Nabi Juga Bercengkrama

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bercengkrama, bercanda dan bersandau gurau merupakan sesuatu yang sangat mengasyikan, apalagi dengan teman, kerabat, dan keluarga. Lebih asyik lagi bila aktifitas ini didampingi secangkir minuman dan makanan kecil. Kegiatan ini banyak orang melakukannya, baik di rumah saat pulang kerja, di kantor di sela-sela jam istirahat, di café, ataupun di ruang-ruang umum lainnya. Bercengkrama selama tidak mengandung hal-hal yang negative hukumnya mubah karena ini bagian dari kebiasaan, budaya, tradisi yang baik, dan tergolong ‘Urf yang disebut fitrah manusia. Memang bercengkrama tidak dilarang oleh agama, apalagi nabi juga sering melakukannya. Nabi SAW bersabda,

Alangkah baiknya baca artikel ini lebih dahulu: Islam Merupakan Agama Fitrah

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ وَفِي سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ قَالَتْ بَنَاتِي وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ مَا هَذَا الَّذِي أَرَى وَسْطَهُنَّ قَالَتْ فَرَسٌ قَالَ وَمَا هَذَا الَّذِي عَلَيْهِ قَالَتْ جَنَاحَانِ قَالَ فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ قَالَتْ أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلًا لَهَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ

dari [‘Aisyah radliallahu ‘anha] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba dari perang Tabuk atau Khaibar, sementara kamar ‘Aisyah ditutup dengan satir. Ketika ada angin yang bertiup, satir itu tersingkap hingga boneka-bonekaan ‘Aisyah terlihat. Beliau lalu bertanya: “Wahai ‘Aisyah, ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Anak-anak bonekaku.” Lalu beliau juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya: “Lalu suatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Boneka Kuda.” Beliau bertanya lagi: “Lalu yang ada di bagian atasnya ini apa?” ‘Aisyah menjawab, “Dua sayap.” Beliau bertanya lagi: “Kuda mempunyai dua sayap!” ‘Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?” ‘Aisyah berkata, “Beliau lalu tertawa hingga aku dapat melihat giginya.” (HR. Abu Daud Nomor 4284)

Artikel Terkait:

Dalam Bercengkrama Harus Diperhatikan Dan Dihindari Hal-Hal Berikut;

  1. Tidak ada unsur kedustaan.
  2. Tidak ada unsur penghinaan dan pelecehan.
  3. Tidak ada unsur ghibah atau gunjingan.
  4. Tidak ada unsur saling merugikan.
  5. Tidak ada unsur melalaikan kewajiban baik kepada orang lain maupun kepada Allah.
  6. Tidak ada unsur kejorokan atau kemaksiatan.

Berikut Manfaat Bercengkrama Menurut Kesehatan:

Banyak sekali manfaat bercengkrama bagi peningkatan kuwalitas hidup kita. Di antaranya adalah:

  1. Sebagai sarana melepaskan ganjalan batin yang terpendam secara ringan tanpa membuat lawan bicara merasa tirsinggung. Dengan mengeluarkan segala isi hati, mereka akan memperoleh ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan ketentraman pikiran.
  2. Menghangatkan dan merekatkan hubungan antar sesama.
  3. Mengantisipasi permasalahan sebelum muncul ke permukaan, karena dengan bercengkrama kita mampu mendeteksi uneg-uneg dalam hubungan.
  4. Menyelaraskan persepsi dalam hubungan, sehingga hubungan akan lebih mudah dijalanan kedepannya. Krena tidak jarang hubungan kita denga orang lain grafiknya naik turun.
  5. Dengan bercengkrama hubungan kita dengan orang lain menyebabkan meningkatnya respek dan saling menghargai.
  6. Meningkatkan nilai kepercayaan diri disebabkan kita tahu nahwa orang-orang di sekitar kita dalam kondisi baik-baik saja[i].

Islam memang indah dan ramah, bagi kita yang mau berilmu dan mendalami sunnah yang dicontohkan nabi. Walaupun Muhammad seorang nabi yang mulia dan maksum, bukan berarti nabi seseorang yang sangat kaku dalam menjalani kehidupan pribadinya. Namun Islam akan terasa kaku bagi mereka yang tidak mau lebih mendalami kepribadian Nabi, dan mereka yang salah persepsi bahwa dianggapnya Islam hanya berkutat di persoalan-pesoalan syari’at saja. Padahal nabi banyak mencontohkan prilaku-prilaku dari sisi kemanusiaannya. Tidak ada larangan dan tidak ada keusilan agama terhadap fitrah manusia selama tidak ada unsur keingkaran terhadap Allah selaku dzat pencipta. Allah berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah.” (QS. Ar-Rum: 30)

كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah” (QS. Muslim Nomor 4807)


[i] Karim Asy-Sadzili