Pengertian Dan Keutamaan Shalat Malam (Tahajud)

Daftar Isi

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

A. Pengertian Shalat Tahajud

Istilah Tahajjud berasal dari firman Allah SWT.,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. Surat Al-Isra’ [17]: 79)

B. Sejarah Shalat Tahajud

Menurut catatan sejarah Islam, shalat Tahajjud dikerjakan Nabi Muhammad SAW. sejak awal Islam berkembang di Makkah, yaitu ketika turun surat Al-Muzzammil, ayat 1-4, firman Allah;

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ. قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا. نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا. أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (QS. Al-Muzammil[73]: 1-4)

Perintah Tahajjud kepada Nabi dan kepada sahabatnya lebih dulu diturunkan, sebelum perintah shalat lima waktu. Shalat lima waktu difardukan Nabi SAW. melaksanakan Mi’raj ke hadapan Allah Subhana Wataala.

C. Dalil Al-Qur’an Dan Hadits Perintah Shalat Tahajud

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلًا وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

“Dan sebutlah nama Rabb-mu pada (waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari. ” [Al-Insaan[76]: 25-26].

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

‘Puasa yang paling mulia setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (HR. Muslim No. 614)

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنْ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ

Rasulullah SAW bersabda, “Dirikanlah shalat malam. Sesungguhnya shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shalih sebelum kalian. la dapat mendekatkan kepada Tuhanmu, mencegah dari dosa, menghapuskan kesalahan, dan menolak penyakit dari tubuh’. ” HR. Tirmidzi No. 3549)         

عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي قَيْسٍ يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لَا تَدَعْ قِيَامَ اللَّيْلِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُهُ وَكَانَ إِذَا مَرِضَ أَوْ كَسِلَ صَلَّى قَاعِدًا

Dari Abdullah bin Abi Qais, dia berkata, “Aisyah RA berkata, ‘Janganlah kamu meninggalkan qiyamullail, karena Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya. Apabila beliau sakit atau lagi payah, maka beliau kerjakan secara duduk.'” (HR. Abu Daud No. 1307 Bab Qiyamullail)

D. Keutamaan Shalat Tahajud

Karena pada sepertiga malam adalah saat yang maqbul untuk bermunajat pada Allah SWT.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb Tabaaraka wa Ta’ala kita turun di setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: “Siapa yang berdo’a kepadaKu pasti Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu pasti Aku penuhi dan siapa yang memohon ampun kepadaKu pasti Aku ampuni”. (HR. Bukhari No. 1077, No. 5846, No. 6940)

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ. وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (QS. AdzDzariyat: 17-18)

Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan shalat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.

1. Sebab masuk surga.

وَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Ucapan pertama yang dikatakan oleh beliau adalah, “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”. (HR. Ibnu Majah No. 2485)

2. Sebab doa mudah terkabul

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا  إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

‘Sesungguhnya di malam hari itu ada suatu saat apabila seorang muslim tepat pada saat itu memohon kebaikan kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat, niscaya Allah akan memberinya. Demikian itu ada di setiap malam’.” (HR. Muslim No. 391)

3. Menaikkan derajat di surga.

قَالَ وَالدَّرَجَاتُ إِفْشَاءُ السَّلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Rasulullah SAW juga bersabda, “Sedangkan hal-hal yang dapat mengangkat derajat adalah menyebar (mengucap) salam. memberi makan dan shalat di waktu malam saat manusia tertidur pulas.” (HR. Tirmidzi No. 3233)

4. Penghapus dosa dan kesalahan.

وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنْ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ

“Dirikanlah shalat malam. Sesungguhnya shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shalih sebelum kalian. la dapat mendekatkan kepada Tuhanmu, mencegah dari dosa, menghapuskan kesalahan, dan menolak penyakit dari tubuh’. ” HR. Tirmidzi No. 3549)

5. Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu.

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

‘Puasa yang paling mulia setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam” (HR. Muslim No. 614)

6. Dapat menolak penyakit

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنْ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ

“Dirikanlah shalat malam. Sesungguhnya shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shalih sebelum kalian. la dapat mendekatkan kepada Tuhanmu, mencegah dari dosa, menghapuskan kesalahan, dan menolak penyakit dari tubuh’. ” HR. Tirmidzi No. 3549)

7. Dapat melepas ikatan syetan

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ مَكَانَهَا عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Syaitan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, syaitan mengikatnya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya lalu (dikatakan) ‘Kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak.’ Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudlu’ maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas beraktifitas”. (HR. Bukhari No. 30 29)

8. Mendapatkan kebaikan

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا  إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Sesungguhnya di malam hari itu ada suatu saat apabila seorang muslim tepat pada saat itu memohon kebaikan kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat, niscaya Allah akan memberinya. Demikian itu ada di setiap malam’.” (HR. Muslim No. 391)

9. Mendapat rahmat dari Allah

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

‘Semoga Allah memberi rahmat kepada seorang laki-laki yang bangun malam untuk shalat, lalu membangunkan istrinya. Apabila istrinya itu menolak, maka dia memercikkan air di mukanya. Semoga Allah memberi rahmat kepada seorang perempuan yang bangun malam untuk shalat, lalu membangunkan suaminya. Apabila suaminya itu menolak, maka ia memercikkan air di mukanya.” (HR. Abu Dawud No. 1450)

E. Hukum Shalat Tahajud

Menurut kesepakatan ulama hukum shalat tahajud adalah sunnah bagi umat Nabi Muhammad. Sedangkan bagi Nabi Muhammad ada perbedaan pendapat. Pertama, shalat Tahajjud bagi Nabi Muhammad hukumnya wajib atau bahkan fardhu. Diantara yang berpendapat demikian antara lain Abdullah bin Al-Abbas radhiyallahu’anhu, sebagian pendapat di lingkungan mazhab Asy-Syafi’iyah, juga ikut sepakat dengan pendapat Ibnu Abbas ini. Dan tidak sedikti dari ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah berpendapat sama. Mereka menggunakan dasar ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً

Wahai orang-orang yang berselimut, bangunlah (shalatlah) di sepanjang malam kecuali sedikit (QS. Al-Muzzammil[73]: 1-2)

Pendapat kedua menyebutkan bahwa shalat tahajud tidak wajib bagi Rasulullah SAW. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Mujahid serta sebagian lain dari mazhab Asy-Syafi’iyah. Karena perintahnya sudah dinasakh dengan ayat Al-Muzammil ayat 20,

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِنْ ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَنْ لَنْ تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ ۙ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Muzammil[73]: 20)

F. Hukum Tidur Sebelum Shalat Tahajud

Ulama berbeda pendapat tentang syarat bisa disebut shalat tahajud, apakah harus tidur dulu ataukah tidak.

a. Tahajud tidak harus tidur dulu

Shalat tahajud adalah semua shalat sunah yang dikerjakan setelah isya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur. (Hasyiyah Ad-Dasuqi, 7/313).

Karena pada hakekatnya makna Tahajjud adalah mujanabatul hajud yakni menjauhi tempat tidur untuk melaksanakan shalat tambahan, atau melaksanakan shalat sunnah tambahan disaat orang tertidur. Pendapat ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالدَّرَجَاتُ إِفْشَاءُ السَّلَامِ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

“Sedangkan hal-hal yang dapat mengangkat derajat adalah menyebar (mengucap) salam. memberi makan dan shalat di waktu malam saat manusia tertidur pulas.” (HR. Tirmidzi No. 3233) (HR. Ahmad No. ….)

Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk Tahajjud, kita harus tidur terlebih dahulu. Anggapan ini kurang tepat karena tidur bukanlah ‘keharusan’ atau ‘syarat sah’nya Tahajjud.

Pemahaman shalat tahajud yang dilakukan setelah tidur bukanlah sebuah syarat melainkan hanya bersifat anjuran saja dikarenakan untuk melaksanakan sebuah ibadah memang membutuhkan kondisi badan yang fit. Namun bila kita lebih memilih melaksanakan Tahajjud setelah tidur itu akan lebih baik, hal ini berdasarkan sabda Nabi,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبُّ نَفْسَهُ

“Apabila seseorang mengantuk di dalam shalat, maka hendaknya tidur dahulu sehingga kantuknya hilang. Karena apabila seseorang shalat dengan mengantuk —mungkin dia bermaksud beristighfar— akan tetapi dia mencaci dirinya sendiri.” (HR. Muslim No. 389)

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَا يَدْرِي لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian mengantuk dalam shalatnya, hendaklah ia tidur hingga hilang rasa kantuknya. Sebab jika salah seorang dari kalian shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak tahu mungkin dia memohon ampunan tetapi dia malah mencela dirinya.” (HR. Imam Malik No. 239)

Tidur sebelum tahajjud hanya sebuah anjuran, bukan keharusan, karena waktu utama Tahajjud adalah 1/3 terakhir malam agar kita tdk mengantuk dan kepayahan.

يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ فَشَدَّدْتُ فَشُدِّدَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَصُمْ صِيَامَ نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَلَا تَزِدْ عَلَيْهِ قُلْتُ وَمَا كَانَ صِيَامُ نَبِيِّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ نِصْفَ الدَّهْرِ فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقُولُ بَعْدَ مَا كَبِرَ يَا لَيْتَنِي قَبِلْتُ رُخْصَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Wahai ‘Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?” Aku jawab: “Benar, wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Janganlah kamu lakukan itu, tetapi shaumlah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, isterimu punya hak atasmu dan isterimu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya”. Maka kemudian aku meminta tambahan, lalu Beliau menambahkannya. Aku katakan: “Wahai Rasulullah, aku mendapati diriku memiliki kemampuan”. Maka Beliau berkata: “Berpuasalah dengan puasanya Nabi Allah Daud Alaihissalam dan jangan kamu tambah lebih dari itu”. Aku bertanya: “Bagaimanakah itu cara puasanya Nabi Allah Daud Alaihissalam?” Beliau menjawab: “Dia Alaihissalam berpuasa setengah dari puasa Dahar (puasa sepanjang tahun), caranya yaitu sehari puasa dan sehari tidak”. Di kemudian hari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhuma berkata: “Duh, seandainya dahulu aku menerima keringanan yang telah diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “. (HR. Bukhari No. 1839)

Nabi menganjurkan ummatnya untuk seimbang, janganlah hanya untuk mengejar pahala shalat malam namun kita mengabaikan kesehatan dan tidak memenuhi hak-hak orang-orang disekitar kita seperti hak anak untuk dididik dan hak istri untuk diperhatikan.

Karena kurang tidur, badan jadi lemas, terus menerus mengantuk, dan seringkali sehabis shalat shubuh tidur lagi hingga siang hari. Asalnya sebuah syariat menjadi berkah namun malah menimbulkan masalah dengan kesehatan dan bahkan sosial kita ketika umumnya orang lain beraktifitas pagi namun kita malah tidur hingga siang hari.

Yang perlu diperhatikan adalah, bagiita yang khawatir tidak mampu bangun sebelum subuh untuk tahajud, dianjurkan untuk shalat sebelum tidur. Sekalipun tidak disebut tahajud oleh sebagian ulama, namun dia tetap terhitung melakukan qiyam lail, yang pahalanya besar.

b. Tahajud harus tidur dulu

Menurut salah satu ulama madzhab Syafi’i yaitu Syaikh Ar-Rafi’i dalam bukunya As-Syarhul Kabir, beliau menegaskan,

التَّهَجُّدُ يَقَعُ عَلَى الصَّلَاةِ بَعْدَ النَّوْمِ ، وَأَمَّا الصَّلَاةُ قَبْلَ النَّوْمِ ، فَلَا تُسَمَّى تَهَجُّدًا

“Tahajud istilah untuk shalat yang dikerjakan setelah tidur. Sedangkan shalat yang dikerjakan sebelum tidur, tidak dinamakan tahajud.”

Setelah menyatakan keterangan di atas, Ar-Rafi’i membawakan riwayat dari katsir bin Abbas dari sahabat Al-Hajjaj bin Amr radhiyallahu ‘anhu,

يَحْسَبُ أَحَدُكُمْ إذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يُصَلِّي حَتَّى يُصْبِحَ أَنَّهُ قَدْ تَهَجَّدَ ، إنَّمَا التَّهَجُّدُ أَنْ يُصَلِّيَ الصَّلَاةَ بَعْدَ رَقْدِهِ ، ثُمَّ الصَّلَاةَ بَعْدَ رَقْدِهِ ، وَتِلْكَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Diantara kalian menyangka ketika melakukan shalat di malam hari sampai subuh dia merasa telah tahajud. Tahajud adalah shalat yang dikerjakan setelah tidur, kemudian shalat setelah tidur. Itulah shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir mengatakan, Sanadnya hasan, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu Shaleh, juru tulis Imam Al-Laits, dan Abu Shaleh ada kelemahan. Hadis ini juga diriwayatkan At-Thabrani, dengan sanad dari Ibnu Lahai’ah. Dan riwayat kedua ini dikuatkan dengan riwayat jalur sebelumnya.

يَا أَبَا عَمْرٍو حَدِّثْنِي مَا حَدَّثَتْكَ بِهِ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَتْ كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِي آخِرَهُ

“Rasulullah tidur pada awal malam dan menghidupkan akhir malam dengan ibadah.” (HR. Nasa’i No. 1622)

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَ اللَّيْلِ وَيُحْيِي آخِرَهُ

“Beliau tidur diawal malam dan menghidupkan akhir malamnya. (H.R. Ahmad No. 23567)

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ وَإِلَّا تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Beliau tidur di awal malam dan bangun untuk shalat di akhir malam dan shalat, lalu beliau kembali ke tempat tidurnya. Bila mu’adzin sudah mengumandangkan adzan, maka Beliau bersegera. Bila saat itu Beliau punya hajat (kepada isterinya), maka Beliau mandi. Bila tidak, maka Beliau hanya berwudhu’ lalu keluar untuk shalat”. (HR. Bukhari No. 1078)

أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“Bagaimana beliau di saat jinabah (junub), apakah beliau mandi  sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” Aisyah menjawab, “Semuanya itu dilakukan oleh Rasulullah. Terkadang beliau mandi sebelum tidur dan terkadang tidur sebelum mandi.” Aku berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kelapangan dalam urusan ini.” (HR. Tirmidzi No. 2924, Abu Daud No. 222, 1291. Redaksi milik Tirmidzi) tidak pas

G. Waktu Pelaksanaan Shalat Tahajud

Shalat tahajud juga diistilahkan dengan shalat malam. Sesuai dengan namanya, shalat lail ini hanya sah dikerjakan di waktu malam, setelah mengerjakan shalat Isya’ sebelum masuk waktu Shubuh. Ada pun aktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat malam atau Tahajjud ini ada beberapa hadits yang berbeda redaksinya, namun tetap mengacu kepada waktu yang sama.

1. Setelah shalat isya

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَبِي بَكْرٍ مَتَى تُوتِرُ قَالَ أُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَقَالَ لِعُمَرَ مَتَى تُوتِرُ قَالَ آخِرَ اللَّيْلِ فَقَالَ لِأَبِي بَكْرٍ أَخَذَ هَذَا بِالْحَزْمِ وَقَالَ لِعُمَرَ أَخَذَ هَذَا بِالْقُوَّةِ

Dari Abu Qatadah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar, “Kapankah kamu melakukan shalat witir?” Jawabnya, ‘Aku melakukan shalat witir di awal malam. ” Beliau bertanya juga kepada Umar, “Kapan kamu melakukan shalat witir?” Jawabnya, “Di akhir malam. ” Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Bakar, “Ini berlaku hati-hati. ” Beliau bersabda kepada Umar,”Ini berpegang kepada keteguhan.” (HR. Tirmidzi No. 1434. Ahmad No. 309. Lafadz milik Tirmidzi)

2. Sepertiga Malam Terakhir

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرِّ وَأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَنَزَّلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Abu Abdullah Al Aghar dan Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita Tabaraka wata’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam terakhir, lantas Dia berfirman; ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengijabahinya, siapa yang meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuninya.” (HR. Bukhari No. 5846, Muslim, Ahmad)

3. Akhir Malam (waktu ini yang lebih afdol)

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ قَالَتْ كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ وَإِلَّا تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dan diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya Sulaiman berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Abu Ishaq dari Al Aswad berkata; “Aku bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha tentang cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat malam”. ‘Aisyah radliallahu ‘anha menjawab: “Beliau tidur di awal malam dan bangun untuk shalat di akhir malam dan shalat, lalu beliau kembali ke tempat tidurnya. Bila mu’adzin sudah mengumandangkan adzan, maka Beliau bersegera. Bila saat itu Beliau punya hajat (kepada isterinya), maka Beliau mandi. Bila tidak, maka Beliau hanya berwudhu’ lalu keluar untuk shalat”. (HR. Bukhari No. 1078)

4. Sepanjang Malam (ini untuk witir)

أَخْبَرَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ وَأَوْسَطِهِ وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ

Telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Manshur dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman dari Sufyan dari Abu Hishn dari Yahya bin Watstsab dari Masruq dari ‘Aisyah dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat witir pada permulaan malam, akhir, dan pertengahan malam. Beliau selesai shalat witir setelah menjelang Subuh.” (HR. Nasa’i 1663)

Bagikan Artikel Ini Ke