Pengertian Akhlaq

Akhlak, atau disebut juga ihsan. Ia memiliki banyak dimensi, namun secara umum akhlaq adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Berarti akhlak bermakna perangai, tingkah laku, atau tabiat, entah itu tergolong terpuji (karimah) atau tercela (madzmumah).

مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ صَدَقْتَ

“Lalu dia (Jibril) bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ Dia berkata, ‘Kamu benar’. (HR. Muslim No. 11)

Disebut akhlaq karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran petunjuk Allah dan uswah Nabi, karena Allah mengutus Nabi tidak lain untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Terkadang akhlaq disebut etika karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran akal pikiran atau rasio. Dan terkadang akhlaq disebut moral karena pertimbangan baik buruknya perilaku manusia menggunakan ukuran norma-norma yang tumbuh, berkembang, dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat). Sasaran akhlaq sendiri ada tiga arahnya: Akhlak manusia kepada Allah, Akhlak manusia kepada sesama manusia, dan Akhlaq manusia kepada lingkungan hidup.

Pada hakikatnya akhlaq adalah berbuat baik, meningkatkan, dan menambah nilai kebaikan dalam setiap perkara yang dilakukan oleh setiap orang. Dengan begitu, ihsan juga dapat disebut dengan akhlaq, adab, atau jalan tasawuf dalam menjalankan tugas hidup di dunia.

Akhlaq juga disebut ma’ruf atau amal shalih, yaitu segala perbuatan dan tingkah laku yang Allah cintai dan ridhai yang telah ditetapkan rinciannya dalam al-Qur’an dan Hadits. Amal saleh mencakup melakukan perbuatan (al-fi’l), seperti Shalat, maupun meninggalkan perbuatan (al-tark), seperti meninggalkan zina. Perkara-perkara yang berhukum mubah inilah yang dikenal dalam agama Islam dengan istilah amal shaleh, ma’ruf atau tradisi, yaitu hal-hal baik menurut agama namun tidak diatur secara spesifik dalam teks-teks al-Qur’an dan Hadits. Walau tidak diatur secara rinci dalam agama Islam, namun memiliki nilai-nilai ibadah bila diniatkan lillahi taala menurut pandangan umat Islam di suatu tempat dan di suatu era. Kebaikan yang diciptakan manusia juga dapat diterima dalam agama Islam, Nabi bersabda,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Baca Juga; Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

Akhlaq merupakan perkara biasa yang semua orang melakukannya. Moral dan sopan santun berlaku pada semua manusia dan semua ummat. Setiap kita suka bila menjumpai seseorangnyang sangat berakhlaq. Hukum asal akhlaq adalah mubah, namun akhlaq akan bernilai pahala manakala diniatkan untuk mengharap ridha dari Allah. Di antara contohnya akhlaq, seperti berjabat tangan dan ucap salam saat berjumpa, berbicara sopan, tersenyum bila berjumpa, dan lain sebagainya.

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1926)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Surat Al-Isra’ Ayat 24)

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma’ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1879)

Baca Juga; Pengertian Amal Shalih atau Amaliah

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke