Perbuatan Selain Ibadah yang Diperbolehkan untuk Dilakukan di Masjid Menurut Sunnah

Masjid adalah rumah Allah, ia memiliki kedudukan yang amat agung bagi kaum muslimin karena menjadi simbol persatuan umat. Masjid merupakan harga diri bagi umat Islam. Islam sebagai agama masih terhormat di hadapan umat lain, selama masjid masih tegak dan makmur. Umat Islam senantiasa berkewajiban menjaga kemuliaan masjid dengan cara memakmurkan masjid. Kewajiban menjaga masjid merupakan perintah langsung dari Allah,

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (Surat Al-Jinn Ayat 18)

Walaupun sangat jelas bahwa fungsi utama masjid dibangun untuk beribadah kepada Allah. Namun begitu, ternyata masjid boleh digunakan untuk beberapa kegiatan dan perbuatan selain urusan ibadah. Beikut beberapa perbuatan yang bersifat pribadi selain ibadah yang dapat dilakukan di masjid berdasarkan sunnah. Di antaranya adalah;

Membawa Anak Kecil Ke Masjid

Banyak dari kalangan muslim ketika hendak mengejar keutamaan i’tikaf maupun shalat berjamaah terpaksa harus mengajak anaknya yang masih kecil ke masjid disebabkan di rumah tidak ada seseorang yang dapat dititipi untuk mengawasi anak-anak mereka.

Agar umat Islam tidak merasa was-was untuk mengajak anaknya yang masih kecil ke masjid, berikut penjelasan mengenai hukum membawa anak kecil ke masjid.

Berdasarkan kesepakatan ulama hukum membawa anak kecil ke masjid hukumnya boleh. Banyak dalil yang menunjukkan diperbolehkannya membawa anak kecil ke masjid. Di antaranya;

عن أبي قَتَادَةَ رضي الله عنه: بَيْنَا نَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ جُلُوسٌ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْمِلُ أُمَامَةَ بِنْتَ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ وَأُمُّهَا زَيْنَبُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ صَبِيَّةٌ يَحْمِلُهَا عَلَى عَاتِقِهِ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ عَلَى عَاتِقِهِ يَضَعُهَا إِذَا رَكَعَ وَيُعِيدُهَا إِذَا قَامَ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ بِهَا

“Abu Qotadah radhiallahu ‘anhu mengatakan: Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam muncul ke arah kami sambil menggendong Umamah binti Abil Ash, -ibunya adalah Zainab binti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam-, ketika itu Umamah masih kecil (belum disapih)-, beliau menggendongnya di atas pundak, kemudian Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- mengerjakan shalat, sedang Umamah masih di atas pundak beliau, apabila ruku’ beliau meletakkan Umamah, dan apabila berdiri beliau menggendongnya kembali, beliau melakukan yang demikian itu hingga selesai shalatnya. (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 783, dan Nasa’i Nomor 704)

Dalam hadits tersebut terlihat bahwa Nabi membenarkan anak kecil berada di dalam masjid saat sebuah ibadah dilaksanakan. Tidak ada masalah bila anak kecil tersebut ada kemungkinan akan menangis keras. Nabi tidak mengingkari keberadaan anak kecil di dalam masjid-masjid, bahkan Nabi mengingatkan kepada para Imam saat mengimami untuk mempertimbangkan para ibu yang sedang membawa anaknya dengan tidak terlalu memperpanjang shalatnya agar memberatkan ibunya. Dalam hadits lain diriwayatkan,

عَن أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ مَعَ أُمِّهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَقْرَأُ بِالسُّورَةِ الْخَفِيفَةِ أَوْ بِالسُّورَةِ الْقَصِيرَةِ

“Anas radhiallahu ‘anhu mengatakan: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mendengar tangisan seorang anak kecil bersama ibunya, sedang beliau dalam keadaan shalat, karena itu beliau membaca surat yang ringan, atau surat yang pendek.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 722)

Namun begitu walaupun boleh membawa anak-anak ke dalam masjid tetap harus dalam bimbingan orang-orang dewasa agar kehadiran mereka tidak terlalu mengganggu kekhusu’an dalam beribadah. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

عن أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي، فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ عَلَى ظَهْرِهِ وَعَلَى عُنُقِهِ، فَيَرْفَعُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَفْعًا رَفِيقًا لِئَلَّا يُصْرَعَ، قَالَ: فَعَلَ ذَلِكَ غَيْرَ مَرَّةٍ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَ بالْحَسَنِ شَيْئًا مَا رَأَيْنَاكَ صَنَعْتَهُ قَالَ: ” إِنَّهُ رَيْحَانَتِي مِنْ الدُّنْيَا وَإِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَعَسَى اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ ”

“Abu Bakroh radhiallahu ‘anhu mengatakan: Sungguh Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam– suatu ketika pernah shalat, jika beliau sujud, Hasan melompat ke atas punggung dan leher beliau, maka beliau pun mengangkatnya dengan lembut agar dia tidak tersungkur (jatuh)… Beliau melakukan hal itu tidak hanya sekali… Maka seusai beliau mengerjakan shalatnya, para sahabatnya bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat engkau memperlakukan Hasan sebagaimana engkau memperlakukannya (hari ini)”… Beliau menjawab: “Dia adalah permata hatiku dari dunia, dan sungguh anakku ini adalah sayyid (seorang pemimpin), semoga dengannya Allah tabaroka wa ta’ala mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai)”. (Hadits Ahmad Nomor 19611)

Baca juga; Hukum Mengajak Anak Kecil ke Masjid

Tidur di masjid

Bagi mereka yang mungkin sedang dalam perjalanan membutuhkan tempat istirahat sebelum sampai pada tujuannya diizinkan untuk tidur di masjid. Atau mungkin juga diperbolehkan tidur di masjid bagi mereka yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Sebagaimana Nabi juga pernah tidur di masjd,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي أَخِي عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ شَرِيكِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُنَا عَنْ لَيْلَةِ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي مَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ أَوَّلُهُمْ أَيُّهُمْ هُوَ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ هُوَ خَيْرُهُمْ وَقَالَ آخِرُهُمْ خُذُوا خَيْرَهُمْ فَكَانَتْ تِلْكَ فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى جَاءُوا لَيْلَةً أُخْرَى فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَائِمَةٌ عَيْنَاهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذَلِكَ الْأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ فَتَوَلَّاهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ

Telah bercerita kepada kami Isma’il berkata telah bercerita kepadaku saudaraku dari Sulaiman dari Syarik bin Abdullah bin Abu Namir, aku mendengar Anas bin Malik bercerita kepada kami tentang perjalanan malam isra’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari masjid Kabah (Al Haram). Ketika itu, beliau didatangi oleh tiga orang (malaikat) sebelum beliau diberi wahyu, saat sedang tertidur di Masjidil Haram. Malaikat pertama berkata; “Siapa orang ini diantara kaumnya? ‘.. Malaikat yang di tengah berkata; “Dia adalah orang yang terbaik di kalangan mereka’. Lalu malaikat yang ketiga berkata; “Ambillah yang terbaik dari mereka.” Itulah di antara kisah Isra’ dan beliau tidak pernah melihat mereka lagi hingga akhirnya mereka datang berdasarkan penglihatan hati beliau dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam matanya tidur namun hatinya tidaklah tidur, dan demikian pula para Nabi, mata mereka tidur namun hati mereka tidaklah tidur. Kemudian Jibril menghampiri beliau lalu membawanya naik (mi’raj) ke atas langit”. (Hadits Bukhari Nomor 3305)

AI-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan bahwa bolehnya tidur di dalam masjid adalah pendapat jumhur ulama (Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhari Jilid 1 halaman 694)

Dalam sebuah hadits diriwayatkan,

أَنَّهُ كَانَ يَنَامُ وَهُوَ شَابٌّ أَعْزَبُ لاَ أَهْلَ لَهُ فِي مَسْجِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika masih muda, bujangan, dan belum berkeluarga, beliau tidur di masjid Nabawi.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 440)

Ahlus sufah (orang-orang sufi pada zaman Nabi) adalah para sahabat yang datang dari luar Madinah kebetulan singgah dan berkunjung di Madinah. Kepada mereka Nabi mengizinkan untuk tinggal dan tidur di masjid Nabawi. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, menceritakan,

لَقَدْ رَأَيْتُ سَبْعِينَ مِنْ أَصْحَابِ الصُّفَّةِ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ عَلَيْهِ رِدَاءٌ

“Aku bertemu dengan 70 ashabus sufah. Tidak ada seorangpun yang memakai kain penutup badan bagian atas.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 442)

Nabi juga pernah membiarkan beberapa budak wanita milik salah satu suku Arab untuk tinggal dan tidur di masjid. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, menceritakan,

فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي المَسْجِدِ – أَوْ حِفْشٌ

“Wanita ini memiliki kemah kecil dari dedaunan dan bulu yang berada di dalam masjid.” (Hadits Riwayat Bukhari 439)

Walaupun boleh hukumnya tinggal dan tidur di masjid, namun dengan catatan bahwa mereka yang tinggal dan tidur di masjid serta bagi para pengelola masjid tetap harus menjaga kebersihan dan kesucian masjid.

Baca selengkapnya; Bolehkah Tidur di Dalam Masjid?

Meludah di masjid

Kedudukan masjid merupakan tempat yang paling dicintai oleh Allah, dan merupakan tempat yang sangat agung bagi umat Islam. Ia sangat agung sebab di sanalah pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi umat Islam.

Disebabkan begitu mulia tempat ini maka siapapun dari kalangan umat Islam wajib menjaga kehormatan dan kebersihannya. Di antara upaya menjaga kebersihan masjid ini adalah dilarang membuang sembarangan kotoran dan meludah di dalam masjid. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا

“Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan kafarat (untuk diampuninya) adalah dengan menimbun ludah tersebut.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 40)

Dalam riwayat lain juga disebutkan,

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ وَشُعْبَةُ وَأَبَانُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّفْلُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهُ أَنْ تُوَارِيَهُ

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dan Syu’bah dan Aban dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Meludah di Masjid adalah suatu kesalahan dan kafaratnya adalah dengan menutupinya.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 401)

Hadits ini ingin menerangkan bahwa meludah dalam masjid itu adalah satu perbuatan buruk dan sangat diingkari. Bila sudah teralanjur meludah maka ludahnya wajib ditimbun. Yang dimaksud menimbun ludah di sini adalah apabila lantai masjid itu dari tanah, pasir, atau semisalnya. Adapun jika lantai masjid itu berupa semen atau kapur, maka ia meludah di kainnya, tangannya, atau yang lain.

Solusi terbaik dan terpuji bila terpaksa harus meludah di dalam masjid adalah keluar masjid untuk meludah di halaman atau di toilet. Sebab kebanyakan orang merasa risih dengan ludah, apalagi dahak. Perhatikan kenyamanan orang lain dan hindari orang lain merasa terganggu sehingga kita terhindar dari dosa.

Dari sisi kesehatan pun tidak kalah penting. Karena, dengan izin Allah, ludah atau dahak merupakan salah satu media penularan penyakit-penyakit tertentu. Seperti TBC, batuk, dan yang lainnya.

Adab saat membuang ludah

Bagian dari adab meludah atau membuang dahak adalah menghindar meludah ke arah kiblat secara mutlak, baik di masjid, mushalla, atau di tempat lain, seperti yang dikatakan oleh Ash-Shan’ani di dalam Subulus-Salam (I/230). Ash-Shan’ani menjelaskan: “Imam Nawawi lebih yakin dengan larangan melakukan hal-hal tersebut dalam segala situasi. Baik ketika shalat atau di luar itu, di dalam masjid atau di tempat lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَفْلُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَمَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الْخَبِيثَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا ثَلَاثًا

“Barangsiapa meludah ke arah kiblat, maka pada hari kiamat ia akan datang sementara ludahnya ada di antara kedua matanya.” (Hadits Abu Daud Nomor 3328 dan Ibnu Hibban Nomor 332 & 333)

Solusi yang diberikan Nabi bagi umat Islam manakala hendak meludah namun tidak keluar masjid adalah dengan cara ludahnya disimpan pada bajunya dan ketika meluda selain arah kiblat, yakni meludah ke samping kiri, kanan, atau arah bawahnya. Disebutkan dalam sebuah riwayat Hadits,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي الْقِبْلَةِ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُئِيَ فِي وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ أَوْ إِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَلَا يَبْزُقَنَّ أَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَلَكِنْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ ثُمَّ أَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ أَوْ يَفْعَلُ هَكَذَا

“bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ada dahak di dinding kiblat. Beliau lalu merasa jengkel hingga nampak tersirat pada wajahnya. Kemudian beliau menggosoknya dengan tangannya seraya bersabda: “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat, maka sesungguhnya dia sedang berhadapan dengan Rabbnya – atau sesungguhnya Rabbnya berada diantara dia dan kiblat – maka janganlah dia meludah ke arah kiblat, tetapi lakukanlah ke arah kirinya atau di bawah kaki (kirinya).” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tepi selendangnya dan meludah di dalamnya, setelah itu beliau menggosok-gosok kainnya lalu berkata, atau beliau melakukan seperti ini.” (Hadits Bukhari Nomor 390, Muslim Nomor 551, dan Ahmad Nomor 5083)

Pesan Rasulullah yang perlu digarisbawahi, adab meludah ketika shalat tidak boleh ke arah kiblat. Selain ke arah kiblat, masih bisa ditoleransi, asalkan shalatnya tidak di dalam masjid. Jika shalat di masjid dan menyebabkan kotor, dalam syarah al-Muhadzab dikatakan, ini haram. Apabila ingin meludah, hendaknya meludah ke arah pakaian yang dikenakan semisal pada bagian kerah baju yang kiri.

Ketika terpaksa harus meludah saat shalat, maka boleh meludah ke arah kirinya dengan syarat tidak ada jamaah yang lain. Kalau ada orang lain, bisa meludah ke bawah kakinya apabila lantainya tanah atau pasir, sehingga memungkinkan untuk ditutup dengan tanah. Seandainya lantainya keramik atau karpet, maka meludah ke tisu atau sapu tangan, atau bisa juga ke bajunya. Berdasarkan riwayat berikut,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقُ قِبَلَ وَجْهِهِ فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ludah di dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya kemudian menghadap ke arah orang banyak seraya bersabda: “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat, janganlah dia meludah ke arah depannya, karena Allah berada di hadapannya ketika dia shalat.” (Hadits Bukhari Nomor 391, Muslim Nomor 547, dan Nasa’i Nomor 724)

Baca selengkapnya; Hukum dan Adab Meludah di dalam Masjid

Memakai sandal ke dalam masjid

Tidak semua masjid berlantai keramik atau marmer. Ada sebagian masjid yang masih berlantai tanah. Mungkin masih dalam tahap renovasi atau pembangunan. Maka hukumnya boleh masuk ke dalam masjid menggunakan alas kaki. Dari ‘Amr bin Harits Al-Makhzumi radhiallahu’anhu, beliau berkata,

رأيتُ رسولَ اللهِ يصلِّي في نعلَينِ مَخْصوفتَينِ

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan memakai sepasang sandal yang memiliki mikhshaf” (Hadits Riwayat At Tirmidzi Nomor 76)

Dari Abdullah bin Syikhir radhiallahu’anhu beliau mengatakan,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ»

“Aku melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan menggunakan sepasang sandal” (Hadits Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf Nomor 1500)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu beliau mengatakan,

لقد رأينا رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي في النَّعلَينِ والخُفَّينِ

“Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan menggunakan sepasang sandal dan sepasang khuf.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 858)

Dalam sebuah Hadits juga diriwayatkan bahwa Nabi pernah shalat di dalam masjid masih mengenakan sandal,

رأيت رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم يصلي حافيا ومنتعلا

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat dengan tanpa alas kaki dan pernah juga dengan memakai sandal” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 653)

Dari kakeknya ‘Amr bin Syu’aib, ia berkata,

رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي يَنفتِلُ عن يمينِهِ وعن شمالِهِ ، ورأيتُهُ يصلِّي حافيًا ومُنتعلًا ، ورأيتُهُ يشرَبُ قائمًا وقاعدًا

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat lalu setelah selesai berbalik ke sebelah kanan dan pernah juga berbalik ke sebelah kiri, aku pernah melihat beliau shalat tanpa sandal dan pernah juga menggunakan sandal, aku pernah melihat beliau minum sambil berdiri dan pernah juga sambil duduk” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 10/119)

Didukung dengan riwayat dari Abu Maslamah Sa’id bin Yazid beliau berkata,

سألتُ أنسَ بنَ مالكٍ: أكان النبيُّ صلى الله عليه وسلم يُصلي في نَعْلَيه قال: نعم

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘apakah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah shalat memakai sandai?’ Beliau menjawab, ‘ya’” (Hadits Riwayat Al-Bukhari Nomor 386)

Bahkan dalam sebuah riwayat penggunaan sandal merupakan upaya untuk menyelisihi kaum Yahudi. Dari Syaddad bin Aus radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

خالِفوا اليَهودَ فإنَّهم لا يصلُّونَ في نعالِهِم ولا خفافِهِم

“Selisihilah kaum Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan memakai sandal dan sepatu mereka” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 652)

Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

صَلَّيتُ مع رسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فرأَيْتُه تَنَخَّعَ ، فدَلَكَها بنعلِه

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan aku melihat beliau meludah (ke tanah) lalu menggosok ludahnya (di tanah) dengan sandalnya” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 554)

Dari Abu Aubar Ziyad Al Haritsi, beliau berkata:

أتى رجلٌ أبا هُرَيْرةَ ، فقالَ : أنتَ الَّذي تَنهى النَّاسَ أن يُصلُّوا ، وعليهِم نعالُهُم ؟ قالَ : لا ، ولَكِن وربِّ هذِهِ الحُرمةِ ، لقد رأيتُ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصلِّي إلى هذا المقامِ ، وعليهِ نَعلاهُ ، وانصرَفَ وَهُما عليهِ ونَهَى النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عن صيامِ يومِ الجمعةِ ، إلَّا أن يَكونَ في أيَّامٍ

“Seseorang datang kepada Abu Hurairah radhiallahu’ahu. Orang tersebut berkata, ‘apakah engkau yang melarang orang-orang untuk shalat dengan memakai sandal?’ Abu Hurairah menjawab, ‘tidak, namun demi Allah ini adalah kehormatan. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam shalat di tempat ini dengan memakai sepasang sandal, kemudian beliau selesai shalat dan tetap memakai sandal. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melarang puasa di hari Jum’at kecuali jika dibarengi dengan hari-hari yang lain.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 16/315)

Maksud diperbolehkannya masuk masjid dan shalat menggunakan sandal adalah manakala alas kaki kita dalam keadaan suci. Sebaliknya, manakala sandal kita dalam keadaan najis tentunya tidak boleh sandal masuk ke dalam masjid. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu’anhu,

أنَّ رسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ صلَّى فخَلعَ نَعليهِ فخلعَ النَّاسُ نعالَهُم فلمَّا انصرَف قالَ: لمَ خَلعتُمْ نعالَكُم ؟ قالوا: يا رسولَ اللَّهِ، رأيناكَ خلَعتَ فخَلَعنا قالَ: إنَّ جَبرئيلَ أتاني فأخبرَني أنَّ بِهِما خَبثًا فإذا جاءَ أحدُكُمُ المسجِدَ فليقلِب نعليهِ فلينظُر فيهما خبثٌ؟، فإن وجدَ فيهما خبثًا فليمسَحهما بالأرضِ، ثمَّ ليصلِّ فيهما

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika sedang shalat beliau melepas sandalnya. Maka para makmum pun melepas sandal mereka. Ketika selesai shalat Nabi bertanya, ‘mengapa kalian melepas sandal-sandal kalian?’ Para sahabat menjawab, ‘wahai Rasulullah, kami melihat engkau melepas sandal, maka kami pun mengikuti engkau.’ ‘(Adapun aku,) sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkanku bahwa pada kedua pasang sandalku terdapat najis. Maka jika salah seorang dari kalian mendatangi masjid, hendaknya ia lihat bagian bawahnya apakah terdapat najis Jika ada maka usapkan sandalnya ke tanah, lalu shalatnya menggunakan keduanya’” (Hadits Riwayat Al-Hakim 1/541, Abu Daud Nomor 650, Ibnu Hibban Nomor 2185)

Walaupun kita yang berada di Indonesia mempertanyakan perkara ini karena dikaitkan dengan kesopanan. Hukum boleh mengenakan alas kaki seperti sejenis sepatu atau kaos kaki (khuf) saat shalat ini tentunya dapat difahami bahwa kondisi cuaca di Arab pada masa Nabi terkadang ekstim. Ada situasi di mana cuaca terkadang terlalu sangat panas dan terkadang sangat dingin. Sehingga kebiasaan orang Arab ketika mengalami cuaca terlalu dingin tidak melepas alas kaki mereka selama berhari-hari. Diriwayatkan dalam sebuah hadits,

كَانَ النَّبِيُّ يَأْمُرُنَا إذَا كُنَّا سَفْرًا أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ وَلَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ

“Dari Shafwan bin ‘Asal berkata bahwa Rasululah SAW memerintahkan kami untuk mengusap kedua khuff bila kedua kaki kami dalam keadaan suci. selama tiga hari bila kami bepergian atau sehari semalam bila kami bermukim dan kami tidak boleh membukanya untuk buang air dan kencing kecuali karena junub.” (Hadits Riwayat Ahmad, An-Nasa’i dan At-Tirmizi)

Namun begitu, bila di suatu daerah seperti di Indonesia penggunaan alas kaki ke dalam rumah atau masjid dianggap kurang sopan, tentunya patut dihindari. Apalagi cuaca di Indonesia sedang-sedang saja, dan bangunan masjid nyaris sudah tidak ada lagi yang berlantai tanah maupun pasir, maka memaksakan menggunakan alas kaki saat shalat dan masuk ke dalam masjid dengan alasan mengikuti sunnah Rasul tentunya juga kurang bijak.

Di samping itu kondisi tanah di Arab hampir jarang hujan sehingga kondisinya senantiasa kering. Namun berbeda dengan di Indonesia yang mana merupakan iklim tropis dan kontur tanahnya mudah bece bila terkena air, maka memaksakan untuk menggunakan alas kaki dan masuk ke dalam masjid akan menyebabkan masjid akan menjadi kotor.

Baca selengkapnya; Hukum Mengenakan Sandal Masuk ke dalam Masjid

Makan dan minum di dalam masjid

Makan dan minum di dalam masjid hukumnya boleh selama tidak dijadikan kebiasaan dan selama tidak menyebabkan masjid menjadi kotor dan najis. Sahabat Abdullah bin Harits az-Zubaidi mengatakan,

كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ

“Di zaman Nabi Kami makan roti dan daging di dalam masjid.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah 3425)

Namun makan dan minum menjadi makruh atau haram manakala apa yang dimakan menyebabkan orang lain terganggu. Seperti makan makanan yang beraroma bususk. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

مَنْ أَكَلَ ثَوْمًا أَوْ بَصَلاً فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدَ فيِ بَيْتِهِ

“Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang makan bawang harus menjauhi kami atau menjauhi masjid kami. Dan hendaklah dia duduk di rumahnya.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Syaikh as-Syaukani menjelaskan dalam Nailul Awthar, halaman 2/172,

)والحديث ) يدل على المطلوب منه وهو جواز الأكل في المسجد وفيه أحاديث كثيرة منها سكنى أهل الصفة في المسجد الثابت في البخاري وغيره

Hadits ini menjelaskan apa yang dikehendaki darinya yaitu bolehnya makan di dalam masjid, selain hadits ini juga ada banyak hadits yang menunjukkan bolehnya makan di dalam masjid. Diantaranya hadits yang menjelaskan ashhabussuffah yang bertempat tinggal di masjid sebagaimana yang tersebut dalam shahih Bukhari dan yang lain.

Imam Annawawi dalam Fatawinya dalam al-Fatawa, halaman 64-65, menjelaskan:

هو جائز، ولا يمنع منه؛ لكن ينبغي له أن يبسط شيئًا، ويصون المسجد، ويحترز من سقوط الفُتات والفاكهة وغيرهافي المسجد. وهذا الذي ذكرناه فيما ليس له رائحة كريهة: كالثوم، والبصل، والكراث، والطبيخ الذي ليس فيه شيء من رائحة ذلك، ونحوه، فإن كان فيه شيء من ذلك فيكره أكله في المسجد، ويمنع آكلهُ من المسجد حتى يذهب ريحه؛ فإِن دخل المسجد أُخرج منه، للحديث الصحيح المشهور في ذلك

Makan di dalam masjid itu boleh dan tidak dilarang. Namun sebaiknya digelar sesuatu untuk makan (diberi alas untuk makan), menjaga kebersihan masjid, serta menjaga agar tidak ada makanan yang berceceran di dalam masjid. Apa yang kami sebutkan itu berlaku untuk makanan yang tidak berbau kurang sedap seperti bawang putih, bawang merah, bawang bakung dan masakan yang di dalamnya terdapat bau tersebut. Bila mempunyai bau yg kurang sedap maka makruh memakannya di dalam masjid. Orang yang memakannya dicegah masuk ke masjid hingga hilang baunya. Hal ini didasarkan pada hadits shahih yang masyhur.

Jadi, Boleh makan minum di dalam masjid dengan syarat bisa menjaga kebersihan dan kesucian masjid serta tidak menimbulkan bau yang kurang sedap dan tidak mengganggu ibadah orang di dalam masjid.

Baca selengkapnya; Hukum Makan dan Minum di Dalam Masjid

Mengkhususkan tempat untuk beribadah

Walaupun sudah kita ketahui bahwa dalam beribadah kita boleh memilih tempat di manapun. Lalu bagaimana hukum mengkhususkan salah satu atau beberapa tempat untuk kita jadikan tempat beribadah. Bisa jadi selera seseorang berbeda dengan orang lain dalam hal suasana yang lebih mendukung kekhusuaan ibadah seseorang.

Terkait dengan ini ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperbolehkan atau bahkan menganjurkan setiap muslim membuat tempat khusus di manapun dia sukai untuk dijadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا

“Hendaknya seseorang memiliki tempat KHUSUS yang ia pergunakan untuk menyendiri (berkhulwat/meditasi) dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah”. (HR. Darimi No. 316)

Hadits di atas didukung oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah Allah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nur: 36)

Pengkhususan suatu tempat untuk beribadah juga sering dilakukan oleh Nabi. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan tempat ibadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana yang terlihat dari sebuah riwayat hadits berikut,

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar (agar beliau bisa shalat seleluasa panjangnya dan tidak ditiru sahabatnya) pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan di antara beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu.” (HR. Nasai No. 754)

Hadits di atas menunjukkan anjuran agar setiap kita memiliki dan membuat tempat baik di rumah atau tempat lainnya yang kita khususkan untuk dipergunakan muhasabah, merenung atau mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan gua Hira untuk media pendekatan diri kepada Allah selain Masjid. Hadits-Hadits berikut yang menggambarkan Nabi suka mencari tempat-tempat khusus untuk beribadah,

فَكَانَ يَلْحَقُ بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ قَالَ وَالتَّحَنُّثُ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

“Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira`, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal.” (Hadits Bukhari Nomor 4572)

Dalam riwayat lain disebutkan,

فَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ يَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ أُوْلَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ

“Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan.” (Hadits Muslim Nomor 231)

Pada hadits di bawah ini disebutkan bahwa Nabi sudah terbiasa memilih suatu tempat dalam masjid untuk menjalankan amal ibadahnya. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا

“Aku [Yazid bin Abu ‘Ubaid] dan [Salamah bin Al Akwa’] datang (ke Masjid), lalu dia shalat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, ‘Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat shalat dekat tiang ini? ‘ Dia menjawab, ‘Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk shalat di situ’.” (Hadits Bukhari Nomor 472 dan Hadits Muslim Nomor 788)

Hadits di atas Nabi terbiasa memilih suatu tempat dalam masjid seperti di samping tiang (menara) untuk melaksanakan shalat. Pada hadits di bawah berikut ini juga terlihat Nabi beserta istinya Maimunah memiliki tempat khusus untuk melaksanakan ibadah shalat. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ مَيْمُونَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا حِذَاءَهُ وَأَنَا حَائِضٌ وَرُبَّمَا أَصَابَنِي ثَوْبُهُ إِذَا سَجَدَ قَالَتْ وَكَانَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

“dari [Maimunah] ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sementara aku berada di sampingnya, dan saat itu aku sedang haid. Dan setiapkali beliau sujud, pakaian beliau mengenai aku. Dan beliau shalat di atas tikar kecil.” (Hadits Bukhari Nomor 366)

Baca selengkapnya; Hukum Mengkhususkan Tempat dalam Ibadah

Menjadikan masjid sebagai tempat singgah saja

Hukum singgah ke masjid namun tidak melaksanakan ibadah sama sekali adalah makruh, sebab masjid dijadikan sebagai tempat beribadah dan bukan tempat persinggahan. Oleh karenanya, sebaiknya setelah adzan dikumandakan, kita dianjurkan untuk tetap berada di dalam masjid sampai shalat berjamaah telah dilaksanakan, itu pun jika tidak ada udzur yanng menyebabkan kita keluar dari masjid. Hal ini sebagaimana yang telah dikisahkan dalam sebuah riwayat hadits berikut,

كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami pernah duduk bersama Abu Hurairah dalam sebuah masjid. Kamudian muadzin mengumandangkan adzan. Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal tersebut kemudian beliau berkata : “ Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 655)

Beberapa udzur yang memperbolehkan keluar dari masjid antara lain, seperti mau ke kamar kecil, berwudhu, mandi, atau keperluan mendesak lainnya.

Jadi kalau terpaksa kita hanya singgah karena keperluan buang air di toilet masjid, agar tidak makruh sebaiknya ditambah dengan shalat sunnah atau hanya sekedar mengisi ibadah sedekah.

Dengan demikian, tidak selayaknya kita berlalu lalang di dalam masjid untuk suatu kepentingan tanpa mengerjakan shalat dua rakaat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

”Di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seorang melewati masjid namun tidak mengerjakan shalat dua rakaat di dalamnya dan seseorang tidak memberikan salam kecuali kepada orang yang dikenalnya).” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani dalam al-Kaabir jilid IX halaman 9489)

Jadi, pergi dan datang ke masjid hukumnya boleh, namun menjadi tidak boleh manakala masjid hanya dijadikan tempat singgah saja tanpa melaksanakan kebaikan ibadah di dalamnya. Terdapat larangan nongkrong di dalam masjid demi kepentingan dunia semata. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

يَأْتِ عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ يَحْلِقُوْنَ فيِ مَسَاجِدِهِمْ وَلَيْسَ هُمُوْمُهُمْ إِلاَّ الدُّنْيَا  وَلَيْسَ للهِ فِيْهِمْ حَاجَةٌ فَلاَ تُجَاِلسُوْهُمْ

“Akan datang suatu masa kepada sekelompok orang, di mana mereka melingkar di dalam masjid untuk berkumpul dan mereka tidak mempunyai kepentingan kecuali dunia dan tidak ada bagi kepentingan apapun pada mereka maka janganlah duduk bersama mereka.” (Hadits Riwayat al-Hakim jilid 4 halaman 359)

Baca selengkapnya; Hukum Singgah di Masjid Tanpa Beribadah

Ngobrol dan Bergurau di dalam Masjid

Masjid bagi umat Islam tidak hanya sebatas tempat beribadah, tetapi juga berfungsi untuk tempat belajar agama, sosialisasi, musyawarah, dan kegiatan sosial lainnya. Pada masa Rasul pun masjid digunakan untuk berbagai kepentingan selama tidak melanggar aturan syariat. Banyak hadits mengisahkan bahwa masjid dijadikan tempat tinggal, belajar, dan diskusi oleh sebagian sahabat.

Kendati masjid multifungsi, namun perlu diingat bahwa fungsi utama masjid adalah sebagai tempat beribadah. Adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang berada di masjid menghormati fungsi utama masjid ini dengan cara menjaga adab dan tidak melakukan hal-hal lain yang dapat menganggu kenyaman orang beribadah.

Pada sebagian masjid misalnya, seringkali setelah shalat berjamaah ataupun sebelum shalat, sebagian orang mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid. Obrolan mereka pun tidak hanya berkaitan dengan urusan agama atau ibadah, tetapi juga membahas persoalan dunia dan terkadang mereka pun bergurau dan tertawa.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majemu’ Syarahul Muhadzdzab juz 2 hal. 177 mengatakan:

يجوز التحدث بالحديث المباح في المسجد وبأمور الدنيا وغيرها من المباحات وإن حصل فيه ضحك ونحوه ما دام مباحا لحديث جابر بن سمرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يقوم من مصلاه الذي صلى فيه الصبح حتى تطلع الشمس فإذا طلعت قام قال وكانوا يتحدثون فيأخذون في أمر الجاهلية فيضحكون ويتبسم

Artinya, “Dibolehkan membicarakan sesuatu yang diperbolehkan (mubah) di dalam masjid, baik urusan dunia maupun maupun urusan mubah lainnya, meskipun pembicaraan tersebut mengundang ketawa, selama masih terkait dengan perkara mubah. Pendapat ini didasarkan pada hadits riwayat Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW tidak beranjak dari tempat shalatnya pada waktu shubuh sampai terbit matahari. Beliau baru beranjak dari tempat shalat setelah matahari terbit. Jabir berkata, ‘Ketika itu mereka membicarakan banyak hal termasuk persoalan yang terjadi pada masa Jahiliyyah sehingga membuat mereka tertawa dan tersenyum’.”

Fatwa Imam An-Nawawi didasarkan pada sebuah riwayat Hadits berikut,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ الصُّبْحَ  حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا  طَلَعَتْ قَامَ قَالَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beranjak dari tempat sholatnya yang beliau gunakan untuk mengerjakan sholat shubuh, sampai matahari terbit. Setelah matahari terbit beliau baru beranjak pergi, -Jabir berkata:- mereka membicarakan beberapa hal sampai hal-hal yang terjadi pada masa jahiliyah hingga mereka tertawa, dan Nabi tersenyum mendengarnya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Merujuk pada hadits riwayat Jabir ini, Imam An-Nawawi membolehkan mengobrol dan berdiskusi di dalam masjid, walaupun membahas persoalan dunia atau permasalahan yang tidak berhubungan langsung dengan ibadah. Tidak hanya itu, tertawa dan tersenyum secukupnya pun dibolehkan ketika berada di dalam masjid. Meskipun dibolehkan, tentu selayaknya seorang Muslim tetap menjaga etika dan adab di dalam masjid.

Baca selengkapnya; Hukum Ngobrol dan Bergurau di dalam Masjid

Hukum transaksi jual beli di masjid

Walaupun dalam beberapa perkara duniawi seperti makan, minum, tidur, dan bahkan bersenandung dalam situasi tertentu di masjid diperbolehkan. Namun terkait dengan transaksi jual beli di masjid terdapat larangan secara khusus. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam secara tegas perkara ini. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إذا رأيتُم من يبيعُ أو يبتاعُ في المسجدِ، فقولوا : لا أربحَ اللهُ تجارتَك . وإذا رأيتُم من ينشدُ فيه ضالة فقولوا : لا ردَّ اللهُ عليكَ

“Jika engkau melihat orang berjual-beli atau orang yang barangnya dibeli di masjid, maka katakanlah kepada mereka: semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu. Dan jika engkau melihat orang di masjid yang mengumumkan barangnya yang hilang, maka katakanlah: semoga Allah tidak mengembalikan barangmu.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 1321)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia mengatakan:

نهَى رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عنِ الشراءِ والبيعِ في المسجدِ وأن تُنشَدَ فيه الأشعارُ وأن تُنشَدَ فيه الضَّالَّةُ وعنِ الحِلَقِ يومَ الجمُعَةِ قبلَ الصلاةِ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melarang melakukan jual-beli di masjid, dan melarang melantunkan nasyid berupa sya’ir-sya’ir, dan melarang mengumumkan barang yang hilang, dan melarang mengadakan halaqah sebelum shalat Jum’at.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 10/156)

Alasan kenapa jual-beli di masjid dilarang adalah agar umat Islam tidak disibukkan dengan perkara dunia. Sedangkan fungsi utama masjid dibangun adalah untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Diriwayatkan sebuah hadits berikut,

كَانَ إِذَا مَرَّ عَلَيْهِ بَعْضُ مَنْ يَبِيعُ فِي الْمَسْجِدِ، دَعَاهُ فَسَأَلَهُ مَا مَعَكَ وَمَا تُرِيدُ؟ فَإِنْ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَبِيعَهُ، قَالَ: عَلَيْكَ بِسُوقِ الدُّنْيَا. فَإِنَّمَا هذَا سُوقُ الآخِرَةِ

“Jika Atha bin Yasar melewati orang yang berjual-beli di masjid, ia memanggilnya dan menanyakan apa yang ia bawa dan apa yang ia inginkan? Jika orang tersebut menjawab bahwa ia ingin berjual beli maka Atha akan berkata: silakan anda pergi ke pasar dunia, karena di sini adalah pasar akhirat” (Al Muwatha Imam Malik Nomor 601)

Hukum asal yang disebut masjid adalah ruang dalam dari masjid, jadi bagian serambi maupun halaman walaupun bagian dari lingkungan masjid tidak dapat disebut sebagai masjid yang dapat dijadikan sebagai i’tikaf. Jadi jual beli yang dilarang adalah bagian dalam masjid yang dapat untuk digunakan sebagai ibadah i’tikaf.

Baca selengkapnya; Hukum Transaksi Jual Beli di Masjid

Mencari barang yang hilang di dalam masjid

Sudah jamak diketahui bahwa masjid merupakan tempat datang dan perginya umat Islam untuk mengikuti berbagai macam kegiatan. Seperti jamaah shalat, majlis ta’lim, dan lain sebagainya. Tidak jarang ketika kaum muslimin mendatangi masjid dengan membawa berbagai barang pribadinya. Ketika hendak pulang sebagian tidak sadar bahwa barang pribadinya tertinggal. Ketika sadar barang pribadinya tertinggal dan mereka kembali untuk mencoba mencarinya namun barangnya ternyata tidak diketemukan.

Hukum mencari barang yang hilang di masjid ternyata tidak boleh. Mengenai ini Nabi pernah mengingatkan bagi mereka yang mencari barangnya di masjid. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

وَعَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي اَلْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ : لَا رَدَّهَا اَللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ اَلْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا ) رَوَاهُ مُسْلِم

“Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendengar ada seseorang yang mencari barang hilang di masjid hendaknya mengatakan: Allah tidak mengembalikannya kepadamu karena sesungguhnya masjid itu tidak dibangun untuk hal demikian.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 568, Ahmad Nomor 8572, Abu Daud Nomor 473, Ibnu Majah Nomor 767, Ibnu Khuzaimah Nomor 1302, Ibnu Hibban Nomor 1651, Abu ‘Uwanah Nomor 1212)

Larangan mencari barang yang hilang di dalam masjid seperti mengumumkan dengan mikrofon adalah bahwa karena memang masjid tidaklah dibangun untuk kepentingan itu. Masjid dibangun hanyalah untuk peribadatan kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Masjid dibangun untuk berzikir kepada Allah dan pengajian, karena masjid adalah rumah Allah. Allah memerintahkan supaya asma-Nya disebut di dalam masjid.

Sebuah solusi; Apabila mikrofon itu berada di luar masjid seperti di kantor ta’mir, atau menempelkan pengumuman di papan informasi masjid, atau menanyakan kepada pengurus masjid, maka hukumnya boleh. Dengan kata lain bahwa barang siapa merasa kehilangan sesuatu di dalam masjid, maka hendaklah bertanya kepada juru kuncinya dan tidak perlu mencarinya di dalam masjid, sekalipun barangnya itu hilang di dalam masjid.

Baca juga: Hukum Mencari Barang yang Hilang di dalam Masjid

Menyelenggarakan Syiar Menyanyi, Menari, dan Bermusik

Bukan hanya tempat-tempat umum dan tempat-tempat biasa yang yang dapat dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan pertunjukan seni hiburan. Tempat-tempat khusus seperti lingkungan masjid pun juga dapat digunakan sebagai tempat penyelenggaraan seni hiburan. Hal ini bukan tanpa alasan dan tanpa dasar. Sebagaimana yang nampak kita jumpai dalam hadits-hadits sahih bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sudah menjadi sesuatu yang lumrah bilamana lingkungan masjid digunakan untuk menggelar pagelaran seni hiburan. Sebagaimana beberapa riwayat hadits berikut,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُ رَأْسِي عَلَى مَنْكِبِهِ فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ عَنْ النَّظَرِ إِلَيْهِمْ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّاءَ بْنِ أَبِي زَائِدَةَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ كِلَاهُمَا عَنْ هِشَامٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَلَمْ يَذْكُرَا فِي الْمَسْجِدِ

“Dari [Aisyah] ia berkata; Orang-orang Habasyah sedang perform seni hiburan di dalam Masjid pada hari raya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku (untuk ikut menontonnya), aku pun (menonton bersama Nabi sambil) meletakkan kepala di atas pundaknya untuk melihat atraksi mereka sampai aku sendiri yang berhenti melihat mereka (karena merasa cukup).” (Hadits Muslim Nomor 1483 dan Hadits Bukhari Nomor 3266)

Pagelaran musik di lingkungan masjid juga pernah dilakukan pada awal-awal Islam datang di Madinah. Nabi bersabda,

لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ نَزَلَ فِي عُلْوِ الْمَدِينَةِ قَالَ فَصَفُّوا النَّخْلَ قِبْلَةَ الْمَسْجِدِ قَالَ وَجَعَلُوا عِضَادَتَيْهِ حِجَارَةً قَالَ قَالَ جَعَلُوا يَنْقُلُونَ ذَاكَ الصَّخْرَ وَهُمْ يَرْتَجِزُونَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُمْ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ إِنَّهُ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُ الْآخِرَهْ فَانْصُرْ الْأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau singgah di dataran tinggi Madinah (untuk membangun masjid), Anas berkata; “Maka mereka (termasuk Nabi) bekerja membuat pintu masjid dari pohon dan mengangkut bebatuan yang besar-besar sambil bersenandung (menyanyikan bait-bait sya’ir). Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ikut bekerja bersama mereka sambil mengucapkan (menyanyikan sebuah nasyid): “Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan Muhajirin.” (Hadits Bukhari Nomor 3639)

Berkesenian di dalam masjid ternyata juga sering dilakukan oleh para sahabat. Di antaranya oleh sahabat Hasan dalam hadits berikut,

مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ

“Umar pernah melewati Hasan bin Tsabit yang sedang membaca syair di dalam masjid, maka Umar memperingatkannya. [Hasan] berkata, Aku pernah pernah membaca syair dalam masjid padahal orang yang lebih baik daripada kamu (maksudnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) berada di dalam masjid tersebut. Kemudian dia menoleh kepada [Abu Hurairah] sambil berkata, ‘Apakah engkau mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memohon Ya Allah, kabulkanlah untukku, kuatkanlah ia dengan Ruhul Qudus (Jibril). Maka Hasan menjawab, ‘Ya Allah, benar’. (Hadits Nasai Nomor 709, Hadits Ahmad Nomor 20927, Hadits Abu Daud Nomor 4360 dan Hadits Muslim Nomor 4539)

Di antara sahabat yang berkesenian di lingkungan masjid adalah sahabat Abdullah bin Rawahah. Di mana dia menyanyikan sebuah lagu di masjidil haram untuk membela Nabi. Disebutkan dalam sebuah hadits berikut,

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ فِي عُمْرَةِ الْقَضَاءِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ يَمْشِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُولُ خَلُّوا بَنِي الْكُفَّارِ عَنْ سَبِيلِهِ الْيَوْمَ نَضْرِبْكُمْ عَلَى تَنْزِيلِهِ ضَرْبًا يُزِيلُ الْهَامَ عَنْ مَقِيلِهِ وَيُذْهِلُ الْخَلِيلَ عَنْ خَلِيلِهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا ابْنَ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَرَمِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَقُولُ الشِّعْرَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلِّ عَنْهُ فَلَهُوَ أَسْرَعُ فِيهِمْ مِنْ نَضْحِ النَّبْلِ

 “dari [Anas] bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Mekkah untuk melakukan umrah qadha`, dan Abdullah bin Rawahah berjalan di depannya sambil berkata; minggirlah orang-orang kafir dari jalan beliau hari ini, kami akan menebas kalian karena kedudukannya, dengan tebasan yang membangunkan kepala dari tidur siangnya, dan membingungkan seseorang dari kekasihnya. Lalu Umar berkata kepadanya; wahai Ibn Rawahah, apakah di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di tanah Haram engkau menyanyikan lagu? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkan dia, sungguh ia (syiar dengan nada dan dakwah) lebih cepat menyebar (efektif) di antara mereka (para musuh) daripada (menggunakan cara peperangan dengan) meluncurnya anak panah.” (Hadits Nasai Nomor 2824)

Berdasarkan hadits di atas nampak sekali bahwa dalam situasi-situasi tertentu seperti hari raya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan bila para sahabat menggelar kesenian dan hiburan seperti musik, lagu dan tari di dalam lingkungan masjid.

Dengan catatan seni hiburan tersebut dalam rangka syiar Islam, bersifat religi, tidak mengandung unsur kemaksiatan, dan unsur-unsur keharaman lainnya.

Baca selengkapnya; Hukum Menyelenggarakan Seni Hiburan Menyanyi, Menari, dan Bermusik di Lingkungan Masjid

Hukum Menghias Masjid dengan Ornamen dan Kaligrafi Al-Qur’an

Nyaris tidak ada satupun masjid di seluruh dunia tidak terdapat hiasan, baik yang berupa ornamen maupun berupa kaligrafi. Bahkan Masjidl Haram dan Masjid Nabawi hingga makam Nabi tidak luput juga terdapat hiasan dan kaligrafinya. Mereka tidak mengingkari fakta tersebut, sehingga hal ini sudah cukup dianggap bahwa umat Islam telah bersepakat (ijma umat wal ulama) bahwa menghias dan membangun masjid secara megah dibenarkan.

Terlepas dari telah terjadinya ikhtilaf di kalangan kecil ulama, namun secara umum mayoritas ulama dan mayoritas umat Islam sepakat menerima masjid untuk dihiasi. Ada beberapa pertimbangan kenapa hampir semua masjid dibangun secara megah dan penuh dengan hiasan adalah sebab masjid merupakan simbol harga diri umat Islam di hadapan umat lain.

Di samping memang masjid sebagai pusat syiar kegiatan umat Islam, seperti menghidupkan masjid dengan banyak kegiatan di luar salat, zikir, dan mengaji. Keindahan bangunan masjid itu sendiri juga bisa sebagai syiar agama Islam di hadapan umat lain.

Hiasan kaligrafi dipasang pada dinding-dinding masjid bukan hanya sekedar hiasan, pada prinsipnya, penggalan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditempel pada dinding masjid memiliki pesan untuk mendorong umat Islam yang membacanya senantiasa berpegang teguh pada firman-firman Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran.” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3)

Salah satu cara dalam mengingatkan sesama muslim bisa menggunakan berbagai macam media, di mana salah satu medianya adalah kutipan-kutipan ayat di dinding masjid. Perkara mengingatkan umat Islam pada kebaikan menggunakan kutipan ayat yang ditempelkan pada dinding masjid tentunya merupakan hal yang boleh hukumnya. Bahkan menulis ayat dan hadits tertentu dengan maksud memberikan motivasi ibadah, syi’ar Islam serta agar masjid terlihat indah dengan kaligrafi yang bagus, termasuk persoalan yang diperbolehkan. Islam disamping memperhatikan aspek hukum, juga sangat memperhatikan aspek etika dan estetika.

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu Maha-Indah dan menyekai keindahan.” (Hadits Muslim Nomor 147, Tirmidhy Nomor 61, dan Ahmad Juz IV; hal. 133, 134)

Terkait dengan mengutip dan menulis ayat-ayat Al-Qur’an sudah menjadi bagian dari syariat agama Islam. Penulisan al-Qur’an (al-jam’u fi ash-shuthur) baik di pelepah kurma, bebatuan, dedaunan hingga kulit binatang yang sudah disamak, merupakan perkara yang jamak dilakukan oleh para sahabat dan juru tulis wahyu (kuttab an-Nabi/kuttab al-wahyi), sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut ini,

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَنْ جَمَعَ الْقُرْآنَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعَةٌ كُلُّهُمْ مِنْ الْأَنْصَارِ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَبُو زَيْدٍ

“Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, (ia) berkata; saya telah bertanya kepada Anas bin Malik ra., siapakah orang yang telah mengumpulkan al-Qur’an pada masa Nabi saw? Anas menjawab: ada empat orang seluruhnya dari kaum Anshar, yaitu; Ubai bin Ka’ab, Muaz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bahkan, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Umar bin Khattab orang yang pertama kalinya mengusulkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq untuk mengumpulkan dan membukukan (memushafkan) al-Qur’an agar tidak hilang seiring dengan banyaknya para huffazh (para penghafal Al-Qur’an) yang meninggal baik saat peperangan maupun lainnya. Sebagaimana dijelaskan dalam penggalan riwayat al-Bukhari berikut ini,

قَالَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَعُمَرُ عِنْدَهُ جَالِسٌ لَا يَتَكَلَّمُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّكَ رَجُلٌ شَابٌّ عَاقِلٌ وَلَا نَتَّهِمُكَ كُنْتَ تَكْتُبُ الْوَحْيَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … فَقُمْتُ فَتَتَبَّعْتُ الْقُرْآنَ أَجْمَعُهُ مِنْ الرِّقَاعِ وَالْأَكْتَافِ وَالْعُسُبِ وَصُدُورِ الرِّجَالِ

“Zaid bin Tsabit berkata dan Umar duduk bersamanya tanpa bicara sedikitpun. Lalu Abu Bakar berkata (kepada Zaid bin Tsabit): sesungguhnya engkau adalah seorang yang muda belia, cerdas dan kami tidak menyangsikanmu sedikitpun. Engkau telah menulis wahyu bagi Rasulullah saw … … lalu saya berdiri (menerima amanah tersebut), lalu saya mencari dan mengumpulkan al-Qur’an dari kulit-kulit binatang (yang sudah disamak), tulang-tulang, pelepah-pelepah kayu (kurma) dan dari hafalan para sahabat.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Dapat disimpulkan bahwa hukumnya boleh menulis ayat Al-Qur’an baik pada pelepah kayu (papan dan sejenisnya), kulit dan tulang binatang yang halal dimakan seperti sapi dan kambing dan media lainnya. Namun, walaupun hukumnya boleh tidak berlaku mutlak, maksudnya dilarang menulis kutipan Al-Qur’an pada benda yang najis dan berada di tempat-tempat najis dan kotor, seperti di toilet dan sejenisnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ نَزَعَ خَاتَمَهُ

“Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk ke kamar kecil beliau menanggalkan cincinnya (yang bertuliskan Muhammad Rasulullah).” (Hadits Riwayat Tirmidzi, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Riwayat Hadits tersebut merupakan dalil bahwa walaupun hukum menulis kutipan Al-Qur’an boleh, namun dilarang membawa, menyebut maupun menuliskan nama-nama Allah, Rasulullah dan al-Qur’an pada tempat-tempat yang dianggap jorok dan najis.

Baca juga; Hukum Menghias Masjid dengan Ornamen dan Kaligrafi Al-Qur’an

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke