Momentum Ramadhan Untuk Perbaikan Diri

Sebentar lagi ummat Islam akan kedatangan tamu yang sangat istimewa. Tamu yang memberikan banyak keberkahan kepada semua umat Islam. Tamu itu adalah bulan suci Ramadhan, karena bulan Ramadhan yang sangat dirindukan umat Islam dikarenakan keagungannya. Bulan yang penuh pengampunan dan rahmat, dan bulan diturunkannya Al-Qur’anul karim.

Sudah selayaknya umat Islam untuk bergembira ketika akan kedatangan bulan Ramadhan yang sangat mulia ini. Umat Islam selayaknya berbahagia, sebab pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup, serta syetan-syetan dibelenggu agar umat Islam lebih meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Nabi bersabda,

ﻣَﻦْ ﻓَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﺧُﻮﻝِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺟَﺴَﺪَﻩُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻨِّﻴْﺮَﺍﻥِ

“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka. (Nash riwayat ini disebutkan di kitab Durrat An-Nasihin)

Iman seorang muslim kepada Allah seharusnya melekat dalam kehidupan kesehariannya, agar selamat hidup di dunia maupun di akhiratnya. Sebaliknya, keingkaran seorang kepada Allah akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran dalam kehidupannya. Maka dengan datangnya bulan suci Ramadhan sudah selayaknya menjadi penyebab meningkatnya taqwa kepada Allah dan menjadikan sorang muslim menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Dengan datangan bulan Ramadhan, umat Islam seharusnya menjadi pribadi yang lebih mulia dan bermartabat. Sebab dengan puasanya akan menjadi penggembleng dan cambuk untuk meningkatkan kecintaan kepada Tuhan dan Nabinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا

“Akan merasakan manisnya iman orang yang ridha menjadikan Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2547)

Dengan keimanan itulah yang akan menjadi penyelamat mereka di dunia dan di akhirat. Sebab keimanan itulah yang akan menjadi petunjuk jalan yang lurus untuk meraih ridho Allah taala. Hanya keimanan yang dapat menggerakkan hati seseorang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Maka, ketika seorang muslim yang selalu patuh menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjahui segala yang dilarangNya. Dan ketika seseorang itu hendak melakukan maksiat mereka akan merasa takut untuk melakukannya, karna Allah selalu mengawasi mereka di manapun mereka berada. Allah berfirman,

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Surat Yunus Ayat 61)

Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak sadar bahwa ketika tingkat keimanan mereka semakin menurun, maka akan menjadikan mereka semakin terjerumus ke dalam lingkaran setan. Dan bisa menjadikan mereka tersesat, juga tidak akan selamat di dunia dan di akhirat. Janganlah terpedaya dengan kenikmatan dunia yang diberikan oleh orang kafir, karena ketahuilah, semua kenikmatan itu hanya mereka dapatkan di dunia ini, tidak di akhirat. Allah berfirman,

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. (Surat Ali ‘Imran Ayat 196-197)

Ayat di atas merupakan pesan berharga, untuk menjadi peringatan bagi kaum Muslimin agar tak terpedaya dengan kemewahan orang-orang kafir.

Maka, tidak perlu heran ketika ada seorang muslim yang ahli ibadah yang tersesat dari jalan yang benar, mereka beribadah namun tujuannya dunia. Sahabat Rasulullah Abdullah bin Mas’ud telah memberi gambaran tentang sikap manusia yang bertolak belakang dengan keimanannya. Antara orang yang berpegang teguh dengan keimanannya dan orang telah terhasut oleh godaan setan yang terkutuk. Seorang muslim seharusnya selalu lebih berhati-hati terhadap dua sikap yang dimilikinya itu, agar tidak terjerumus ke dalam lembah kesesatan.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang.” (Hadits Bukhari Nomor 5833)

Jadi, dengan datangnya bulan Ramadhan ini kita diberi kesempatan oleh Allah untuk beribadah kepadanya, di mana ibadah yang kita lakukan pahalanya akan dilipatgandakan pada bulan Ramadhan. Dan pada bulan Ramadhan juga segala dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah SWT. Jangan kita sia-siakan begitu saja kesempatan ini. Mari kita memperbanyak ibadah kepada Allah agar ridhaNya menghampiri kita, sehingga kita akan mendapatkan karunianya. Allah berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ رَضُوا مَا آتَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ سَيُؤْتِينَا اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَرَسُولُهُ إِنَّا إِلَى اللَّهِ رَاغِبُونَ

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka). (Surat At-Taubah Ayat 59)

Sebaliknya, bilamana dosa-dosa luput dari pengampunan Allah, niscaya manusia akan menyesal pada hari kiamat kelak. Manusia pada hari kiamat oasti mengharapkan ampunan Allah, namun terlambat, Allah tidak akan menerima ampunannya. Pergunakan kesempatan Ramadhan ini untuk memperbanyak taubat dan istghfar kepada Allah. Nabi besabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Hadits Bukhari Nomor 37)

Inilah bulan yang sangat dirindukan umat Islam, maka jangan sia-siakan kesempatan ini untuk tidak memperbanyak ibadah kepada Allah dan meningkatkan ketaqwaan kepadaNya agar Allah selalu memberikan rahmat dan ampunan kepada kita semua.

Ibadah puasa merupakan kenikmatan hakiki yang diberikan oleh Allah kepada hambanya. Bersyukur atas anugerah Ramadhan, karena orang yang senantiasa bersyukur, bertaqwa dan patuh kepada Allah, niscaya Allah akan menambah kenikmatan mereka dan lebih mencintai dan meridhoi mereka. Dengan ketakwaan niscaya Allah akan menjadikan kita semua menjadi hamba yang dimuliakan di sisiNya. Amin.

Jadikan momentum Ramadhan sebagai penyemangat untuk meningkatkan ketakwaan dan kabaikan agar kita semua mendapat keberkahan dan ridha Allah subhanahu wa taala. Amin.

Oleh Ustadz Ahmad Maulana Baidowi, dan telah disempurnaan oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 204
    Shares