Pengertian Ibadah Mahdhah

Ibadah mahdhah, yakni ibadah murni atau khusus yang tidak dapat dirubah lagi karena sudah ditentukan syarat dan rukunnya, serta telah ditetapkan cara, kadar, waktu, dan tempatnya sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada tuhannya. Ada lima ibadah pokok yang telah ditetapkan, dan dikenal dengan rukun Islam; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَجَاءَ رَجُلٌ فَجَلَسَ عِنْدَ رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ لَا تُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ قَالَ صَدَقْتَ

“Maka (Jibril berpenampakan) seorang laki-laki datang lalu duduk di hadapan kedua lutut beliau, laki-laki itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah Islam itu? ‘Beliau menjawab, ‘Islam adalah kamu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, dan berpuasa Ramadlan.’ Dia berkata, ‘Kamu benar. ’ (HR. Muslim No. 11)

Ibadah jenis ini memiliki empat prinsip;

Pertama, Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari Al-Qur’an maupun  Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal atau logika keberadaannya.

Kedua, Tata caranya harus berpola kepada contoh Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah satu tujuan diutus Rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.” (Surat An-Nisa’ Ayat 64)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (Surat Al-Hasyr Ayat 7)

Salah satu contoh ibadah mahdhah adalah ibadah shalat. Maka tata cara kerangka utama shalat sudah tetap dan tidak boleh dirubah. Sehingga tiada lain harus mencontoh Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian melakukan adzan dan yang paling dewasa menjadi imam.” (Hadits Bukhari Nomor 6705)

Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dikategorikan “muhdatsatul umur” perkara meng-ada-ada (bid’ah). Sedangkan bid’ah tertolak. Nabi bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak”. (Hadits Bukhari Nomor 2499)

Ketiga, Bersifat supra rasional atau ghaib (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini di luar logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri’.

Keempat, Azasnya “taat”, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan untuk Allah. Jadi bila terdapat ibadah mahdhal terkesan tidak masuk akal, maka tetap harus diyakini dan jalani.

Kelima, bersifat vertikal saja, di antara contohnya adalah; Wudhu, Tayammum, Mandi hadats, Adzan, Iqamat, Shalat, Membaca Al-Qur’an, I’tikaf, Puasa , Haji, zakat, dan Umrah.

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke