Perbedaan Ahlussunnah, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, dan Salafi

Pendahuluan

افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ

“Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan akan masuk surga dan yang tujuh puluh golongan akan masuk neraka. Dan orang-orang Nashrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan masuk neraka dan yang satu golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, sungguh ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu golongan masuk surga dan yang tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka. ” Lalu beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang masuk surga)?” beliau mennjawab: “Yaitu Al Jama’ah. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3982)

Berdasarkan riwayat hadits tersebut, harus diakui dan diterima kenyataan bahwa dalam umat Islam akan tepecah menjadi beberapa golongan. Berikut akan dibahas mengenai kelompok, aliran, dan sekte yang pernah ada dalam sejarah umat Islam, dan yang pemahamannya memiliki pengaruh kuat bagi umat Islam, serta yang masih bertahan hingga kini. Selain untuk mengetahui sejarah dan ajaran kelompok tersebut, penjelasan ini berguna untuk mengetahui posisi Ahlussunnah Wa al-Jama’ah atau Sunni, di antara kelompok, aliran, dan sekte tersebut. Beberapa golongan yang kami pilih tersebut adalah; Ahlussunnah Wa al-Jama’ah atau Sunni, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, dan, Wahabi.

Penjelasan

Ahlussunnah Wa al-Jama’ah

Pengertian, Ajaran, dan Ciri Khas Akidah Aswaja

Aswaja (Ahlussunnah Wa Al-Jama’ah) atau juga dikenal dengan Sunni bukanlah aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang, melainkan Sunni adalah Islam yang murni yang langsung dari Rasulullah dan sesuai dengan yang telah digariskan dan diamalkan oleh para sahabat. Oleh karena itu, Sunni tidak ada satupun yang menjadi pendirinya melainkan hanya ulama yang telah merumuskan kembali ajaran Islam ditengah beberapa faham yang berusaha mengaburkan ajaran Nabi.

Definisi secara bahasa Ahlussunnah wa al-Jama’ah atau Sunni terbentuk dari tiga kata, yakni: Ahl, berarti keluarga, golongan, atau pengikut. Al-Sunnah, bermakna al-thariqah wa law ghaira mardhiyah berabti jalan atau cara walaupun tidak diridlai. Al-Jama’ah, berasal dati kata ijtima’ (perkumpulan), yang merupakan lawan kata taffaruq (perceraian) dan furqah (perpecahan). Istilah Ahlussunnah Wa al-Jama’ah berasal dari salah satu hadits Nabi, yaitu,

وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

“Hidup berjama’ah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah adzab.” (Hadits Ahmad Nomor 18543)

Sedangkan, definisi secara istilah Aswaja terdiri dari dua pengertian, yaituSunnah adalah suatu nama untuk cara yang diridlai dalam agama, yang telah ditempuh oleh Rasullulah atau selainnya dari kalangan orang yang mengerti tentang Islam, seperti para sahabat Nabi. Secara umum, Sunnah adalah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan baik ucapan, perilaku, serta ketetapan oleh Nabi. Dan Jama’ah adalah kelompok kaum muslimin dari para pendahulu dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti jejak kebaikan mereka sampai hari kiamat. Syaikh Abdullah al-Harari menegaskan pengertian al-Jama’ah merupakan aliran yang diikuti oleh mayoritas kaum muslimin (al-sawad al-a’zham). Nabi bersabda,

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu di atas kesesatan, apabila kalian melihat perselisihan maka kalian harus berada di sawadul a’dzam (kelompok yang terbanyak; maksudnya yang sesuai sunnah). ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 3940)

Dapat disimpulkan, dalam al-Khawakib al-Lamma’ah, Aswaja adalah orang-orang yang selalu berpedoman pada sunnah Nabi dan jalan para sahabat dalam masalah akidah keagamaan, amal-amal lahiriyah serta akhlak hati.

Islam adalah agama Allah yang diturunkan untuk seluruh manusia yang didalamnya terdapat pedoman dan aturan demi kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim Nomor 9 bahwa ada tiga sendi utama dalam ajaran agama Islam, yaitu;

Islam. Implementasi dari 5 rukun Islam, yakni: Shahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji bila mampu. Islam akan menghadirkan bagian ilmu yaitu ilmu fiqh atau ilm hukum Islam.

Iman. Implementasi dari 6 rukun Iman, yakni: Iman kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-kitab Allah, kepada Rasul, kepada hari kiamat, dan kepada qada dan qadar. Iman memunculkan ilmu kalam atau tauhid.

Ihsan. Menyembah Allah seolah-olah meliha-Nya, jika tidak mampu maka sesungguhnya Allah melihatmu. Ihsan melahirkan bagian ilmu tasawuf atau akhlak.

Meskipun ketiga aspek tersebut terbagi dalam beberapa ilmu, ketiganya harus diterapkan secara bersamaan tanpa melakukan pembedaan. Misalnya orang yang sedang shalat, maka dia hanya menyembah Allah (iman), dengan syarat dan rukun shalat (Islam), serta dengan khusyu’ dan penuh penghayatan (ihsan).

Apabila ditanya ciri khas akidah Sunni meyakini bahwa Allah itu tanpa arah dan tanpa tempat. Maksudnya, seperti salah satu sifat Allah mukhalafatuhu lil-hawaditsi yang berarti Allah tidak menyerupai makhluk-makhluk-Nya. Sehingga mustahil Allah menyerupai makhluk yang memilki roh dan benda-benda padat (jamad). Ulama Sunni menjelaskan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian:

Pertama, Benda (‘ain), yang tebagi menjadi dua: (1). Al-jauhar al-fard, benda yang tidak dapat dibagi lagi karena telah mencapai batas terkecil. (2). Jism, benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian. (a) Lathif, sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, roh, angin, dan sebagainya. (b) Katsif, sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan, seperti tanah, manusia, benda padat (jamad) dan sebagainya.

Kedua, Sifat benda (‘aradh). Benda mempunyai sifat yang melekat padanya seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada ditempat dan arah, duduk, turun, naik, dan sebaginya.

Dari klasifikasi benda di atas, semakin meyakinkan Allah itu tidak mungkin serupa dengan makhluk-Nya. Arah dan tempat diciptakan oleh Allah, termasuk manusia yang diciptakan Allah. Dengan demikian berarti Allah itu ada sebelum arah dan tempat itu ada dan Allah tetap pada tanpa arah dan tempat. Oleh karena itu, Sunni sepakat meyakini Allah itu ada tanpa arah dan tempat. Kelompok yang meyakini Allah ada di Arsy itu bukan Sunni, akan tetapi kelompok Mujassimah dan Musyabbihah. Sebagaimana yang dianut oleh golongan Salafy.

Dasar Akidah Sunni

Pokok keyakinan yang berkaitan dengan tauhid dan lainnya menurut Sunni harus dilandasi oleh dalil dan argumentasi yang definitif (qath’i) dari Al-Qur’an, hadits, ijma’ ulama, dan argumentasi akal sehat.

Al-Qur’an, adalah pokok dari semua argumentasi dan dalil. Allah memerintahkan dalam Al-Qur’an agar kaum muslimin senantiasa mengembalikan persoalan yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul.

Hadits, adalah dasar hukum yang kedua dalam penetapan akidah-akidah dalam Islam. Hadits yang dapat dijadikan dasar dalam menetapkan akidah adalah hadits yang perawinya disepakati dapat dipercaya oleh para ulama. Hadits tersebut adalah hadits muttawatir ialah hadits yang telah mencapai peringakat tertinggi dalam keshahihannya. Dan hadits dibawahnya yaitu hadits masyhur, namun hadits di bawah peringkat hadits masyhur tidak dapat dijadikan argumnetasi dalam menetapkan sifat Allah. Hadits masyhur dapat dijadikan argument dalam menetapkan akidah karena dapat menghasilkan keyakinan sebagaimana halnya hadits muttawatir.

Ijma’ ulama, yang mengikuti ajaran Ahlul Haqq dapat dijadikan argumentasi dalam menetapkan akidah. Dalam hal ini seperti dasar yang melandasi penetapan bahwa sifat-sifat Allah yang qadim (tidak ada pemulanya) adalah ijma’ ulama yang qath’i.

Akal, difungsikan sebagai sarana yang dapat membuktikan kebenaran syara’, bukan sebagai dasar dalam menetapkan akidah-akidah dalam agama. Meskipun begitu, hasil penalaran akal yang sehat tidak akan keluar dan bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh syara’.

Di kalangan kaum Muslim, yang berupaya mengkaji akidah-akidah Islam, ada tiga aliran yang berbeda dalam menyikapi seputar hubungan syara’ dengan akal.

Pertama, aliran Mu’tazilah yang berpandangan bahwa akal didahulukan daripada syara’.

Kedua, aliran Hasyawiyah, Zhahiriyah (Salafy), dan semacamnya yang hanya mengikuti dominasi syara’, dan tidak memberikan peran terhadap akal berkaitan dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh syara’. Dalam ajaran Islam tidak akan tertib dan disiplin tanpa dibarengi dengan ijitihad.

Ketiga, aliran Sunni yang mengambil sikap moderat (tawassuth) dan seimbang (tawazun). Semua kewajiban agama hanya dapat diketahui melalui informasi dari syara’ sedangkan terkait dengan keyakinan hanya dapat dicapai dengan penalaran akal. Gabungan dari keduanya dapat mengantar pada hakikat-hakikat yang dikandung oleh dalil-dalil syara’.

Ketika posisi akal bertentangan dengan naql maka kaedah yang harus diambil adalah mengingat bahwa akal adalah pokok dari naql dan bukti kebenaran naql. Oleh karena itu, mengabaikan akal ketika ketetapannya definitif, serta menolak tuntutan akal berakibat pada runtuhnya dasar naql itu sendiri. Ketika kita membatalkan otoritas akal yang menjadi bukti kebenaran naql, berarti kita membatalkan otoritas naql itu sendiri.

Ilmu Kalam dan Filsafat

Alasan karena ilmu kalam dianggap negatif oleh sebagian agamawan adalah karena ilmu kalam identik dengan ilmu filsafat Yunani yang berakar dari ketidakfahaman terhadap hakikat ilmu kalam serta perbedaannya dengan ilmu filsafat. Perbedaan tersebut meliputi metodologi (manhaj), karakter penelitian, objek, dan tujuan.

Metodologi, Menurut ulama tauhid akal adalah sarana yang dapat membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama, bukan sebagai fondasi atau titik tolak bagi keyakinan dalam beragama.

Objek (Maudhu’), Objek yang menjadi materi kajian ilmu tauhid atau kalam adalah meliputi akidah-akidah yang diterima dari syari’ah yang diangap sebagai sesuatu yang aksioma yang menjadi titik permulaan kajiannya. Berbeda dengan para filosof yang membuat perangka-perangka rasional untuk menelusuri dan mencari kebenaran dan tempat kebenaran itu berada.

Tujuan, Seorang ahli ilmu kalam memiliki tujuan yang konkrit, yaitu bertujuan memperkokoh dan memperkuat akidah yang menjadi keyakinan dalam agama. Hal ini berbeda dengan seorang filosof yang memiliki tujuan yang masih belum jelas, yaitu mencari kebenaran seperti apapun bentuknya.

Syi’ah

Pengertian dan Sejarah Kemunculan Syi’ah

Secara etimologi, kata as-Syi’ah berarti pengikut atau pendukung. Secara terminologi Syi’ah mengklaim sebagai para pendukung imam Ali bin Abi Thalib. Mereka berpendapat bahwa imamah merupakan hak Ali yang telah ditetapkan berdasarkan nash Al-Qur’an maupun wasiat Nabi, baik eksplisit maupun implisit. Mereka meyakini bahwa imamah tidak akan jatuh ke tangan orang lain selain Ali. Permasalahan imamah bukanlah merupakan masalah kemaslahatan umat yang diperoleh dengan cara pemilihan umum tetapi merupakan permasalahan pokok dalam agama Islam (rukn al-din).

Sekte-sekte Syi’ah

Golongan Syi’ah terdiri dari 22 sekte, sebagian mengkafirkan bagian lainya dan sekte yang terkenal ada 4 yakni Itsna Asy’ariyah, Sab’iyah, Zaidiyah, dan Ghulat.

Itsna Asy’ariyah (Syiah 12 atau Syi’ah Imamiyah atau Rafidhah)

Yaitu Syi’ah yang menganut 12 imam diantaraya (1) Ali bin Abi Thalib, (2) Hasan bin Ali, (3) Husen bin Ali, (4) Zainal bin Abidin, (5) Al-Baqir, (6) Abdullah Ja’far Ash-Shidiq, (7) Musa Al-Kahzim, (8) Ali Ar-Rida, (9) Muhammad Al-Jawwad, (10) Ali Al-Hadi, (11) Hasan Al-Askari, dan (12) Al Mahdi.

Ajaran-ajaran Syiah Itsna Asy’ariyah:

Tauhid. Tuhan itu Esa, keesaan Tuhan itu mutlak, dan Tuhan adalah qodim.

Keadilan. Tuhan menciptakan kebaikan di alam semesta yang merupakan keadilan. Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk mengetahui perkara yang benar atau salah melalui perasaan

Nubuwwah. Rasul merupakan petunjuk hakiki yang diutus untuk memberikan acuhan dalam membedakan yang baik dan buruk. Dalam keyakinan Syi’ah Itsna Asy’ariyah, Tuhan telah mengutus 124.000 rasul.

Al-Ma’ad. Al-Ma’ad adalah hari akhir untuk menghadap pengadilan Tuhan diakhirat.

Imamah. Imamah adalah institusi yang diimagurasikan Tuhan untuk memberikan petunjuk manusia yang dipilih dari keturunan Ibrahim dan didelegasikan kepada keturunan Muhammad sebagai rasul terakhir.

Dalam sisi yang bersifat mahdah, Syi’ah 12 berpijak pada 8 cabang agama (furu ad-din) yaitu shalat, puasa, zakat, khumus atau pajak sebesar 1/5 dari penghasilan, jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar, serta haji.

Syi’ah Sab’iyah (Syi’ah 7)

Syiah Sab’iyah hanya mengakui 7 imam, yaitu (1) Ali bin Abi Thalib, (2) Hasan, (3) Husen, (4) Zaenal Abidin, (5) Al-Baqir, (6) Ja’far Ash Shidiq, dan (7) Ismail bin Jafar. Aliran ini dipelopori oleh Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Para pengikut Syi’ah Sab’iyah percaya bahwa Islam dibangun oleh 7 pilar yaitu iman, thaharah, shalat, shaum, haji, dan jihad. Dalam pandanganya imam hanya dapat diterima sesuai dengan keyakinan mereka yakni melalui walayah atau kesetiaan kepada imam zaman.

Ada satu sekte dalam Sab’iyah yang berpendapat bahwa Tuhan mengambil tempat dalam diri imam karena itu imam harus disembah. Al-Qur’an memiliki makna batin yang diperuntukkan untuk para imam dan makna lahir yang diperuntukkan untuk orang awam yang kecerdasannya terbatas dan tidak memiliki kesempurnaan rohani. Aliran ini memiliki prinsip ta’wil dan meniadakan sifat dari zat Allah.

Syi’ah Ghulat

Syi’ah Ghulat adalah kelompok pendukung Ali yang memiliki sifat berlebihan atau ekstrim yang berkaitan dengan pendapatnya yang janggal yakni ada beberapa orang yang secara khusus dianggap Tuhan dan dianggap rasul setelah Nabi. Sekte-sekte yang terkenal antara lain: Sabahiyah, Kamali yang terbagi: Albaiyah, Mughriyah, Mansuruyah, Khattabiyah, Khaliyah, Hisamiyah, Nu’miyah. Yunusiyah, Nasisiyah wa Isafiyyah.

Syi’ah Zaidiyah

Syi’ah Zaidiyah adalah aliran yang mengikuti Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib sebagai imam kelima. Zaid memiliki pendirian bahwa:Pimpinan negara harus ditangan Fatimah. Dalam dua negara boleh terdapat 2 imam yang memiliki persyaratan dan masing-masing wajib ditaati. Boleh mengangkat imam yang baik meskipun ada yang lebih baik. Dan tidak mempercayai tahayyul yang melekat pada diri imam sehingga mendekatkan pada sifat ketuhanan.

Syi’ah Zaidiyah adalah madzhab Syi’ah yang paling moderat dan paling dekat denganmadzhab ahlussunnah. Hal ini mungkin karena Zaid pernah berguru Washil bin Atha’. Syi’ah Zaidiyah berpendapat seorang imam setidaknya harus memiliki ciri sebagai berikut, merupakan keturunan ahli ba’it melalui garis Hasan dan Husain, memiliki kemampuan mengangkat senjata, dan memiliki kelebihan intelektualisme.

Syi’ah Zaidiyah berpendapat bahwa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah syah karena tidak merampas kekuasaan dari tangan Ali. Mereka juga menolak nikah mut’ah dan doktrin taqiyah yang masih dipraktekan kaum Syi’ah lainya. Namun dalam bidang ibadah Zaidiyah tetap cenderung menunjukkan simbol dan amalan Syi’ah pada umumnya. Misalnya dalam cara adzan, takbir lima kali dalam shalat jenazah, menolak syahnya mengusap kaos kaki, menolak imam shalat yang tidak soleh, dan menolak binatang sembelihan non muslim.

Akidah dan Ajaran Syi’ah

  1. Keyakinan Syi’ah tentang Imam Mereka

Mereka sepakat bahwa para Nabi dan imam Syi’ah adalah ma’shum selain itu tawali dan tabari adalah wajib.

  1. Kitab-kitab Suci Syi’ah

Al-Jamiah yang bermula dari Rasulullah mendektikan Shahifah yang digantungnya di bahu pedang pada imam Ali, tatkala Rasulullah meninggal dunia imam Ali memeliharanya dengan baik, shahifah Rasulullah kemudian dikenal dengan nama Shuhufat Ali. Rasulullah kemudian mendektikan keterangan lain yang disalin kedalam lembaran yang lebih besar yang dikenal dengan Al-Jamiah.

Selain Al-Jamiah dan Shahifah dzuabah as-saif, kalangan Syi’ah mempercayai adanya Shahifah an-namus (berisi nama para pengikut dan musuh hingga hari kiamat), Ahahifah al-abithah (berisi 60 kabilah Arab yang halal darahnya), Al jafr al-abyadh (berisi zabur, taurat, injil, shuhuf Ibharim, halal dan haram, al-Jafr al-Ahmar), serta Mushaf Fatimah. Hal ini jelas diklaim oleh Ahlussunnah yang menjelaskannya dalam riwayat hadits Bukhari.

  1. Empat Kitab Hadits Syi’ah

Jika dalam Sunni dikenal al-Kutub al-Sittah sebagai kitab-kitab hadits induk, dan al-Bukhari sebagai kitab hadits terbaiknya, maka dalam Syi’ah terdapat al-Kutub al-Arba’ah sebagai acua utama mereka setelah Al-Qur’an, sebagai berikut:

(1). Al-Kafi, kitab ini disusun oleh al-Kulaini sebagai kitab hadits pertama Syi’ah yang ada. Kitab ini memuat tentang hadits Fikih, akidah, sejarah para ma’shumin, dan empat belas orang suci, yakni Nabi Muhammad, Sayyidah Fatimah, dan 12 imam.

(2). Man La Yahdhuruhul Faqih. Penyusun kitab ini adalah Abu Ja’far Muhammad ibnu Ali ibnu Husain dengan julukan Syaikh as-Shaduq (maha guru yang jujur). Kitab ini adalah hadits ahkam atau hadits mengenai hukum yang tertampung 5. 963 hadits, dengan 2. 050 hadits mursal, hadits yang terputus periwayatannya dan sisanya hadits musnad, bersambung periwatannya.

(3). Tahdzib al-Ahkam dan al-Istibshar. Kedua kitab ini disusun oleh Abu Ja’far Muhammad ibnu Hasan al-Thusi (385-469 H). Kitab ini memuat tentang hadits ahkam, analisis fiqhi dan visi argumentasi, serta isyarat tentang kaidah ushul fiqhdan rijal. Tahdzib al-Ahkamterdapat 13. 590 hadits, sedangkan al-Istibshar terdapat 5. 511 hadits.

Mu’tazilah

Pengertian dan Sejarah Munculnya Mu’tazilah

Secara bahasa, Mu’tazilah berasal dari kata i’tazala, yaitu memisahkan diri. Dengan demikian, Mu’tazilah adalah kelompok yang memisahkan diri (i’tazala) dari orang lain. Istilah ini diambil berdasarkan sejarah awal kemunculan kelompok ini, yakni sejak pemisahan diri tokoh Mu’tazilah bernama Washil bin Atha’, dari majelis Hasan al-Bashri. Mayoritas ulama menyatakan, pimpinan Mu’tazilah adalah Washil bin Atha’. Konon, ia banyak menghadiri forum kajian yang dipimpin oleh hasan al-Bashri. Suatu ketika, terjadi diskusi dan perdebatan mengenai status orang yang melakukan dosa besar, suatu masalah yang ramai dibicarakan kala itu. Washil bin Atha’ memiliki pendapat berbeda dengan Hasan al-Bashri. Ia mengatakan bahwa orang yang memiliki dosa besar berada di suatu kedudukan di antara dua kedudukan (manzilah baina al-manzilatain). Setelah itu Washil memisahkan diri dari majelis Hasan al-Bahsri dan membuat majelis lain di masjid.

Ahmad Amin dalam Fajr al-Islam menyebutkan bahwa ada kesamaan keyakinan antara kelompok Yahudi dengan Mu’tazilah. “Mu’tazilah Yahudi” menafsirkan Taurat berdasarkan logika filsafat, sedangkan “Mu’tazilah Islam” juga menakwili ayat Al-Qur’an berdasarkan logika filsafat. Kelompok ini biasa disebut dengan Ashab al-Adl wa al-Tauhid (penyokong keadilan dan monoteisme), sering pula dijuluki kelompok Qadariyah dan ‘Adliyyah.

Ada pula yang menyatakan bahwa Mu’tazilah muncul sejak era dinasti Umayyah yang berkembang lebih pesat pada era dinasti Abbasiyah. Sebgaian berpendapat hal itu muncul di beberapa kalangan yang awalnya berpihak pada Ali, yang memisahkan diri dari urusan politik, kemudian berubah menjadi keyakinan akidah. Hal itu terjadi saat al-Hasan putra Ali mundur dari urusan khilafah dan diserahkan sepenuhnya kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Akidah dan Ajaran Mu’tazilah

Mu’tazilah meyakini Lima Dasar Utama (al-ushul al-khamsah) sebagai prinsip ajaran mereka juga sekaligus sebagai Rukun Iman bagi mereka. Lima Dasar Utama tersebut adalah sebagai berikut:

1) Prinsip Tauhid (Keesaan Allah)

Mereka tidak mempercayai adanya sifat-sifat Allah. Sebab, dengan menetapkan sifat-sifat Allah yang juga bersifat qadim, seorang dianggap telah berbuat syirik (menyekutukan Allah). Dengan mengaggap dzat Allah memiliki sifat-sifat yang bersifat qadim, seseorang dianggap telah menyamakan antara dzat Allah dengan sifat-sifatnya, sehingga akan ada tuhan-tuhan lain selain Allah. Hal semacam ini, menurut mereka, termasuk perbuatan syirik.

2) Prinsip ‘Adl

Dalam pandangan Mu’tazilah, seperti dijelaskan al-Mas’udi, Allah tidak menyukai kerusakan, tidak menciptakan perbuatan hamba (af al al-‘ibad), namun mereka melakukan apa yang mereka perintahkan dan meninggalkan apa yang mereka larang sendiri, berdasarkan qudrah (kehendak) yang diberikan Allah pada mereka. Dalam hal ini mereka meng-counter Jabariyah yang berpendapat bahawa seorang hamba dalam perbuatannya, tidak memiliki pilihan sama sekali.

3) Prinsip al-Wa’d wa al-Wa’id (janji dan ancaman)

Mu’tazilah berkeyakinan bahwa janji dan ancaman akan datang. Janji Allah untuk memberikan pahala pasti terjadi, demikian pula sebaliknya, ancaman Allah untuk memberikan siksa juga bakal terjadi. Sebagaimana janji Allah untuk menerima taubat nashuha juga akan terjadi. Orang yang berbuat dosa besar tidak akan diampuni, kecuali dengan bertaubat, sebagaimana orang yang berbuat kebaikan bakal mendapatkan pahala.

4) Prinsip al-Manzilah baina al-Manzilatain (tempat di antara dua tempat)

Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal mengutip pendapat Washil bin Atha bahwa iman itu ibarat poin-poin kebaikan. Jika poin-poin itu terkumpul, maka seseorang dinamakan sebagai mukmin, dan itu adalah predikat terpuji. Sedangkan orang fasik tidak mengumpulkan poin-poin kebaikan, juga tidak mendapatkan predikat terpuji. Oleh karena itu, ia tidak disebut sebagai mukmin, namun juga tidak kafir karena syahadat dan kebaikan-kebaikan lain telah ia penuhi. Tapi jika ia keluar dari dunia dengan membawa dosa besar tanpa bertaubat, maka ia termasuk ahli neraka selama-lamanya. Karena di akhirat itu hanya ada dua kelompok, satu di surga, satu di neraka. Namun orang itu siksanya di neraka dikurangi. ”

Meskipun Mu’tazilah menyakini bahawa orang yang bermaksiat berada “di tempat di antara dua tempat”, namun tidak mengapa disebut sebagai muslim. Namun tersebut, menurut mereka, untuk membedakannya dengan orang-orang kafir dzimmi, bukan untuk memuji atau memuliakannya.

5) Prinsip Amar Makruf Nahi Munkar

Prinsip ini berfungsi untuk menyebarkan Islam dan memberikan pencerahan bagi orang-orang yang tersesat, juga untuk menangkal serangan orang-orang yang berusaha mencampuradukan (tablis) antara yang benar dengan yang salah.

Iman Ibnu Abil ‘Izz berkata, “Terkait amar makruf nahi munkar, mereka (kaum Mu’tazilah) berkata, “Kita wajib menyuruh orang selain kita untuk melakukan hal yang telah diperintahkan kepada kita dan mewajibkan mereka dengan apa yang wajib kita kerjakan. Di antara kandungannya adalah boleh memberontak dengan senjata melawan penguasa yang zalim.

Selain Lima Dasar Utama Mu’tazilah, adapun ajaran lain dalam akidah Mu’tazilah yang mencirikan golongan ini, yaitu mengandalkan akal secara penuh. Bagi Mu’tazilah, kedudukan akal ini di atas Al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu dalam tafsirnya, mereka mencoba mentafsirkan Al-Qur’an dengan akal dan memutar ayat suci itu sesuai dengan akalnya. Diantara contohnya, mereka menolak adanya Mi’raj, karena bagi mereka sangat bertentangan dengan akal, walaupun telah ditetapkan dalam nash. Begitu pula mereka menolak adanya adzab kubur, bangkit dari kubur. Alasannya, mustahil bagi orang yang sudah mati, terbaring dalam tanah yang sempit, dibangunkan dan disuruh duduk.

Sekte-sekte Mu’tazilah

Al-Syahrastani dalam al-Milal wan Nihal menyebutkan bahwa Mu’tazilah memiliki dua belas sekte, yaitu:

1) Al-Washiliyah

Pengikut Abu Hudzaifah Washil bin Atha’ al-Ghazzal al-Altsag (80-131 H). Empat dasar ajarannya: (1) meniadakan sifat-sifat Allah, (2) meniadakan taqdir Allah (sependapat dengan Ma’bad al-Juhaini dan Ghilan ad-Dimasyqi), (3) paham Manzilah baina Manzilatain, (4) salah satu kelompok dalam Perang Jamal dan Shiffin salah, demikian pula orang yang membunuh dan menghina Itsman bin Affan.

2) Al-Hudzailiyyah

Pengikut Abu Hudzail Hamdan bin Al Hudzail Al-‘Allaf (135-226 H) yang mengambil pemikiran Mu’tazilah dari Utsman bin Khattab bin Thawil (murid Washil). Diantara pandangannya: manusia di dunia bebas berbuat apa saja tanpa campur tangan Allah sedikitpun (Qadariyul ‘Ula), namun di akhirat, perbuatan mereka diciptakan Allah (Jabbariyul Akhirah), proses orang yang kekal di dalam neraka terputus dan tidak menerima perubahan (pendapat ini mirip dengan Jaham bin Shafwan yang menurutnya surga dan neraka akan fana’ juga).

3) An-Nazhzhmiyah

Pendirinya adalah Ibrahim bin Yasar bin Hani An-Nazhzham, seorang tokoh Mu’tazilah yang banyak mengkaji filsafat. Diantara pendapatnya: Allah tidak mampu menciptakan keburukan dan kemaksiatan, seluruh perbuatan hamba itu gerak dan diam termasuk gerak hati, ijma’, dan qiyas bukanlah hujjah, hujjah itu hanya imam yang ma’shum dan mereka cenderung kepada Rafidhah.

4) Al-Khabithiyah dan al-Haditsiyah

Pendirinya adalah Ahmad bin Khabit (w. 232 H) dan Fadhl al Haditsi (w. 257 H), keduanya murid al-Nazhzham. Diantara ajarannya: Menetapkan sifat ketuhanan al-Masih bin Maryam, manusia yang berbuat dosa nantinya akan dihidupkan kembali dalam wujud binatang atau manusia yang sesuai dengan kadar kejahatan dan kebaikannya, menakwilkan seluruh hadits shahih tentang melihat Allah dan berpegang kepada hadits palsu tentang akal; “Makhluk yang pertama kali diciptakan adalah akal.”

5) Al-Bisyariyyah

Pendirinya adalah Bisyar bin Mu’tamar. Di antara ajarannya: siapa yang bertaubat dari dosa besar kemudian mengerjakannya lagi, ia akan disiksa karena perbuatannya yang pertama, karena yang menjadi syarat taubat yang diterima adalah tidak mengulang kembali.

6) Al-Mu’ammariyah

Pendirinya adalah Mua’ammar bin ‘Ibad al-Sulaimi (220 H). Diantara ajarannya: Yang dimiliki manusia hanya keinginan saja, adapun perbuatan taklifiyah seperti makan, bergerak, ibadah dan seterusnya tak lain adalah wujud dari keinginannya. Allah mustahil mengetahui diri-Nya karena apabila hal itu terjadi berarti antara ‘alim (yang mengetahui) dengan yang ma’lum (yang diketahui) tidak satu.

7) Al-Mardariyyah

Pendirinya adalah Isa bin Shabih (226 H), dijuluki dengan Abu Musa atau Mardar dia murid Bisyr bin Mu’tamar). Dikenal dengan hidup zuhudnya sehingga digelari “Pendeta Mu’tazilah”. Diantara ajarannya: Al-Qur’an adalah makhluk, karena itu manusia bisa saja membuat buku yang semisal dengan Al-Qur’an, baik segi balaghah, fashahah, maupun nazham-nya.

8) As-Tsumamiyyah

Pendirinya adalah Tsumamah bin Asyras al-Namiri (213 H), merupakan pimpinan Mu’tazilah di zaman al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq.  Pendapatnya merupakan sinkretisme ajaran agama dan filsafat.

9) Al-Hisyamiyyah

Pendirinya adalah pengikut Hsyam bin ‘Amr al-Fuwathi (226 H). Tokoh ini pandangannya lebih ekstrim dari rekan-rekannya yang semadzhab tentang taqdir, yaitu menolak penyandaran suatu perbuatan kepada Allah dan saat ini sura belum diciptakan karena tidak ada gunanya. Dalam ranah politik, ia menolah imamah yang diangkat pada masa fitnah.

10) Al-Jahizhiyyah

Pendirinya adalah ‘Amr bin Bahr Abi Utsman al-Jajizh, hidup pada masa peerintahan al-Mu’tashim dan al-Mutawakkil. Sala satu ajarannya: diantara penduduk neraka ada yang tidak kekal, namun sifatnya berubah menjadi sifat api dan Al-Qur’an mempunyai jasad, suatu saat bisa berwujud laki-laki dan suatu saat bisa berwujud binatang.

11) Al-Khayyathiyyah dan al-Ka’ biyyah

Pendirinya adalah Abu Husain bin Abi ‘Amr al-Khayyath (300 H), guru Abu Qasim bin Muhammad al-Ka’bi. Diantara ajarannya: kehendak Allah (iradah) bukanlah sifat yang terdapat pada dzat Allah, iradah bukan sifat dzat-Nya. Yang dimaksud Allah maha berkehendak adalah Allah maha mengetahui, maha kuasa atas perbuatan-Nya dan tidak ada yang mempengaruhi-Nya. Maka apabila dikatakan bahwa Allah maha berkehendak dalam perbuatan-Nya itu berarti Allah menciptakan sesuatu sesuai dengan ilmu-Nya, apabila dikatakan bahwa Allah menghendaki atas perbuatan makhluk-Nya, itu berarti Allah yang memerintahkan dan Allah senang terhadap perbuatan manusia.

12) Al-Jubaiyyah dan al-Bahsyaniyah

Pendirinya adalah Abu Muhammad bin Abdul Wahab al-Jubbai (w. 295 H), dan Abu hasyim Abdus Salam (w. 321 H). Keduanya mengakui Allah maha berkata-kata dan kalam Allah adalah ciptaan-Nya yang ditempatkan pada suara dan huruf. Karena itu hakikat kalam menurut mereka berdua terdiri dari suara yang terputus-putus dan terdiri dari huruf. Pendapat lainnya mereka sepakat dengan Ahlussunnah bahwa imam itu dipilih, urutan Khulafaur Rasyidin menunjukkan keutamaan mereka. Mereka pun ekstrim dalam ke-ma’shum-an Nabi, baik dari dosa kecil maupun besar sampai niat berbuat dosa sekalipun. Di samping itu mereka pun mengingkari karamah para wali (bai di masa sahabat ataupun sesudahnya).

Khawarij

Pengertian Khawarij dan Sejarah Kemunculan Khawarij

Secara bahasa, Khawarij adalah bentuk plural dari kata kharijah, artinya kelompok yang menyempal. Mereka adalah kaum pembuat bid’ah. Disebut demikian karena mereka keluar dari agama, dan keluar dari barisan kaum muslimin, khususnya dari kepatuhan Ali r. a. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud dengan kelompok Khawarij dalam sejarah Islam adalah orang-orang yang menyatakan keluar dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib setelah terjadinya peristiwa tahkim.

Kelompok Khawarij juga disebut dengan kelompok Haruriyah, Nawashib, dan Syurrah. Nama Haruriyah dinisbahkan kepada desa Harura, Kufah, Irak, yang menjadi tampat menetapnya kelompok Khawarij ketika keluar dari barisan Ali. Sedangkan Nawshib adalah bentuk jamak dari kata nashibi yang berarti orang yang berlebih-lebihan dalam membenci Ali. Kata Syurrah adalah bentuk jama dari kata syaarr yang berarti orang yang menjual.

Setelah Rasulullah wafat, kaum muslimin merasa perlu untuk memikirkan penggantinya. Dalam pertemuan di majelis Bani Saidah, segolongan kaum muslimin menyatakan bahwa khalifah itu harus dari golongan Anshor, sedangkan golongan lain berpendapat khalifah harus berasal dari Muhajirin. Ali bin Abi Thalib tidak hadir dalam pertemuan itu, sebab beliau beserta keluarganya tengah sibuk mempersiapkan pemakaman Rasululah SAW. Oleh karena itu Abu Bakar dilantik ada beberapa sahabat yang kurang setuju, sehingga muncul pendapat yang ketiga, yaitu khalifah harus dari keluarga Nabi. Keluarga Nabi yang pantas adalah Ali bin Abi Thalib. Sebab dialah yang pertama masuk Islam dan istri dari Fatimah Azahra.

Pada akhir masa pemerintahan Utsman muncul golongan yang bergerak di bawah tanah yang menuntut agar Utsman turun dari khalifah dan diserahkan kepada yang lain. Dalam gerakan ini terdapat pendukung Ali ra. Ketika Utsman terbunuh maka mayoritas umat Islam melantik Ali, akan tetatpi pengangkatan Ali mendapat perlawanan dari sahabat Thalhah, Zubair dan Muawiyyah. Mereka menuduh Ali terlibat dalam pembunuhan Utsman.

Dalam situasi gawat ini, ada sebagian sahabat yang tidak mau membai’at, Thalhah dan Zubair terbunuh dalam perang jamal, sedangkan Muawiyyah sulit dipatahkan karena memiliki tentara yang kuat. Antara Ali dan Muawiyyah pernah terjadi perang Shiiffin. Ketika Muawiyyah merasa bahwa kekalahan akan menimpa dirinya, maka ia memerintahkan tentaranya untuk mengangkat Al-Qur’an dengan tombak sebagai tanda minta damai dan Al-Qur’an sebagai pedomannya. Dan sebagian besar pasukan Ali, khususnya para qurra’ meninggalkan peperangan tersebut. Mereka berargumentasi dengan firman Allah,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَىٰ كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). (Surat Ali ‘Imran Ayat 23)

Akidah dan Ajaran Khawarij

Doktrin Politik, a) Khalufah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. b) Khalifah tidak harus dari keturunan Arab. c) Khalifah dipilih secara permanen selama bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat Islam. d) Khalifah sebelum Ali adalah sah, akan tetapi setelah tahun ke-7 dari kekhalifahanya, Utsman telah dianggap menyeleweng. e) Khalifah Ali adalah sah, akan tetapi setelah terjadi arbritase(tahkim), ia dianggap telah menyeleweng. f) Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa al Asy’ari juga dianggap menyeleweng dan juga telah menjadi kafir. g) Pasukan perang jamal yang menyerang Ali juga kafir

Doktrin Teologi, a) Seseorang yang berdosa besar tidak lagi diaggap muslim sehingga harus dibunuh. b) Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. c) Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng. d) Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga dan orang yang jahat harus masuk neraka). e) Menerima Al-Qur’an sebagai salah satu sumber diantara sumber hukum Islam yang lain.

Doktrin Sosial, a) Amar ma’ruf nahi munkar. b) Memalingkan ayat Al-Qur’an yang tampak mutasabihah. c) Al-Qur’an adalah mahluk. d) Manusia bebas memutuskan perbuatanya bukan dari Tuhan

Keistimewaan aliran ini diantaranya adalah tekun dan taat beribadah serta ikhlas berperang untuk membela akidahnya.

Gambaran Khawarij dalam riwayat Hadits

Pemahaman agamanya sebatas tenggorokan

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي ذَرٍّ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ فِي غَيْرِ هَذَا الْحَدِيثِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ وَصَفَ هَؤُلَاءِ الْقَوْمَ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ إِنَّمَا هُمْ الْخَوَارِجُ الْحَرُورِيَّةُ وَغَيْرُهُمْ مِنْ الْخَوَارِجِ

“Di akhir zaman akan muncul kaum berusia muda, lemah akal, mereka membaca Al-Qur`an tidak mencapai kerongkongan (sebatas di mulut tak sampai hati), mereka mengatakan dari perkataan orang terbaik, mereka meninggalkan agama dengan cepatnya seperti terlepasnya anak panah dari panah.” Berkata Abu Isa: dalam hal ini ada hadits serupa dari ‘Ali, Abu Sa’id dan Abu Dzarr, hadits ini hasan shahih. diriwayatkan dalam selain hadits ini dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang menyebutkan ciri-ciri kaum itu, mereka membaca Al-Qur`an dan tidak mencapai kerongkongan, mereka meninggalkan agama dengan cepatnya seperti terlepasnya anak panah dari panah itu tidak lain adalah kaum Khawarij Al Haruriyah dan kalangan Khawarij lain. (Hadits Tirmidzi Nomor 2114)

Pemicu permusuhan sesama muslim

عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ اتَّهِمُوا رَأْيَكُمْ فَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَوْمَ أَبِي جَنْدَلٍ وَلَوْ نَسْتَطِيعُ أَنْ نَرُدَّ أَمْرَهُ لَرَدَدْنَاهُ وَاللَّهِ مَا وَضَعْنَا سُيُوفَنَا عَنْ عَوَاتِقِنَا مُنْذُ أَسْلَمْنَا لِأَمْرٍ يُفْظِعُنَا إِلَّا أَسْهَلَ بِنَا إِلَى أَمْرٍ نَعْرِفُهُ إِلَّا هَذَا الْأَمْرَ مَا سَدَدْنَا خَصْمًا إِلَّا انْفَتَحَ لَنَا خَصْمٌ آخَرُ

“dari [Abu Wa’il] berkata; [Sahal bin Hunaif] berkata; perhitungkanlah pendapat kalian, kami mengalami hari-hari siksaan Abu Jandal, sekiranya kami dapat mengembalikan urusannya niscaya kami akan mengembalikannya. Demi Allah, tidaklah kami meletakkan pedang dari pundak kami sejak kami masuk Islam karena suatu urusan yang sangat mengerikan, kecuali memudahkan kami kepada urusan yang kami ketahui, kecuali urusan ini (maksudnya saat-saat tumbuhnya sekte Khawarij). Kami tidak menutup permusuhan kecuali terbuka lagi bagi kami permusuhan yang lain. (Hadits Ahmad Nomor 15407)

Penampilan khawarij terlihat berlebihan hingga menganggap wajib jenggot, jidat hitam, celana cingkrang, dll.

عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا وَائِلٍ فِي مَسْجِدِ أَهْلِهِ أَسْأَلُهُ عَنْ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِينَ قَتَلَهُمْ عَلِيٌّ بِالنَّهْرَوَانِ فَفِيمَا اسْتَجَابُوا لَهُ وَفِيمَا فَارَقُوهُ وَفِيمَا اسْتَحَلَّ قِتَالَهُمْ قَالَ كُنَّا بِصِفِّينَ فَلَمَّا اسْتَحَرَّ الْقَتْلُ بِأَهْلِ الشَّامِ اعْتَصَمُوا بِتَلٍّ فَقَالَ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ لِمُعَاوِيَةَ أَرْسِلْ إِلَى عَلِيٍّ بِمُصْحَفٍ وَادْعُهُ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ فَإِنَّهُ لَنْ يَأْبَى عَلَيْكَ فَجَاءَ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ { أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنْ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ } فَقَالَ عَلِيٌّ نَعَمْ أَنَا أَوْلَى بِذَلِكَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ كِتَابُ اللَّهِ قَالَ فَجَاءَتْهُ الْخَوَارِجُ وَنَحْنُ نَدْعُوهُمْ يَوْمَئِذٍ الْقُرَّاءَ وَسُيُوفُهُمْ عَلَى عَوَاتِقِهِمْ فَقَالُوا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا نَنْتَظِرُ بِهَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِينَ عَلَى التَّلِّ أَلَا نَمْشِي إِلَيْهِمْ بِسُيُوفِنَا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَتَكَلَّمَ سَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ فَلَقَدْ رَأَيْتُنَا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ يَعْنِي الصُّلْحَ الَّذِي كَانَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ وَلَوْ نَرَى قِتَالًا لَقَاتَلْنَا فَجَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ قَالَ بَلَى قَالَ فَفِيمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَلَنْ يُضَيِّعَنِي أَبَدًا قَالَ فَرَجَعَ وَهُوَ مُتَغَيِّظٌ فَلَمْ يَصْبِرْ حَتَّى أَتَى أَبَا بَكْرٍ فَقَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَلَسْنَا عَلَى حَقٍّ وَهُمْ عَلَى بَاطِلٍ أَلَيْسَ قَتْلَانَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلَاهُمْ فِي النَّارِ قَالَ بَلَى قَالَ فَفِيمَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا وَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ فَقَالَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا قَالَ فَنَزَلَتْ سُورَةُ الْفَتْحِ قَالَ فَأَرْسَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عُمَرَ فَأَقْرَأَهَا إِيَّاهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَفَتْحٌ هُوَ قَالَ نَعَمْ

“dari [Habib bin Abu Tsabit] berkata; saya mendatangi [Abu Wa’il] di masjid keluarganya, saya bertanya kepadanya tentang kaum yang diperangi ‘Ali di Nahrawan, hal-hal apa saja yang mereka terima, hal-hal apa saja yang mereka tak cocok, dan hal-hal apa saja sehingga ‘Ali menganggap halal mereka diperangi. (Abu Wa’il radliyallahu’anhu) berkata; kami saat itu sedang di Shiffin, tatkala berkecamuk perang dengan penduduk Syam, mereka berpegang teguh untuk tetap di tempat yang tinggi. Lalu ‘Amr bin Al ‘Ash berkata kepada Mu’awiyah ‘Utuslah seseorang kepada ‘Ali dengan mushaf dan ajaklah dia kepada kitab Allah, dia tidak bakalan menolaknya.’ Sang utusan pun datang menemui ‘Ali dan berujar ‘Antara kita dan kalian ada kitab Allah, ‘Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; Kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran) ‘ ‘Ali berkata; ya saya lebih layak untuk melakukan hal itu, antara kami dan kalian ada kitab Allah. Lalu datanglah Al Khawarij, pada saat itu kami memanggil mereka dengan istilah Al Qurra’, pedang mereka diletakkan pada pundak-pundak mereka. Mereka berkata; Wahai Amirul Mukminin, kenapa kita menunggu mereka, kaum yang berada di atas dataran tinggi itu, tidak sebaiknyakah kita berjalan kepada mereka dengan membawa pedang kita, sampai Allah memutuskan antara kita dengan mereka?. Lalu [Sahl bin Hunaif] berkata; Wahai manusia, koreksilah diri kalian sendiri, kami telah mengadakan perdamaian pada saat Hudaibiyah antara Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan kaum musrikin. Jika kami hendak berperang niscaya itu akan terjadi. Lalu datanglah ‘Umar kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, berkata; “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kebatilan, bukankah jika ada yang terbunuh diantara kita berada di surga dan jika ada yang terbunuh dari mereka akan berada di neraka?.” Beliau menjawab, ya. (‘Umar radliyallahu’anhu) berkata; kenapa kita memberi kehinaan kepada agama kita ini dan kita kembali, bukankah Allah telah memutuskan antara kita dan mereka?. beliau bersabda: “Wahai Ibnu Khattab, saya adalah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan (Allah Azzawajalla) tidak akan menelantarkanku selamanya.” (Abu Wa’il radliyallahu’anhu) berkata; lalu Umar pulang dalam keadaan marah dan tidak sabar sehingga mendatangi Abu Bakar, seraya bertanya-tanya, Wahai Abu Bakar, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan, bukankah korban dari kita berada di syurga dan korban dari mereka di neraka?.” (Abu Bakar) menjawab, ya. (‘Umar radliyallahu’anhu) berkata; kenapa kita memberi kekurangan pada agama kita ini dan kita kembali, bukankah Allah telah memutuskan antara kita dan mereka?. Abu Bakar terus mengatakan, “Wahai Ibnu Al Khattab, dia adalah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan Allah Azzawajalla tidak bakalan menelantarkannya selama-lamanya.” (Abu Wa’il radliyallahu’anhu) berkata; lalu turunlah Surat Al Fath. Lantas Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengutusku kepada ‘Umar, dan saya membacakan kepadanya. Dia berkata; Wahai Rasulullah, apakah itu berarti kemenangan?. Beliau menjawab, Ya. (Hadits Ahmad Nomor 15408)

Mudah memotong-motong ayat

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ يَخْتَصِمُونَ فِي الْقَدَرِ فَكَأَنَّمَا يُفْقَأُ فِي وَجْهِهِ حَبُّ الرُّمَّانِ مِنْ الْغَضَبِ فَقَالَ بِهَذَا أُمِرْتُمْ أَوْ لِهَذَا خُلِقْتُمْ تَضْرِبُونَ الْقُرْآنَ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ بِهَذَا هَلَكَتْ الْأُمَمُ قَبْلَكُمْ قَالَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو مَا غَبَطْتُ نَفْسِي بِمَجْلِسٍ تَخَلَّفْتُ فِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غَبَطْتُ نَفْسِي بِذَلِكَ الْمَجْلِسِ وَتَخَلُّفِي عَنْهُ

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menjumpai para sahabatnya yang sedang berdebat tentang takdir. Maka seakan-akan wajah beliau seperti buah delima karena marah. Beliau lalu bersabda: ” Apakah untuk ini kalian diperintahkan, atau beliau mengatakan, “untuk inikah kalian diciptakan! Kalian benturkan sebagian Al Qur’an dengan sebagian yang lain. Karena hal inilah kaum sebelum kalian binasa.” Ia (perawi) berkata; “Abdullah bin ‘Amru lalu berkata: “Alangkah marahnya diriku pada jiwaku jika tidak menghadiri majlis yang dihadiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan alangkah marahnya diriku pada jiwaku karena ketidak hadiranku di majlis tersebut.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 82)

Khawarij berani memprotes kebijakan Nabi dianggap tidak adil

عَنْ شَرِيكِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ كُنْتُ أَتَمَنَّى أَنْ أَلْقَى رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهُ عَنْ الْخَوَارِجِ فَلَقِيتُ أَبَا بَرْزَةَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقُلْتُ لَهُ هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ فَقَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُذُنِي وَرَأَيْتُهُ بِعَيْنِي أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَالٍ فَقَسَمَهُ فَأَعْطَى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَمَنْ عَنْ شِمَالِهِ وَلَمْ يُعْطِ مَنْ وَرَاءَهُ شَيْئًا فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ وَرَائِهِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مَا عَدَلْتَ فِي الْقِسْمَةِ رَجُلٌ أَسْوَدُ مَطْمُومُ الشَّعْرِ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَبْيَضَانِ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضَبًا شَدِيدًا وَقَالَ وَاللَّهِ لَا تَجِدُونَ بَعْدِي رَجُلًا هُوَ أَعْدَلُ مِنِّي ثُمَّ قَالَ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ كَأَنَّ هَذَا مِنْهُمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ لَا يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ حَتَّى يَخْرُجَ آخِرُهُمْ مَعَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ رَحِمَهُ اللَّهُ شَرِيكُ بْنُ شِهَابٍ لَيْسَ بِذَلِكَ الْمَشْهُورِ

“dari [Syarik bin Syihab] ia berkata; dahulu saya berharap untuk bertemu dengan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya kepadanya mengenai Khawarij, lalu aku bertemu dengan [Abu Barzah] pada hari ‘Id diantara beberapa orang dari sahabatnya, saya katakan kepadanya; apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan mengenai khowarij? Ia menjawab; ya. Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan dua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam suatu harta lalu beliau mulai membagi untuk orang yang berada disebelah kanan dan kiri beliau, dan beliau tidak memberi yang berada dibelakannya sedikitpun, lalu seseorang yang berada dibelakang beliau berdiri dan berkata; wahai Muhammad, engkau tidak adil dalam membagi, ia adalah orang yang hitam, rambutnya dicukur, ia mengenakan dua kain putih, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah dan bersabda: “Demi Allah kalian tidak akan mendapati seorangpun yang lebih adil setelahku, ” lalu beliau bersabda: ” akan keluar pada akhir zaman, suatu kaum seakan-akan orang ini termasuk darinya, yang mereka membaca quran tidak melebihi kerongkongan mereka, mereka melesat dari Islam seperti melesatnya anak panah dari busurnya, ciri-ciri mereka adalah bercukur, mereka senantiasa keluar hingga keluar akhir dari mereka bersama Al Masih Ad Dajjal, jika kalian bertemu dengan mereka maka bunuhlah mereka, mereka adalah seburuk-buruk makhluk dan ciptaan, ” Abu Abdurrahman rahimahullah berkata Syarik bin Syihab bukanlah Syarik yang terkenal itu. (Hadits Nasai Nomor 4034)

Itula sedikit gambaran golongan Khawarij yang tertera dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Wahabi

Semua ciri-ciri yang dimiliki golongan Khawarij juga dimiliki oleh golongan Salafy, yakni; Ektrim dalam menjalankan ajaran agamanya, mudah menjatuhkan predikat kafir (thagut) terhadap golongan lain yang tidak sama dalam pemikirannya, mudah menyesatkan golongan Islam lain yang tidak sepaham dengan aqidah, ibadah, dan amaliayhnya. Mudah menuduh bid’ah pada golongan lain yang menjalankan amalan-amalan shalih yang bersifat umum yang mana memang amalan umum tersebut sebetulnya telah dibenarkan oleh Nabi. Berikut penjelasannya,

Pengertian dan Sejarah Kemunculan Wahabi

Golongan Wahabi adalah pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah barat laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang. Bila dari Makkah kota Uyainah (Najd) berada pada arah timur kota Mekkah.

sebuah gerakan separatis yang muncul pada masa pemerintahan Sultan Salim III (1204-1222 H). Gerakan ini berkedok memurnikan tauhid dan menjauhkan umat manusia dari kemusyrikan. Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya menganggap bahwa selama 600 tahun umat manusia dalam kemusyrikan dan dia datang sebagai mujaddid yang memperbarui agama mereka. Gerakan Wahabi muncul melawan kemampuan umat Islam dalam masalah akidah dan syariah, karenanya gerakan ini tersebar dengan, fitnah, peperangan dan pertumpahan darah. Terkati dengan kemunculan gerakan Wahabi yang dikomandani oleh Muhammad bin Abdul Wahhab jauh-jauh hari sudah diingatkan oleh Nabi dalam banyak sabdanya. Di antaranya,

قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Beliau berdoa: “Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami.” Ibnu ‘Umar berkata, “Para sahabat berkata, “Juga untuk negeri Najed (Uyainah) kami.” Beliau kembali berdoa: “Ya Allah, berkatilah kami pada negeri Syam kami dan negeri Yaman kami.” Para sahabat berkata lagi, “Juga untuk negeri Najed (Uyainah) kami.” Ibnu ‘Umar berkata, “Beliau lalu berdoa: “Disanalah akan terjadi bencana dan fitnah, dan di sana akan muncul tanduk setan.” (Hadits Bukhari Nomor 979)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ مُسْتَقْبِلُ الْمَشْرِقِ هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا هَا إِنَّ الْفِتْنَةَ هَاهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda dan beliau menghadap ke timur (Najed-Uyainah): “Ingat, sesungguhnya fitnah itu disini, Ingat, sesungguhnya fitnah itu disini, Ingat, sesungguhnya fitnah itu disini, dari arah terbitnya tanduk setan.” (Hadits Muslim Nomor 5169)

Sebagian kalangan tidak menyukai istilah “Wahabi”, dan lebih menyukai istilah “Salafi” salah satu alasannya, penamaan dakwah yang di emban oleh Muhammad dengan nama Wahhabiyah yang dinisbatkan kepadanya adalah penisbatan yang keliru dari sisi bahasa, karena ayahnya tidak menyebarkan dakwah ini.

Mengklaim terhadap sebuah mazhab yang baru dengan nama Salafiyah atau Salafi, merupakan bentuk fanatisme (ta’ashshub), serta tidak masuk dalam kategori ittiba’ (mengikuti) seperti yang di harapkan. Dengan ujaran lain, ittiba’ salaf merupakan inti dari agama, dan dasar-dasar yang telah di tetapkan oleh sunnah Rasulullah. Sedangkan pengklaiman terhadap mazhab salafi merupakan bentuk bid’ah yang tidak diridhai oleh Allah, juga bentuk pengkhayalan (penyelewengan) terhadap sesuatu yang tidak ada dasarnya dalam sejarah (tarikh). Dari kurun waktu pertama yang di berkahi dalam agama Islam, tidak ada mazhab dalam klompok umat Islam yang di beri nama dengan “ mazhab salafi” atau “mazhab salaf”.

Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid at Tamimi pertama kali menyebar ajarannya di daerah Huraimalan. Banyak yang menentang ajarannya termasuk ayah dan gurunya sehingga berdakwah dengan sembunyi. Namun setelah ayahnya meninggal dia berani lantang menyebarkan ajarannya. Ia mengkafirkan umat Islam ziarah kubur, mereka hanya bertawasul, dan membalikkan ayat yangsebetulnya turun sebagai peringatan untuk kaum kafir ia menggunakan ayat ini untuk mengkafirkan umat Islam.

Aliran Wahabi dan Penyimpangannya

Pengikut Wahabi sering menyebut diri mereka dengan nama al-Muwahhidin (kaum yang tauhidnya bersih). Selain itu, kelompok Wahabi pada era belakang sering menyebut diri sebagai Salafi. Wahhab adalah orang biasa yang tidak menonjol dan tidak diakui ketokohan serta keulamaannya oleh para ulama yang sezaman dengannya. Oleh karena piranti keilmuan yang dimilikinnya tidak memadai, maka hasil ijtihadnya, baik dalam bidang fiqih, maupun dalam bidang akidah, banyak yang menyimpang dari Al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ kaum muslimin. Akibatnya, ia seringkali melakukan protes terhadap umat Islam sekitarnya, yang jelas berbeda dengan dirinya.

Selanjutnya, untuk menarik simpati umat Islam, Wahabi berupaya mengusung platform dakwah yang sangat terpuji yang mengklaim mengikuti Al-Qur’an dan al-Sunnah, berijtihad sendiri, memerangi syirik, penyembahan berhala, membersihkan Islam dari bid’ah dan khurafat. Namun mereka salah kaprah dalam penerapannya, bahkan dapat dibilang, dalam banyak hal mereka telah keluar dari Islam itu sendiri.

Kemudian, karena keyakinannya yang menyimpang itu, kakaknya sendiri yang bernama sulaiman bin abdul Wahhab juga mengkritik dengan pedas melalui kedua bukunya, yaitu 1. Al-sawa’iq al-ilahiyyah fi al-radd’ala al-wahhabiyah, dan 2. Fasl al-khithab fi al-radd’ala Muhammad bin abdil wahhab. Kedua bukunya itu dirasa penting ditulis, melihat adiknya yang sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam dan akidah umat secara umum, terutama madzhab Ahmad bin Hanbal, sebagai madzhab ahlussunnah wal-jamaah yang banyak diikuti oleh penduduk Najed, Saudi Arabia.

Banyak kitab yang ditulis oleh para ulama ternama ahlussunnah wal-jamaah yang menjelaskan kesesatan ajaran kelompok ini, seperti syaikh Ahmad bin Zaini dahlan, al-Habib ‘Alawi bin Ahmad bin Hasan al-Haddad dan lain-lain.

Ajaran Wahabi masuk ke Indonesia melalui kaum paderi di minangkabau, kemudian di kembangkan oleh 3 orang tokohnya, yaitu H Sumanik dari Luhak tanah datar, H Piabong dari Luhak 50 kota, H Miskin dari Luhak Agam.

Muhammad bin Abdul Wahhab telah membuat ajaran baru yang diajarkan kepada pengikutnya. Dasar ajarannya ini adalah menyerupakan Allah dengan makhluk –Nya, karena duduk adalah salah satu sifat manusia. Dengan ajarannya ini, Muhammad bin Abdul Wahhab telah menyalahi firman Allah:

“Dia (Allah) tidak menyerupai segala sesuatu dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q. S. asy-Syura: 11)

Para ulama Salaf bersepakat bahwa barang siapa yang menyifati Allah dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir. Sebagaimana hal ini di tulis oleh Imam al-Muhaddits as-Salafi ath-Thahawi (227-321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal dengan nama (Akidah Thahawiyah), teks pernyataan adalah:

“Barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.

Di antara keyakinan golongan Wahabiyah ini adalah mengkafirkan orang yang berkata: “Yaa Muhammad…”, mengkafirkan orang yang berziarah ke makam para Nabi dan para wali untuk bertabarruk (mencari barakah ), mengkafirkan orang yang yang mengusap makam para Nabi untuk bertabarruk, dan mengkafirkan orang yang mengalungkan hirz (tulisan ayat-ayat Al-Qur’an atau lafazh-lafazh dzikir yang dibungkus dengan rapat lalu dikalungkan di leher) yang di dalamnya hanya tertulis Al-Qur’an dan semacamnya dan tidak ada sama sekali lafazh yang tidak jelas yang diharamkan.

Wahabisasi dan Kelompok-kelompok di Indonesia

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, Wahabi juga dikenal dengan istilah Salafi, sebab pengakuan mereka yang berdakwah di atas manhaj Salaf Shalih. Madrasah Salafiyah sendiri terdapat di berbagai Negara muslim, di antara lain di Arab Saudi, Yaman, Yordania, Syria, Negara-negara Jazirah Arab, Mesir, Pakistan, India, asia tengah dan lainnya. Tiga madrasah yang sangat dominan saat ini ialah Salafiyah di Arab Saudi, Salafiyah di Yaman, dan Salafiyah di Yordania-Syria (Syam).

Paham Salafiyah yang masuk ke Indonesia bermacam-macam warna. Warna yang paling asli adalah dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab yang dibawa oleh ulama-ulama di Sumatera Barat pada awal abad ke 19. inilah salafiyah pertama di Indonesia, di kenal sebagai kaum Padri, di zaman klonial berperang melawan kaum adat dan belanda.

Di era modern, Salafiyah masuk ke Indonesia melalui beberapa jalur, antara lain malalui buku-buku, media, proses pendidikan, kerjasama kelembagaan, dan jalur gerakan dakwah Salafiyah.

Di Indonesia, dakwah Salafiyah tidak hanya satu ragam, namun amat berbagai-bagai. Secara garis besar setidaknya ada dua gerakan, yakni Salafi Yamani dan Salafi Haraki. istilah Salafi Yamani di tujukan untuk menyebut para dai salafi alumni madrasah Salafiyah Muqbil bin Hadi al-Wad’i (meninggal 2002), yang terletak di kota Sa’dah, desa Dammaz, Yaman, beserta pihak-pihak lain dari kalangan dai atau penuntut ilmu, yang sepakat dengan metode dakwah Muqbil bin Hadi.

Salafi Yamani sangat menolak metode pergerakan, sebab hal itu di anggap sebagai bid’ah dan merupakan praktik fanatisme (hizbiyyah). namun rupannya mereka tidak konsisten terhadap prinsipnya. Buktinya adalah keberadaan forum komunikasi ahlussunnah wal-jamaah (FKAWJ), kemudian melahirkan laskar jihad, yang didirikan oleh tokoh Salafi Yamani, Ja’far Umar Thalib, forum ini tidak jauh berbeda dengan kelompok hizbiyyah yang semula sangat mereka musuhi.

Selain istilah salafi yamani dan haraki, ada istilah-istilah lain seperti salafi sururi, salafi jihadi, salafi wahdah Islamiyah, salafi turatsi, salafi ghuraba, salafi ikhwani, salafi hadadi, salafi turaby, dan sebagainya. Ternyata nama-nama tersebut tidak hanya sekedar istilah, namun saling mengklaim kebenaran dan mengkampayekan permusuhan.

Muhammad Umar as Seweed ( menjadi pemimpin Salafi Yamani pasca Ja’far Umar ) mengatakan bahwa Ja’far Umar Thalib itu ahli bid’ah dan khawarij. Bahkan kelompok as-seweed menyusun buku dengan judul “pedang tertuju di leher Ja’far Umar Thalib”, yang artinya Ja’far Umar Thalib halal di bunuh.

Penutup

Dari masing-masing aliran kalam memiliki pemahaman yang berbeda tentang berbagai masalah ketuhanan dan lainnya, yang kemudian menimbulkan argumentasi yang diperdebatkan untuk membela masing-masing golongan. Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sebagai pemimpin Islam setelah Nabi wafat. Khawarij berarti orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib. Golongan ini menganggap dirinya sebagai orang yang keluar dari rumah dan semata-mata untuk berjuang dijalan Allah. Meskiun pada awalnya Khawarij muncul karena penolakan politik, tetapi dalam perkembangannya golongan ini banyak berbicara masalah teologis.

Sedangkan aliran Mu’tazilah merupakan salah satu aliran teologi dalam Islam yang dapat dikelompokkan sebagai kaum rasionalis Islam. Aliran ini muncul sekitar abad pertama hijriyah, di kota Basrah, yang ketika itu menjadi kota sentra ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Golongan Wahabi adalah pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, sebuah gerakan separatis yang muncul pada masa pemerintahan Sultan Salim III (1204-1222 H). Gerakan ini berkedok memurnikan tauhid dan menjauhkan umat manusia dari kemusyrikan. Gerakan Wahabi muncul melawan kemampuan umat Islam dalam masalah akidah dan syariah, karenanya gerakan ini tersebar dengan peperangan dan pertumpahan darah.

Sunni atau Ahlussunnah wa al-Jama’ah adalah orang-orang yang selalu berpedoman pada sunnah Nabi dan jalan para sahabat dalam masalah akidah keagamaan, amal-amal lahiriyah serta akhlak hati. Ciri khas akidah Sunni meyakini bahwa Allah itu tanpa arah dan tanpa tempat. Sunni merupakan aliran yang memiliki dasar akidah berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Nabi. Dalam masalah imamah, Sunni mengakui keempat Khulafa Roshidi, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Oleh: Ahmad Sobri, Ali Zakaria, dan Dewi Nur Maulidiyah, Jepara

Bagikan Artikel Ini Ke