Meruginya Orang Yang Berburuk Sangka Kepada Allah

Wahai kaum muslimin, perlu kita ketahui bahwa Allah merupakan satu satunya Dzat Yang Maha Sempurna di alam semesta. Tiada satu pun makhuk yang yang sebanding dengan-Nya. Kesempurnaan Allah tidak hanya sebatas dari keindahan asma-Nya, tetapi juga segala sesuatu yang menyangkut dengan-Nya. Tiada satu pun sesuatu yang buruk ada pada-Nya.

Sebagai sarana mewujudkan tauhid, kita tidak diperbolehkan untuk mengingkari segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Kita sebagai hamba juga wajib untuk percaya dan mengimani segala sesuatu yang telah Allah tetapkan sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Allah Menciptakan Sesuatu Pasti Memiliki Hikmah

Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah tentu memiliki hikmah yang agung dibaliknya penciptaannya, Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi jika dari keduanya tidak memiliki hikmah (sia-sia belaka). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (Surat Sad Ayat 27)

Sudah jelas bahwa segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan pastilah memiliki hikmah yang terkandung di balik penciptaannya. Begitupun ketika Allah memberikan suatu manfaat (kebaikan) ataupun suatu musibah (mudharat) bagi manusia, pastilah akan ada hikmah yang agung di balik itu semua.

Maka dari itu, kita sebagai hamba harus selalu berprasangka baik terhadap segala sesuatu yang Allah telah tetapkan kepada para hamba-Nya agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang celaka.

Hikmah di Dalam Suatu Musibah

Wahai kaum muslimin, suatu musibah tidak akan Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada para hamba-hamba-Nya yang benar-benar taat kepada-Nya kecuali untuk tiga perkara, yaitu:

Pertama, sarana untuk mengangkat derajat bagi orang yang sedang tertimpa musibah, karena kesabaran dalam menjalani musibah itulah yang akan mengangkat derajat orang yang tertimpa musibah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua, sebagai media untuk menguji kesabarannya dalam menjalani ujian yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya.

Ketiga, sebagai pelebur dosa-dosa yang telah dia lakukan. Musibah juga dapat melebur dosa karena seseorang yang mengalami musibah akan selalu berusaha untuk bersabar atas musibah tersebut dan senantiasa berikhtiar dengan maksimal, maka Allah akan menyediakan pahala yang sangat besar yaitu gugur dosa-dosa yang pernah ia lakukan.

Tercelanya Berprasangka Buruk

Berprasangka buruk (su’udzon) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sikap yang tercela dan hal ini adalah salah satu dari dosa besar. Maka dari itu, kita sebagai hamba yang beriman harus selalu menjauhi diri dari sifat ini. Janganlah berburuk sangka kepada Allah! Sebab sikap su’udzon seperti ini merupakan prinsip orang-orang kafir dan munafik yang kemudian menjadi kebiasaan mereka. Mereka berprasangka buruk kepada Allah.

Akan tetapi, semua yang mereka sangkakan kepada Allah itu tidak terbukti dan sesungguhnya Allah membalikkan tipu daya mereka kepada mereka sendiri. Serta mengancam mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat dikarenakan kedurhakaan mereka kepada Allah Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.” (Surat Al-Fath Ayat 6)

Azab yang akan diterima oleh kaum kafir dan orang-orang yang berburuk sangkan pada ketentuan Allah ketika mereka masih dalam dunia adalah ketidaktenangan dan kegelisahan hati. Padahal semua itu tanpa sadar akan membuat mereka semakin terjerumus ke dalam lembah kesesatan. Sedangkan kelak di akhirat, mereka akan mendapatkan balasan azab atas semua yang mereka lakukan ketika di dunia. Mereka akan ditempatkan di dalam neraka jahannam, yaitu tempat sejelek-jeleknya kembali dan mereka akan kekal di dalamnya.

Sikap berburuk sangka kepada Allah merupakan salah satu bentuk sikap melanggar dan menghina Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masih menjadi bagian dari berburuk sangka kepada Allah adalah ketika kita selalu mengeluh dan mencela keadaan, baik dengan berbagai macam umpatan kata-kata maupun dengan gerak tubuh yang menunjukkan ketidak ikhlasan atas apa yang dialaminya dari kejadian sehari-hari. Ucapan; Allah tidak adil! Kenapa hidupku susah! Padahal aku sudah beribadah dan bekerja! Enaknya hidup mereka, padahal mereka kafir dan tidak beribadah! Itulah beberapa kalimat yang menunjukkan atas keburukan persangkaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Banyak orang yang berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik itu berkaitan dengan urusan pribadinya maupun dengan kehidupan orang lain. Tidak ada manusia yang dapat menghindari sikap berburuk sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkecuali bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agamanya. Maka dari itu, kita sebagai manusia yang berakal sudah seharusnya mau membenahi diri dan lebih memperhatikan terkait dengan permasalahan ini. Serta kita mau bertobat dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua prasangka buruk yang selama ini kita lakukan.

Baik dan buruk Allah tergantung baik dan buruknya persangkaan hambanya

Jangan sepelekan perkara berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Sebab ia bukan perkara sepele, disebabkan berburuk sangka sangat erat kaitannya dengan akidah dan keimanan kita. Berburuk sangka kepada Allah Ta’ala dapat menyebab kita terjerumus pada kekafiran. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِنْكُمْ ۖ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۖ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ ۗ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ ۖ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا ۗ قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ ۖ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (Surat Ali ‘Imran Ayat 154)

Ayat di atas menegaskan tentang semua yang terjadi pada manusia itu atas takdir dari Allah Ta’ala (urusan itu seluruhnya di tangan Allah). Keimanan seorang hamba belum sempurna jika ia belum sepenuhnya meyakini bahwa semua yang telah Allah Ta’ala kabarkan kepada umat manusia baik itu mengenai asma dan sifat-sifat-Nya serta kesempurnaan-Nya maupun meyakini segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah untuk umat manusia maupun untuk seluruh makhluk.

Kebaikan dan kebahagiaan hidup kita, sebab baiknya persangkaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya keburukan dan kesusahan hidup kita juga karena buruknya persangkaan kita kepada Allah. Janganlah ketika hidup kita susah dan sedih kemudian seenaknya menyalahkan Allah Ta’ala, padahal sepanjang hidup kita selalu berburuk sangka kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah itu dzat yang sangat baik, niscaya hidup kita akan baik dan bahagia. Jadi, baik dan buruk hidup kita itu tergantung atas baik dan buruk persangkaan kita kepada Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekatkan diri kepadanya sehasta, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatkan diri kepadanya sedepa, jika ia mendatangi-Ku dalam keadaan berjalan, maka Aku mendatanginya dalam keadaan berlari.” (Hadits Bukhari Nomor 6856 dan Hadits Muslim Nomor 4851)

Maka dari itu, marilah kita bersama-sama mengintrospeksi diri kita masing-masing. Apakah kita termasuk golongan orang-orang yang terbiasa berprasangka buruk kepada Allah SWT sehinggga kita dijauhkan dari rahmat dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dijauhkan dari surga kelak? Marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya kita semua dijauhkan dari sikap berburuk sangka kepada-Nya, dan semoga Allah selalu menjaga keimanan kita dan selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita. Amin.

Oleh : Ustad Muhammad Azka Al-Amin disempurnakan oleh KH. Ainur Rofiq SA

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 5
    Shares