Nabi Muhammad SAW Pernah Marah

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Fitrah manusia adalah suatu naluri alami yang tidak dapat ditolak, juga tidak bisa dicegah kedatangannya, karena ia merupakan rasa yang timbul secara alami pada diri manusia. Fitrah manusia merupaka sesuatu yang diciptakan Allah sejak awal penciptaannya, fitrah ini biasanya juga disebut dengan sunnatullah. Melarang munculnya sunnatullah merupakan sesuatu yang tidak mungkin dan bertentangan dengan kodrat.

Alangkah baiknya baca artikel ini lebih dahulu: Islam Merupakan Agama Fitrah

Di antara fitrah manusia adalah perasaan marah, Islam adalah agama yang tidak pernah bertentangan dengan fitrah manusia, maka Islam tidak pernah mempersoalkan perasaan ini. Karena rasa amarah memang dipandang sebuah fitrah alami setiap manusia, maka Islam memandangnya sebagai hukum yang diperbolehkan atau mubah. Al-Quran menerangkan bahwa rasa marah merupakan fitrah dan tabiat dasar manusia.

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ ۖ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

“Dan manusia mendoa untuk kejahatan (keburukan) sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa (emosional). (QS. Al-Isra’: 11)

Hampir semua manusia nyaris tidak bisa mengelak dari kemarahan, termasuk juga nabi. Nabi juga pernah mengalami marah karena beliau sendiri mengatakan bahwa beliau hanya manusia biasa, Nabi bersabda,

كَانَ حُذَيْفَةُ بِالْمَدَائِنِ فَكَانَ يَذْكُرُ أَشْيَاءَ قَالَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ حُذَيْفَةُ إِلَى سَلْمَانَ فَيَقُولُ سَلْمَانُ يَا حُذَيْفَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْضَبُ فَيَقُولُ وَيَرْضَى وَيَقُولُ لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي سَبَبْتُهُ سَبَّةً فِي غَضَبِي أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً فَإِنَّمَا أَنَا مِنْ وَلَدِ آدَمَ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُونَ وَإِنَّمَا بَعَثَنِي رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ فَاجْعَلْهَا صَلَاةً عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Hudzaifah berada di Mada`in, ia menyebut banyak hal yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian Hudzaifah mendatangi Salman lalu [Salman] berkata: Hai Hudzaifah! Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu kadang marah lalu bersabda, kadang senang lalu bersabda, aku tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah lalu bersabda: “Siapa saja dari ummatku yang aku cela saat aku marah atau aku laknat, sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, aku marah seperti halnya kalian marah, sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat untuk seluruh alam maka jadikanlah itu sebagai doa baginya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad Nomor 22593)

Dalam kondisi lain Nabi SAW juga pernah marah, dalam sabdanya,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا آلَى لِأَنَّ زَيْنَبَ رَدَّتْ عَلَيْهِ هَدِيَّتَهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لَقَدْ أَقْمَأَتْكَ فَغَضِبَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَآلَى مِنْهُنَّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan Ila` (sumpah tidak akan meniduri isterinya) karena Zainab mengembalikan hadiah pemberian beliau. ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya ia telah merendahkanmu.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam marah dan meng-Ila` mereka.” (HR. Ibnu Majah Nomor 2050)

Bukan hanya nabi saja yang pernah marah, beberapa sahabat beliaupun juga pernah menampakkan rasa amarahnya di hadapan Nabi, dalam sabda Nabi,

اسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَ صَوْتَ عَائِشَةَ عَالِيًا فَلَمَّا دَخَلَ تَنَاوَلَهَا لِيَلْطِمَهَا وَقَالَ أَلَا أَرَاكِ تَرْفَعِينَ صَوْتَكِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْجِزُهُ وَخَرَجَ أَبُو بَكْرٍ مُغْضَبًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خَرَجَ أَبُو بَكْرٍ كَيْفَ رَأَيْتِنِي أَنْقَذْتُكِ مِنْ الرَّجُلِ قَالَ فَمَكَثَ أَبُو بَكْرٍ أَيَّامًا ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَهُمَا قَدْ اصْطَلَحَا فَقَالَ لَهُمَا أَدْخِلَانِي فِي سِلْمِكُمَا كَمَا أَدْخَلْتُمَانِي فِي حَرْبِكُمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ فَعَلْنَا قَدْ فَعَلْنَا

“Abu Bakar -semoga Allah merahmatinya- memohon izin untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ketika akan masuk ia mendengar suara ‘Aisyah meninggi (seperti orang marah). Maka ketika Abu Bakar telah masuk ia memegang ‘Aisyah untuk memukulnya seraya berkata, “Kenapa aku melihat kamu mengeraskan suara di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghalanginya hingga Abu Bakar keluar dengan membawa marah. Saat Abu Bakar keluar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana pendapatmu ketika aku selamatkan kamu dari seorang laki-laki (murka Abu Bakar)?” Nu’man berkata, “Abu Bakar lalu berdiam diri di dalam rumah selama beberapa hari, setelah itu ia memohon izin lagi untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ia mendapati keduanya telah berbaikan. Lantas ia berkata kepada keduanya, “Sertakanlah aku dalam kedamaian kalian sebagaimana kalian telah menyertakanku dalam kemarahan kalian.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menimpali: “Kami telah lakukan, kami telah lakukan.” (HR. Abu Daud Nomor 4347)

Ini menunjukkan bahwa kemarahan merupakan fitrah asal manusia, bila manusia merasa dikecewakan dan atau kurang diperhatikan niscaya perasaan marah itu lumrah timbul. Dalam hal ini sebetulnya tidaklah terlalu penting timbulnya sebuah kemarahan bila ia memang sudah menjadi watak dan tabiat dasar manusia. Namun yang terpenting adalah bagaimana cara mengendalikan diri saat kita menghadapi rasa amarah. Dalam sebuah sabda Nabi disampaikan,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang paling kuat bukanlah orang yang tidak dapat dikalahkan oleh orang lain. Tetapi orang yang paling kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika ia sedang marah.” (HR. Muslim Nomor 4723)

Hal ini menunujukkan bahwa kehebatan manusia bukan ketika dia tidak punya rasa marah atau dia dapat melampiaskan kemarahannya, namun kehebatan manusia terletak pada mereka yang mampu mengendalikan rasa amarahnya sehingga tidak sampai berdampak pada timbulnya kerugian kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Sebagaimana firman Allah saat mengingatkan nabi untuk tidak marah kepada umatnya sebagaimana kemarahan Nabi Yunus kepada umatnya, Allah SWT berfirman,

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ

Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). (QS. Al-Qalam Ayat 48)

Kemarahan itu dibenarkan bila didasari karena ingin menegakkan kebaikan dan tidak terselubung oleh rasa kebencian, sebagaimana sabda Nabi,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ فَغَضِبَ حَتَّى احْمَرَّ وَجْهُهُ فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَحَكَّتْهَا وَجَعَلَتْ مَكَانَهَا خَلُوقًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَحْسَنَ هَذَا

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat dahak di kiblat masjid hingga beliau marah dan memerah wajahnya. Kemudian datanglah seorang wanita Anshar kepada beliau seraya mengerik dan memberi wewangian pada bekasnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “Alangkah bagusnya ini.” (HR. Ibnu Majah Nomor 754)

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ فَأَحْرَمْنَا بِالْحَجِّ فَلَمَّا قَدِمْنَا مَكَّةَ قَالَ اجْعَلُوا حِجَّتَكُمْ عُمْرَةً فَقَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ أَحْرَمْنَا بِالْحَجِّ فَكَيْفَ نَجْعَلُهَا عُمْرَةً قَالَ انْظُرُوا مَا آمُرُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا فَرَدُّوا عَلَيْهِ الْقَوْلَ فَغَضِبَ فَانْطَلَقَ ثُمَّ دَخَلَ عَلَى عَائِشَةَ غَضْبَانَ فَرَأَتْ الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ فَقَالَتْ مَنْ أَغْضَبَكَ أَغْضَبَهُ اللَّهُ قَالَ وَمَا لِي لَا أَغْضَبُ وَأَنَا آمُرُ أَمْرًا فَلَا أُتْبَعُ

Rasulullah bersama dengan para sahabat menemui kami, maka kami melakukan ihram untuk haji. Tatkala kami sampai di Makkah, beliau bersabda: “Ubahlah haji kalian menjadi ‘umrah.” Maka para sahabat bertanya; ‘Wahai Rasulullah, kita telah berihram untuk haji, bagaimana kami mengubahnya menjadi ‘umrah? ‘ Beliau bersabda: ‘Perhatikan apa yang aku perintahkan kepada kalian dan kerjakanlah.’ Tetapi mereka menolak sabdanya sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah dan pergi kemudian masuk menemui ‘Aisyah dalam keadaan marah, maka ‘Aisyah melihat kemarahan di wajahnya dan berkata; ‘Siapa yang membuat kamu marah maka telah membuat marah Allah.’ Beliau bersabda: ‘Bagaimana aku tidak marah, sedang aku memerintahkan suatu perintah tapi tidak diikuti.’ (HR. Ibnu Majah Nomor 2973)

Walaupun kemarahan untuk menegakkan kebaikan, agama tetap membatasi untuk tidak berlebihan dan berdampak pada sikap aniaya, Allah berfirman,

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (QS. Asy-Syura: 42)

Walaupun amarah itu menjadi fitrah manusia yang dibenarkan, namun untuk bersikap sabar itu jauh lebih baik dan utama

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS. Asy-Syura: 43)

Hal yang juga sangat penting adalah ketika kita sedang marah adalah tahan diri jangan bertindak mengambil keputusan, karena itu dampaknya pasti akan buruk, nabi bersabda,

لَا تَقْضِيَ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَأَنْتَ غَضْبَانُ فَإِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَقْضِيَنَّ حَكَمٌ بَيْنَ اثْنَيْنِ وَهُوَ غَضْبَانُ

‘Jangan engkau mengadili diantara dua orang ketika engkau marah, sebab aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Seorang hakim dilarang memutuskan antara dua orang ketika marah.” (HR. Bukhari Nomor 6625)

Untuk kita bisa berlaku sabar, maka hendaklah kita selalu berusaha menghindari dan menjahui situasi-situasi yang menyebabkan kita menjadi marah, nabi bersabda dalam sebuah haditsnya yaitu jauhila sesuatu yang dapat menyebabkan kita marah,

اجْتَنِبْ الْغَضَبَ ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ فَقَالَ اجْتَنِبْ الْغَضَبَ

“Jauhilah (sesuatu yang dapat menyebabkan) marah.” Orang itu mengulangi lagi lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Jauhilah (sesuatu yang dapat menyebabkan) marah.” (HR. Ahmad Nomor 22371)

Salah satu penyebab marah adalah gangguan-ganguan dari bisikan syetan, agar kita terhindar dari gangguan syetan yang menyebabkan kita marah, nabi membekali umatnya suatu bacaan dzikir untuk dapat melenyapkan rasa amarah manusia, nabi bersabda,

اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَغَضِبَ أَحَدُهُمَا فَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى انْتَفَخَ وَجْهُهُ وَتَغَيَّرَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ الَّذِي يَجِدُ فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ الرَّجُلُ فَأَخْبَرَهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ فَقَالَ أَتُرَى بِي بَأْسٌ أَمَجْنُونٌ أَنَا اذْهَبْ

“Dua orang laki-laki saling mencaci maki di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata salah seorang di antara keduanya sangat marah hingga mukanya berubah menjadi merah. Lalu Rasulullah bersabda: ‘Sungguh aku mengetahui satu kalimat yang seandainya diucapkan, maka marahnya akan hilang.” Lalu orang yang mendengar ucapan beliau beranjak pergi dan mengabarkan kepadanya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya; “Berlindunglah kepada Allah dari Syetan.” laki-laki yang marah tersebut berkata; ‘Apakah kamu menganggap saya ada masalah, sudah gilakah saya, pergilah?” (HR. Bukhari Nomor 5588)

Kemarahan tidak perlu disesali namun cukup disikapi saja, karena amarah itu memang watak dan tabiat yang sudah difitrahkan oleh Allah untuk melekat pada diri manusia. Yang terpenting adalah bagaimana amarah kita tidak sampai merugiakan orang lain dan kemarahan kita tidak didasari oleh kebencian. Namun begitu Allah dan nabi mengatakan bahwa walaupun kemarahan itu dibenarkan namun alangkah lebih indahnya dan utamanya bila manusia lebih memilih sabar. Semoga kita diberi kesabaran oleh Allah dalam menghadapi keadaan sekitar yang tidak menentu ini. Amin.