Orang Mati dan Orang Hidup Sejatinya Masih Berhubungan

Berdasarkan banyak dalil dan berdasarkan beberapa amalan yang tetap disyariatkan untuk dilakukan oleh orang yang masih hidup bagi orang yang sudah meninggal menunjukkan bahwa hakikatnya orang mati dan orang hidup masih berhubungan dan masih bisa saling memberikan kemanfaatan pahala.

Lalu, bagaimana dengan dalil yang diajukan oleh orang yang mengingkari pandangan tersebut di atas, bahwa orang yang telah meninggal dunia telah terputus amalnya?

Mari kita simak dulu dalilnya:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah (tidak lagi bisa menambah) segala amalan(usaha)nya kecuali (tetap mendapat aliran pahala dari) tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

Hadits itulah yang sering dijadikan dalil untuk menolak syariat amalan-amalan yang dapat dirasakan manfatnya oleh orang yang sudah meninggal dunia. Coba perhatikan! Adakah bunyi hadits tersebut memperlihatkan bahwa kirim manfaat dari sebuah amalan kepada orang yang sudah meninggal dunia dilarang? Sama sekali tidak ada. Jika yang menjadi alasan bahwa sudah tidak ada hubungan antara yang hidup dengan yang mati, maka perlu dipahami bahwa hadits di atas sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk memperlihatkan telah terputus hubungan antara yang hidup dengan yang mati.

Baca juga; Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Makna inqatha’a ‘anhu amaluhu adalah terputus amal si mayit. Maknanya, setelah kematiannya, si mayit tidak bisa lagi menambah amal dari hasil usahanya sendiri (selain 3 perkara yang dikecualikan). Mengapa tidak bisa? Karena dia telah meninggal dunia. Si mayit tidak lagi bisa menambah amal shalatnya, zakatnya, sedekahnya, hajinya, dan sebagainya, karena kemampuannya untuk melakukan itu sudah tidak ada. Dia telah meninggal dunia.

Walaupun dia yang meninggal sudah tidak bisa mengerjaka sendiri, namun amalan tersebut dapat dikerjakan oleh orang lain yang orang hidup. Sedangkan manfaat dan pahalanya tetap bisa dirasakan oleh orang yang sudah meninggal. Berikut daftar amalan yang mana orang mati bisa merasakan manfaatnya;

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Diziarahi Kuburnya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Doa

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Pelunasan Hutangnya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Pemuliaan Teman-temannya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Penunaian Janjinya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Taburan Bunga dan Siraman Air di Atas Kuburannya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terjaganya Hubungan Kekerabatannya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terjaganya Nama Baiknya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terjaganya Silaturahminya

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Manfaat Terlaksananya Wasiat

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Bacaan Al-Fatihah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Bacaan Al-Qur’an

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Bacaan Surat Yasin

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Dzikir

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Haji

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Puasa

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Sedekah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Shalat Jenazah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Tahlilan

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Umrah

Orang Mati Masih Dapat Menerima Kiriman Pahala Yasinan

Sudah sangat jelas, meskipun telah meninggal dunia tidak berarti hubungannya dengan yang hidup terputus. Yang hidup dengan yang mati masih menjalin hubungan. Dan orang mati masih bisa merasakan amalan ibadah yang dikerjakan dan diwakilkan oleh orang yang masih hidup

Baca juga; Hukum Menggantikan dan Mewakilkan Ibadah

Apa buktinya? Anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada setiap Muslim agar mengucapkan salam saat melewati kompleks pemakaman kaum Muslimin.

Abu Hurairah radliallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengunjungi kuburan seraya mengucapkan;

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ

“Semoga keselamatan untuk kalian wahai penghuni rumah kaum Mukminin, insya Allah kami akan menyusul kalian.” (HR Muslim)

Panggilan salam yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ahli kubur memperlihatkan terjalinnya hubungan antara yang hidup dengan yang mati. Meskipun jasad mereka mati dan hancur di dalam bumi namun ruh mereka hidup dan mengetahui salam yang disampaikan oleh yang hidup untuk mereka. Jika hubungan itu tidak terjalin tentulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan mengajarkan ucapan salam untuk mereka karena ia hanya akan menjadi sebuah kesia-siaan, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekali-kali takkan mengajarkan kepada umatnya sesuatu yang sia-sia.

Orang yang sudah wafat pun mengetahui apa yang diamalkan oleh orang yang hidup. Bahkan orang yang ada dalam kubur mengetahui dan bahkan merasa bahagia ketika kuburannya diziarahi. Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

“Dan katakanlah, beramallah kamu, niscaya Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang Mukmin (yang sudah meninggal) akan melihat amalmu itu” (QS. At-Taubah [9]: 105)

Baca juga; Orang Mati Masih Mengetahui Keadaan Orang Yang Masih Hidup

Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menuliskan bahwa amal orang-orang yang masih hidup diperlihatkan kepada kaum kerabat dan kabilahnya yang telah meninggal dunia di alam barzahnya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud Ath-Thayalisi dari Jabir bin Abdullah radliallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِنَّ اَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى اَقْرِبَائِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اِسْتَبْشَرُوْا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ قَالُوْا: اَللَّهُمَّ الْهِمْهُمْ اَنْ يَعْمَلُوْا بِطَاعَتِكَ

“Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan (diperlihatkan) kepada kaum kerabat dan famili kalian di alam kubur mereka. Jika amal perbuatan kalian itu baik, maka mereka merasa gembira dengannya. Dan jika amal perbuatan mereka itu sebaliknya, maka mereka berdoa, “Ya Allah, berilah mereka ilham (kekuatan) untuk melakukan ketaatan kepada-Mu.”

Berdasarkan penjelasan tersebut jelaslah bahwa kematian seseorang tidaklah membuat terputusnya hubungannya dengan orang lain (apalagi keluarga) yang masih menjalani kehidupan di dunia. Itulah sebabnya, pendapat orang yang tidak mau mengamalkan ibadah dan kebaikan-kebaikan dengan pahalanya dikirimkan kepada orang yang sudah meninggal dengan alasan orang yang telah meninggal dunia telah putus hubungan dengannya merupakan pendapat yang menyalahi syariat Islam dan wajib ditolak.

Sudah sangat jelas bahwa hakikatnya orang mati dan orang hidup masih berhubungan dan masih bisa saling memberikan kemanfaatan pahala, seperti orang yang berziarah kubur mendapatkan pahala ziarahnya dan ahli kubur juga mendapat manfaat dari doa yang dipanjatkan para peziarah.

Sekali lagi, kirim manfaat dan kirim pahala dari amal dan ibadah yang dilakukan oleh orang yang masih hidup untuk mereka yang sudah meninggal merupakan syariat agama yang sangat disunnahkan kepada umat Islam.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke