Penyelewengan Makna Hadits dari “Sudah Mati” Menjadi “Akan Mati”

Pendahuluan

Untuk membenarkan manhajnya (pola pikirnya), golongan Salafi tidak segan-segan menyelewengkan makna-makna dari Hadits yang tidak sesuai dengan keinginannya. Bukan hanya usaha menyelewengkan maknanya, bahkan mereka berani memalsukan (menganggap palsu hadits yang sebetulnya tidak palsu), dan berani mensahihkan hadits-hadits yang sebetulnya kedudukannya lemah, sebagaimana yang dikomandani oleh Syekh Albani ulama hadits utama mereka.

Apa yang mereka lakukan sebagai upaya memaksa makna Hadits selaras dengan apa yang mereka kehendaki. Bukannya mereka berupaya menyelaraskan pemahamannya dengan makna yang dikehendaki Hadits.

Hal itu sangat terlihat dari amalan-amalan dan pemahaman-pemahaman mereka terkait dengan kematian. Walau usaha mereka untuk menghindari kesyirikan, namun mereka malah terjebak pada kemungkaran agama. Disebut mereka bertindak mungkar, sebab apa yang mereka lakukan berdampak pada sikap mengharamkan apa yang sebetulnya tidak diharamkan, dan menghalalkan apa yang sebetulnya tidak dihalalkan oleh Allah dan Rasul. Padahal sikap ini sangat dilaknat oleh Allah,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

Dalam kasus ini, coba perhatikan usaha mereka untuk menyelewengkan makna Hadits dari “Sudah Mati” menjadi “Akan Mati”. Dampak dari penyelewengan ini tentunya sangat fatal sebab membuat hadits satu dengan hadits lainnya menjadi kontradiktif. Di mana amalan-amalan yang asalnya boleh menjadi diharamkan. Hal ini nampak dari penyelewengan makna hadits-hadits berikut,

Hadits pertama,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Makna di atas diselewengkan menjadi,

“Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang menjelang mati di antara kalian”

Hadits kedua,

هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا

“mereka [beberapa orang syaikh]menghadiri Ghudlaif Al Harits Ats-Tsumali tatkala kekuatan fisiknya telah melemah, lalu berkata; “Maukah salah seorang di antara kalian membacakan surat YASIN?” “Lalu Shalih bin Syuraih As-Sakuni membacanya, tatkala sampai pada ayat yang ke empat puluh, Ghudlaif Alharits Ats-Tsumali wafat.” (Shahwan radliyallahu’anhu) berkata; “Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi mayit, maka akan diringankannya.” (Hadits Ahmad Nomor 16355)

Makna di atas diselewengkan menjadi,

“Beberapa syaikh tadi berkata; ‘Jika hal itu dibacakan di sisi orang yang akan mati, maka akan diringankannya”

Hadits ketiga,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Makna di atas diselewengkan menjadi,

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang akan mati diantara kalian”

Hadits keempat,

اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهَذَا لَفْظُ ابْنِ الْعَلَاءِ

“Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang sudah mati diantara kalian.” Dan ini adalah lafazh Ibnu Al ‘Ala`. (Hadits Abu Daud Nomor 2714 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1438)

Makna di atas diselewengkan menjadi,

Bacakanlah Surat Yaasiin kepada orang yang akan mati diantara kalian

Sanggahan,

Mereka berusaha makna-makna dari hadits tersebut sesuai dengan pemahaman dan keinginan kelompoknya sendiri dengan cara menyelewengkan maknanya. Menurut mereka kalimat;

kepada orang yang sudah mati diantara kalian” (عَلَى مَوْتَاكُمْ) mereka menyelewengkan dengan makna “untuk orang yang akan mati di antara kalian

di sisi mayit” (عِنْدَ الْمَيِّتِ) mereka menyelewengkan dengan makna “di sisi orang yang menjelang/hendak mati”

Penyelewengan makna kata “mayit” (الْمَيِّتُ) dari mati menjadi akan mati di sisi hukum syariat sama sekali tidak dibenarkan dan harus ditolak. Sebab penyelewengan tersebut sangat batil karena berdampak pada penyelewengan hukum. Apapun kata “mayit” (الْمَيِّتُ) konotasinya hanya untuk maksud orang yang telah mati/meninggal, bukan untuk makna yang lainnya. Kalaupun ada kata “mayit” (الْمَيِّتُ) bukan untuk orang yang telah meninggal, maka tentunya harus ada qarinah (indikator) yang menyertainya. Sebagai bukti adalah manakala Nabi bermaksud mengatakan orang yang hendak mati/menjelang mati tentunya tidak akan menggunakan kata “mayit/mati” ” (الْمَيِّتُ) secara mandiri, melainkan menggunakan istilah sendiri atau ditambah dengan kata lain sebagai indikator bahwa kata tersebut bukanlah untuk orang yang meninggal dunia, seperti kata “menjelang mati” “sakaratul maut” (سَكَرَاتِ الْمَوْتِ). Sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَمُوتُ وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ فَيُدْخِلُ يَدَهُ فِي الْقَدَحِ ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ

“dari [‘Aisyah] ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sedang sakit, sementara di sisinya terdapat bejana berisi air. Beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam bejana kemudian membasuhkan air ke wajah seraya bersabda: “Ya Allah, mudahkanlah aku dalam menghadapi sakaratul maut. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1612)

Seperti kata “menjelang mati” “Ghamaratul maut” (غَمَرَاتُ الْمَوْتِ). Sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Hadits berikut,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ مُوسَى بْنِ سَرْجِسَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالْمَوْتِ وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي الْقَدَحِ ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah], telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Ibnu Al Had] dari [Musa bin Suraij] dari [Al Qasim bin Muhammad] dari [‘Aisyah] berkata; “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat menjelang kematiaannya, di sisi beliau terdapat bejana berisi air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu membasuhkannya pada keningnya sambil membaca: ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA GHAMARATIL MAUT AU SAKARATIL MAUT (Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi sakaratul maut) ‘.” Abu ‘Isa berkata; “Ini merupakan hadits gharib.” (Hadits Tirmidzi Nomor 900)

Seperti kata “menjelang mati” “karbul maut” (كَرْبُ الْمَوْتِ). Sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Hadits berikut,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَمَّا وَجَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ كَرْبِ الْمَوْتِ مَا وَجَدَ قَالَتْ فَاطِمَةُ وَا كَرْبَ أَبَتَاهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا كَرْبَ عَلَى أَبِيكِ بَعْدَ الْيَوْمِ إِنَّهُ قَدْ حَضَرَ مِنْ أَبِيكِ مَا لَيْسَ بِتَارِكٍ مِنْهُ أَحَدًا الْمُوَافَاةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“dari [Anas bin Malik] berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan kerasnya sakaratul maut, Fatimah berkata, “Betapa sakitnya engkau wahai ayah! ” lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Bapakmu tidak akan mendapatkan sakit setelah hari ini. Sungguh, telah datang kepada bapakmu sesuatu yang tidak akan pernah dilewatkan oleh seorang pun, kematian. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1618)

Seperti kata “menjelang wafat” “hadarat al maut” (حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ). Sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Hadits berikut,

كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ وَهُوَ يُغَرْغِرُ بِنَفْسِهِ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Wasiat umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang wafat, ketika sakaratul maut yaitu: “Jagalah shalat dan zakat serta perhatikanlah hamba sahaya kalian.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2688)

لَمَّا حَضَرَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ الْمَوْتُ قِيلَ لَهُ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَوْصِنَا قَالَ أَجْلِسُونِي فَقَالَ إِنَّ الْعِلْمَ وَالْإِيمَانَ مَكَانَهُمَا مَنْ ابْتَغَاهُمَا وَجَدَهُمَا

Ketika [Mu’adz bin Jabal] di ambang sakaratul maut, dikatakan kepadanya; “Wahai Abu Abdurrahman, berwashiatlah kepadaku!.” Mu’adz berkata; “Dudukkanlah aku.” lalu dia berkata; “Sesungguhnya ilmu dan iman berada pada tempatnya maka barang siapa yang mencarinya pasti akan menemukannya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 3740)

Seperti kata “menjelang meninggal” “yugargir” (يُغَرْغِرْ). Sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat Hadits berikut,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan menerima taubat seorang hamba, selagi ia belum sakaratul maut.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 4243)

Berdasarkan beberapa fakta dalam Hadits di atas menunjukkan dengan jelas bahwa kata “mati” bila sendirian atau tidak disertai dengan kata lain maknanya adalah mutlak orang yang sudah meninggal. Namun manakala kata “mati” bila hendak diartikan dan dimaksudkan bukan mati; seperti hendak mati, menjelang mati, atau akan mati. Maka, perlu digabung dengan kata lain sebagai tanda (indikator/qarinah) bahwa kata “mati” tersebut bukanlah orang yang sudah mati. Dengan begitu menyelewengkan kata mati dengan akan mati dengan tujuan menolak diperbolehkannya membacakan Al-Qur’an merupakan tindakan batil dan berbohong atas nama agama yang terlaknat. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”. (Surat Yunus Ayat 69)

يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta kepadaku tidak sama dengan orang yang berdusta kepada orang lain. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia bersiap-siap (mendapat) tempat duduknya di neraka.”. (Hadits Bukhari Nomor 1209 dan Hadits Muslim Nomor 5)

Letak kebohongan golongan Salafi adalah pertama menyelewengkan makna mati menjadi akan mati, kedua dengan menyelewengkan makna mati menjadi akan mati mereka bermaksud untuk mengharamkan amalan yang tidak diharamkan oleh agama. Mereka hendak mengharamkan ibadah membaca Al-Qur’an, kalimat-kalimat dzikir dan kalimat-kalimat thayyibah (baik) di mana perkara itu jelas-jelas disyariatkan dan tidak dilarang sama sekali. Padahal mengharamkan perkara yang tidak diharamkan oleh Allah akan mendapatkan laknat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

Dengan begitu membacakan Al-Qur’an, dzikir, doa, tahlil, surat Yasin, dan lain lain sebagainya untuk mayit (orang yang sudah meninggal) hukumnya boleh dan bahkan sunnah. Pahalanya sampai dan diterima oleh mayit.

Kesimpulan

Penyelewengan makna dari “sudah mati” menjadi “akan mati” memiliki dampak yang sangat fatal. Letak fatalnya adalah pada mulanya pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, dzikir, doa dan tawasul kepada orang yang sudah meninggal hukumnya boleh akan menjadi haram, bahkan mereka tidak segan-segan menuduh pelakunya menjadi syirik. Mereka menuduh syirik dengan anggapan pembacaan Al-Qur’an dan kalimat-kalimat thayyibah kepada mereka yang sudah mati merupakan tindakan pengkultusan.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 107
    Shares