Pengertian Amal

Amal adalah sebuah perbuatan sebagai tabiat bawaan manusia, bisa bersifat baik maupun bersifat buruk. Amal adalah setiap perbuatan manusia yang bersifat duniawiyah atau horizontal, baik perbuatan berupa personal maupun sosial. Amal ini adalah perbuatan yang bersifat netral (mutlak). Maksudnya adalah bila perbuatan ini dilakukan tidak mendapat pahala, dan begitu pula bila tidak dilakukan juga tidak akan mendapatkan dosa. Amal merupakan perbuatan-perbuatan yang bersifat kebiasaan yang muncul dari keinginan dan kebutuhan sebagai tabiat atau kecenderungan alami manusia. Di dalam amal meliputi beberapa hal berikut;

Muamalah

Muamalah atau juga disebut hukum perdata Islam, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hal-hal yang berhubungan dengan tata cara hidup sesama umat manusia untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari. Muamalah mengandung tujuan terciptanya hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga tercipta masyarakat yang rukun dan tentram. Menurut al-Fikri dalam kitabnya, “al-Muamalah al-Madiyah wa al-Adabiyah”, ruang lingkup muamalah ada dua;

Pertama, al-Muamalah al-Madiyah; yaitu suatu disiplin ilmu yang membahas perikatan dan transaksi antar manusia dilihat dari segi objeknya yang bersifat kebendaan. Esensinya: keuntungan yang didapatnya bersumber dari materi-materi yang baik sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah kelak di akhirat. Transaksi ini meliputi jual beli (al-bai’ al-tijarah), gadai (ar-rahn), jaminan dan tanggungan (kafalan dan dlaman), pemindahan utang (hiwalah), jatuh bangkrut (taflis), batasan bertindak (al-hajru), perseroan atau perkongsian (al-syirkah), persoalan harta dan tenaga (al-mudharabah), sewa-menyewa (al-ijarah), pemberian hak guna pakai (al-‘ariyah), barang titipan (al-wadi’ah) barang temuan (al-luqathah), garapan tanah (al-mujara’ah), sewa-menyewa tanah (al-mukharabah), upah (ujrat al ‘amal), gugatan (al-syuf’ah), sayembara (al-ji’alah), pembagian kekayaan bersama (al-qismah), pemberian (al-hibah), pembebasan (al-ibra), damai (al-shulhu), dan ditambah dengan beberapa masalah mu’ashirah (muhaditsah), seperti masalah bunga bank, asuransi, kredit, dan masalah-masalah baru lainnya.

Kedua, al-Muamalah al-Adabiyah, yaitu aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. yang wajib diikuti dari segi subjeknya. Esensinya adalah bagaimana cara memperoleh keuntungan yang bersifat duniawi tersebut secara vertikal tetap mendapatkan ridha Allah dan secara horizontal tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain, karena semua pada akhirnya akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah. Ruang lingkup muamalah yang bersifat adabiyah adalah ijab dan qabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, penimbunan, dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta dalam hidup bermasyarakat.

Akhlaq

Akhlak, atau disebut juga ihsan. Ia memiliki banyak dimensi, namun secara umum akhlaq adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Berarti akhlak bermakna perangai, tingkah laku, atau tabiat, entah itu tergolong terpuji (karimah) atau tercela (madzmumah).

مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ صَدَقْتَ

“Lalu dia (Jibril) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Dia berkata, ‘Kamu benar’. (HR. Muslim No. 11)

Disebut akhlaq karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran petunjuk Allah dan uswah Nabi, karena Allah mengutus Nabi tidak lain untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Terkadang akhlaq disebut etika karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran akal pikiran atau rasio. Dan terkadang akhlaq disebut moral karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran norma-norma yang tumbuh, berkembang, dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat). Sasaran akhlaq sendiri ada tiga arahnya: Akhlak manusia kepada Allah, Akhlak manusia kepada sesama manusia, dan Akhlaq manusia kepada lingkungan hidup.

Pada hakikatnya akhlaq adalah berbuat baik, meningkatkan, dan menambah nilai kebaikan dalam setiap perkara yang dilakukan oleh setiap orang. Dengan begitu, ihsan juga dapat disebut dengan akhlaq, adab, atau jalan tasawuf dalam menjalankan tugas hidup di dunia.

Akhlaq juga disebut ma’ruf atau amal shalih, yaitu segala perbuatan dan tingkah laku yang Allah cintai dan ridhai yang telah ditetapkan rinciannya dalam al-Qur’an dan Hadits. Amal saleh mencakup melakukan perbuatan (al-fi’l), seperti Shalat, maupun meninggalkan perbuatan (al-tark), seperti meninggalkan zina. Perkara-perkara yang berhukum mubah inilah yang dikenal dalam agama Islam dengan istilah amal shaleh, ma’ruf atau tradisi, yaitu hal-hal baik menurut agama namun tidak diatur secara spesifik dalam teks-teks al-Qur’an dan Hadits. Walau tidak diatur secara rinci dalam agama Islam, namun memiliki nilai-nilai ibadah bila diniatkan lillahi taala menurut pandangan umat Islam di suatu tempat dan di suatu era. Kebaikan yang diciptakan manusia juga dapat diterima dalam agama Islam, Nabi bersabda,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Baca Juga; Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke