Pokok-Pokok Ajaran dan Pemikiran Golongan Sunni (Kupas Tuntas)

Sejarah penyebab terjadinya golongan dalam Islam

Kelahiran Sunni, atau lebih tepatnya terminologi Sunni, merupakan respon atas munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam memahami dalil-dalil agama pada abad ketiga Hijriah. Pertikaian politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Damaskus, Muawiyah bin Abi Sufyan, yang berakhir dengan tahkim (arbitrase), mengakibatkan pendukung Ali terpecah menjadi dua kubu.

Kubu pertama menolak tahkim dan menyatakan Ali, Muawiyah, Amr bin ‘Ash, dan semua yang terlibat dalam tahkim telah kafir karena telah meninggalkan hukum Allah. Mereka memahami secara sempit QS. Al-Maidah:44:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka telah kafir.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 44)

Semboyan mereka adalah laa hukma illallah, tiada hukum selain hukum Allah. Kubu pertama ini kemudian menjadi Khawarij.

Sedangkan kubu kedua mendukung penuh keputusan Ali, sebab Ali adalah representasi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali adalah sahabat terdekat sekaligus menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Keputusan Ali adalah keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kubu kedua ini kemudian menjadi Syiah. Belakangan, golongan ektstrem (rafidhah) dari kelompok ini menyatakan bahwa tiga khalifah sebelum Ali tidak sah. Bahkan golongan Syiah paling ekstrem yang disebut Ghulat mengkafirkan seluruh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali beberapa orang saja yang mendukung Ali. Di sinilah awal mula pertikaian antara Syiah dengan Khawarij yang terus berlangsung hingga kini.

Khalifah Ali kemudian dibunuh oleh Khawarij. Pembunuhnya adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang penganut fanatik Khawarij. Menyedihkan, Ibnu Muljam ini sosok yang dikenal sebagai penghafal Al-Quran, sering berpuasa, suka bangun malam, dan ahli ibadah. Fanatisme dan minimnya ilmu telah menyeretnya menjadi manusia picik dan sadis.

Berdasarkan musyawarah ahlul halli wal áqdi yang beranggotakan sahabat-sahabat besar yang masih tersisa waktu itu, menyepakati kedudukan Ali sebagai khalifah digantikan oleh puteranya Al-Hasan. Namun Al-Hasan hanya dua tahun menjabat sebagai khalifah. Ia mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah karena menurut ijtihadnya mengundurkan diri adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan umat. Dalam sejarah, tahun pengunduran diri Al-Hasan dinamakan “am al-jamaáh” atau tahun persatuan.

Naiknya Muawiyah menjadi khalifah menimbulkan reaksi keras dari kelompok Syiáh dan Khawarij. Mereka menolak kepemimpinan Muawiyah dan menyatakan perang terhadap Bani Umayah. Perselisihan makin memuncak manakala Muáwiyah mengganti sistem khilafah menjadi monarki absolut, dengan menunjuk anaknya Yazid sebagai khalifah selanjutnya.

Di sisi lain, tragedi Karbala yang menyebabkan terbunuhnya cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Al-Husein dan sebagian besar ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa Khlalifah Yazid bin Muawiyah, telah mengobarkan semangat kaum Syiah untuk memberontak terhadap Bani Umayah. Pertikaian selanjutnya melebar jadi pertikaian segitiga antara Bani Umayah, Syiah, dan Khawarij. Pertikaian terus berlanjut hingga masa Bani Abbasiah. Dua kelompok ini senantiasa merongrong pemerintahan yang sah.

Chaos politik yang melanda umat Islam awal pada akhirnya juga melahirkan kelompok lain di luar Syiah dan Khawarij. Pada awal abad ketiga Hijriah muncul kelompok Murjiáh, yang berpendapat bahwa dalam persoalan tahkim tidak ada pihak yang berdosa. Dosa dan tidaknya serta kafir dan tidaknya seseorang bukanlah diputuskan di dunia, melainkan di akhirat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dari persoalan politik kemudian merembet menjadi persoalan akidah. Perdebatan siapa yang bersalah dalam konflik antara Ali dan Muawiyah melebar jadi perdebatan tentang perbuatan manusia. Setelah Murjiáh, muncullah aliran Jabbariah (fatalisme) dan Qodariah (fre act and fre will). Jabbariah berpendapat, perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan, artinya manusia tak lebih laksana wayang yang digerakkan oleh dalang. Qodariah berpendapat sebaliknya, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya tanpa ada “campur tangan” Tuhan terhadapnya.

Setelah Qodariah dan Jabbariah, berikutnya muncul aliran Mu’tazilah yang berpendapat sama dengan Qodariah dalam hal perbuatan manusia, namun mereka menolak penetapan sifat (atribut) pada Allah. Menurut Mu’tazilah, bila Allah memiliki sifat berarti ada dua materi pada Allah, yakni Dzat dan Sifat, hal ini berarti telah syirik atau menduakan Allah.

Lahirnya aliran-aliran ekstrem setelah Syiah dan Khawarij bukan hanya disebabkan oleh persoalan politik yang melanda umat Islam awal, akan tetapi juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dari luar Islam. Hal ini merupakan imbas dari semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam yang meliputi wilayah-wilayah bekas kekaisaran Persia dan Romawi yang sudah lebih dahulu memiliki peradaban yang mapan dan telah bersentuhan dengan rasionalisme Yunani dan filsafat ketimuran.

Asal usul istilah Sunni

Sunni atau biasa disebut Ahlussunnah wal Jamaah berasal dari kata Sunnah dan Jamaah, di mana asal kata tersebut dikutip dari beberapa riwayat Hadits. Di antaranya,

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

“Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan akan masuk surga dan yang tujuh puluh golongan akan masuk neraka. Dan orang-orang Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan masuk neraka dan yang satu golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu golongan masuk surga dan yang tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?” beliau mennjawab: “Yaitu Al Jama’ah.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3982)

Berdasarkan hadits tersebut, makna jamaah adalah salah satu golongan yang ada dalam agama Islam. Sedangkan berbai’at (mengikuti) sebuah jamaah merupakan perintah yang akan mendatangkan rahmat dari Allah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Hidup berjama’ah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab.” (Hadits Ahmad Nomor 18543)

Lalu indikator untuk mengetahui jamaah (golongan) mana yang dapat dan benar untuk diikuti. Nabi dengan jelas menunjukkan kriterianya, yakni golongan yang diikuti oleh mayoritas umat Islam. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu di atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian harus berada di sawadul a’dzam (kelompok yang terbanyak; maksudnya yang sesuai sunnah).” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3940)

Dengan begitu, sudah sangat jelas sekali. Walaupun sudah menjadi keketapan Allah bahwa umat Islam akan terpecah menjadi banyak golongan, namun hanya satu golongan yang selamat untuk diikuti. Yakni golongan “Ahlussunnah wal Jamaah” atau yang lebih dikenal dengan Aswaja atau Sunni, yaitu sebuah golongan yang berpegang teguh atas sunnah Nabi yang diikuti oleh mayoritas umat Islam seduania.

Dari penjelasan kalimat sunnah dan al-Jama’ah, maka dapat kita katakan bahwasanya ahlu sunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang senantiasa berjalan di atas petunjuk Nabi dan para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti mereka dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan. Mereka berpegang teguh dengan sunnah-sunnahnya, istiqomah dalam “ittiba’” terhadapnya.

Asal usul lahirnya Sunni

Seperti yang sudah dikemukakan di awal tulisan ini, kemunculan istilah Sunni merupakan respon atas kelompok-kelompok ekstrem pada waktu itu. Sunni dipelopori oleh para tabiín (generasi setelah sahabat atau murid-murid sahabat) seperti Imam Hasan Al-Bashri, tabi’ tabiín (generasi setelah tabiín atau murid-murid tabiín) seperti Imam-imam mazhab empat, Imam Sufyan Tsauri, Imam Sufyan bin Uyainah. Ditambah generasi sahabat, inilah yang disebut dengan periode salaf, sebagaimana disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai tiga generasi terbaik agama ini. Berikut beberapa riwayat Hadits yang menyatakan akan kemuliaan tiga periode awal Islam tersebut,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan para sahabatku.’ (Hadits Muslim Nomor 4610)

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah orang-orang yang hidup pada zamanku (sahabat) kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in).” (Hadits Bukhari Nomor 2458)

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

“Bintang-bintang ini merupakan stabilisator langit. Apabila bintang-bintang tersebut hilang, maka langit akan tertimpa apa yang telah dijanjikan (kiamat). Aku adalah penenteram para sahabatku. Kalau aku sudah tidak ada, maka mereka, para sahabatku, akan tertimpa apa yang telah dijanjikan (perselisihan-red). Para sahabatku adalah penenteram umatku. Apabila para sahabatku telah tiada, maka umatku pasti akan tertimpa apa yang telah dijanjikan kepada mereka (perpecahan-red).” (Hadits Muslim Nomor 4596)

Selepas tabi’ tabiín ajaran Sunni diteruskan dan dikembangkan oleh murid-murid mereka dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya. Mulai dari Imam Abul Hasan Al-Asyári, Imam Abu Manshur Al-Maturidi, Imam Al-Haromain, Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali dan seterusnya sampai Hadratussyekh Hasyim Asyári.

Dalam memahami dalil Al-Qur’an dan Sunnah, Sunni mengikuti metodologi para sahabat, yakni metodologi jalan tengah (moderat), keseimbangan antara pengunaan teks suci (dalil naqli) dan akal (dalil aqli). Menyikapi pendapat aliran-aliran ekstrem tersebut Sunni mengambil jalan tengah di antara pendapat-pendapat mereka. Pengambilan jalan tengah (moderat) tersebut bukan tanpa dasar. Melainkan Allah menganjurkan umatnya untuk bersikap moderat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan hendaklah kamu menjadi umat yang moderat dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) umat manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 143)

Manhaj (Metode Berpikir)

Berikut beberapa ajaran pokok Sunni yang disertai sekilas penjelasannya. Antara lain,

Pertama, Perbedaan politik tidak berkaitan dengan keimanan

Pertikaian politik yang terjadi di antara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan ijtihad para sahabat, bila benar mendapat dua pahala dan bila salah mendapat satu pahala. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim mengadili dan berijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala, dan jika seorang hakim berijtihad, lantas ijtihadnya salah (meleset), baginya dua pahala.” (Hadits Bukhari Nomor 6805)

Sunni mengambil sikap tawaquf (diam) atas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat dan menyatakan keadilan para sahabat (hadisnya bisa diterima). Bagaimana Sunni tidak bersikap berlepas diri untuk menilai para sahabat apakah yang satu selamat sedangkan yang lainnya sesat, ketika Nabi sendiri telah memberikan jaminan para sahabat yang mulia-mulia tersebut dengan masuk surga. Sebagaimana contoh kasus dua sahabat Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan yang jelas-jelas berselisih, bertikai, dan konflik bahkan saling menyerang terkait perbedaan politik.

Kedua sahabat Nabi tersebut bertempur dalam perang Shiffin yang terjadi pada 37 Hijriah atau hanya berselang 25 tahun pascawafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika fakta sejarah pertikaian dua sahabat Nabi ini tidak dapat ditolak, bagaimana mungkin kita sebagai umat yang meyakini kebenaran semua sabda Nabi dapat menghukumi salah satunya telah salah dan kafir manakala kedua-duanya telah dijamin surga oleh Nabi.

Berikut sebuah Hadits yang menjamin sahabat Ali bin Abi Thalib masuk surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali bin Abi Thalib masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarah masuk surga.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3680)

Berikut sebuah hadits yang menjamin sahabat Muawiyah bin Abi Sufyan masuk surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَحَدَّثَتْنَا أُمُّ حَرَامٍ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا قَالَتْ أُمُّ حَرَامٍ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا فِيهِمْ قَالَ أَنْتِ فِيهِمْ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ فَقُلْتُ أَنَا فِيهِمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا

“Maka [Ummu Haram] bercerita kepada kami bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pasukan dari ummatku yang (dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sufyan) pertama kali akan berperang dengan mengarungi lautan pasti akan diberi pahala dan surga”. Ummu Haram berkata; Aku katakan: “Wahai Rasulullah, aku termasuk diantara mereka?” Beliau berkata; “Ya, kamu termasuk dari mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi: “Pasukan dari ummatku yang (yang dipimpin Yazid bin Muawiyah) pertama kali akan memerangi kota Qaishar (Romawi) pasti mereka akan diampuni”. Aku katakan: “Aku termasuk diantara mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ‘Tidak”. (Hadits Bukhari Nomor 2707)

Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam “Al-Fath” (6/120) Mengatakan: “Al-Muhallab berkata: “Dalam hadits ini terdapat kelebihan bagi Mu’awiyah karena dia adalah orang pertama yang berperang di lautan, dan kelebihan bagi anaknya, Yazid, karena dia orang pertama yang menyerang kota Kaisar (Romawi).”

Berdasarkan dua riwayat Hadits tersebut menunjukkan fakta bahwa kedua-duanya dari Ali Bin Abi Thalib ra. dan Muawiyah bin Abi Sufyan benar-benar dijamin masuk surga. Sedangkan fakta sejarah keduanya telah bertikai. Logikanya adalah bagaimana mungkin Nabi yang telah mendapat petunjuk dari Allah bahwa Ali Bin Abi Thalib ra. dan Muawiyah bin Abi Sufyan masuk surga namun salah satunya atau kedua-duanya salah dan kafir. Terkait ini maka golongan Sunni memilih abstain (berlepas diri) untuk tidak berani mengomentari atau menuduh salah satunya kafir atau tersesat. Sebab golongan Sunni menyerahkan hukum perkara ini (pertikaian para sahabat) langsung kepada Allah. Sebab golongan Sunni hanya menyakini berdasarakan husnuddzan bahwa semua sahabat adalah baik dan mulia. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi berikut,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Janganlah kalian mencaci maki para sahabatku! Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya, seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan dapat menandingi satu mud atau setengahnya dari apa yang telah diinfakkan para sahabatku.’ (Hadits Muslim Nomor 4610)

Walaupun dalam agama Islam terdapat ajaran terkait dengan prinsip-prinsip politik, namun golongan Sunni memilah antara politik dengan ajaran agama (keimanan dan keyakinan). Dengan kata lain, memang dalam agama Islam terdapat ajaran tentang politik namun bukan berarti Islam itu politik. Politik itu tidak terkait dengan status keimanan seseorang dalam agama. Dari prinsip dasar ini kemudian berdampak pada sebuah pandangan manakala dalam umat Islam terdapat golongan-golongan yang berbeda pandangan atau bahkan pertikaian terkait dengan perbedaan pandangan politik, maka tidak akan berdampak pada kedudukan mereka sebagai umat yang tetap muslim yang beriman.

Maka, bagi golongan Sunni berpantangan untuk mudah menuduh golongan lain sebagai sesat atau kafir, manakala konflik antar golongan umat Islam tersebut hanya persoalan politik. Sebab pandangan politik dalam agama Islam tidak terkait dengan keimanan, aqidah, i’tiqad atau yang lainnya.

Berbeda dengan sebagaian golongan umat Islam seperti ISIS, Al-Qaeda, Ikhwanul Muslimin (HTI), dan Syi’ah yang memasukkan perkara politik ke dalam i’tiqad mereka. Sehingga tidak heran manakala terdapat perbedaan pandangan politik seperti apakah memperjuangan izzatul Islam wal muslimin (kemuliaan agama dan umat Islam) harus menggunakan kekuasaan atau tidak, maka mereka akan mudah menuduh golongan lain sebagai thagut atau kafir yang layak untuk diperangi dan bahkan layak untuk dibunuh seperti pandangan golongan Khawarij yang kemudian membunuh sahabat Ali bin Abi Thalib karena dianggap telah sesat.

Kedua, Tidak mudah menuduh kafir

Dalam masalah takfir (mengkafirkan), Sunni amat berhati-hati, karena bila sembrono efeknya akan kembali kepada si penuduh. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi berikut,

لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang melempar tuduhan kepada orang lain dengan kefasikan, dan tidak pula menuduh dengan kekufuran melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya, jika saudaranya tidak seperti itu.” (Hadits Bukhari Nomor 5585)

Sunni tidak akan mudah mengkafirkan ahlul qiblah atau selama masih mengakui tidak ada ada Tuhan selain Allah dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah; mengakui hal-hal prinsip dan sudah pasti dalam agama (al-ma’lum mina diini bid dhoruroh) seperti rukun Islam, rukun iman, dan perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, hisab, shirath, malaikat, jin, peristiwa isra’ dan mi’raj dll. yang informasi mengenai hal-hal tersebut hanya diketahui dari Kitabullah dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mutawatir. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi berikut,

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH” (Hadits Bukhari Nomor 407)

Dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَإِذَا قَالُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’. Jika mereka telah mengucapkan ‘LAA ILAAHA ILLALLAH’ maka telah terjaga dariku darah (membunuhnya) dan (merampas) harta mereka kecuali haknya, dan hisap mereka atas Allah.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3918)

Jadi, selama seseorang masih mengucapkan syahadat atau bahkan dia berpura-pura, maka status dzahirnya adalah tetap dihukumi Islam. Perkara batinnya mengingkari, itu bukan lagi urusan manusia, namun itu sepenuhnya hak Allah yang dapat menghukumi. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi berikut,

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحُرَقَةِ مِنْ جُهَيْنَةَ قَالَ فَصَبَّحْنَا الْقَوْمَ فَهَزَمْنَاهُمْ قَالَ وَلَحِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلًا مِنْهُمْ قَالَ فَلَمَّا غَشِينَاهُ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَكَفَّ عَنْهُ الْأَنْصَارِيُّ فَطَعَنْتُهُ بِرُمْحِي حَتَّى قَتَلْتُهُ قَالَ فَلَمَّا قَدِمْنَا بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقَالَ لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا قَالَ أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَكُنْ أَسْلَمْتُ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengutus kami ke perkampungan Hurqah di bani Juhainah. Kami menyerang mereka di pagi buta dan menjadikan mereka kocar kacir. Saya dan seorang laki-laki anshar berhasil menemukan seseorang dari mereka. Tatkala kami bisa mengepung, ia tiba-tiba mengatakan; ‘laa-ilaaha-illallah.’ Si laki-laki anshar menahan penyerbuannya, sedang aku meneruskannya hingga kubunuh orang itu. Ketika kami pulang, peristiwa ini disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau berujar kepadaku: “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa-ilaaha-illallah?” Kujawab; ‘betul, Ya Rasulullah, ia mengucapkannya hanya sekedar mencari keselamatan.’ Nabi melanjutkan: “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan laa-ilaaha-illallah?” Nabi berulangkali menegurku dengan ucapan ini hingga aku mengandai-andai kalaulah aku belum masuk Islam sebelum itu. (Hadits Bukhari Nomor 6364)

Ketiga, Tidak mudah menuduh sesat

Sunni juga tidak mudah memvonis sesat sebuah pemikiran atau pendapat seseorang yang berangkat dari dalil yang tidak tegas (ijtihadi) atau masih terbuka ruang perbedaan pendapat di dalamnya. Sebagaimana Nabi telah mengecam seorang sahabat yang mudah menuduh munafik terhadap sahabat lain yang kebetulan amaliah dan ubudiah yang bersifat furuiyah (cabang-cabang keagamaan). Sebagaimana sebuah riwayat hadiits berikut,

كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى قَوْمَهُ فَأَمَّهُمْ فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَانْصَرَفَ فَقَالُوا لَهُ أَنَافَقْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ وَلَآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَأُخْبِرَنَّهُ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا أَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُعَاذٍ فَقَالَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ بِكَذَا وَاقْرَأْ بِكَذَا

“Muadz shalat bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian dia datang, lalu mengimami kaumnya. Maka dia melakukan shalat Isya’ pada malam tersebut bersama Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian mendatangi kaumnya, lalu mengimami mereka. Lalu dia membuka (mengimami) dengan (bacaan yang terlalu panjang dari) surat al-Baqarah, maka seorang laki-laki berpaling lalu salam, kemudian shalat sendirian, lalu berpaling pergi. Maka mereka menuduh kepadanya, ‘Apakah kamu berlaku munafik wahai fulan? ‘ Dia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, aku akan mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku akan mengabarkan kepada beliau. Lalu dia mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya para pekerja penyiram (tanaman) bekerja pada siang hari (sehingga kecapekan), dan sesungguhnya Mu’adz shalat Isya’ bersamamu, kemudian dia datang kepada kami lalu shalat dengan membukanya dengan surat al-Baqarah.’ Maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam menghadap Mu’adz seraya bersabda, ‘Wahai Mu’adz, apakah kamu pemfitnah (yang membuat orang lari dari agama), bacalah dengan surat ini dan bacalah dengan ini’ -maksudnya surat yang ringkas dan pendek–.” (Hadits Muslim Nomor 709)

Sunni amat menghargai perbedaan pendapat karena perbedaan pendapat di kalangan umat adalah takdir dan ketetapan Allah. Pandangan ini didasarkan pada firman Allah berikut,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu (berbeda dan bervariasi) dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Surat Al-Hujurat Ayat 13)

Bukannya Allah tidak bisa menciptakan hamba dan manusia satu umat, namun saja Allah memang tidak mau dan memang sengaja memecah belah hambanya. Sebab, Allah hendak menimbulkan hikmah dari perbedaan umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ

“Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia (telah menetapkan hambanya saling berbeda dan berselisih) memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya.” (Surat Asy-Syura Ayat 8)

Juga senada dengan ayat berikut,

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Surat An-Nahl Ayat 93)

Nabi juga menyatakan hal yang sama bahwa umatnya akan terpecah menjadi beberapa golongan yang lebih banyak dibanding Yahudi dan Nasrani. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

“Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan akan masuk surga dan yang tujuh puluh golongan akan masuk neraka. Dan orang-orang Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan masuk neraka dan yang satu golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu golongan masuk surga dan yang tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka.” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?” beliau mennjawab: “Yaitu Al Jama’ah.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3982)

Memang dalam ayat yang lain Allah memerintahkan antar golongan yang berbeda untuk bersatu. Namun bukan berarti Allah menghendaki mereka menjadi satu umat. Maksud menjadi umat yang bersatu adalah saling menghargai, menghormati agar timbul rasa saling kasih sayang (lita’arafu), sebagaimana firman Allah pada Surat Al-Hujurat Ayat 13.

Bukan hanya kehendak Allah untuk memecah hambanya dan umat manusia menjadi kelompok-kelompok yang berbeda. Namun lebih dari pada itu, Allah jelas-jelas menetapkan umat manusia akan saling berselisih dan bertikai antara satu dengan yang lainnya. Sehingga golongan Sunni dalam berfikir (manhajnya) tidak akan terlalu risau akan perbedaan, pertentangan, pertikaian, dan permusuhan antar umat manusia dan antar golongan satu dengan golongan lainnya. Sebab perselisihan tersebut sudah ketetapan Allah. Bahkan bagi mereka yang menolak fakta dan realita ini sama halnya telah menolak takdir dan ketetapan Allah. Pandangan ini didasarkan pada firman Allah berikut,

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi (Allah telah menetapkan) mereka senantiasa berselisih pendapat,” (Surat Hud Ayat 118)

Perpecahan dan pertikaian antar umat Islam juga dinyatakan oleh Nabi pembawa risalah Agama Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي اخْتِلَافٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يَرْجِعُونَ حَتَّى يَرْتَدَّ عَلَى فُوقِهِ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ طُوبَى لِمَنْ قَتَلَهُمْ وَقَتَلُوهُ يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِي شَيْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ

“Akan terjadi perbedaan dan perpecahan di antara umatku, sebagian kelompok pandai dalam berbicara namun akhlak mereka buruk. Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah lepas dari busurnya, dan mereka tidak akan kembali lagi hingga anak panah kembali ke busurnya. Mereka adalah seburuk-buruk manusia. Maka beruntunglah orang yang membunuhnya dan mereka membunuhnya. Mereka mengajak kepada Al-Qur’an, tetapi mereka sendiri tidak mengamalkannya sama sekali. Siapa memerangi mereka, maka yang demikian lebih mulia di sisi Allah.” (Hadits Abu Daud Nomor 4137)

Perpecahan dan pertikaian umat Islam ini tidak perlu disesali, sebab hal ini merupakan ketetapan dan fitrah umat manusia. Yang perlu disadari hanyalah; Tugas umat manusia dan tugas setiap golongan umat Islam bukan untuk menyatukan umat manusia atau umat Islam, karena hal itu bukan wewenang kita melainkan merupakan wewenang Allah. Namun tugas manusia hanyalah mengambil hikmah dari setiap perbedaan ini dan menyikapi dengan rasa saling menghormati dan toleransi. Dengan kata lain, tidak penting perbedaannya, karena yang terpenting adalah bagaimana cara menyikapi perbedaan tersebut sehingga menjadi rahmah. Salah satu cara perbedaan agar menjadi rahmah adalah sikapi dengan saling toleransi, menghormati, dan menghargai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ. وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Surat Yunus Ayat 40-41)

Sebagai bukti keimanan seseorang adalah manakala mereka sudah menerima dan menhormati perbedaan yang mana itu sudah merupakan ketetapan Allah. Berlepas dirilah untuk saling menuduh agar kita menjadi hamba yang disayangi Allah, sebab kita tidak lebih tahu dari hikmah yang akan sedang direncanakan oleh Allah.

Keempat, Sangat toleran terhadap perbedaan

Karakter golongan Sunni adalah lebih rileks, kalem, sejuk, dan temperamennya tidak meledak-ledak. Kepribadian golongan Sunni yang terbukti dianut oleh mayoritas umat Islam seluruh dunia sebab sangat sesuai dengan karakter dan fitrah manusia di mana manusia sejatinya lebih menyukai kedaiaman. Golongan Sunni memiliki jiwa yang sangat toleran sebagai bentuk mengakui dan menerima ketetapan Allah.

Golongan Sunni berpandangan bahwa sudah tidak penting perbedaan dan perpecahannya yang dialami oleh umat Islam, sebab itu sudah ketetapan Allah. Golongan Sunni berpandangan bahwa yang lebih penting adalah menyikapi perpecahan tersebut dengan rasa hormat dan toleransi dari pada memperburuk perbedaan dan perpecahan umat Islam dengan sikap-sikap ekstrim dan fundamentalis. Percuma saja keinginan untuk menyatukan umat Islam malah terjebak pada pertikaian yang lebih parah sehingga membuat umat Islam menjadi semakin lemah dan pada akhirnya memberikan peluang pada orang kafir menginjak-injak harkat dan martabat agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu (memperuncing perpecahan umat Islam dengan terlalu) berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu (lemah) dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Surat Al-Anfal Ayat 46)

Karena sikap toleransinya yang dianut oleh golongan Sunni tersebut yang menjadikan golongan Sunni lebih mudah diterima oleh semua golongan. Sehingga golongan Sunni lebih mudah menyebar ke seluruh penjuru bumi tanpa menggunakan peperangan.

Memiliki jiwa toleransi akan menyebabkan umat Islam menjadi lebih mulia, seperti kemuliaan yang lebih dimiliki oleh malaikat dibanding setan sebab malaikat menerima perbedaan sebagai ketetapan Allah dengan kehadiran makhluq baru ciptaan Allah yang berupa manusia. Sebaliknya setan menjadi terlaknat sebab menolak Adam sebagai simbol perbedaan ciptaan Allah. Hal ini digambarkan dengan jelas dalam firman-Nya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ. قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ. قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. (Surat Al-A’raf Ayat 11-13)

Itulah keadaan makhluk-makhluk Allah yang hina dan terlaknat sebab bersikap ektrim dan enggan untuk bertoleransi terhadap perbedaan. Janganlah bersikap ekstrim dalam menjalankan ajaran agama Islam. Sebab sikap ektrim akan menyebabkan kita sebagai umat Islam mudah terkalahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit).” (Hadits Bukhari Nomor 38 dan Hadits Nasai Nomor 4948)

Sikap ekstim dan radikal bukan hanya mudah dikalahkan, namun juga menjadi penyebab kebinasaan. Perhatikan sejarah kehidupan manusia dan sejarah perjalanan umat Islam yang pernah mengalami kekalahan dan kebinasaan disebabkan sikap ektrimnya, seperti Khawarij, ISIS, dan lain sebaginya. Terkait hal ini Nabi telah mengingatkan umatnya untuk selalu bersikap moderat dan toleransi. Sebagaimana sabdanya,

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama, karena yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (Hadits Nasai Nomor 3007 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 3020)

Agar umat Islam tidak mengalami kekalahan dan kebinasaan. Dan agar agama Islam disegani dan berwibawa di hadapan orang-orang kafir, pilihannya tidak ada lain selain harus bersikap toleran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 256)

Jangan memaksakan kehendak dalam beragama, sebab tugas kita hanya menyampaikan kebenara dalam dakwah. Namun hidayah hanyalah wewenang Allah. Dan bukan tugas kita untuk menuduh golonagn lain sesat, karena hanya Allah yang tahu siapa yang tersesat dari hambanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Surat Al-Qasas Ayat 56)

Jadilah umat yang dicintai Allah sebab sikap toleransinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersbda,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; ditanyakan kepada Rasulullah saw. “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: “Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)”

Akan selalu ada hikmah dari setiap ketetapan Allah, termasuk hikmah kenapa Allah menciptakan umat manusia dan umat Islam menjadi berbeda dan terpecah-pecah. Bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kita, dan boleh jadi (pula) kita menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kita; Allah mengetahui, sedang kita tidak mengetahui. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan (sudah menjadi ketetapan Allah) atas kamu (umat manusia untuk saling) berperang (bertikai dan bermusuhan), padahal berperang (brtikai) itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 216)

Karena perbedaan, permusuhan, perpecahan, dan pertikaian merupakan keputusan dan ketetapan Allah. Maka terimalah perbedaan dan perpecahan umat Islam yang telah terjadi dan akan terus terjadi tersebut dengan rasa ikhlas dan hormat akan keputusan Allah, dengan cara jangan larut dan semakin memperuncing pertikaian tersebut dengan menambah sikap toleransi dan hindari untuk menjadi golongan yang bersikap saling mencaci-maki dan saling mengkafirkan. Inilah pandangan yang dianut oleh golongan Sunni sebagai wujud sikap moderatnya.

Kelima, Mengakui bahwa kehendak manusia itu tetap di dalam kehendak Allah

Mengenai perbuatan manusia, Berbeda dengan golongan Jabariyah yang berpendapat, perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan, artinya manusia tidak lebih laksana wayang yang digerakkan oleh dalang.  Dan Qodariah yang berpendapat sebaliknya, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya tanpa ada “campur tangan” Tuhan terhadapnya. Sedangkan Sunni berpendapat di antara keduanya (Jabariyah dan Qadariyah) bahwa perbuatan manusia pada dasarnya diciptakan oleh Tuhan, namun manusia memiliki kuasa (kasb) atas perbuatannya yang bersamaan dengan kehendak Tuhan. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Surat Ar-Ra’d Ayat 11)

Keenam, Sunni menggunakan dua dalil, yakni naqli dan aqli

Dalam memahami teks Al-Quran dan sunnah, Sunni berpendapat bahwa ada ruang bagi akal untuk memahami teks. Artinya ada teks yang mengandung makna haqiqi dan ada teks yang mengandung makna majazi(metaforis) yang membuka ruang akal (tafsir) untuk memahaminya. (akan dijabarkan lebih lanjut)

Ketujuh, Dosa dan Pahala hanya persoalan dzahir, sedangkan hak untuk memutuskan di tangan Allah

Mengenai perbuatan dosa atau masuk surga dan neraka manusia, Sunni berpendapat manusia divonis telah berdosa di dunia apabila telah melanggar hukum-hukum syariat sedangkan di akhirat mutlak adalah keputusan Allah. (akan dijabarkan lebih lanjut)

Kedelapan, Allah memiliki dzat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan

Mengenai sifat Allah, Sunni berpendapat bahwa Allah memiliki sifat. Dzat (esensi) dan Sifat (atribut) adalah dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan, seperti halnya sifat manis yang melekat pada gula. Antara atribut manis dan esensi pada gula keduanya menyatu, namun tak bisa dilepaskan satu sama lain. Sifat senantiasa menyatu dengan Dzat (esensi).

Kesembilan, pantangan bagi Sunni untuk memberontak

Terkait dengan politik dan kekuasaan, Sunni menyatakan haram hukumnya bughot (memberontak) meskipun pemerintahan itu zhalim,karena hanya akan menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah yang tak berkesudahan di kalangan umat. Namun pemerintahan hasil kudeta adalah pemerintahan yang sah karena terkait dengan kesejahteraan umat dan legalnya beberapa hukum syariat. (akan dijabarkan lebih lanjut)

Kesepuluh, Menerima kebiasaan masyarakat setempat

Sunni tidak menolak tradisi dan kebudayaan yang sudah lama berkembang dan mendarah daging di tengah masyarakat, asal tidak bertentangan dengan syariat. Namun bila bertentangan dengan syariat, Sunni menolak perubahan dilakuan secara radikal dan revolusioner. Perubahan harusdilakukan secara bertahap.Atau tidak harus merubahnya, tetapi mewarnai tradisi dan kebudayaan tersebut sehingga cocok dengan ajaran Islam. (akan dijabarkan lebih lanjut)

Kesebelas, Kaidah dasar Sunni

Sunni adalah golongan yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi, para sahabat, dan mengikuti warisan para wali dan ulama. Secara spesifik, Sunni yang berkembang maayoritas di dunia adalah mereka yang dalam fikih mengikuti Imam Syafi’i, dalam akidah mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan dalam tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Hasan al-Syadzili. Kaidah dasar yang sering dipakai golongan Sunni adalah sebagai berikut:

مُحَافَظَةُ عَلَى قَدِيْمِ الصَّالِحْ وَالْاَ خْذُ عَلَى جَدِيْدِ الْاَ صْلَحْ

Artinya: “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”

Kaidah di atas menunjukkan bahwa Sunni sebagai sebuah dasar pemikiran dapat menerima suatu hal yang baru dan tidak ekstrim membid’ah hal yang baru tersebut, di sisi lain Sunni masih menjaga dan melestarikan tradisi atau kebiasaan lama yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Dan masih banyak lagi cara pandang golongan Sunni

Gerakan Sunni

Fleksibilitas Ajaran Sunni

Sepanjang sejarah perjalanannya, prinsip jalan tengah yang ditempuh Sunni, yang mewujud dalam karakter tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) membuat Sunni mampu bertahan hidup dan berkembang di wilayah mana saja dan mampu melebur dengan kebudayaan setempat, serta senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (dinamis).

Dalam sejarah penyebaran Islam di penjuru dunia. Dan khususnya di Nusantara, dai-dai Sunni awal di Nusantara seperti Walisongo tak mengalami benturan dengan kebudayaan masyarakat lokal. Pasalnya, kata Clifford Gertz, dalam menyebarkan agama Islam mereka tidak hanya berperan sebagai pendakwah yang menyiarkan agama Islam, akan tetapi sebagai cultural broker. Terkait dengan ini, Islam memiliki sebuah kaidah bahwa selama tidak mengandung unsur-unsur keharaman seperti kesyirikan, kemaksiatan, dan lain sebagainya, maka sebuah adat dan budaya dapat diakomodir. Dengan kata lain, kebaikan yang diciptakan manusia juga dapat diterima dalam agama Islam, Kebolehan sebuah kebiasaan, tradisi, budaya, dan adat istiadat masyarakat setempat sesuai kaidah,

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan (tradisi sebuah kaum) dapat dijadikan hukum”

Kaidah tersebut berdasarkan Hadits Nabi,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Perlu diketahui bahwa ternyata ajaran syariat agama Islam tidak sepenuhnya murni berasal dari Allah dan Nabi, banyak nash yang menunjukkan bahwa ajaran agama Islam bisa berasal dari berbagai sumber. Sebetulnya tidak aneh lagi bahwa Islam memang faktanya sebagai agama penerus dari agama-agama samawi sebelumnya. Di samping itu juga, Muhammad sebagai utusan kepada umat manusia memang disesuaikan dengan kondisi adat dan istadat yang ada, sebagaimana dikatakan oleh Allah bahwa Nabi diutus disesuaikan dengan kondisi tradisi kaumnya,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa (tradisi) kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 4)

Yang dimaksud bahasa tersebut bukan berarti hanya sekedar bahasa lisan. Namun bahasa kearifan lokal, budaya, dan tradisi kaum yang ada. Nabi juga biasa dan dibenarkan oleh Allah meniru tradisi-tradisi dan budaya masyarakat pada masa itu dan masa-masa sebelumnya, selama hal itu tidak diatur oleh Allah. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ

“Rasulullah SAW. lebih suka mencontoh para Ahli kitab, selama belum ada perintah tertentu (syariat tertentu) mengenai urusan itu.” (HR. Muslim No. 4307)

Hadits ini bukti kuat bahwa tiru meniru merupakan hal biasa dan itu menjadi fiitrah manusia. Namun, selama tidak ada aturan, larangan, atau perintah yang konkrit dari Allah, maka umat Islam boleh melakukan kreasi dan inovasi walaupun harus meniru kaum dan bangsa lain. Meniru bangsa lain dibenarkan oleh agama apalagi terkait dengan hal-hal kebaikan dan kemajuan, karena Allah sangat menganjurkan umat Islam banyak melakukan kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl[16]: 97)

Memperbanyak amal shalih pasti tidak akan disia-siakan oleh Allah. Allah pasti akan membalas dengan banyak pahala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. al-Baqarah[2]: 62)

Seandainya Nabi masih hidup sekarang, ketika umatnya memohon dan atau mengusulkan apa pun; baik sebuah ibadah mutlak, sebuah tradisi, atau sebuah kreasi dan inovasi kepada Nabi, selama itu tidak mengandung kesyirikan dan kemaksiatan, apalagi usulan tersebut kepada Nabi mengandung kebaikan, kemaslahatan dan mengandung nilai-nilai syi’ar yang mengagungkan Allah, pasti usulan kita akan diterima dan pasti akan sangat didukung oleh Allah, karena usulan sebuah kreasi dan inovasi dalam agama Islam dari umatnya kepada Nabi memang dianjurkan dan disyariatkan. Dengan kata lain, inisiatif untuk menciptakan suatau kebiasaan baru yang baik, memang merupakan bagian dari syariat itu sendiri. Pemahaman ini sangat didukung oleh sabda Nabi berikut,

قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

“Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, mereka (Qurays Arab) tidaklah meminta kepadaku suatu adat kebiasaan (tradisi dan budaya), yang terdapat unsur-unsur di mana mereka mengangungkan kehormatan-kehormatan Allah melainkan aku pasti akan mengabulkannya”. (HR. Bukhari No. 2529)

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَمَّا وَاللهِ لاَ يَدْعُونِي الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ ، يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرْمَةً ، وَلاَ يَدْعُونِي فِيهَا إِلَى صِلَةٍ إِلاَّ أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا. رواه ابن أبي شيبة

“Ingatlah, demi Allah, mereka (orang-orang musyrik) tidak mengajakku pada hari ini terhadap suatu kebiasaan, di mana mereka mengagungkan hak-hak Allah, dan tidak mengajukku suatu hubungan, kecuali aku kabulkan ajakan mereka.” (HR. Ibnu Abi Syaibah No. 36855)

Ini dalil yang tidak dapat ditolak dan sangat kuat sekali: bilamana sebuah tradisi, adat budaya, atau sebuah kebiasaan baru dari kaum muslimin, walaupun tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, selama mengandung unsur-unsur keagungan Allah dan agama Islam, merupakan kehalalan secara mutlak.

Dengan begitu sebuah tradisi yang berakar dari kearifan lokal perkara yang dibenarkan untuk dilakukan, sebab Nabi mendiamkan sebagai bentuk keringanan dan rahmat bagi umatnya. Sebagaimana banyak riwayat hadits menganai hal ini. Di antaranya,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Oleh karena itu, Islam di seluruh dunia moyoritas memiliki corak dan terbentuk dari budaya lokalnya masing-masing. Hal ini terlihat dari arsitektur rumah ibadah, istana kesultanan, tradisi dan ritual keagamaan, kuliner, fashion, hingga sistem pengajaran dan pendidikan. Lebih khusus lagi adalah Islam di Indonesia itu sangat unik dan berbeda dengan Islam di tanah asalnya, Arab.

Orientasi Sunni Bukan Kekuasaan

Ajaran Sunni yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia orientasinya tidak lain adalah mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat baik bidang agama, sosial, politik, maupun ekonomi. Sunni bukanlah golongan yang menjadikan kekuasaan politik sebagai tujuan. Artinya, bagi Sunni kekuasaan bukanlah indikator keberhasilan dakwah Islamiah, tetapi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Hal ini berbeda dengan kaum Syiah dan Khawarij, atau golongan yang baru muncul seperti Ikhwanul Muslimin (HTI), ISIS, Al-Qaida yang orientasi utamanya adalah politik kekuasaan.

Jadi, tidak heran bilamana kita saksikan golongan lain yang menjadikan politik sebagai orientasi utamanya mudah terjebak pada konflik dan pertikaian. Golongan Islam yang memiliki pandangan bahwa Islam tidak akan pernah bisa diperjuangkan selama tidak tegak sebuah kekuasaan akan mudah terjebak konflik dan permusuhan dengan saling menghujat, mengkafirkan, menyesatkan, dan bahkan saling memerangi dan saling membunuh. Dengan kata lain mereka beranggapan bahwa tanpa kekuasaan maka Islam sebagai agama tidak dapat diperjuangkan. Bahkan lebih ekstrim lagi mereka berfikiran bahwa Islam dan Nabi Muhammad tidak akan pernah menjadi rahmatan lil alamin selama tidak ada kekuasaan Islam. Pandangan ini sebagaimana yang disampaikan oleh ustadz Abdul Somad yang bermadzhab Syafi’i namun berharakah Ikhwanul Muslimin.

Berbeda dengan golongan Sunni, dengan prinsip jalan tengahnya, dalam bidang politik Sunni menghendaki tatanan politik yang stabil. Golongan Sunni sudah tidak lagi mempersoalkan hidup di sebuah teretorial dengan sistem apapun. Entah sebuah wilayah dibangun atas dasar sistem kerajaan, demokrasi, komunis, kapitalis, maupun khilafah sudah tidak penting lagi. Golongan Sunni akan mudah menerima dan bisa hidup dalam sistem apapun. Sebab orientasi golongan Sunni bukan politik kekuasaan, namun orientasi utamanya adalah politik kebangsaan dan kemaslahatan. Yaitu menciptakan sebuah degeri madani dan penuh kesejahteraan. Pandangan ini didasarkan pada firman Allah berikut,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (Surat Saba’ Ayat 15)

Selama sebuah sistem negara memberikan ruang untuk berkembangnya faham Islam dan memberikan kebebasan bagi umat Islam untuk mengamalkan ajaran agamanya, maka golongan Sunni akan oke-oke saja, dan bisa menerima serta akan mampu bekerjasama dengan sebuah sistem negara tersebut.

Namun sebaliknya, apapun sistem dari sebuah negara, bilamana tidak ramah dengan ajaran agama Islam dan tidak ramah terhadap kehidupan umat Islam. Golongan Sunni tidak akan segan-segan lagi untuk melakukan perlawanan (bukan pemberontakan) terhadap sistem negara tersebut. Sebagaimana golongan Sunni pernah memperotes penguasa kerajaan Saudi yang mengklaim dirinya sebagai negara berasaskan Islam, namun berencana memusnahkan makam Nabi SAW karena dianggap syirik.

Hal ini sudah terbukti oleh sejarah di mana pemuka-pemuka spiritual golongan Sunni di seluruh dunia, seperti para ulama, para cendikia, para mursyid thariqat, dan kaum sufi malah menjadi penggerak perlawanan terhadap para penguasa hingga para penguasa bertekuk lutut untuk mengakomodir kepentingan agama dan umat Islam. Sebagaimana peran para Wali Songo di Nusantara yang mampu mempengaruhi para penguasa tanah Jawa untuk menerima Islam sebagai agama mayoritas tanpa menggunakan kekerasan, sehingga tertoreh sebuah peninggalan kesultanan-kesultanan Islam seperti kesultanan Demak, kesultanan Cirebon, dan lain sebagainya.

Golongan Sunni juga memiliki pandangan bahwa selama sebuah sistem negara masih mau mengakomodir kepentingan agama dan umat Islam, maka golongan ini akan mengharamkan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan mengharamkan sebuah tindakan dan pernyataan yang dapat memicu huru-hara politik dan chaos. Mengapa? Karena instabilitas politik dapat memicu kekacauan sosial yang pada ujungnya hanya akan memperumit dan mempersempit umat Islam untuk mengamalkan ajarannya, serta akan menyengsarakan umat.

Hal ini mudah kita saksikan bahwa sepanjang sejarah mencatat di mana bila golongan Islam yang menjadikan politik keuasaan dijadikan sebagai orientasi utama, faktanya malah iklim beragama sulit diamalkan. Sebagaimana kita lihat kondisi yang mengalami kehancuran dari wilayah-wilayah konflik yang dipicu politik kekuasaan. Jangankan untuk kepentingan mengamalkan ajaran agama Islamnya, hanya untuk hidup saja umat sudah sangat mengalami kesengsaraan disebabkan konflik yang tidak berujung atas nama agama dari kepentingan para elitnya.

Sunni menyatakan bahwa Islam tidak meninggalkan sistem politik apapun. Mengenai pengaturan negara diserahkan kepada masyarakat yang membentuk negara itu, sebab masing-masing wilayah memiliki karakteristik yang berbeda di mana sulit untuk dipaksakan harus sama antara satu wilayah dengan wilayah lainnya untuk menganut sebuah kesatuan sistem yang sama. Islam tidak mempersoalkan sistem demokrasi atau monarki. Golongan Sunni juga tidak anti dengan sistem kekhalifahan bila dimungkinkan, dengan catatan bahwa dalam mewujudkan sistem kekhalifahan atas dasar konsensus dari mayoritas masyarakat tanpa adanya pemaksaan kehendak dan kekerasan. Islam hanya memerintahkan seorang pemimpin harus adil dan berakhlakul karimah, senantiasa musyawarah, serta berkomitmen untuk menyejahterakan rakyatnya, sebagaimana kaidah fiqh “tashorruful imam ála roíyah manuthun bil mashlahah” kebijakan seorang pemimpin berdasarkan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam bidang sosial, Sunni menginginkan sebuah tatanan masyarakat yang beradab (tamaddun), dalam arti masyarakat yang membangun, saling menghormati, dan toleran, meski berbeda agama, suku bangsa, dan budaya. Inilah tatanan masyarakat ideal sebagaimana telah diwujudkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam 14 abad yang lalu ketika membangun masyarakat madani (civil society) di Madinah.

Dalam bidang ekonomi, Sunni menekankan pemerataan ekonomi. Sunni mengambil jalan tengah antara kapitalisme-liberalisme dan sosialisme-komunisme. Sunni mengharamkan monopoli atas kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Sunni juga mengharamkan sumber daya alam dan mineral sebuah negara dikuasai oleh pribadi atau segelintir orang. Sunni menekankan keseimbangan antara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat sehingga tercipta keadilan sosial dan ekonomi. Pandangan ini didasarkan pada firman Allah berikut,

مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Surat Al-Hasyr Ayat 7)

Sunni dan Nasionalisme

Bagi Sunni, agama dan nasionalisme tidak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang. Agama dan nasionalisme saling mendukung. Nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai, sementara agama tanpa nasionalisme tak mampu menyatukan elemen-elemen bangsa. Para ulama dari golongan Sunni memiliki filosofi bahwa cinta tanah air sebagian dari iman. Siapa yang tidak mencintai tanah airnya maka belum sempurna imannya. Sebagaimana golongan sunni dengan mudah menerima sistem negara Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara. Bagi golongan Sunni tidak ada alasan menolak sebuah sistem selama sistem tersebut sejalan dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Berikut akan dikutipkan beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang sejalah dengan pancasila.

Sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa” sangat sesuai dengan firman Allah yang berbunyi,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (Surat Al-Ikhlas Ayat 1)

Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” sangat sesuai dengan firman Allah yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 8)

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia” sangat sesuai dengan firman Allah yang berbunyi,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 103)

Sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan” sangat sesuai dengan firman Allah yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 59)

Dan firman Allah,

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Surat Asy-Syura Ayat 38)

Sila kelima, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” sangat sesuai dengan firman Allah yang berbunyi,

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Surat An-Nahl Ayat 90)

Kepatuhan golongan Sunni pada ajaran agama Islam tidak lantas menyebabkan harus membenci tanah air dan tanah kelahirannya. Sebagaimana Nabi yang mencontohkan akan kecintaannya pada tanah kelahirannya Makkah dan Madinah. Hal itu terlihat dari sebuah riwayat hadits berikut,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا. حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta Beliau dan bila menunggang hewan lain Beliau memacunya”. “Beliau memacunya karena kecintaannya (kepada Madinah).” (Hadits Bukhari Nomor 1675)

Begitu pula kecintaan Nabi pada tanah airnya ditunjukkan pada doa-doa beliau. Sebagaimana dalam sebuah riwayat hadits berikut,

ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu.” (Hadits Bukhari Nomor 1756)

Inilah prinsip jalan tengah Sunni dalam menyikapi persoalan kebangsaan. Pandangan ini didasarkan pada sabda Nabi berikut,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu (berbeda dan bervariasi) dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (Surat Al-Hujurat Ayat 13)

Kesimpulan

Alhasil, Sunni bukan hanya sebuah pandangan keagamaan, akan tetapi lebih jauh merupakan pandangan hidup (way of life) seorang muslim dalam menyikapi lingkungannya yang majemuk dan dinamis. Sunni adalah manhajul fikrah wal harakah (landasan pemikirandan gerakan) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik berhubungan dengan agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Seorang muslim penganut Sunni mampu hidup dan menyesuaikan diri serta dituntut untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman masyarakat di manapun mereka hidup. Wallahua’lam

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad yang dikembangkan dari tulisan “Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja” oleh Ustaadz Muhammad Imaduddin

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 114
    Shares