Pahala Orang Berpuasa

Muqaddimah

Puasa adalah amal ibadah yang paling istimewa dibandingkan dengan amal ibadah yang lainnya. Pada dasarnya, amal ibadah manusia akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. menjadi 10 kebaikan bahkan lebih dari itu. Tetapi, tidak dengan amalan puasa. Ibadah puasa adalah suatu amalan yang dilaksanakan oleh manusia yang mana pahalanya khusus untuk Allah SWT. Sehingga pahala dari ibadah tersebut tidak terhingga nilainya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1945)

Pahala Dari Ibadah Puasa

Segala amal kebaikan pada bulan Ramadhan nilai pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Menjadi sepuluh kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat dari kebaikan tersebut. Tapi, tidak dengan ibadah puasa, ibadah puasa pahalanya tidak sama dengan ibadah-ibadah tersebut.

Ibadah puasa pahalanya tidak terbatas. Maka dari itu, pahala dari ibadah puasa akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. dan hanya Allah yang mengetahui berapa banyak pahala dari ibadah puasa seseorang.

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, ”Karena orang yang menjalani puasa berarti menjalani kesabaran”. Perihal balasan orang-orang yang bersabar telah tercantum dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar: 10 , AllahSWT berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Seperti yang tertera pada ayat di atas bahwa balasan bagi orang yang bersabar dicukupkan pahalanya oleh Allah SWT. Tanpa ada batasannya. Sabar itu dibagi menjadi tiga macam, yaitu: Pertama, sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT. Kedua, sabar dalam meninggalkan suatu perkara yang haram. Dan yang ketiga, sabar dalam menghadapi takdir Allah SWT. Yang terasa menyakitkan.

Ketiga bentuk sabar di atas seluruhnya terdapat pada amal ibadah puasa. Di dalam ibadah puasa tentunya seorang Muslim menjalankannya dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT. Dan pada saat menjalankan ibadah puasa, seorang Muslim dituntut untuk bisa mengendalikan hawa nafsunya, seperti tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (Surat Ar-Ra’d Ayat 22)

Selain itu, dalam melaksanakan ibadah puasa seseorang juga berusaha sabar atas penderitaan yang menyakitkan dari ibadahnya, seperti menahan rasa lapar,dahaga dan juga lemas yang dirasakannya. Melihat betapa sabarnya seseorang yang melaksanakan ibadah puasa,sehingga Allah SWT. Membalas ibadahnya dengan pahala yang yang ternilai jumlahnya. Begitulah cara Allah dalam membalas orang-orang yang sabar dalam menjalankan perintahnya.

Puasa Adalah Ibadah yang Dikhususkan untuk Allah

Diriwayatkan oleh Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Riwayat hadits di atas menerangkan bahwa setiap amal ibadah yang dikerjakan oleh manusia akan kembali kepadanya. Namun,tidak dengan amal ibadah puasa, karena ibadah puasa adalah ibadah yang di khususkan untuk Allah SWT.

Mengapa Allah mengkhususkan ibadah puasa untuk-Nya?

Pertama, karena saat melaksanakan ibadah puasa, seseorang dituntut untuk bisa mengendalikan syahwatnya dan meninggalkan segala kesenangan yang dapat membatalkan puasanya. Hal tersebut tidak terdapat dalam amal ibadah lainnya. Nabi bersabda,

يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي

“Sebab, ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ (Hadits Muslim Nomor 1945)

Saat melaksanakan ibadah Ihram,seseorang diperintahkan untuk meninggalkan jima’ (berhubungan dengan istri) dan menjauhi macam-macam harum-haruman. Tetapi dalam ibadah ihram,kesenangan yang lainnya tidak ditinggalkan oleh seseorang yang sedang ihram.

Sama juga dengan ibadah shalat. Saat sedang shalat, mungkin kita diwajibkan untuk meninggalkan makan dan minum. Tetapi,itu hanya dilakukan dalam waktu yang cepat. Jika seseorang hendak melaksanakan shalat tetapi makanan telah dihidangkan, maka dia diperbolehkan untuk menunda shalatnya dan dianjurkan untuk menyantap makanan tersebut terlebih dahulu.

Jadi, di dalam beribadah puasa seseorang dituntut untuk melawan hawa nafsu dan mengendalikan syahwatnya, sesuatu semacam ini tidak dapat kita jumpai dalam amal ibadah yang lainnya.

Apabila seseorang telah melawan hawa nafsunya dengan cara menjauhi segala sesuatu yang dilarang oleh Allah dan dapat mengendalikan syahwatnya saat melaksanakan ibadah puasa dengan niat tulus mengharapkan pahala dari Allah, maka yang dilakukannya adalah bentuk keimanannya kepada Allah SWT. Dan inilah yang membedakan ibadah puasa dengan ibadah lainnya.

Seseorang yang melaksanakan ibadah puasa selalu merasa bahwa Allah SWT selalu mengawasinya walaupun dia sedang dalam keadaan sendiri. Dan dia telah meninggalkan berbagai macam tindakan yang dia anggap dapat menjadikan nilai ibadahnya menjadi sia-sia.

Dia berusaha untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT kepadanya, dan dia melakukan semua itu semata-mata hanya mengharapkan ridha Allah terhadap apa yang ia kerjakan dan takut akan siksa akhirat kelak.

Sebagian Ulama Salaf menyampaikan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabbnya yang tidak nampak di hadapannya”.

Maka dari itu, Allah SWT membalas seseorang yang melaksanakan ibadah puasa karena mengharapkan ridha-Nya dengan pahala yang tidak ternilai jumlahnya. Dan Allah SWT pun mengkhususkan amal ibadah puasa untuk-Nya dibandingkan dengan amal ibadah yang lainnya.

Kedua, ibadah puasa merupakan ibadah rahasia antara seorang hamba dan Tuhannya, dan tidak ada orang lain yang mengetahui ibadah tersebut. Dalam ibadah ini, seseorang diuji oleh Allah seberapa serius dia melaksanakan ibadah tersebut dan hanya Allah SWT yang mengetahui akan hal ini. Maka dari itu, Imam Ahmad mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).”

Dari dua alasan inilah, Allah mengkhususkan ibadah puasa untuk-Nya, berbeda dengan amal ibadah yang lainnya.

Kebahagiaan Dari Ibadah Puasa

Rasulullah shallallahu’alai wa sallam bersabda,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (Hadits Muslim Nomor 1945)

Kebahagiaan pertama bagi seseorang yang melaksakan ibadah puasa ialah pada saat dia berbuka puasa. Ketika waktu berbuka puasa, kebahagiaan menyantap makanan dan minuman lebih terasa dari pada saat seseorang tidak berpuas. Kenikmatan makanan dan minum ditambah oleh Allah saat seseorang melaksanakan ibadah puasa. Jika saat berpuasa seseorang dituntut untuk mengendalikan syahwatnya, maka saat berbuka dia senang karena hal itu diperbolehkan lagi baginya untuk dikerjakan.

Kebahagiaan yang kedua adalah mana kala seorang hamba berjumpa dengan Tuhannya dan dia akan bahagia dengan pahala dari amal ibadah puasanya yang diterima di sisi Allah SWT. Itulah balasan bagi seseorang yang taat dalam beribadah kepada Allah SWT.

Keutamaan Bau Mulut Orang-Orang Yang Sedang Berpuasa

Balasan bagi orang-orang yang berpuasa disebutkan juga dalam hadits di atas, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Kita mungkin mengetahui bahwa bau mulut orang yang melakukan ibadah puasa sangat tidak sedap apa lagi saat siang hari. Tetapi, bau mulut yang seperti ini yang justru lebih disukai Allah, karena bau ini merupakan wujud ketakwaan hambanya kepada Allah SWT. Seperti darah-darah orang yang mati syahid pada hari kiamat kelak oleh Allah baunya akan seperti minyak kasturi. Ada dua sebab harumnya bau mulut seseorang yang sedang berpuasa di sisi Allah SWT.

Puasa merupakan ibadah rahasia antara seorang hamba dengan Allah. Dan pada hari pembalasan kelak, Allah akan menampakkan amalan ibadah puasa ini sehingga orang yang melaksanakan puasa akan gembira karena mereka tidak sia-sia dalam menjalankan perintah Allah.

Allah akan memberitahukan amal ibadah puasa seorang hambanya kepada manusia yang lain dikarenakan sewaktu di dunia dia selalu menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain semata-mata dia melakukannya karena ingin mendapatkan ridha dari Allah SWT. Nabi bersabda,

لَرِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مِنْ وَرَاءِ عَوْرَةِ الْمُسْلِمِينَ مُحْتَسِبًا مِنْ غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ عِبَادَةِ مِائَةِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا وَرِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مِنْ وَرَاءِ عَوْرَةِ الْمُسْلِمِينَ مُحْتَسِبًا مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَعْظَمُ أَجْرًا أُرَاهُ قَالَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا فَإِنْ رَدَّهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِهِ سَالِمًا لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْهِ سَيِّئَةٌ أَلْفَ سَنَةٍ وَتُكْتَبُ لَهُ الْحَسَنَاتُ وَيُجْرَى لَهُ أَجْرُ الرِّبَاطِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sungguh ribath (menjaga perbatasan) satu hari di jalan Allah dari perbatasan kaum muslimin karena semata-mata mengharap ridla dari Allah, bukan pada bulan Ramadlan, maka pahalanya lebih besar ketimbang ibadah selama seratus tahun, baik puasanya maupun qiyamul lailnya. Dan ribath sehari di jalan Allah pada perbatasan kaum muslimin karena semata-mata mengharap ridla dari Allah pada bulan Ramadlan itu lebih utama di sisi Allah dan lebih besar pahalanya.” Aku melihat beliau bersabda: ‘Dari ibadah selama seribu tahun, baik puasanya maupun shalat malamnya, jika Allah mengembalikannya kepada keluarganya dalam keadaan selamat, tidak akan ditulis kejelekannya selama seribu tahun dan akan ditulis kebaikannya dan dialirkan pahala ribathnya sampai hari kiamat.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2758)

Bau mulut yang harum dari seseorang yang berpuasa akan dinampakkan oleh Allah SWT di hari pembalasan kelak, karena ketaatannya dalam menjalankan perintah-Nya. Dan Barang siapa yang ikhlas beribadah kepada Allah dengan penuh ketakwaan kepada-Nya dan melaksanakan perintah Allah SWT semata-mata karena mengharapkan ridha dari-Nya, jika muncul bekas yang tidak enak di dunia. Maka Allah SWT menyukai bekas tersebut di karenakan bekas ini merupakan wujud ketaatan hamba-Nya dalam mengharap ridha-Nya. Allah berfirman,

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. (Surat Az-Zumar Ayat 14)

Kemudian Rasulullah bersabda :

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. [HR. Abu Dawud dan Nasa’i]

Maka dari itu, Allah memberikan bau harum di mulut hamba-Nya yang berpuasa sebagai balasan atas ketaatan hamba-Nya dalam beribadah kepada-Nya. Dan bau tersebut sangatlah menyenangkan seluruh makhluk yang merasakan baunya.

Seperti itulah balasan bagi orang-orangyang melaksanakan amal ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan maupun ibadah puasa sunah yang lainnya karena keikhlasannya dalam beribadah kepada Allah SWT dan niat untuk mendapatkan ridha Allah SWT dari amal ibadah yang dia lakukan.

Semoga Allah SWT selalu menguatkan kita dalam menjalani perintahnya, dan dilancarkan urusan kita saat menjalani cobaannya dan semoga kita mendapatkan taufik dan hidayah-Nya. Amin

Oleh Ustadz Muhammad Azka Al-Amin, disempurnakan oleh K.H. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 40
    Shares