Pengertian, Perintah, Hukum, dan Tujuan Ziarah Kubur$

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Mohon Kiyai memberikan penjelasan ringkas dari pengertian, perintah, hukum, dan tujuan ziarah kubur. Dan kenapa orang yang sudah meninggal kuburannya diziarahi?. (Ridho Maulana/Banyuwangi)

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

JAWABAN:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Ziarah kubur adalah mendatangi kuburan. Hukum ziarah kubur sunnah bagi kaum muslimin sebab ada dalil yang memerintahkannya. Di antara tujuan ziarah kubur bagi para peziarah untuk mengingat kematian dan bagi ahli kubur memberikan manfaat doa. Sedangkan kenapa dalam agama Islam terdapat syariat ziarah kubur adalah karena mereka orang-orang shalih yang sudah meninggal di hadapan Allah hakikatnya masih hidup.

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا. وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

PENJELASAN:

Setiap manusia tidak akan dapat menghindar kematian. Hidup hanyalah tempat ujian dan tempat menghimpun bekal agar kelak hidup di akhirat selamat dari siksa neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 185)

Kematian merupakan perkara tidak terduga, melalui media ziarah kubur akan lebih mudah mengingat kematian. Dengan mengingat kematian hidup kita akan lebih mudah terhindar dari perilaku negatif dan lebih cenderung pada perilaku yang positif. Dengan perilaku positif diharapkan manakala sewaktu-waktu Allah memanggil akan selamat kelak di akhiratnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ

“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian” (Hadits Tirmidzi Nomor 2229)

Sedangkan salah satu media agar manusia dapat mengingat kematian adalah dengan berziarah kubur. Banyak sekali faidah yang dapat diambil dari amalan berziarah ke kubur, seperti melembutkan hati, menjauhkan dari perilaku negatif, dan lain sebagainya.

Pengertian dan tujuan disyariatkan ziarah kubur

Kata Ziarah berasal dari zâra, yazûru, ziyâratan, bermakna ‘mengunjungi’. Sedangkan menurut istilah adalah mengunjungi makam orang yang sudah meninggal untuk mendoakannya, bertabaruk, mengingat kematian, mengingat akhirat, serta mengambil pelajaran dari keadaan mereka.

Ziarah kubur adalah mendatangi kuburan dengan tujuan untuk mendoakan ahli kubur dan sebagai pelajaran (ibrah) bagi peziarah bahwa tidak lama lagi akan menyusul menghuni kuburan sehingga, dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga hal tersebut dapat melembutkan hati dan senantiasa mengingat kehidupan akhirat yang akan dijalani kelak.

Hukum dan Dalil Perintah Ziarah Kubur

Secara tegas Imam Nawawi mengatakan bahwa kesepakatan semua ulama membolehkan ziarah kubur bagi kaum muslimin laki-laki maupun perempuan. Bisa dikatakan bahwa hukum berziarah kubur bukan lagi mubah, melainkan sunnah sebab banyak dalil kuat yang mensyariatkan dan memerintahkannya. Di antara dalil yang menyunnahkan ziarah kubur adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ziarahilah kubur, sesungguhnya ia dapat mengingatkan kalian dengan akhirat.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1558)

Fatwa ulama tentang ziarah kubur

Fatwa Syaikh Amin al-Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub;

تسن زيارة قبور المسلمين للرجال لأجل تذكر الموت والآخرة وإصلاح فساد القلب ونفع الميت بما يتلى عنده من القرآن لخبر مسلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزورها. ولقوله عليه الصلاة والسلام : اطلع في القبور واعتبر في النشور. رواه البيهقي خصوصا قبور الأنبياء والأولياء وأهل الصلاح. وتكره من النساء لجزعنهن وقلة صبرهن، ومحل الكراهة إن لم يشتمل اجتماعهن على محرم وإلا حرم، ويندب لهن زيارة قبره صلى الله عليه وسلم وكذا سائر الأنبياء والعلماء والأولياء. اهـ [تنوير القلوب : 216]

Artinya: “Disunatkan bagi kaum laki-laki berziarah kuburnya orang-orang Islam untuk mengingat datangnya kematian dan adanya alam akhirat, serta memperbaiki hati yang buruk dan memberi manfaat kepada mayit dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an di tempat yang dekat dengannya, karena ada hadits riwayat Muslim yang artinya : “Aku (Nabi) dulu melarang kamu berziarahkubur, maka sekarang berziarahkuburlah kamu”. Dan juga sabda Nabi yang artinya : “Berziarahlah kubur kamu dan ambillah tauladan tentang adanya hari kebangkitan”. (HR. Muslism). Khususnya kuburan para Nabi, para wali dan orang-orang shalih. Sedangkan bagi kamu wanita ziarah kubur hukumnya makruh, karena mereka mudah meratap dan sedikit yang sabar. Makruh bagi wanita tersebut apabila ziarah mereka itu tidak mengandung hal-hal yang diharamkan, kalau mengandung hal-hal yang diharamkan, maka ziarah mereka hukumnya haram. Bagi wanita berziarah kubur ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga nabi-nabi yang lain demikian pula makam para ulama dan para wali hukumnya sunat”.

Fatwa Syaikh Ali Ma’shum dalam kitabnya “Hujjatu Ahlissunnah” bab ziarah kubur;

واختلف في زيارة النساء للقبور، فقال جماعة من أهل العلم بكراهيتها كراهة تحريم أو تنزيه لحديث أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن زوارات القبور. رواه أحمد وابن ماجه والترمذي. وذهب الأكثرون إلى الجواز إذا أمنت الفتنة، واستدلوا بما رواه مسلم عن عائشة قالت : كيف أقول يا رسول الله إذا زرت القبور؟ قولي : السلام عليكم أهل ديار المسلمين. اهـ [حجة أهل السنة للشيخ على معصوم : 58]

Artinya: “Para ulama berselisih pendapat mengenai kaum wanita berziarah kubur, Segolongan ulama mengatakan makruh tahrim atau tanzih, karena ada Hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rusulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutuk wanita-wanita yang berziarah kubur. (HR. Ibun Majah dan Tirmidzi). Sementara mayoritas ulama mengatakan boleh, apabila terjamin keamanannya darifitnah, Dalilnya yaitu hadits riwayat Muslim dari Siti A’isyah ra dia berkata : apa yang say abaca ketika ziarah kubur, hai rasul? Rasul bersabda : bacalah Assalamu’alaikum Ahla Diyaril Muslimin”.

Kronologi syariat ziarah kubur

Pada awal dakwah Islam, ziarah kubur sempat dilarang oleh agama dengan pertimbangan akan menimbulkan fitnah syrik di tengah-tengah umat. Seiring perkembangan Islam dan semakin kuatnya keimanan kaum muslimin, larangan tersebut kemudian dicabut dan menganjurkan umat Islam untuk berziarah kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (Hadits Abu Daud Nomor 2816)

Sudah sangat jelas larangan ziarah kubur sudah dibatalkan (dinasikh), dan kemudia menjadi diperintahkan. Dengan demikian, bilamana ada dalil-dalil larangan ziarah kubur yang masih tertulis di beberapa kitab Hadits otomatis secara hukumnya sudah tidak berfungsi dan tidak lagi boleh dijadikan sebagai dalil pelarangan ziarah kubur.

Tentang ruh si mayit

Alasan kenapa dalam agama Islam terdapat syariat ziarah kubur karena pandangan golongan Ahlussunnah wal Jamaah tentang ruh adalah jiwa yang dapat berbicara, dapat merasa, yang mampu untuk menjelaskan, memahami objek pembicaraan, tidak musnah karena musnahnya jasad. Ia adalah unsur inti, bukan esensi. Ruh-ruh orang yang sudah meninggal itu berkumpul, lalu yang berada di tingkatan atas bisa turun ke bawah, tapi tidak sebaliknya.

Menurut para ulama Sunni, bahwa siksa dan kenikmatan dirasakan oleh ruh dan badan mayat. Ruh tetap kekal setelah terpisah dari badan yang merasakan kenikmatan atau siksaan, kadang juga bersatu dengan badan sehingga merasakan juga kenikmatan dan siksaan. Ada pendapat lain dari Ahlus Sunnah bahwa kenikmatan dan siksa untuk badan saja, bukan ruh.

Pandangan Sunni bahwa orang-orang shalih masih hidup walaupun sudah terpisah dari jasadnya berdasarkan firman Allah,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ. فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 169-170)

Diperkuat dengan sebuah riwayat yang mengatakan bahwa para Nabi tetap hidup walaupun sudah dikubur. Nabi bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَعْنِي بَلِيتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang paling utama dari hari-hari kalian adalah hari jum’at, pada hari itu Adam diciptakan, sangkakala ditiup, dan manusia sadar dari pingsannya. Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, sebab shalawat kalian diperlihatkan kepadaku. ” Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya shalawat kami diperlihatkan kepadamu, padahal dirimu telah meninggal?” beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1626)

Baja juga: Ziarah Kubur#

Demikian penjelasan ringkas tentang syariat ziarah kubur, semoga bermanfaat, amin. Jazakallah Khair.

Bagikan Artikel Ini Ke