Mereka-Mereka Yang Mendustakan Agama Islam

Daftar Isi

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Seringkali kita berfikir ketika ditanya siapakah sebetulnya pendusta agama Islam? Jawaban kita pasti akan merujuk orang-orang kafir, munafiq, dan musyrik, serta mereka-mereka yang memerangi dan mencaci agama kita. Itu semua ternyata salah, mereka tidak mendustakan agama Islam karena mereka memang tidak percaya. Dalam hal ini Allah SWT sendiri yang menyebutkan bahwa pendusta agama Islam tidak lain kecuali pemeluknya sendiri. Mereka mengaku beraga Islam namun tidak menjalankan agama sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Tuhannya. Dengan jelas Allah SWT. emberikan gambaran dalam surat Al-Ma’un, Allah Ta’ala berfirman,

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ. فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ. وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ. فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ. الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ. الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ. وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.(QS. Al-Ma’un[107]: 107)

Mereka yang mendustakan agama adalah;

  1. Tidak memiliki kasih sayang kepada orang lain terutama anak yatim.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya (HR. Bukhari No. 4998 dan No. 5659)

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim. Namun bukan hanya sekedar menyantuni mereka, tidak kalah pentingnya juga menyayangi dan bersikap mengayomi dan lembut kepada mereka. Tidak sedikit fakta bahwa walaupun anak-anak yatim medapatkan jaminan materi dari seseorang dan bahkan dari penguasa, namun mereka mengalami tekanan mental karena mereka dieksploitasi dan diintimidasi. Firman Allah,

{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ}

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (QS al-Ahzaab: 5).

  1. Tidak memiliki keperdulian sosial terhadap sesama manusia.

Allah SWT. tidak menganjurkan untuk memberikan semua harta kita kepada mereka yang miskin dan tidak mampu. Namun Allah SWT. hanya sebatas sangat menganjurkan menjamin kebutuhan dasar mereka yang miskin terkait rasa lapar mereka saja. Karena bila kemiskinan mereka karena tidak dapat memenuhi keinginan-keinginan mereka itu bukanlah kewajiban kita sebagai orang lain, namun bilamana ketidak mampuan mereka terkait rasa lapar mereka ini sudah menjadi persoalan mendasar yang hukumnya wajib bagi sesama untuk perduli, karena hal itu sudah menyentuh masalah nyawa mereka. Allah SWT. berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Wahai kaum Mukmin, bedermalah kalian kepada orang-orang fakir yang mengkhidmatkan diri untuk berperang membela Islam. Kaum fakir ini tidak dapat bekerja untuk mencari nafkah. Kaum munafik mengira bahwa orang-orang fakir itu kaya karena mereka tidak mau meminta-minta. Wahai Muhammad, kamu dapat mengenal kemiskinan mereka dari wajah-wajah pucat mereka. Kaum fakir ini tidak mau meminta-minta kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Seberapa pun harta halal yang kalian dermakan di jalan Allah, Allah Maha Mengetahui semua niat kalian bederma.” (Q.s. Al-Baqarah [2]: 273)

  1. Orang-orang yang lalai akan shalatnya

Yang dimaksud lalai dari shalat bisa mencakup beberapa pengertian: Lalai dari mengerjakan shalat. Sengaja tanpa alasan yang dibenarkan tidak melaksanakan shalat tepat waktu yang afdhal. Lalai dari shalat bisa juga dimaksudkan bila kita tidak menyempurnakan syarat rukunnya. Atau juga dapat dimaknai dengan shalat yang tidak khusu’. Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60)

Lalai dari shalat mencakup semua pengertian di atas. Setiap orang yang memiliki sifat demikian, maka dialah yang disebut lalai dari shalat. Jika ia memiliki seluruh sifat tersebut, maka semakin sempurnalah kecelakaan untuknya dan semakin sempurna nifak ‘amali padanya (Lihat Shahih Tafsir Ibnu Katsir, 4: 691-692).

Namun tidak kalah pentingnya pengertian lalai adalah mereka yang mungkin menjalankan shalat namun bukan karena Allah. Sebagaimana fenomena akhir-akhir ini yang sebetulnya shalat murni dikerjakan untuk Allah sekarang fenomena shalat sudah dijadikan sebagai alat politik kekuasaan. Dengan memamerkan jumlah jamaah shalat yang dilaksanakan di jaan-jalan dengan tujuan menunjukkan kekuatan kepada pihak lain dengan berbagai motif kepentingan duniawi, maka mereka telah dianggap orang yang celaka karena telah melalaikan shalat. Dengan shalatnya telah menciptakan kekacauan sosial karena mereka melakukan di sembarang tempat termasuk di jalan-jalan. Bahkan shalat dibuat alat untuk mencari dunia. Shalat yang sejatinya urusan manusia dengan tuhannya saja namun shalat telah menjadi alat kekacauan sosial.

  1. Suka pamer.

Fenomena pamer mungkin sulit dihindari ketika kita berada di era informasi sekarang ini, semua hal baik kebaikan bahkan keburukan sudah tidak segan-segan untuk dipamerkan. Disamping karena akan menimbulkan kejahatan dari riya’ yang kita lakukan disamping itu pula riya’ akan menghapus semua amal yang kita kerjakan.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

Artinya : “Sesungguhnya orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ ( dengan shalat itu ) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka dzkiri kepada Allah kecuali sedikit sekali.” QS. An Nisa’ : 142

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً

Artinya : ”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan”. (QS. Al-Furqan : 23)

  1. Tidak penah membantu orang lain dengan harta benda yang berguna

Hukum memberi menurut sebagai orang lebih mulia dibandingkan dengan menghutangi. Padahal ini kurang tepat karena hukum menghutangi dengan memberi ternyata lebih berpahala. Hal ini logis karena bila kita memberi belum tentu mereka yang kita beri sedang membutuhkan dan sedangkan bila ada orang yang berhutang kepada kita hampir dapat dipastikan mereka sedang mengalami himpitan hidup dan apa yang sendang mereka hutangkan pastilah sangat dibutuhkan.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat.Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebtu menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا, وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ

Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam. bersabda, “Aku melihat pada malam aku diisra’kan, di atas pintu surga tertulis ‘Satu sedekah dilipatkan 10 kalinya, dan meminjami hutang dilipatkan 18 kalinya’.” HR. Ahmad IV/296), At-Tirmidzi (1957), Ibnu Hibban (5074)

Itulah katagori manusia-manusia yang telah mendustakan dan menistakan agama Islam sesungguhnya. Mereka bersetatus celaka, karena mereka telah berikrar atas nama agama namun mereka sendiri yang telah merendahkan agamanya sendiri. Semoga kita terhindar dari sifat-sifat penista agama. Amin Yarabbal Alamin