Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup, dan Setan Dibelenggu

Salah satu keistimewaan dan keutamaan bulan Ramadhan disebutkan dalam hadits Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda;

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila datang bulan Ramadlan pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu”. (Hadits Bukhari Nomor 3035 dan Hadits Muslim Nomor 1793)

Dalam hadits yang lain disebutkan,

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

“Pada malam pertama bulan Ramadlan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan”. (Hadits Tirmidzi Nomor 618 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1632)

Ramadhan merupakan bulan dibukanya pintu-pintu surga

Berdasarkan hadits di atas, di antara alasan kenapa Ramadhan menjadi bulan yang istimewa adalah dalam bulan ini pintu-pintu surga dibuka oleh Allah. Hadits terebut menunjukkan bahwa saat bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar. Penyebab dibukanya pintu-pintu surga karena dalam bulan ini banyak amal ibadah dan amal kebaikan yang disyariatkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (Surat An-Nahl Ayat 32)

Oleh karenanya terbukanya semua pintu surga merupakan bentuk rahmat Allah yang ingin memberikan kesempatan bagi hambanya yang hendak menghimpun bekal pahala sebanyak-banyaknya di bulan ini. Mungkin bagi seorang hamba selama aktifitas setahun belum sempat memperbanyak amalan ibadahnya, Ramadhanlah kesempatan terbaiknya. Sebab sekecil apapun suatu amalan pahalanya akan berlipat ganda. Itulah makna pintu-pintu surga dilipatgandakan.

Ramadhan merupakan bulan ditutupnya pintu-pintu neraka

Ramadhan menjadi istimewa disebabkan ditutupnya pintu-pintu neraka di bulan ini. Berkurangnya maksiat akibat meningkatnya ketakwaan kaum muslimin menjadi pendorong pitu-pitu neraka ditutup, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)” (QS. An-Nazi’at: 37-39).

Begitu juga dengan firman Allah berikut,

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya baginyalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya” (QS. Jin [72]: 23).

Lagi-lagi Allah memperluas rahmatnya dengan menjadikan Ramadhan sebagai sarana menebus dosa-dosa yang telah tercipta seama setahun dengan menutup pintu neraka selama bulan mulia ini. Lalu bagaimana bisa kita menyia-nyiakan kesempatan tertutupnya pintu-pintu neraka tersebut dengan tidak menggunakan Ramadhan sebagai sarana peningkatan amal kebaikan dan amal ibadah kita. Kesempatan rahmat ini selayaknya kita gunakan untuk menghapus segala dosa dengan taubat, penyesalan, istighfar dan memohon ampunan terhadap Allah.

Selama bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu

Berdasarkan hadits di atas tentunya akan memunculkan sebuah pertanyaan; “Jika syaitan dibelenggu selama Ramadhan, lalu kenapa masih terjadi kemaksiatan dan kemungkaran?”. Sebagai seorang yang beriman tetaplah harus meyakini apa yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam dalam sabdanya tentu merupakan sebuah kebenaran. Namun, bila sebuah nash yang telah dinyatakan sahih ternyata tidak sesuai dengan realitas yang ada, maka para ulama berusaha memahami makna yang terkandung dalam hadits tersebut dengan berbagai pendekatan,salah satunya adalah menggunakan metode al jam’u wa at taufiq, yaitu mengaitkan dan mengkompromikan riwayat tersebut dengan hadits-hadits lainnya sehingga didapatkan pemahaman yang selaras dengan nalar realitas.

Terkait pembahasan ini menurut Nashirul Haq beberapa ulama telah memberikan penjelasan tentang makna hadits tersebut. Secara umum dapat disimpulkan sebagai-berikut;

Pertama, bahwa di bulan Ramadhan ini, kemaksiatan dan kemungkaran relatif berkurang sebab jin-jin yang jahat dibelenggu dan diikat, sehingga mereka tidak bebas melancarkan godaannya terhadap seorang hamba yang bertakwa dengan disibukkan dengan berbagai amal shalih dan amal ibadah seperti puasa, baca al Qur’an sedekah dan ibadah lainnya yang dapat mengendalikan nafsu syahwat.

Kedua, bahwa di bulan Ramadhan ini terjadi pengurangan kemaksiatan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain dikarenakan kesadaran sosial lebih meningkat dampak dari kesadaran spiritual umat Islam yang juga meningkat. Maksudnya perbuatan maksiat berkurang, sebab suasana peningkatan spiritual tersebut mempengaruhi antar umat Islam saling mengingatkan sehingga tempat-tempat maksiat akan lebih banyak tutup. Tentu saja hal ini dapat mengurangi terjadinya praktek maksiat pada bulan suci Ramadhan.

Ketiga, bahwa kemaksiatan itu hanyalah berkurang dari orang-orang yang berpuasa dengan benar, yaitu mereka yang menunaikan puasanya sesuai tuntunan agama, memenuhi syarat, rukun dan menjaga adab-adabnya. Sedangkan mereka yang tidak menjalankan ketaatan tentulah tetap mudah terjerumus godaan setan.

Keempat, kita memang harus meyakini kebenaran bahwa seleuruh setan dibelenggu saat bulan Ramadhan. Namun perlu diingat bahwa godaan maksiat bukan hanya berasal dari setan golongan iblis, melainkan juga ada jenis godaan maksiat berasal dari setan golongan manusia dengan jiwa-jiwa kotornya.

Kelima, perlu diingat bahwa kemaksiatan yang dilakukan setiap manusia tidak mesti karena berasal dari godaan setan. Bahwa setan bertugas menggoda manusia memang benar, namun kedudukan setan hanya sebagai pemicu godaan bukan sebagai penentu manusia tergoda. Namun kemaksiatan yang dilakukan seseorang juga dapat berasal dari jiwa-jiwa manusia yang gelap, kotor dan penuh syahwat. Itu artinya tanpa ada godaan dari setanpun kecenderungan manusia bermaksiat dapat terjadi karena Allah telah membekali manusia dengan unsur syahwat. Jadi bagi seorang hamba yang mukallaf bila melakukan dosa dalam bulan Ramadhan, kemaksiatan tersebut bukan karena godaan setan melainkan murni dari inisiatif nafsunya sendiri yang mana berarti dosanya akan lebih berlipat. Maka bila seseorang melakukan dosa dalam bulan Ramadhan itu sudah tidak bisa lagi menjadikan syaitan sebagai alasannya.

Dapat disimpulkan bahwa dalam bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu adalah setan diciptakan memang ditugaskan menggoda manusia. Dengan kehadiran Ramadhan setan tidak diberikan keleluasaan untuk menggoda manusia lagi, khususnya bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya.

Berkat rahmat Allah yang membelenggu setan akan lebih memudahkan manusia yang sedang menjalankan ibadah puasa untuk tidak berpaling dan terjerumus ke dalam kemaksiatan. Berkat rahmat Allah hamba yang ikhlas berpuasa memiliki kesempatan besar untuk mengerjakan berbagai amal kebaikan.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 63
    Shares