Mubadzir (Membuang Sesuatu Yang Masih Berguna) Temannya Setan

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq & Ustdzah Indah   

Islam memerintahkan para pemeluknya supaya untuk hidup sederhana, menggunakan harta benda pada jalan yang dibenarkan oleh agama, yaitu pada jalan kebaikan. Sebaliknya, Islam melarang umatnya untuk membelanjakan hartanya dengan sia-sia, yaitu prilaku  boros dan menghambur-hamburkannya pada jalan yang tidak menimbulkan kemanfaatan dan kebaikan. Namun, kebanyakan umat Islam lebih bersenang-senang di jalan syetan dari pada di jalan Allah SWT. Mereka sebetulnya tidak terlalu membutuhkan namun tetap membelanjakan hanya untuk main-main, foya-foya atau untuk pamer saja. Itulah sikap hedonis, pemboros, berlebih-lebihan, dan penyia-nyia harta. Sikap demikian sangat dilarang sebagaimana firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).

Ada beberapa sikap yang dianggap perilaku tabdzir

  1. Membelanjakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya atau tidak menimbulkan kemanfaatan dan kebaikan. Seperti membeli papan ski salju sedangkan kita tinggal di Indonesia yang tidak ada saljunya.
  2. Membelanjakan harta bukan karena kita butuhkan namun hanya untuk niat pamer. Seperti membeli barang bukan pada nilai dan fungsinya, namun membeli sesuatu lebih pada mereknya. Sama-sama rupa, warna, dan kuwalitasnya pakaian yang biasa hanya seharga Rp. 200.000, namun hanya karena bermerek kita bela-belain beli yang seharga Rp. 2jt. Untuk niat bermegah-megahan.
  3. Menyia-nyiakan harta yang masih ada gunanya. Seperti ketika memesan makanan di restoran dengan jumlah yang banyak beberapa menu piring, padahal kemampuan perut kita hanya maksimal dua piring, sehingga makanan selalu tersisa dan terbuang.
  4. Mengeluarkan harta yang mengandung maksiat atau tidak dibenarkan syara’. Dengan membantu mereka-mereka maka sama halnya membantu dalam perbuatan yang di benci oleh Allah dan membuat permusuhan satu sama lain. Seperti memberikan uang kepada pengamen jalanan yang jelas-jelas untuk pesta minuman keras.
  5. Membelanjakan harta yang tidak bernilai ibadah dan tidak menimbulkan kebaikan, bahkan dapat menjauhkan kita dari nilai pahala bahkan dapat menimbulkan kerusakan pada kita. Seperti membeli bilyard, minuman keras, rokok. Barang-barang tersebut malah berbahaya bagi kesehatan, dan berbahaya bagi jiwa raga.
  6. Kita mampu memberikan kebaikan kepada orang yang membutuhkan namun kita tidak mau mengeluarkannya inipun tetap tergolong sikap tabdzir. Seperti di rumah kita sebetulnya banyak makanan namun tetangga kita tertimpa kelaparan kita tidak perduli.
  7. Menahan harta tidak dibelanjakan itu juga termasuk sikap boros. Seperti ketika memiliki perabot rumah tangga hanya dibuat hiasan namun lebih suka meminjam perabot rumah tangga. Kita mampu untuk haji namun kita tidak segera berhaji. Kita mampu menyekolahkan anak hingga sarjana namun kita hanya mencukupkan anak kita hanya sekolah setingkat SMA saja.

Sikap-sikap tersebut di atas sangat tidak disukai dan bahkan dimurkai oleh Allah, sebagaimana sabda nabi,

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridlai tiga hal bagi kalian dan murka apabila kalian melakukan tiga hal. Allah ridha jika kalian menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan (Allah ridla) jika kalian berpegang pada tali Allah seluruhnya dan kalian saling menasehati terhadap para penguasa yang mengatur urusan kalian. Allah murka jika kalian sibuk dengan desas-desus, banyak mengemukakan pertanyaan yang tidak berguna serta membuang-buang harta.” (HR. Muslim no.1715)

Agar kita tidak mendapat murka Allah, maka seyogyanya kita hidup sederhana dan secukupnya. Artinya secukupnya bukanlah diukur banyak atau sedikit sesuatu, melainkan sepanjang kita semakin banyak yang kita belanjakan namun semakin banyak menimbulkan kemanfaatan dan kebaikan niscaya itu tergolong hidup tidak boros dan sikap yang seimbang. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan: 67).

Namun tidaklah dikatakan mubadzir walaupun kita banyak membelanjakan harta seperti bersedekah, memberi makan banyak orang saat selamatan, kenduri, aqiqahan, kurban hewan, tasyakuran atau biasa disebut syukuran yang dapat dirasakan oleh banyak orang sebagai bentuk syukur kita karena telah diberi kelimpahan rezki oleh Allah. Allah berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ

“Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278)

Dengan banyak bersyukur dengan memberikan kemanfaatan dan kebaiakan pada orang lain niscaya Allah akan menambah rizki kita. Allah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Kenapa kita tidak boleh menyia-nyiakan harta boleh karena ada hak orang lain atas harta kita, masih banyak orang yang tidak mampu di luaran sana. Masih banyak terjadi kelaparan di negara-negara miskin seperti Somalia, dan negara-negara perang seperti di Suriyah. Oleh karena itu jangan-sia-siakan harta namun lebih baik harta yang kita sia-siakan kita berikan kepada meraka yang berhak dan yang membutuhkannya, Allah berfirman,

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا. إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Berikanlah kerabat dekat, orang miskin dan ibnu sabil hak mereka. dan jangan sekali-sekali bersikap tabdzir.” (QS. al-Isra’: 27)

Itulah beberapa pengertian dari  perbuatan tabdzir (pemborosan) di sekitar masyarakat. Setiap aturan yang telah Allah buat untuk hamba-Nya sudahlah pasti mengandung hikmah. Demikian pula bagi mereka yang melanggar aturan-Nya, Allah akan murka padanya, sementara ia akan sengsara di dunia dan akhirat.  Perbanyaklah untuk memohon kepada Allah agar supaya kita dijauhkan dari sikap tabdzir (pemboros).

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi waktu kita di setiap tempat dengan hal-hal yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain terutama dalam masalah agama dan akhirat. Pada sesuatu yang tidak menimbulkan kebaikan dan kemanfaat untuk agama, kehidupan, maupun, tidak bernilai ibadah sehingga kita tidak tergolong sebagai hamba yang maksiat kepada tuhannya.

#Hidup karena Allah untuk kemanusiaan