Orang yang Berlebihan dalam Beragama Akan Mudah Terkalahkan

Saat ini fenomena orang berebih-lebihan dalam beragama semakin terasa. Sampai-sampai ada orang yang berlebih-lebihan dalam beragama sampai memutus hubungan kekeluargaan dan persahabatan hanya karena alasan ingin memegang dan melaksanakan agama dengan benar. Padahal hal ini sama sekali tidak diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Muhammad Nur Hayid berpandangan bahwa beragama itu sebetulnya sederhana dan mudah. Dalam beragama tidak perlu berlebihan, sebab mereka yang menjalankan ajaran agama Islam yang berlebih-lebihan pasti akan mudah dikalahkan. Mereka yang bersikap ekstrim dalam beragama tentunya mudah untuk terjerumus pada emosi dan mudah untuk terpancing kemarahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit). (Hadits Bukhari Nomor 38)

Sikap ekstrim muncul dari kesombongan. Fir’aun adalah manusia yang dianggap melampaui batas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebab kesombongannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مِنْ فِرْعَوْنَ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ الْمُسْرِفِينَ

“dari (azab) Fir’aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui batas.” (Surat Ad-Dukhan Ayat 31)

Dengan begitu kesombongan merupakan salah satu penyebab sikap berlebihan muncul.

Sikap berlebih-lebihan juga muncul dari hawa nafsu yang menyesatkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 77)

Hawa nafsu mendorong seseorang merasa dirinya lebih suci dibandingkan orang lain. Mentang-mentang sudah rajin ibadah lalu menganggap orang lain tidak. Mentang-mentang dirinya berilmu lalu kemudian menganggap orang lain bodoh. Dan mentang-mentang sudah merasa telah mampu tidak melakukan kemaksiatan, dan merasa telah mampu menjauhi dosa kemudian menganggap dirinya sudah pasti suci dan sudah merasa berada dalam hidayah. Padahal pemikiran semacam itu sangat dikecam oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (Surat An-Najm Ayat 32)

Sikap merasa dirinya suci berdampak pada kecenderungan untuk menganggap orang lain kotor, hina, syirik, tersesat, bid’ah dan lain sebagainya. Mereka golongan yang ekstrim mengaku paling ahli Qur’an dan Sunah, namun kenyataannya prilakunya sama sekali tidak sesuai dengan teladan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Islam itu mudah dan Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 185)

Al-Qur’an merupakan ajaran agama Islam. Allah tidak menurunkan Al-Qur’an agar hambanya menjadi susah, letih, dan payah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;” (Surat Ta Ha Ayat 2)

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hendak menyulitkan umat manusia, sebagaimana dalam firman-Nya,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Surat Al-Ma’idah Ayat 6)

Dengan begitu Allah tidak hendak menjadikan urusan dalam agama Islam menjadi sempit dan menyusahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim.” (Surat Al-Hajj Ayat 78)

Allah telah memudahkan urusan dalam agama Islam, sebab Allah tidak akan membebani seseorang di atas kemampuannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (Surat Al-Mu’minun Ayat 62)

Oleh karena itu, amalkan ajaran agama Islam semampu kita, jangan memaksakan diri dalam beramal dan beribadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقُلْ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya Kami-pun berbuat (pula)”. (Surat Hud Ayat 121)

Beramal walaupun sedikit yang penting ikhlas, maka hal itu akan mudah mendatangkan ridha dari Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

“dari [Aisyah] radliallahu ‘anha bahwa dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya; “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Dia menjawab; ‘Yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit, lalu beliau bersabda: ‘Beramallah sesuai dengan kemampuan kalian.’ (Hadits Bukhari Nomor 5984)

Beribadalah semampunya walaupun tidak banyak, yang penting istiqamah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ و فَاكْلَفُوا مَا لَكُمْ بِهِ طَاقَةٌ

“Karena itu, beribadahlah kalian sesuai dengan kemampuan kalian.” Dan “Lakukanlah amalan yang sesuai dengan kemampuan kalian.” (Hadits Muslim Nomor 1847)

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memudahkan agama Islam, maka janganlah kita sebagai hambanya bersikap melampaui batas dengan malah berprilaku ekstrim, radikal, dan berlebih-lebihan sehingga mempersulit dirinya sendiri dan orang lain. Sebab mereka yang mempursulit orang lain akan menyebabkan orang kafir malah takut untuk mengenal dan memeluk agama Islam. Sedangkan orang Islam sendiri akan banyak alergi, menjauh, dan bahkan akan lari meninggalkan agama Islam yang sudah dipeluknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا

“Mudahkanlah (urusan) dan jangan dipersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (tidak tertarik untuk masuk agama Islam)”. (Hadits Bukhari Nomor 2811)

Janganlah kita bersikap ekstrim seperti mulutnya teriak takbir, namun tangannya menodongkan senjata. Berpakaian Islami dengan semua tertutup hingga ke wajah-wajahnya, namun tangannya melemparkan bom untuk meneror sehingga alergi terhadap agama Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا

“Hendaklah kalian mempermudah, jangan mempersulit, berilah kabar gembira jangan kalian jadikan manusia lari (alergi terhadap agama Islam), dan bersatu padulah.” (Hadits Bukhari Nomor 3998)

Jadilah pribadi-pribadi muslim yang memudahkan urusan agamanya, sehingga orang kafir yang ada di sekitar kita dan orang muslim di samping kita akan merasa tenang dan nyaman hidup bersama dengan kita dalam naungan panji-panji agama Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَسَكِّنُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah oleh kalian dan jangan mempersulit, buatlah hati mereka tenang dan jangan menakut-nakuti.” (Hadits Muslim Nomor 3264)

Sebaliknya, bila Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah meringankan urusan agama Islam bagi hamba dan umatnya, namun malah sebaliknya hamba dan umatnya sendiri yang mempersempit, mempersulit, dan memperberat dirinya sendiri dengan bersikap ekstrim dan radikal. Maka, tunggulah suatu masa di mana mereka akan mengalami kebinasaan bukan karena serangan musuh, namun karena berkobarnya api nafsu dan angkara murka ada dalam jiwanya sehingga akan mebakar dan menghancurkan dia dan golongannya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

“Janganlah kalian berlebih-lebihan (ekstrim dan radikal) dalam menjalankan ajaran agama, karena yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (Hadits Nasai Nomor 3007 dan Hadits Ibnu Majah Nomor 3020)

Dilarang memberatkan diri dalam menjalankan ajaran agama karena hal itu akan menjadi sebab kebinasaan umat Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تُشَدِّدُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَيُشَدَّدَ عَلَيْكُمْ فَإِنَّ قَوْمًا شَدَّدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ فَشَدَّدَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ فَتِلْكَ بَقَايَاهُمْ فِي الصَّوَامِعِ وَالدِّيَارِ { وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ } ثُمَّ غَدَا مِنْ الْغَدِ فَقَالَ أَلَا تَرْكَبُ لِتَنْظُرَ وَلِتَعْتَبِرَ قَالَ نَعَمْ فَرَكِبُوا جَمِيعًا فَإِذَا هُمْ بِدِيَارٍ بَادَ أَهْلُهَا وَانْقَضَوْا وَفَنُوا خَاوِيَةٍ عَلَى عُرُوشِهَا فَقَالَ أَتَعْرِفُ هَذِهِ الدِّيَارَ فَقُلْتُ مَا أَعْرَفَنِي بِهَا وَبِأَهْلِهَا هَذِهِ دِيَارُ قَوْمٍ أَهْلَكَهُمْ الْبَغْيُ وَالْحَسَدُ

“Janganlah kalian perberat diri kalian hingga Allah akan memperberatmu. Sungguh, ada suatu kaum yang suka memperberat diri mereka lalu Allah memperberat bagi mereka. Itulah pewaris-pewaris mereka yang ada di dalam biara-biara dan tempat peribadatan. Firman Allah: ‘(Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya….) ‘ -Qs. Al hadid: 27- Keesokan harinya Abu Umamah (bapakku) pergi menemui Anas, Anas lalu berkata, “Tidakkah kamu berkendaraan hingga kamu dapat melihat dan mengambil pelajaran?” Abu Umamah menjawab, “Baiklah.” Lalu mereka pergi, dan ternyata mereka berada pada sebuah perkampungan yang penduduknya telah binasa, dan musnah, atap-atap pada bangunannya juga telah berjatuhan. Anas bertanya, “Apakah kamu tahu kampung ini?” aku (Abu Umamah) menjawab, “Aku tidak tahu tentang kampung dan penduduk daerah ini.” Anas menerangkan, “Ini ada perkampungan suatu kaum yang Allah telah membinasakan mereka karena sifat melampaui batas (kedhaliman) dan hasad (dengki).” (Hadits Abu Daud Nomor 4258)

Tidak ada dalam beragama yang merepotkan umat Islam. Jadi, agar umat Islam tidak mudah dikalahkan oleh musuh-musuh Islam, dan agar agama Islam tidak mudah direndahkan oleh orang-orang kafir. Maka hendaklah umat Islam bersikap bersahabat kepada semua kalangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 159)

Salah satu jalan yang dapat ditempuh oleh umat Islam agar menjadi umat yang bersahabat adalah menjadi umat yang moderat (fleksibel) dan pertengahan (wasath), di mana sikap dan sifatnya tidak terlalu ekstrim kanan dan juga tidak terlalu ekstrim kiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan hendaklah kamu menjadi umat yang moderat dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) umat manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 143)

Sikap wasathiyah (moderat) inilah yang menjadi karakter dan manhaj (jalan hidup) golongan Sunni yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah dan jamaah (Ahlussunnah wal Jamaah).

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke