Pengertian Muamalah

Muamalah atau juga disebut hukum perdata Islam, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan tata cara hidup sesama umat manusia untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Muamalah mengandung tujuan terciptanya hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga tercipta masyarakat yang rukun dan tentram. Menurut al-Fikri dalam kitabnya, “al-Muamalah al-Madiyah wa al-Adabiyah”, ruang lingkup muamalah ada dua;

Pertama, al-Muamalah al-Madiyah; yaitu suatu disiplin ilmu yang membahas perikatan dan transaksi antar manusia dilihat dari segi objeknya yang bersifat kebendaan. Esensinya: keuntungan yang didapatnya bersumber dari materi-materi yang baik sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah kelak di akhirat. Transaksi ini meliputi jual beli (al-bai’ al-tijarah), gadai (ar-rahn), jaminan dan tanggungan (kafalan dan dlaman), pemindahan utang (hiwalah), jatuh bangkrut (taflis), batasan bertindak (al-hajru), perseroan atau perkongsian (al-syirkah), persoalan harta dan tenaga (al-mudharabah), sewa-menyewa (al-ijarah), pemberian hak guna pakai (al-‘ariyah), barang titipan (al-wadi’ah) barang temuan (al-luqathah), garapan tanah (al-mujara’ah), sewa-menyewa tanah (al-mukharabah), upah (ujrat al ‘amal), gugatan (al-syuf’ah), sayembara (al-ji’alah), pembagian kekayaan bersama (al-qismah), pemberian (al-hibah), pembebasan (al-ibra), damai (al-shulhu), dan ditambah dengan beberapa masalah mu’ashirah (muhaditsah), seperti masalah bunga bank, asuransi, kredit, dan masalah-masalah baru lainnya.

Kedua, al-Muamalah al-Adabiyah, yaitu aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. yang wajib diikuti dari segi subjeknya. Esensinya adalah bagaimana cara memperoleh keuntungan yang bersifat duniawi tersebut secara vertikal tetap mendapatkan ridha Allah dan secara horizontal tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain, karena semua pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah. Ruang lingkup muamalah yang bersifat adabiyah adalah ijab dan qabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, penimbunan, dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta dalam hidup bermasyarakat.

Baca Juga; Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

Perkara-perkara muamalah di mana asal hukumnya mubah dan tidak mendapatkan pahala bila dikerjakan, namun akan menjadi berpahala ketika diniatkan lillahi taa’la mengharap ridla Allah. Di antara contohnya,

Bekerja diniatkan ibadah,

إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

“Jika seorang muslim memberi nafkah (dari hasil kerjanya) pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah.” (Hadits Bukhari Nomor 4932)

Menikah diniatkan ibadah,

مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ تَعَالَى وَمَنَعَ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَحَبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَبْغَضَ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى فَقَدْ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ

“Barangsiapa memberi karena Allah Ta’ala, tidak memberi karena Allah Ta’ala, marah karena Allah Ta’ala dan menikah karena Allah Ta’ala, imannya telah sempurna”. (Hadits Ahmad Nomor 15064)

Dan masih banyak lagi perkara-perkara muamalah akan berpahala bila diniatkan karena Allah, seperti mencintai, membenci, memberi, dan lain sebagainya. Nabi bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ

“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya.” (Hadits Abu Daud Nomor 4061)

Baca Juga; Pengertian Amal Shalih atau Amaliah

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke