Perintah Bersifat Mutlak Dapat Diamalkan dalam Bentuk Khusus

Budayakan membaca sampai tuntas…


Kajian ini pembahasannya sama dengan judul artikel berikut;

Hukum Mengkhususkan Ibadah dan Amal

Iftitah

Suatu ibadah yang diperintahkan secara mutlak oleh agama, maka tidak ada halangan bila diamalkan dalam bentuk khusus (dikhususkan). Selama tidak diyakini bentuk khusus tersebut ketetapannya bersifat syariat. Boleh mengamalkan perintah yang bersifat mutlak dengan bentuk pengkhususan tersebut hanya semata-mata bersifat amali manusia dan bersifat amaliyah duniawiyah.

Untuk menyederhanakan pemahaman, dalam pembahasan ini akan lebih menekankan pada hukum pengkhususan waktu. Walaupun target pemahamannya diharapkan juga berlaku terhadap semua bentuk pengkhususan amal dan ibadah dalam ajaran agama Islam. Berikut beberapa kategori pengkhususan yang dapat dilakukan dalam perkara amal dan ibadah. Di antaranya,

Hukum Mengkhususkan Waktu dalam Ibadah

Syariat agama Islam pada prinsipnya tidak mempermasalahkan bila seseorang berkeinginan untuk mengkhususkan atau dengan kata lain menjadwalkan secara rutin sebuah amalan atau ibadah mutlak sesuai situasi dan kondisi dari masing-masing pribadi. Sebab masalah situasi dan kondisi seperti waktu luang dan selera yang dimiliki masing-masing seseorang tentunya bersifat spesifik, satu dengan orang lainnya berbeda. Sebagaimana amalan dan ibadah sunnah mutlak seperti bertaubat, beristighfar, berdzikir, berdoa, dan lain sebagainya. Di mana amalan dan ibadah tersebut dilakukan pada waktu-waktu tertentu, jumlah hitungan tertentu, di tempat-tempat tertentu, atau dengan cara-cara tertentu pula.

Dalam hal mengkhususkan amal dan ibadah yang bersifat mutlak pada waktu-waktu tertentu sering dicontohkan oleh para sahabat di zaman Nabi. Sebagaimana beberapa sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepada Bilal radliallahu ‘anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan (ciptakan) dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga”. Bilal berkata; “Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu’) pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat wudhu’ tersebut disamping shalat wajib”. (Hadits Bukhari Nomor 1081 dan Hadits Muslim Nomor 4495)

Terlihat jelas bahwa shalat sunnah wudu’ merupakan ciptaan bilal yang kemudian direstui oleh Nabi. Dalam hadits di atas terlihat sahabat Bilal mengkhususkan ibadah sunnah wudhunya pada suatu kesempatan-kesempatan yang dia miliki. Baik kesempatan tersebut di waktu malam maupun di waktu siang. Maksudnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah menyuruh atau mengerjakan shalat dua rakaat setiap selesai berwudhu atau setiap selesai adzan, akan tetapi Bilal melakukannya atas ijtihadnya sendiri, tanpa dianjurkan dan tanpa bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.Ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya, bahkan memberinya kabar gembira tentang derajatnya di surga, sehingga shalat dua rakaat setiap selesai wudhu menjadi sunnat bagi seluruh umat. Dengan demikian, berarti menetapkan waktu ibadah berdasarkan ijtihad hukumnya boleh. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata ketika mengomentari hadits tersebut:

ويستفاد منه جواز الاجتهاد في توقيت العبادة لأن بلالا توصل إلى ما ذكرنا بالاستنباط فصوبه النبي صلى الله عليه و سلم

“Dari hadits tersebut dapat diambil faedah, bolehnya berijtihad dalam menetapkan waktu ibadah. Karena sahabat Bilal mencapai derajat yang telah disebutkan berdasarkan istinbath (ijtihad), lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkannya.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 34).

Pada kesempatan tertentu seringkali Nabi mengkhususkan sebuah amal dan ibadah secara rutin pada setiap hari Sabtu. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengunjungi masjid Quba’ pada setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki”. (Hadits Bukhari Nomor 1118 Hadits Muslim Nomor 2484)

Karena itu al-Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani rahimahullah berkata:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك وفيه أن النهي عن شد الرحال لغير المساجد الثلاثه ليس على التحريم

“Hadits ini, dengan jalur-jalurnya yang berbeda, mengandung dalil bolehnya menentukan sebagian hari, dengan sebagian amal saleh dan melakukannya secara rutin. Hadits ini juga mengandung dalil, bahwa larangan berziarah ke selain Masjid yang tiga, bukan larangan yang diharamkan.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 3 hlm 69).

Menkhususkan sebuah kesunnahan seperti ziarah kubur juga sering dilakukan oleh Nabi. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان

“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. (HR. Al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453)

Kebiasaan menjadwal ziarah kubur juga dilanjutkan oleh putrinya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات

“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], Al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

Hadits di atas juga disebutkan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Syarh al-Shudur hlm 185, dan ditentukan bahwa makam Syuhada yang diziarahi setiap oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syuhada peperangan Uhud. Hadits ini dapat dijadikan dalil, tentang tradisi haul kematian setiap tahun.

Mengadakan kegiatan pengajian seperti majlis ta’lim untuk tausiyah dan ceramah dapat dilakukan dalam waktu-waktu yang dikhususkan. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدِّثْ النَّاسَ كُلَّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ أَبَيْتَ فَمَرَّتَيْنِ فَإِنْ أَكْثَرْتَ فَثَلَاثَ مِرَارٍ وَلَا تُمِلَّ النَّاسَ هَذَا الْقُرْآنَ

“dari [Ibnu Abbas] dia berkata; “Berbicaralah (berdakwahlah dengan menyampaikan kebenaran firman Allah dan Sabda Nabi) kepada orang-orang setiap Jum’at sekali, jika kamu enggan, maka dua kali, dan apabila kamu ingin lebih banyak lagi, hendaknya hanya tiga kali (setiap Jum’at). Janganlah membuat orang-orang bosan dengan Al Qur’an ini.” (Hadits Bukhari Nomor 5862)

Menetapkan hari-hari tertentu dengan kebaikan, telah berlangsung sejak masa sahabat. Karena itu para ulama di mana-mana, mengadakan tradisi Yasinan setiap malam Jum’at atau lainnya, dan beragam tradisi lainnya. Hal ini telah berlangsung sejak masa salaf.

Mengadakan pengajaran seperti majlis-majlis kajian dengan cara mengkhususkan waktu dan harinya sangat dibenarkan karena Nabi juga membuat jadwal kegiatannya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

“bahwa [Abdullah bin Mas’ud] memberi pelajaran (tausiah dan ceramah) kepada orang-orang setiap hari Kamis, kemudian seseorang berkata: “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh aku ingin kalau anda memberi pelajaran kepada kami setiap hari” dia berkata: “Sungguh aku enggan melakukannya, karena aku takut membuat kalian bosan, dan aku ingin memberi pelajaran kepada kalian sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi pelajaran kepada kami karena khawatir kebosanan akan menimpa kami”. (Hadits Bukhari Nomor 68 dan Hadits Muslim Nomor 5048)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki waktu tertentu untuk berceramah kepada para sahabatnya, kecuali dalam khutbah Jum’at dan hari raya secara rutin. Beliau memberikan nasehat kepada mereka kadang-kadang saja, atau ketika ada suatu hal yang perlu diingatkan kepada mereka. Kemudian setelah beliau wafat, para sahabat menetapkan hari-hari tertentu untuk menggelar pengajian. Hal ini membuktikan bahwa menetapkan hari-hari tertentu untuk kebaikan hukumnya boleh.

Menjalankan sebuah amal atau ibadah dengan cara mengkhususkan dalam suatu waktu bisa dirutinkan, atau dalam lain waktu kemudian tidak lagi dikerjakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَيْتُ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ الْجُهَنِيَّ فَقُلْتُ أَلَا أُعْجِبُكَ مِنْ أَبِي تَمِيمٍ يَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَقَالَ عُقْبَةُ إِنَّا كُنَّا نَفْعَلُهُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ فَمَا يَمْنَعُكَ الْآنَ قَالَ الشُّغْلُ

“Aku [Martsad bin ‘Abdullah Al Yazaniy] menemui [‘Uqbah bin ‘Amir Al Juhaniy] lalu aku berkata kepadanya: “Apakah kamu tidak heran terhadap Abu Tamim yang dia shalat dua raka’at sebelum shalat Maghrib? Maka (‘Uqbah) menjawab: “Kami dulu juga melakukannya pada masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “. Aku berkata: “Lalu apa yang menghalangimu dari mengerjakannya sekarang?” Dia menjawab: “Kesibukan”. (Hadits Bukhari Nomor 1112)

Mengkhuskan waktu untuk beribadah sunah mutlak, dan kemudian tidak mengerjakan karena kesibukan suatu yang dibenarkan dalam agama. Begitu juga walaupun mungkin agama telah menentukan bahwa dalam waktu-waktu tertentu memiliki keutamaan, bukan berati melakukan di luar waktu yang utama tersebut perkara yang dilarang. Mengkhsuskan dengan memilih waktu yang sesuai dengan keadaan dan kondisi kita untuk mengerjakan suatu amal atau ibadah itu dibenarkan. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

مَنْ خَشِيَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِهِ وَمَنْ طَمِعَ مِنْكُمْ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَهِيَ أَفْضَلُ

“Barang siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaknya melaksanakan shalat witir di awal malam, dan barang siapa di antara kalian yang sanggup untuk bangun di akhir malamnya, hendaknya melaksanakan shalat witir di akhir malam, karena sesungguhnya bacaan Al Qur’an di akhir malam adalah disaksikan (oleh para malaikat) dan ia merupakan (waktu) yang paling utama.” (Hadits Tirmidzi Nomor 418)

Dalam agama Islam, menggunakan, memanfaatkan, atau mengkhususkan waktu untuk perkara-perkara kebaikan yang bersifat mutlak sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing umatnya. Sebagaimana yang ditunjukkan sebuah riwayat Hadits berikut,

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Barangsiapa mandi hari Jumat seperti mandi janabat lalu berangkat pada waktu yang pertama, maka seakan ia telah berkurban dengan seekor unta. Barangsiapa berangkat pada waktu yang kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor sapi. Barangsiapa berangkat pada waktu yang ketiga, maka seakan dia berkurban dengan seekor kambing. Barangsiapa berangkat pada waktu yang keempat, maka seakan dia berkurban dengan seekor ayam. Dan barangsiapa berangkat pada waktu yang kelima, maka seakan dia berkurban dengan sebutir telur. Maka jika imam telah datang, para malaikat hadir untuk mendengarkan khutbah.” (Hadits Malik Nomor 209)

Sikap mengkhususkan dengan cara melebihkan atau lebih meningkatkan suatu amalan juga biasa dilakukan oleh para sahabat dan para tabi’in. Sebagaimana Sa’id bin Jubair radliallahu ‘anhu berinisiatif lebih memilih untuk meningkatkan amalannya ketika memasuki tanggal sepuluh (bulan Dzul Hijjah). Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى قِيلَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ قَالَ وَكَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ إِذَا دَخَلَ أَيَّامُ الْعَشْرِ اجْتَهَدَ اجْتِهَادًا شَدِيدًا حَتَّى مَا يَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ

“Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah ‘azza wajalla, dan tidak pula lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang engkau lakukan pada tanggal sepuluh hari Adhha (Dzul Hijjah).” Beliau ditanya; “Tidak pula berjihad di jalan Allah ‘azza wajalla?” Beliau menjawab: “Tidak pula berjihad di jalan Allah ‘azza wajalla, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatupun.” Perawi berkata; Apabila Sa’id bin Jubair memasuki tanggal sepuluh (bulan Dzul Hijjah), ia akan lebih semangat lagi hingga hampir saja ia tidak sanggup untuk mengamalkannya.” (Hadits Darimi Nomor 1709)

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Jadi, perkara khusus-mengkhususkan sebuah amal atau ibadah dalam waktu-waktu tertentu sesuai dengan keinginan dan keadaan masing-masing umat Islam sangatlah biasa dan diperbolehkan. Sebagaimana sahabat Abu Hurairah radliallahu ‘anhu yang berinisiatif untuk mengkhususkan dengan cara membagi-bagi waktu untuk berbagai kebutuhan amal dan ibadahnya. Sebagaimana riwayat Hadits berikut,

تَدَارُسُ الْعِلْمِ سَاعَةً مِنْ اللَّيْلِ خَيْرٌ مِنْ إِحْيَائِهَا و قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Mempelajari ilmu dalam satu malam lebih baik dibandingkan dengan menghidupkannya (Memperbanyak ibadah) “. [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh aku membagi waktu malamku menjadi tiga bagian, sepertiga waktu malam untuk tidur, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga lagi untuk mempelajari hadis Rasulullah salallhu ‘alaihi wa sallam “. (Hadits Darimi Nomor 266)

Dan masih banyak banyak lagi riwayat yang membenarkan umat Islam memanfaatkan waktunya sesuai dengan kondisi dan situasinya masing-masing. Sudah sangat jelas mengerjakan amal sahlih di waktu-waktu yang dikhususkan untuk kemudian dirutinkan merupakan anjuran agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي ذَهَبَ بِنَفْسِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مَاتَ حَتَّى كَانَ أَكْثَرُ صَلَاتِهِ وَهُوَ جَالِسٌ وَكَانَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَيْهِ الْعَمَلَ الصَّالِحَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ وَإِنْ كَانَ يَسِيرًا

“Demi Dzat yang mencabut jiwa shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak meninggal hingga kebanyakan shalat yang beliau lakukan adalah dengan duduk, dan amalan yang paling beliau sukai adalah amal shalih yang dikerjakan secara rutin oleh seorang hamba meskipun sepele. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1215)

Hukum Mengkhususkan Tempat dalam Ibadah

Salah satu tata cara dalam ibadah sunah mutlak seperti dzikir yang diberikan keleluasaan umat Islam untuk menentukan adalah terkait dengan pilihan tempatnya. Pada prinsipnya ibadah dzikir boleh dilakukan di manapun kita berada dan di manapun kita kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (QS. Ali ‘ Imran[3]: 109)

Walaupun dari beberapa tempat telah ditetapkan oleh Allah memiliki kelebihan. Namun begitu, kita dibebaskan untuk melakukan ibadah di manapun kita kehendaki. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

الْأَرْضُ لَكَ مُصَلًّى فَصَلِّ حَيْثُ مَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ

“Dan bumi bagimu adalah masjid, maka shalatlah di manapun tempatnya ketika waktu shalat telah tiba. ” (HR. Ibnu Majah No. 745)

Semua tempat di muka bumi dan seluruh alam semesta layak untuk dijadikan tempat untuk beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيْنَمَا أَدْرَكَ الرَّجُلَ مِنْ أُمَّتِي الصَّلَاةُ يُصَلِّي

“Dijadikannya bumi sebagai tempat bersujud dan bersuci, maka di manapun seseorang dari kalangan umatku mendapati (waktu) shalat, shalatlah di situ. ” (HR. Nasai No. 429)

Memilih tempat untuk beribadah

Walaupun sudah kita ketahui bahwa dalam beribadah kita boleh memilih tempat di manapun. Lalu bagaimana hukum mengkhususkan salah satu atau beberapa tempat untuk kita jadikan tempat beribadah. Bisa jadi selera seseorang berbeda dengan orang lain dalam hal suasana yang lebih mendukung kekhusuaan ibadah seseorang.

Terkait dengan ini ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperbolehkan atau bahkan menganjurkan setiap muslim membuat tempat khusus di manapun dia sukai untuk dijadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا

“Hendaknya seseorang memiliki tempat KHUSUS yang ia pergunakan untuk menyendiri (berkhulwat/meditasi) dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah”. (HR. Darimi No. 316)

Hadits di atas didukung oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah Allah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nur: 36)

Pengkhususan suatu tempat untuk beribadah juga sering dilakukan oleh Nabi. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan tempat ibadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana yang terlihat dari sebuah riwayat hadits berikut,

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa (khusus) beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar (agar beliau bisa shalat seleluasa panjangnya dan tidak ditiru sahabatnya) pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan di antara beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu.” (HR. Nasai No. 754)

Hadits di atas menunjukkan anjuran agar setiap kita memiliki dan membuat tempat baik di rumah atau tempat lainnya yang kita khususkan untuk dipergunakan muhasabah, merenung atau mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan gua Hira untuk media pendekatan diri kepada Allah selain Masjid. Hadits-Hadits berikut yang menggambarkan Nabi suka mencari tempat-tempat khusus untuk beribadah,

فَكَانَ يَلْحَقُ بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ قَالَ وَالتَّحَنُّثُ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

“Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira`, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal.” (Hadits Bukhari Nomor 4572)

Dalam riwayat lain disebutkan,

فَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ يَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ أُوْلَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ

“Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan.” (Hadits Muslim Nomor 231)

Pada hadits di bawah ini disebutkan bahwa Nabi sudah terbiasa memilih suatu tempat dalam masjid untuk menjalankan amal ibadahnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا

“Aku [Yazid bin Abu ‘Ubaid] dan [Salamah bin Al Akwa’] datang (ke Masjid), lalu dia shalat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, ‘Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat shalat dekat tiang ini? ‘ Dia menjawab, ‘Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk shalat di situ’.” (Hadits Bukhari Nomor 472 dan Hadits Muslim Nomor 788)

Berdasarkan Hadits di atas, para sahabat terbiasa memilih suatu tempat dalam masjid seperti di samping tiang (menara) untuk melaksanakan shalat. Pada hadits di bawah berikut ini juga terlihat Nabi beserta istinya Maimunah memiliki tempat khusus untuk melaksanakan ibadah shalat. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ مَيْمُونَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا حِذَاءَهُ وَأَنَا حَائِضٌ وَرُبَّمَا أَصَابَنِي ثَوْبُهُ إِذَا سَجَدَ قَالَتْ وَكَانَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

“dari [Maimunah] ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sementara aku berada di sampingnya, dan saat itu aku sedang haid. Dan setiapkali beliau sujud, pakaian beliau mengenai aku. Dan beliau shalat di atas tikar kecil.” (Hadits Bukhari Nomor 366)

Nabi juga membiarkan kebiasaan sahabatnya yang berebut memilih tempat-tempat khusus untuk shalat sunah dalam masjid. Hal ini terlihat dari riwayat Hadits berikut,

كَانَ الْمُؤَذِّنُ إِذَا أَذَّنَ قَامَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِيَ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ كَذَلِكَ يُصَلُّونَ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْمَغْرِبِ وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ شَيْءٌ

“Jika seorang mu’adzin sudah mengumandangkan adzan (Maghrib), maka para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berebut mendekati tiang-tiang (mencari tempat khusus untuk shalat sunnat) sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar, sementara mereka tetap dalam keadaan menunaikan shalat sunnat dua rakaat sebelum Maghrib. Dan di antara adzan dan iqamat Maghrib sangatlah sedikit (waktunya).” (Hadits Bukhari Nomor 589 dan Hadits Muslim Nomor 1383

Nabi juga membenarkan permintaan seorang sahabat untuk memilihkan suatu tempat dalam rumahnya dengan tujuan tempat tersebut akan dijadikan sebagai tempat khusus untuk beribadah. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يَؤُمُّ قَوْمَهُ وَهُوَ أَعْمَى وَأَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا تَكُونُ الظُّلْمَةُ وَالسَّيْلُ وَأَنَا رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ فَصَلِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي بَيْتِي مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مُصَلَّى فَجَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ فَأَشَارَ إِلَى مَكَانٍ مِنْ الْبَيْتِ فَصَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“bahwa [‘Itban bin Malik] selalu menjadi imam shalat bagi kaumnya. Dan pada suatu hari dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, sering terjadi malam yang gelap gulita dan jalanan becek sedangkan aku orang yang sudah lemah penglihatan. Untuk itu aku mohon shalatlah Tuan pada suatu tempat di rumahku yang akan aku jadikan (khusus) tempat shalat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya di rumahnya. Beliau lalu berkata: “Mana tempat yang kau sukai untuk aku shalat padanya.” Maka dia menunjuk suatu tempat di rumahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian shalat pada tempat tersebut.” (Hadits Bukhari Nomor 627, Hadits Malik Nomor 377, Hadits Ahmad Nomor 15887, dan Hadits Nasai Nomor 780)

Bahkan Nabi memberikan pemahaman bahwa hendaklah setiap umat Islam mengkhususkan dengan mengutamakan tempat-tempat secara pribadi untuk beramal atau beribadah. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُوَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَمَّتِهِ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهَا جَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ قَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي وَصَلَاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ وَصَلَاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلَاتِكِ فِي دَارِكِ وَصَلَاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلَاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلَاتِكِ فِي مَسْجِدِي قَالَ فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

“dari [Abdullah bin Suwaid Al Anshari] dari bibinya [Ummu Humaid] isteri Abu Humaid As Sa’di, bahwa dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai shalat bersamamu!” Beliau bersabda: “Aku sudah tahu jika kamu suka shalat denganku, namun shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu, dan shalatmu di kamarmu lebih baik daripda shalat di rumahmu, dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalat di masjidku.” Ummu Humaid berkata, “Lalu dia diperintahkan untuk membuat masjid di tempat yang paling pojok dalam rumahnya dan yang paling gelap, setelah itu dia shalat di sana hingga dia menemui Allah Azza Wa Jalla.” (Hadits Ahmad Nomor 25842)

Sudah sangat jelas sekali bahwa memilih dan mengkhususkan suatu tempat sebab dirasa lebih nyaman hukumnya tidak diragukan lagi kebolehannya.

Hukum Mengkhususkan Jumlah Hitungan dan Kadar dalam Ibadah

Dzikir merupakan salah satu bentuk ibadah yang bersifat sunnah mutlak. Dzikir merupakan salah satu amalan dalam agama Islam yang telah disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya. Dzikir adalah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam berbagai situasi dan keadaan. Sebab manusia merupakan makhluk yang lemah dan membutuhkan ketergantungan dengan Khaliq-nya. Dengan berdzikir hati akan menjadi tentram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Surat Ar-Ra’d Ayat 28)

Jika dengan dzikir hati menjadi tentram, maka sebagai mukmin seyogyanya memperbanyak dzikir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Surat Al-Ahzab Ayat 41)

Sebagaimana juga yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdzikir,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ الذِّكْرَ وَيُقِلُّ اللَّغْوَ وَيُطِيلُ الصَّلَاةَ وَيُقَصِّرُ الْخُطْبَةَ وَلَا يَأْنَفُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَ الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ فَيَقْضِيَ لَهُ الْحَاجَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memperbanyak dzikir dan sedikit melakukan perbuatan sia-sia. Beliau juga memperpanjang shalat dan mempersingkat khutbah, serta tidak sungkan untuk berjalan bersama para janda dan orang-orang miskin lalu memenuhi kebutuhannya.” (Hadits Nasai Nomor 1397)

Sudah sangat jelas bahwa agama telah memerintahkan hambanya untuk mengamalkan dzikir sebanyak-banyaknya. Lalu seberapa banyak jumlah bilangan dzikir yang mesti kita amalkan? Dalam soal berapa jumlah hitungan dzikir, ada dua model; Pertama dalam situasi dan kondisi tertentu bacaan dzikir dilakukan sebanyak yang telah ditetapkan oleh syariat. Kedua, dzikir dapat dilakukan sebanyak menurut kesanggupan dari masing-masing yang mengamalkan, dengan kata lain tidak dibatasi. Berikut penjelasannya,

Jumlah dzikir yang telah ditetapkan syara’ (muqayyad)

Walaupun pada dasarnya dzikir tidak dibatasi dengan jumlah hitungan, namun ada beberapa situasi di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menghitung jumlah dzikirnya. Memang ada dzikir yang tergolong muqayyad (diatur dengan suatu batasan) sesuai dengan keadaan, waktu, dan tempat. Yang paling banyak disebutkan adalah dzikir seratus kali, seperti: Tahlil seratus kali, tasbih seratus kali, kemudian dzikir ‘Subhaanallah, Alhamdulillaah, Allaahu Akbar” masing-masing 33x, lalu disempurnakan menjadi seratus kali dengan membaca tahlil. Berikut jumlah hitungan dzikir yang tertera dalam beberapa riwayat Hadits,

Dzikir dengan jumlah tiga kali

قَالَ ذَلِكَ (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ ذَكَرَ اللَّهَ وَسَبَّحَهُ وَحَمِدَهُ ثُمَّ دَعَا عَلَيْهَا بِمَا شَاءَ اللَّهُ فَعَلَ هَذَا حَتَّى فَرَغَ مِنْ الطَّوَافِ

Beliau mengucapkan hal tersebut (LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAHU LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI IN QADIIR) sebanyak tiga kali, kemudian berdzikir kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya serta memujinya kemudian berdoa di atasnya dengan yang dikehendaki Allah, beliau melakukan hal ini hingga selesai dari thawafnya. (Hadits Nasai Nomor 2925)

كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ada beberapa bacaan, tidaklah seseorang membacanya tiga kali saat berdiri dari majlisnya kecuali Allah akan menghapus dosanya karenanya. Dan tidaklah seseorang yang mengucapkannya dalam masjlis yang baik dan majlis dzikir, kecuali dengannya Allah akan menutup amal baiknya sebagaimana kertas yang diakhiri dengan kalimat: ‘ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA LAA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA (Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu).” (Hadits Abu Daud Nomor 4216)

Dzikir dengan jumlah empat kali

مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ يُمْسِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلَائِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ أَعْتَقَ اللَّهُ رُبُعَهُ مِنْ النَّارِ فَمَنْ قَالَهَا مَرَّتَيْنِ أَعْتَقَ اللَّهُ نِصْفَهُ وَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا أَعْتَقَ اللَّهُ ثَلَاثَةَ أَرْبَاعِهِ فَإِنْ قَالَهَا أَرْبَعًا أَعْتَقَهُ اللَّهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa ketika waktu pagi dan sore hari membaca: ALLAHUMMA INNI ASHBAHTU USYHIDUKA WA USYHIDU HAMALATA ARSYIKA WA MALAAIKATAKA WA JAMII’A KHALQIKA ANNAKA ANTAALLAHU LAA ILAAHA ILLA ANTA WA ANNA MUHAMMADAN ABDUKA WA RASUULUKA (Ya Allah, aku berada di waktu pagi bersaksi atas-Mu, dan kepada para pembawa Arsy-Mu, kepada semua malaikat, dan kepada semua mahkluk-Mu, bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Engkau, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Mu.) maka Allah akan membebaskan seperempat tubuhnya dari neraka, dan barangsiapa mengucapkannya sebanyak dua kali maka Allah akan membebaskan separuh tubuhnya dari neraka, dan barang siapa yang mengucapkannya sebanyak tiga kali maka Allah akan membebaskan tiga perempat tubuhnya dari neraka, dan barangsiapa membacanya sebanyak empat kali maka Allah akan membebaskan semua anggota badannya dari neraka.” (Hadits Abu Daud Nomor 4407)

Dzikir dengan jumlah sepuluh kali

خَلَّتَانِ لَا يُحْصِيهِمَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ يُسَبِّحُ أَحَدُكُمْ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَهِيَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ فِي اللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ وَأَنَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهُنَّ بِيَدِهِ وَإِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ أَوْ مَضْجَعِهِ سَبَّحَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ فَهِيَ مِائَةٌ عَلَى اللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَانِ

“Ada dua perkara yang jika dilakukan oleh orang muslim maka ia masuk surga. Kedua perkara tersebut ringan, namun jarang yang mengamalkannya.” Abdullah bin ‘Amru melanjutkan, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda lagi: ‘Shalat lima waktu lalu setiap selesai shalat bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali. Semua hal tersebut bernilai seratus lima puluh di lisan dan seribu lima ratus di mizan (timbangan amal di akhirat). Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam menghitung dzikir dengan jari-jarinya, lalu bersabda: ‘Jika kalian hendak menuju kasur atau tempat tidur, hendaklah bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, serta bertakbir tiga puluh empat kali, maka hal itu bernilai seratus kali di lisan dan seribu di mizan.” (Hadits Nasai Nomor 1331)

Dzikir dengan jumlah tiga puluh tiga kali

مُعَقِّبَاتٌ لَا يَخِيبُ قَائِلُهُنَّ يُسَبِّحُ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيَحْمَدُهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَيُكَبِّرُهُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ

“Ada beberapa dzikir setelah shalat yang tidak merugikan bagi orang yang mengucapkannya, yaitu setiap selesai shalat bertasbih kepada Allah tiga puluh tiga kali, bertahmid kepada Allah tiga puluh tiga kali, serta bertakbir kepada Allah tiga puluh empat kali.” (Hadits Nasai Nomor 1332)

Dzikir dengan jumlah tujuh puluh kali

أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari. ” (HR. Ibnu Majah No. 3807)

Dzikir dengan jumlah seratus kali

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلَّا رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ

“Barang siapa yang membaca laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariika lahuu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadir Tidak ada ilah (yang berhaq disembah) selain Allah Yang Maha Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya mendapatkan pahala seperti membebaskan sepuluh orang budak, ditetapkan baginya seratus hasanah (kebaikan) dan dijauhkan darinya seratus keburukan dan baginya ada perlindungan dari (godaan) setan pada hari itu hingga petang dan tidak ada orang yang lebih baik amalnya dari orang yang membaca doa ini kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (Hadits Bukhari Nomor 5924)

إِنَّهُ لَيُغَنُّ عَلَى قَلْبِي حَتَّى أَسْتَغْفِرَ اللَّهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sungguh, kalbuku akan terasuki kelalaian dari dzikir kepada Allah, sehingga saya beristighfar kepada Allah seratus kali.” (Hadits Ahmad Nomor 17175 dan Hadits Muslim Nomor 4870)

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha ilIallaahu wahdah, Iaa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ (Tiada tuhan selain Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki alam semesta dan segala puji hanya bagi-Nya. Allah adalah Maha Kuasa atas segaIa sesuatu) dalam sehari seratus kali, maka orang tersebut akan mendapat pahala sama seperti orang yang memerdekakan seratus orang budak dicatat seratus kebaikan untuknya, dihapus seratus keburukan untuknya. Pada hari itu ia akan terjaga dari godaan syetan sampai sore hari dan tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya, kecuali orang yang membaca lebih banyak dan itu. Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.” (Hadits Muslim Nomor 4857)

Dzikir dengan jumlah dua ratus kali

al-Imam Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Amr bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ مِائَتَيْ مَرَّةٍ فِيْ يَوْمٍ لَمْ يَسْبِقْهُ أَحَدٌ كَانَ قَبْلَهُ وَلاَ يُدْرِكُهُ أَحَدٌ بَعْدَهُ إِلاَّ بِأَفْضَلَ مِنْ عَمَلِهِ” قَالَ الْحَافِظُ الْهَيْثَمِيُّ: رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ إِلاَّ أَنَّهُ قَالَ: فِيْ كُلِّ يَوْمٍ” وَرِجَالُ أَحْمَدَ ثِقَاتٌ.

“Barang siapa membaca: “La Ilaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir” sebanyak dua ratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorangpun sebelumnya yang bisa mendahuluinya dan tidak ada seorang-pun setelahnya yang bisa menyamainya, kecuali orang yang melakukan amal yang lebih afdlal darinya”. (Al-Hafizh al-Haytsami berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan ath-Thabarani. Hanya saja dalam riwayat ath-Thabarani lafazhnya adalah “Fi Kulli Yaum…”. Dan perawi-perawi riwayat Ahmad adalah orang-orang tsiqat (Orang-orang terpercaya).

al-Imam an-Nasa’i meriwayatkan dalam kitab ‘Amal al-Yaum Wa al-Lailah bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ مِائَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَصْبَحَ وَمِائَةَ مَرَّةٍ إِذَا أَمْسَى لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِنْه إِلاَّ مَنْ قَالَ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ.

“Barangsiapa membaca: “La Ilaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu, Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir” sebanyak seratus kali di pagi hari, dan seratus kali di sore hari, maka tidak ada seorangpun yang bisa mengunggulinya, kecuali orang yang membaca lebih afdlal darinya”.

Dalam riwayat lainnya dalam kitab ‘Amal al-Yaum Wa al-Lailah, al-Imam an-Nasa-i juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ مِائَتي مَرَّةٍ لَمْ يُدْرِكْهُ أَحَدٌ بَعْدَهُ إِلاَّ مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ أَفْضَلَ.

“Barangsiapa membaca: “La Ilaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu, Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir” sebanyak sebanyak dua ratus kali, maka tidak ada seorangpun setelahnya yang bisa menyamainya, kecuali orang yang membaca sama dengan yang dibacanya atau yang lebih afdlal darinya”.

Dalam kitab ‘Amal al-Yaum Wa al-Lailah al-Imam an-Nasa-i juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ قَالَ فِيْ يَوْمٍ مِائَتَيْ مَرَّةٍ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ لَمْ يَسْبِقْهُ أَحَدٌ كَانَ قَبْلَهُ وَلاَ يُدْرِكُهُ أَحَدٌ كَانَ بَعْدَهُ إِلاَّ مَنْ عَمِلَ أَفْضَلَ مِنْ عَمَلِهِ.

“Barangsiapa membaca: “La Ilaha Illallahu Wahdahu La Syarika Lahu Lahu al-Mulku Wa Lahu al-Hamdu Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai’in Qadir” sebanyak sebanyak dua ratus kali dalam sehari, maka tidak ada seorangpun sebelumnya yang bisa mendahuluinya dan tidak ada seorang-pun setelahnya yang bisa menyamainya, kecuali orang yang melakukan amal yang lebih afdlal dari amalnya”.

Jumlah dzikir yang tidak dibatasi (mutlaq)

Walaupun terdapat beberapa dzikir jumlah hitungannya telah ditentukan oleh syariat. Namun prinsip dasar dari dzikir tidak ada batasannya. Dzikir dapat dilakukan sebanyak-banyaknya, sebanyak menurut kesanggupan masing-masing dari para pengamalnya. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh allah dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب:

“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kalian (menyebut nama Allah), denagn dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. al-Ahzab: 41-42)

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Surat Al-Ahzab Ayat 35)

Sebanyak-banyaknya di sini tidak ditentukan jumlahnya. Namun dikembalikan kepada kemampuan dan kemauan dari masing-masing yang hendak mengamalkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala tiada akan jenuh hingga kalian sendiri yang merasa jenuh, maka kerjakan amalan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Malik No. 240)

Sedikit dianggap banyak bagi mereka yang tidak memiliki kesanggupan. Dan banyak dianggap sedikit bilamana dilakukan oleh mereka yang memiliki kesanggupan lebih. Yang mengetahui seberapa banyak atau sedikitnya dzikir adalah mereka yang melakukannya. Tidak bisa dzikir seseorang dijadikan ukuran bagi orang lainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Hai kaumku, beramallah (bekerja dan beribadah) sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan beramal (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 39)

Walaupun jumlah ukuran dzikir diserahkan pada masing-masing yang mengamalkan. Namun agama tetap memberikan kriteria batasannya. Yakni, dalam dzikir tidak penting seberapa banyak jumlah hitungan dzikir yang dilakukan oleh seseorang, sebab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dzikir yang terbaik adalah manakala sebuah dzikir dikerjakan secara istiqamah (konsisten) dan mudawamah (konsekwen). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (dilakukan) meskipun sedikit. “Dan bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia kan menekuninya.” (HR. Muslim No. 1305)

Dengan begitu banyak atau sedikitnya jumlah dzikir diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam. Sebab perkara dzikir ini merupakan perkara yang tergolong sunnah mutlak. Di mana sebuah amalan dan ibadah yang mana agama tidak memberikan ketentuan-ketentuan khususnya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjawab “terserah” dari pertanyaan salah seorang sahabatnya,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah. ” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Dua pertiga?”Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni. ” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (HR. Tirmidzi No. 2381)

Dengan begitu setiap dari umat Islam boleh membuat hitungan sendiri dalam dzikir setiap dzikirnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Hudzaifah berikut,

أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari. ” (HR. Ibnu Majah No. 3807)

Hukum Mengkhususkan Ibadah dalam Hal Merubah (Konversi) Jenis

Mengkombinaksikan atau memvariasikan antara suatu amal biasa dengan amal ibadah mutlak lainnya sebetulnya merupakan sebuah kelaziman dalam agama Islam. Di antaranya adalah,

Merubah amal manjadi ibadah atau sebaliknya

Mengkhususkan dengan cara merenovasi atau memodifikasi suatu ajaran yang bersifat mutlak dalam agama itu dibenarkan. Sebagaimana yang dilakukan Nabi ketika awalnya melakukan sebuah amal mendadak dirubah menjadi suatu ibadah. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَتْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ قَالَتْ فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ وَقَدْ خَبَأْتُ لَكَ شَيْئًا قَالَ مَا هُوَ قُلْتُ حَيْسٌ قَالَ هَاتِيهِ فَجِئْتُ بِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَالَ قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا

“dari [Aisyah] radliallahu ‘anha, ia berkata; Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Wahai Aisyah, apakah kamu mempunyai makanan?” Aisyah menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, aku akan berpuasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar. Tak lama kemudian, saya diberi hadiah berupa makanan -atau dengan redaksi seorang tamu mengunjungi kami–. Aisyah berkata; Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali saya pun berkata, “Ya Rasulullah, tadi ada orang datang memberi kita makanan dan kusimpan untuk Anda.” Beliau bertanya: “Makanan apa itu?” saya menjawab, “Kuwe hais (yakni terbuat dari kurma, minyak samin dan keju).” Beliau bersabda: “Bawalah kemari.” Maka kuwe itu pun aku sajikan untuk beliau, lalu beliau makan, kemudian berkata, “Sungguh dari pagi tadi aku puasa.” (Hadits Muslim Nomor 1950)

Dalam hadits tersebut terlihat di mana awalnya Nabi tidak berpuasa (amal/perbuatan biasa), namun ketika mengetahui bahwa tidak ada makanan yang dapat dimakannya lalu kemudia beliau berinisiatif untuk merubah menjadi berpuasa (ibadah). Pada bagian kedua hadits juga menunjukkan bahwa di mana asalnya Nabi melakukan puasa (perbuatan ibadah) mendadak dibatalkan menjadi perbuatan biasa.

Yang melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Nabi di atas juga sering dilakukan oleh para sahabat Nabi lainnya. Sebagaimana yang ditunjukkan pada riwayat hadits berikut,

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ قَالَتْ لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْفَتْحِ فَتْحِ مَكَّةَ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَجَلَسَتْ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمُّ هَانِئٍ عَنْ يَمِينِهِ قَالَتْ فَجَاءَتْ الْوَلِيدَةُ بِإِنَاءٍ فِيهِ شَرَابٌ فَنَاوَلَتْهُ فَشَرِبَ مِنْهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ أُمَّ هَانِئٍ فَشَرِبَتْ مِنْهُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ أَفْطَرْتُ وَكُنْتُ صَائِمَةً فَقَالَ لَهَا أَكُنْتِ تَقْضِينَ شَيْئًا قَالَتْ لَا قَالَ فَلَا يَضُرُّكِ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا

“dari [Ummu Hani`], ia berkata; pada saat penaklukan Mekkah Fathimah datang dan duduk di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara Ummu Hani` di sisi kanan beliau. Ummu Hani` berkata; kemudian datanglah seorang anak wanita membawa bejana berisi air minum, kemudian ia memberikannya kepada beliau. Lalu beliau minum sebagian darinya kemudian beliau memberikannya kepada Ummu Hani`, lalu ia meminum sebagian darinya dan berkata; wahai Rasulullah, sungguh saya telah berbuka, tadinya aku sedang berpuasa. Kemudian beliau berkata kepadanya: ” Apakah engkau mengqadha` puasa?” Ia berkata; tidak. Lalu beliau berkata: “Hal itu tidak mengapa bagimu apabila puasa sunah.” (Hadits Abu Daud Nomor 2100 dan Hadits Darimi Nomor 1673)

Merubah suatu jenis ibadah menjadi jenis ibadah lainnya

Mengkhususkan dengan cara merevisi, memodifikasi, mengkombinasi, memvariasi, atau berinovasi suatu jenis ibadah satu menjadi jenis ibadah yang lainnya juga dibenarkan dalam agama Islam. Sebagaimana merubah jenis ibadah shalat fardhu menjadi shalat sunnah. Makna ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits berikut,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَصَلَّى فَقَالَ لِي أَلَا صَلَّيْتَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ صَلَّيْتُ فِي الرَّحْلِ ثُمَّ أَتَيْتُكَ قَالَ فَإِذَا فَعَلْتَ فَصَلِّ مَعَهُمْ وَاجْعَلْهَا نَافِلَةً

“Saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang saat itu beliau berada di Masjid. Kemudian masuklah waktu shalat fardhu, beliau pun shalat dan bertanya kepadaku: “Tidakkah kamu shalat?” saya menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menunaikan shalat di perjalanan, baru kemudian menemui Anda.” Beliau bersabda: “Jika kamu telah laksanakan (shalat fardhu), maka shalatlah (lagi) berjamaah dengan mereka, dan rubahlah ia (shalat fardhu yang di perjalanan) sebagai sunnah.” (Hadits Ahmad Nomor 18209)

Hukum Mengkhususkan Ibadah dalam Hal Memilih dan Melebihkan

Mengkhuskan suatu amal ibadah dengan cara lebih mencintai suatu jenis ibadah tertentu juga dibenarkan. Sebagaimana ada seorang sahabat lebih mencintai dan lebih mengamalkan untuk membaca surat Al-Ikhlas dibandingkan dengan surat yang lainnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى قَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ ثَابِتٍ وَرَوَى مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَقَالَ إِنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا يُدْخِلُكَ الْجَنَّةَ

“dari [Anas bin Malik] ia berkata; “Seorang sahabat Anshar mengimami mereka di Masjid Quba`, setiap kali mengawali untuk membaca surat (setelah al fatihah -pent) dalam shalat, ia selalu memulainya dengan membaca QUL HUWALLAHU AHAD hingga selesai, lalu ia melanjutkan dengan surat yang lain, dan ia selalu melakukannya di setiap rakaat. Lantas para sahabatnya berbicara padanya, kata mereka; “Kamu membaca surat itu lalu menurutmu itu tidak mencukupimu, hingga kamu melanjutkannya dengan surat yang lain, bacalah surat tersebut atau tinggalkan lalu bacalah surat yang lain!.” Sahabat Anshar itu berkata; “Aku tidak akan meninggalkannya, bila kalian ingin aku menjadi imam kalian dengan membacanya, maka aku akan melakukannya dan bila kalian tidak suka, aku akan meninggalkan kalian.” Sementara mereka menilainya sebagai orang yang paling mulia di antara mereka, maka mereka tidak ingin diimami oleh orang lain. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka, mereka memberitahukan masalah itu, lalu beliau bersabda: “Hai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang mendorongmu membaca surat itu disetiap rakaat?” ia menjawab; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukainya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib, shahih dari jalur ini dari hadits ‘Ubaidullah bin Umar dari Tsabit. [Mubarak bin Fadlalah] meriwayatkan dari [Tsabit] dari [Anas] bahwa seseorang berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai surat ini, yaitu QUL HUWALLAAHU AHAD.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2826 dan Hadits Darimi Nomor 3300)

Walaupun semua bacaan Al-Qur’an dapat dijadikan penyembuh (ruqyah), namun tidak salah ketika lebih memilih salah satu bacaan Al-Qur’an untuk digunakan oleh umat Islam mengobati orang sakit. Sebagaimana seorang sahabat yang meruqyah orang sakit dengan bacaan Al-Fatihah,

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا فِي سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ فَعَرَضَ لِإِنْسَانٍ مِنْهُمْ فِي عَقْلِهِ أَوْ لُدِغَ قَالَ فَقَالُوا لِأَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَى صَاحِبَهُمْ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأُعْطِيَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ حَتَّى أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا رَقَيْتُهُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ قَالَ فَضَحِكَ وَقَالَ مَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ قَالَ ثُمَّ قَالَ خُذُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ

“Beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan safar, ketika mereka melewati salah satu perkampungan arab, mereka hendak bertamu namun mereka enggan menerimanya. Lalu ada diantara penduduk itu terkena sengatan, dan akhirnya mereka bertanya kepada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah ada di antara kalian yang bisa meruqyah?” maka seorang sabahat Nabi menjawab; “Ya, ” kemudian ia menemui orang yang terkena sengatan dan meruqyahnya dengan membacakan surat Al Fatihah, dan orang itu pun sembuh. Maka ia pun diberi beberapa kambing, namun ia enggan menerimanya hingga ia bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika sampai, ia pun menceritakan kejadian tersebut kepada beliau, dan berkata; “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak meruqyahnya kecuali hanya dengan membacakan surat Al Fatihah, ” Abu Sa’id Al Khudri berkata; Beliau lalu tertawa, dan bersabda: “Apa engkau tahu bahwa surat Al Fatihah adalah ruqyah?” Abu Sa’id Al Khudri berkata; “Kemudian beliau bersabda: “Ambillah pemberian itu dan berikan untukku satu bagian bersama kalian.” (Hadits Bukhari Nomor 4623, Hadits Muslim Nomor 4081, dan Hadits Ahmad Nomor 10562)

Mengkhususkan sebuah amal dengan cara lebih memuliakan dibanding dengan lainnya juga dibenarkan. Sebagaimana Nabi lebih memuliakan ilmu dibanding dengan ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَدَارُسُ الْعِلْمِ سَاعَةً مِنْ اللَّيْلِ خَيْرٌ مِنْ إِحْيَائِهَا و قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Mempelajari ilmu dalam satu malam lebih baik dibandingkan dengan menghidupkannya (Memperbanyak ibadah) “. [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh aku membagi malamku menjadi tiga bagian, sepertiga waktu malam untuk tidur, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga lagi untuk mempelajari hadis Rasulullah salallhu ‘alaihi wa sallam “. (Hadits Darimi Nomor 266)

Hukum Mengkhususkan Ibadah dalam Hal Suara Keras atau Pelan

Anggapan bid’ah mengkhususkan ibadah sunnah mutlak dengan suara keras. Berikut dalil yang terkesan melarang berdoa, berdzikir dan membaca al-Qur’an dengan suara keras,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia kebesaran-Nya”. (HR. Bukhari No. 2770)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS. al-Isra’[17]: 110)

Dalil-dalil tersebut bertentangan dengan banyak dalil di bawah ini yang mana Nabi memperbolehkan berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, dan ibadah sunnah mutlak lainnya dengan suara keras. Berikut beberapa dalil di mana umat Islam boleh memilih beribadah sunah mutlak dengan suara keras,

جَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ فَإِنَّهَا مِنْ شَعَائِرِ الْحَجِّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, suruh para sahabatmu mengeraskan suara talbiyah karena ia adalah syi’ar haji (agama). ” (HR. Ahmad No. 20689)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَى نَاسٌ نَارًا فِي الْمَقْبَرَةِ فَأَتَوْهَا فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقَبْرِ وَإِذَا هُوَ يَقُولُ نَاوِلُونِي صَاحِبَكُمْ فَإِذَا هُوَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالذِّكْرِ

“Orang-orang melihat cahaya di sebuah kuburan, kemudian mereka mendatanginya, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kuburan dan beliau berkata: “Serahkan kepadaku sahabat kalian!” Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang mengeraskan suara ketika berdzikir.” (HR. Abu Daud No. 2751)

Nabi berdzikir setelah shalat dengan suara keras,

كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

[Ibn Zubair] sering memanjatkan do’a; (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat. ” (HR. Muslim No. 935)

Mengeraskan suara dzikir setelah selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Bahwa [Ibnu ‘Abbas] radliallahu ‘anhuma mengabarkan kepadanya, bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya. ” (HR. Bukhari No. 796)

Talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan suara keras

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الظُّهْرَ أَرْبَعًا وَالْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُخُونَ بِهِمَا جَمِيعًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur di Madinah empat raka’at dan shalat ‘Ashar di Dzul Hulaifah dua raka’at. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya (hajji dan ‘umrah). (HR. Bukhari No. 1447)

Nabi bersenandung dengan mengeraskan suaranya,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْقُلُ التُّرَابَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى أَغْمَرَ بَطْنَهُ أَوْ اغْبَرَّ بَطْنُهُ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ أَبَيْنَا أَبَيْنَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut mengangkuti tanah pada perang Khandaq, hingga perutnya penuh debu-atau perutnya berdebu-, beliau bersabda: ‘Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya. ‘Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suaranya. ” (HR. Bukhari No. 3795)

Nabi biasa membaca al-Qur’an dan berdzikir dengan nada indah dan keras,

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

“Tidaklah Allah memberikan izin untuk melakukan sesuatu sebagaimana Allah memberikan izin kepada seorang Nabi yang indah suaranya memperindah bacaan al-Qur’an, dan mengeraskannya. ” (HR. Abu Daud No. 1259, HR. Darimi No. 1450)

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ لِلذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ ذَلِكَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ وَأَسْمَعُهُ

“Mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardlu itu telah di lakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Ibnu Abbas mengatakan; “Aku mengetahuinya ketika mereka selesai melakukan itu dan aku juga mendengarnya.” (Hadits Abu Daud Nomor 851)

Bukti bahwa dalam beribadah bisa dikreasi sesuai dengan situasi dan kondisi selama tidak merubah esensi ibadahnya tujuan ta’lim,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ أَوْ مِنْ سُورَةِ الْفَتْحِ قَالَ فَرَجَّعَ فِيهَا قَالَ ثُمَّ قَرَأَ مُعَاوِيَةُ يَحْكِي قِرَاءَةَ ابْنِ مُغَفَّلٍ وَقَالَ لَوْلَا أَنْ يَجْتَمِعَ النَّاسُ عَلَيْكُمْ لَرَجَّعْتُ كَمَا رَجَّعَ ابْنُ مُغَفَّلٍ يَحْكِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لِمُعَاوِيَةَ كَيْفَ كَانَ تَرْجِيعُهُ قَالَ آ آ آ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Pernah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari pembebasan Mekkah di atas untanya membaca surat al Fath, atau sebagian dari surat al Fath. ” Abdullah bin Mughaffal berkata, “Lantas beliau mengulang-ulang suaranya dan mengeraskannya. “Kemudian Mu’awiyah membaca dengan menirukan bacaan Abdullah bin Mughaffal seraya berkata, “Kalaulah manusia tidak berkumpul kepada kalian, niscaya aku mengulang-ulang bacaan dan mengeraskannya sebagaimana Ibnu Mughaffal mengulang-ulang dan mengeraskan bacaan ketika menirukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ” Maka aku katakana kepada Mu’awiyah, “Bagaimana beliau mengulang-ulang dan mengeraskan bacaannya?” Mu’awiyah menjawab, “Dengan mengucapkan AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), beliau ucapkan tiga kali. ” (HR. Bukhari No. 6986)

Salah satu gambaran doa Nabi dengan menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan mengeraskan suara.

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ

“Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang. Kemudian Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo’a: “ALLAHUMMA ANJIS LII MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA AATI MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA IN TUHLIK HAADZIHIL ‘ISHAABAH MIN AHLIL ISLAM LA TU’BAD FIL ARDLI (Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi ini). ‘Demikianlah, beliau senantiasa berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya. ” (HR. Muslim No. 3309)

Boleh berdoa, berdzikir atau bertakbir dengan suara keras ketika memimpin rombongan Haji

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي وَمَنْ مَعِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالْإِهْلَالِ أَوْ قَالَ بِالتَّلْبِيَةِ يُرِيدُ أَحَدَهُمَا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkanku agar memerintahkan para sahabatku dan orang-orang yang bersamanya agar mengeraskan suara mereka ketika bertahlil atau beliau mengatakan dengan talbiyah. ” Beliau menginginkan salah satu darinya. (HR. Abu Daud No. 1548)

Nabi sering bedoa dan berdikir dengan suara keras di berbagai tempat dan kesempatan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِوَادِي الْأَزْرَقِ فَقَالَ أَيُّ وَادٍ هَذَا فَقَالُوا هَذَا وَادِي الْأَزْرَقِ قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام هَابِطًا مِنْ الثَّنِيَّةِ وَلَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللَّهِ بِالتَّلْبِيَةِ ثُمَّ أَتَى عَلَى ثَنِيَّةِ هَرْشَى فَقَالَ أَيُّ ثَنِيَّةٍ هَذِهِ قَالُوا ثَنِيَّةُ هَرْشَى قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى يُونُسَ بْنِ مَتَّى عَلَيْهِ السَّلَام عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ جَعْدَةٍ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ خِطَامُ نَاقَتِهِ خُلْبَةٌ وَهُوَ يُلَبِّي قَالَ ابْنُ حَنْبَلٍ فِي حَدِيثِهِ قَالَ هُشَيْمٌ يَعْنِي لِيفًا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melalui sebuah Lembah al-Azraq. Beliau bertanya: “Lembah apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Inilah Lembah al-Azraq. ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku seakan-akan memandang kepada Nabi Musa yang sedang menuruni sebuah bukit sambil memohon dari Allah dengan suara yang keras melalui talbiyah. ” Kemudian ketika sampai di Bukit Harsya beliau pun bertanya: “Bukit apa ini?” Para Sahabat menjawab, “Bukit Harsya. ” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta berada di atas seekor unta gemuk berwarna merah yang dilengkapi dengan kain bulu dan tali kekang untanya sementara dia sentiasa bertalbiah. ” Ibnu Hanbal berkata dalam Haditsnya, “Husyaim berkata, ‘Yaitu sabut spons’. ” (HR. Muslim No. 241)

Boleh berdoa, dengan suara keras ketika memimpin doa:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari saat beliau keluar minta turunnya hujan. Beliau kemudian menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan punggungnya ke arah manusia, beliau lalu berdoa sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu beliau mengimami kami shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan. ” (HR. Bukhari No. 969)

Boleh berdoa, dengan suara keras ketika Memimpin Doa:

أَهْلَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ خَالِصًا لَا نَخْلِطُهُ بِعُمْرَةٍ فَقَدِمْنَا مَكَّةَ لِأَرْبَعِ لَيَالٍ خَلَوْنَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فَلَمَّا طُفْنَا بِالْبَيْتِ وَسَعَيْنَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَجْعَلَهَا عُمْرَةً وَأَنْ نَحِلَّ إِلَى النِّسَاءِ فَقُلْنَا مَا بَيْنَنَا لَيْسَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةَ إِلَّا خَمْسٌ فَنَخْرُجُ إِلَيْهَا وَمَذَاكِيرُنَا تَقْطُرُ مَنِيًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَبَرُّكُمْ وَأَصْدَقُكُمْ وَلَوْلَا الْهَدْيُ لَأَحْلَلْتُ فَقَالَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ أَمُتْعَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِأَبَدٍ فَقَالَ لَا بَلْ لِأَبَدِ الْأَبَدِ

“Kami mengeraskan suara bacaan niat untuk mengerjakan haji saja bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa mencampurnya dengan niat umrah. Dan kami tiba di Mekkah pada malam keempat bulan Dzulhijjah. Maka ketika kami thawaf di Baitullah, dan Sa’i antara Shafa dan Marwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas memerintahkan kami untuk menjadikannya sebagai umrah dan segera berkumpul dengan para istri kami. Maka kami saling berkata; ‘Antara kita kini dari hari Arafah hanya tersisa lima hari. Apakah kita harus pergi ke sana (Arafah) sedangkan kemaluan kita mengucurkan mani (kita tengah berhadast)? ‘ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang paling baik dan jujur di antara kalian, seandainya tidak ada (al hadyu), niscaya akan kubolehkan (untuk melakukannya). ‘ Suraqah bin Malik bertanya; ‘Apakah haji Tamattu’ kami hanya diwajibkan untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak tetapi untuk selamanya’. (HR. Ibnu Majah No. 2971)

Demikianlah bukti membid’ah-bid’ahkan amalan ibadah dengan lebih memilih (mengkhususkan) suara keras hanya menggunakan sepotong dalil bertema bid’ah dan mengabaikan dalil lainnya yang lebih khusus, merupakan argumentasi yang sangat lemah serta merupakan kebohongan dalam masalah agama. Karena banyak dalil yang menunjukkan kebolehan mengamalkan dan mengkreasikan ibadah sunnah mutlak dengan suara keras.

Hukum Mengkhususkan Ibadah dalam Hal Isi (Konten)

Dzikir bisa menggunakan kalimat pujian maupun permohonan. Dzikir tidak didominasi hanya satu kalimat saja, banyak variasi kalimat dzikir yang bisa digunakan, seperti ucapan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh makna Hadits berikut,

عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ

“Hendaklah kalian bertasbih, tahlil dan taqdis (mengucapkan subhanal malikil qudus dan hitunglah dengan jari jemari, karena hal itu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap (apa yang ia lakukan) dan apa yang ia ucapkan. Dan janganlah kalian lalai, sehingga kalian melupakan rahmat (Allah).” (Hadits Tirmidzi Nomor 3507)

Begitu juga dalam dzikir boleh menggunakan nama-nama Allah maupun sifat-sifat Allah.

Dzikir menggunakan nama Allah

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Surat Al-Muzzammil Ayat 8)

Dzikir menggunakan sifat-sifat Allah

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-A’raf Ayat 180)

Dalam situasi tertentu selain dzikir ma’tsurah, yaitu dzikir yang sudah dikenal seperti dzikir-dzikir dalam shalat, dalam haji, dan lain sebagainya, maka berdzikir bisa menggunakan selain bahasa Arab atau menggunakan bahasa lisan daerahnya sendiri yang lebih dimengerti. Hal ini didasarkan pada firman Allah berikut,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Ibrahim Ayat 4)

Hukum Mengkhususkan Ibadah dalam Hal Pilihan Redaksi

Lagi-lagi golongan Salafi mempersoalkan berdzikir dan berdo’a menggunakan redaksi buatan sendiri, padahal pandangan semacam itu tidaklah tepat, karena bertentangan dengan syariat Islam. Berdzikir dan berdo’a menggunakan redaksi buatan sendiri, sepanjang tidak melanggar ketentuan-kentuan syariat, maka diperbolehkan. Banyak dalil yang mengisyaratkan beribadah menggunakan redaksi sendiri, di antaranya,

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ

“Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah)” (HR. Ibnu Majah No. 896)

Diperbolehkan berdoa dengan apa yang disenangi sesuai dengan kondisi masing-masing,

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو

Kemudian hendaklah memilih doa yang dia senangi dan berdoa dengannya. ” (HR. Bukhari No. 791)

Boleh meracik atau menyusun dari dzikir mana dulu yang kita baca,

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

“Ada empat ucapan yang paling di sukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala; 1) Subhanallah, 2) al-Hamdulillah, 3) Laa ilaaha illallah, 3) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai.” (HR. Muslim No. 3985)

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ أَوْ مَا أَحَبَّ

“Kemudian hendaklah dia memilih setelah itu (di dalam shalat) permintaan doa yang dia kehendaki atau dia inginkan. ” (HR. Muslim No. 609)

Pada Hadits-Hadits di atas terdapat isyarat dibolehkan berdoa sesuka kita (artinya dengan redaksi karangan sendiri terserah kita), yaitu setelah membaca doa tasyahud yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Nah, jika di dalam shalat saja dibolehkan berkreasi dan berinovasi seperti memanjatkan doa dengan redaksi karangan sendiri, tentu di luar shalat lebih boleh lagi.

Nabi memuji doa seorang sahabat yang dikarang sendiri karena mengandung keagungan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala

عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ وَرَجُلٌ قَدْ صَلَّى وَهُوَ يَدْعُو وَيَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ بِمَ دَعَا اللَّهَ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

“Dari [Anas] ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki masjid dan terdapat seorang laki-laki yang melakukan shalat dan berdoa dengan mengucapkan: (Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Memberi, Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tahukah kalian, dengan apakah orang tersebut berdoa kepada Allah? Ia telah berdoa kepada Allah dengan namaNya yang paling agung, yang apabila Dia dimintai doa maka Dia akan mengabulkannya. Dan apabila diminta maka Dia akan memberi. ” (HR. Tirmidzi No. 3467)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ حَفَزَهُ النَّفَسُ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ أَيُّكُمْ الَّذِي تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ وَقَدْ حَفَزَنِي النَّفَسُ فَقُلْتُهَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ رَأَيْتُ اثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama kami, tiba-tiba ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid, dan nafasnya masih tersengal-sengal, kemudian ia mengucapkan, ‘Allahu akbar, alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih (Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak serta pujian yang diberkahi) ‘, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat tersebut? ‘ Orang-orang terdiam, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi ‘Orang yang mengucapkan kalimat tadi tidak mengucapkan hal yang salah’. Lelaki tersebut lalu berkata. ‘Aku wahai Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam! Aku datang dalam keadaan nafasku yang tersengal-sengal. lalu aku mengucapkannya’. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku melihat dua belas malaikat berebut untuk mengangkat kalimat tersebut. ” (HR. Nasai No. 891)

Nabi membiarkan seorang sahabat merevisi doa dari Nabi dengan penambahan beberapa kalimatnya sendiri,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ تَلْبِيَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَزِيدُ فِيهَا لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

“telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari [Nafi’] dari [Abdullah bin Umar] bahwa talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah; “LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK LABBAIKA LAA SYARIIKALAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WANNI’MATA LAKA WALMULK LAA SYARIIKALAK (Ku penuhi panggilan-Mu ya Allah, ku penuhi panggilan-Mu ya Allah, ku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Segala puji, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu) “. Nafi’ berkata, “Abdullah bin Umar pernah menambahinya dengan, ‘LABBAIKA LABBAIK LABBAIKA WA SA’DAIK WAL KHAIRU BIYADAIKA LABBAIK WAR RAGHBA’U ILAIKA WAL ‘AMAL (Ku penuhi panggilan-Mu, ku penuhi panggilan-Mu, ku penuhi panggilan-Mu. Hasrat dan perbuatan hanyalah milik-Mu). ” (HR. Malik No. 643)

Dalam atsar Ibnu Umar di atas jelas bahwa Ibnu Umar menambahkan doa karangan sendiri setelah doa talbiyah yang diajarkan oleh Nabi. Tentu saja doa ini tidak ada pada masa Nabi. Hal ini menunjukkan dibolehkannya doa tambahan dari susunan sendiri, setelah doa yang diajarkan oleh Nabi.

Hukum Mengkhususkan Ibadah dalam Hal Sendiri atau Jama’i

Ibadah sunnah mutlak dengan berjamaah dan dipimpin seorang imam. Banyak bertebaran Hadits yang menunjukkan para sahabat pada zaman Nabi berdoa, berdzikir dan membaca al-Qur’an dengan secara jama’i dan dipimpin seorang imam, di antaranya,

Dianjurkan bagi kaum muslimin membentuk majelis-majelis dzikir:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR. Tirmidzi No. 3510)

Dianjurkan bagi kaum muslimin membentuk majelis-majelis dzikir:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

‘Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4868)

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat,

وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Majelis apa ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami. ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini. ‘ Kata Rasulullah selanjutnya: ‘Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat. ‘ (HR. Muslim No. 4869)

Setiap majelis dzikir akan menjadi berkah bagi siapapun yang menghadirinya,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Telah menceritakan kepada kami [Isma’il] berkata, telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah] bahwa [Abu Murrah]-mantan budak Uqail bin Abu Thalib-, mengabarkan kepadanya dari [Abu Waqid al-Laitsi], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana satu di antaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?” Adapun seorang di antara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya”. (HR. Bukhari No. 64)

Jika hamba mengingat Allah dalam perkumpulan niscaya akan dibalas dengan perkumpulan yang lebih baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan (jamaah), maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari. ” (HR. Bukhari No. 6856)

Akan rugi bagi yang tidak ikut berdzikir dalam sebuah majelis dzikir,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ اللَّهِ تِرَةٌ

“Dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk pada suatu tempat (majelis), lalu tidak menyebut nama Allah (dzikir) di dalamnya, maka di sisi Allah itu akan menjadi kerugian baginya. ” (HR. Abu Daud No 4215)

Akan menyesal karena diadzab Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi yang tidak menghidupkan majelis dengan dzikir,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Dari [Abu Hurairah radhillallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia meng-adzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

“Tidaklah suatu kaum bangkit dari tempat duduknya, dan mereka tidak menyebut nama Allah dalam majelis tersebut, melainkan mereka seperti bangun dari tempat yang semisal dengan bangkai himar, dan kelak akan menjadi penyesalan baginya (di akhirat). ” (HR. Abu Daud No. 4214)

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia mengadzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

Malaikat selalu mencari majelis dzikir untuk menyelimutkan sayapnya,

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit. ‘ Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: ‘Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: ‘Kalian datang dari mana? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apa yang mereka minta? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka memohon surga-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi: ‘Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala balik bertanya: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? ‘ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka. ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka. ‘ Maka Allah menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak bakalan celaka karena mereka. ‘ (HR. Muslim No. 4854)

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4867)

Nabi lebih menyukai hadir di majelis dzikir dibanding membebaskan budak,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak. ” (HR. Abu Daud No. 3182)

Berdzikir di majelis dzikir lebih memiliki keutamaan,

كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ada beberapa bacaan, tidaklah seseorang membacanya tiga kali saat berdiri dari majelisnya kecuali Allah akan menghapus dosanya karenanya. Dan tidaklah seseorang yang mengucapkannya dalam masjlis yang baik dan majelis dzikir, kecuali dengannya Allah akan menutup amal baiknya sebagaimana kertas yang diakhiri dengan kalimat: (Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu). ” (HR. Abu Daud No. 4216)

إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Apabila kami menghitung ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu majelis: “Rabbighfirli watub ‘alayya innaka anta tawwabur rahim (Ya Rabbku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha penerima taubat dan maha penyayang” beliau mengucapkannya sebanyak seratus kali. ” (HR. Abu Daud No. 3804)

Sehabis memimpin shalat jamaah, Nabi melanjutkan dengan memimpin dzikir dengan menghadap ke makmum,

إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari menunaikan shalat, beliau menghadapkan wajahnya ke arah kami (makmum). ” (HR. Bukhari No. 800)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ عَن السُّدِّيِّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِينِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari as-Suddiy, dari Anas: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berpaling dari arah kanan (seusai shalat).” (HR. Muslim No. 3784)

Nabi memimpin doa dengan diiringi bacaan amin dari para sahabatnya

عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ وَعُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ حَاضِرٌ يُصَدِّقُهُ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هَلْ فِيكُمْ غَرِيبٌ يَعْنِي أَهْلَ الْكِتَابِ فَقُلْنَا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ وَقَالَ ارْفَعُوا أَيْدِيَكُمْ وَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً ثُمَّ وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ اللَّهُمَّ بَعَثْتَنِي بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَأَمَرْتَنِي بِهَا وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهَا الْجَنَّةَ وَإِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ثُمَّ قَالَ أَبْشِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ

“Dari [Ya’la bin Syadad] berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu syadad bin Aus] dan [‘Ubadah bin Shamit] datang membenarkannya berkata; kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bertanya, “Apakah di antara kalian ada orang yang asing yaitu Ahli Kitab?”. Lalu kami menjawab, “Tidak Wahai Rasulullah, ” lalu beliau menyuruh untuk menutup pintu dan bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan katakanlah, tidak ada tuhan selain Allah, ” lalu kami mengangkat tangan kami beberapa saat lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan beliau lalu bersabda: “Segala Puji bagi Allah, Ya Allah, Engkau telah mengutus kami dengan kalimat ini dan Engkau telah memerintahkanya dengannya dan Engkau telah menjanjikan kepada kami dengan syurga. Sesungguhnya Engkau tidak akan menyelisihi janji, ” lalu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Berilah kabar gembira, sesungguhnya Allah Azzawajalla telah mengampuni kalian. ” (HR. Ahmad No. 16499)

Bacaan doa dari seorang hamba akan diiringi bacaan amin dari para malaikat,

وَوَجَدْتُ أُمَّ الدَّرْدَاءِ فَقَالَتْ أَتُرِيدُ الْحَجَّ الْعَامَ فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَتْ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Setelah itu, Ummu Darda’ bertanya kepada saya; ‘Hai Shafwan, apakah kamu akan pergi haji pada tahun ini? ‘ Saya pun menjawab; ‘Ya. ‘ Ummu Darda’ berkata; ‘Mohonkanlah kepada Allah kebaikan untuk kami, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim dari kejauhan tanpa diketahui olehnya akan dikabulkan. Di atas kepalanya ada malaikat yang telah diutus, dan setiap kali ia berdoa untuk kebaikan, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan ‘Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.” (HR. Muslim No. 4914)

إِذَا أَمَّنَ الْقَارِئُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam mengucapkan amin, maka ucapkanlah amin, karena para Malaikat pun ikut mengaminkan, maka siapa yang bacaannya amin bertepatan dengan bacaannya Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (HR. Bukhari No. 5923)

Nabi membacakan amin atas doa sahabatnya,

عَنْ قَيْسٍ الْمَدَنِيِّ أَنَّ رَجُلاً جَاءَ زَيْدَ بْنِ ثَابِتٍ فَسَأَلَ عَنْ شَيْءٍ فَقَالَ لَهُ زَيْدٌ: عَلَيْكَ بِأَبِيْ هُرَيْرَةَ فَبَيْنَا أَناَ وَأَبُوْ هُرَيْرَةَ وَفُلاَنٌ فِي الْمَسْجِدِ نَدْعُوْ وَنَذْكُرُ رَبَّنَا عَزَّ وَجَلَّ إِذْ خَرَجَ إِلَيْنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ إِلَيْنَا فَسَكَتْنَا فَقَالَ: عُوْدُوْا لِلَّذِيْ كُنْتُمْ فِيْهِ. فَقَالَ زَيْدٌ: فَدَعَوْتُ أَنَا وَصَاحِبِيْ قَبْلَ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤَمِّنُ عَلىَ دُعَائِنَا ثُمَّ دَعَا أَبُوْ هُرَيْرَةَ فَقَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ سَائِلُكَ بِمِثْلِ مَا سَأَلَكَ صَاحِبَايَ وَأَسْأَلُكَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آَمِيْن فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَنَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ عِلْمًا لاَ يُنْسَى فَقَالَ سَبَقَكُمَا بِهَا الْغُلاَمُ الدَّوْسِيُّ رواه والنسائي في الكبرى والطبراني في الأوسط وصححه الحاكم

“Dari Qais al-Madani, bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit, lalu menanyakan tentang suatu. Lalu Zaid berkata: “Kamu bertanya kepada Abu Hurairah saja. Karena ketika kami, Abu Hurairah dan si fulan berada di Masjid, kami berdoa dan berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, sehingga duduk bersama kami, lalu kami diam. Maka beliau bersabda: “Kembalilah pada apa yang kalian lakukan.” Zaid berkata: “Lalu aku dan temanku berdoa sebelum Abu Hurairah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca amin atas doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang dimohonkan oleh kedua temanku. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Amin.” Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah, kami juga memohon ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu beliau berkata: “Kalian telah didahului oleh laki-laki suku Daus (Abu Hurairah) itu”. (HR. Nasai dalam al-Kubra No. 5839)

Saling mengaminkan doa orang lain:

Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala menceritakan tentang Nabi Musa dan Nabi Harun, salah satunya memimpin doa lainnya dan dikabulkannya doa oleh Allah:

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 89)

Boleh berdoa dengan suara keras ketika memimpin doa:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَرَجَ يَسْتَسْقِي قَالَ فَحَوَّلَ إِلَى النَّاسِ ظَهْرَهُ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ يَدْعُو ثُمَّ حَوَّلَ رِدَاءَهُ ثُمَّ صَلَّى لَنَا رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di hari saat beliau keluar minta turunnya hujan. Beliau kemudian menghadap ke arah kiblat dengan menghadapkan punggungnya ke arah manusia, beliau lalu berdoa sambil membalikkan kain selendangnya. Setelah itu beliau mengimami kami shalat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan. ” (HR. Bukhari No. 969)

Demikian pula misalkan seorang pemimpin rombongan haji memimpin jamaahnya agar bersama-sama melafadzkan niat haji maka boleh saja bersuara dengan keras sebagaimana Hadits berikut ini:

أَهْلَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَجِّ خَالِصًا لَا نَخْلِطُهُ بِعُمْرَةٍ فَقَدِمْنَا مَكَّةَ لِأَرْبَعِ لَيَالٍ خَلَوْنَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ فَلَمَّا طُفْنَا بِالْبَيْتِ وَسَعَيْنَا بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَجْعَلَهَا عُمْرَةً وَأَنْ نَحِلَّ إِلَى النِّسَاءِ فَقُلْنَا مَا بَيْنَنَا لَيْسَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ عَرَفَةَ إِلَّا خَمْسٌ فَنَخْرُجُ إِلَيْهَا وَمَذَاكِيرُنَا تَقْطُرُ مَنِيًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَبَرُّكُمْ وَأَصْدَقُكُمْ وَلَوْلَا الْهَدْيُ لَأَحْلَلْتُ فَقَالَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ أَمُتْعَتُنَا هَذِهِ لِعَامِنَا هَذَا أَمْ لِأَبَدٍ فَقَالَ لَا بَلْ لِأَبَدِ الْأَبَدِ

“Kami mengeraskan suara bacaan niat untuk mengerjakan haji saja bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa mencampurnya dengan niat umrah. Dan kami tiba di Mekkah pada malam keempat bulan Dzulhijjah. Maka ketika kami thawaf di Baitullah, dan Sa’i antara Shafa dan Marwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas memerintahkan kami untuk menjadikannya sebagai umrah dan segera berkumpul dengan para istri kami. Maka kami saling berkata; ‘Antara kita kini dari hari Arafah hanya tersisa lima hari. Apakah kita harus pergi ke sana (Arafah) sedangkan kemaluan kita mengucurkan mani (kita tengah berhadast)? ‘Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya aku adalah orang yang paling baik dan jujur di antara kalian, seandainya tidak ada (al hadyu), niscaya akan kubolehkan (untuk melakukannya). ‘ Suraqah bin Malik bertanya; ‘Apakah haji Tamattu’ kami hanya diwajibkan untuk tahun ini saja atau untuk selamanya?’ Beliau menjawab: ‘Tidak tetapi untuk selamanya’. (HR. Ibnu Majah No. 2971)

Dan masih banyak lagi amal yang boleh dikhususkan

Penolakan golongan Salafi

Walaupun mayoritas ulama mujtahid menghukumi boleh melaksanakan amal dan ibadah yang bersifat sunnah mutlak dengan cara mengkhususkan. Namun golongan Salafi atau lebih dikenal dengan Wahabi menolak praktik pengkhususan amal dan ibadah yang bersifat mutlak. Bahkan mereka menuduh ahlul bid’ah terhadap kaum muslim yang mengkhususkan amal dan ibadah yang bersifat mutlak tersebut.

Dasar Penolakan Golongan Salafi

Golongan Salafi mempersoalkan perkara khusus-mengkhususkan dalam soal mengerjakan suatu amal atau suatu ibadah ini. Di antara alasan yang digunakan untuk menolak perkara ini adalah amal salih dan amal ibadah seperti sedekah, dzikir, doa, taubat dan istighfar adalah ibadah pada segala waktu. Tidak ada dalil yang mengkhususkan untuk mengamalkan ibadah tersebut pada waktu-waktu tertentu seperti awal tahun Hijriyah, akhir tahun Hijriyah, setiap malam Jum’at, dan lain sebagainya. Penolakan mereka biasanya didasarkan atas beberapa dalil berikut,

Nabi tidak mengkhususkan hari-hari tertentu dalam ber’amal

عَنْ عَلْقَمَةَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْتَصُّ مِنْ الْأَيَّامِ شَيْئًا قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ

“dari [‘Alqamah]; Aku bertanya kepada [‘Aisyah radliallahu ‘anha] apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan hari-hari tertentu dalam ber’amal?” Dia menjawab: “Tidak. Beliau selalu beramal terus menerus tanpa putus. Siapakah dari kalian yang akan mampu sebagaimana yang mampu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? (Hadits Bukhari Nomor 1851, Hadits Muslim Nomor 1304, dan Hadits Abu Daud Nomor 1163)

Nabi melarang mengkhususkan puasa hanya di hari Jum’at

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادٍ قَالَ سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَالَ نَعَمْ

“dari [Muhammad bin ‘Abbad] berkata; “Aku bertanya kepada [Jabir radliallahu ‘anhu] apakah benar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang puasa pada hari Jum’at? Dia menjawab: “Benar”. (Hadits Bukhari Nomor 1848)

Dalil sanggahan

Maksud dari kedua Hadits tersebut di atas sebetulnya larangan untuk mengkususkan amal dan ibadah dalam suatu waktu adalah bilamana amalan dan ibadah yang tegolong sunnah mutlak tersebut hanya dilakukan hanya pada waktu itu dan tidak dilakukan di waktu lainnya sama sekali. Namun bila maksud mengkhususkan adalah lebih memilih suatu amalan tertentu di waktu-waktu terntentu, namun tidak sampai meninggalkan untuk diamalkan di waktu lainnya, maka hal itu tidak masalah. Jadi tidaklah dilarang bilaman maksud mengkhususkan adalah lebih meningkatkan suatu amalan dalam suatu waktu dibanding dengan waktu-waktu lainnya. Sebagaimana Hadits Nabi berikut yang menafsiri Hadits Bukhari Nomor 1851 dan Hadits Bukhari Nomor 1848 di atas. Nabi bersabda,

لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat malam di antara malam-malam yang lain, dan jangan pula dengan puasa, kecuali memang bertepatan dengan hari puasanya.” (Hadits Muslim Nomor 1930)

Jadi tidak masalah bila yang dimaksud mengkhususkan adalah lebih meningkatkan amalan pada suatu waktu namun dengan tidak meninggalkan suatu amal di waktu-waktu lainnya. Sebagaimana pemahaman Hadits Bukhari Nomor 1848 yang ditafsiri oleh Hadits Bukhari Nomor 1848. Nabi bersabda,

سَأَلْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ قَالَ نَعَمْ زَادَ غَيْرُ أَبِي عَاصِمٍ يَعْنِي أَنْ يَنْفَرِدَ بِصَوْمٍ

“bertanya kepada [Jabir radliallahu ‘anhu] apakah benar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang puasa pada hari Jum’at? Dia menjawab: “Benar”. Selain ‘Abu ‘Ashim, para perawi menambahkan: “Yakni apabila mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa (dan tidak dilakukan diwaktu lain sama sekali)”. (Hadits Bukhari Nomor 1848)

Hadits di atas sebagai penjelas dari hadits-hadits yang terkesan melarang mengkhususkan amalan di suatu waktu dengan meninggalkan alias tidak mengerjakan sama sekali amalan tersebut di waktu lainnya. Jadi bilamana sebagain umat Islam yang pada waktu-waktu biasa juga mengamalkan dzikir tahlil, membaca surat Yasin, ziarah qubur, atau doa-doa. Namun ketika datang hari Jum’at umat Islam kemudian mengamalkan lebih banyak sebab mengejar keutamaan hari Jum’at tersebut tidaklah mengapa.

Tidak ada halangan mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal seperti hari kelahiran, hari Minggu, hari awal tahun atau akhir tahun dan lain sebagainya. Sebab waktu-waktu tersebut sejatinya masih menjadi bagian dari segala waktu yang mana semua manusia diberi kebebasan untuk memanfaatkan sesuai dengan kondisi dan situasi yang dimiliki masing-masing.

Sebetulnya mereka yang memanfaatkan waktu luang tersebut bukan berarti bisa dikatakan sebagai pengkhususan waktu. Namun dikarenakan suatu keadaan di mana mereka memiliki waktu luang yang lebih di banding waktu-waktu lainnya, sehingga mereka berisnisiatif untuk lebih meningkatkan amal shalihnya pada waktu tersebut. Bukan berarti ketika meningkatkan amal shalih di waktu-waktu tertentu tersebut menyebabkan pada waktu-waktu lainnya tidak melakukan perbuatan amal shalih.

Sebagaimana contoh umat Islam yang tinggal di sebuah negara di mana hari libur biasanya ditetapkan setiap hari Minggu. Sehingga hari selain hari Minggu mereka disibukkan dengan urusan tugas dan beban pekerjaan. Dan bila hari Minggu tiba, maka waktu luang yang dimiliki mereka akan lebih banyak. Agar waktu luang di hari Minggu tersebut tidak sia-sia dan tetap bernilai pahala yang banyak, maka biasanya sekelompok umat Islam tersebut berinisiatif mengkhususkan atau menjadwalkan untuk mengadakan majlis talim, majlis dzikir, kajian keagamaan, majlis syukuran, atau lain sebagainya di setiap hari Minggu.

Mereka lebih memilih hari Minggu dengan beragam alasan, di antaranya adalah waktu luangnya lebih luas dan peluang untuk mengumpulkan jamaah pada hari tersbut lebih maksimal. Lalu bilamana pelaksaan majlis kebaikan yang diadakan pada setiap hari Minggu tersebut kemudian dituduh oleh golongan Salafi sebagai perbuatan bid’ah, tentunya hal ini sangat bertentangan dengan nalar sederhana mayoritas manusia dan juga bertentanagan dengan lebih banyak dalil yang memperbolehkan.

Yang jadi masalah adalah bilamana mengkususkan kebaikan di hari Minggu tersebut dengan disandarkan pada syariat agama bahwa hari Minggu merupakan anjuran dari Nabi. Padahal kenyataannya tidak ada landasan bahwa hari Minggu memiliki keutamaan dalam agama Islam terkait dengan sebuah amalan. Namun pengkhususan hari Minggu tersebut tidak akan jadi masalah bila alasannya sekedar kesempatan dan peluang waktunya lebih luas untuk lebih meningkatkan amal dan ibadah.

Karena kesempatan umat muslim yang lebih banyak itu pada hari Minggu, tentunya tidak salah manakala untuk lebih menambah pahala dengan cara meningkatkan kebaikan dan ibadah pada hari Minggu tersebut. Mungkin bila sebuah amal dan ibadah dikerjakan pada selain hari Minggu terbatas hanya sekedar bisa baca Al-Qur’an beberapa lembar saja, dan ibadah tahajudnya hanya beberapa rakaat saja. Namun bila amal dan ibadah tersebut dikerjakan pada hari libur seperti Minggu, bisa jadi kesempatan untuk ibadahnya bisa meningkat menjadi lebih banyak lembar Al-Qur’an yang dibaca dan lebih banyak rakaat shalat yang dilaksanakan. Juga kesempatan untuk lebih banyak menghadiri majlis taklim lebih leluasa, sebab pada hari tersebut mereka tidak memiliki beban tugas pekerjaan dari kantornya.

Memang terkait dengan hal ini sedikit harus lebih berhati-hati. Yang perlu difahami adalah niat untuk mengkhusukan sebuah amal dan ibadah sunnah mutlak tersebut jangan sekali-kali disandarkan pada syariat agama. Namun niatkan bahwa pengkhususan tersebut hanya bersifat kondisi dan situasi yang bersifat pribadi saja. Berikut akan disampaikan sebuah visualisasi (perumpamaan) untuk memudahkan pemahaman terkait dengan pengkhususan ini.

Semisal seseorang hendak bersedekah di hari Rabu. Sedekah ini bisa dikatakan salah dan bid’ah bilamana dia mengatakan bahwa sedekah yang dilakukan pada hari Rabu tersebut merupakan perintah dari Nabi. Pernyataan seseorang tersebut salah karena tidak ada satupun dalil yang mengatakan bahwa hari Rabu memiliki keutamaan untuk sedekah. Namun sedekah seseorang tersebut menjadi benar manakala dia menyatakan bahwa dia sebetulnya sudah punya keinginan bersedekah di hari-hari sebelumnya, namun dia bersedekah di hari Rabu karena baru sempat dan baru punya rezeki di hari tersebut.

Contoh yang lain; Semisal seseorang berkurban menggunakan kambing. Maka pernyataannya menjadi salah ketika dia beralasan bahwa berkurban menggunakan kambing lebih utama dibandingkan dengan hewan lainnya menurut syariat. Padahal pernyataan tersebut tidak ada landasannya dalam agama, itulah yang disebut dengan makna bid’ah yang sesungguhnya (berdusta atas nama agama). Namun pernyataannya akan dianggap benar manakala dia beralasan semisal bahwa kemampuan untuk berkurban hanya dengan seekor kambing saja.

Juga contoh lainnya; Semisal seseorang melaksanakan shalat tahajud setelah shalat Isya’ (awal malam) dengan mengatakan bahwa shalat tahajudnya di awal malam tersebut sebab waktu yang paling utama adalah awal malam. Maka pernyataan tersebut itulah hakikinya yang disebut bid’ah, yakni berdusta atas nama agama sebab menyandarkan perkara umum terhadap perkara agama. Padahal dalam hal ini jelas-jelas agama mensyariatkan keutamaan shalat tahajud ada di akhir malam menjelang fajar. Pernyataan seseorang tersebut akan dianggap benar manakala dia menyatakan semisal; Shalat tahajudnya dilaksanakan di awal malam bukan karena dia meyakini bahwa awal malam tersebut waktu yang diutamakan oleh agama, namun kemampuannya untuk shalat tahajud memang di awal malam tersebut. Dia hanya khawatir saja bahwa di tengah malam atau di akhir malam tidak bisa bangun untuk shalat tahajud. Pemahaman ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebuah riwayat Hadits berikut,

مَنْ خَشِيَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِهِ وَمَنْ طَمِعَ مِنْكُمْ أَنْ يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَإِنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ فِي آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَهِيَ أَفْضَلُ

“Barang siapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun diakhir malam, hendaknya melaksanakan shalat witir di awal malam, dan barang siapa diantara kalian yang sanggup untuk bangun diakhir malamnya, hendaknya melaksanakan shalat witir diakhir malam, karena sesungguhnya bacaan Al Qur’an di akhir malam adalah disaksikan (oleh para malaikat) dan ia merupakan (waktu) yang paling utama.” (Hadits Tirmidzi Nomor 418)

Sudah sangat jelas sekali bahwa agama tidak mempersoalkan keinginan seseorang untuk mengkhususkan sebuah amalan atau ibadah sunah mutlak selama dasar yang digunakan merupakan selera atau kondisi bersifat pribadi. Dengan begitu seseorang yang mau mengkhususkan amalan dan ibadah sunah mutlak apapun dibenarkan oleh agama.

Inilah kesalahan pemahaman dari kaum Salafi yang mudah menuduh amalan orang lain sebagai tindakan bid’ah yang tidak berdasar. Oleh karena itu dalam soal pengelolaan dan pemanfaatan waktu dalam Islam diserahka sepenuhnya kepada masing-masing pribadi. Sedangkan seseorang tidak boleh menuduh orang lain telah berbuat bid’ah, karena kita tidak mengetahui kondisi dan situasi yang dialami oleh masing-masing dari saudara muslim kita lainnya.

Di samping itu, memilih waktu juga masalah selera, terkadang seseorang akan merasa lebih nyaman dan lebih dapat berkonsentrasi bila dilakukan pada waktu-waktu yang cocok bagi mereka. Seperti untuk sebagian orang mungkin berada di malam hari lebih nyaman. Namun bagi orang lain mungkin akan merasa lebih nyaman bila beraktifitas di siang hari. Lagi-lagi ini hanya soal selera, terkait mud seseorang satu dengan lainnya pasti tidaklah sama. Maka sekali lagi, agama Islam tidak terlalu menekankan soal kuantitas waktu dan kaifiat dalam perkara amal dan ibadaah sunnah mutlak seseorang. Melainkan, agama Islam lebih menekankan pada kuwalitas, sejauh mana dari setiap hamba memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, sebagai sarana pengabdian diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebetulnya, bila sedikit dikaji, perkara mengkaitkan sebuah perbuatan dengan waktu merupakan bagian syariat Islam yang tidak dapat dipisahkan. Seperti ibadah haji, umrah, zakat, puasa Ramadhan, shalat ba’diyah dan qabliyah, shalat duha, shalat wajib, shalat malam, dan lain sebagainya. Dalam pensyariatan agama, sebagian ajaran agama Islam sangat terkait dengan waktu.

Tidak akan mungkin disebut sebagai ibadah haji bilamana tidak ada waktu Dzulhijjah, dan tidak ada shalat Maghrib bila tidak ada waktu senja, dan lain sebagainya. Dengan begitu, pengkaitan amalan dan ibadah dalam Islam dengan sebuah waktu merupakan syariat itu sendiri. Sehingga, pada akhirnya kecenderungan umat Islam untuk memilih waktu-waktu yang sesuai dengan kecocokan dan keadannya sendiri juga menjadi perkara yang lumrah.

Lebih lanjut, pengkaitan perkara dengan sebuah moment juga hal yang lumrah. Seseorang pasti akan lebih meningkat rasa sedihnya bila ada momen kematian. Dan sebaliknya, manusia akan lebih meningkat rasa bahagianya bilamana ada momen kelahiran. Jadi tidak salah manakala manusia memiliki kecenderungan untuk membuat amaliah-amaliah renungan dan muhasabah pada saat-saat kesedihan. Dan manusia akan memiliki kecenderungan untuk bersyukur pada saat-saat momen kebahagiaan. Jadi bilamana seseorang di waktu sedih akan lebih meningkatkan pengabidan kepada Allah dengan ibadah, dzikir doa, dan taqarub maka hal itu murni merupakan intuisi manusia yang dibenarkan dan bukan berarti hal itu sikap pengkhususan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

۞ وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya”. (Surat Az-Zumar Ayat 8)

Sebaliknya, bilaman seseorang di waktu bahagia mengakibatkan cenderung untuk memperbanyak amal shalih sebagi bentuk syukur. Dan hal ini bukan suatu masalah sebab memang fitrah manusia yang diciptakan Allah begitu dan Allah sendiri membenarkan di banyak firmannya.

Dengan begitu pandangan kaum Salafi yang melarang kaum muslim lainnya untuk mengkususkan dengan maksud lebih meningkatkan dan lebih memperbanyak sebuah amalan dan ibadah dalam suatu waktu tertentu merupakan pendapat yang batil. Sebab pandangan ini akan bertentangan dengan dalil yang lebih banyak yang telah diutarakan pada bagian atas tulisan ini, yang mana Nabi dan para sahabat sudah terbiasa mengkhususkan, melebihkan, atau meningkatkan suatu amal dan ibadah pada situasi-situasi tertentu.

Jadi, bukanlah perkara yang dilarang agama ketika kita melihat mayoritas umat muslim pada hari-hari biasa tetap melakukan amal dan ibadah secara rutin dan terus-menerus, namun manakala datang sebuah kesempatan waktu luang yang lebih banyak, atau datang sebuah waktu di mana agama memandang bahwa waktu tersbut memiliki keutamaan seperti hari Jum’at, bulan Rajab, Sya’ban, bulan Ramadhan, sepertiga akhir malam, atau waktu-waktu lainnya. Kaum muslimin akan terlihat lebih bersemangat dan berbondong-bondong untuk lebih meningkatkan amal dan ibadahnya. Seperti lebih memperbanyak dzikir tahlil, bacaan surat Yasin, dzikir shalawat di malam Jum’at. Atau seperti umat Islam akan lebih terlihat berbondong-bondong mengadakan majlis dzikir, tahlilan, yasinan, majlis ta’lim, tabligh akbar, pengajian umum, kajian-kajian agama, atau lainnya di hari Minggu atau hari-hari libur nasional dari sebuah negara.

Hal itu bukan berati mereka berniat mengkhususkan amalan di hari Minggu dengan anggapan hari itu memiliki keutamaan. Namun kaum muslimin melakukan hal itu hanya semata-mata memanfaatkan waktu luang yang lebih banyak di hari libur Minggu tersebut. Perilaku mayoritas umat muslim itu ternyata memiliki dasar yang sangat kuat dalam agama Islam. Dan tidak selayaknya golongan Salafi mempersoalkan dan meduduh mereka tidak mengikuti sunnah dengangan anggapan kaum muslimin mengkhusus-khususkan amalan. Jadi dalam prinsip dasar sebuah amal dan ibadah yang bersifat mutlak dalam agama Islam adalah dikerjakan sesuai dengan kemampuan dan kemauan masing-masing pribadi umat Islam. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Shalatlah sebelum shalat Maghrib!”. Beliau berkata, pada kali ketiganya: “(Beramal dan beribadahlah) bagi siapa yang mau”. (Hadits Bukhari Nomor 1111)

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Barang siapa diantara kalian yang memiliki kemampuan maka hendaknya ia menikah, dan barang siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, karena sesungguhnya itu adalah pengekang baginya.” (Hadits Nasai Nomor 3157)

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ قَالَتْ فُلَانَةُ لَا تَنَامُ فَذَكَرَتْ مِنْ صَلَاتِهَا فَقَالَ مَهْ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ فَوَاللَّهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى تَمَلُّوا وَلَكِنَّ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

“dari [‘Aisyah] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang perempuan. lalu beliau berkata; “Siapa ini” ” Aisyah menjawab; “Dia Fulanah, dia tidak tidur.” Lalu Aisyah menceritakan tentang shalatnya. Rasulullah bersabda: “Cukup, kalian seharusnya mengerjakan shalat semampunya. Demi Allah, Allah tidak pernah bosan hingga kalian yang bosan. Akan tetapi sebaik-baik agama (amalan) adalah yang dilakukan secara kontinyu oleh pelakunya.” (Hadits Nasai Nomor 1624, Hadits Abu Daud Nomor 1161, dan Hadits Bukhari Nomor 41)

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 97)

Untuk melengkapi pemahaman sebaiknya baca juga artikel terkait berikut,

Prinsip Dasar Amal dan Ibadah Sunah Mutlak adalah Bagi yang Mampu dan Mau

Beramal dan Beribadah Sesuai Kemampuan

Tuntutan syariat Islam hanya sebatas kemampuan umatnya

Beramal dan Beribadah Sesuai Keadaan

Kesimpulan

Jadi tidak salah manakala sebagian umat Islam mengkhususkan dengan cara melebihkan membaca surat Yasin dibanding surat yang lainnya, atau lebih mengamalkan suatu dzikir, suatu doa, suatu tahlil, atau suatu shalawat dibanding amalan lainnya di waktu-waktu tertentu.

Misalkan seseorang yang ingin memanfaatkan libur hari Minggu, akhir tahun Hijriyah, awal tahun Hijriyah, setiap hari, tanggal kelahiran, tanggal pernikahan, tanggal kematian, momen kebahagiaan, momen kesedihan, dan lain sebagainya. Bolehnya melakukan suatu perbuatan baik pada hari-hari tersebut bisa jadi hanya memanfaatkan waktu luangnya ada pada hari itu. Atau mengkhususkan hari itu sebab ingin menciptakan momen istimewa atau sedang mengenang momen penting yang bersifat pribadi yang pernah terjadi pada waktu yang sudah lewat.

Syariat agama tidak mempersoalkan keinginan yang bersifat pribadi dan keinginan yang bersifat alami dari masing-masing umat Islam sebab kecondongan tersebut tidak disandarkan pada perkara syariat. Terkait pada waktu-waktu pribadi tersebut kemudian diisi dengan amal-amal shalihah bernilai pahala, memang agama memerintahkan setiap orang untuk memanfaatkan waktu luangnya diisi dengan amal shalih yang diniatkan untuk ibadah karena Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat An-Nahl Ayat 97)

Tidak ada salahnya umat Islam memanfaatkan setiap waktu luang dengan amal shalih dan amal ibadah mutlak sebagai bentuk syukur pada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

اِغْتَنَمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR. Hâkim)

Berdasarkan perintah agama yang bersifat mutlak tersebut, maka setiap umat Islam sangat diperbolehkan untuk memanfaatkan waktu luangnya diisi dengan berbagai amal shalih dan ibadah sehingga amalan yang asalnya bersifat pribadi tersebut tetap bernilai pahala. Terkait teknis pemanfaatan waktu luang tersebut sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing umat Islam. Sebab tidak semua perkara teknis amal shalih dan ibadah sunnah mutlak diatur oleh agama Islam. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan.” (HR. Ibnu Majah No. 3358)

بَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ وَتَلَا { قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

“Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan maka hukumnya dimaafkan. ” Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat: ‘ (Katakanlah: “Aku tidak mendapatkan dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan…) ‘ (Qs. al-An’aam: 145) hingga akhir ayat. ” (HR. Abu Daud No. 3306)

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّمْنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ فَقَالَ الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang mentega, keju dan al-Fara (sejenis baju dari kulit). ” Beliau lalu menjawab: “Halal adalah sesuatu yang telah Allah halalkan dalam kitab-Nya, dan haram adalah sesuatu yang telah Allah haramkan dalam kitab-Nya. Adapun yang Allah diamkan, maka itu adalah sesutau yang Allah maafkan. ” (HR. Tirmidzi No. 1648)

Kenapa tidak semua perkara diatur oleh agama Islam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah agama Islam ingin memudahkan beban kehidupan umatnya sebagai bentuh kasih sayang Allah kepada hambanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat (kasih sayang untuk memudahkan) bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Dengan begitu hukumnya sangat boleh menyalurkan selera pribadi sebagai bentuk sifat alami manusia yang suka berkreasi dan berinovasi dalam hal amal shalih (bid’ah hasanah). Sebagaimana Nabi terbiasa menyalurkan selera-selera pribadinya dengan berinovasi dan berkreasi walaupun dengan meniru kebiasaan umat lain. Sebagaimana yang tergambar dari beberapa riwayat Hadits berikut,

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ

“Rasulullah SAW. lebih suka mencontoh para Ahli kitab, selama belum ada perintah tertentu (syariat tertentu) mengenai urusan itu.” (HR. Muslim No. 4307)

كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَعْنِي يَسْدِلُونَ أَشْعَارَهُمْ وَكَانَ الْمُشْرِكُونَ يَفْرُقُونَ رُءُوسَهُمْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُعْجِبُهُ مُوَافَقَةُ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ فَسَدَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاصِيَتَهُ ثُمَّ فَرَقَ بَعْدُ

“Orang-orang ahli kitab biasa mengurai rambutnya dan orang-orang musyrik biasa membelah rambut kepada mereka menjadi dua bagian. Sedangkan Rasulullah SAW. lebih senang menyamai orang-orang ahli kitab pada hal-hal yang tidak ada perintahnya. Maka Rasulullah SAW. pun mengurai rambutnya bagian depan, kemudian membelahnya setelah itu. ” (HR. Abu Daud No. 3656)

Di sinilah wilayah di mana umat Islam diberikan kewenangan seluas-luasnya untuk berkreasi dan berinovasi dalam hal kebaikan (amal shalih), atau menurut istilah golongan Ahlusunnah wal Jamaah disebut bid’ah hasanah (inovasi kebaikan). Inovasi dalam kebaikan inilah makna hakikat dari amal shalih. Nabi bersabda,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“seseorang bertanya: siapa orang terbaik itu? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab: “Orang yang panjang umurnya (banyak waktu luangnya) dan baik amalnya.” Ia bertanya: Lalu siapa orang yang terburuk itu? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab: “Orang yang panjang umurnya (banyak waktu luangnya) tapi buruk amalnya.” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (Hadits Tirmidzi Nomor 2252)

Lengkapi pemahaman dengan membaca artikel terkait ini;

Hakikat Makna Amal Shalih adalah Bid’ah Hasanah

Kebenaran amal shalih yang juga disebut dengan bid’ah hasanah ini bukan tanpa dasar, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri membenarkan kreasi dan inovasi yang dilakukan oleh umat Islam selama tidak mengandung unsur-unsur keharaman (Al-A’raf ayat 33). Pembenaran Nabi terhadap kreasi dan inovasi kebaikan yang dilakukan oleh umatnya adalah bahwa fitrah alami manusia pasti kecondongannya akan mengarah kepada kebaikan. Jadi apa-apa yang menurut umumnya manusia baik, maka juga dianggap baik oleh agama. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Seperti contoh kasus; Agama tidak mempermasalahkan bila seseorang ingin mengenang untuk kemudian merayakan hari yang dianggap spesial seperti hari kelahirannya dengan beramal salih seperti sedekah, memberi makan orang yang kekurangan, memberi santunan anak yatim, atau lainnya. Rasa syukur yang dikatikan dengan hari kelahiran sebab hingga saat ini masih diberi kesehatan lalu diungkapkan dengan inisiatif untuk lebih meningkatkan sedekah dengan menyantuni anak yatim, memberi makan, dan mengundang orang lain makan, atau lainnya. Hal semacam itu sangat diperbolehkan oleh agama Islam. Sebab inisiatif untuk lebih meningkatkan kebaikan yang dikaitkan dengan situasi tertentu bukan serta merta dapat dikatakan mengkhususkan. Sebab di waktu-waktu yang biasa tetap mengerjakan kebaikan, namun bedanya hanya lebih ditingkatkan kebaikannya di saat momen-momen spesial secara pribadi.

Merupakan suatu yang sangat alami dan sudah menjadi fitrah manusia yang memiliki kecenderungan untuk lebih meningkatkan rasa syukurnya ketika rasa bahagianya meningkat. Dan kecenderungan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan lebih meningkat bilamana seorang manusia sedang mengalami kesedihan. Tabiat dan sifat alami manusia ini sangat dibenarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana tergambar dalam banyak firmannya. Di antaranya adalah,

Manusia cenderung akan lebih meningkatkan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah manakala mengalami kesedihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Surat Yunus Ayat 12)

Tidak ada batasan dan dilarang membatas-batasi seseorang untuk mengisi waktu luangnya dengan memperbanyak amal shalih. Sangat tidak berdasar tuduhan kaum Salafi yang mempersoalkan umat Islam mengkhususkan amalan. Dengan kata lain membuat jadwal atau mengisi waktu-waktu luangnya dengan berbagai macam amal shalih dan berbagai ibadah sunah mutlak seperti doa, dzikir, istighfar, shalat sunah mutlak, puasa sunah mutlak.

Dalam mengamalkan ibadah-ibadah sunah mutlak di waktu-waktu mutlak tidak diperlukan dalil khusus dari Al-Qur’an maupun Hadits. Sebab menjadwalkan (mengkhususkan) amal ibadah mutlak di waktu-waktu mutlak cukup menggunakan keumuman perintah-perintah yang bersifat dalil-dalil yang juga mutlak, seperti dalil keumuman perintah berbuat amal shalih.

Jadi, bila golongan Salafi mempersoalkan umat Islam yang berkreasi dan berinovasi terkait amalan dan ibadah mutlak di waktu dan situasi yang juga mutlak. Seperti meningkatkan doa saat mengalami kesedihan dan lebih meningkatkan sedekah dan kebaikan saat mengalami kebahagiaan. Maka tuduhan itulah sejatinya bid’ah yang nyata. Sebab pengertian (hakikat) bid’ah sejatinya adalah kedustaan atas nama agama dengan melarang atau memerintahkan suatu perkara yang sebetulnya dibebaskan oleh agama. Pengertian ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya)

Diperkuat dengan makna Hadits berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan. “. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Sudah sangat jelas, bahwa dalam agama di samping ada wilayah haram (yang dilarang) dan halal (yang dianjurkan) juga ada wilayah netral (didiamkan). Di mana tata cara pelaksanaan amaliah dan ibadah yang sifatnya netral tersebut hukumnya mubah dan diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam.

Untuk menyempurnakan pemahaman, baca juga artikel yang terkait berikut,

Hakikat Bid’ah

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Jadi bilama ada segolongan Salafi membid’ahkan pengkhususan waktu yang disukai untuk beribadah, dengan begitu mereka telah melakukan bid’ah. Maksud bid’ah di sini adalah bahwa mereka telah berbohong atas nama Agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Surat An-Nahl Ayat 105)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

Jadi mudah menuduh bid’ah dengan mudah mengharamkan perkara yang dibebaskan merupakan kelancangan terhadap wewenang Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat Ayat 1)

Jadi tuduhan mereka yang membid’ahkan pemilihan suatu tempat yang dirasa lebih nyaman dan lebih disukai untuk beribadah merupakan perkara bid’ah yang batal dan batil.

Pelajari dan tingkatkan ilmu dengan lebih banyak baca dan mempelajari Al-Qur’an, Hadits dan pendapat para ulama madzhab agar pandangan keagamaan kita tidak sempit. Allahu Musta’an.

Ikhtitam

Sudah sangat jelas bahwa anggapan dan tuduhan-tuduhan bid’an dari golongan Salafi terhadap kerasi dan inovasi dalam amalan-amalan sunnah mutlak sangat tidak berdasar dan bertentangan dengan lebih banyak dalil yang membenarkan amalan-amalan sunnah mutlak yang disesuaikan dengan situasi dan keadaan umat Islam masing-masing. Oleh sebab itu, tidak perlu ragu-ragu lagi untuk mengamalkan ibadah sunnah mutlak seperti dzikir bersama dengan suara terdengar. Mengisi amalan-amalan duniawi dengan dzikir, seperti momen syukuran atas anugerah Allah dengan bacaan-bacaan dzikir. Isilah semua waktu dan kesempatan untuk memperbanyak ibadah sunnah mutlak dengan mengharap ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dikutip dari buku “Menyoal Kehujahan Hadits Bid’ah”, Penulis KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad.

Bagikan Artikel Ini Ke