Pengertian Ibadah Ghairu Mahdhah

Ibadah ghairu mahdhah yang mana dalam situasi tertentu juga dapat dikategorikan sebagai amal shalih, yaitu segala tindakan, baik muamalah, akhlaq maupun adat (tradisi) yang diniatkan sebagai bentuk upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengharap ridha-Nya, yang tidak diatur cara, kadar, waktu, dan tempatnya, sehingga ibadah ini boleh dikreasi sesuai dengan kebutuhan dan keadaannya. Ibadah ghairu mahdhah ini, di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya.

Ibadah ghairu mahdah ini meliputi beberapa hal. Di antaranya, Pertama, ibadah sunnah mutlak, seperti dzikir, do’a, dan ibadah-ibadah sunnah mutlaq. Kedua, muamalah, seperti bekerja, menikah, menciptakan teknologi, membangun rumah, dan lain sebagainya, ini bernilai pahala ibadah ketika diniatkan lillahi taa’la mengharap ridla Allah. Ketiga, tradisi dan budaya, seperti maulid Nabi, kenduri, haul, tahlilan, ulang tahun, acara peringatan hari besar Islam, sepasaran, selamatan rumah baru, pawai, resepsi pernikahan, wisuda, halal bi halal, reunian, majelis dzikir, arisan haji, bekerja dan usaha untuk menfkahi keluarga, haul atau peringatan, mengingat kisah-kisah orang terdahulu, kumpul-kumpul, tingkeban dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut menjadi bernilai ibadah yang berpahala bila diniatkan syi’ar Islam dengan catatan disisipi kebaikan seperti bhakti sosial, dzikir, renungan, mauidzoh, serta kemanfaatan dan kemaslahatan lain, dan tidak mengandung unsur-unsur kemungkaran, kesyirikan dan kemaksiatan. Keempat, akhlaq, seperti berjabat tangan dan ucap salam saat berjumpa, berbicara sopan, tersenyum bila berjumpa, dan lain sebagainya.

Ibadah jenis ini memiliki lima prinsip;

Pertama, Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diseleng garakan.

Kedua, Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebut nya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.

Ketiga, Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan

Keempat, Azasnya “Manfaat”, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.

Kelima, Pada sebagiannya bersifat vertikal, di antara contohnya adalah; Dzikir, doa, shalawat, dan lain sebagainya. Pada sebagiannya bersifat horizontal, di antara contohnya adalah; Infaq, sedekah, waqaf, dan lain sebagainya.

Bagikan Artikel Ini Ke