki tiga sifat, yakni wajib, mustahil, dan jaiz. Wajib bagi Allah bersifat wujud maksudnya ada (QS. al-A’raf: 143), qidam maksudnya terdahulu (QS. al-Hadid: 3), baqa’ maksudnya kekal (QS. ar-Rahman: 26-27), mukhalafatul lil hawadisi maksudnya bentuknya berbeda dengan mahluknya (QS. asy-Syura: 11), qiyamuhu binafsihi maksudnya mandiri tidak bergantung (QS. al-Isra: 111), wahdaniyah maksudnya tunggal[i] (QS. an-Nahl: 51), qudrat maksudnya berkehendak (QS. al-Baqarah[2]: 20), Iradat maksudnya berkehendak (QS. Yasin: 82), ilmu maksudnya mengetahui (QS. al-Hujurat: 16), hayat maksudnya hidup (QS. al-Baqarah[2]: 255), sama’ maksudnya mendengar (QS. al-Anbiya: 4), bashar maksudnya melihat (QS. Ibrahim: 38), dan kalam maksudnya berfirman (QS. an-Nisa: 164). Mustahil bagi Allah bersifat adam maksudnya tidak ada, huduts maksudnya baru, fana maksudnya binasa, mumatsalatul lil hawaditsi maksudnya sama dengan mahluknya, ihtiyaju lighairihi maksudnya membutuhkan pada lainnya, ta’addud maksudnya berbilang, ajzun maksudnya lemah, karohun maksudnya terpaksa, jahlun maksudnya bodoh, mautun maksudnya mati, summun maksudnya tuli, umyun maksudnya buta, dan mustahil bagi Allah bersifat bukmun maksudnya bisu. Boleh (jaiz) bagi Allah bersifat dengan segala sifat yang mungkin Allah mengerjakannya atau meninggalkannya. Sifat jaiz bagi Allah hanya ada satu yaitu: “FI’LU KULLI MUMKININ AU TARKUHU” yang berarti Allah berwenang untuk berbuat dan menciptakan sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Ibadah

Kedua, Ibadah, yaitu segala bentuk ketaatan dan pengabdian yang dijalankan atau dikerjakan dengan mengharap ridha dari Allah. Ibadah dibagi dua, yakni ibadah mahdhah, yakni ibadah murni atau khusus yang tidak dapat dirubah lagi karena sudah ditentukan syarat dan rukunnya, serta telah ditetapkan cara, kadar, waktu, dan tempatnya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada tuhannya. Ada lima ibadah pokok yang telah ditetapkan, dan dikenal dengan rukun Islam; Nabi bersabda,

فَجَاءَ رَجُلٌ فَجَلَسَ عِنْدَ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ لَا تُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ قَالَ صَدَقْتَ

“Maka (Jibril berpenampakan) seorang laki-laki datang lalu duduk di hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar. ’ (HR. Muslim No. 11)

Dan ibadah ghairu mahdhah, yaitu segala tindakan baik muamalah maupun tradisi yang diniatkan sebagai bentuk upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan mengharap ridhanya, yang tidak diatur cara, kadar, waktu, dan tempatnya, sehingga ibadah ini boleh dikreasi sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya. Pertama, ibadah sunnah mutlak, seperti dzikir, do’a, dan ibadah-ibadah sunnah mutlaq. Kedua, muamalah, seperti bekerja, menikah, menciptakan teknologi, membangun rumah, dan lain sebagainya, ini bernilai pahala ibadah ketika diniatkan lillahi taa’la mengharap ridlo Allah. Ketiga, tradisi dan budaya, seperti maulid Nabi, kenduri, haul, tahlilan, ulang tahun, acara peringatan hari besar Islam, sepasaran, selamatan rumah baru, pawai, resepsi pernikahan, wisuda, halal bi halal, reunian, majelis dzikir, arisan haji, bekerja dan usaha untuk menfkahi keluarga, haul atau peringatan, mengingat kisah-kisah orang terdahulu, kumpul-kumpul, tingkeban dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi bernilai ibadah yang berpahala bila diniatkan syi’ar Islam dengan catatan disisipi kebaikan seperti bhakti sosial, dzikir, renungan, mauidzoh, serta kemanfaatan dan kemaslahatan lain, dan tidak mengandung unsur-unsur kemungkaran, kesyirikan dan kemaksiatan.

Akhlaq

Ketiga, Akhlak, atau disebut juga ihsan. Ia memiliki banyak dimensi, namun secara umum akhlaq adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Berarti akhlak bermakna perangai, tingkah laku, atau tabiat, entah itu tergolong terpuji (karimah) atau tercela (madzmumah).

مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ صَدَقْتَ

“Lalu dia (Jibril) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Dia berkata, ‘Kamu benar’. (HR. Muslim No. 11)

Disebut akhlaq karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran petunjuk Allah dan uswah Nabi, karena Allah mengutus Nabi tidak lain untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Terkadang akhlaq disebut etika karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran akal pikiran atau rasio. Dan terkadang akhlaq disebut moral karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran norma-norma yang tumbuh, berkembang, dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat). Sasaran akhlaq sendiri ada tiga arahnya: Akhlak manusia kepada Allah, Akhlak manusia kepada sesama manusia, dan Akhlaq manusia kepada lingkungan hidup.

Pada hakikatnya akhlaq adalah berbuat baik, meningkatkan, dan menambah nilai kebaikan dalam setiap perkara yang dilakukan oleh setiap orang. Dengan begitu, ihsan juga dapat disebut dengan akhlaq, adab, atau jalan tasawuf dalam menjalankan tugas hidup di dunia.

Akhlaq juga disebut ma’ruf atau amal shalih, yaitu segala perbuatan dan tingkah laku yang Allah cintai dan ridhai yang telah ditetapkan rinciannya dalam al-Qur’an dan Hadits. Amal saleh mencakup melakukan perbuatan (al-fi’l), seperti Shalat, maupun meninggalkan perbuatan (al-tark), seperti meninggalkan zina. Perkara-perkara yang berhukum mubah inilah yang dikenal dalam agama Islam dengan istilah amal shaleh, ma’ruf atau tradisi, yaitu hal-hal baik menurut agama namun tidak diatur secara spesifik dalam teks-teks al-Qur’an dan Hadits. Walau tidak diatur secara rinci dalam agama Islam, namun memiliki nilai-nilai ibadah bila diniatkan lillahi taala menurut pandangan umat Islam di suatu tempat dan di suatu era. Kebaikan yang diciptakan manusia juga dapat diterima dalam agama Islam, Nabi bersabda,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Muamalah

Keempat, Muamalah atau juga disebut hukum perdata Islam, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan tata cara hidup sesama umat manusia untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Muamalah mengandung tujuan terciptanya hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga tercipta masyarakat yang rukun dan tentram. Menurut al-Fikri dalam kitabnya, “al-Muamalah al-Madiyah wa al-Adabiyah”, ruang lingkup muamalah ada dua;

Pertama, al-Muamalah al-Madiyah; yaitu suatu disiplin ilmu yang membahas perikatan dan transaksi antar manusia dilihat dari segi objeknya yang bersifat kebendaan. Esensinya: keuntungan yang didapatnya bersumber dari materi-materi yang baik sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah kelak di akhirat. Transaksi ini meliputi jual beli (al-bai’ al-tijarah), gadai (ar-rahn), jaminan dan tanggungan (kafalan dan dlaman), pemindahan utang (hiwalah), jatuh bangkrut (taflis), batasan bertindak (al-hajru), perseroan atau perkongsian (al-syirkah), persoalan harta dan tenaga (al-mudharabah), sewa-menyewa (al-ijarah), pemberian hak guna pakai (al-‘ariyah), barang titipan (al-wadi’ah) barang temuan (al-luqathah), garapan tanah (al-mujara’ah), sewa-menyewa tanah (al-mukharabah), upah (ujrat al ‘amal), gugatan (al-syuf’ah), sayembara (al-ji’alah), pembagian kekayaan bersama (al-qismah), pemberian (al-hibah), pembebasan (al-ibra), damai (al-shulhu), dan ditambah dengan beberapa masalah mu’ashirah (muhaditsah), seperti masalah bunga bank, asuransi, kredit, dan masalah-masalah baru lainnya.

Kedua, al-Muamalah al-Adabiyah, yaitu aturan-aturan Allah SWT. yang wajib diikuti dari segi subjeknya. Esensinya adalah bagaimana cara memperoleh keuntungan yang bersifat duniawi tersebut secara vertikal tetap mendapatkan ridha Allah dan secara horizontal tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain, karena semua pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah. Ruang lingkup muamalah yang bersifat adabiyah adalah ijab dan qabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, penimbunan, dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta dalam hidup bermasyarakat.

Jinayat

Kelima, Jinayat atau juga disebut hukum pidana Islam, yaitu syariat Allah yang mengandung kemaslahatan bagi kehidupan manusia, terutama syariat Allah yang mengatur penanganan terhadap tindak kejahatan seorang mukallaf yang mengganggu ketentraman umum, serta tindakan melawan peraturan-peraturan yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Bisa dikatakan bahwa jinayat adalah konsep hukuman bagi para pelaku kejahatan. Jinayat adalah sebuah kajian ilmu hukum Islam yang berbicara tentang kriminalitas. Adapun ruang lingkup kajian hukum pidana Islam ini meliputi;

Pertama, Qisas, yaitu penjatuhan sanksi yang sama dengan yang telah pelaku lakukan terhadap korbannya, misal; pelaku menghilangkan nyawa korbannya, maka ia wajib dibunuh. Kecuali, keluarga korban memaafkan si pelaku, maka pelaku hanya akan dikenakan denda yang dinamakan dengan diyat atau denda sebagai pengganti dari hukuman. Kedua, Hudud, yaitu penjatuhan sanksi yang berat atas sesorang yang telah ditentukan oleh al-Qur’an dan Hadits, seperti zina, mabuk dan keluar dari agama Islam atau murtad. Ketiga, Ta’zir, yaitu hukum yang selain hukum hudud, yang berfungsi mencegah pelaku tindak pidana dari melakukan kejahatan dan menghalanginya dari melakukan maksiat.

Tadzkir

Ketujuh, Peringatan atau Tadzkir, yaitu sesuatu yang memberi peringatan kepada manusia akan ancaman Allah berupa siksa neraka atau waa’id. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan balasan berupa nikmat surga jannah atau waa’ad. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di dalam al-Qur’an, atau disebut juga targhib, dan kebalikannya, gambaran yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib.

Hubungan Masyarakat

Kedelapan, Hubungan Masyarakat. Mengatur tata cara kehidupan manusia, serta sejarah atau kisah (cerita mengenai orang-orang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah dan yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah. Dalam kehidupan sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik dari sejarah masa lalu.

Jihad

Kesembilan, Jihad. Sebagaimana disebut dalam sebuah Hadits, jihad perang termasuk dalam kategori jihad kecil apabila dibandingkan dengan jihad besar, yaitu memerangi hawa nafsu sendiri. Namun arti kata Jihad sering disalahpahami oleh mereka yang tidak mengenal prinsip-prinsip agama Islam: jihad mereka maknai sebagai ‘perang suci’ (holy war); padahal istilah untuk perang sebetulnya adalah qital, bukan jihad. Jihad kecil ini tetaplah menjadi bagian penting dalam Islam pada saat yang diperlukan, yaitu ketika umat Islam tidak memiliki keleluasaan dalam menjalani keyakinan dan ibadahnya dalam sebuah wilayah. Jihad kecil yang dimaknai memerangi mereka yang mendzalimi umat Islam tetap wajib menggunakan prinsip etika, Islam melarang pemaksaan dan kekerasan, termasuk membunuh warga sipil yang tidak ikut berperang, seperti wanita, anak-anak, hingga manula.

Terorisme tidak bisa dikategorikan sebagai Jihad; Jihad dalam bentuk perang harus jelas pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam peperangan, seperti halnya perang yang dilakukan Nabi SAW. yang mewakili Madinah melawan kafir Mekkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama dipicu oleh kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum Muslimin yang berada di Mekkah (termasuk perampasan harta kekayaan kaum Muslimin serta pengusiran).

Ajaran-ajaran umum

Kesepuluh, Ajaran-ajaran umum. Masih banyak lagi ajaran-ajaran agama yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadits, seperti; (a) Dorongan Untuk Berpikir. (b) Janji Dan Ancaman: reward dan punishment bagi manusia. (c) Sejarah dan Teladan dari kejadian di masa lampau. (d) Tentang Ilmu Pengetahuan. (e) Petunjuk tentang tanda-tanda alam yang menunjukkan adanya Tuhan. (f) Petunjuk mengenai hubungan golongan kaya dan miskin. (g) Kebangsaan. Dan (h) Pergerakan atau politik kebangsaan.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa meskipun pembagian ajaran Islam banyak variasi yang dipaparkan oleh para ulama ahli, namun yang paling sederhana dipilah menjadi beberapa pokok persoalan besar saja, di antaranya adalah:

Aqidah, menyangkut keyakinan kita terhadap hal-hal yang ghoib. Hukumnya wajib ditetapkan dalam hati, ada enam pokok keyakinan, yakni rukun iman. Dalam hal ini, kreasi tidak diperkenankan.

Ibadah, yaitu hal-hal yang terkait dengan ritual yang telah ditetapkan cara, kadar, waktu, dan tempatnya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada tuhannya. Ada dua: ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.

Muamalah, atau aktivitas hubungan antara satu manusia ke manusia yang lainnya. Hukumnya boleh selama tidak mengandung kerugian bagi pihak-pihak tertentu. Dalam hal ini sangat dianjurkan adanya kreasi, demi peningkatan kualitas hidup untuk pengabdian kepada Allah SWT.

Adat, yaitu kebiasaan manusia dalam menyikapi hidupnya yang dipengaruhi oleh kondisi alam dan lingkungannya, seperti cara berpakaian, berbicara, dan berhubungan satu dengan lainnya. Hukumnya boleh selama tidak mengandung kemaksiatan dan kesyirikan. Tingkeban, selapanan, petik laut, menari, film, konser, bernyanyi, dan sebagainya, pada dasarnya hukumnya boleh. Sebagaimana Nabi sering juga bernyanyi bertema religi,

لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْأَحْزَابِ وَخَنْدَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ يَنْقُلُ مِنْ تُرَابِ الْخَنْدَقِ حَتَّى وَارَى عَنِّي الْغُبَارُ جِلْدَةَ بَطْنِهِ وَكَانَ كَثِيرَ الشَّعَرِ فَسَمِعْتُهُ يَرْتَجِزُ بِكَلِمَاتِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَهُوَ يَنْقُلُ مِنْ التُّرَابِ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا قَالَ ثُمَّ يَمُدُّ صَوْتَهُ بِآخِرِهَا

“Pada waktu perang Ahzab atau Khandaq, aku melihat Rasulullah SAW. mengangkat tanah parit, sehingga debu-debu itu menutupi kulit beliau dari (pandangan)-ku, saat itu beliau bernyanyi dengan bait-bait syair yang pernah diucapkan oleh Ibnu Rawahah, sambil mengangkat tanah beliau bersabda: ‘Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya. ‘ Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suara di akhir baitnya. ” (HR. Bukhari No. 3797)

Amaliah (Amal Shalih), yakni semua MUAMALAH maupun ADAT yang diniatkan untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi kehidupan dengan mengharap karena Allah taa’ala. Sehingga, yang hukum awalnya mubah menjadi sunnah dan berpahala, karena mengandung unsur-unsur kebaikan, kemanfaatan, kemaslahatan, yang biasanya ini lebih dikenal dengan amal shalih atau ma’ruf. Banyak dalilnya, seperti walimah, maulid Nabi, majelis dzikir, arisan haji, bekerja dan usaha untuk menfkahi keluarga, haul atau peringatan, mengingat kisah-kisah orang terdahulu, kumpul-kumpul, tingkeban. Intinya, kebiasaan-kebiasaan manusia yang diperbolehkan, bukan sebuah ibadah, namun diniatkan karena Allah SWT. sehingga tetap bernilai pahala ibadah.

Dikutip dari buku “Menyoal Kehujahan Hadits Bid’ah”, Penulis KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

[i] Tunggal tidak sama dengan satu. Mayoritas Asy’ari meyakini bahwa Allah itu tunggal, dalam hal ini tunggal tidak sama dengan satu.

Bagikan Artikel Ini Ke