Mereka yang Gugur Kewajiban Puasanya

Muqaddimah

Ibadah puasa adalah suatu kewajiban yang dibebankan kepada setiap Muslim. Melaksanakan ibadah puasa bagi umat Islam hukumnya wajib. Meskipun begitu, tidak semua umat Islam mampu untuk melaksanakan ibadah tersebut. Maka dari itu, Allah SWT. Memberi keringan kepada hamba-Nya yang tidak dapat melaksanakan ibadah tersebut. Berikut ini adalah golongan orang-orang yang mendapat keringanan dari Allah SWT untuk tidak berpuasa.

Abu Syuja’ menjelaskan mengenai orang-orang yang mendapat keringanan tidak puasa. Beliau rahimahullah berkata,

والشيخ إن عجز عن الصوم يفطر ويطعم عن كل يوم مدا. والحامل والمرضع إن خافتا على أنفسهما: أفطرتا وعليهما القضاء وإن خافتا على أولادهما: أفطرتا وعليهما القضاء والكفارة عن كل يوم مد وهو رطل وثلث بالعراقي والمريض والمسافر سفرا طويلا يفطران ويقضيان.

“Orang yang sudah tua renta (sepuh) ketika tidak mampu berpuasa, maka ia boleh tidak berpuasa. Setiap hari tidak puasa, hendaklah ia memberi makan (kepada orang miskin) seukuran satu mud. Adapun wanita hamil dan menyusui, jika mereka berdua khawatir pada dirinya, maka boleh tidak puasa dan mereka berdua punya kewajiban qadha. Jika mereka khawatir pada anak mereka, maka keduanya boleh tidak puasa, mereka wajib tunaikan qadha dan kafaroh, yaitu satu hari tidak puasa memberi satu mud makanan. Ukuran mud adalah 4/3 rithl takaran Irak. Sedangkan orang yang sakit dan musafir yang melakukan perjalanan jauh, mereka boleh tidak puasa dan mengqadha puasanya nantinya.”

Dari pendapat Abu Syuja’ diatas ada tiga golongan yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa, yaitu:

Pertama: Orang Yang Telah Lanjut Usia

Sebagian orang yang telah lanjut usia tidak dapat melaksanakan ibadah puasa dikarenakan kekuatan tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk melaksanakan ibadah tersebut. Itu juga berlaku juga bagi orang yang sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk sembuh dari penyakitnya. Dalil dari hal tersebut adalah firman Allah SWT,

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al Baqarah: 184).

Adapun hadits yang mendukung dalil diatas yaitu hadits riwayat berikut,

عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فَلَا يُطِيقُونَهُ { فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“dari [Atha] dia mendengar [Ibnu Abbas] membaca ayat; “Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya maka wajib membayar fidya yaitu memberi makan orang miskin, “(QS. Albaqarah 184), Ibnu Abbas berkata; Ayat ini tidak dimanshukh, namun ayat ini hanya untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin.’ (Hadits Bukhari Nomor 4145)

Ditambah lagi hadits berikut,

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَزْرَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا قَالَ أَبُو دَاوُد يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا

Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mutsanna], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Adi] dari [Sa’id] dari [Qatadah], dari [‘Azrah] dari [Sa’id bin Jubair] dari [Ibnu Abbas]: WA ‘ALALLADZII YUTHIIQUUNAHU FIDYATUN THA’AAMU MISKIIN (dan bagi orang yang berat menjalankanya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin), ia berkata; hal tersebut merupakan keringanan bagi laki-laki tua dan wanita tua, dan mereka -sementara kedua mampu melakukan puasa- agar berbuka dan memberi makan setiap hari satu orang miskin, dan keringanan bagi orang yang hamil dan menyusui apabila merasa khawatir. Abu Daud berkata; yaitu khawatir kepada anak mereka berdua, maka mereka berbuka dan memberi makan. (Hadits Abu Daud Nomor 1974)

Dari penjelasan ayat dan hadits di atas dapat diketahui bahwa Allah SWT memberikan keringanan kepada orang yang sudah lanjut usia dan orang yang sedang sakit untuk tidak berpuasa, tetapi sebagai gantinya adalah dengan membayar fidyah, yatu dengan memberi makan orang miskin.

Kedua: Seorang Wanita Yang Hamil Dan Menyusui Anaknya

Seperti yang telah dijelaskan dalam Kifayatul Akhyar, seorang wanita yang sedang mengandung atau menyusui anaknya dan khawatir pada kesehatan bayi mereka jika mereka berpuasa, misalnya dia khawatir akan kesehatan jabang bayinya, maka dia boleh untuk tidak berpuasa tetapi dia punya kewajiban untuk mengganti atau mengqadha puasanya.

Tergantung dengan kondisi Si Jabang bayinya, seperti yang disampaikan oleh Al Qodhi Husain. Pada situasi seperti ini tidak ada fidyah sebagaimana seperti orang yang sedang sakit.

Namun jika keduanya khawatir pada anaknya, seperti khawatir keguguran pada wanita hamil atau kekurangan ASI pada wanita menyusui, maka kedunya boleh tidak puasa, punya kewajiban qadha dan menunaikan fidyah menurut pendapat terkuat. Demikian nukilan secara ringkas dari Muhammad Al Hishni dalam Kifayatul Akhyar.

Adapun dalil yang menunjukkan keringanan puasa bagi keduanya adalah hadits dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنْ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلَاةِ وَعَنْ الْحَامِلِ أَوْ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوْ الصِّيَامَ وَاللَّهِ لَقَدْ قَالَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كِلْتَيْهِمَا أَوْ إِحْدَاهُمَا فَيَا لَهْفَ نَفْسِي أَنْ لَا أَكُونَ طَعِمْتُ مِنْ طَعَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْكَعْبِيِّ حَدِيثٌ حَسَنٌ وَلَا نَعْرِفُ لِأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ هَذَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ هَذَا الْحَدِيثِ الْوَاحِدِ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ الْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ تُفْطِرَانِ وَتَقْضِيَانِ وَتُطْعِمَانِ وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ و قَالَ بَعْضُهُمْ تُفْطِرَانِ وَتُطْعِمَانِ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ شَاءَتَا قَضَتَا وَلَا إِطْعَامَ عَلَيْهِمَا وَبِهِ يَقُولُ إِسْحَقُ

“sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan puasa atas musafir dan memberi keringanan separoh shalat untuknya juga memberi keringan bagi wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa”. Sungguh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah menyebut keduanya (yaitu wanita hamil dan menyusui), sangat disayangkan jika diriku tidak memakan makanannya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam.” (maksudnya boleh tidak berpuasa-red) (perawi) berkata, dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Abu ‘Umayyah. Abu ‘Isa berkata, hadits Anas bin Malik Al Ka’bi merupakan hadits hasan, ini adalah satu-satunya hadits yang diriwayatkan oleh Anas dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sebagian Ahli ilmu berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui yang berbuka wajib mengqadla’ puasa dan memberi makan (fakir miskin), hal ini sebagaimana perkataan Sufyan, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Dan sebagian mereka berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui yang berbuka wajib memberi makan namun tidak wajib mengqadla’ puasanya, hal ini sebagaimana perkataan Ishaq. (Hadits Tirmidzi Nomor 649)

Dalil yang menunjukkan kewajiban membayar fidyah,

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَزْرَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا قَالَ أَبُو دَاوُد يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا

Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mutsanna], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Adi] dari [Sa’id] dari [Qatadah], dari [‘Azrah] dari [Sa’id bin Jubair] dari [Ibnu Abbas]: WA ‘ALALLADZII YUTHIIQUUNAHU FIDYATUN THA’AAMU MISKIIN (dan bagi orang yang berat menjalankanya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin), ia berkata; hal tersebut merupakan keringanan bagi laki-laki tua dan wanita tua, dan mereka -sementara kedua mampu melakukan puasa- agar berbuka dan memberi makan setiap hari satu orang miskin, dan keringanan bagi orang yang hamil dan menyusui apabila merasa khawatir. Abu Daud berkata; yaitu khawatir kepada anak mereka berdua, maka mereka berbuka dan memberi makan. (Hadits Abu Daud Nomor 1974)

Dari dua hadits di atas ada dua pemahaman terkait dengan cara mengganti puasa. Ada hadits yang mengatakan bahwa mengganti dengan cara mengqadha dan ada juga yang mengatakan dengan cara membayar fidyah. Dan pada dasarnya hadits di atas menunjukkan kemurahan Allah terhadap hamba-Nya dalam hal ibadah puasa.

Ketiga: Seorang Musafir Dan Orang Sakit

Dalam kitab Kifayatul Akhyar dijelaskan bahwa maksud orang sakit adalah keadaan sakit yang sudah berat dan sulit bagi penderita untuk melaksanakan ibadah puasa. Maka wajib baginya tidak puasa, tetapi dia wajib menggantinya puasanya di hari selain bulan Ramadhan.

Musafir dalam pandangan menurut madzhab Syafi’i adalah seseorang yang melakukan perjalanan jauh dan diniatkan untuk kebaikan. Seorang musafir juga mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa,tetapi juga harus mengganti puasanya di waktu selain bulan Ramadhan. Untuk lebih detailnya silahkan buka kitab Kifayatul Akhyar.

Dalil tentang seorang musafir yang tidak berpuasa seperti firman Allah SWT sebagai berikut,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. ” (QS. Al Baqarah: 185)

Maksud dari sakit dalam ayat di atas adalah seseorang yang sakit dan masih bisa sembuh dan seorang musafir yang berhijrah menuju kebaikan. Ayat di atas merupakan ayat yang bermakna bahwa setiap orang yang sakit kemudian tidak dapat melaksanakan ibadah puasa dan seorang musafir yang berpergian, maka tidak wajib baginya ibadah puasa. Tetapi sejatinya mereka tetap wajib mengganti puasanya di waktu lain sesudah bulan Ramadhan. Dan mereka berpuasa sesuai dengan jumlah puasa yang mereka tinggalkan. Lihat At Tadzhib karya Syaikh Musthofa Al Bugho, hal. 115.

Inilah kemurahan Allah dan agama Islam. Selama seseorang memiliki udzur syara’ atau halangan yang dibenarkan oleh agama, maka orang-orang ini terbebas dari kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, patut disayangkan bila kita melihat sebagian orang tidak berpuasa di tengah jalan lalu kita menuduh ingkar dari agama Islam atau bahkan sampai kita kroyok tanpa tabayyun dahulu. Bisa jadi mereka yang tidak berpuasa sedang memiliki udzur syara’, entah karena sedang menjadi musafir, sakit, tua renta atau sebab-sebab syara’ lainnya.

Islam tidak memaksakan mereka yang tidak mampu berpuasa, sebab Islam itu adalah agama yang mudah. Mudah karena Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta alam, sebab Nabi diutus sebagai rahmat. Allah berfirman,

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)

Nabi bersabda,

يَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا

“Mudahkanlah setiap urusan dan janganlah kamu mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kamu membuatnya lari, dan bersatu padulah! (Hadits Bukhari Nomor 5659)

Islam itu mudah karena Allah menyukai kemudahan. Allah berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 185)

Semoga dari penyampaian yang singkat ini kita dapat memetik hikmahnya dan semoga penjelasan di atas dapat bermafaat bagi kita semua. Amin.

Wallahu A’lam.

Oleh Ustadz Muhammad Azka Al-Amin, disempurnakan oleh K.H. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke