Pengertian dan Hukum Duduk Tawaruk”

Sedangkan duduk tawarruk adalah duduk dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan kaki kiri ke depan (di bawah kaki kanan), dan duduknya di atas tanah/lantai. Sedangkan duduk tawarruk adalah duduk seperti pada tasyahud akhir pada shalat empat raka’at (seperti pada shalat Zhuhur) (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, Al Maktabah At Taufiqiyah, 1/347).

Dengan kata lain duduk tawarruk adalah duduk yang menduduki tempat duduknya dan bukan duduk diatas kaki kiri, telapak kaki kiri dimasukan sebagaian kebagian kaki kanan, sedangkan kaki kanan tetap ditegakan. Duduk ini biasanya dilakukan ketika tasyahhud akhir baik pada shalat yeng berjumlah dua, tiga, atau empat rakaat. Sebagaimana riwayat Hadits berikut,

أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.

”Aku adalah orang yang paling menghafal diantara kalian tentang shalatnya Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -. Aku melihatnya tatkala bertakbir , menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’, beliau menetapkan kedua tangannya pada kedua lututnya, lalu meluruskan punggungnya. Dan jika beliau mengangkat kepalanya , maka ia berdiri tegak hingga kembali setiap dari tulang belakangnya ke tempatnya. Dan jika beliau sujud, maka beliau meletakkan kedua tangannya tanpa menidurkan kedua lengannya dan tidak pula melekatkannya (pada lambungnya), dan menghadapkan jari-jari kakinya kearah kiblat. Dan jika beliau duduk pada raka’at kedua, maka beliau duduk diatas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy), dan jika beliau duduk pada raka’at terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk diatas tempat duduknya – bukan di atas kaki kiri- (duduk tawarruk). (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 828)

Tawarruk Disunnahkan Pada Tasyahud Akhir

Berdasarkan hadits di atas, hukum duduk tasyahud akhir adalah wajib dilaksanakan karena menjadi salah satu rukun shalat. Adapun mazhab Syafi’i dan mazhab Hanbali menganggap duduk tasayahud akhir adalah bagian dari rukun shalat. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 15/267,268) Mazhab Hanafi menganggap itu hukumnya fardhu. Durasi waktu duduknya selama bacaan tasyahud hingga pada kalimat “Abduhu wa rasuluhu.”

Berdasarkan hadis tersebut duduk tasyahud akhir dan bacaannya adalah rukun salat yang wajib dilakukan. Dan ulama telah bersepakat bahwa duduk tasyahud akhir merupakan rukun salat. Imam An Nawawi mengatakan:

فمِن المجمَع عليه: النيَّة، والقعودُ في التشهُّد الأخير

“Diantara kesepakatan ulama, niat dan duduk tasyahud akhir (adalah rukun salat).” (Syarah Shahih Muslim, 4/107)

Hukum duduk tasyahud akhir hukumnya wajib karena termasuk rukun shalat, sedangkan duduk dengan model tawaruk hukumnya sunnah. Jadi bila pada saat tasyahud akhir duduknya menggunakan model iftirasy atau yang lainnya, maka hukum shalatnya tidak batal alias tetap sah.

Dengan begitu, jumhur ulama fikih berpendapat bahwa pada tasyahud awal disunnahkan untuk duduk iftirasy. Sedangkan pada tasyahud akhir yang disunnahkan adalah duduk tawaruk. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 14/148)

Perbedaan Laki-laki dengan Perempuan

Madzhab Hanafi membedakan, yakni duduk iftirasy disunnahkan bagi laki-laki, baik di tasyahud awal ataupun di tasyahud akhir. Sedangkan duduk tawaruk disunnahkan bagi perempuan, baik di tasyahud awal ataupun tasyahud akhir.

Madzhab Hanbali berpandangan bahwa duduk iftirasy pada tasyahud awal disunnahkan bagi laki-laki, ketika pada tasyahud akhir disunnahkan dengan duduk tawaruk. Sedangkan bagi perempuan bebas untuk memilih, mau bersila, atau seperti tawaruk tapi kaki kanan dihamparkan ke arah kanan sebagaimana kaki kiri, sebagaimana biasa dilakukan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha. (Ibnu Abidin, 1/321, 341, Al-Qawanin al-Fiqhiyah, 69)

Perbedaan Antara Shalat yang Memiliki Satu Tasyahud dan Dua Tasyahud

Madzhab Syafi’i berpandangan bahwa disunnahkan duduk tawaruk untuk shalat yang hanya ada satu tasyahud seperti shalat Shubuh, Shalat Jum’at, Shalat Hari Raya, Shalat Gerhana, dan Shalat Sunnah Lainnya.

Sebaliknya mazhab Hanbali berpandangan bahwa disunnahkan duduk iftirasy untuk shalat yang hanya ada satu tasyahud. Sebab duduk tawaruk hanya berlaku untuk shalat yang memiliki dua duduk tasyahud sebagai pembeda antara dua tasyahud tersebut. (Nihayatul Muhtaj, 1/520, Raudhatuth Thalibin, 1/261). Madzhab ini mendasarkan pendapatnya pada hadits riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُول: فِي كُل رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ، وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى، وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya mengucapkan tahiyyat pada setiap dua rakaat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy, pent).” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 498)

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke