Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih*

Budayakan membaca sampai tuntas…


Sempurnakan pemahaman dengan membaca artikel yang terkait berikut;

Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal

Masih banyak di kalangan umat Islam yang masih bingung dengan istilah-istilah dalam ajaran agamanya. Kebingungan ini tidaklah bisa dianggap remeh, sebab ketidak fahaman istilah-istilah dalam ajaran agama Islam akan berdampak pada kerancuan dalam pelaksanaan ajaran agama Islam dalam praktek kesehariannya. Dampak paling buruk adalah terjadinya perdebatan, permusuhan, dan bahkan pertikaian antar sesama umat Islam. Tidak jarang satu golongan umat Islam yang pemahamannya masih rendah mempersoalkan sebuah amalan dari golongan umat Islam lainnya dengan anggapan bahwa amalan tersebut bid’ah dan sesat, sebab tiak pernah dicontohkan oleh Nabi.

Contoh kasus tuduhan bid’ah dari golongan Salafi terhadap golongan Sunni yang mengadakan acara maulid Nabi. Golongan Salafi menuduh golongan Sunni telah membuat ibadah baru dengan menyelenggarakan maulid Nabi. Dalam kasus ini mungkin tuduhan golongan Salafi benar bila didasarkan bahwa maulid Nabi itu adalah ibadah baru. Namun tuduhan itu menjadi tidak benar bilamana tidak ada satupun dari golongan Sunni yang mengklaim bahwa maulid Nabi yang diselenggarakan mereka tersebut merupakan ibadah. Padahal golongan Sunni menyatakan bahwa maulid Nabi yang diselenggarakan itu hanya memang sebuah amaliah biasa, lebih tepatnya hanya sebuah tradisi yang kebetulan diisi dengan beberapa amal shalih seperti pengajian dan sedekahan. Sehingga sesuatu yang asalnya hanya sebuah tradisi akhirnya bernilai pahala bukan karena penyelenggaraan maulid Nabinya, namun pahala yang didapatkan karena terdapat amalan shalihah yang diisikan ke dalam acara maulid Nabi tersebut seperti sedekah, ceramah, meneladani perilaku Nabi, dan lain sebagainya. Di sinilah pentingnya memahamai perbedaan dan pengertian dari istilah-istilah ajaran agama Islam, sehingga antara umat Islam tidak saling menuduh dan terjerumus pada pertikaian dan permusuhan.

Di antara istilah ajaran agama Islam yang sangat mendasar untuk difahami adalah perbedaan antara ibadah, amal, dan amal shalih, beserta konsekwensi yang ditimbulkan manakala diamalkan. Berikut penjelasannya;

Ibadah

Kata Ibadah serapan dari bahasa Arab (عبادة) yang berarti segala bentuk ketaatan dan pengabdian yang dijalankan atau dikerjakan dengan mengharap ridha dari Allah. Dengan demikian apa yang disebut dengan manusia hidup beribadah kepada Allah itu ialah manusia yang dalam menjalani hidupnya selalu berpegang teguh kepada wahyu Allah.

Manusia adalah hamba Allah “‘Ibaadullaah” jiwa raga haya milik Allah, hidup matinya di tangan Allah, sehingga seluruh aktifitas hidupnya hanya untuk memperoleh keridhaan-Nya dan menghindarkan murka-Nya. Sebab manusia diciptakan tiada lain selain untuk mengabdi pada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Surat Az-Zariyat Ayat 56)

Jenis Ibadah

Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua, dengan bentuk dan sifat yang berbeda antara satu dengan lainnya;

Ibadah mahdhah

Ibadah mahdhah, yakni ibadah murni atau khusus yang tidak dapat dirubah lagi karena sudah ditentukan syarat dan rukunnya, serta telah ditetapkan cara, kadar, waktu, dan tempatnya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada tuhannya. Ada lima ibadah pokok yang telah ditetapkan, dan dikenal dengan rukun Islam; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَجَاءَ رَجُلٌ فَجَلَسَ عِنْدَ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ لَا تُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ قَالَ صَدَقْتَ

“Maka (Jibril berpenampakan) seorang laki-laki datang lalu duduk di hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar. ’ (HR. Muslim No. 11)

Ibadah jenis ini memiliki empat prinsip;

Pertama, Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari Al-Qur’an maupun  Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.

Kedua, Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satu tujuan diutus Rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.” (Surat An-Nisa’ Ayat 64)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Surat Al-Hasyr Ayat 7)

Salah satu contoh ibadah mahdhah adalah ibadah shalat. Maka tata cara kerangka utama shalat sudah tetap dan tidak boleh dirubah. Sehingga tiada lain harus mencontoh Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian melakukan adzan dan yang paling dewasa menjadi imam.” (Hadits Bukhari Nomor 6705)

Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dikategorikan “muhdatsatul umur” perkara meng-ada-ada (bid’ah). Sedangkan bid’ah tertolak. Nabi bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”. (Hadits Bukhari Nomor 2499)

Ketiga, Bersifat supra rasional atau ghaib (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini di luar logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’.

Keempat, Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah. Jadi bila terdapat ibadah mahdhal terkesan tidak masuk akal, maka tetap harus diyakini dan jalani.

Kelima, bersifat vertikal saja, di antara contohnya adalah; Wudhu, Tayammum, Mandi hadats, Adzan, Iqamat, Shalat, Membaca Al-Qur’an, I’tikaf, Puasa , Haji, zakat, dan Umrah.

Ibadah ghairu mahdhah

Ibadah ghairu mahdhah yang mana dalam situasi tertentu juga dapat dikategorikan sebagai amal shalih, yaitu segala tindakan, baik muamalah, akhlaq maupun adat (tradisi) yang diniatkan sebagai bentuk upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengharap ridha-Nya, yang tidak diatur cara, kadar, waktu, dan tempatnya, sehingga ibadah ini boleh dikreasi sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya. Ibadah ghairu mahdhah ini, di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya.

Ibadah ghairu mahdah ini meliputi beberapa hal. Di antaranya, Pertama, ibadah sunnah mutlak, seperti dzikir, do’a, dan ibadah-ibadah sunnah mutlaq. Kedua, muamalah, seperti bekerja, menikah, menciptakan teknologi, membangun rumah, dan lain sebagainya, ini bernilai pahala ibadah ketika diniatkan lillahi taa’la mengharap ridla Allah. Ketiga, tradisi dan budaya, seperti maulid Nabi, kenduri, haul, tahlilan, ulang tahun, acara peringatan hari besar Islam, sepasaran, selamatan rumah baru, pawai, resepsi pernikahan, wisuda, halal bi halal, reunian, majelis dzikir, arisan haji, bekerja dan usaha untuk menfkahi keluarga, haul atau peringatan, mengingat kisah-kisah orang terdahulu, kumpul-kumpul, tingkeban dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi bernilai ibadah yang berpahala bila diniatkan syi’ar Islam dengan catatan disisipi kebaikan seperti bhakti sosial, dzikir, renungan, mauidzoh, serta kemanfaatan dan kemaslahatan lain, dan tidak mengandung unsur-unsur kemungkaran, kesyirikan dan kemaksiatan. Keempat, akhlaq, seperti berjabat tangan dan ucap salam saat berjumpa, berbicara sopan, tersenyum bila berjumpa, dan lain sebagainya.

Ibadah jenis ini memiliki lima prinsip;

Pertama, Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diseleng garakan.

Kedua, Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebut nya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.

Ketiga, Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan

Keempat, Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.

Kelima, Pada sebagiannya bersifat vertikal, di antara contohnya adalah; Dzikir, doa, shalawat, dan lain sebagainya. Pada sebagiannya bersifat horizontal, di antara contohnya adalah; Infaq, sedekah, waqaf, dan lain sebagainya.

Amal

Amal adalah sebuah perbuatan sebagai tabiat bawaan manusia, bisa bersifat baik maupun bersifat buruk. Amal adalah setiap perbuatan manusia yang bersifat duniawiyah atau horizontal, baik perbuatan berupa personal maupun sosial. Amal ini adalah perbuatan yang bersifat netral (mutlak). Maksudnya adalah bila perbuatan ini dilakukan tidak mendapat pahala, dan begitu pula bila tidak dilakukan juga tidak akan mendapatkan dosa. Amal merupakan perbuatan-perbuatan yang bersifat kebiasaan yang muncul dari keinginan dan kebutuhan sebagai tabiat atau kecenderungan alami manusia. Di dalam amal meliputi beberapa hal berikut;

Muamalah

Muamalah atau juga disebut hukum perdata Islam, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan tata cara hidup sesama umat manusia untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Muamalah mengandung tujuan terciptanya hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga tercipta masyarakat yang rukun dan tentram. Menurut al-Fikri dalam kitabnya, “al-Muamalah al-Madiyah wa al-Adabiyah”, ruang lingkup muamalah ada dua;

Pertama, al-Muamalah al-Madiyah; yaitu suatu disiplin ilmu yang membahas perikatan dan transaksi antar manusia dilihat dari segi objeknya yang bersifat kebendaan. Esensinya: keuntungan yang didapatnya bersumber dari materi-materi yang baik sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah kelak di akhirat. Transaksi ini meliputi jual beli (al-bai’ al-tijarah), gadai (ar-rahn), jaminan dan tanggungan (kafalan dan dlaman), pemindahan utang (hiwalah), jatuh bangkrut (taflis), batasan bertindak (al-hajru), perseroan atau perkongsian (al-syirkah), persoalan harta dan tenaga (al-mudharabah), sewa-menyewa (al-ijarah), pemberian hak guna pakai (al-‘ariyah), barang titipan (al-wadi’ah) barang temuan (al-luqathah), garapan tanah (al-mujara’ah), sewa-menyewa tanah (al-mukharabah), upah (ujrat al ‘amal), gugatan (al-syuf’ah), sayembara (al-ji’alah), pembagian kekayaan bersama (al-qismah), pemberian (al-hibah), pembebasan (al-ibra), damai (al-shulhu), dan ditambah dengan beberapa masalah mu’ashirah (muhaditsah), seperti masalah bunga bank, asuransi, kredit, dan masalah-masalah baru lainnya.

Kedua, al-Muamalah al-Adabiyah, yaitu aturan-aturan Allah SWT. yang wajib diikuti dari segi subjeknya. Esensinya adalah bagaimana cara memperoleh keuntungan yang bersifat duniawi tersebut secara vertikal tetap mendapatkan ridha Allah dan secara horizontal tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain, karena semua pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah. Ruang lingkup muamalah yang bersifat adabiyah adalah ijab dan qabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, penimbunan, dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta dalam hidup bermasyarakat.

Akhlaq

Akhlak, atau disebut juga ihsan. Ia memiliki banyak dimensi, namun secara umum akhlaq adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Berarti akhlak bermakna perangai, tingkah laku, atau tabiat, entah itu tergolong terpuji (karimah) atau tercela (madzmumah).

مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ صَدَقْتَ

“Lalu dia (Jibril) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Dia berkata, ‘Kamu benar’. (HR. Muslim No. 11)

Disebut akhlaq karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran petunjuk Allah dan uswah Nabi, karena Allah mengutus Nabi tidak lain untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Terkadang akhlaq disebut etika karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran akal pikiran atau rasio. Dan terkadang akhlaq disebut moral karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran norma-norma yang tumbuh, berkembang, dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat). Sasaran akhlaq sendiri ada tiga arahnya: Akhlak manusia kepada Allah, Akhlak manusia kepada sesama manusia, dan Akhlaq manusia kepada lingkungan hidup.

Pada hakikatnya akhlaq adalah berbuat baik, meningkatkan, dan menambah nilai kebaikan dalam setiap perkara yang dilakukan oleh setiap orang. Dengan begitu, ihsan juga dapat disebut dengan akhlaq, adab, atau jalan tasawuf dalam menjalankan tugas hidup di dunia.

Akhlaq juga disebut ma’ruf atau amal shalih, yaitu segala perbuatan dan tingkah laku yang Allah cintai dan ridhai yang telah ditetapkan rinciannya dalam al-Qur’an dan Hadits. Amal saleh mencakup melakukan perbuatan (al-fi’l), seperti Shalat, maupun meninggalkan perbuatan (al-tark), seperti meninggalkan zina. Perkara-perkara yang berhukum mubah inilah yang dikenal dalam agama Islam dengan istilah amal shaleh, ma’ruf atau tradisi, yaitu hal-hal baik menurut agama namun tidak diatur secara spesifik dalam teks-teks al-Qur’an dan Hadits. Walau tidak diatur secara rinci dalam agama Islam, namun memiliki nilai-nilai ibadah bila diniatkan lillahi taala menurut pandangan umat Islam di suatu tempat dan di suatu era. Kebaikan yang diciptakan manusia juga dapat diterima dalam agama Islam, Nabi bersabda,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Adat

Adat, yaitu kebiasaan manusia dalam menyikapi hidupnya yang dipengaruhi oleh kondisi alam dan lingkungannya, seperti cara berpakaian, berbicara, dan berhubungan satu dengan lainnya. Hukumnya boleh selama tidak mengandung kemaksiatan dan kesyirikan. Tingkeban, selapanan, petik laut, menari, film, konser, bernyanyi, dan sebagainya, pada dasarnya hukumnya boleh. Sebagaimana Nabi sering juga bernyanyi bertema religi,

لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْأَحْزَابِ وَخَنْدَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ يَنْقُلُ مِنْ تُرَابِ الْخَنْدَقِ حَتَّى وَارَى عَنِّي الْغُبَارُ جِلْدَةَ بَطْنِهِ وَكَانَ كَثِيرَ الشَّعَرِ فَسَمِعْتُهُ يَرْتَجِزُ بِكَلِمَاتِ ابْنِ رَوَاحَةَ وَهُوَ يَنْقُلُ مِنْ التُّرَابِ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا وَإِنْ أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا قَالَ ثُمَّ يَمُدُّ صَوْتَهُ بِآخِرِهَا

“Pada waktu perang Ahzab atau Khandaq, aku melihat Rasulullah SAW. mengangkat tanah parit, sehingga debu-debu itu menutupi kulit beliau dari (pandangan)-ku, saat itu beliau bernyanyi dengan bait-bait syair yang pernah diucapkan oleh Ibnu Rawahah, sambil mengangkat tanah beliau bersabda: ‘Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya. ‘ Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suara di akhir baitnya. ” (HR. Bukhari No. 3797)

Adat juga terkadang disebut sebagai Ketujuh ‘Urf, ma’ruf atau adat istiadat, yang menurut bahasa berarti “yang dikenal”. Sedangkan menurut istilah ‘Urf adalah segala sesuatu yang sudah dikenal oleh manusia karena telah menjadi kebiasaan atau tradisi, baik bersifat perkataan, perbuatan, atau kaitannya dengan meninggalkan perbuatan tertentu.

‘Urf dibagi menjadi 2 macam, yaitu ‘urf shahih dan‘urf fasid. ‘Urf shahih adalah tradisi yang tidak berlawanan dengan dalil syara’ serta tidak menghalalkan yang haram dan tidak pula menggugurkan kewajiban. Sedangkan ‘Urf fasid adalah sebaliknya. Hukum Islam mengakui adat istiadat masyarakat sebagai sumber hukum, akan tetapi dengan beberapa syarat yaitu; Pertama, Adat tersebut tidak bertentangan dengan nash atau ijma’. Dan kedua, adat tersebut berlaku umum di dalam masyarakat.

Kebolehan sebuah kebiasaan, tradisi, budaya, dan adat istiadat masyarakat setempat sesuai kaidah,

اَلْعَادَةُ مُحَكَّمَةٌ

“Adat kebiasaan (tradisi sebuah kaum) dapat dijadikan hukum”             

Kaidah tersebut berdasarkan Hadits Nabi,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Seandainya Nabi masih hidup sekarang, ketika umatnya memohon dan atau mengusulkan apa pun; baik sebuah ibadah mutlak, sebuah tradisi, atau sebuah kreasi dan inovasi kepada Nabi, selama itu tidak mengandung kesyirikan dan kemaksiatan, apalagi usulan tersebut kepada Nabi mengandung kebaikan, kemaslahatan dan mengandung nilai-nilai syi’ar yang mengagungkan Allah, pasti usulan kita akan diterima dan pasti akan sangat didukung oleh Allah, karena usulan sebuah kreasi dan inovasi dalam agama Islam dari umatnya kepada Nabi memang dianjurkan dan disyariatkan. Dengan kata lain, inisiatif untuk menciptakan suatau kebiasaan baru yang baik, memang merupakan bagian dari syariat itu sendiri. Pemahaman ini sangat didukung oleh sabda Nabi berikut,

قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

“Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, mereka (Qurays Arab) tidaklah meminta kepadaku suatu adat kebiasaan (tradisi dan budaya), yang terdapat unsur-unsur di mana mereka mengangungkan kehormatan-kehormatan Allah melainkan aku pasti akan mengabulkannya”. (HR. Bukhari No. 2529)

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَمَّا وَاللهِ لاَ يَدْعُونِي الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ ، يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرْمَةً ، وَلاَ يَدْعُونِي فِيهَا إِلَى صِلَةٍ إِلاَّ أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا. رواه ابن أبي شيبة

“Ingatlah, demi Allah, mereka (orang-orang musyrik) tidak mengajakku pada hari ini terhadap suatu kebiasaan, di mana mereka mengagungkan hak-hak Allah, dan tidak mengajukku suatu hubungan, kecuali aku kabulkan ajakan mereka.” (HR. Ibnu Abi Syaibah No. 36855)

Ini dalil yang tidak dapat ditolak dan sangat kuat sekali: bilamana sebuah tradisi, adat budaya, atau sebuah kebiasaan baru dari kaum muslimin, walaupun tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, selama mengandung unsur-unsur keagungan Allah dan agama Islam, merupakan kehalalan secara mutlak. Dengan begitu, terlalu banyak dalil yang mentakhsis (membatalkan) Hadits-Hadits bid’ah, dan banyak dalil bagi umat Islam tentang kebolehan berkreasi, berinovasi, dan berinisiatif membuat kegiatan dan atau acara, seperti Maulid Nabi, peringatan berbagai hal kebaikan, di mana dalam kegiatan-kegiatan tersebut nyata-nyata mengandung unsur-unsur kebaikan dan kemaslahatan.

Tidak satu pun yang terlarang, kecuali yang memang telah diharamkan. Nabi biasa melakukan dan memang membiarkan para sahabat melakukan kreasi atau meniru perilaku-perilaku umat lain, selama tidak diatur oleh agama Islam, kriteria itu sangat jelas tercantum dalam sabda Nabi berikut,

“Rasulullah SAW. lebih suka mencontoh (kebiasaan) para Ahli kitab, selama belum ada perintah tertentu mengenai urusan itu. ” (HR. Muslim No. 4307)

Kalau sebagian umat Islam menolak fakta ini, dengan mengatakan bahwa ini haram dan itu haram hanya menggunakan dalil bid’ah yang maknanya sangat umum dan sangat samar, padahal apa-apa yang tidak diatur oleh Allah merupakan perkara yang masuk wilayah bebas untuk dikerjakan, maka mereka akan termasuk dalam laknat Allah, disebabkan mereka telah mengharam-haramkan perkara yang Allah sendiri tidak mengharamkannya,

قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS. Yunus: 59)

Ini adalah suatu kaidah yang besar sekali manfaatnya. Dengan dasar itu pula dapat disimpulkan kebolehan jual-beli, hibah, sewa-menyewa dan adat lain, yang selalu dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupan mereka seperti makan, minum, dan pakaian. Agama membawakan beberapa etika yang sangat baik sekali, yaitu mana yang sekiranya membawa bahaya maka akan diharamkan. Sedangkan perkara yang telah pasti, maka akan diwajibkannya. Perkara yang tidak layak, maka dimakruhkan. Sedangkan perkara yang jelas membawa maslahah, maka disunnatkan.

Lengkapi pemahaman Anda dengan membaca artikel terkait berikut;

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Hukum Tradisi dan Budaya dalam Islam

Amal Shalih (Amaliah)

Amal shalih atau terkadang disebut juga dengan amaliah masih menjadi bagian dari ibadah ghairu mahdhah dan bisa juga disebut sebagai bid’ah hasanah. Amal shalih sendiri mencakup semua muamalah, akhlaq, maupun adat yang diniatkan untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi kehidupan dengan mengharap karena Allah taa’ala. Sehingga, yang hukum awalnya mubah menjadi sunnah dan berpahala, karena mengandung unsur-unsur kebaikan, kemanfaatan, kemaslahatan, yang biasanya ini lebih dikenal dengan amal shalih atau ma’ruf. Banyak dalilnya, seperti walimah, maulid Nabi, majelis dzikir, arisan haji, bekerja dan usaha untuk menfkahi keluarga, haul atau peringatan, mengingat kisah-kisah orang terdahulu, kumpul-kumpul sosial, kenduri dengan niat sedekahan dan syukuran, tingkeban, senyum, kerja bakti, bhakti sosial, membantu orang lain, dan lain sebagainya. Intinya, kebiasaan-kebiasaan manusia yang diperbolehkan, bukan sebuah ibadah, namun diniatkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga tetap bernilai pahala ibadah. allah memerintahkan umat manusia untuk selalu beraal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat An-Nahl Ayat 97)

Sejatinya amal shalih berasal dari semua perbuatan biasa (amal) yang meliputi semua muamalah, akhlaq, maupun adat yang diniatkan untuk kebaikan dan kemanfaatan bagi kehidupan dengan mengharap karena Allah Taa’ala. Sebagaimana sabda Nabi,

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan” (Hadits Bukhari Nomor 1)

Diperkuat oleh firman Allah,

وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا

“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Surat Al-Isra’ Ayat 19)

Allah memerintahkan umat manusia untuk selalu beraal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat An-Nahl Ayat 97)

Jadi walaupun pada awalnya merupakan perbuatan amal biasa yang hukum awalnya mubah namun bila kemudian diniatkan ikhlas untuk mengharap ridha Allah, maka akan menjadi sunnah dan berpahala karena telah mengandung unsur-unsur kebaikan, kemanfaatan, dan kemaslahatan. Berikut penjelasannya;

Muamalah

Perkara-perkara muamalah di mana asal hukumnya mubah dan tidak mendapatkan pahala bila dikerjakan, namun akan menjadi berpahala ketika diniatkan lillahi taa’la mengharap ridla Allah. Di antara contohnya,

Bekerja diniatkan ibadah,

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

“Jika seorang muslim memberi nafkah (dari hasil kerjanya) pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah.” (Hadits Bukhari Nomor 4932)

Menikah diniatkan ibadah,

مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ تَعَالَى وَمَنَعَ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَحَبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَبْغَضَ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى فَقَدْ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ

“Barangsiapa memberi karena Allah Ta’ala, tidak memberi karena Allah Ta’ala, marah karena Allah Ta’ala dan menikah karena Allah Ta’ala, imannya telah sempurna”. (Hadits Ahmad Nomor 15064)

Dan masih banyak lagi perkara-perkara muamalah akan berpahala bila diniatkan karena Allah, seperti mencintai, membenci, memberi, dan lain sebagainya. Nabi bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya.” (Hadits Abu Daud Nomor 4061)

Akhlaq

Akhlaq merupakan perkara biasa yang semua orang melakukannya. Moral dan sopan santun berlaku pada semua manusia dan semua ummat. Setiap kita suka bila menjumpai seseorangnyang sangat berakhlaq. Hukum asal akhlaq adalah mubah, namun akhlaq akan bernilai pahala manakala diniatkan untuk mengharap ridha dari Allah. Di antara contohnya akhlaq, seperti berjabat tangan dan ucap salam saat berjumpa, berbicara sopan, tersenyum bila berjumpa, dan lain sebagainya.

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1926)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Surat Al-Isra’ Ayat 24)

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1879)

Adat

Perkara-perkara adat kebiasaan manusia merupakan perkara yang mubah dan diperkenankan oleh agama. Hukum asal dari adat istiadat adalah mubah yang boleh dilakukan oleh siapapun dan kebiasaan dari golongan umat manapun. Walaupun hukum asal adat adalah mubah, namun akan bernilai pahala manakala diniatkan untuk Allah dan mengandung unsur-unsur kebaikan. Sebagaimana sabda Nabi,

قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلَّا أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا

“Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di kekuasaan-Nya, mereka (Qurays Arab) tidaklah meminta kepadaku suatu adat kebiasaan (tradisi dan budaya), yang terdapat unsur-unsur di mana mereka mengangungkan kehormatan-kehormatan Allah melainkan aku pasti akan mengabulkannya”. (HR. Bukhari No. 2529)

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَمَّا وَاللهِ لاَ يَدْعُونِي الْيَوْمَ إِلَى خُطَّةٍ ، يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرْمَةً ، وَلاَ يَدْعُونِي فِيهَا إِلَى صِلَةٍ إِلاَّ أَجَبْتُهُمْ إِلَيْهَا. رواه ابن أبي شيبة

“Ingatlah, demi Allah, mereka (orang-orang musyrik) tidak mengajakku pada hari ini terhadap suatu kebiasaan, di mana mereka mengagungkan hak-hak Allah, dan tidak mengajukku suatu hubungan, kecuali aku kabulkan ajakan mereka.” (HR. Ibnu Abi Syaibah No. 36855)

Ini dalil yang tidak dapat ditolak dan sangat kuat sekali: bilamana sebuah tradisi, adat budaya, atau sebuah kebiasaan baru dari kaum muslimin, walaupun tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, selama mengandung unsur-unsur keagungan Allah dan agama Islam, merupakan kehalalan secara mutlak dan berpahala bagi pelakunya. Nabi bersabda,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Dengan begitu, tradisi dan budaya, seperti maulid Nabi, kenduri, haul, tahlilan, ulang tahun, acara peringatan hari besar Islam, sepasaran, selamatan rumah baru, pawai, resepsi pernikahan, wisuda, halal bi halal, reunian, majelis dzikir, arisan haji, bekerja dan usaha untuk menfkahi keluarga, haul atau peringatan, mengingat kisah-kisah orang terdahulu, kumpul-kumpul, tingkeban, ulang tahun dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi bernilai ibadah yang berpahala bila diniatkan syi’ar Islam dengan catatan disisipi kebaikan seperti bhakti sosial, membantu orang, dzikir, renungan, sedekah, mauidzoh, serta kemanfaatan dan kemaslahatan lain, dan tidak mengandung unsur-unsur kemungkaran, kesyirikan dan kemaksiatan. Unsur-unsur keharaman tersebut berdasarkan firman Allah,

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan (1) perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, (2) dan perbuatan dosa, (3) melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (4) (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (5) (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. al-A’raf: 33)

Dari ayat tersebut setiap larangan yang Allah tetapkan pasti menggunakan kriteria. Kriteria perbuatan yang diharamkan Allah adalah;

  1. Perbuatan yang mengandung unsur kekejian.
  2. Perbuatan yang mengandung unsur kemaksiatan (dosa).
  3. Perbuatan yang mengandung unsur kerugian sosial.
  4. Perbuatan yang mengandung unsur kesyirikan.
  5. Berbohong atas nama agama dengan mengharamkan tanpa dalil yang jelas. Maksudnya, haram hukumnya membid-ah-bid’ahkan amalan umat Islam tanpa dalil yang qath’i.

Perbedaan dasar ibadah mahdhah dengan amal shalih (ibadah ghairu mahdhah)

Walaupun ibadah mahdhah dengan amal shalih (ibadah ghairu mahdhah) sama-sama memiliki nilai pahala sebab diniatkan karena Allah Ta’ala. Namun dari keduanya memiliki karakteristik yang sangat berbeda.

Ibadah mahdhah

Yaitu hal-hal yang terkait dengan ritual yang telah ditetapkan cara, kadar, waktu, dan tempatnya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada tuhannya. Ibadah mahdhah bersifat personal yang dilakukan hanya kepada Allah sebagai bentuk ketaatan. Amal shalih bersifat sosial yang dilakukan dan faidahnya diberikan kepada sesama makhluk dengan diniatkan semata karena mengharap ridha Allah. Ibadah madhah adalah ibadah yang mengandung dan mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bentuk-bentuk ibadah mahdahah: bersuci, shalat, puasa, zakat, haji.

Amal shalih (Ibadah ghairu madhah)

Yaitu perbuatan yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga berhubungan horizontal antara manusia dengan manusia dan makhluk lainnya. Ibadah ghairu mahdhah bisa juga disebut sebagai ibadah sunnah mutlak seperti dzikir, doa, shalat sunnah, dan sebagainya. Sedangkan amal shalih yang masih tergolong ibadah ghairu mahdhah, adalah ibadah yang bersifat horizontal, yaitu hubungan yang menimbulkan faidah antar makhluq hidup. Amal shalih tersebut sebetulnya merupakan amal biasa, namun memiliki nilai pahala sebab diniatkan dan dipersembahkan sebagai ketaatan kepada Allah. Atau, mungkin saja suatu perbuatan tersebut awalnya sebuah perbuatan biasa, namun pada akhirnya bernilai pahala karena diniatkan karena Allah atau sebab menimbulkan manfaat bagi makhluq lain. Contoh;

Perbuatan muamalah seperti menikah, bekerja, atau menafkahi niat karena Allah taala.

Perbuatan akhlaq seperti melembutkan suara di hadapan orang tua dan mecium tangan guru dengan niat menghormati sebagai bentuk menjalankan perintah berbakti dari Allah. Mencium anak dan istri sebagai wujud menyayangi karena Allah memerintahkan menggauli keluarag dengan baik. Mengucapkan salam pada setiap berjumpa saudara muslim lainnya baik di jalan maupun setelah jamaah shalat dengan niat mengamalkan perintah Allah untuk menjalin hubungan baik. Dan lain sebagainya.

Perbuatan adat istiadat seperti kebiasaan para petani saat panen raya dan para nelayan saat hasil laut melimpah mengadakan kenduri diwujudkan dalam sedekahan sebagai bentuk syukur yang diperintahkan Agama. Kebiasaan masyarakat kumpul-kumpul kesedihan ketika terjadi peristiwa kematian dari handai tolan kemudian diisi dengan dzikir, doa, dan renungan daripada kumpul-kumpul diisi dengan pembicaaraan yang sifatnya ghibah dan lain sebagainya. Atau kebiasaa kumpul-kumpul kebahagiaan ketika terjadi peristiwa kelahiran atau perikahan kemudian diisi dengan sedekahan, santunan anak yatim, mengundang makan para handai tolan sekitar daripada kimpul-kumpul diisi kemaksiatan seperti lagu dan musik yang melalaikan atau kemungkaran seperti permainan kartu yang berisi perjudian.

Sebaliknya dari amal shalih adalah amal biasa. Sebuah amal tidak akan menjadi amal shalih bilamana tidak diniatkan hanya untuk Allah semata. Sedangkan pengertian Amal (biasa), adalah sebuah perbuatan sebagai tabiat bawaan manusia, bisa bersifat baik maupun bersifat buruk. Amal adalah setiap perbuatan manusia yang bersifat duniawiyah atau horizontal, baik perbuatan berupa personal maupun sosial. Amal ini adalah perbuatan yang bersifat netral (mutlak). Maksudnya adalah bila perbuatan ini dilakukan tidak mendapat pahala, dan begitu pula bila tidak dilakukan juga tidak akan mendapatkan dosa. Amal merupakan perbuatan-perbuatan yang bersifat kebiasaan yang muncul dari keinginan dan kebutuhan sebagai tabiat atau kecenderungan alami manusia.

Jadi, perbuatan-perbuatan muamalah, akhlaq, maupun adat istiadat yang mana sifat asalnya netral akan menjadi amal sayyi’ah dan bernilai dosa manakala berisi keburukan diniatkan sebagai kemungkaran atas perintah Allah. Dan sebaliknya akan menjadi amal salihah dan bernilai pahala manakala berisi kebaikan yang diniatkan sebagai ketaatan atas perintah Allah.

Penjabaran lebih lanjut prinsip amal shalih (ibadah ghairu mahdhah)

Bila prinsip ibadah ghairu mahdhah keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah, dan tata caranya harus meniru apa yang telah dicontohkan Nabi. Bila tidak meniru maka disebut bid’ah. Maka berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah, prinsip dasar ibadah jenis ini keberadaannya bebas dilakukan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Dan tata caranya tidak perlu mencontoh Rasul, sebab Nabi sendiri tidak mencontohkan dan Allah membebaskan. Dalam ibadah ghairu mahdhah ini tidak dikenal istilah bid’ah, yang ada adalah bid’ah hasanah atau yang lebih dikenal dengan amal shalihah. Pemahaman ini bukan tanpa dalil, melainkan banyak dalil yang membenarkan ibadah ghairu mahdhah untuk bebas dilakukan sesuai kemauan dan kemampuan masing-masing umat Islam.

Dengan kata lain bahwa hakikat Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah-ibadah yang sifatnya sunnah mutlak. Jadi ibadah ghairu mahdhah yang mana dalam situasi tertentu juga dapat dikategorikan sebagai amal shalih, yaitu segala tindakan, baik muamalah, akhlaq maupun adat (tradisi) yang diniatkan sebagai bentuk upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengharap ridha-Nya, yang tidak diatur cara, kadar, waktu, dan tempatnya, sehingga kreasi dan modifikasi dalam ibadah ini hukumnya mubah alias boleh sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya. Ibadah ghairu mahdhah ini, di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya.

Yang dimaksud hukum boleh mengkreasi dan memodifikasi Ibadah ghairu mahdhah (ibadah sunnah mutlak), bukan terkait dengan kerangka utama ibadahnya, misalkan merubah syarat rukunnya shalat sunnah, atau misalkan walaupun shalat sunnah namun tidak boleh menghadap ke selain kiblat. Namun yang diperbolehkan di sini terkait semisal;

Mengkreasi dan memodifikasi waktu dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Pada kesempatan tertentu seringkali Nabi mengkhususkan sebuah amal dan ibadah secara rutin pada setiap hari Sabtu. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengunjungi masjid Quba’ pada setiap hari Sabtu, baik dengan berkendaraan ataupun berjalan kaki”. (Hadits Bukhari Nomor 1118 Hadits Muslim Nomor 2484)

Menkhususkan sebuah kesunnahan seperti ziarah kubur juga sering dilakukan oleh Nabi. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:”السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار”، وأبو بكر وعمر وعثمان

“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. (HR. Al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453)

Kebiasaan menjadwal ziarah kubur juga dilanjutkan oleh putrinya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عن الحسين بن علي : أن فاطمة بنت النبي صلى الله عليه و سلم كانت تزور قبر عمها حمزة كل جمعة فتصلي و تبكي عنده هذا الحديث رواته عن آخرهم ثقات

“Al-Husain bin Ali berkata: “Fathimah putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berziarah ke makam pamannya, Hamzah setiap hari Jum’at, lalu menunaikan shalat dan menangis di sampingnya.” (HR. Al-Hakim dalam al-Mustadrak [4319], Al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra [7000]).

Mengkreasi dan memodifikasi tempat dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Terkait dengan ini ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperbolehkan atau bahkan menganjurkan setiap muslim membuat tempat khusus di manapun dia sukai untuk dijadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا

“Hendaknya seseorang memiliki tempat KHUSUS yang ia pergunakan untuk menyendiri (berkhulwat/meditasi) dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah”. (HR. Darimi No. 316)

Hadits di atas didukung oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah Allah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nur: 36)

Pengkhususan suatu tempat untuk beribadah juga sering dilakukan oleh Nabi. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan tempat ibadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana yang terlihat dari sebuah riwayat hadits berikut,

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa (khusus) beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar (agar beliau bisa shalat seleluasa panjangnya dan tidak ditiru sahabatnya) pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan di antara beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu.” (HR. Nasai No. 754)

Hadits di atas menunjukkan anjuran agar setiap kita memiliki dan membuat tempat baik di rumah atau tempat lainnya yang kita khususkan untuk dipergunakan muhasabah, merenung atau mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan gua Hira untuk media pendekatan diri kepada Allah selain Masjid. Hadits-Hadits berikut yang menggambarkan Nabi suka mencari tempat-tempat khusus untuk beribadah,

فَكَانَ يَلْحَقُ بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ قَالَ وَالتَّحَنُّثُ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

“Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira`, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal.” (Hadits Bukhari Nomor 4572)

Pada hadits di bawah ini disebutkan bahwa Nabi sudah terbiasa memilih suatu tempat dalam masjid untuk menjalankan amal ibadahnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا

“Aku [Yazid bin Abu ‘Ubaid] dan [Salamah bin Al Akwa’] datang (ke Masjid), lalu dia shalat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, ‘Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat shalat dekat tiang ini? ‘ Dia menjawab, ‘Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk shalat di situ’.” (Hadits Bukhari Nomor 472 dan Hadits Muslim Nomor 788)

Mengkreasi dan memodifikasi jumlah hitungan dan kadar dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Walaupun terdapat beberapa dzikir jumlah hitungannya telah ditentukan oleh syariat. Namun prinsip dasar dari dzikir tidak ada batasannya. Dzikir dapat dilakukan sebanyak-banyaknya, sebanyak menurut kesanggupan masing-masing dari para pengamalnya. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh allah dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا، وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب:

“Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kalian (menyebut nama Allah), denagn dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”. (QS. al-Ahzab: 41-42)

Sebanyak-banyaknya di sini tidak ditentukan jumlahnya. Namun dikembalikan kepada kemampuan dan kemauan dari masing-masing yang hendak mengamalkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا اكْلَفُوا مِنْ الْعَمَلِ مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Allah Tabaraka Wa Ta’ala tiada akan jenuh hingga kalian sendiri yang merasa jenuh, maka kerjakan amalan sesuai kemampuan kalian. ” (HR. Malik No. 240)

Dengan begitu banyak atau sedikitnya jumlah dzikir diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam. Sebab perkara dzikir ini merupakan perkara yang tergolong sunnah mutlak. Di mana sebuah amalan dan ibadah yang mana agama tidak memberikan ketentuan-ketentuan khususnya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjawab “terserah” dari pertanyaan salah seorang sahabatnya,

قَالَ أُبَيٌّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي فَقَالَ مَا شِئْتَ قَالَ قُلْتُ الرُّبُعَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ النِّصْفَ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ قُلْتُ فَالثُّلُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قُلْتُ أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Berkata Ubai: Wahai Rasulullah, aku sering membawa shalawat untuk baginda, lalu seberapa banyak aku bershalawat untuk baginda? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah. ” Aku bertanya: Seperempat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Setengah? Beliau menjawab: “Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku bertanya: Dua pertiga?”Terserah, jika kau tambahi itu lebih baik bagimu. ” Aku berkata: Aku akan menjadikan seluruh doaku untuk baginda. Beliau bersabda: “Kalau begitu, kau dicukupkan dari dukamu dan dosamu diampuni. ” Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. (HR. Tirmidzi No. 2381)

Dengan begitu setiap dari umat Islam boleh membuat hitungan sendiri dalam dzikir setiap dzikirnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Hudzaifah berikut,

أَيْنَ أَنْتَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ تَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Kemana kamu dari istighfar hai Hudzaifah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah tujuh puluh kali dalam sehari. ” (HR. Ibnu Majah No. 3807)

Mengkreasi dan memodifikasi merubah (konversi) jenis dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Mengkombinaksikan atau memvariasikan antara suatu amal biasa dengan amal ibadah mutlak lainnya sebetulnya merupakan sebuah kelaziman dalam agama Islam. Di antaranya adalah,

Merubah amal manjadi ibadah atau sebaliknya

Mengkhususkan dengan cara merenovasi atau memodifikasi suatu ajaran yang bersifat mutlak dalam agama itu dibenarkan. Sebagaimana yang dilakukan Nabi ketika awalnya melakukan sebuah amal mendadak dirubah menjadi suatu ibadah. Dalam sebuah riwayat Hadits disebutkan,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَتْ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ قَالَتْ فَلَمَّا رَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَتْ لَنَا هَدِيَّةٌ أَوْ جَاءَنَا زَوْرٌ وَقَدْ خَبَأْتُ لَكَ شَيْئًا قَالَ مَا هُوَ قُلْتُ حَيْسٌ قَالَ هَاتِيهِ فَجِئْتُ بِهِ فَأَكَلَ ثُمَّ قَالَ قَدْ كُنْتُ أَصْبَحْتُ صَائِمًا

“dari [Aisyah] radliallahu ‘anha, ia berkata; Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: “Wahai Aisyah, apakah kamu mempunyai makanan?” Aisyah menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, aku akan berpuasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar. Tak lama kemudian, saya diberi hadiah berupa makanan -atau dengan redaksi seorang tamu mengunjungi kami–. Aisyah berkata; Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali saya pun berkata, “Ya Rasulullah, tadi ada orang datang memberi kita makanan dan kusimpan untuk Anda.” Beliau bertanya: “Makanan apa itu?” saya menjawab, “Kuwe hais (yakni terbuat dari kurma, minyak samin dan keju).” Beliau bersabda: “Bawalah kemari.” Maka kuwe itu pun aku sajikan untuk beliau, lalu beliau makan, kemudian berkata, “Sungguh dari pagi tadi aku puasa.” (Hadits Muslim Nomor 1950)

Dalam hadits tersebut terlihat di mana awalnya Nabi tidak berpuasa (amal/perbuatan biasa), namun ketika mengetahui bahwa tidak ada makanan yang dapat dimakannya lalu kemudia beliau berinisiatif untuk merubah menjadi berpuasa (ibadah). Pada bagian kedua hadits juga menunjukkan bahwa di mana asalnya Nabi melakukan puasa (perbuatan ibadah) mendadak dibatalkan menjadi perbuatan biasa.

Yang melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Nabi di atas juga sering dilakukan oleh para sahabat Nabi lainnya. Sebagaimana yang ditunjukkan pada riwayat hadits berikut,

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ قَالَتْ لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْفَتْحِ فَتْحِ مَكَّةَ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَجَلَسَتْ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمُّ هَانِئٍ عَنْ يَمِينِهِ قَالَتْ فَجَاءَتْ الْوَلِيدَةُ بِإِنَاءٍ فِيهِ شَرَابٌ فَنَاوَلَتْهُ فَشَرِبَ مِنْهُ ثُمَّ نَاوَلَهُ أُمَّ هَانِئٍ فَشَرِبَتْ مِنْهُ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ أَفْطَرْتُ وَكُنْتُ صَائِمَةً فَقَالَ لَهَا أَكُنْتِ تَقْضِينَ شَيْئًا قَالَتْ لَا قَالَ فَلَا يَضُرُّكِ إِنْ كَانَ تَطَوُّعًا

“dari [Ummu Hani`], ia berkata; pada saat penaklukan Mekkah Fathimah datang dan duduk di sebelah kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sementara Ummu Hani` di sisi kanan beliau. Ummu Hani` berkata; kemudian datanglah seorang anak wanita membawa bejana berisi air minum, kemudian ia memberikannya kepada beliau. Lalu beliau minum sebagian darinya kemudian beliau memberikannya kepada Ummu Hani`, lalu ia meminum sebagian darinya dan berkata; wahai Rasulullah, sungguh saya telah berbuka, tadinya aku sedang berpuasa. Kemudian beliau berkata kepadanya: ” Apakah engkau mengqadha` puasa?” Ia berkata; tidak. Lalu beliau berkata: “Hal itu tidak mengapa bagimu apabila puasa sunah.” (Hadits Abu Daud Nomor 2100 dan Hadits Darimi Nomor 1673)

Merubah suatu jenis ibadah menjadi jenis ibadah lainnya

Mengkhususkan dengan cara merevisi, memodifikasi, mengkombinasi, memvariasi, atau berinovasi suatu jenis ibadah satu menjadi jenis ibadah yang lainnya juga dibenarkan dalam agama Islam. Sebagaimana merubah jenis ibadah shalat fardhu menjadi shalat sunnah. Makna ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits berikut,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَصَلَّى فَقَالَ لِي أَلَا صَلَّيْتَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ صَلَّيْتُ فِي الرَّحْلِ ثُمَّ أَتَيْتُكَ قَالَ فَإِذَا فَعَلْتَ فَصَلِّ مَعَهُمْ وَاجْعَلْهَا نَافِلَةً

“Saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang saat itu beliau berada di Masjid. Kemudian masuklah waktu shalat fardhu, beliau pun shalat dan bertanya kepadaku: “Tidakkah kamu shalat?” saya menjawab, “Wahai Rasulullah, saya telah menunaikan shalat di perjalanan, baru kemudian menemui Anda.” Beliau bersabda: “Jika kamu telah laksanakan (shalat fardhu), maka shalatlah (lagi) berjamaah dengan mereka, dan rubahlah ia (shalat fardhu yang di perjalanan) sebagai sunnah.” (Hadits Ahmad Nomor 18209)

Mengkreasi dan memodifikasi memilih dan melebihkan dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Mengkhuskan suatu amal ibadah dengan cara lebih mencintai suatu jenis ibadah tertentu juga dibenarkan. Sebagaimana ada seorang sahabat lebih mencintai dan lebih mengamalkan untuk membaca surat Al-Ikhlas dibandingkan dengan surat yang lainnya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءَ فَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ لَهُمْ فِي الصَّلَاةِ فَقَرَأَ بِهَا افْتَتَحَ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ثُمَّ يَقْرَأُ بِسُورَةٍ أُخْرَى مَعَهَا وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَقْرَأُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ثُمَّ لَا تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِسُورَةٍ أُخْرَى قَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِهَا فَعَلْتُ وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ وَكَانُوا يَرَوْنَهُ أَفْضَلَهُمْ وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ يَا فُلَانُ مَا يَمْنَعُكَ مِمَّا يَأْمُرُ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ أَنْ تَقْرَأَ هَذِهِ السُّورَةَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ حُبَّهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ ثَابِتٍ وَرَوَى مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ هَذِهِ السُّورَةَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَقَالَ إِنَّ حُبَّكَ إِيَّاهَا يُدْخِلُكَ الْجَنَّةَ

“dari [Anas bin Malik] ia berkata; “Seorang sahabat Anshar mengimami mereka di Masjid Quba`, setiap kali mengawali untuk membaca surat (setelah al fatihah -pent) dalam shalat, ia selalu memulainya dengan membaca QUL HUWALLAHU AHAD hingga selesai, lalu ia melanjutkan dengan surat yang lain, dan ia selalu melakukannya di setiap rakaat. Lantas para sahabatnya berbicara padanya, kata mereka; “Kamu membaca surat itu lalu menurutmu itu tidak mencukupimu, hingga kamu melanjutkannya dengan surat yang lain, bacalah surat tersebut atau tinggalkan lalu bacalah surat yang lain!.” Sahabat Anshar itu berkata; “Aku tidak akan meninggalkannya, bila kalian ingin aku menjadi imam kalian dengan membacanya, maka aku akan melakukannya dan bila kalian tidak suka, aku akan meninggalkan kalian.” Sementara mereka menilainya sebagai orang yang paling mulia di antara mereka, maka mereka tidak ingin diimami oleh orang lain. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi mereka, mereka memberitahukan masalah itu, lalu beliau bersabda: “Hai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan yang diperintahkan teman-temanmu dan apa yang mendorongmu membaca surat itu disetiap rakaat?” ia menjawab; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukainya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga.” Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib, shahih dari jalur ini dari hadits ‘Ubaidullah bin Umar dari Tsabit. [Mubarak bin Fadlalah] meriwayatkan dari [Tsabit] dari [Anas] bahwa seseorang berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai surat ini, yaitu QUL HUWALLAAHU AHAD.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mencintainya akan memasukkanmu ke dalam surga.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2826 dan Hadits Darimi Nomor 3300)

Walaupun semua bacaan Al-Qur’an dapat dijadikan penyembuh (ruqyah), namun tidak salah ketika lebih memilih salah satu bacaan Al-Qur’an untuk digunakan oleh umat Islam mengobati orang sakit. Sebagaimana seorang sahabat yang meruqyah orang sakit dengan bacaan Al-Fatihah,

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا فِي سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ فَعَرَضَ لِإِنْسَانٍ مِنْهُمْ فِي عَقْلِهِ أَوْ لُدِغَ قَالَ فَقَالُوا لِأَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَى صَاحِبَهُمْ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأُعْطِيَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَ حَتَّى أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا رَقَيْتُهُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ قَالَ فَضَحِكَ وَقَالَ مَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ قَالَ ثُمَّ قَالَ خُذُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ

“Beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan safar, ketika mereka melewati salah satu perkampungan arab, mereka hendak bertamu namun mereka enggan menerimanya. Lalu ada diantara penduduk itu terkena sengatan, dan akhirnya mereka bertanya kepada sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Apakah ada di antara kalian yang bisa meruqyah?” maka seorang sabahat Nabi menjawab; “Ya, ” kemudian ia menemui orang yang terkena sengatan dan meruqyahnya dengan membacakan surat Al Fatihah, dan orang itu pun sembuh. Maka ia pun diberi beberapa kambing, namun ia enggan menerimanya hingga ia bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika sampai, ia pun menceritakan kejadian tersebut kepada beliau, dan berkata; “Wahai Rasulullah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak meruqyahnya kecuali hanya dengan membacakan surat Al Fatihah, ” Abu Sa’id Al Khudri berkata; Beliau lalu tertawa, dan bersabda: “Apa engkau tahu bahwa surat Al Fatihah adalah ruqyah?” Abu Sa’id Al Khudri berkata; “Kemudian beliau bersabda: “Ambillah pemberian itu dan berikan untukku satu bagian bersama kalian.” (Hadits Bukhari Nomor 4623, Hadits Muslim Nomor 4081, dan Hadits Ahmad Nomor 10562)

Mengkhususkan sebuah amal dengan cara lebih memuliakan dibanding dengan lainnya juga dibenarkan. Sebagaimana Nabi lebih memuliakan ilmu dibanding dengan ibadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَدَارُسُ الْعِلْمِ سَاعَةً مِنْ اللَّيْلِ خَيْرٌ مِنْ إِحْيَائِهَا و قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Mempelajari ilmu dalam satu malam lebih baik dibandingkan dengan menghidupkannya (Memperbanyak ibadah) “. [Abu Hurairah] radliallahu ‘anhu pernah berkata: “Sungguh aku membagi malamku menjadi tiga bagian, sepertiga waktu malam untuk tidur, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga lagi untuk mempelajari hadis Rasulullah salallhu ‘alaihi wa sallam “. (Hadits Darimi Nomor 266)

Mengkreasi dan memodifikasi suara keras atau pelan dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Anggapan bid’ah mengkhususkan ibadah sunnah mutlak dengan suara keras. Berikut dalil yang terkesan melarang berdoa, berdzikir dan membaca al-Qur’an dengan suara keras,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

“Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan apabila menaiki bukit kami bertalbiyah dan bertakbir dengan suara yang keras. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai sekalian Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Maha suci nama-Nya dan Maha Tinggi manusia, rendahkanlah diri kalian karena kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan juga bukan Dzat yang jauh. Dia selalu bersama kalian dan Dia kebesaran-Nya”. (HR. Bukhari No. 2770)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (QS. al-Isra’[17]: 110)

Dalil-dalil tersebut bertentangan dengan banyak dalil di bawah ini yang mana Nabi memperbolehkan berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, dan ibadah sunnah mutlak lainnya dengan suara keras. Berikut beberapa dalil di mana umat Islam boleh memilih beribadah sunah mutlak dengan suara keras,

جَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ فَإِنَّهَا مِنْ شَعَائِرِ الْحَجِّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, suruh para sahabatmu mengeraskan suara talbiyah karena ia adalah syi’ar haji (agama). ” (HR. Ahmad No. 20689)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَى نَاسٌ نَارًا فِي الْمَقْبَرَةِ فَأَتَوْهَا فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقَبْرِ وَإِذَا هُوَ يَقُولُ نَاوِلُونِي صَاحِبَكُمْ فَإِذَا هُوَ الرَّجُلُ الَّذِي كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالذِّكْرِ

“Orang-orang melihat cahaya di sebuah kuburan, kemudian mereka mendatanginya, ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam kuburan dan beliau berkata: “Serahkan kepadaku sahabat kalian!” Ternyata ia adalah seorang laki-laki yang mengeraskan suara ketika berdzikir.” (HR. Abu Daud No. 2751)

Nabi berdzikir setelah shalat dengan suara keras,

كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

[Ibn Zubair] sering memanjatkan do’a; (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat. ” (HR. Muslim No. 935)

Mengeraskan suara dzikir setelah selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Bahwa [Ibnu ‘Abbas] radliallahu ‘anhuma mengabarkan kepadanya, bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya. ” (HR. Bukhari No. 796)

Talbiyah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan suara keras

صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ الظُّهْرَ أَرْبَعًا وَالْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُخُونَ بِهِمَا جَمِيعًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Zhuhur di Madinah empat raka’at dan shalat ‘Ashar di Dzul Hulaifah dua raka’at. Dan aku mendengar mereka melakukan talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya (hajji dan ‘umrah). (HR. Bukhari No. 1447)

Nabi bersenandung dengan mengeraskan suaranya,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْقُلُ التُّرَابَ يَوْمَ الْخَنْدَقِ حَتَّى أَغْمَرَ بَطْنَهُ أَوْ اغْبَرَّ بَطْنُهُ يَقُولُ وَاللَّهِ لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ أَبَيْنَا أَبَيْنَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ikut mengangkuti tanah pada perang Khandaq, hingga perutnya penuh debu-atau perutnya berdebu-, beliau bersabda: ‘Ya Allah, seandainya bukan karena-Mu, maka kami tidak akan mendapatkan petunjuk, tidak akan bersedekah dan tidak akan melakukan shalat, maka turunkanlah ketenangan kepada kami, serta kokohkan kaki-kaki kami apabila bertemu dengan musuh. Sesungguhnya orang-orang musyrik telah berlaku semena-mena kepada kami, apabila mereka menghendaki fitnah, maka kami menolaknya. ‘Beliau menyenandungkan itu sambil mengeraskan suaranya. ” (HR. Bukhari No. 3795)

Nabi biasa membaca al-Qur’an dan berdzikir dengan nada indah dan keras,

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

“Tidaklah Allah memberikan izin untuk melakukan sesuatu sebagaimana Allah memberikan izin kepada seorang Nabi yang indah suaranya memperindah bacaan al-Qur’an, dan mengeraskannya. ” (HR. Abu Daud No. 1259, HR. Darimi No. 1450)

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ لِلذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ ذَلِكَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ وَأَسْمَعُهُ

“Mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang selesai dari shalat fardlu itu telah di lakukan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Ibnu Abbas mengatakan; “Aku mengetahuinya ketika mereka selesai melakukan itu dan aku juga mendengarnya.” (Hadits Abu Daud Nomor 851)

Bukti bahwa dalam beribadah bisa dikreasi sesuai dengan situasi dan kondisi selama tidak merubah esensi ibadahnya tujuan ta’lim,

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفَتْحِ عَلَى نَاقَةٍ لَهُ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ أَوْ مِنْ سُورَةِ الْفَتْحِ قَالَ فَرَجَّعَ فِيهَا قَالَ ثُمَّ قَرَأَ مُعَاوِيَةُ يَحْكِي قِرَاءَةَ ابْنِ مُغَفَّلٍ وَقَالَ لَوْلَا أَنْ يَجْتَمِعَ النَّاسُ عَلَيْكُمْ لَرَجَّعْتُ كَمَا رَجَّعَ ابْنُ مُغَفَّلٍ يَحْكِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لِمُعَاوِيَةَ كَيْفَ كَانَ تَرْجِيعُهُ قَالَ آ آ آ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Pernah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari pembebasan Mekkah di atas untanya membaca surat al Fath, atau sebagian dari surat al Fath. ” Abdullah bin Mughaffal berkata, “Lantas beliau mengulang-ulang suaranya dan mengeraskannya. “Kemudian Mu’awiyah membaca dengan menirukan bacaan Abdullah bin Mughaffal seraya berkata, “Kalaulah manusia tidak berkumpul kepada kalian, niscaya aku mengulang-ulang bacaan dan mengeraskannya sebagaimana Ibnu Mughaffal mengulang-ulang dan mengeraskan bacaan ketika menirukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ” Maka aku katakana kepada Mu’awiyah, “Bagaimana beliau mengulang-ulang dan mengeraskan bacaannya?” Mu’awiyah menjawab, “Dengan mengucapkan AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), AAA (dengan bacaan panjang enam harakat), beliau ucapkan tiga kali. ” (HR. Bukhari No. 6986)

Salah satu gambaran doa Nabi dengan menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan mengeraskan suara.

لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ مَادًّا يَدَيْهِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ عَنْ مَنْكِبَيْهِ

“Saat terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat pasukan orang-orang Musyrik berjumlah seribu pasukan, sedangkan para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus Sembilan belas orang. Kemudian Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke arah kiblat sambil menengadahkan tangannya, beliau berdo’a: “ALLAHUMMA ANJIS LII MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA AATI MAA WA’ADTANI, ALLAHUMMA IN TUHLIK HAADZIHIL ‘ISHAABAH MIN AHLIL ISLAM LA TU’BAD FIL ARDLI (Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yang berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tidak ada lagi orang yang akan menyembah-Mua di muka bumi ini). ‘Demikianlah, beliau senantiasa berdo’a kepada Rabbnya dengan mengangkat tangannya sambil menghadap ke kiblat, sehingga selendang beliau terlepas dari bahunya. ” (HR. Muslim No. 3309)

Mengkreasi dan memodifikasi isi (konten) dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Dzikir bisa menggunakan kalimat pujian maupun permohonan. Dzikir tidak didominasi hanya satu kalimat saja, banyak variasi kalimat dzikir yang bisa digunakan, seperti ucapan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat, dan lain sebagainya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh makna Hadits berikut,

عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَةَ

“Hendaklah kalian bertasbih, tahlil dan taqdis (mengucapkan subhanal malikil qudus dan hitunglah dengan jari jemari, karena hal itu akan dimintai pertanggung jawaban terhadap (apa yang ia lakukan) dan apa yang ia ucapkan. Dan janganlah kalian lalai, sehingga kalian melupakan rahmat (Allah).” (Hadits Tirmidzi Nomor 3507)

Begitu juga dalam dzikir boleh menggunakan nama-nama Allah maupun sifat-sifat Allah.

Dzikir menggunakan nama Allah

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Surat Al-Muzzammil Ayat 8)

Dzikir menggunakan sifat-sifat Allah

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-A’raf Ayat 180)

Dalam situasi tertentu selain dzikir ma’tsurah, yaitu dzikir yang sudah dikenal seperti dzikir-dzikir dalam shalat, dalam haji, dan lain sebagainya, maka berdzikir bisa menggunakan selain bahasa Arab atau menggunakan bahasa lisan daerahnya sendiri yang lebih dimengerti. Hal ini didasarkan pada firman Allah berikut,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Ibrahim Ayat 4)

Mengkreasi dan memodifikasi pilihan redaksi dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Lagi-lagi golongan Salafi mempersoalkan berdzikir dan berdo’a menggunakan redaksi buatan sendiri, padahal pandangan semacam itu tidaklah tepat, karena bertentangan dengan syariat Islam. Berdzikir dan berdo’a menggunakan redaksi buatan sendiri, sepanjang tidak melanggar ketentuan-kentuan syariat, maka diperbolehkan. Banyak dalil yang mengisyaratkan beribadah menggunakan redaksi sendiri, di antaranya,

إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ

“Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah)” (HR. Ibnu Majah No. 896)

Diperbolehkan berdoa dengan apa yang disenangi sesuai dengan kondisi masing-masing,

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو

Kemudian hendaklah memilih doa yang dia senangi dan berdoa dengannya. ” (HR. Bukhari No. 791)

Boleh meracik atau menyusun dari dzikir mana dulu yang kita baca,

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

“Ada empat ucapan yang paling di sukai Allah Subhanahu Wa Ta’ala; 1) Subhanallah, 2) al-Hamdulillah, 3) Laa ilaaha illallah, 3) Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai.” (HR. Muslim No. 3985)

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنْ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ أَوْ مَا أَحَبَّ

“Kemudian hendaklah dia memilih setelah itu (di dalam shalat) permintaan doa yang dia kehendaki atau dia inginkan. ” (HR. Muslim No. 609)

Pada Hadits-Hadits di atas terdapat isyarat dibolehkan berdoa sesuka kita (artinya dengan redaksi karangan sendiri terserah kita), yaitu setelah membaca doa tasyahud yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Nah, jika di dalam shalat saja dibolehkan berkreasi dan berinovasi seperti memanjatkan doa dengan redaksi karangan sendiri, tentu di luar shalat lebih boleh lagi.

Nabi memuji doa seorang sahabat yang dikarang sendiri karena mengandung keagungan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala

عَنْ أَنَسٍ قَالَ دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ وَرَجُلٌ قَدْ صَلَّى وَهُوَ يَدْعُو وَيَقُولُ فِي دُعَائِهِ اللَّهُمَّ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَدْرُونَ بِمَ دَعَا اللَّهَ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

“Dari [Anas] ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki masjid dan terdapat seorang laki-laki yang melakukan shalat dan berdoa dengan mengucapkan: (Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Yang Maha Memberi, Pencipta langit dan bumi, Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tahukah kalian, dengan apakah orang tersebut berdoa kepada Allah? Ia telah berdoa kepada Allah dengan namaNya yang paling agung, yang apabila Dia dimintai doa maka Dia akan mengabulkannya. Dan apabila diminta maka Dia akan memberi. ” (HR. Tirmidzi No. 3467)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِنَا إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ حَفَزَهُ النَّفَسُ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ أَيُّكُمْ الَّذِي تَكَلَّمَ بِكَلِمَاتٍ فَأَرَمَّ الْقَوْمُ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا قَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ جِئْتُ وَقَدْ حَفَزَنِي النَّفَسُ فَقُلْتُهَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ رَأَيْتُ اثْنَيْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama kami, tiba-tiba ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid, dan nafasnya masih tersengal-sengal, kemudian ia mengucapkan, ‘Allahu akbar, alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiih (Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak serta pujian yang diberkahi) ‘, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat tersebut? ‘ Orang-orang terdiam, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata lagi ‘Orang yang mengucapkan kalimat tadi tidak mengucapkan hal yang salah’. Lelaki tersebut lalu berkata. ‘Aku wahai Rasulullah Shallallallahu’alaihi wasallam! Aku datang dalam keadaan nafasku yang tersengal-sengal. lalu aku mengucapkannya’. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Aku melihat dua belas malaikat berebut untuk mengangkat kalimat tersebut. ” (HR. Nasai No. 891)

Nabi membiarkan seorang sahabat merevisi doa dari Nabi dengan penambahan beberapa kalimatnya sendiri,

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ تَلْبِيَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ قَالَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يَزِيدُ فِيهَا لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

“telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari [Nafi’] dari [Abdullah bin Umar] bahwa talbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah; “LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK LABBAIKA LAA SYARIIKALAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WANNI’MATA LAKA WALMULK LAA SYARIIKALAK (Ku penuhi panggilan-Mu ya Allah, ku penuhi panggilan-Mu ya Allah, ku penuhi panggilan-Mu ya Allah. Segala puji, kenikmatan dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu) “. Nafi’ berkata, “Abdullah bin Umar pernah menambahinya dengan, ‘LABBAIKA LABBAIK LABBAIKA WA SA’DAIK WAL KHAIRU BIYADAIKA LABBAIK WAR RAGHBA’U ILAIKA WAL ‘AMAL (Ku penuhi panggilan-Mu, ku penuhi panggilan-Mu, ku penuhi panggilan-Mu. Hasrat dan perbuatan hanyalah milik-Mu). ” (HR. Malik No. 643)

Dalam atsar Ibnu Umar di atas jelas bahwa Ibnu Umar menambahkan doa karangan sendiri setelah doa talbiyah yang diajarkan oleh Nabi. Tentu saja doa ini tidak ada pada masa Nabi. Hal ini menunjukkan dibolehkannya doa tambahan dari susunan sendiri, setelah doa yang diajarkan oleh Nabi.

Mengkreasi dan memodifikasi sendiri atau jama’i dalam ibadah ghairu mahdhah.

Sebagaimana sabda Nabi berikut,

Ibadah sunnah mutlak dengan berjamaah dan dipimpin seorang imam. Banyak bertebaran Hadits yang menunjukkan para sahabat pada zaman Nabi berdoa, berdzikir dan membaca al-Qur’an dengan secara jama’i dan dipimpin seorang imam, di antaranya,

Dianjurkan bagi kaum muslimin membentuk majelis-majelis dzikir:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR. Tirmidzi No. 3510)

Dianjurkan bagi kaum muslimin membentuk majelis-majelis dzikir:

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

‘Tidaklah suatu kaum yang duduk berkumpul untuk mengingat Allah, kecuali dinaungi oleh para malaikat, dilimpahkan kepada mereka rahmat, akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan Allah Azza Wa jalla akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4868)

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat,

وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati halaqah para sahabatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: ‘Majelis apa ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami duduk untuk berzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan anugerah-Nya kepada kami. ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk di sini hanya untuk ini? ‘ Mereka menjawab; ‘Demi Allah, kami duduk-duduk di sini hanya untuk ini. ‘ Kata Rasulullah selanjutnya: ‘Sungguh aku menyuruh kalian bersumpah bukan karena mencurigai kalian. Tetapi karena aku pernah didatangi Jibril alaihis-salam. Kemudian ia memberitahukan kepadaku bahwasanya Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat. ‘ (HR. Muslim No. 4869)

Setiap majelis dzikir akan menjadi berkah bagi siapapun yang menghadirinya,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Telah menceritakan kepada kami [Isma’il] berkata, telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah] bahwa [Abu Murrah]-mantan budak Uqail bin Abu Thalib-, mengabarkan kepadanya dari [Abu Waqid al-Laitsi], bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang duduk bermajelis di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang seorang lagi pergi, yang dua orang terus duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di mana satu di antaranya nampak berbahagia bermajelis bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang yang kedua duduk di belakang mereka, sedang yang ketiga berbalik pergi, Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai bermajelis, Beliau bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi?” Adapun seorang di antara mereka, dia meminta perlindungan kepada Allah, maka Allah lindungi dia. Yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya”. (HR. Bukhari No. 64)

Jika hamba mengingat Allah dalam perkumpulan niscaya akan dibalas dengan perkumpulan yang lebih baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan (jamaah), maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari. ” (HR. Bukhari No. 6856)

Akan rugi bagi yang tidak ikut berdzikir dalam sebuah majelis dzikir,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ اللَّهِ تِرَةٌ

“Dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk pada suatu tempat (majelis), lalu tidak menyebut nama Allah (dzikir) di dalamnya, maka di sisi Allah itu akan menjadi kerugian baginya. ” (HR. Abu Daud No 4215)

Akan menyesal karena diadzab Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi yang tidak menghidupkan majelis dengan dzikir,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Dari [Abu Hurairah radhillallahu ‘anhu] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia meng-adzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُومُونَ مِنْ مَجْلِسٍ لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فِيهِ إِلَّا قَامُوا عَنْ مِثْلِ جِيفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً

“Tidaklah suatu kaum bangkit dari tempat duduknya, dan mereka tidak menyebut nama Allah dalam majelis tersebut, melainkan mereka seperti bangun dari tempat yang semisal dengan bangkai himar, dan kelak akan menjadi penyesalan baginya (di akhirat). ” (HR. Abu Daud No. 4214)

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia mengadzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka. ” (HR. Tirmidzi No. 3302)

Malaikat selalu mencari majelis dzikir untuk menyelimutkan sayapnya,

إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit. ‘ Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: ‘Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: ‘Kalian datang dari mana? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apa yang mereka minta? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka memohon surga-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi: ‘Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala balik bertanya: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? ‘ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka. ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka. ‘ Maka Allah menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tidak bakalan celaka karena mereka. ‘ (HR. Muslim No. 4854)

Setiap majelis dzikir akan dibanggakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan para malaikat,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.” (HR. Muslim No. 4867)

Nabi lebih menyukai hadir di majelis dzikir dibanding membebaskan budak,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak. ” (HR. Abu Daud No. 3182)

Berdzikir di majelis dzikir lebih memiliki keutamaan,

كَلِمَاتٌ لَا يَتَكَلَّمُ بِهِنَّ أَحَدٌ فِي مَجْلِسِهِ عِنْدَ قِيَامِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ إِلَّا كُفِّرَ بِهِنَّ عَنْهُ وَلَا يَقُولُهُنَّ فِي مَجْلِسِ خَيْرٍ وَمَجْلِسِ ذِكْرٍ إِلَّا خُتِمَ لَهُ بِهِنَّ عَلَيْهِ كَمَا يُخْتَمُ بِالْخَاتَمِ عَلَى الصَّحِيفَةِ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Ada beberapa bacaan, tidaklah seseorang membacanya tiga kali saat berdiri dari majelisnya kecuali Allah akan menghapus dosanya karenanya. Dan tidaklah seseorang yang mengucapkannya dalam masjlis yang baik dan majelis dzikir, kecuali dengannya Allah akan menutup amal baiknya sebagaimana kertas yang diakhiri dengan kalimat: (Maha Suci Engkau Ya Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampunan dan taubat kepada-Mu). ” (HR. Abu Daud No. 4216)

إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Apabila kami menghitung ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu majelis: “Rabbighfirli watub ‘alayya innaka anta tawwabur rahim (Ya Rabbku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha penerima taubat dan maha penyayang” beliau mengucapkannya sebanyak seratus kali. ” (HR. Abu Daud No. 3804)

Sehabis memimpin shalat jamaah, Nabi melanjutkan dengan memimpin dzikir dengan menghadap ke makmum,

إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari menunaikan shalat, beliau menghadapkan wajahnya ke arah kami (makmum). ” (HR. Bukhari No. 800)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ عَن السُّدِّيِّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِينِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari as-Suddiy, dari Anas: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berpaling dari arah kanan (seusai shalat).” (HR. Muslim No. 3784)

Lebih jelasnya terkait dengan mengkresai dan memodifikasi tata cara ibadah ghairu mahdhah dan amal shalih, baca artikel terkait berikut,

Hukum Mengkreasi dan Memodifikasi Ibadah Ghairu Mahdhah dan Amal Shalih

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa meskipun pembagian ajaran Islam banyak variasi yang dipaparkan oleh para ulama ahli, namun yang paling sederhana dipilah menjadi beberapa pokok persoalan besar saja, di antaranya adalah:

Ibadah, yaitu hal-hal yang terkait dengan ritual yang telah ditetapkan cara, kadar, waktu, dan tempatnya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada tuhannya. Ada dua: ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.  Amal ibadah bersifat personal yang dilakukan hanya kepada Allah sebagai bentuk ketaatan.

Ibadah bersifat personal yang dilakukan hanya kepada Allah sebagai bentuk ketaatan. Amal shalih bersifat sosial yang dilakukan dan faidahnya diberikan kepada sesama makhluk dengan diniatkan semata karena mengharap ridha Allah.

Ibadah madhah adalah ibadah yang mengandung dan mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Allah SWT. Bentuk-bentuk ibadah mahdahah: bersuci, shalat, puasa, zakat, haji.

Amal, adalah sebuah perbuatan sebagai tabiat bawaan manusia, bisa bersifat baik maupun bersifat buruk. Amal adalah setiap perbuatan manusia yang bersifat duniawiyah atau horizontal, baik perbuatan berupa personal maupun sosial. Amal ini adalah perbuatan yang bersifat netral (mutlak). Maksudnya adalah bila perbuatan ini dilakukan tidak mendapat pahala, dan begitu pula bila tidak dilakukan juga tidak akan mendapatkan dosa. Amal merupakan perbuatan-perbuatan yang bersifat kebiasaan yang muncul dari keinginan dan kebutuhan sebagai tabiat atau kecenderungan alami manusia.

Amal Shalih, adalah ibadah yang bersifat horizontal, yaitu hubungan yang menimbulkan faidah antar makhluq hidup. Masih menjadi bagian dari amal shalih adalah Ibadah ghairu madhah, yaitu ibadah yang tidak hanya sekedar menyangkut hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi juga berhubungan horizontal antara manusia dengan manusia dan makhluk lainnya.

Jadi, mungkin saja suatu perbuatan tersebut awalnya sebuah perbuatan biasa, namun pada akhirnya bernilai pahala karena diniatkan karena Allah atau sebab menimbulkan manfaat bagi makhluq lain. Contoh;

Perbuatan muamalah seperti menikah, bekerja, atau menafkahi niat karena Allah taala.

Perbuatan akhlaq seperti melembutkan suara di hadapan orang tua dan mecium tangan guru dengan niat menghormati sebagai bentuk menjalankan perintah berbakti dari Allah. Mencium anak dan istri sebagai wujud menyayangi karena Allah memerintahkan menggauli keluarag dengan baik. Mengucapkan salam pada setiap berjumpa saudara muslim lainnya baik di jalan maupun setelah jamaah shalat dengan niat mengamalkan perintah Allah untuk menjalin hubungan baik. Dan lain sebagainya.

Perbuatan adat istiadat seperti kebiasaan para petani saat panen raya dan para nelayan saat hasil laut melimpah mengadakan kenduri diwujudkan dalam sedekahan sebagai bentuk syukur yang diperintahkan Agama. Kebiasaan masyarakat kumpul-kumpul kesedihan ketika terjadi peristiwa kematian dari handai tolan kemudian diisi dengan dzikir, doa, dan renungan daripada kumpul-kumpul diisi dengan pembicaaraan yang sifatnya ghibah dan lain sebagainya. Atau kebiasaa kumpul-kumpul kebahagiaan ketika terjadi peristiwa kelahiran atau perikahan kemudian diisi dengan sedekahan, santunan anak yatim, mengundang makan para handai tolan sekitar daripada kimpul-kumpul diisi kemaksiatan seperti lagu dan musik yang melalaikan atau kemungkaran seperti permainan kartu yang berisi perjudian.

Jadi, perbuatan-perbuatan muamalah, akhlaq, maupun adat istiadat yang mana sifat asalnya netral akan menjadi amal sayyi’ah dan bernilai dosa manakala berisi keburukan diniatkan sebagai kemungkaran atas perintah Allah. Dan sebaliknya akan menjadi amal salihah dan bernilai pahala manakala berisi kebaikan yang diniatkan sebagai ketaatan atas perintah Allah.

Dikutip dari buku “Menyoal Kehujahan Hadits Bid’ah”, Penulis KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke