Mudawamah Dan Istiqomah Dalam Beramal Ibadah

Alhamdulillah dalam kesempatan kali ini kami akan mengkaji suatu perkara tentang cara beramal dalam suatu ibadah yang menurut Allah lebih baik meskipun dilakukan sedikit. Karena itulah sangat penting bagi umat Islam untuk mengetahuinya, dengan harapan agar umat Islam dapat selalu mengamalkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Amalan yang baik menurut Nabi adalah bila amal tersebut dilakukan tidak hanya sekali saja. Namun bila dilakukan secara terus menerus (mudawamah-kontinyu) dan dilakukan dengan sikap yang teguh (istiqamah-konsisten). Karena, sikap mudawamah dan istiqamah dalam beribadah akan menyebabkan kita menjadi dekat kepada Allah.

Ibadah bukan hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, Rajab atau Sya’ban saja. Sebaik-baik ibadah adalah yang dilakukan sepanjang tahun. Maksudnya, beribadahlah secara kontinu dan konsisten sepanjang tahun dan jangan hanya beribadah pada bulan Ramadhan saja. Kecuali memang ibadah-ibadah tersebut disyariatkan secara khusus pada waktu-waktu tertentu, seperti ibadah puasa dan shalat tarawih yang memang dikhususkan pada bulan Ramadhan saja.

Begitu pula amalan suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang rutin dan bukan musiman pada waktu atau bulan tertentu. Itulah yang beliau contohkan kepada kita. Sebagaimana makna yang dapat kita fahami dari sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ سَأَلْتُ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ قَالَ قُلْتُ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ كَيْفَ كَانَ عَمَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ كَانَ يَخُصُّ شَيْئًا مِنْ الْأَيَّامِ قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَطِيعُ

“dari [Alqamah] ia berkata; Saya bertanya kepada Ummul mukminin [Aisyah], “Wahai Ummul mukminin, bagaimanah amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Apakah beliau mengkhususkan suatu amalan pada hari tertentu?” Aisyah menjawab, “Tidak, amalan beliau adalah terus menerus (kontinyu). Dan siapa pun kalian, pasti akan mampu melakukan amalan yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mampu melakukannya.” (Hadits Muslim Nomor 1304)

Tanda amal yang diterima

Diterima atau tertolaknya sebuah amal-ibadah memang sulit diukur. Manusia–siapapun dia–tidak boleh menjatuhkan putusan atas penerimaan atau penolakan amal seseorang atau dirinya sendiri. Tetapi kita hanya dapat melihat tanda-tanda penerimaan Allah atas amal kita.

Syekh Ibnu Athaillah radiallahu anhu menyebut tanda-tanda penerimaan Allah Subhaanahu wa Taala dalam hikmah berikut ini.

مَنْ وَجَدَ ثَمْرَةُ عَمَلِهِ عَاجِلاً فَهُوَ دَلِيْلٌ عَلَى وُجُوْدِ القبُوْلِ

Artinya, “Siapa yang memetik buah dari amalnya seketika di dunia, maka itu menunjukkan Allah menerima amalnya.”

Maksudnya adalah di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya. Ibnu Rajab menjelaskan hal di atas dengan membawakan perkataan salaf lainnya, ”Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama.Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

Pentingnya beramal secara istiqomah.

Amalan ibadah yang sangat disukai Allah ialah amalan yang dilakukan secara mudawamah walaupun amal yang dilakukan hanya sedikit. Dan juga amalan yang kita lakukan secara mudawamah akan mengungguli amalan-amalan yang lain yang hanya dilakukan sesaat meskipun jumlahnya lebih banyak dari amalan yang kita lakukan dengan mudawamah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari disebutkan bahwa amal ibadah yang dilakukan secara mudawamah dimaksudkan sebagai bentuk pengabdian diri seseorang kepada tuhannya. Bukan dikarenakan tujuan lain, sehingga penyebab masuknya seseorang ke dalam surga bukanlah ritual ibadahnya, namun karena sikap penghambaannya sehingga mendapat ridha dari Allah. Wujud sikap penghambaan seseorang tersebut dapat ditandai dengan rutinnya ibadah yang dilakukan meskipun kuantitas ritual ibadahnya hanya sedikit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Beramallah sesuai dengan sunnah dan berlaku imbanglah, dan ketahuilah bahwa salah seorang tidak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yang dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit.” (Hadits Bukhari Nomor 5983)

Janganlah beramal ibadah namun dilakukan secara musiman. Sekali ibadah dilakukan dengan jumlah yang sangat banyak namun kemudian tidak pernah lagi dikerjakan. Banyak sedikitnya amal ibadah seseorang tidaklah dapat diukur seberapa jumal ibadah yang dilakukan oleh seseorang. Sebab masing-masing dari seseorang memiliki kadar kemampuan yang berbeda.

Bisa jadi seseorang beribadah terlihat banyak namun sebetulnya ibadahnya sedikit dikarenakan dia lebih mampu ketika ditambah. Dan bisa saja amal ibadah seseorang terlihat sedikit namun sebetulnya ibadah yang dilkakukan sudah dapat dikategorikan sebagai ibadah yang banyak sebab amal ibadah yang dilakukan sebatas apa yang dia mampu dan juga dikerjakan secara ikhlas. Itulah amal ibadah yang dicintai Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ وَقَالَ اكْلَفُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

“dari [Abu Salamah] dari [Aisyah] radliallahu ‘anha bahwa dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya; “Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Dia menjawab; ‘Yang dikerjakan terus menerus walaupun sedikit, lalu beliau bersabda: ‘Beramallah sesuai dengan kemampuan kalian.’ (Hadits Bukhari Nomor 5984)

Maka, hendaklah dalam beramal ibadah dilakukan secara tekun. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا عَمِلَتْ الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ

“bila ia mengerjakan suatu amalan, maka ia kan menekuninya. (Hadits Muslim Nomor 1305)

Apa hikmah kenapa dalam beramal ibadah sebaiknya dilakukan sedikit namun terus menerus. Sebab fitrah manusia memiliki rasa bosan. Sikap berlebihan inilah yang terkadang menyebabkan seseorang mudah terjangkit penyakit bosan. Janganlah berlebihan dalam segala sesuatu termasuk dalam perkara agama. Allah Subhaanahu wa Taala berfirman,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Surat Al-Ma’idah Ayat 77)

Seringkali Nabi mengingatkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam soal amal ibadah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَلَا تَغْلُوا فِيهِ وَلَا تَجْفُوا عَنْهُ

“Bacalah Al-Qur’an, janganlah berlebihan di dalamnya, jangan terlalu kaku (ekstrim dan radikal), janganlah makan dari bacaannya.” (Hadits Ahmad Nomor 14981)

Janganlah berlebihan, sebab Allah sangat membenci sikap yang berlebihan dari hambanya. Allah Subhaanahu wa Taala berfirman,

لَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Surat Al-Baqarah Ayat 190)

Terkadang seringkali nafsu membawa kita untuk beribadah melampaui batas ketika kita sedang kedatangan semangat. Namun sebaliknya nafsu menyeret kita untuk tidak sama sekali beribadah manakala kedatangan tamu malas. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam”. (Hadits Bukhari Nomor 1084 dan Hadits Muslim Nomor 1965)

Agar tidak terjangkit rasa bosan maka hendaklah dalam beramal dilakukan sekedar kemampuannya namun dikerjakan secara ajeg. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَحْتَجِرُ حَصِيرًا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ وَيَبْسُطُهُ بِالنَّهَارِ فَيَجْلِسُ عَلَيْهِ فَجَعَلَ النَّاسُ يَثُوبُونَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ حَتَّى كَثُرُوا فَأَقْبَلَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنْ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

“dari [Aisyah] radliallahu ‘anha bahwa pada suatu malam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat sekat (di dalam masjid) dengan tikar lalu shalat di dalamnya, dan menghamparkannya di siang hari untuk duduk, ternyata orang-orang berkumpul di sekeliling Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengerjakan shalat sebagaimana beliau shalat, hingga orang-orang semakin banyak, lalu beliau menghadap (kepada mereka) dan bersabda: “Wahai sekalian manusia, beramalah menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Hadits Bukhari Nomor 5413)

Al Hasan Al Bashri mengatakan,”Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan,”Jika syaitan melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaitan melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaitan pun akan semakin tamak untuk menggodamu.”

Penjelasan di atas memberikan petunjuk bagi umat Islam agar senantiasa melakukan amalan yang biasa dilakukan secara mudawamah dan istiqomah, dan jangan sampai kita memutuskan begitu saja, agar amal yang kita lakukan selalu memberikan kebaikan kepada diri kita dan orang lain.

Hikmah keistiqomahan dalam beramal

Terdapat hikmah dalam amal ibadah yang dilakukan secara mudawamah dan istiqamah,

Pertama, Amalan yang kita lakukan meskipun sedikit namun selalu kita istiqomahkan maka akan memberikan dampak yang baik terhadap kita dan akan terus melekat dalam hati kita.

Kedua, akan mendapatkan pahala ganda, di samping seseorang mendapat pahala dari amal ibadah yang dilakukan, juga dia akan mendapatkan pahala sebab keajegkannya dalam beribadah.

Ketiga, amal ibadah yang sedikit namun dilakukan secara ajeg dapat menangkal datangnya godaan setan dan akan menjadi pelindung dari kejenuhan kita dalam beramal. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

وَلِكُلِّ عَمِلٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ ، فَمَنْ يَكُنْ فَتْرَتُهُ إِلَى السُّنَّةِ ، فَقَدِ اهْتَدَى ، وَمَنْ يَكُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ ، فَقَدْ ضَلَّ

”Setiap amal itu pasti ada masa semangatnya.Dan setiap masa semangat itu pasti ada masa futur (malasnya). Barangsiapa yang kemalasannya masih dalam sunnah (petunjuk) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, maka dia berada dalam petunjuk. Namun barangsiapa yang keluar dari petunjuk tersebut, sungguh dia telah menyimpang.” (Hadits Thobroni Nomor dalam Al Mu’jam Al Kabir, periwayatnya shohih. Lihat Majma’ Az Zawa’id)

Syubhat syariat

Namun begitu, ketika kita dianjurkan untuk mudawamah dan istiqamah dalam beramal ibadah bukan bearti semua amal ibadah dapat dilakukan secara mudawamah dan istiqamah. Sebab, ada beberapa amalan yang terkadang disyariatkan oleh agama untuk dilakukan sepanjang tahun dalam umur seseorang. Seperti shalat sunnah malam, puasa sunnah, dan sebagainya. Namun juga ada amalan ibadah yang hanya dianjurkan hanya sekali dalam masa hidup seseorang. Seperti umroh dan haji yang cukup dilakukan hanya sekali saja. Syaikh Ibrahim Ar Ruhailiy hafizhohullah mengatakan, ”Tidak semua amalan mesti dilakukan secara rutin, perlu kiranya kita melihat pada ajaran dan petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dalam hal ini.”

Semoga kita senantiasa diberi hidayah dan taufiq-Nya agar kita dapat menjalankan amal ibadah secara mudawamah dan istiqamah sehingga hal itu menjadi sebab datangnya ridha Allah kepada kita amin.

Oleh: Ustad Maulana Baidowi dan disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 88
    Shares