Penyebab Doa Tidak Dikabulkan Allah

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


 

Allah Subhanahu Wa Taala telah menjanjikan kepada hambanya bahwa setiap doa yang dipanjatkan pasti akan dikabulkannyNya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Taala,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, (Surat Al-Baqarah Ayat 186)

Walaupun Allah Subhanahu Wa Taala menyatakan bila hambanya berdoa pasti dikabulkan, namun ternyata ada sebagian doa hambanya ditolak dengan beberapa sebab berikut,

Terdapat daging dalam tubuh yang dihasilkan dari barang haram

Salah satu penyebab kenapa doa kita tertolak mungkin  masih terlalu banyak barang-barang haram yang merasuk dalam badan, daging dan darah kita.

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah perbuatan baik (amal shalih). Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.” (Hadits Muslim Nomor 1686 dan Hadits Darimi Nomor 2601. Redaksi milik Muslim)

Memohon keburukan (perbuatan dosa dan memutus silaturrahmi)

Tidak jarang di saat seseorang mengalami situasi sulit dan merasa terdzalimi terlontarlah kata sumpah serapah, hingga tak sadarkan diri mendoakan terjadinya keburukan terhadap orang lain. Padahal mendoakan keburukan untuk orang lain sesama mukmin atau untuk diri sendiri itu tidaklah dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah Hadits,

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan’. Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.’ (Hadits Muslim Nomor 4918)

Tergesa-gesa minta dikabulkan

Salah satu penghalang atsar (bekas) dari do’a adalah tergesa-gesanya seorang hamba dalam berdo’a. Dia menganggap Allah Subhanahu Wa Taala lambat dalam mengabulkan do’a ketika dia merasa telah bersungguh-sungguh. Efek tergesa-gesanya doa adalah pada akhirnya dia meninggalkan berdo’a kepada Allah.

Lebih bersabar dan berserah diri terhadap keputusan Allah Subhanahu Wa Taala itu akan lebih mudah mendatangkan ijabah. Bila doa kita belum dikabulkan, berarti memang saat tersebut belum tepat bagi kita untuk mendapatkannya, atau memang yang kita inginkan tidak baik bagi kita. Baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah Subhanahu Wa Taala bagi kita. Hidup akan lebih tentram bila kita selalu ikhlas dan berserah diri. Hindari tergesa-gesa dalam berdoa, karena hal itu menjadi penghalang terkabulnya doa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَا أَوْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa hingga mengatakan; ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tidak atau belum juga dikabulkan untukku’. (Hadits Muslim Nomor 4916)

Berputus asa dalam berdoa

Bila dalam keadaan lapang terkadang manusia lalai dalam mempersiapkan segalanya untuk menyambut persoalan hidupnya. Namun ketika persoalan hidupnya terlanjur mendatangi secara bertubi-tubi, barulah manusia ingin bersegera dikabulkan doanya seakan-akan doa mampu menyelesaikan semua persoalan secara seketika tanpa adanya proses ikhtiyar sebelumnya. Jangan berputus asa dalam berdoa! Pesan itu disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

“Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan; ‘Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan’. Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.’ (Hadits Muslim Nomor 4918)

Berprasangka buruk terhadap Allah

Namun terkadang ketika Allah Taala telah menjanjikan semua doa akan dikabulkan, namun terkadang kita merasa doa kita belum terijabah. Bila seseorang menghadapi situasi tersebut, yang jarang disadari adalah akar masalahnya adalah persangkaanburuk kita sendiri yang menyebabkan doa tersebut terhambat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (Hadits Bukhari Nomor 6856)

Oleh karenanya, perbaiki dahulu perangkaan kita terhadap Allah Taala dan yakinlah bahwa Ia tidak akan mengingkari janjiNya. Kemudian perhatikan dengan saksama petunjukNya, terutama pada syarat-adab berdoa di samping mengamalkan semua ajaranNya semampu kita, niscaya Allah Taala akan mudah mengabulkan doa kita sebagaimana janjiNya dalam ayat berikut,

Dari ayat di atas dapat kita ambil dua kandungan utama dalam persoalan mudahnya terkabul doa; Pertama, Mudah atau sulit terkabulnya doa tergantung seorang hamba apakah dia berprasangka baik atau buruk terhadap Allah Subhanahu Wa Taala. Kedua, Mudah atau sulit terkabulnya doa tergantung seorang hamba apakah dia hanya meminta namun dia tidak mau menjalankan segala perintahNya.

