Nabi Pernah Jatuh Cinta Pada Seorang Wanita Cantik

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Fitrah manusia adalah suatu naluri alami yang tidak bisa dilarang, juga tidak bisa dihalang-halangi kedatangannya, karena ia merupakan rasa yang timbul secara alami pada diri manusia. Fitrah manusia merupaka sesuatu yang diciptakan Allah sejak awal penciptaannya, fitrah ini biasanya juga disebut dengan sunnatullah. Melarang munculnya sunnatullah merupakan sesuatu yang tidak mungkin dan bertentangan dengan kodrat.

Alangkah baiknya baca artikel ini lebih dahulu: Islam Merupakan Agama Fitrah

Di antara fitrah manusia adalah memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis atau biasa disebuh jatuh cinta, Islam adalah agama yang tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia, maka Islam tidak pernah mempersoalkan perasaan ini. Karena perasaan cinta dipandang sebuah fitrah alami setiap manusia, maka Islam memandangnya sebagai hukum yang diperbolehkan atau mubah. Al-Quran menerangkan bahwa rasa kecendrungan/jatuh cinta merupakan fitrah dasar manusia.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali ‘Imran: 14)

Namun boleh tidaknya tergantung bagaimana kita menyikapinya, bila kita menyalurkan perasaan cinta tersebut tidak melanggar syariat maka hukumnya halal, sedangkan bila kita dalam mengolah perasaan tersebut melanggar syariah maka hukumnya haram. Maka, tidak ada dosa bagi seseorang yang memiliki ketertarikan terhadap lawan jenisnya, suka dan cinta yang tumbuh dalam dirinya secara natural.

Persoalannya bukan pada munculnya perasaan tersebut, namun titik beratnya lebih pada penyikapannya. Islam dalam hal ini tidak terlalu perduli dengan perasaannya, namun fokusnya lebih pada pengelolaan terhadap perasaan ini. Ia akan menjadi salah jika dikelola dengan salah, dan ia akan menjadi benar ketika dikelola dengan benar. Bahkan perasaan ini dapat mendatangkan pahala bila dikelola sesuai dengan syariat sebagaimana perasaan ini kemudian diwujudkan ke dalam mahligai rumah tangga yang diniatkan ibadah.

Maka yang terpenting bukan masalah jatuh cintanya, tapi bagaimana mengelola rasa jatuh cinta tersebut saat ia muncul. Nabi sendiri juga pernah memiliki perasaan cinta terhadap seorang wanita melebihi wanita lainnya, sehingga perasaan cinta Nabi ini juga pernah menimbulkan cemburu dari perasaan cinta yang lainnya, hal ini telah digambarkan dalam sebuah hadits,

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ دَخَلَ عَلَى حَفْصَةَ فَقَالَ يَا بُنَيَّةِ لَا يَغُرَّنَّكِ هَذِهِ الَّتِي أَعْجَبَهَا حُسْنُهَا حُبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاهَا يُرِيدُ عَائِشَةَ فَقَصَصْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَبَسَّمَ

dari [Umar] radliallahu ‘anhum, bahwa ia menemui Hafshah dan berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu sampai terperdaya. Wanita inilah yang memang membuatnya cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ta’ajub lantaran kecantikan wajahnya.” Maksudnya adalah Aisyah. Lalu aku pun menceritakannya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau pun tersenyum. (HR. Bukhari Nomor 4817)

Itulah cinta yang akan menjadi anugrah bagi yang mampu mengolahnya dengan baik dan akan menjadi bencana bila kita salah dalam mengelolanya.