Bila kita bedoa namun kita sendiri berprasangka buruk terhadap Allah Taala bahwa doanya tidak dikabulkan. Niscaya Allah Subhanahu Wa Taala juga tidak akan memperkenankan doa kita.

Berdoa tapi hatinya lalai

Mendekat Allah Subhanahu Wa Taala ketika mengalami musibah dan terhimpit kehidupan, ingat Allah Subhanahu Wa Taala hanya saat mengalami kesedihan, dan berdoa hanya saat membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu Wa Taala, serta meminta Allah Subhanahu Wa Taala untuk memberi kenikmatan dan anugerahnya namun lalai dan abai untuk menjalankan perintahnya. Itulah di antara pertanda lalainya hati yang menjadi penyebab terhalang terkabulnya doa. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”  (Hadits Tirmidzi Nomor 3401)

Menggantungkan doa

Imam Ad-Dawudi berkata bahwa yang dimaksud dengan berketetapan hati dalam berdo’a adalah bersungguh-sungguh dan merendahkan diri dalam berdo’a dan tidak mengucapkan : “Ya Allah kabulkanlah permohonanku bila Engkau kehendaki” Seakan-akan membuat pengecualian dalam do’anya. Akan tetapi sebaiknya berdo’a seperti orang yang sedang sangat membutuhkan dan faqir. Apabila tidak membuat pengecualian dalam do’anya, namun hanya mengucapkan kalimat insya Allah untu bertabarruk, maka hal tersebut tidak dilarang bahkan dianjurkan” [Fathul Barii 11/144-145]

Imam An-Nawawi berkata bahwa dianjurkan bersungguh-sungguh dalam berdo’a dan dimakruhkan menggantungkan dengan kehendak Allah. Para ulama berpendapat bahwa dimakruhkan menggantungkan do’a dengan kehendak Allah sebab kalimat insya Allah hanya pantas ditujukan kepada dzat yang dipaksa untuk memberi dan Allah Maha Suci dari demikian itu. [Syarh Shahih Muslim 17/7]

Menggantungkan doa tidaklah dianjurkan karena seakan-akan tidak mempercayai kuasa Allah Subhanahu Wa Taala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan; ‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki, dan rahmatilah aku jika Engkau berkehendak.’ Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena Allah sama sekali tidak ada yang memaksa.” (Hadits Bukhari Nomor 5864)

Berdoa namun tidak mengingkari kemungkaran

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Taala dalam Surat Muhammad ayat 7 bahwa jika kita sebagai mukmin membantu (agama) Allah Subhanahu Wa Taala, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukan kita. Salah satu bentuk kita membantu agama Allah Subhanahu Wa Taala adalah melawan kemungkaran yang terjadi di sekitar kita. Bagaimana mungkin kita mengharap Allah Subhanahu Wa Taala mendatangkan kebaikan terhadap diri kita bila mana kita meninggalkan amar ma’ruf dan memembiarkan kemungkaran yang terjadi di sekitar kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-NYa dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2095)

Sombong dalam berdoa

Berdoa namun merasa telah mampu tanpa pertolongan Allah Subhanahu Wa Taala. Berdoa namun menolak kebenaran bahwa doa dapat membantu menghilangkan persoalan kehidupan. Atau berdoa namun meremehkan keutamaan dan manfaat berdoa, merupakan bentuk kesombongan seorang hamba terhadap Tuhannya. Sikap inilah terkadang sebagai penghalang terkabulnya doa disebabkan meminta pertolongan namun bersikap meremehkan. Bukan hanya tidak terkabul doanya bahkan menjadi penyebab masuknya seseorang ke dalam neraka jahannam. Jadi jangan remehkan kekuatan doa dan jangan pula kita merasa sombong untuk tidak berdoa. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Surat Al-Mu’min Ayat 60)

Berdoa namun tidak menjalankan perintah Allah

Terdapat hubungan dalam berdo’a dan menjalankan perintah Allah Subhanahu Wa Taala. Sebagaimana sebuah hubungan antara permintaan dan pemberian. Terkadang seseorang merasa sudah pantas meminta sebelum dia sama sekali pernah memberi. Lalu bagaimanakah mungkin Allah Subhanahu Wa Taala memberikan permohonan kita bila sebelumnya kita tidak pernah berbuat dan memberikan apapun terhadap Allah Subhanahu Wa Taala. Oleh karena itu menjalankan semua perintah Allah Subhanahu Wa Taala, menjalankan ketaatan dan ketakwaan terhadap Allah Subhanahu Wa Taala menjadi foktor penting dalam terwujudnya doa-doa yang kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Taala. Allah Subhanahu Wa Taala berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Surat Al-Baqarah Ayat 186)

Peminta tidak dapat menjaga amanah bila doa dikabulkan

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Surat Al-Baqarah Ayat 216)

Tidak semua yang kita minta merupakan kebaikan bagi kita. Tidak semua yang kita dapatkan akan mendatangkan kemaslahatan bagi kita maupun bagi orang lain. Bisa saja Allah Subhanahu Wa Taala memberikan apa yang kita minta, namun bisa jadi kita tidak mampu mengelola pemberian Allah Subhanahu Wa Taala tersebut dengan baik atau bahkan apa yang kita dapatkan menjadi fitnah dan berdampak keburukan bagi kita. Sebagaimana kita minta kaya, namun Allah Subhanahu Wa Taala menetapkan kita sebagai orang miskin, karena bisa jadi ketika kita miskin diberi takdir untuk senantiasa mengingat Allah Subhanahu Wa Taala. Sebaliknya, ketika kita menjadi kaya bisa jadi harta kita dapat memalingkan dan menjauhkan diri kita terhadap Allah Subhanahu Wa Taala. Jadi bisa jadi Allah Subhanahu Wa Taala tidak memperkenankan doa kita sebab kita tidak mampun menjaga amanah pemberian dari Allah Subhanahu Wa Taala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِدَعْوَةٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ إِيَّاهَا أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ

“Tidaklah seorang muslim pun dimuka bumi yang berdoa kepada Allah AzzaWaJalla dengan sebuah doa melainkan Allah akan memberikan hal itu kepadanya atau atau (Allah sengaja tidak mengabulkan doanya untuk) menjaganya dari kejelekan semisalnya (dengan pertimbangan karena kita tidak mampu menerimanya) selama ia tidak meminta dengan kejelekan atau memutus hubungan rahim.” (Hadits Ahmad Nomor 21720)

Hadita yang senada,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدُعَاءٍ إِلَّا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا أَنْ يُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يُكَفَّرَ عَنْهُ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدْرِ مَا دَعَا

“Tidaklah seseorang yang berdo’a kepada Allah kecuali akan dikabulkan untuknya, baik akan disegerakan di dunia atau dijadikan tabungan di akhirat (karena tidak menjadi kebaikan bila dikabulkan di dunia) atau akan menghapus dosa-dosanya sesuai dengan do’a yang ia lantunkan, (Hadits Tirmidzi Nomor 3531)

Berperilaku menyeleweng

Tidak sedikit ketika kita dalam kondisi hidup penuh keprihatinan, kita menjadi pribadi yang baik. Namun sebaliknya, kita mendapatkan banyak kenikmatan dan anugerah malah menyebabkan kita berperilaku menyeleweng. Perilaku dosa kita bisa jadi sebagai penyebab tertahannya doa kita sehingga Allah Subhanahu Wa Taala tidak mengabulkan doa yang kita panjatkan. Jadi, tetaplah dalam jalan Allah Subhanahu Wa Taala agar doa kita terkabul dan nikmat Allah Subhanahu Wa Taala tidak ditarik kembali. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Taala,

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

AlIah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. (Surat Yunus Ayat 89)

Selain yang tersebut di atas, tentunya masih banyak lagi faktor kenapa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Oleh karenanya sudah selayaknya kita tetap berhati-hati dalam berdoa, karena setiap dari kita pasti berharap semua doa terkabul. Ikuti aturan yang telah digariskan agama agar Allah Subhanahu Wa Taala mengabulkan doa-doa kita.

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 302
    Shares